Thomas menuju tempat Ben bersama Newt di sampingnya, entah kenapa ia merasa nyaman jika Newt berada di sampingnya. Seakan-akan dunia menjadi lebih indah daripada yang sebenarnya, Thomas sudah menduga bahwa Newt merupakan sahabat yang baik.

Saat mereka sampai, kondisi Ben terlihat mengenaskan mungkin. Dia ditaruh di sebuah kawah besar dan ditodong tombak oleh anak yang lain. Thomas meneguk ludahnya, apa yang terjadi jika dia di posisi Ben? Yang pasti ia akan sangat ketakutan sekali. Tapi Ben tetap meronta 'obat' atau 'penawar' dan menangis parau, Thomas merasa Ben sedang menuju ajalnya mungkin. Kondisinya sangat mengenaskan sekali lagi.

"Diam mulut mu Ben!" teriak Alby.

Raut Alby tak jauh dari kekecewaan, mungkin saja ia khawatir jika Ben akan melakukan sesuatu buruk kepada yang lain. Di lain sisi Newt sedang menatap kosong Ben, Thomas merasa Newt sedang... tidak-tidak, mana mungkin Newt seperti sedang melihat cerminannya?

"Newt..?" Newt terkejut lalu ia tersenyum simpul, "ada apa dengan mu?"

"Tidak, aku... aku hanya merasa Ben seharusnya... tidak seperti ini."

Aneh. Bukan karakteristik Newt yang aneh tapi kalimatnya yang terasa janggal. Maksud kalimat Newt apa? Kenapa dia berkata Ben seharusnya tidak seperti ini? Apa Ben seharusnya menjadi 'sosok' lain atau kejadiannya yang salah? Newt masih misteri di pikiran Thomas.

Alby memerintahkan yang lain untuk mengikat Ben dan menggiringnya menuju gerbang besar, Thomas duga Ben akan dimasuki ke dalam Maze. Omong-omong soal Maze, bukankah tidak ada yang berhasil bertahan semalam di Maze? Jadi...

"...tunggu. Selama ini Alby bertindak untuk membunuh Ben?!" suara Thomas cukup bisa didengarkan dua tiga anak, ia mengecilkan suaranya agar tak terdengar memberontak.

"Eh? Kenapa kau berpikir seperti itu Tommy?"

Thomas entah mau menjawab Newt atau tidak tapi panggilan Tommy untuknya masih mengusiknya, ia merasa sangat malu-dengan arti lain-tapi ia juga suka dengan panggilannya. "Tidak ada yang bertahan di dalam Maze untuk semalam, dan Ben dipaksa masuk."

Newt menghela napas, ia akan menjelaskan kepadanya di suatu tempat yang sedikit privasi.

"Tapi aku ingin melihat Ben."

"Astaga Tommy, kau banyak maunya." lalu mereka sepakat akan berbicara tentang itu setelah Ben dikeluarkan.

Ben masih meronta dan menangis saat ini, selipan raungan juga menghias ketakutan para Glader. Thomas melihatnya dengan tatapan horor, sebagian dirinya setuju jika Ben dikeluarkan, lagipula ia korban Ben, tidak apa kan? Tapi ia juga merasa kalau tindakan mereka merupakan pembunuhan. Apakah tidak ada penawar? Dan... apa yang ditawar?

Thomas baru tersadar, sebenarnya apa yang terjadi dengan Ben, kenapa ia bisa menjadi gila? Apa dia terkena penyakit kejiwaan?

Lalu saat itu lah Ben di dorong dengan tombak yang tumpul sehingga ia terjatuh di dalam Maze. Waktu menunjukkan sore hari, suara-suara bising mulai menggema serta tangisan Ben, dan tak lama kemudian Maze menutup pembatas Ben dan Gladers.

Thomas menghela, ia merasa kasihan kepada Ben, lagipula salah dia mengapa menjadi gila dan mengejar-ngejar Thomas seakan-akan kelaparan setengah mati. Kesimpulannya fifty-fifty, ia patut dikasihani dan di korbankan.

Menjelang malam, Thomas melihat Alby dan Jack sedang mencoreng nama Ben di dinding. Ia juga melihat namanya yang ia susah payah buat dengan batu, ia juga tak bisa membayangkan jika namanya dicoret. "Dan Thomas, kau bisa memgambil pelajaran untuk hari ini?"

"Uh? Ya? Uh... pelajaran? Pelajarannya kalau kita... tidak boleh menjadi 'sosok' Ben?"

Alby menggeleng pelan, "pelajarannya adalah jangan melanggar peraturan dan tetap hidup, bodoh."

Bagus sekali, ia mendapat pujian dari sang ketua. Thomas hanya tertawa garing dan mengikuti Jack dan Alby dari belakang.

"Hey Tommy,"

"Oh, hai Newt."

Mereka berdua duduk bersandar di pohon, tidak jauh dari Glade, dan setidaknya mereka mempunyai tempat untuk berdua. Newt membawa dua cangkir gelas dan memberi Thomas satu, waktunya Thomas diberi tahu soal Ben.

"Ben akan berubah menjadi Crank," Thomas mengadah, "aku bisa lihat itu."

Newt tersenyum simpul, untuk kesekian kalinya Thomas sedikit bersemu, Newt terlalu banyak tersenyum kepada ku. "Dia terkena stung, Griever dapat membuat kita menjadi Crank."

"Crank... mungkin bisa dikatakan sangat berbahaya. Mereka gila dan menyerang manusia 'waras', tak sedikit dari mereka mengigit yang waras. Kesimpulannya, tidak sedikit juga Gladers mati karena stung dan Crank.

"Ada satu... Crank. Namanya George, dia kawan pemimpin Glade yang Dulu-namanya Nick-saat itu dia adalah seorang Runner. Nick menceritakan kepada kami kalau saat dia menemani George berkeliling, mereka berpisah dan saat itu George berteriak histeris disusuli suara mekanikal-kini kami memanggilnya Griever. George tak bertahan lama saat Grieve meng-stungnya, bahkan Alby menamparnya."

Di sela-sela cerita Newt terkekeh mengingat kejadian Alby menampar George yang mulai tak waras, Thomas hanya bisa mengangguk entah ingin tertawa atau sedih. "Pada akhirnya Nick mengundurkan diri dan George dikasih serum biru, kau tahu? Saat itu, Frypan kira serum yang dibawa lift angkut itu adalah sampah! Kami semua geram dan menyaksikan Frypan yang mengomeli kami."

Kini Thomas tertawa sedikit, "tapi... George tak selamatkan diri dan dia kami kubur."

Thomas menelan ludahnya, selama ini Glade tidak jauh dengan pemakaman? Ia ingin tahu bagaimana kabar Nick. Pasti dia sangat terpukul melihat George tak selamatkan diri, Newt pun hanya menepuk pundaknya pelan.

"Maka dari itu, aku tak mau kau menjadi Runner."

Deg. Kini jantung Thomas seakan-akan berhenti berdetak, kalimat Newt barusan membuat dirinya sedikit syok. Apakah Newt mengkhawatirkannya? Apa dia hanya khawatir kalau Glade kekurangan anggota? Thomas tidak tahu dengan perasaannya, tapi yang barusan membuat dirinya bersemu.

"M-mungkin..."

"Mungkin?" Newt menaikkan alisnya.

"Mungkin saja aku tak akan menjadi Runner, a-aku sebisa mungkin berjanji."

Newt menghela napas kecewa, Thomas bisa katakan matanya terlihat sedih, kini dia merasa bersalah. "Newt... maafkan aku, tapi aku sangat penasaran dengan Maze... Griever... bahkan Crank. Tapi aku berjanji tak akan meninggalkan mu."

Newt menatap kedua bola mata Thomas, rautnya dipenuhi oleh ketegasan, ia merasakan Thomas tengah melindunginya. Thomas juga melihat bahwa Newt memancarkan harapan, harapan bahwa ia akan dilindungi oleh dirinya, itu cukup membuat Thomas puas. Thomas pun tersenyum disusuli Newt dan mereka berdua tertawa ringan entah apa yang lucu, tapi momen ini? Mereka tak bisa melewatkannya.

"Kau tahu Tommy? Yang tadi adalah janji kedua mu." Thomas mengangguk, kini ia lebih menyukai panggilan Tommy daripada hari kemarin-marin.

"Aku tahu, dan aku tak akan melanggarnya..."

"Oh ya?" tanya Newt sekali lagi.

"...melanggar janji-ku yang kedua." Thomas terkekeh, demi apapun dia tak sanggup menahan rasa penasarannya kepada Maze.

"Kalau begitu, waktunya jam tidur. Alby akan marah jika ada yang keluyuran," Newt berangkat dari posisinya dan mengulurkan tangannya kepada Thomas, dengan senang hati Thomas menerima ulurannya.

Mereka berdua berpisah, tentu saja kamarnya tidak sama. Lagipula memangnya Newt mau satu kamar dengannya? Tidak kan? Itu yang dipikirkan Thomas. Mana mungkin Newt akan tidur bers- maksudnya satu kamar dengan Thomas. Dan di akhir hari, Thomas menutup matanya...

"Thomas! Thomas!"

"Bertahanlah!"

"Wicked itu baik..."

"U-ugh!" Thomas dikejutkan oleh mimpi-mimpi aneh yang menghantuinya, 10 hari ia habiskan di dalam Maze, dan mimpi ini terasa sangat nyata!

Bisikan seorang perempuan selalu menggentayanginya, seakan-akan mereka bertelepati, tapi hari ini lebih aneh daripada biasanya. Thomas melihat dirinya sendiri tertidur di ranjang dengan orang berpakaian medis mendorongnya ke sebuah lab..? Dan dia melihat sesosok perempuan berambut panjang. Mengingat mimpinya saja membuat kepalanya menjadi berat, ia butuh air sekarang.

Terik matahari masih belum cukup terang, dan suasana terasa sepi, mungkin ini baru sekitar jam 4 atau 5, Chuck saja masih mendengkur. Sesaat ia meneguk segelas air putih, ia melihat Alby dan Minho sedang berbincang lalu Minho mengangguk dan masuk ke dalam Maze sendirian. Astaga, apakah Minho tidak takut? Jika ia menjadi Minho mungkin Thomas tak terlalu berani menghadapi Maze.

"Apa yang kau lihat Greenie?!"

Thomas terkejut mendengar suara di belakangnya, ia sontak maju selangkah dan memutar kepalanya. "Astaga Gally, bisakah kau tidak mengejutkan ku?!"

"Huh yeah, pekerjaan mu dirubah untuk seharian membantu Frypan." dengus Gally.

"Tapi aku tidak bisa memasak." Gally memutar bola matanya dan terkekeh pelan-seperti karakter antagonis Disney.

"Tentu saja kau tak bisa, tugas mu membersihkan alat-alat masak dan ruang makan, jangan lupa mengambil stock di ladang." Thomas mengangguk pelan, entah kenapa Gally terasa tak menyukainya, dan ia sangat tidak nyaman berbicara dengannya.

"Apa kau dengar perkataan ku?!"

"I-iya..." Thomas mengangguk sekali lagi dan meninggalkan Gally sendirian.

Singkat cerita, matahari bersinar terang di pucuk kepala Thomas. Ia mengusap keringat di dahinya dan membantu Newt mencabut sayur untuk Frypan, "kau baik-baik saja Tommy?"

Thomas menggeleng ia menceritakan bahwa hari ini ia merasa aneh, "jangan pikirkan hal-hal aneh, lebih baik kita selesaikan ini lalu kita akan berbincang seperti biasa oke?"

Thomas mengangguk, ia kembali berkerja dan menghilangkan pikiran pesimisnya. Chuck dari kejauhan melihat Thomas dan Newt, ia tersenyum dan terkikik geli melihat mereka berdua. Chuck pun berniat mendekati Thomas dan berbisik.

"Chuck?" tanya Thomas, Chuck memberi isyarat untuk mendekat.

"Ada apa?"

"Sepertinya Newt sangat senang dengan keberadaan mu!" Chuck tersenyum lebar, sangat lebar sehingga pipi tembemnya menggembung sempurna. Thomas hanya bisa mengangguk ragu dengan semburat merah di wajahnya.

"Masa sih?" Chuck mengangguk antusias, "aku berani bertaruh!"

"Chuck?" suara Newt memotong pembicaraan mereka, Chuck hanya membalas dengan senyuman andalannya sedangkan Thomas memalingkan wajahmya.

"Kalian berbicara tentang apa?" Newt menghampiri mereka, sepertinya kerjaannya telah selesai.

"Ummm, Thomas mengatakan kau sangat imut!" Chuck pun menyelesaikan kalimatnya sambil tertawa dan berlari menjauh dari mereka dengan senyuman liciknya.

Newt terkekeh pelan dan bertanya kepada Thomas benar apa tidak, "u-uh aku tidak mengatakan itu!'

Suara Thomas cukup dibilang lantang, Newt entah kenapa merasa sakit mendengarnya? "O-oh..."

Di dalam hati Newt ia berharap Thomas mengatakan kalau ia memang imut? Uh, harusnya tampan. Ia pun hanya tersenyum masam dan menunduk ke bawah. Thomas menyadarinya, sial! Dirinya salah berbicara kepada Newt. Untuk pendapatnya, Newt memang imut- tunggu, kenapa ia berpikir seperti ini?

Newt tidak imut!

Tapi saat ia menunduk kelihatan imut sekali...

NEWT TIDAK IMUT!

Aku ingin mengelus pipinya...

"T-Thomas?" Thomas mundur ke belakang, kalimat Newt menampar pikirannya, dan Thomas? Kenapa ia merasa sangat terpukul saat mendengar Newt memanggilnya Thomas daripada Tommy?

"T-tidak! Bukan aku berkata kau tidak i-imut atau apa!"

"Maksud mu..?"

Thomas menelan ludahnya, bagus sekali, ia salah bicara dan ia harus menuntaskannya sekarang! Newt bahkan sepertinya tidak nyaman. "Aku... ya kau memang i-imut..."

Lalu, keheningan melanda mereka. Thomas terlihat sekali wajahnya seperti tomat dan Newt kelihatannya cukup syok, sekarang Thomas harus bagaimana? Pasti Newt akan membencinya karena ia berpikir yang aneh-aneh!

"T-terima kasih... kau juga... u-um... keren?" Newt mengatakan itu dengan kepalan menunduk dan jari-jarinya saling bertautan, wajahnya juga terlihat gugup sekaligus merona. Sosok Newt di depannya entah kenapa terlihat kecil dan lucu sekali dari Thomas.

Astaga, aku ingin merengkuhnya.

SHUCK?! Kenapa aku ingin merengkuhnya? Itu akan aneh sekali!

Isi kepalanya saling berdebat, Thomas hanya bisa menatap Newt dan terdiam. "Uh, ya, terima kasih Newt..." lalu mereka berdua kembali canggung.

"Bagaimana kalau kita duduk dan menatap Maze lagi? Menunggu kepulangan Minho?" Newt membalasnya dengan senyuman lalu mereka berdua kembali ke pohon yang seperti biasanya.

Kesunyian menghiasi percakapan mereka, Newt dan Thomas hanya menikmati pemandangan Maze dari kejauhan. Thomas menikmatinya, asalkan bersama Newt ia merasa sudah cukup.

"Hey Tommy."

"Ya?"

"Aku menyukai kita."

"Eh?" Thomas termangu mendengar kalimat Newt, baru saja ia mengatakan kalau ia menyukainya dan dirinya sendiri?

Tunggu, apa mungkin dia menyukai hubungan persahabatan mereka? Atau dia menyukai waktu sekarang? Apa ia... menyukai hubungannya dan dia jika mereka menjadi seorang...

Kekasih?

Dia menyukai ku!

Tidak! Mana mungkin Newt menyukai ku?

"Aku menikmati waktu-waktu kita berdua Tommy, entah kenapa aku menyukai kita." Newt mengucapkan itu dengan penuh penghayatan, Thomas tidak tahu harus berbuat apa.

"Kau tak usah menjawabnya... haha, aku memang aneh bukan?" Thomas tetap terdiam ia ingin sekali mengatakan kalau Newt... itu manusia terbaik di dunia.

"Banyak yang mengatakan aku itu aneh... entah kenapa aku jarang sekali tersenyum... di Glade aku hanya mempunyai Chuck, Alby dan Minho... aku selalu bersikap dingin kau tahu? Hahaha..." Thomas muak dengan kalimat Newt, tentu saja dia tidak mungkin seperti itu!

Tapi... aku tidak mengetahui masa lalu Newt...

Kali ini kau benar...

"Kadang saat aku sendirian... beberapa Gladers menyuruh ku... melakukan banyak kegiatan, terutama Gally." Thomas kini sudah mulai geram, apa-apaan mereka melakukan Newt seperti itu?!

"Tapi kali ini aku mempunyai kau Tommy, tapi m-mungkin tidak selamanya... kau pasti a-akan meninggalkan k-ku... saat k-kau bilang kau tak akan m-meninggalkan ku, a-aku sangat senang T-Tommy..."

Kini Thomas terkejut, air matanya terjatuh dan mengalir menuju pipi Newt. Thomas tidak tahan, ia tidak tahan melihat sahabat-nya terluka seperti ini. Ia tidak tahan melihat Newt seperti ini! Ia muak! Sangat muak!

"NEWT!"

Newt terdiam, lebih tepatnya kaget, tapi air matanya masih mengalir dan melihat Thomas dengan bergetar, seakan-akan ia rapuh kapanpun. Thomas memegang pundaknya dengan cekatan, menatapnya lekat-lekat, ia merasa percaya diri sekarang. Apapun itu, asalkan Newt.

"Newt! Kau itu berharga! Persetan dengan semua omongan sampah para Gladers! Kau itu baik! Kau itu adalah seseorang yang ku sayangi Newt! Dan aku tak akan meninggalkan mu Newt..." Thomas memperlambat kalimatnya dan setitik air mata turut mengalir dari kedua matanya.

Newt sudah rapuh, ia menangis dengan kencang, kini ia merasa lemah. Ia merasa lemah di depan Tommy-nya, merasa tidak pantas mempunyai Tommy di dunianya. "Newt... apapun yang terjadi... aku tak akan meninggalkan mu Newt..."

Dan saat itu, Thomas perlahan mengecup pipinya.