Unexpected.

Chapter 4.

EXO. Luhan. Sehun. Jongin. Yixing. And the rest.

Warn(s): nyerempet incest. Alur ga jelas, typo(s), crackpair alert. Lebih condong ke Hanhun daripada Hunhan.

.

.

"luhan gege!" Sehun berlari sampai ke parkiran sekolahnya tanpa melihat satupun mobil yang mirip dengan mobil luhan.

Dia sudah akan berbalik kembali tapi deru mobil masuk kedalam telinganya. Saat dia menoleh, dia mendapatkan mobil luhan berjalan kearahnya.

Saat Sehun sudah akan berteriak lagi memanggil gege satu satunya itu, dia berhenti. Baru satu langkah dan dia langsung berhenti.

"kenapa?" batinnya miris. "kenapa harus dikejar? Memang apa yang perlu dijelaskan?"

Sehun memukul sendiri kepalanya sambil berkata "bodoh" berkali kali. Hingga dia tidak menyadari kalau mobil luhan berhenti disebelahnya.

"Sehun"

Sehun menoleh, dan menatap kearah Luhan yang memanggilnya. "Ge—gege."

"Ini dari mama. Dia bilang makan dengan—" Luhan merasakan rahangnya mengeras, "Dengan Jongin." Ucapnya lagi. "Sudah ya" baru luhan akan menaikkan kaca mobil, Sehun langsung menarik baju luhan, "apa sih?"

Mendengar ucapan ketus sang kakak, sehun hanya menunduk sambil memeluk tempat makan yang tadi diberikan untuknya.

"a-aa itu, gege tak mau ikut makan siang dengan kami?"

"Tidak. Aku ada urusan dengan teman temanku."

"…"

"Sudah kan?"

"tak bisakah kau makan dengan kami?"

"aku tidak bisa! Lagipula kan sudah ada Jongin dan Yixing." Ucapnya lagi.

Mendengar ucapan luhan yang semakin lama semakin ketus membuat sehun ingin menangis—tapi tidak. Dia takkan menangis didepan luhan.

"tapi ge—"

"jangan manja sehun!" bentak luhan untuk kesekian kalinya.

Sehun benar benar sudah tidak tahan, dia akan meneteskan airmatanya kalau tidak ada tangan besar yang menutupi kedua matanya.

"Aku akan menjaganya! Luhan Gege boleh pulang"
sahut Jongin ceria. Tangannya yang sebelah memegang kotak makan sehun dan sebelahnya lagi menutupi kedua mata sehun sambil menariknya kebelakang.

"Jongin lepaskan~"

Luhan menghela nafas kasar. "huh, sampaikan maafku pada yixing" selesai berkata seperti itu mobil Luhan langsung menghilang dari pandangan.

"Jongin! Lepaskan~~" Sehun masih mencoba melepaskan tangan Jongin yang menutupi pengelihatannya.

"Kalau aku lepaskan…"

"Hn?" Sehun berhenti menarik narik tangan Jongin.

"kalau aku lepaskan, kau akan berhenti melihat Luhan gege dan melihatku?"

"Jo-Jongin…"

Jongin tersenyum miris dan melepaskan tangannya. "bercanda. Ayo makan!" Tangannya tadi beralih merangkul sehun dan menariknya masuk kembali kedalam gedung.

Jongin-a, mianhanda.

.

.

.

.

BUGH!

"Whoaa, santai Luhan!" Ucap Minseok yang melihat Luhan sibuk memukul bantalan tinju dikamarnya.

Tanpa mendengar ucapan temannya itu, dia terus saja memukul benda mati itu tanpa berucap sepatah katapun.

"Sudahlah Min" ucap Suho yang duduk tak jauh dari mereka sambil membaca buku.

"Tapi dia tiba tiba datang dan bilang 'Min. aku pinjam semua peralatan mini boxing mu. Sekarang' dan sampai sekarang dia tidak memberiku alasan!" pekik Minseok heboh.

BUGH!

BUGH!

Kantung itu terjatuh dari tempatnya tergantung. Luhan terengah engah menatap benda itu kemudian duduk.

Baru minseok akan kembali bertanya, luhan sudah mengacak rambutnya sendiri seperti orang gila. "ARGH! Aku benci didunia ini!"

Suho menutup bukunya dan akhirnya menatap kearah temannya yang frustasi itu. Dia berjalan kesamping luhan dan memukul pelan kepala luhan dengan bukunya, "ayo beli minuman kesukaanmu. Kau harus mendinginkan kepalamu."

.

.

.

.

Jongin dan Yixing dari tadi hanya terus menatap Sehun yang baru menyuapkan satu sendok kemulutnya dan sama sekali tidak berniat menelannya.

"Sehuna? Sehuna!"

Sehun tidak bergeming. Dia tetap mengunyah sambil menunduk dalam.

Yixing menghela nafas prihatin ke adik sepupunya itu. "Sehuna? Kau tidak suka makanannya? Itu aku buat berdua dengan bibi loh."

Sehun merespon dengan gelengan. Dengan wajah sedih dia menelannya, "enak kok ge. Seperti biasa."

"Lalu?"

.

.

"Ya! Makan sayurnya juga!"

"Aish. Aku tidak suka dan aku tidak akan memakannya!"

.

.

Sehun menoleh kearah pasangan yang tidak jauh dari mereka itu. "Seumur hidupnya. Luhan gege tak pernah membenci sesuatu. Mama bilang begitu padaku." Ucapnya sambil menyuapkan sesendok lagi.

"Dan aku tau akulah yang pertama kali dibencinya."

"Itu tidak benar. Luhan—"

"Yixing ge. Sudahlah, aku tau kalau gege membenciku."

"Tidak. Aduh! Jongin! Katakan sesuatu." Ucapnya saat melihat jongin hanya terus makan tanpa mencoba ikut membantu yixing.

"aku harus apa? Dari yang kulihat juga begitu."

"Tuh kan" sahut sehun sambil tersenyum miris.

Yixing meringis, "sehuna."

"…"

"Ini sebenarnya rahasia. Tapi enam belas tahun yang lalu. Tanggal 12 april…"

"Ada apa dengan waktu aku lahir?"

"kau tau kalau aku ada disana saat bibi melahirkanmu kan?"

Sehun mengangguk.

"Waktu itu kau tersenyum dan tiba tiba menangis kencang saat orangtuamu menggendongmu."

"Kenapa?"

"lalu saat luhan menyentuhmu, kau juga tiba tiba berhenti menangis."

"Ajaib. Aku bahkan jatuh cinta saat pertama kali aku lahir." Ujar sehun sambil memutar bola matanya.

"dan itu adalah saat pertama kali aku mendengar luhan berkata dia menyayangimu."

"…"

"Bagaimana bisa bayi yang baru lahir bisa melakukan hal seperti itu?" ucap Jongin mulai tertarik.

"entahlah, pokoknya, tak ada alasan untuk luhan membencimu. Takkan ada yang membencimu, sehuna.".

.

.

Luhan berdiri diruang tamu rumahnya sendiri sambil memegang satu cup bubble tea coklat.

Dia duduk disofa yang menghadap langsung ke tv sambil memejamkan matanya.

.

.

"Luhan ge! Luhan ge!"

"Aish! Kau berisik sekali!"

Sehun kecil menangis dipelukan ibunya,dia menangis tanpa menyebut nama luhan. Saat ibunya bertanya juga dia hanya menggeleng sambil menangis.

"Aish! Tak bisakah dia berhenti menangis?"

"Luhan sayang, dia ingin bermain denganmu."

"Aku sibuk ma."

"Sehuna sayang, gege mu sibuk. Mainnya nanti saja ya?"

"Luhan gege mau main? Sama sehun?"

"Aku—"

.

.

.

"Sejak kapan kau minum bubble tea rasa coklat?"

Suara lembut dan tegas itu menyadarkan luhan. "yixing. Kau mengagetkanku."

"kau keterlaluan."

"Apanya?"

"dia itu adikmu. Tak bisakah kau tunjukkan padanya sedikit kebaikanmu."

"itu memang sifat asliku xing, aku—"

"Aku bersama denganmu sejak lahir luhan. Dan kau bukan orang yang ketus pada orang lain."

"…"

"sehun menyayangimu luhan. Tak bisakah kau menunjukkan rasa yang sama?"

"aku tidak—"

"aku tidak mau dengar. Liburan kelulusan sehun nanti kita akan pergi berlibur. Berempat. Kurasa kalian harus berbicara soal ini.

"Tapi xing! Dan lagi berempat?"

"Yup. Tak ada tapi tapian. Aku, kau, sehun dan Jongin."

.

.

.

Day 2, Examination.

"kau yakin? Aku bahkan tidak melihatmu fokus belajar tadi malam." Sahut Jongin saat Sehun sudah akan masuk kedalam kelasnya.

"Aku sangat yakin, dan pasti berhasil. Kau tenang saja"

Jongin terdiam dan memandang guru yang sebentar lagi akan masuk.

"Janji satu hal padaku"

"Apa?"

"kau harus meminta bantuanku kalau kau tidak tau"

Sehun melongo sebentar lalu tawanya pecah, "tidak, aku tidak akan melakukan perbuatan seperti itu."

"Tapi kau sampai tiap hari belajar penuh selama disekolah. Dirumah dan dimanapun. Jangan kira aku tidak tau. Kau mengincar kelas khusus di High School nanti kan?"

Sehun tersenyum dan menganguk. "agar sekelas denganmu."

"Jangan membohongiku. Itu semua demi luhan gege. Aku tau"

"Jo—"

"Kim Jongin, Oh Sehun, masuk kekelas kalian masing masing"

Sehun menatap Jongin sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam kelas sambil menggigit bibirnya. Dia tidak bisa melepaskan semua bebannya sekarang. Setidaknya bukan sekarang.

.

.

.

.

Dirumahnya, Luhan dan Yixing sedang membicarakan sesuatu sambil sesekali membolak balik buku tebal-youdontwanttoknow-sambil mengerutkan dahi.

"Kau tau. Aku kadang malas sekali mengerjakan tugas seperti itu" keluh luhan sambil menutup buku yang ada ditangannya.

Yixing baru mau membalas, kalau sang nyonya pemilik rumah tidak memanggil mereka kebawah.

"Ada apa ma?"

"Ah, Lu, Xing, coba kalian pisahkan album album ini. Sudah terlalu penuh. Mana yang punya mama dan papa, lalu punyamu, dan punya sehun. Ini harus dibereskan." Jawab mamanya tanpa menoleh dan menunjuk kearah tumpukan album foto.

"Ah! Ini fotomu saat bayi cutie~" sahut Yixing saat membuka salah satu albumnya dan menemukan foto luhan saat sedang mengusap kedua matanya.

"Kau ini tch" Luhan mendecih sambil mengambil salah satu album berbentuk buku besar itu dan membukanya. Foto sehun saat dia belajar berjalan dan terjatuh. Ada beberapa foto saat dia berdiri. Terjatuh. Dan menangis. Luhan terdiam dan akan melemparnya kearah tumpukan yang lain sebelum dicegah Yixing.

"Itu sehuna? Astagaaa. Manis sekali"

"Biasa saja." Sahut luhan lagi. "Aku keatas dulu" ucap luhan lirih dan naik kelantai dua. Kekamarnya.

"kenapa dia?" sang ibu menoleh saat mendapati luhan sedang beranjak.

"entahlah. Dia aneh akhir akhir ini" jawab yixing sekenanya.

Sang ibu terlihat berfikir dan menatap Yixing intens, "ada apa Bi?"

"kau dekat dengan luhan?" yixing mengangguk. "dengan sehun?" yixing mengangguk lagi.

"Apa kau merasa ada yang aneh dengan mereka berdua?"

"Ma-maksud Bibi?"

Yang lebih tua terdiam sebentar dan mengangkat satu kardus besar kedekat tangga.

"Rasanya ada yang berbeda. Mereka masih perang dingin tapi…"

"Tapi?"

Perempuan paruh baya itu tertawa canggung, "tidak. Kurasa aku saja yang sudah lama tidak melihat mereka berdua seperti biasa. Sehuna terlalu sibuk."

.

.

.

.

"Lulu!"

"Ah yixing. Ada apa?"

"mana sehun?"

"…"

"kenapa?"

"Tuh kan. Semua orang hanya mencarinya."

"Kau ini. Masa cemburu sama adik sendiri?"

"Habisnya…"

"harusnya kau lebih sering bersamanya. Dia seperti punya sesuatu, kau tau?"

"Maksudmu?" Luhan kecil akhirnya menoleh dari game yang dimainkannya.

"Sesuatu yang membuatmu takkan bisa membencinya."

"Huh. Omong kosong. Dia ada dikamarnya. Baru tertidur setelah lama menangis."

"benarkah? Aku naik dulu kalau begitu. Bye Lu~"

Sepeninggal Yixing, Luhan mematikan gamenya dan merebahkan diri.

"I Know that he has something xing, dan itu adalah salah satunya alasan kenapa aku tidak boleh melihatnya lebih lama. Atau ini akan semakin salah…"

.

.

.

To be continued.