DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
WARNING! : Out Of Character, many, mistakes, mainstream, story from me
GENRE : Romance and humor — Rate : T
.
.
.
.
Playboy Cap Rubah | Chapter 4
.
.
.
.
BORING!
Chiyo keluar dalam keadaan kedua belah tangan membawa sekotak bekal yang Sakura masak dini tadi. Bibir keriput Nenek tua itu melengkung keatas membentuk sebuah senyum bahagia melihat sang Cucu yang sedang berberes-beres di depan rumah.
"Sakura, ini bekalmu !" Sang Nenek menyerahkan benda petak segi empat bewarna hijau muda itu kepada Sakura yang dengan ancap menerima.
"Terimakasih Nek." Ucap Sakura yang hanya dibalas senyuman oleh Chiyo. Tak lama setelah selesai memberesi barang untuk keperluan camping, Ino dan Tenten tiba dengan masing-masing menumpangi sepeda.
"Kau sudah selesai !" Ino bertanya usai terlebih dulu berhenti tak jauh dari depan teras tanpa berniat turun.
"Yup, semuanya sudah beres" Sahutnya bersemangat seraya berjalan menuju tempat letak sepeda sambil menyincing beberapa barang bawaan.
"Nenek, aku pergi dulu ya..."
"Hati-hati...!"
"Baik Nek... Ayo kita pergi sekarang" Ajakan Sakura tak mendapat tanggapan. Ino dan Tenten melongo melihat sedikit perubahan pada sang sahabat pinkish mereka.
"Sa–sakura..." Panggil Tenten tergagap. Gadis merah muda itu memamerkan cengir lebar, ia tahu pasti akan begini jadinya bila sang kedua sahabat melihat rambutnya yang dulu panjang hingga pinggul kini pendek hanya menyisakan sebatas bahu.
"Kenapa kau memotong rambutmu ?" Tanya Ino heran.
"Gaya baru, seperti rambut Shizune-senpai..." Tenten menepuk dahi. Ino termangu dengan satu butir keringat besar yang bertengger di samping kepala pirang pucatnya.
"Apa kau tak sayang dengan rambutmu yang dulu ?" Cengir Sakura lenyap, tergantikan dengan tatapan sebal yang mengarah pada Ino.
"Kau bukannya mendukungku, tetapi malah menghasut agar aku menyesal..." Celetuk gadis itu sebal. Ino tersentak untuk sesaat, lalu kemudian ia menghela nafas malas.
"Baiklah, baiklah... Kau cantik dengan rambut baru itu" Ino memuji membuat gadis berambut setara dengan warna permen kapas sebahu itu tersenyum senang.
"Mau berbincang atau pergi camping !?" Sakura mengalihkan tatapan dari Ino bergulir ke Tenten yang barusan menegur, ia tersenyum kikuk lalu bergerak menyusun beberapa tas diataa boncengan belakang sepeda. Dan setelahnya, Sakura langsung menaiki sepeda tersebut.
"Ayo kita berangkat sekarang !?" Ketiganya mengayuh dan perlahan mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak meninggalkan kediaman Sakura.
.
.
.
.
"Sasuke !" Pemuda emo itu menoleh kebelakang untuk melihat orang yang baru saja memanggilnya. Disana, terdapat Naruto tengah melangkah tenang kearahnya.
"Ada apa ?" Tanya Sasuke pada Naruto yang kini seimbang dengan langkahnya.
"Sakura belum datang ?"
"Kurasa belum..." Naruto berdecak akan jawaban dari Sasuke yang tak sesuai dengan harapannya.
"Ck, kenapa dia lama sekali" Gumam Naruto sebal mengundang lirikan Sasuke dengan kedua alis saling bertaut tebal.
"Ka—"
"Ah,! itu dia." Kalimat Sasuke terputus ketika tiba-tiba saja Naruto berseru girang melihat kedatangan Sakura bersama kedua sahabatnya. Tanpa menyempatkan untuk berbasa-basi pada Sasuke, Naruto melenggang pergi meninggalkan begitu saja pemuda emo itu dalam keheranan hanya demi menyusul Sakura yang baru tiba di depan gerbang.
"Aneh..."
.
.
"Apa ini kau, Sakura !?" Naruto menatap intens Sakura dari ujung kaki hingga puncak kepala membuat sang empu merasa risih mendapat tatapan seperti itu.
"Iya, ini aku. Tolong jangan menatapku seperti itu !" Ucapnya sebal yang kini mata indah mereka saling bertukar pandang.
"Rambutmu..."
"Kau tak suka !?" Sela Sakura asal menebak. Ino dan Tenten yang melihat kedua insan tersebut segera saja pergi, tak ingin menganggu.
"Eh! tidak, kau salah... Maksudku, kau jauh lebih cantik dengan rambut pendek seperti itu dan dahimu yang lebar itu semakin jelas terlihat..." Sakura meradang, ia ingin segera menjauh namun Naruto mencegah dengan menahan pergelangannya.
"Dahimu yang lebar itu sangat menggoda membuatku ingin mengecupnya..." Naruto melanjutkan kalimatnya yang sempat tergantung tadi. Sakura merona mendengar kata-kata indah dari pemuda di hadapannya itu yang tertuju untuk dirinya.
"Dasar pangeran gombal..." Ujar Sakura guna menghilangkan rasa malunya. Ia berniat pergi namun urung saat Naruto kembali mencekal tangan kecilnya.
"Beri aku izin untuk mengecup dahimu yang indah itu..." Pinta Naruto seraya merunduk perlahan untuk menempelkan bibir tipisnya di dahi lebar gadis yang sedang bersemu pekat itu.
Tinggal sedikit lagi, dan...
"Yuhu~… Jangan bermesraan di depan umum !"
Sakura tersentak, ia lalu mendorong dada Naruto sehingga terjadi jarak yang cukup jauh antar mereka. Mendapat kesempatan, gadis merah muda itu langsung berlari cepat menghindari sang lelaki blonde.
Dengan hati dongkol, Naruto memutar tubuh kebelakang dan terdapat Hidan tengah berdiri disana dengan wajah tanpa dosa membuat ia ingin sekali mencekiknya hingga tak bernyawa lagi.
Naruto menatap sengit pemuda banyak omong itu. Ia berjalan menghampirinya dan tanpa aba-aba langsung menginjak kuat kaki Hidan sehingga membuat sang empu berjengit merasakan sakit melanda jemari kakinya.
"GYAAAAA... INI SAKIT SEKALI !" Teriak Hidan sembari mengangkat satu kaki membawanya melompat-lompat seperti kangguru seraya memegangi titik yang sakit akibat ulah Naruto.
"Itu hukuman karena telah mengacaukan kesempatan langkaku..." Naruto memperingati sengit kemudian melenggang pergi mengabaikan Hidan yang masih mengoceh karena rasa sakit di kakinya.
"Sakura sayang, tunggu kekasihmu yang tampan ini...!" Seru Naruto dari kejauhan tak peduli Sakura dapat mendengarnya atau tidak. Sementara di tempat Sakura, gadis itu merinding seketika mendengar panggilan Naruto yang menurutnya sangat berlebihan.
.
.
.
.
Suasana bus begitu ramai dan padat oleh penumpang murid yang ikut pergi camping, tetapi untunglah bus yang di rental mencukupi tempat duduk untuk para murid sehingga mereka semua bisa duduk nyaman dalam perjalanan menuju tempat yang sudah di rencanakan.
"Lakukan sekarang !" Perintah Naruto pada Kiba yang mengangguk paham dan dengan segera pemuda bertato segitiga terbalik itu melesat dari hadapan Naruto.
Kiba berhenti melangkah tepat di samping Ino dan Sakura duduk, ia merunduk dan membisikan sesuatu pada Ino. Sakura tak menyadari kehadiran Kiba, bahkan sampai Ino beranjak dengan wajah sebal dan telah menjauh ia masih belum menyadarinya.
Itu karena saat ini Sakura tengah di sibukan dengan pemandangan disetiap penjuru jalan melalui jendela kaca bus. Setelah Ino berpindah duduk di belakang, Kiba mengacungkan ibu jari tangan pada Naruto mengisyaratkan bahwa tugasnya telah beres.
Pemuda blonde itu menyeringai kemudian bergeming meninggalkan bangkunya untuk mengisi bangku kosong di sebelah Sakura. Kini Naruto telah duduk di samping Sakura yang masih tak bergeming dari keterpakuannya memandangi keindahan alam nyata.
"Sakura~" Nafas segar nan hangat berlalu lembut menggelitiki telinga Sakura membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu menarik perhatian dari alam luar, menoleh kesamping dan mendapati wajah tampan Naruto yang berjarak begitu dekat dengannya.
"Naruto-kun !" Ia berseru sedikit terkejut. Sekelebat, ingatan Sakura terpusat pada Ino. Ia tersentak dan lalu melihat kebelakang kursi barisan nomor empat. Disana, terdapat Ino tengah duduk bersama Kiba dengan wajah bertekuk masam.
"Tak bisakah kau melakukan dengan cara yang normal !" Sungut Sakura kesal akan perbuatan yang tak pernah terduga dari Naruto.
"Aku tak bisa, karena nanti kau pasti akan menghindar dariku..." Naruto menjawab singkat dan padat. Sakura memalingkan wajah keluar jendela saat lelaki pirang itu menyandarkan kepala di bahunya.
"Aku lapar" Tutur Naruto sedikit manja membuat Sakura mengulum senyum geli.
"Apa kau membawa sesuatu yang bisa untuk aku makan...!?" Sakura tak menjawab, ia memilih menjulurkan tangan meraih tas dan merogoh sesuatu di dalamnya. Berhasil dapat, Sakura lalu menarik keluar tangannya yang tengah memegang benda petak segi empat.
"Ini,!" Tawar Sakura pada Naruto setelah terlebih dulu membuka tutupnya yang ternyata isinya adalah telur gulung. Naruto melirik Sakura, hanya melirik tak berniat menjauh dari bahu kecil gadis itu.
"Bekal untukmu..." Jelas Sakura mengerti dengan raut bingung yang terpancar diwajah Naruto. Tersenyum singkat, kemudian pemuda itu kembali duduk meninggalkan bahu Sakura.
"Suapkan aku !" Pintanya yang langsung mendapat kilatan tajam dari batu Emerald disana, namun masih tak bisa di sembunyikan pipi merona sang empu mata indah tersebut.
"Tidak mau, makan saja sendiri" Tolak Sakura jengkel bercampur malu.
"Oh, ayolah sayang..." Naruto memohon tetapi tak di acuhkan oleh Sakura. Kesal tak kunjung mendapat respon, Naruto meraih tangan Sakura dan menyelipkan sumpit pada celah jemari putih sang gadis memaksanya agar mau.
Sakura berdecak. Dengan perasaan malu yang tak terkira, ia mengepit potongan kecil telur berisikan daging dan sayuran itu. Mengabaikan tatapan sinis dari para wanita di dalam bus, Sakura langsung mengerahkan makanan tersebut pada Naruto.
"Umm~... Ini lezat sekali..." Ujar Naruto disela mengunyah penuh cinta suapan dari Sakura. Ketika gadis pink itu kembali hendak menyuapi Naruto, ban mobil yang mereka tumpangi melintasi asal batu ditengah jalan tanah membuat suapan Sakura meleset dan mengenai pipi Naruto hingga meninggalkan kotoran minyak.
Menaruh tempat bekal, Sakura lalu mengeluarkan beberapa lembar tisu dari kantung kecil tas dan membersihkan dengan terlatih pipi Naruto yang kotor.
"Maafkan aku..." Ucap Sakura. Naruto hanya tersenyum senang menanggapinya membuat para wanita menggerutu. Mereka semua iri terhadap Sakura yang mendapat perlakuan istimewa dari sang Prince blonde.
Naruto begitu perhatian dan tak pernah bisa marah pada Sakura, sedang mereka tak lain tak bukan hanyalah sebatas teman kencan. Tidak lebih dari itu sehingga bila membuat Naruto sampai marah, maka mereka akan dijauhi.
"Sudah, tak apa..." Naruto berkata lembut seraya menggenggam telapak kecil Sakura. Gadis itu bersemu, ia menarik cepat tangannya dari cekalan Naruto karena malu terhadap orang disekitar. Pria itu terkekeh, ia lalu menyumpit telur gulung tadi dan melahapnya santai.
.
.
.
.
"Haah~ akhirnya sampai juga... Perjalanan ini sangat merepotkan" Keluh Shimakaru yang mendapat lirikan bosan dari Naruto.
"Semua di dunia ini selalu merepotkan bagimu..." Naruto menyindir. Pemuda berkuncir itu menguap lebar sembari meregangkan otot yang kaku sehabis dari perjalanan tadi.
"Kau lumayan hebat bisa membaca isi pikiranku" Shikamaru memuji dengan nada tak bersemangat.
"Anak kecil juga tahu dengan sifat malasmu itu..." Dengus Naruto terbiasa akan kemalasan sang teman berkuncir nanas.
"Ck, terserah... Merepotkan"
"Ino-pig, Tenten, tunggu aku !" Langkah Naruto terhenti, ia memutar tubuh guna melihat gadis bersurai merah muda sebahu yang hendak melaluinya.
Satu tangkapan gesit di pergelangan menunda niat Sakura untuk menyusul Ino dan Tenten. Sebelah sudut bibir si pelaku penangkapan itu terangkat kecil karena berhasil menahan sang korban.
"Bersamaku saja...!" Ajak pemuda pirang itu dan dengan cepat merengkuh pinggang ramping Sakura lalu menuntunnya berjalan meninggalkan Shikamaru seorang diri.
"Hey, tak perlu menggunakan cara seperti ini !" Sakura menegur, namun Naruto masih bersikukuh mempertahankan posisi mereka saat ini.
"Sudah diam saja, begini terlihat jauh lebih romantis dari pada bergandengan..." Jawab Naruto seraya semakin merapatkan tubuh bercelah mereka. Sakura menggerutui perilaku Naruto namun batinnya berkata lain.
Hati Sakura terasa nyaman dan hangat saat berdekatan dengan Naruto, ia ingin terus seperti ini tetapi belum waktunya. Naruto harus benar-benar bisa berubah, dan pada saat itulah Sakura akan mengungkapkan semua isi hatinya yang hanya tersimpan rapat untuk Naruto Namikaze.
.
.
.
.
"Forehead, kau mau pergi kemana !" Ino bertanya pada Sakura yang hendak keluar dari tenda dengan tubuh berbalut jaket tebal hitam berbulu lembut.
"Mencari angin" Jawab Sakura sembari mengenakan hoodie jaket. Ino menyeringit, ia hendak kembali mengajukan sebuah pertanyaan namun Tenten menyela.
"Biarkan saja Ino, aku yakin sekali dia keluar hanya untuk mengintai si Prince blonde itu..." Ino mengerti. Sakura melirik malu Tenten yang sedang bergumul dengan selimut tebal diatas tilam lipat.
"Kalau mendukung jangan mengejek !" Celetuk Sakura dengan bibir mengerucut panjang. Tenten tertawa garing sementara Ino terkikik geli.
"Baiklah... Semoga sukses !" Sakura tersipu malu, kemudian ia segera menghilang dari celah tenda.
"Do'a kami berdua selalu menyertaimu Sakura...!" Teriak Tenten dari dalam membuat rona pekat di kedua pipi Sakura menjalar hingga ke telinga. Ino tertawa singkat dan lalu membaringkan diri di hadapan gadis cepol itu, tak lupa ia juga menarik selimut dan kini berpose sama dengan tidur Tenten.
.
.
.
.
Naruto berjalan tenang menyusuri pinggiran air terjun. Sesekali ia saling menggosokan telapak tangan dan menempelkannya di kedua pipi. Itu cukup mengurangi rasa dingin yang menyerang tubuh Naruto.
Sakura menarik nafas lega, ia senang karena telah tiba di tempat air terjun setelah bersusah payah melalui bebatuan besar yang menjadi penghalang jalan. Ketika hendak duduk, sekelebat bayangan sosok gestur tinggi mengurungkan niat Sakura.
Ia menyeringit kala perlahan sosok disana mulai menampakan diri seutuhnya. Tersenyum senang, Sakura kemudian melangkah tergesa menghampiri sosok bersurai pirang disana.
"Naruto-kun !" Pemuda itu menoleh, senyum tipis mengambang di bibir kala mendapati gadis pink tengah berdiri tak jauh dari belakangnya. Tanpa menjawab, ia mendekati Sakura dan lalu meraih tangan gadis tersebut setelah berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Naruto. Sakura terkikik seraya mengangkat tangan kekar sang pria.
"Hanya ingin melihat pemandangan..." Gadis gulali itu menjawab senang membuat bibir merah Naruto terangkat tinggi membentuk seringai seksi.
"Bukan disini tempatnya" Alis Sakura saling bertaut, ia menatap tak mengerti pemuda tinggi di hadapannya itu.
"Lalu, dimana ?!" Naruto diam tak menjawab, ia langsung menarik Sakura menjauhi air terjun membawa gadis yang hanya pasrah itu kesuatu tempat.
.
.
"Indah sekali..." Gumam Sakura terpesona melihat hamparan bintang dan bulan dari atas bukit dalam dekapan hangat Naruto. Lelaki yang menjadi sandaran itu tersenyum tipis, ia menghirup dalam wangi rambut Sakura yang mengkuar disekitar hidung mancungnya.
"Sakura !" Panggil Naruto pelan.
"Hmm..." Sakura merespon sembari menikmati wangi lembut khas bau tubuh Naruto.
"Ada yang ingin aku katakan padamu..."
"Apa itu ?" Tanya Sakura tak sabaran yang kini telah meninggalkan dada bidang Naruto bergantian dengan saling bertukar pandang.
"Sebelumnya aku tak pernah mengatakan ini pada wanita manapun..."
"!?"
"...Aku mencintamu..." Sakura tertegun mendengar ungkapan singkat Naruto, ia menatap lekat manik Shappire kepucatan disana yang terlihat jelas ketulusan dari pancaran iris indah tersebut.
Perlahan sebelah tangan Naruto bergerak menangkup pipi merona Sakura. Kini mereka terpaku akan keindahan sinar mata masing-masing. Ibu jari Naruto mengelus lembut bibir peach Sakura. Tak tahan dengan bibir menggoda disana, iapun langsung menyatukan milik mereka.
Kelopak Sakura terkatup saat merasakan daging lembab dan hangat menempel di permukaan bibirnya. Tanpa ragu, ia menarik tengkuk Naruto, memintanya untuk melakukan lebih dari kecupan ringan.
Mereka saling melumat, tangan berotot Naruto memijat pinggul kecil Sakura membuat sang empu bergerak liar menjambak rambut pirang belakangnya yang sedikit jabrik kebawah. Lidah panas Naruto menyapu permukaan manis Sakura kemudian memintanya untuk membukakan bibir itu agar bisa masuk.
Sakura mengerang disela gumulan lidah mereka. Seluruh syaraf tubuh gadis itu melemah, ia merasa bagai tersengat listrik ketika telapak lebar Naruto mengelus dari atas punggungnya hingga turun ke pinggang.
"–hhmmpph—" Desahan Sakura teredam karena sumpalan lidah basah Naruto, ia menggelijang nikmat dalam cumbuan yang diberikan oleh pemuda itu. Naruto menarik keluar lidahnya, dan kini hanya mengecapi bibir ranum Sakura dan sesekali menggigitnya dengan gemas.
Saat Naruto hendak menjauhkan wajah mereka, Sakura mencegahnya. Ia menangkup sisi wajah Naruto dan langsung melumat rakus bibir eksotis pria tersebut. Naruto menyeringai, dengan senang hati ia meladeni keagresifan Sakura.
Suara kecapan seksi terdengar begitu jelas diatas bukit tersebut yang diselimuti oleh rerumputan. Bibir nakal Naruto menggerayangi leher jenjang Sakura, terkadang lidahnya menyapu kulit mulus itu membuat sang gadis meremas kuat surai pirang lembutnya.
Naruto dan Sakura bercumbu mesra dibawah sinar rembulan. Udara dingin tak membuat mereka kedinginan. Hangat, hanya itulah yang dirasakan dalam cumbuan lembut mereka.
.
.
.
.
Sakura tersenyum-senyum sendiri di pagi hari yang cerah dengan pipi merona membuat Tenten menatapnya heran dengan alis bertekuk tebal. Gadis bersurai coklat itu mengangkat bahu tak peduli dan kembali melanjutkan pekerjaannya melipati selimut.
"Semalam kalian berdua habis melakukan apa ?" Ino bertanya, ia tak tahan akan sikap aneh yang Sakura tunjukan di pagi yang terasa panas ini. Senyum gadis pink itu pudar, ia menatap sebal Ino yang selalu saja ingin tahu urusannya.
"Kami tidak melakukan apa-apa..." Jawab Sakura berdusta.
'Hanya berbagi ciuman cinta' Innernya menimpal sambil terkekeh, tatapan heran Ino berubah menjadi selidik ketika ia menangkap ruam merah di samping leher Sakura.
"Apa dia menyentuhmu !?"
Byurrr...
Semburan air mineral berasal dari mulut Tenten membasahi wajah cantik Ino. Bibir mungil Sakura terbuka lebar karena perkataan konyol yang Ino ajukan tadi.
Ino mendengus dongkol, ia mengambil beberapa lembar tisu putih dan langsung mengelap wajah masamnya yang menjadi korban dari semburan Tenten.
"Kau ini dukun atau apa sih, main sembur orang sembarangan !" Sungut gadis pirang pucat berkuncir ekor kuda itu kesal. Tenten hanya tertawa kikuk dengan telunjuk menggaruk pipi yang tak gatal.
Sakura menghela nafas lelah, ia kemudian merebahkan diri disamping tumpukan tilam dan bantal. Tenten terus mengamati gerak-gerik gadis berambut pendek itu dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca, Ino juga ikut.
"Aku tak semurah itu..." Celetuk Sakura seraya memejamkan kedua mata.
"Lalu, bekas merah di lehermu itu karena apa !?" Ino mendesak tak mau kalah membuat Tenten menilik leher jenjang Sakura yang terekspos tak begitu jelas karena gadis itu mengenakan kaos orange dengan leher kecil.
"Karena ulah mulut nakal Naruto-kun" Ino dan Tenten terbelalak kaget, kini wajah mereka mengisut seperti Nenek Chiyo karena mendengar jawaban yang meluncur manis dari bibir pink Sakura.
"Kalan sud—"
"Kami tidak melakukan lebih dari ciuman..." Sakura menyela kalimat Ino seraya membuka mata, ia terkikik malu sedang Tenten menarik nafas lega.
"Syukurlah" Ucap Ino sambil mengelus dada. Sakura mengulum senyum mengingat kejadian semalam. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa jika nanti bertemu dengan Naruto.
"Ayo kita keluar, semuanya pasti sudah menunggu..." Sakura bangun dari rebahannya, ia mengangguk singkat menerima ajakan Tenten serta Ino juga kini telah berdiri hendak cepat keluar.
.
.
Brukkk...
Beberapa ranting kering beronggok di hadapan seorang lelaki muda yang memiliki luka gores melintang dibagian hidung hingga sedikit mengenai pipi.
Iruka, nama dari lelaki berkuncir itu, ia tersenyum puas dengan hasil kerja Kiba yang mendapatkan cukup banyak kayu bakar untuk api unggun.
"Hosh~ Apa hosh~ ini sudah cukup hosh~, hosh..." Keluh Kiba lelah sehabis menyusuri hutan lebat untuk mencari ranting dan terkadang mematahkannya hingga menjadi potongan kecil yang cukup bisa ditaruh diatas pundak.
"Sudah, kau bisa istirahat..." Iruka menyuruh sang murid, ia merasa kasihan melihat peluh yang membanjiri seluruh tubuh Kiba. Pemuda itu terengah hebat seperti habis dikejar oleh penjaga hutan.
"Terimakasih Sensei..." Dan setelahnya, Kiba mengambrukan diri di rerumputan kering akibat terjemur terik sinar matahari jam sepuluh pagi.
Bayangan seseorang melindungi Kiba dari sengatan sang raja siang. Pemuda itu membuka mata, dan seketika mendapati Naruto tengah berdiri tegak sambil menatapnya datar dari atas dengan kedua tangan. Seperti biasa, selalu tersimpan dalam saku celana.
Agar terlihat keren. Itulah yang pernah Naruto katakan pada Kiba.
"Haah~ ini tak adil, aku mendapat tugas yang berat, sedangkan kau hanya berjalan tenang sambil memantau semua murid... Menyebelkan" Kiba menutur iri, ia merasa seperti di anak tirikan oleh Iruka.
"Orang sabar akan menjadi tampan, namun tetap tak bisa mengalahkan ketampatanku..." Ujar Naruto percaya diri. Kiba berdecak, ia bangun dan lalu duduk dengan sebelah tangan menompang diatas lutut.
"Ya, ya... Terserah apa katamu..." Jawab Kiba kesal. Ia memang selalu dalam hal bersaing dengan Naruto. Lelaki pirang di hadapannya itu mempunyai daya tarik yang kuat, oleh karena itu semua wanita cantik dan seksi berlarian mengejar sosok tinggi nan tegap tersebut.
Sebelah sudut bibir Naruto terangkat tipis, ia lalu melangkah tenang menginjak dedaunan kering untuk menuju letak tenda Sakura yang terdiri beberapa meter dari tempat Kiba mengistirahatkan diri.
"Kau mau kemana ?" Kiba berseru kencang dan yang di dapatnya hanyalah kebungkaman dengan wajah dingin dari pemuda tampan itu.
"Cih, selalu saja dia bersikap seperti itu..." Celetuk Kiba kesal usai memastikan Naruto telah menjauh dari tempatnya.
"Aku mendengar itu... Kiba !" Pria itu terlonjak. Perlahan, ia memutar kepala kearah belakang dengan gerakan patah-patah.
"Na–naruto..." Panggil Kiba merinding melihat tatapan memangsa Naruto yang bagaikan jelmaan siluman rubah.
"Naruto-kun !" Panggilan halus dari belakang Naruto merubah kembali kilatan mata pemuda itu. Ia berdiri kemudian membalikan tubuh kebelakang untuk melihat gadis yang memanggilnya tadi.
"Oh, rupanya kau Sakura !" Naruto merespon tenang dan langsung menarik tangan kecil gadis itu mengabaikan keberadaan Kiba disana.
"Aku lapar, tolong buatkan sesuatu untukku..." Pinta Naruto membuat Sakura tersipu malu, ia jadi merasa seperti telah menjadi seorang istri. Sementara Kiba, ia hanya melongo melihat perubahan drastis dalam jati diri Naruto.
'Demi tuhan... Dalam seumur persahabatan, baru kali aku melihat dia bersikap manja seperti itu pada seorang wanita selain Bibi Kushina...' Kiba membatin tak percaya. Ia menggeleng kuat untuk melenyapkan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya.
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
.
A/N : Ae Hatake » Kalau soal itu... Sepertinya fic ini tidak sampai mereka selesai sekolah
L » Okay, terimakasih... Saran kamu saya terima :)
