Author's note:

... mohon tampar author yang kena bias bonus majalah Aria di mana Kusanagi Izumo dan Munakata Reishi hanami-an berdua sambil menunggu anggota klan masing-masing tiba di tempat hanami-an tersebut... sehingga author sekarang seneng banget nulis interaksi antara Izumo dan our beloved megane king. Sisanya, another galau moment of our megane king, banyolan tentang Seri dan anko, spoiler Missing Kings dan K Countdown, sementara sisanya... silakan baca sendiri~! *author disikat pake sikat kawat sama pembaca*


...


.

Project K (c) GoRa & GoHands

BLUE SUN ~Chapter 4: Hollow Sun~

disertai terjemahan ke dalam bahasa Inggris lirik lagu yang berjudul Kakan, oleh Tsukiko Amano

.

'Apakah semua itu memanglah pertanda bahwa dirinya yang telah hilang tidak akan pernah kembali lagi?'

.

.

.

Raung sirine di telinganya. Gemuruh pedang raksasanya yang meretak menggantung di langit, menggaung hingga rongga kepalanya. Titik-titik partikel serupa perisai biru di sekelilingnya yang mulai mengubah bentuk, tak sesuai dengan apa yang diperintahnya. Tidak. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia harus segera mengakhiri. Ia harus secepatnya mengeluarkan sang raja kecil dari rentetan peluru dan kilatan petir aura hijau yang mengepung dan mengejar—

"Reishi, di belakang…!"

—perisainya yang terlempar. Reishi, mendekap sosok mungil dalam dadanya, menghempas tubuhnya hingga menubruk dan memecahkan kaca jendela. Punggungnya yang kemudian menangkap hempasan angin, membawa tubuhnya dan satu lagi dalam dekapnya meluncur vertikal dari ketinggian. Nyeri menusuk di pundak dan perutnya. Dan ia tidak lagi menghitung dari jarak berapa meter ia menjatuhkan dirinya dan sang Raja Merah dari gedung pencakar langit itu.

Lalu pekik nyaring dari bawah sana. Diikuti perisai biru yang mengepungnya, yang bukan berasal dari pedangnya maupun dari bawah kesadarannya. Lalu sepasang sayap berwarna merah. Memperlambat jatuhnya. Balas menakupnya dalam kehangatan. Damai yang nyata.

Mungkin sudah saatnya ia menutup matanya. Mengistirahatkan raganya. Mendekam raung pedang birunya di langit. Sejenak. Hanya untuk sesaat.

Meski buaian merah itu melenakannya. Mengundang hasratnya untuk tidak mengerjap matanya lagi.


...


"Luka tembak?!" Awashima Seri nyaris berteriak. Sementara Akiyama Himori turut membelalakkan mata dan menyambung perkataan sang letnan.

"Dan bukan luka pecahan kaca seperti yang ditemukan di beberapa bagian tubuhnya?!"

Bertukar pandang pada Akiyama lalu berpaling berurutan pada Kusanagi Izumo dan Kushina Anna, sang letnan Scepter 4 itu meneruskan, "Raja Merah, mohon maaf sebelumnya, tapi… apakah Anda bersedia menjelaskan kronologis kejadian di dalam Menara Mihashira?"

"… ya. Saat penyerangan terjadi, aku sedang berdua dengan Reishi di ruang Dresden Slate. Begitu alarm tanda bahaya dibunyikan, Reishi membawaku ke jalan rahasia yang hanya digunakan Yang Mulia Raja Emas sebelumnya. Namun… aku tidak tahu mengapa, tapi… ketika tiba di lorong itu, orang-orang berbaju hijau dan laki-laki itu sudah menghadang kami. Reishi melarangku menggunakan kekuatanku. Reishi hanya memintaku untuk terus berlari di sampingnya, mengikutinya. Aku tahu Reishi pun sedang tidak bisa menahan mereka semua lebih lama… kekuatannya tidak bisa ia kendalikan…. Ia berusaha melindungiku dengan perisainya dari aura hijau dan suara tembakan, dan ketika kami tiba di ujung lorong itu, Reishi… Reishi melepaskan perisainya dan memutuskan untuk melompat dari jendela. Hanya saja saat itu, aku mendengar dua tembakan terakhir meletus, dan… dan…."

"Sudah, Anna… sudah…."

Akiyama Himori di samping sang letnan tampak mengerutkan kening. "… orang-orang berbaju hijau dan, laki-laki itu…?"

"… Mishakuji Yukari."

Bisik kecil dari Anna dalam dekap erat Izumo seolah menjadi jawaban penutup. Lalu jeda. Sunyi yang tidak wajar.

"Lalu sekarang, bagaimana?"

Seri mendesah pelan sebelum menjawab pertanyaan Akiyama. "Aku tidak khawatir dengan masa pemulihan Kapten. Kapten yang kukenal bukanlah orang yang mudah menyerah dalam situasi seperti ini. Ia akan pulih dalam waktu cepat. Yang menjadi beban pikiranku adalah tentang Klan Hijau yang berhasil meretas jaringan pertahanan yang diciptakan Fushimi."

"Ya. Fushimi-san pun terlihat cukup terpukul dengan pukulan telak dari Klan Hijau kali ini. Berterima kasih pada para anggota HOMRA, Fushimi-san kini sedang memperbaharui jaringan Scepter 4 dan Menara Mihashira."

"Namun kita tetap tidak bisa memindahkan perawatan Kapten ke Menara Mihashira, setidaknya sampai Fushimi berhasil mengamankan seluruh sistem keamanan dalam gedung. Akiyama, beritahu personil lain, termasuk Zenjou-san untuk bersiap. Aku akan mengirimkan jadwal jaga Kapten di rumah sakit ini."

Satu gestur penghormatan pada Seri, dan sang letnan kembali beralih pada Izumo. "Terima kasih sudah bersedia meminjamkan anak buahmu untuk membantu Fushimi, Kusanagi."

"Sama-sama, Seri-chan. Musuh kali ini bukanlah musuh yang bisa kita hadapi apabila kita berjalan masing-masing. Atau setidaknya… tidak dengan kondisi raja kita masing-masing yang seperti ini."

"… maafkan aku."

"Jangan khawatir, Anna. Aku tidak menyalahkan siapapun di sini."

"Seri…."

Sang letnan menoleh. Tampak tidak biasa mendengar namanya dipanggil oleh bisik lirih suara kecil tersebut. "Ada apa, Raja Merah? Ada yang bisa kubantu?"

"… boleh aku tetap di sini? Menunggu Reishi? Reishi terluka karena aku, jadi aku…."

Satu senyum. Seri menggeleng lembut. "Justru karena Kapten menyelamatkanmu, jadi kau harus beristirahat, Kushina Anna. Setidaknya, pulanglah terlebih dahulu, tenangkan dirimu dan obati luka-lukamu. Esok atau lusa kau sudah lebih baik, datanglah kemari bersama Kusanagi. Kapten pasti akan senang."

"… baiklah. Terima kasih, Seri."


...


.

As the ship leaves
I hear a melancholy melody
not knowing the hearts of those who stand still in defeat

.

Bunyi ritmik di sudut pendengarannya. Wangi obat kimia di indera penciumannya. Tarikan napasnya yang berat. Sesak. Sekujur tubuhnya ngilu. Nyeri. Seolah tulangnya berderak bersamaan dengan udara bebas yang dihirupnya. Dan sakit yang menandakan bahwa dirinya masih hidup. Masih bernapas. Masih memiliki gulir sisa waktunya di muka bumi.

Meski sejujurnya, Reishi ingin terpejam dan tidak pernah terbangun lagi.

Samar-samar ia bisa mengingat apa yang telah terjadi. Penyergapan yang didalangi oleh Hisui Nagare di Menara Mihashira, sistem keamanan yang pastinya telah dijebol kawanan Jungle, lalu telapak tangan Kushina Anna yang digenggamnya, berlari tanpa henti mencari jalan keluar, berusaha menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan anggota Klan Hijau dan Mishakuji Yukari ke arahnya. Ya, hanya padanya. Hisui Nagare tidak akan tertarik pada Raja Merah maupun keberadaan Klan Merah. Sejak awal yang diincar sang pemimpin Jungle adalah Dresden Slate, sekaligus menyingkirkan tangan raja-raja manapun yang berusaha melindungi sumber kekuatan para raja tersebut. Siapapun, termasuk dirinya yang hanya sekedar menjadi pengganti bagi sang raja yang hidup dalam keabadian sebagai pemilik tunggal Dresden Slate.

Reishi hanya bisa berharap. Berharap bahwa anak buahnya dan para anggota Klan Emas lainnya sanggup mengamankan Dresden Slate dari tangan Hisui Nagare….

… dan berharap bahwa gadis kecil yang jatuh bersamanya itu berhasil selamat dari segala luka yang mungkin disebabkan olehnya.

.

Silence has returned to the vast space
The sad nail marks scratched in it penetrate my heart

.

Ia membuka matanya. Pandangannya mengabur. Tentu saja, pastinya ada yang melepas kacamatanya. Mengedar tatapan ke sekeliling, yang ia temukan hanyalah bayangan buram tirai berwarna biru pucat, botol infus dan transfusi darah yang digantung di sisi tempat tidurnya, serta warna merah bercampur biru di atas vas di meja samping ranjangnya. Reishi menyipitkan kedua matanya, berusaha mempertajam fokus matanya pada benda tersebut.

Satu buket bunga. Mawar merah dan biru. Tertata cantik seolah menghidupkan nuansa kamar rawatnya. Reishi tersenyum. Ia sudah bisa menebak siapa yang dengan begitu baik hati mengiriminya mawar berwarna merah dan biru. Dua warna kontras yang awalnya ia pikir tidak akan pernah menyatu dalam padu-padan harmoni.

Pada kenyataannya, dirinya yang identik akan warna biru itu terlanjur tidak sanggup melepaskan imaji merah marun membakar dari sudut ingatannya.

.

The fort that ended the battle is exposed
to the shattered black clouds and the glory of blessings
Flowers fall on the bodies buried in the flowing white sand
And the fort is bleak and deserted

.

Kepalanya bergerak. Tengadah menatap langit-langit kamar rawatnya. Ada rasa ganjil dalam benaknya. Ada yang tidak biasa menghantuinya. Bukan rasa nyeri yang menjerit di tubuhnya setiap kali ia berusaha beringsut atau menarik napas panjang. Bukan pula dari pening di kepalanya maupun sunyi-senyap menggantung di sekitarnya.

Oh, tentu saja. Reishi ingat. Ia tidak menemukan matahari birunya, maupun hantu merah marunnya yang semakin sering menginvasi mimpinya tanpa diundang. Betapa ironis. Dua tahun dirinya dihantui oleh tiupan angin dingin membeku dan sosok berwajah garang yang tidak pernah gagal mengakhiri nyawanya di setiap penghujung mimpinya… dan ketika di dunia nyata ia berkejaran dengan sang pencabut nyawa, dua entitas pembunuh dalam bunga tidurnya ini tidak menunjukkan taring sama sekali.

Reishi mendadak ingin tertawa. Ada panas yang memerih, menjalari sukmanya. Belenggu masa lalu yang tidak pernah melepas genggaman tangannya. Penyesalan yang tidak pernah lelah menemani setiap langkahnya. Hingga tubuhnya yang harus menanggung beban itu. Pedangnya yang mulai memecah. Partikel-partikel birunya yang tidak bisa lagi ia kendalikan secara sempurna.

Sebentuk rasa yang bermain. Menggulir tanya. Apakah seberat ini tanggung jawab yang harus dipikulnya? Dan bagaimana akhirnya jika… jika di bawah langit bersalju dua tahun yang lalu, ia memutuskan untuk melepas kekuatannya, dan merentang tangan untuk menerima keruntuhan dua pedang raksasa itu?

Sungguh. Reishi tidak pernah berhenti mempertanyakan, bagaimana jadinya jika hari itu ia memilih untuk sama-sama mengakhiri nyawanya, sebagaimana ia harus mengakhiri nyawa seorang teman terkasih dengan kedua tangannya sendiri.

.

Would you say I'd have changed
if I'd thrown away all the other options that day
and chose you?

.

Tangannya yang bebas dari tusukan selang dan jarum lantas bergerak. Menakup wajahnya. Menghalangi pandang matanya. Lengkung di bibirnya merekah. Sinis. Satir. Sudut bibirnya yang gemetar. Getar yang sama seperti yang terasa jauh dalam dadanya.

Reishi tidak bisa membayangkan. Tidak bisa melanjutkan delusinya. Tidak pernah bisa membayangkan dirinya dan Suoh Mikoto sama-sama berakhir di bawah dentuman pedang keduanya hari itu.

.

I was so sure I was on the right side
That I was prepared to lose the hand I held tightly

.

"Ara, Kapten Munakata? Kau sudah sadar?"

Tidak menyadari keberadaan seseorang dalam kamarnya, Reishi mengerjap. Terlebih lagi suara tersebut bukanlah suara akrab yang biasa ia dengar sehari-hari di kantornya, namun bukan pula sebuah suara yang tidak ia kenal sama sekali. Menurunkan tangannya, Reishi berpaling, menemukan surai pirang dan lensa kacamata berwarna gelap menghalangi pandangan matanya dengan si empunya suara. Oh ya, Reishi sudah tahu siapa tamunya….

"Kusanagi… Izumo?"

Suaranya yang serak membuatnya hampir terlonjak kaget. Tanpa disangka. Seolah ia sudah berminggu-minggu… atau bahkan berbulan-bulan tidak menggunakan suaranya untuk berbicara. Lagipula, sebenarnya sudah berapa lama ia tak sadarkan diri semenjak penyerangan di Menara Mihashira terjadi?

Terdengar suara kursi yang diseret tepat di sisi ranjangnya. "Ya, dan maaf jika aku adalah orang terakhir yang kau harapkan untuk kau temui ketika kau membuka matamu."

"Tidak… aku tidak berpikir seperti itu," gumam Reishi, kini mencari-cari ke sekeliling, setengah berharap akan kehadiran seseorang lain yang turut menyertai Kusanagi Izumo menghabiskan waktu untuk menjaganya hingga siuman.

"Aku ke sini tidak sendiri, sebetulnya. Anna, Yata-chan, dan Kamamoto ada di lobi. Awalnya Anna yang bersikeras ingin menemanimu, dan meski kami telah mendapatkan izin dari Seri-chan, dokter dan perawat tetap tidak memperbolehkan Anna masuk ke ruang rawatmu."

Ada lega yang menyapa. Sebersit rasa kecewa ketika ia tidak menemukan orang lain selain Kusanagi Izumo dan dirinya dalam ruangan tersebut, yang berangsur pudar menjadi sebentuk hangat merasuk ketika nama sang raja kecil diucapkan. Reishi bersyukur, gadis kecil itu selamat.

"Kushina Anna… ia baik-baik saja?"

"Hanya lecet sedikit. Terima kasih banyak, Munakata. Terima kasih karena telah melindunginya."

Reishi menggeleng. Bukan. Bukan ia yang melindungi gadis itu. Justru dirinya lah yang dilindungi oleh sang Raja Merah. Kini Reishi ingat sepasang sayap membakar yang memperlambat laju jatuhnya, mengepak susah-payah hanya untuk membawanya selamat kembali ke atas tanah, sebelum kegelapan pekat menjemput dalam tidur tanpa mimpinya. Jadi, bukan Anna maupun anggota Klan Merah yang seharusnya berterima kasih padanya.

"Tanpanya, aku tidak akan mendarat di tanah dalam keadaan utuh, Kusanagi. Lalu… Dresden Slate dan anak buahku…?"

"Tenang saja, Hisui Nagare tidak berhasil mendapatkan Dresden Slate. Dan dalam dua minggu ini Saru-chan berhasil merombak ulang sistem jaringan pertahanan baik Scepter 4 maupun Menara Mihashira, jadi kupikir kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."

"Tunggu sebentar," ujar Reishi, mengernyitkan kening. "Bisa tolong ulangi kata-katamu? Berapa lama Fushimi-kun membuat ulang jaringan keamanan?"

"Dua minggu."

"… aku tidak sadarkan diri, selama itu?"

"Lebih tepatnya lima belas hari, Munakata. Empat hari pertama kau habiskan di ICU. Dokter sedikit terlambat melakukan operasi untuk mengangkat peluru di tubuhmu karena mereka kekurangan persediaan labu darah hingga harus menunggu beberapa labu dikirimkan dari luar Kota Shizume. Lagipula… AB rhesus negatif, Kapten Munakata? Kalau aku adalah Dresden Slate, aku akan berpikir tujuh kali sebelum menobatkan seorang raja dengan golongan darah langka sepertimu."

Reishi hanya mendengus "Dan sisanya?"

"… kau tertidur seperti seseorang yang menolak untuk bangun lagi. Atau setidaknya, begitulah menurut Anna."

Terkekeh pelan, Reishi berusaha menahan sensasi janggal yang melintas dalam benaknya. "Kau bilang dokter tidak mengizinkan Anna memasuki ruang rawatku, lalu bagaimana—"

"—kau tahu sendiri jawabannya, Munakata. Sesuai perkataan Anna, mungkin kau tidak menemukannya, tetapi… ia mencarimu, melalui mimpinya. Dan kuharap kau tidak melupakan kemampuan Anna sebagai seorang strain."

"Begitu," ujarnya lambat-lambat. Kentara tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang sekejap menyergap. "Lalu, apa yang Anna katakan? Apakah ia menemukanku dalam mimpinya?"

Laki-laki di sampingnya itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab diiringi satu hela napas pendek. "Aku tidak tahu persis, tapi… Anna hanya mengatakan bahwa kau mungkin tidak ada lagi di sini. Bahwa setengah jiwamu kau telah pergi ke tempat yang jauh sementara setengah bagian dirimu tetap terikat di tempat ini."

.

If you can't forgive my feet for straying
then why would the gates open and let me in?
The flowers are buried in the flowing white sand
and the fort, having lost its master, sinks into the sea in ruins

.

Jawaban Kusanagi Izumo membuat Reishi tidak bisa bereaksi. Bahkan dirinya hampir lupa caranya bernapas.

Setengah jiwa yang telah pergi jauh? Kushina Anna memang tidak pernah salah dalam melihat segala hal yang seharusnya tak kasatmata. Ya, Reishi menyadarinya. Separuh bagian dari hidupnya telah pergi bersamaan dengan satu tubuh melunglai yang jatuh dalam pelukannya dua tahun lalu. Separuh jiwa yang berisi asa dan angannya yang telah pergi bersamaan dengan embus napas terakhir Suoh Mikoto. Separuh dirinya yang terbakar habis titik-titik merah marun yang melesat ke angkasa di malam dua tahun silam. Bahkan anak buahnya mengatakan bahwa kumpulan cahaya merah mengangkasa itu begitu indah, namun tidak dengan dirinya. Bahagianya yang terbakar. Harapnya yang menguap. Masa depan yang tidak bisa lagi ditatapnya.

Sementara separuhnya lagi terikat. Dirantai oleh tanggung jawab. Dibelenggu oleh apa yang tersisa dari bara milik Suoh Mikoto. Dan ketika punggung kecil Kushina Anna kini dibebani sepasang sayap menguar menyala, Reishi tahu kedua tangan dan kakinya semakin erat diikat pada kehidupan dunia hingga tetes darah terakhirnya. Hingga waktu penghabisannya.

Hingga seorang Kushina Anna sekalipun tidak bisa menemukannya dalam mimpi gadis kecil itu. Apakah semua itu memanglah pertanda bahwa dirinya yang telah hilang tidak akan pernah kembali lagi?

Bahwa sosok yang selalu menjadi malaikat pencabut nyawa di akhir mimpi-mimpinya itu tidak akan pernah lagi ia dekap dalam kenyataan?

.

The single flower that bloomed in my heart
crumples soundlessly, making me scream out loud
Not even the traces of you that still flicker warmly
will be a bell that calls me back

.

"Munakata…."

Reishi hanya bergumam menanggapi panggilan Kusanagi Izumo tersebut.

"Kau masih menyalahkan dirimu sendiri? Atas apa yang terjadi, atas apa yang Mikoto paksa kau untuk melakukannya?"

Ia tidak menjawab. Wajahnya yang berpaling ke sisi satunya. Tidak lagi terpancang pada sorot mata di balik lensa berwarna gelap itu yang kentara berusaha mencari-cari sesuatu dalam manik ungunya.

"Tidak satu pun dari kami menyalahkanmu atas kematiannya, Munakata. Kami mengerti… bahkan otak bebal semacam Yata-chan pun berusaha memahami. Kami tidak pernah mengharap hal itu terjadi, tidak pula ingin kau yang melakukan hal ini padanya, dan tentu saja… meski ini adalah hal yang diinginkan Mikoto, kami tetap tidak—"

—tidak perlu, Kusanagi. Sudah cukup. Terima kasih atas pertimbanganmu. Karena meskipun aku berhenti menyalahkan diriku sendiri, tubuhku menerima konsekuensinya. Tubuhku mengingatnya, hukuman apa yang pantas diberikan oleh seorang raja yang membunuh raja lainnya, dengan alasan dan dalam kondisi apapun. Aku tidak bisa menyangkalnya, aku tidak bisa lari darinya. Tubuhku sendiri yang merasakannya."

Ya. Sudah cukup. Tidak ada hubungannya apakah Klan Merah akan mengobarkan peperangan atau memilih untuk bersekutu dengan klannya. Bukan pula urusannya apabila anggota HOMRA membencinya hingga ubun-ubun atau malah berlaku sopan di hadapannya. Bahkan sejak awal, Reishi tidak mengharapkan sang raja cilik akan menaruh perhatian yang begitu besar baginya, bahwa Kushina Anna bersedia menjadi pengganti atas apa yang hilang dari dirinya. Menggenapkan kembali separuh darinya yang memilih pergi bersama Suoh Mikoto. Reishi telah siap sejak awal apabila Kushina Anna tidak berhenti menyalahkannya atas kematian Suoh Mikoto.

Atau justru sebenarnya… dirinya yang tidak siap dengan segala afeksi yang diberikan Anna padanya. Merah marun penuh kehangatan yang kerap melayangkan kenangannya pada tangan yang merengkuhnya dalam-dalam, pada senyum tipis dan bisik rendah yang menjadi peneman tidurnya, cumbuan dan sentuhan kecil yang menjadi penghapus lelahnya.

Betapa Reishi berharap bahwa Kushina Anna akan membencinya. Sehingga tidak ada lagi imaji Suoh Mikoto yang tertinggal.

Yang menjadi hantu di antara gulir detik-detik jarum jam hidupnya.

.

My love
When you cut me open
at least nurse me until I perish with my eyes open

.

Aliran rasa lelah yang seketika menyelimuti. Kelopak matanya yang memberat. Kepalanya pusing bukan main ketika ia memaksakan dirinya untuk tetap fokus pada tamu penjenguknya hari itu.

"Munakata, istirahatlah dulu. Maaf atas pembicaraan kita yang tidak menyenangkan. Semoga aku tidak dipenggal oleh letnan ayumu itu karena telah membebani pikiranmu dengan percakapan ini."

"Jangan khawatir, Kusanagi…," Reishi mendengar suaranya sendiri yang semakin serak. Ia lantas memaksakan satu lengkung senyum terakhir pada Izumo. "Aku tidak akan mengatakan apapun pada Awashima-kun. Aku tahu rasanya disuguhkan satu piring berisi gunungan pasta kacang merah, dan setulus hati kukatakan bahwa aku tidak ingin kau mengalami nasib serupa."

"Arararara, dan kau pun tidak tahu bagaimana rasanya ketika harus mencampur cocktail dengan pasta edamame."

Reishi ingin tertawa, meski tenaganya yang berangsur menguap hanya berhasil melepaskan satu dengus kecil dari bibirnya. Tepat ketika ia akan memejamkan matanya, Reishi mendengar pria itu mengucapkan satu kalimat terakhir.

"Berjanjilah bahwa kau akan membuka matamu dan kau tidak akan menyerah semudah itu, Kapten Munakata Reishi."

Dan Reishi tidak tahu arti dari senyum di bibirnya sendiri yang ia bawa hingga ke dalam buaian hitam pekatnya.

.

My love, the peaceful me who grew flowers
to show how happy I was to have met you
is no longer here

.


...


.

.

.

A.n./ Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih banyak bagi para pembaca setia dan si adek Meongaum-chan yang rajin banget ninggalin review XD. Last, read and review, maybe? :p