"Ya jadi begitulah Hinata."
"Jadi begitu ya, maaf Naruto-kun aku berpikir kalau Naruto-kun sudah—"
Aku mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik.
"Tidak perjaka,hm?"
"Na-naruto-kun."
"Tenang saja aku masih perjaka kok."
[BRUK]
"Oy Hinata!"
Yah dia pingsan.
Bidak Naruto
Queen = Uchiha Sasuke
Bishop I = (?)
Bishop II = (?)
Knight I = (?)
Knight II = (?)
Rook I = Haruno Sakura
Rook II = (?)
Pawn I – VIII = (?)
Aishiteru Yo Akuma-Kun
Disclaimer
Naruto Milik Masashi Kishimoto
Terinsipirasi Dari Novel Karya Ichiei Ishibumi
Ratting : T (Bisa ke M kapan saja)
Are? Dia pingsan, sepertinya aku terlalu berlebihan mengerjainya. Kukira ia seperti gadis-gadis fansku yang bisa saja berkata 'A-aku ingin melihatnya senpai!'.
Satu hal yang kusadari adalah ia berbeda, ia tak seperti perempuan-perempuan lain yang menyukaiku karena penampilan fisikku.
Aku tersenyum ke arah wajahnya yang tenang seolah-olah tertidur.
Jarum jam kecil yang ada di jam tanganku menunjuk pada salah satu angka di antara angka-angka yang tertata rapi di dalamnya. Aku terkejut ketika menyadari bahwa aku sudah lama sekali di dalam gedung tua ini.
Sudah dua jam ia belum menunjukan tanda-tanda ia sadar dari pingsannya, tunggu?! Jangan-jangan..
Aku berlutut di sebelahnya dan hendak memeriksa detak jantungnya, namun sewaktu aku akan memeriksa detak jantungnya. Aku mengurungkan niatku ketika
menyadari sesuatu yang ada di depan mataku, kalau aku ingin mengecek detak jantungnya itu berarti aku harus menyentuh...
ARGH!
Kalau aku melakukan itu, aku takut kehilangan kendali dan bisa saja aku ketagihan karena menyentuh dadanya atau menyenggolnya.
Lalu.. lalu... etto... menyetubuhinya? Hey! Bagaimana pun juga aku ini laki-laki normal yang akan tergoda dan bernapsu pada perempuan.
Aku urungkan niatku mengecek detak jantungnya, toh tanda kehidupan tidak hanya berada di jantung, kan?
Tanganku mengguncang pelan pundaknya mengirimkan impuls ke reseptor dan meneruskannya ke syaraf yang terhubung dengan otak.
Gadis lavender yang tertidur menggeliat di sofa karena ulahku. Sepasang bola mata Amethys yang tersembunyi di balik kelopak matanya muncul dari persembunyiannya dan menunjukan keanggunan yang ia miliki.
"Maaf aku membangunkanmu."
Hinata belum meresponi perkataanku, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena posisi tidurnya yang tidak nyaman di sofa.
Ia menoleh ke arahku sejenak dengan mata khas orang bangun tidur, setelah itu ia menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya yang seputih porselen.
Geez, aku tahu yang kau pikirkan.
"A-apa kita melakukan 'Itu' tadi?"
Tuh kan.
Aku menahan tawaku sesudah mendengar pertanyaan yang meluncur manis dari bibirnya, kouhaiku ini sebenarnya polos atau mesum sih?
.
.
[PUK]
.
"Kita akan melakukan itu kalau kita sudah menikah Hinata."
Eh apa? Entah kenapa hanya ada kata-kata itu dipikiranku, aku bingung memilih kata-kata yang pas karena sulit mengomentari kondisi ini jadi. Aku ya.. mengatakan apa adanya.
"A-apa tadi?"
"Hm?"
"Tadi Naruto-kun bilang apa?"
"Tidak ada pengulangan, kau tahu? Acara televisi siaran langsung tidak akan mengulangi perkataannya dua kali."
Ia mengarahkan tinjunya yang mungil ke dadaku, he.. mengajak berkelahi ya?
"Naruto-kun bukan televisi, jadi ulangi lagi kata-kata tadi!"
"Aku tidak mau."
.
.
.
.
HINATA POV
Kalau tak salah tadi Naruto-kun bilang 'Kita akan melakukan itu kalau kita sudah menikah Hinata.' , kan? Etto.. atau pendengaranku yang bermasalah?
Setelah aku memintanya mengulangi lagi perkataannya ia malah menolak.
Sudahlah biarkan saja, tapi akan aku pastikan ia tidak akan menolak ajakanku.
"Naruto-kun aku punya permintaan."
"Ng? Apa itu?"
Yosh! Sekarang saatnya.
"Hari ini makan malamlah di rumahku, anggap saja ini balas budi dariku atas semua kebaikan Naruto-kun."
.
.
.
.
HINATA POV END
Balas budi? Apa maksudnya? Aku tak mengerti maksud gadis ini, dan kebaikan? Memangnya apa yang kulakukan padanya?
Bukannya aku hanya mentraktirnya, mengantarnya pulang, menyelamatkannya dari serangan malaikat jatuh, lalu bersedia melatihnya?
Kau menganggapku berbuat baik padamu? Kau terlalu berlebihan Hinata.
"Bukankah itu sudah kewajibanku sebagai senpaimu? Dan selain itu, aku tak mengerti dengan 'Kebaikan' yang kau maksud."
Ia menunduk dan terdiam mendengar ucapanku, aku tak bermaksud untuk menyakitinya hanya saja aku tak merasa melakukan sesuatu yang baik baginya.
"Aku melakukan itu─"
"Aku mohon Naruto-kun makan malamlah di rumahku hari ini!"
Ia mengulangi permintaannya. Meminta diriku makan malam di rumahnya dengan suara yang bergetar, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.
Menerima ajakannya atau menolak ajakannya.
Jika aku menolak ajakannya aku yakin selanjutnya ia akan menangis dan aku tidak ingin hal itu terjadi, namun di sisi lain kalau aku menerima ajakannya aku malah akan merepotkannya.
Setelah memikirkannya aku memutuskan untuk menerima ajakannya karena aku tak ingin ia menangis karenaku, ia tersenyum senang dan berjalan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.
Aku meletakan tas milikku di pangkuanku dan menyentuhnya, seketika itu juga tas yang ada di pangkuanku berpindah ke apartemen yang aku tempati selama aku tinggal di Jepang.
"Kau pulang sendiri Hinata?"
"Ya, aku pulang sendiri."
Aku berjalan ke arah Hinata dan melakukan hal sama pada tasnya seperti yang kulakukan pada tasku, berhubung aku tak tahu dimana rumahnya jadi aku mengirimnya ke apartemenku.
Ia terkejut ketika melihat tasnya menghilang, ia kemudian tampak panik dan berjalan mengelilingi ruangan ini mencari tasnya. Aku menahan tawaku melihat tingkah polosnya. Ia memergokiku yang sedang menertawakannya langsung saja ia memasang raut wajah kesal yang dibuat-buat, ia berkata:
"Naruto-kun, kembalikan tasku yang kau buang!"
Tawaku semakin menjadi-jadi ketika ia menyangka aku membuang tasnya, oh ayolah. Kau tahu kalau aku tidak akan membuang tasmu, kan? Lagipula untuk apa membuang tasmu?
Aku menjelaskan kalau tasnya sudah aku pindahkan ke apartemen milikku.
"Bagaimana kalau kau pulang bersamaku?"
"Baiklah."
Ia menyetujui ajakanku untuk pulang bersamaku, tanpa aku sadari kebahagiaan yang aku rasakan dari dalam hati meluap hingga keluar dan membuatku tersenyum kepadanya .
"Kau ingin pulang dengan cara apa?"
Ia kemudian memiringkan kepalanya bingung mendengar perkataanku, oh ayolah kau tidak melupakan fakta kalau aku adalah iblis, kan?
"Aku tak menge–"
"Jalan kaki seperti kemarin? Atau dengan sayap.."
.
.
[BATS]
.
Aku memunculkan sayap iblisku dihadapannya.
Kouhai manisku tampak terkejut ketika sepasang sayap milikku keluar dari punggungku, errr.. mungkin ia ketakutan.
".. atau lingkaran sihir? Kau ingin yang mana Hinata?"
"Aku... aku terserah pada Naruto-kun saja."
Aku menyembunyikan sayapku lagi.
Setelah itu aku mengajaknya keluar dari ruangan ini menuju ke lapangan olahraga yang memiliki tempat terbuka untuk memudahkanku terbang dengan sayap.
Hari ini aku ingin sekali menunjukannya pemandangan Konoha dari langit, karena ia manusia, aku yakin ia tidak tahu cantiknya pemandangan Kota Konoha dari langit, apalagi sekarang sudah sore.
Cahaya matahari berwarna orange akan menambah kecantikan kota kecil ini.
Selagi berjalan menuju ke lapangan olahraga aku mengajaknya mengobrol. Menghilangkan rasa canggung di antara kami berdua.
"Hinata, kenapa kau berkata '...terserah pada Naruto-kun saja.'?"
"Ka-karena Naruto-kun adalah orang yang baik..."
Ia menggantungkan kalimatnya, aku sedikit penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan. Lalu aku menoleh ke arahnya, menangkap basah ia memandangi punggungku.
Wajahnya langsung bersemu merah ketika mata kami bertemu dan saling menatap, sejenak ia membuang muka menghindari tatapan mataku. Kemudian ia mencuri-curi pandang ke arahku ketika aku masih menghadap ke arahnya sambil berjalan.
Setelah agak lama aku masih belum mengalihkan pandangannya ia kemudian menatapku lagi seperti tadi.
"Jadi aku yakin aku akan baik-baik saja selama Naruto-kun bersamaku."
Ia melanjutkan kata-katanya sambil diiringi oleh senyum manisnya. Tiba-tiba aku merasa detak jantungku semakin cepat dan wajahku memanas ketika ia tersenyum ke arahku.
Tak mau hal itu akan berlangsung lama sekarang giliranku yang membuang muka, menatap melurus ke depan.
Setelah itu tidak ada suara selain sepatu kami yang beradu dengan lantai licin sekolah ini, kami berdua sama-sama terdiam. Sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.
Ah, mungkin hanya aku saja yang sibuk dengan pemikiranku sendiri, aku tak mengerti apa yang kurasakan saat ini.
Entah kenapa sensasi saat bersama dengannya terasa sangat berbeda, tidak sama
bersama Sakura atau dengan gadis lain.
Perasaan yang aneh namun menyenangkan.
Terlebih lagi entah kenapa sewaktu ia berkata 'Aku menyukai (Daisuki)mu Naruto-kun.' awalnya aku tak mengerti apa yang ia katakan namun setelah ia berkata 'Artinya sayang (Love), ufu iya itu...begitu...'.
Untuk beberapa saat aku dapat merasa jantungku seolah berhenti berdetak ketika ia menjelaskan arti dari kata 'Daisuki' , kata-kata itu membuatku merasa sangat senang.
Ya, aku senang sekali disayangi oleh gadis ini. Bukan karena ia memiliki Byakugan. Entah kenapa aku tak dapat menjelaskannya, aku tak mengerti. Sama sekali tidak mengerti, aku tidak mengerti kenapa aku sangat senang ketika ia menyayangiku.
Seseorang.. bisakah memberitahuku apa nama perasaan ini?
Perasaan yang berhasil membuatku hampir gila karenanya.
.
.
.
.
Kami sampai di lapangan olahraga yang sepi.
Angin berhembus memainkan surai indigonya yang sengaja ia biarkan tergerai.
Setelah itu aku memunculkan lagi sayapku, namun kali ini ia tampak biasa saja. Ia tidak merasa takut sama sekali, tidak seperti sewaktu di gedung tua tadi.
Aku berjalan mendekatinya dan membawanya kedekapanku, memeluknya dengan hati-hati seolah ia adalah benda yang sangat rapuh dan bisa hancur kapan saja kalau diriku memeluknya terlalu erat.
"Na-naruto-kun."
"Tenang saja, mengerti?"
Ia mengangguk pelan mendengar perkataanku yang meyakinkannya.
Tubuh kami mulai terangkat perlahan-lahan seolah-olah kami berada di dalam lift tak kasat mata yang membawa kami ke lantai tertinggi.
Ketika kami sudah cukup tinggi dari daratan aku menanyakan sesuatu padanya:
"Kau takut?"
"Tidak."
Gadis ini pemberani sekali.
"Mengapa?"
Sebelah tangannya yang tak ia gunakan untuk berpegangan di pundak ku terangkat, dapat kurasakan tangan yang seputih susu dan selembut kain sutra menyentuh pipiku.
"Bukankah aku sudah bilang kalau Naruto-kun adalah orang yang baik? Maka dari itu tak ada alasan bagiku untuk takut."
Aku tersenyum mendengar kata-katanya yang selalu penuh dengan kebaikan sejak awal kami bertemu, kata-kata yang menurutku selalu saja membesarkan hati orang lain.
"Jadi? Bisakah kita jalan sekarang Hinata?"
Ia mengangguk menanggapi pertanyaanku, aku membimbing tubuhnya untuk mempermudah aku menggendongnya saat terbang nanti. Ia melingkarkan kedua tangannya di leherku, aku menopang kedua kakinya di tangan kananku dan tangan kiriku menopang tubuhnya.
Yah singkatnya sih bridal style, kami melaju dengan kecepatan normal menuju ke pusat kota. Aku mengalihkan pandanganku sejenak ke paras cantiknya, ia tampak senang sekali, senyum kebahagiaan terukir di wajahnya sambil memandang yang ada di bawahnya dari ketinggian. Hingga akhirnya raut wajahnya berubah seperti orang bingung.
"Ada apa Hinata?"
Hinata menunjuk ke bawah.
"A-ano... mengapa mereka melihat ke arah kita?"
Eh? Siapa? Aku mengikuti arah jari yang Hinata tunjuk, jujur saja aku tidak melihat ada orang sewaktu aku mengikuti arah jari Hinata. Tapi aku tetap percaya padanya.
"Gomen Hinata aku lupa memakai sihir. Aku akan menambah kecepatannya pegangan yang kuat."
Aku mempercepat kecepatan terbangku menjauhi orang tadi sebelum mereka sempat mengambil gambar kami berdua, bisa gawat kalau kami sampai tertangkap kamera lalu gambar aku dan Hinata tersebar di internet maupun koran.
Setelah jarak kami jauh dari orang-orang tadi aku merapalkan sihir agar orang lain tidak melihat keberadaan aku dan Hinata di udara.
Setelah selesai merapalkan sihir, aku memperlambat laju terbangku menjadi seperti semula.
"Naruto-kun."
"Apa?"
"Etto, rumahku ke arah sana."
Aku terkekeh mendengar Hinata berkata seperti itu sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Apa yang kau tertawakan Naruto-kun?"
"Tidak ada. Aku ingin menculikmu."
"Eh? Bukannya Naruto-kun bilang kalau ingin mengantarku? Kenapa malah menculikku?"
Aku tertawa geli mendengar kata 'Menculik' dari mulut Hinata. Gadis ini bukan hanya manis dan cantik, tapi ia juga lucu.
"Aku suka menculik gadis sepertimu Hinata."
"Mou, jika ini bercanda ini tidak lucu Naruto-kun. Sebenarnya aku mau dibawa kemana?
"Ke pusat kota Hinata..."
Aku melihatnya akan mengajukan protes segera melanjutkan kata-kataku.
"Aku ingin menunjukan padamu pemandangan dari pusat kota di udara."
"Begitu..."
Kami lagi-lagi saling terdiam, tak ada percakapan seperti tadi. Aku akui jarak sekolah ke pusat kota memang lumayan jauh, bisa saja sih kalau aku menggunakan lingkaran sihir lalu muncul di udara. Tapi kalau memakai lingkaran sihir aku rasa kurang seru. Jadi kupikir ke sana dengan sayap bisa menjadi hal yang menyenangkan.
Dan aku juga yakin kalau Hinata belum pernah merasakan sensasi terbang di udara.
"Naruto-kun/Hinata."
Hinata dan aku menyebut nama panggilan kami, kami berdua tertawa karena memanggil pada timing yang bersamaan.
"Kau dulu Hinata."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. Gadis lavender yang sedang kugendong membuka mulutnya, lalu sebelum ia mengeluarkan suara ia kembali menutupnya. Ia seperti sedang menimbang-nimbang mempertanyakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya atau tidak.
Ia tersenyum manis di sambil menatapku.
"Tidak jadi, karena kupikir ini sesuatu yang tidak sopan."
"Katakan saja."
"Ta-tapi benar tidak apa-apa?"
Aku hanya menggumam 'Hn' meresponi pertanyaannya.
"Apa yang Naruto-kun lakukan kalau Naruto-kun menyadari ada seseorang yang mencintai atau menyukai Naruto-kun?"
Aku mencoba mencerna pertanyaan yang Hinata berikan untukku, kalau boleh jujur agak sulit menjawab pertanyaannya berhubung aku tidak tahu apakah ada orang yang mencintaiku atau tidak. Jangan-jangan?
"Pertanyaanmu itu cukup sulit berhubung aku tidak pernah tahu siapa yang mencintai diriku, etto.. aku memiliki definisi berbeda antara suka dan cinta. Suka merupakan rasa nyaman ketika berada di dekatnya tak peduli perempuan atau laki-laki singkatnya sih menaruh simpati atau menaruh sayang pada mereka..."
Aku terdiam sejenak merangkai kata-kata yang pas dan mudah dipahami olehnya untuk menjelaskan arti dari cinta, aku takut kalau ia malah tak paham dengan penjelasanku.
"..kalau cinta sendiri menurutku itu sesuatu yang lebih dari sekedar sayang etto,.. singkatnya kau siap mengikutinya kemana pun ia pergi dan tak peduli tentang apa dan siapa dirinya, mengabdikan dirimu sendiri kepadanya seumur hidupmu."
Ia hanya diam mendengar penjelasanku, sial aku memang payah kalau menyangkut tentang asmara!
"Ya ampun Naruto-kun, jawabanmu tak ada kaitannya dengan pertanyaanku! Aku hanya bertanya 'Apa yang Naruto-kun lakukan kalau Naruto-kun menyadari ada seseorang yang mencintai atau menyukai Naruto-kun?' bukan meminta Naruto-kun menjelaskan arti cinta atau suka."
Aku sedikit tersentak ketika Hinata mengulangi pertanyaannya, aku menggaruk kepalaku─
"KYA!"
Hinata mengeratkan pelukannya pada leherku ketika ia hampir saja terjatuh dari udara karena diriku yang salah tingkah dibuat olehnya.
"E... e-eto.. gomen."
"Baka! Bagaimana kalau aku terjatuh dan setelah itu mati?"
Aku tersenyum kaku mendengar perkataannya, astaga. Ini pertama kalinya aku seperti ini ketika berhadapan dengan seorang gadis.
"Lupakan saja tadi. Lalu, apakah ada gadis yang Naruto-kun cintai?"
Tunggu apakah dugaanku benar? Memang sih aku akui kalau aku kenal dengan Hinata belum lama, tapi untuk tipe gadis pemalu seperti Hinata, biasanya tidak mungkin akan membahas cinta secara terang-terangan seperti ini.
Aku berhenti ketika aku sudah sampai di pusat kota, dan membantunya memposisikan dirinya berdiri di udara, ragu-ragu ia menurunkan kedua kakinya di udara. Hingga ia merasakan udara yang diinjaknya adalah lantai tranparan yang ada di udara, kini ia berdiri di depanku dengan matanya yang menatapku.
Kami berdua saling menatap, Amethys bertemu dengan Sapphire. Biru dan lavender.
Ia menatap menunggu jawabanku.
"Aku tidak tahu Hinata."
Ia menatapku heran, jawabanku pasti terkesan aneh.
Tidak. Jawabanku sangat aneh, bagaimana bisa kau tidak tahu akan perasaanmu sendiri?
"Eh? Apa maksud Naruto-kun?"
"Jujur saja beberapa hari ini ada sesuatu yang sedikit menggangguku."
Hinata memasang raut wajah khawatir ketika aku berkata 'Mengganggu' ia kemudian maju selangkah mendekatkan dirinya denganku.
"Katakan padaku Naruto-kun! Setidaknya kalau kau bisa menceritakannya padaku, kita bisa berbagi beban dan kau tidak bisa menanggung itu sendirian."
Ujarnya dengan nada memerintah.
.
.
.
.
HINATA POV
.
'Katakan padaku Naruto-kun! Setidaknya kalau kau bisa menceritakannya padaku, kita bisa berbagi beban dan kau tidak bisa menanggung itu sendirian.' Penasaran yang mengangguku membuatku mengatakan hal tersebut padahal bisa saja saat kau menceritakan sesuatu yang mengganggumu dan aku mengetahui siapa gadis itu aku malah patah hati.
Aku menunggu apa yang akan dikatakan oleh Naruto-kun, Naruto-kun diam tak bergeming. Ia mungkin sedang menimbang-nimbang keputusannya untuk menceritakan bebannya padaku.
Aku tahu pertanyaanku ini sangat tidak sopan, terlebih kami baru saja bertemu kemarin dan berkenalan siang tadi.
"Akhir-akhir ini entah kenapa aku merasa nyaman sekali ketika bersama dengan seorang gadis dan aku selalu berdebar-debar ketika ia berada di dekatku.."
Suaranya terdengar pelan dan lemah, ada beban yang tersirat di dalamnya. Beban yang mungkin tidak bisa ia tanggung sendiri dan tunggu. Dia itu siswa populer, kan? Bagaimana bisa ia sampai tidak tahu dengan masalah yang menyangkut percintaan seperti ini?
Naruto-kun mengambil jeda sebelum menceritakannya padaku, ia semakin menunduk dan matanya tampak sendu, cahaya pada iris birunya nampak redup seolah-olah cahaya kehidupannya hampir memudar.
Satu kalimat yang mampu menggambarkan keadaan Naruto-kun saat ini adalah 'Ia sedang depresi.'.
"Sebentar saja kalau ia jauh dariku aku merasakan sensasi aneh, entah sensasi apa itu aku tak dapat menjelaskannya.."
"..aku merasa takut dan rindu disaat bersamaan sewaktu aku tak melihatnya, walau itu sebentar saja,kau tahu? Saat pelajaran kelas dimulai aku ingin sekali segera menemuinya dan pulang bersamanya, aku tak tahu perasaan apa ini. Dan aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.."
"...aku tahu ini aneh, tapi itu nyata!"
Aku merasakan tangan kekar menarik tanganku dan membimbingnya menuju ke arah sumber kehidupannya, tempat ia merasakan sensasi anehnya.
"...kau dapat merasakannya, kan? Inilah yang aku rasakan ketika aku bersamanya."
Aku mengangguk menyetujui pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan, ya aku merasakannya detak jantung tak wajar seperti yang ku alami saat ini.
Tapi aku tak mengerti siapa gadis yang dimaksud Naruto-kun, dan detak jantungnya mengapa ia berdebar-debar ketika di dekatku? Sejak tadi Naruto-kun menyebutnya menggunakan sebutan untuk orang ketiga '..nya,...ia.' aku tak mengerti.
Heran, aku tak mengerti. 'Ia' dan 'Ia', namun kenapa Naruto-kun malah berkata 'Kau dapat merasakannya, kan? Inilah yang aku rasakan ketika aku bersamanya.' padaku?
.
.
HINATA POV END
.
.
NORMAL POV
.
.
Cahaya keemasan yang dipancarkan oleh sang surya dari ufuk barat mendorong dua remaja yang dilanda asmara untuk menyatakan perasaan yang dialami oleh sepasang muda-mudi yang menjadi bulan-bulanan cinta secara lisan.
Dua remaja itu adalah seorang anak manusia dengan kemampuan unik dan iblis keturunan bangsawan dari alam bawah.
Iblis baik hati bermata biru yang membuat putri byakugan terjebak dalam pesonanya. Gadis itu menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat dengan ekspresi yang bercampur dengan sedih dan penasaran.
Sedih kalau-kalau jawaban yang ia dapatkan dari laki-laki pujaannya itu bukanlah dirinya, dan penasaran akan gadis yang membuat pemuda atau lebih tepatnya iblis yang ia cintai menjadi seperti ini.
Dengan segenap keberanian yang berhasil ia dapatkan entah dari mana, ia berkata:
"Siapa gadis itu Naruto-kun?"
Laki-laki tampan di hadapannya hanya terdiam, ia tak mengatakan sesuatu. Tak ada kata-kata yang terlontar dari bibirnya, Naruto tampak menggigit bibirnya sendiri berkali-kali hingga akhirnya...
"Maaf, aku tak bisa mengatakannya."
Keberanian yang Hinata kumpulkan terbuang sia-sia, tak ada jawaban memuaskan atau mengecewakan seperti yang ia harapkan. Ia terdiam menahan rasa kesal yang berkecamuk di dalam dirinya dan berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang ada di dirinya dan mencoba memaklumi apa yang dialami oleh Naruto saat ini.
"Maaf, bukannya malah menjawab pertanyaanmu aku malah berkata yang tidak-tidak."
Perempuan di hadapan Naruto menggeleng, ia tersenyum seperti yang biasa ia lakukan kepada semua orang. Senyum yang tak pernah ia buat-buat demi mendapat sanjungan dari orang lain dan senyum yang membuat Uzumaki Naruto tidak bisa tidur semalaman sejak awal mereka berjumpa.
"Tidak apa-apa. Oh iya apa yang ingin Naruto-kun katakan tadi?"
Pemuda di depannya tampak berpikir─ mengingat apa yang akan ia tanyakan sebelumnya.
"Etto... gomen aku lupa."
Keduanya terdiam menghentikan obrolan mereka berdua, hanya ada suara dari warga Konoha yang sedang melakukan berbagai aktivitas yang biasa mereka lakukan sehari-hari.
Paradoks melanda kedua remaja yang dipermainkan oleh cinta, tak ada yang mereka dengar sama sekali. Hanya keheningan yang mereka rasakan ketika obrolan mereka terhenti, seakan-akan di dunia ini hanya ada mereka berdua.
Entah karena merasa tidak nyaman dengan atmosfir mereka rasakan, pemuda bangsawan sekaligus laki-laki idola dari Konoha Gakuen membuka topik pembicaraan untuk mengeyahkan atmosfir yang membuat mereka berdua canggung.
"Hinata."
Sang empunya nama menengok ke pemanggil.
"Ada apa Naruto-kun?"
"Mengapa kau menanyakan tentang cinta? Apakah kau sedang jatuh cinta?"
Ya, ia sedang jatuh cinta.
Laki-laki di depannyalah yang membuatnya jatuh cinta.
"A-aku tak begitu yakin soal itu."
Ia tersenyum seperti biasanya, senyuman untuk seniornya yang membuatnya tergila-gila dan senyuman untuk dirinya sendiri yang tak berani mengatakan perasaannya dengan jujur saat Naruto bertanya padanya.
'Kau pengecut Hinata.' Katanya dalam hati.
"Jadi begitu ya. Oh iya Hinata.."
"Ng?"
"Apa kau sudah punya pacar?"
Gadis itu tertawa canggung sekaligus menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia memiliki pacar sedangkan pemuda yang ia kagumi tidak mengerti perasaannya?
"Ti-tidak kok aku belum memiliki pacar."
"Hie!? Sungguh?!"
"Ya.. ya begitulah ufufu.."
Naruto kehabisan topik pembicaraan, ia bingung apa yang harus ia katakan agar Hinata tertarik dengan topik yang ia bangun.
Tiba-tiba ia teringat tujuannya membawa Hinata terbang ke pusat kota.
"Hinata, coba lihat pemandangan kota ini di sore hari dari udara. Bagaimana menurutmu?"
Manik lavendernya yang semula menatap ke mata sang pemuda, beralih ke pemandangan di depannya yang disuguhkan di depannya.
Matanya menelusuri tiap-tiap bagian dari Konoha.
Lampu-lampu kota yang belum sepenuhnya menyala semua memberikan kesan cantik kota ini, cahaya keemasan yang dipantulkan oleh danau buatan di sebelah taman bermain membuatnya terkagum-kagum akan kecantikan alam yang tak pernah ia lihat dari ketinggian seperti ini.
Bagai pelangi sehabis hujan.
Inilah yang dialami Hyuuga Hinata saat ini, setelah kengerian yang ia alami ketika berhadapan dengan malaikat jatuh di sekolahnya. Ia mendapatkan penghiburan dari iblis yang mencuri hatinya.
Uzumaki Naruto.
.
.
.
.
Hinata mengangkat tangan kanannya berusaha meraih pipi Naruto lebih tinggi dari tinggi dirinya, membelainya dengan lembut dan memanjakannya sedikit sebagai ucapan terima kasih untuk kebaikannya hari ini.
Naruto hanya terdiam menikmati sentuhan dari gadis yang selalu membuatnya berdebar-debar saat berada di dekat dirinya, menikmati setiap inchi belaian kasih sayang yang ia terima.
"Biru..."
"eh?"
"..biru yang mempesona seluruh makhluk yang memandangnya. Biru yang lebih indah dari samudera yang luas membentang, biru yang membuatku membeku mengaguminya."
Mata Naruto melebar mendengar kata-kata dari Hinata yang menurutnya itu selalu bisa membesarkan hati orang lain, dapat ia rasakan detak jantungnya semakin menggila dan melompat-lompat kegirangan seakan-akan mendapatkan jackpot dari undian berhadiah.
Ia senang sekali mendapatkan pujian dari Hinata.
'Entah mengapa dipuji oleh Hinata rasanya lebih menyenangkan daripada dipuji oleh orang lain.' itulah yang ada di pikirannya saat ini.
"Te-terima kasih Hinata, pujianmu itu sungguh berlebihan."
Ia mendadak menjadi seseorang yang gagap karena sentuhan Hinata, sentuhan yang bagi dirinya adalah sentuhan yang dapat membuat jiwanya melayang ke dunia fantasi yang menyenangkan.
Hinata hanya bisa mengulum senyum terbaiknya mendengar perkataan Naruto.
'Memang benar Naruto-kun adalah iblis, namun dibandingkan dengan iblis. Dia lebih cocok menjadi malaikat.'
"Ayo kita menuju ke rumahmu Hinata."
"Ya."
.
.
.
.
Seminggu setelah Hinata memulai latihannya kini mereka berdua semakin dekat, kemampuan Hinata dalam melakukan sihir terbilang lumayan hebat untuk seorang pemula. Dalam waktu satu minggu ia bisa memusatkan kekuatan sihir dengan jumlah cukup banyak di tangan atau di bagian tubuh lain meski konsentrasinya masih terbilang rendah. Tapi ia bisa melalui dasar yang cukup sulit seorang pemula.
Mengenai hubungan mereka berdua saking dekatnya hubungan mereka tanpa mereka sadari kedekatan mereka berdua mengundang kebencian dari siswi-siswi lain yang mengidolakan Uzumaki Naruto pangeran sekolah mereka.
Bukan hanya itu, bahkan beredar gosip bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih!
Pagi ini semuanya berjalan seperti biasa di Konoha Gakuen.
.
.
[KRING]
Bel tanda masuk berbunyi membuat seluruh siswa masuk ke dalam kelas masing-masing tanpa terkecuali.
Naruto duduk di bangku yang biasa tempati di kelasnya dan menyiapkan buku-buku dan alat tulis yang biasa ia gunakan untuk mencatat materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru di kelas 3C.
'Biologi ya? Pelajaran nenek itu sungguh membosankan! Kuharap pelajaran ini segera selesai dan menerima usulanku untuk membuka Klub Penelitian Ilmu Hitam.'
Naruto menghela napas frustasi memikirkan cara bagaimana memberitahu keluarga-keluarga iblisnya agar saling mengenal selain menggunakan cara yang sudah ia pikirkan, bukan hanya itu saja. Ia semakin frustasi karena teriakan gadis-gadis di kelasnya yang rata-rata selalu berteriak 'KYA! Naruto-kun.'
.
.
[TOK]
Suara ketukan pintu dari luar membuat seluruh siswa-siswi di kelas 3C kembali ke tempat duduk masing-masing lalu menyiapkan buku-buku pelajaran mereka untuk jam pertama.
Wanita berambut pirang dengan dada yang sangat besar masuk ke dalam kelas 3C dengan seorang pemuda berambut Hitam di belakangnya, Naruto terbelalak ketika melihat wajah dari laki-laki di belakang Tsunade.
"Semuanya, hari ini kelas kalian mendapatkan teman baru. Perkenalkan dirimu."
Laki-laki yang dipersilahkan Tsunade untuk memperkenalkan dirinya tersenyum lebar di depan kelas dan menimbulkan reaksi gadis-gadis di kelas 3C yang bersusah payah menahan teriakan yang bisa saja terlepas dari mulut mereka karena tidak ingin mendapatkan hukuman mengerikan dari Tsunade.
"Namaku Namikaze Menma, salam kenal."
'Onii-chan.'
TBC
Terima kasih banyak buat reader yang nungguin fic gaje (?) ini, oh iya aku minta maaf buat reader yang ngePM aku buat bikin fic ini jadi sudut pandang orang ketiga aku cuma bisa ngasih segitu doang. Entah kenapa ini otak susah banget diajak kompromi -.-"
Ok sekian dulu dari Renji, tolong direview ya reader-reader ganteng dan cantik :*
Renji tunggu kritik dan saran yang membangun dari para reader ^^
Tapi jangan pedes-pedes ya, masih belum kuat iman ._.
