Seminggu setelah melewati deadline yang mencekam, akhirnya Byun Baekhyun bisa bernapas lega. Pasalnya deadline laporan divisi audit minggu lalu merupakan laporan pertengahan tahun, yang mana merupakan laporan kedua terpenting setelah laporan akhir tahun.

Hal itu cukup menguras tenaga Baekhyun yang hampir setiap hari pulang malam. Setelah kejadian tertidur di kantor tempo hari waktu itu, Baekhyun selalu menyalakan alarm ponselnya pada pukul delapan malam untuk berjaga-jaga kalau ia tertidur lagi, meskipun demikian tetap saja ia pulang lebih larut dari jam pulang kantor yang seharusnya, yaitu jam lima sore.

Namun setelah laporan dari divisinya mendapat pujian atas ketepatan waktu dan kerinciannya, Baekhyun merasa kerja keras mereka semua terbayar.

Dan pada sabtu pagi hari ini, Byun Baekhyun memberi hadiah pada dirinya sendiri yang telah bekerja keras dengan bangun pada jam dua belas siang. Sungguh tidak ada yang lebih nikmat daripada bangun di sabtu siang tanpa beban deadline pekerjaan.

Namun tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya yang disusul suara seorang gadis, "Baekhyunie Oppa, kau sudah bangun?"

Baekhyun yang masih berbaring pun terpaksa membuka matanya mendengar suara itu. Ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan membuka pintu kamar dan menemukan adik perempuannya dengan pakaian rapi, lengkap dengan rambut dikuncir kuda.

Baekhyun tersenyum jahil melihat dongsaengnya tersebut, "Jihyunie? Kau rapi sekali hari ini, apa ada yang mengajakmu kencan?"

Spontan raut wajah cantik gadis bernama Byun Jihyun itu berubah kesal, bibirnya ditekuk lucu, "Ya! Oppa!" Gadis itu mencubit lengan kanan Baekhyun gemas, "Oppa 'kan sudah janji akan menemaniku menonton musikal hari ini!"

"Aku tidak ingat berjanji seperti itu," Balas Baekhyun masih dengan senyum jahil yang membuat siapa saja yang melihatnya kesal. "Memangnya kau tidak bisa menonton musikal sendiri?"

Jihyun kini mulai menyerang Baekhyun dengan pukulan kecil di lengannya, "Oppa! Kau tahu bagaimana Halmoni. Dia tidak akan memperbolehkan aku pergi malam-malam,"

Byun Baekhyun dan Byun Jihyun merupakan dua saudara yang sudah lama kehilangan kedua orang tua mereka. Ibu mereka meninggal dunia sesaat setelah melahirkan Jihyun dan Ayah mereka meninggal tragis dalam kecelakaan beruntun di Shanghai saat perjalanan dinas.

Saat itu usia Baekhyun masih tujuh belas tahun dan Jihyun sembilan tahun, ketika mendapat telepon dari teman kantor Ayah mereka. Kabar tersebut tentu membuat kehidupan keduanya berubah drastis, kehilangan satu-satunya Orang Tua dan penompang hidup mereka yang masih ada. Beruntung Halmoni tinggal tidak jauh dari Seoul, tepatnya di Suwon. Sehingga sejak saat itu, keduanya tinggal bersama Halmoni mereka di Suwon.

Sebenarnya mereka berdua bisa saja bertahan hidup sendiri, dengan menghemat tabungan yang ditinggalkan kedua Orang Tua mereka dan hasil kerja sambilan Baekhyun di Toko Swalayan dekat SMA-nya. Namun keduanya saat itu masih remaja, mereka masih membutuhkan orang dewasa. Apalagi setahun setelah itu Baekhyun akan lulus SMA dan memulai kesibukan kuliah, sehingga tidak akan bisa mengurusi Jihyun seperti biasanya.

"Oppa, cepatlah bersiap," gerutu Jihyun sambil menarik lengan Oppa-nya keluar kamar, menuju kamar mandi, "Kau tau sendiri bagaimana ramainya kereta hari sabtu sore, jadi kita harus berangkat dari siang,"

Byun Baekhyun tertawa geli melihat tingkah adiknya, ia pun mencubit dan mencium pipi Jihyun gemas.

"Baiklah Jihyunie, kau juga lebih baik siapkan dulu bawaanmu. Karena aku bisa saja selesai mandi dan bersiap kurang dari sepupuh menit," kata Baekhyun dengan senyum jahilnya yang masih terpasang diwajah, sebuah tawa kecil keluar dari bibir tipisnya, "Tapi aku tahu kau akan butuh waktu setidaknya dua jam,"

"Ya! Aku sudah siap!" Jihyun berteriak kesal sambil mendorong Baekhyun masuk ke kamar mandi.

"Byun Jihyun, jangan meneriaki Oppa-mu! Tidak sopan!" Terdengar sahutan suara Halmoni dari ruang tengah.

Baekhyun yang mendengar itu terkekeh merasa menang sedangkan Jihyun terlihat semakin menekuk wajahnya.

OOOOOOOOOOOOOOOOOO

Seorang laki-laki berbadan tinggi baru saja memasuki ruangan besar dengan panggung luas di depannya, di lengan kanannya terdapat dua buket bunga besar. Ruangan itu agak kosong, hanya ada satu dua orang yang sedang merapikan dekorasi. Laki-laki tinggi itu dihampiri oleh seseorang yang baru saja turun dari panggung.

"Ya! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya lelaki yang berbadan lebih pendek sambil tersenyum lebar, kedua mata laki-laki itu hampir hilang membentuk setengah lingkaran.

"Ya! Apakah begitu cara menyapa satu-satunya teman yang datang mendukungmu?" Sahut laki-laki berbadan tinggi membalas senyum temannya. "Dua idiot itu tidak bisa datang dan menyuruhku membawakan ini,"

Laki-laki berbadan tinggi itu menyerahkan dua buket bunga besar yang dibawanya daritadi kepada lawan bicaranya.

"Jongdae dan Sehunie yang memberikan bunga ini untukku?" Tanya laki-laki berbadan lebih pendek, "Lalu kau tidak memberikan aku apa-apa, Chanyeol-a?"

Chanyeol mendengus bercanda, "Kehadiranku sudah lebih dari cukup untuk menyemangatimu, Kim Junmyeon,"

Junmyeon tertawa lepas kemudian merangkul temannya itu, "Kau memang yang terbaik! Bagaimana kalau kita minum-minum setelah ini?"

"Tentu saja, kalau tidak salah ada rumah makan baru di dekat sini," jawab Chanyeol menyetujui.

"Baiklah temui aku di backstage nanti setelah selesai, okay?" Junmyeon memastikan, "Aku harus bersiap dulu, sebentar lagi kami akan mulai,"

Park Chanyeol mengangguk sambil menepuk-nepuk pundak Kim Junmyeon, memberi temannya itu semangat sebelum temannya berbalik menuju pintu backstage di samping panggung. Chanyeol kemudian mencari kursi yang sesuai dengan tiketnya di barisan paling depan.

Kim Junmyeon adalah salah satu sahabat Chanyeol sejak kuliah selain Sehun dan Jongdae. Junmyeon merupakan aktor musikal yang sudah lama berkarya sejak mereka kuliah, namun pada musikal kali ini, The Last Kiss, merupakan musikal pertama Junmyeon sebagai pemeran utama.

Sayangnya hari ini Oh Sehun yang sedang ada urusan pekerjaan di Beijing selama tiga hari dan Kim Jongdae yang sedang berlibur bersama keluarganya di Hawaii tidak dapat datang. Hanya Chanyeol yang sedang ada di Seoul, sehingga ia datang untuk menyemangati sahabatnya tersebut.

Setelah menemukan kursinya di 1-15, Chanyeol duduk lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka Instagram. Masih ada waktu sekitar 15 menit sampai gate benar-benar dibuka untuk umum. Sebagai tamu VIP, Chanyeol dan beberapa orang VIP lainnya sudah dapat memasuki teater.

Masih seru dengan ponselnya, Chanyeol tidak menyadari bahwa ada dua orang lain yang mendekati kursi di sebelahnya. Setahu Chanyeol dua kursi tersebut sudah dipesankan Junmyeon untuk Sehun dan Jongdae, sehingga ia mengira dua kursi itu akan kosong. Namun betapa terkejutnya Chanyeol ketika merasakan kehadiran dua orang di depannya yang hendak menduduki kursi di sebelahnya.

Apalagi ketika salah satu dari kedua orang itu terlihat seperti Byun Baekhyun.

Tidak mungkin, 'kan?

OOOOOOOOOOOOOOOOO

"Oppa, bagaimana bisa kau mendapatkan tiket VIP seperti ini?" Tanya Byun Jihyun sambil menggandeng lengan Byun Baekhyun.

"Teman kantorku, Jihyunie," jawab Baekhyun, "Karena dia tidak bisa datang, dia memberikan aku tiketnya,"

Keduanya sedang berjalan menyusuri koridor di Gedung LG Art Center di Gangnam-gu, mencari di mana letak pintu masuk teater untuk VIP. Beruntung Sehun memberinya tiket VIP karena melihat dari panjang dan penuhnya antrian biasa, siapa saja akan mengira ada idol yang berperan dalam musikal ini. Dan Baekhyun benar-benar tidak ingin bergabung dengan lautan fangirls tersebut.

Akhirnya mereka pun menemukan pintu masuk VIP, sesuai dugaan Baekhyun, pintu ini jauh lebih sepi dan teratur. Keduanya masuk dan disambut oleh pemandangan teater yang begitu megah.

"Wah, ini pertama kalinya aku melihat teater sebesar ini!" Seru Jihyun, matanya menyapu seluruh ruangan yang terlihat begitu profesional. "Oppa, ini daebak!"

Baekhyun yang baru pertama kali memasuki teater musikal pun juga terkagum-kagum. Apalagi setelah melihat dekorasi di atas panggung yang terlihat begitu rapi dan mahal.

"Ya, Jihyun-a, apa judul musikal ini?" Tanya Baekhyun, matanya masih sibuk menyapu ruangan.

"Oppa! Kau bahkan tidak tahu apa yang akan kau lihat?" Jihyun tertawa kecil, "The Last Kiss! Kau akan menonton The Last Kiss, musikal ini menceritakan seorang pangeran.."

Selagi Jihyun bercerita panjang lebar tentang alur cerita musikal yang akan mereka tonton, Baekhyun menggandeng tangan adiknya itu agar terus mengikutinya berjalan ke kursi mereka. Byun Jihyun memang sangat menyukai musikal sejak kecil sama seperti mendiang Ayah mereka. Bahkan di sekolahnya Jihyun ikut dalam Klub Teater.

Ketika mereka hampir sampai di kursi 1-16 dan 1-17, Baekhyun melihat ada seorang pria bertopi yang sudah menduduki kursi di sebelahnya. Kaki pria itu begitu panjang, sehingga meskipun sudah ditekuk, Baekhyun dan Jihyun harus berjalan melebar agar tidak menabraknya.

Pria itu mengangkat wajah dari ponsel di tangannya ketika mereka berdua melewatinya. Baekhyun memberikan sedikit senyuman sapaan kepada pria bertopi itu lalu menduduki kursi di sebelahnya sehingga ia duduk diantara Jihyun dan pria tersebut. Di sebelah Baekhyun, Jihyun masih mencoba bercerita, tetapi tiba-tiba adiknya itu berhenti ketika mereka mendengar pria di sebelah mereka bersuara.

"Byun Baekhyun..." Spontan Baekhyun dan Jihyun menoleh ke arah pria bertopi di samping mereka, "..ssi?"

OOOOOOOOOOOOOOOOOO

Ketika Baekhyun menoleh menatapnya, jantung Park Chanyeol seakan jatuh ke dasar perutnya. Ia tidak bisa merasakan dirinya bernapas. Ia bahkan tidak tahu kalau ia masih hidup. Kedua mata indah itu menatap Chanyeol kaget, seakan baru mengenalinya.

"Park Chanyeol-ssi?" Baekhyun tersenyum sambil menyebut namanya, "Sepertinya kita bertemu lagi,"

"Bagaimana.. apa yang kau.. umm maksudku," Chanyeol berdeham, "Kau menonton musikal juga?"

Park Chanyeol mengutuk dirinya dalam hati. Dari sekian banyak pertanyaan pembuka percakapan mengapa dia harus menanyakan hal yang sudah jelas? Tentu saja dia menonton, dia 'kan ada di dalam teater juga ditambah duduk di sampingku, dasar bodoh!

"Aku mendapatkan tiket dari Sehunie," jelas Baekhyun sambil melambaikan dua tiket miliknya dan Jihyun, "Apa kalian seharusnya menonton bersama?"

"Kami harusnya menonton bertiga bersama teman kami yang lain. Tapi mereka tidak bisa datang," jawab Chanyeol memberikan senyuman terbaiknya.

"Aku tidak tahu kalian suka musikal?"

"Sebenarnya tidak begitu, tapi aku cukup mengapresiasinya karena salah satu temanku menjadi pemeran utama,"

"Benarkah?!" Sahut gadis di samping Baekhyun tiba-tiba. Senyum lebar terpampang di wajah gadis cantik itu dan Chanyeol sekilas melihat tangan gadis itu menggenggam tangan Baekhyun bersemangat.

"Pangeran Rudolf adalah temanku, Kim Junmyeon," kata Chanyeol sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan gadis itu.

"Ini adikku, Byun Jihyun, Chanyeol-ssi," kata Baekhyun memperkenalkan.

Gadis itu membungkuk memberi hormat sebelum kembali bertanya pada Chanyeol, "Apakah benar Kim Junmyeon setampan di poster-poster?"

Chanyeol tertawa kecil, tidak menyangka sahabatnya sudah terkenal dikalangan remaja.

"Ya! Bagaimana kau tahu dia tampan atau tidak?" Tanya Baekhyun kepada adiknya heran.

"Oppa kau harusnya mencari tahu dulu sebelum datang menonton musikal," gerutu gadis itu sedikit kesal, "Aku tahu karena aku sudah berpuluh-puluh kali melihat poster itu di twitter dan instagram,"

Baekhyun hanya menggeleng dan tertawa kecil, ia menoleh ke arah Chanyeol dan berbisik kecil, "Maafkan adikku, dia masih dalam masa pubertas,"

"Ya! Oppa!" Jihyun memukul lengan Baekhyun, membuat Chanyeol ikut tertawa. Park Chanyeol merasa begitu gembira melihat sisi Baekhyun yang baru diketahuinya ini, santai dan suka bercanda.

"Ohiya, Chanyeol-ssi," Baekhyun berkata, "Terimakasih waktu itu sudah membolehkanku menginap di apartemen kalian,"

"Tentu saja Baekhyun-ssi, kau sama sekali tidak merepotkan kami," sahut Chanyeol segera, "Kau boleh menginap lagi kapan saja,"

Entah apa yang mendorong Chanyeol untuk berkata seperti itu. Tapi ia sungguh tidak keberatan jika Baekhyun menginap lagi, bahkan ia sedikit berharap Byun Baekhyun akan menginap lagi.

"Kau dan Sehun sangat baik, aku merasa sungkan jika memanfaatkan kalian," kata Baekhyun sambil tersenyum jahil, mengisyaratkan bahwa ia hanya bercanda. Melihat itu, dada Chanyeol terasa berdesir halus, "Maaf jika waktu itu aku berangkat pergi lebih dulu tanpa pamit, aku rasa kau belum bangun saat aku dan Sehun berangkat,"

Pagi hari setelah Baekhyun menginap waktu itu, Chanyeol memang tidak bertemu dengan Baekhyun lagi. Karena jam kerjanya yang lebih siang dari kantor lain, ia terbiasa bangun jam delapan pagi, dimana pada waktu tersebut orang-orang biasanya sudah dalam perjalanan menuju kantor mereka.

Saat itu Chanyeol agak menyesal bangun siang. Ia berharap Baekhyun masih ada ketika dia bangun dan mereka bisa mengobrol atau setidaknya bertukar nomor ponsel. Ia tidak bohong ketika mengatakan ingin mengenal Byun Baekhyun lebih jauh.

Dan kali ini Tuhan memberinya kesempatan kedua.

"Apakah kau ada acara setelah ini, Baekhyun-ssi? Bagaimana kalau kita bersama adikmu mencoba restoran baru di dekat sini?"

Chanyeol hanya berharap Junmyeon tidak keberatan dengan adanya tamu tambahan diacara minum-minum mereka.

OOOOIOOOOOOOOOOOOOO

A/n: Wow this is the longest chapter i've written so far, cant believe i did that lol

Terimakasih banyak buat yang udah baca, reviewed, favorited, dan followed! Sangat amat mem-booster aku buat nulis terus haha

Anyway, menurut kalian apa ada yang kurang dari penulisan aku? plot bahasa atau yang lainnya?