'Anda mendapat pesan, anda mendapat pesan'
From: Naruto
Terima kasih. Maaf. Semoga kau bahagia
.
Sakura membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng dengan kadar alkohol yang cukup tinggi lalu meneguknya hingga habis.
"Dasar pria bajingan."
.
.
Disclaimer : Naruto dkk milik Masashi Kishimoto seorang. Aku hanya meminjam beberapa diantara mereka.
Genre : Romance, Drama
Warning : Typo every where. The plot is abstact. OOC, AU, etc. Membaca fic ini dapat menyebabkan pusing, meriang, gangguan kehamilan dan janin(?)
Courtesy of Married Without Dating © TvN
..PROPOSE ME..
Chapter 2: Berpisah dengan cara manusiawi,
[Kirim pesan Teks]
"Ibu, aku kan sudah bilang ibu tidak perlu kuwatir, anak ibu ini hanya perlu menunggu waktu yang tepat."
"Iya iya tapi kapan? Ibu sudah lelah, setiap kali 'ku tanya kapan kau akan menikah jawabanmu selalu saja sama." Sakura memejamkan matanya lelah. Dia pikir sebentar lagi telinganya akan benar-benar meledak karena suara telepon diseberang sana yang begitu keras.
"Ibu dengar yah, anakmu ini cantik, siapa pun mau dengannya. Apa ibu meragukan kecantikan ku ha?" Kali ini Sakura memindahkan handphonenya ke telinga yang satu.
"Bukan begitu, kau harus sadar sebentar lagi umurmu akan mencapai 30. Laki-laki mana yang mau dengan gadis tua."
"YA Ibu!" Tanpa sadar Sakura berteriak ke arah handphonenya lupa kalau yang berada diseberang sana adalah orang yang sudah melahirkannya.
"Sejak kapan kau berani meninggikan suaramu pada ibu hah?"
Sakura dengan takut-takut kembali memelankan suaranya. "Ma-maaf, aku hanya terkejut bu. Apa ibu pernah dengar bahwa perkataan orang tua itu mudah untuk dikabulkan? Aku tidak ingin jadi gadis tua selamanya bu, huaaa" Sakura merengek layaknya seorang anak kecil.
"Makanya kau harus cepat-cepat menikah."
Sakura melemparkan tubuhnya pada sofa panjang yang berada di depan TV kemudian memasukkan kue coklat terakhir yang ada dipiring ke dalam mulutnya.
"Bagaimana dengan pacarmu si Nara.. Naru.. siapa? Ah iya Naruto."
Sakura rasa kue coklat yang baru saja masuk ke mulutnya kini singgah ditengah tenggorokannya membuat suaranya tercekat dan akhirnya ia harus terbatuk-batuk.
Dengan paksa Sakura berusaha menelan kue coklat itu hingga melewati tenggorokannya, dan setelah itu dia berusaha mengatur napasnya yang sesak.
"A-apa? D-dia kenapa?"
"Kapan dia akan mengajakmu menikah?" Kali ini Sakura terbatuk lebih keras lagi, entah karena masih ada kue coklat yang tersangkut di tenggorokannya atau memang saat ini dia sedang alergi dengan nama itu.
'Anda mendapat pesan. Anda mendapat pesan.'
"Bu aku ingin membaca pesanku, lain kali aku telepon lagi. Bye mom, Love you muaahh!"
"Hey tapi kau belum menja-"
-Tut tut tut-
"Hampir saja. Wanita itu akan benar-benar marah padaku jika tau aku yang melamar Naruto, bukan dia." Sakura menepuk jidatnya, merasa dirinya benar-benar tolol.
"Ah iya tadi ada pesan." Sakura menjilat tangannya yang penuh dengan sisa coklat kemudian membuka kotak surat yang tertampil dilayar handphonenya.
"Naruto?" Sakura berhenti sebentar, memandangi layar yang bertuliskan nama Naruto. Seribu macam pertanyaan muncul dikepalanya. Ada apa dengan pria ini, kenapa dari sekian lama dirinya menelpon dan mengirimi pesan suara tapi baru kali ini pria ini menghubunginya. Apa dia ingin minta maaf? Atau jangan-jangan dia mau menerima lamarannya?
Tanpa lebih banyak bertanya lagi Sakura dengan antusias menekan tombol 'read', terlalu banyak berpikir malah membuatnya semakin tidak bisa menunggu.
From: Naruto
Terima kasih. Maaf. Semoga kau bahagia.
Sakura memandangi layar hanphonenya cukup lama. Mencoba mencerna kata per kata dari pesan singkat itu.
Tidak ada ekspresi, tidak ada kerutan di dahinya seperti kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang serius melakukan sesuatu.
Sakura menekan tombol kembali, kemudian berjalan ke arah dapurnya dan berhenti tepat didepan kulkas LG miliknya.
Ia membuka pintu kulkas dan mengambil minuman kaleng beralkohol yang kebetulan terletak disamping pintu kulkas kemudian meneguknya hingga habis.
"Dasar pria bajingan."
Naruto terlihat duduk termenung di cafe miliknya dengan tangan kanan menopang dagu sedangkan tangan yang satunya sibuk memutar-mutar handphone. Dia terliat menggumamkan sesuatu dari bibirnya kemudian detik selanjutnya dia mulai mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Tidak Naruto, ini adalah hal terbenar dan terbaik yang sudah kau lakukan. Tidak tidak kau tidak salah." Naruto menatap lurus seakan-akan baru saja berbicara meyakinkan dirinya sendiri.
Sekali lagi Naruto kembali mengacak rambutnya frustasi. Hal itu sudah berapa kali dia lakukan semenjak sudah menekan tombol send yang ada di layar handphonenya. "Ah bodoh..." Naruto membenamkan wajahnya di balik kedua lengannya.
"YA! KAU KE...NA...PA-?" Tiba-tiba Naruto dapat merasakan ada sesuatu yang mengenai bagian kepalanya. Ya, seseorang yang kurang ajar baru saja memukul tengkuk kepalanya.
"Kau yang kenapa terlihat murung begitu." Hampir saja Naruto mengeluarkan seluruh jurus andalannya untuk orang itu, tapi mengetahui itu Sasuke ia rasa dia tak akan berani mencari masalah dengan sahabatnya yang satu ini.
"Jangan pernah memukul kepala orang yang sedang kesal, kau tak akan tau apa yang akan terjadi." Naruto kembali membenamkan wajahnya di balik kedua lengannya.
"Hei kau kenapa? Ini gara-gara si Nyonya Haruno itu?"
Naruto bergumam dari balik lengannya, "Jangan pernah menyebut namanya lagi."
Kali ini Sasuke memukul tengkuk kepala Naruto lebih keras dari sebelumnya, hingga bunyinya mampu membuat pelanggan yang ada disana memalingkan pandangan mereka ke arah dua orang tersebut.
"YA! KAU?!" Naruto meringis sambil mengelus kepala belakang miliknya dengan kasihan.
"Aku rasa kau harus mengucapkan 'pisah' padanya secara langsung."
Naruto balas memandang Sasuke, "Kenapa kau jadi serius begini? Kau tidak akan terganggu lagi dan terlibat kedalam masalahku." Naruto meneguk habis americano miliknya. "Kau tenang saja, dia tidak akan muncul lagi. Aku benar-benar sudah berakhir dengannya untuk selamanya kali ini." Naruto memperbaiki kerah bajunya dengan sedikit berlagak.
"Apa kau yakin?" Sasuke terlihat memicingkan mata.
Naruto bersandar dengan santai pada sofa cafe itu, "One-Hundret-Persen."
"YAAA! KAUU NARUUTO!"
Naruto tersentak dari bangkunya. Dia terdiam tak bergeming dari posisinya. Mendengar namanya dipanggil ia sudah bisa langsung menebak siapa pemiliki suara itu.
Orang yang selama ini dia hindari, orang yang terus-menerus mengirimkan pesan suara padanya, dan juga orang yang baru saja mereka bicarakan. Dia Sakura, Haruno Sakura.
Naruto hapal betul suaranya.
Kali ini pandangannya ia lemparkan pada Sasuke. Berharap sahabatnya yang satu ini bisa memberitahunya bahwa ia hanya berhalusinasi mendengar suara Sakura. Tapi sepertinya apa yang dia pikirkan tadi itu benar, melihat bagaimana ekspresi Sasuke memandangnya seakan-akan berkata 'ya kau betul. Dia sekarang ada disini, tepatnya dibelakang mu.'
"Sa-sasuke bantu aku..."
Sasuke hanya memutar bola matanya malas. "Harus 'kah aku terlibat dalam drama mu lagi."
"NARUUTO-KUN~ Sekarang kau mau lari kemana lagi ha~?" Sakura berjalan gontai memasuki cafe hingga menuju meja mereka berdua. Seisi cafe mulai memusatkan perhatian mereka pada Sakura yang saat ini hanya menggunakan baju kaos dengan cetakan beruang besar pada dadanya serta celana pendek selutut.
Naruto menengok dari balik tempat duduknya dan benar saja Sakura ada disana, dengan jalan gontai dan botol wine yang ada ditangannya.
"H-hai Sakura, kau membaca pesanku? A-aku rasa iya. L-Lama tak berjump-ADAAW." Sakura mendaratkan tangannya tepat pada telinga Naruto dan dengan setengah sadar ia mulai memelintirnya ke kiri dan ke kanan. "Sa-Sakura kurasa kau benar-benar mabuk saat ini."
"Ssstttt" tangan Sakura kini berganti berada di bibir Naruto, memposisikan telunjuknya tepat dibagian tengah bibir pria itu. "Kau tahu seberapa pusing aku mencarimu... Setiap hari aku menelponmu tapi kau-"
"S-S-Sakura..."
"HUUSTT" saat ini bukan lagi telunjuk yang ada dibibir Naruto tapi Sakura baru saja membekap Naruto atau mungkin lebih bisa disebut dengan menampar bibirnya.
Sakura melanjutkan ceritanya dengan setengah sadar, "Akhirnya aku bisa menemuimu~ Kenapa kau tidak menghubungi ku hah?"
"S-Sakura apa kau belum membaca pesan ku?"
"Ah pesan! Benar sekali." Sakura mulai tertawa, semakin lama tawanya semakin besar. Mungkin orang yang saat itu melihatnya akan mengira kalau dia adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari kamarnya. Bagaimana tidak, pakaian serta rambutnya terlihat sangat berantakan. Tadi, setelah mendapat pesan dari Naruto, Sakura langsung meneguk habis semua minuman beralkohol yang ada dirumahnya dan hal itu tentu membuatnya sukses kehilangan kesadaran hingga saat ini.
"Hahaha kau tidak mungkin belum membacanya 'kan." Naruto ikut tertawa lebih tepatnya tertawa dengan paksa, tapi mungkin hal itu itu lebih terdengar seperti tawa minta tolong seakan-akan hidupnya sebentar lagi akan berakhir.
Selagi Sakura masih sibuk meraba-raba kantung saku celananya, Naruto beberapa kali melemparkan pandangan SOS pada Sasuke yang artinya kau harus menolong'ku sekarang. Tapi bukannya iba Sasuke malah meminum coke yang tadi dia pesan seakan-akan sedang menikmati sinema layar tancap.
"Ah ini dia!" Sakura memegang handphone Samsung miliknya dan mulai membacakan isi pesannya. "Terima kasih. Maaf. Semoga kau bahagia."
Sekali lagi Sakura terkekeh kemudian di sela tawanya dia berhenti. "Aku memang bodoh." Pandangannya berubah dan ia hanya menatap pada satu titik. "Aku terlalu mencintaimu, tidak." Pandangannya kini beralih menatap Naruto. "Aku mencintaimu dengan tulus." Sakura menghela napasnya panjang.
Naruto balik memandang Sakura yang kini sedang tertunduk hingga kedua sisi rambut menutupi wajahnya. Naruto bisa mengira kalau saat ini mungkin Sakura sedang menangis.
Naruto mengangkat tangannya perlahan, ingin mencoba menyibak rambut wanita yang saat ini menutupi wajah cantiknya itu. Biar bagaimanapun Naruto tetap merasa iba melihat gadis yang pernah ia cintai menjadi berantakan seperti ini.
Tiba-tiba sebuah botol alkohol menahan dadanya. Tidak, dia tadi tidak memesan wine atau sejenisnya lantas dari mana botol alkohol ini bisa berada didadanya. Naruto tersadar bahwa botol itu berasal dari genggaman wanita dihadapannya, Sakura.
Gadis itu tidak lagi menunduk seperti yang dia lakukan tadi, tapi menatapnya dengan pandangan mengintiminasi layaknya seekor elang yang sebentar lagi akan memakan mangsanya.
Naruto mengumpulkan kesadarannya. Wajahnya berubah menjadi panik. Mesti beberapa kali dia merayu meminta agar botol itu dijauhkan darinya, tapi sepertinya Sakura tak bergeming. Untuk yang sekian kalinya botol alkohol itu kembali menekan dadanya.
"Apa kau tau betapa terlukanya aku?!" Mata Sakura saat itu sudah sangat sembab, Naruto bisa melihat bekas air mata dari kedua pipinya, pipi yang dulu sempat dia sukai.
Sakura kemudian melanjutkan ucapannya, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. "Aku sangat terluka sekarang! Aku bahkan telah memimpikan masa depan bersamamu!" Dia menarik napas, "Namun bagaimana bisa kau bahkan mengakhirinya hanya dengan satu pesan singkat sialan itu!"
Botol alkohol yang awalnya berada pada dada Naruto kini telah melayang diudara dan hanya menunggu hitungan detik hingga botol itu benar-benar akan mendarat di wajah Naruto.
Namun sebuah tangan tiba-tiba menghentikan pergerakan Sakura dengan menggenggam pergelangan lengannya. Hal itu membuat posisi botol kini tertahan diudara dengan tetap berada digenggaman Sakura.
Semuanya lantas menjadi sunyi. Tidak ada lagi bisik-bisik dari pengunjung yang saat itu berada disana, semua terdiam kaget. Begitu pula Naruto. Dia tak bergeming sama sekali dari tempatnya, seakan hal itu sangat cepat terjadi dihadapannya sehingga ia harus memproses ulang apa yag terjadi.
Tak butuh waktu lama hingga seluruh tubuhnya mendadak bergetar. Dia memerhatikan posisi botol yang tak jauh dari wajahnya. Entah apa yang akan dia lakukan jika botol kaca itu benar-benar mengenai wajahnya, mungkin dia akan segera dilarikan ke rumah sakit dan jika selamat mungkin hal terburuk yang ia dapati adalah dia tidak akan peenah menikah selamanya karena wajah yang cacat.
Hayalan itu cukup membuat Naruto sadar dari lamunannya. Kini satu-satunya hal yang ada dikepalanya adalah bagaimana ia bisa kabur dari tempat ini.
Tak butuh waktu lama hingga Naruto sudah berlari dengan sempoyongan ke arah pintu lain dari cafe itu. Ditengah larinya ia berusaha menekan tombol speed call yang ada dilayar handphone miliknya untuk meminta bantuan agar terbebas dari wanita yang saat ini benar-benar sudah tidak ia kenali. Dia tidak pernah menyangka kalau Sakura akan menjadi nekat seperti ini.
"Halo, kantor polisi?"
.
.
.
"Kau lagi?" Sakura menatap sinis dan mengambil lengannya dengan paksa dari genggaman Sasuke. "Apa kau sekarang ingin memberitahuku betapa menyedihkannya aku saat ini?!"
"Kau mestinya bersyukur aku telah menolongmu."
"Apa?" Sakura meninggikan suaranya. "Apa kau takut aku akan lebih menyedihkan lagi?" Sakura menghembuskan napasnya berat. "Aku tau betapa kasihannya aku saat ini tapi apa kau tau, aku tidak dapat mengakhirinya dengan cara manusiawi kalian! Aku perlu bicara dengannya!" Kini tangisnya telah pecah, tepat dihadapan Sasuke. " ...meskipun mungkin aku akan terlihat menyedihkan."
Dari jauh Sai dengan nampan pesanan ditangannya hanya berdiri diam dari tadi disana memerhatikan apa yang sedang terjadi.
"Keluar 'lah. Cari dia. Kau harus meminta kejelasan darinya." Sakura berhenti terisak, kini dia memandang Sasuke."Apa?" Sasuke balas menatapnya. Kemudian dia menghela napas, "Ikuti aku."
Sasuke berjalan kearah lorong lain dari cafe itu dengan Sakura yang mengikuti tepat dibelakangnya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh Sasuke bisa menebak kalau gadis ini masih terisak dan beberapa kali menghapus air matanya. Jujur saja dari lubuk hati yang paling dalam Sasuke sangat mengasihani gadis ini. Bukannya dia tidak membela kawannya hanya saja dia pikir kali ini Naruto memang benar-benar kelewat batas.
"Buka pintu itu, dia ada didalam." Sakura menatap bingung ke arah Sasuke.
Mereka berada disebuah koridor yang didepanya ada sebuah pintu, tak ada suara apa-apa dari dalam. Sakura melangkahkan kakinya ragu-ragu kemudian berhenti tepat dimuka pintu. Sakura berbalik kembali kearah Sasuke yang saat ini tengah bersandar dipinggiran tembok, menatapnya cukup lama berharap kali ini pria itu tidak berbohong kepadanya.
Sakura kemudian mengetuk pintu dengan botol yang berada di tangannya, "Ya Naruto! Keluar kau!" Sakura semakin mengeraskan ketukannya.
Dari dalam Naruto bertelungkup sambil menggigit jarinya dengan gugup. Seluruh badannya ikut bergetar dan dengan tergesa-gesa ia menekan tombol handphonenya lagi.
"Jika kau memang tidak menginginkanku lagi, katakan langsung padaku! Baru'lah aku akan pergi, Brengsek!"
Sasuke yang dari tadi hanya melihat dari kejauhan merasa kalau Sakura benar-benar tidak dapat mengontrol emosinya lagi dan jika dibiarkan tentunya itu akan berbahaya bagi dirinya dan well, tentunya bagi sahabatnya juga.
Sasuke mendekati Sakura dan menarik tangannya agar menjauh dari pintu itu tapi belum saja Sakura bergerak dari tempatnya, botol yang ada ditangan Sakura kini terlempar kearah tepat diwajah Sasuke hingga ia harus berjalan mundur sambil memegangi hidungnya.
"Yaa! Naruto!" Sakura sepertinya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang terluka karena dirinya. Tapi jika boleh jujur Sasuke sama sekali bukan target kemarahannya, malahan dia sempat berfikir untuk berterima kasih pada pria itu karena telah memberinya masukan yang yah walaupun memang sedikit perih.
Mungkin kali ini Sasuke lebih cocok untuk disebut korban daripada tersangka.
"Apa kau baik-baik saja Sasuke?" Sai yang baru saja muncul dari lorong itu mendekati Sasuke dan menawarkan kain putih yang ada disakunya, dia memang sering membawa benda itu.
"Aku tidak apa-apa Sai." Benar saja setelah mendekatkan kain itu pada hidungnya, Sasuke bisa melihat ada bercak warna merah yang tertinggal di sana.
"Ck sial."
Sasuke kembali melemparkan pandangannya pada Sakura dan hal yang dapat ia lihat adalah tidak ada lagi pintu yang dari tadi diketuk oleh Sakura, pintu itu kini jatuh tak berdaya di bawah lantai dan suara terakhir yang dapat ia dengar dari kedua orang disana adalah,
"Polisi, apa kau bisa segera datang ke sini? Aku sedang dikejar oleh seorang penguntit."
A/N : Saya tahu ini sangat teramat pendek, tapi dengan segala kerendahan hati saya harap para reader bisa tetap membacanya dan menantikan episode selanjutnya T.T Maafkan author ini /nangis darah/. Mungkin untuk beberapa hari bulan dan bahkan tahun(?) cerita ini akan terpending lama :c alasannya? karena author mungkin sedang dehidrasi/?
Big Thanks buat : Eunike Yuen, de-chan, juju, Re UchiHaru Chan, Uchiha Riri, Aoi Yukari, suket alang alang, Chore Je, Alany Rien, mantika mochi, Amu B
De-chan: Sepertinya Sai dan Ino belum saling kenal
Suket alang-alang : Ya namanya juga ,, cinta itu buta wkwk
Choro Je: Halo salam kenal juga, wah makasih lo sarannya. Aku masih author baru soalnya hehe bagi saran lagi yah kalau emang ada kesalahan ^^
