Sinar mentari pagi menyelinap di gorden kediaman Uchiha. berusaha membangunkan si pirang yang masih tertidur. Tak perlu waktu lama hingga si pirang itu merasa risih karena silau.
"Sudah bangun?" Suara khas wanita menggelitik pendengaran Naruto.
"Nghhh.. ya begitulah." Naruto mencoba bangkit dari tidurnya. "Ughh." Ringis nya saat rasa sakit luar biasa menghujam kepalanya.
"Masih terasa sakit?"
"Tidak lagi." Jawabnya singkat.
"Bagaimana kondisinya Sasuke." Pria yang terlihat masih muda namun memiliki kriput itu tiba tiba masuk.
"Sudah lebih baik, kurasa."
Naruto hanya bisa menatap kedua orang asing di depannya nya itu dengan tatapan bingung.
"Jika sudah lebih baik. Kaa-san menyuruh kalian untuk turun. Kita sarapan bersama." Ujar Itachi kemudia meninggalkan Sasuke dan Naruto.
"Cepat bangun dan turun." Ucap Sasuke datar sembari mengikuti kakaknya yang terlebih dahulu turun.
Naruto masih menatap bingung kedua orang barusan. Kenapa mereka begitu santai terhadap orang asing sepertinya. Bahkan mereka seperti tidak mencurigai dirinya sama sekali.
"Di mana teman mu itu, Sas? Masih belum turun?" Wanita paruh baya itu meletakan lauk pauk di meja makan.
"Sebentar lagi." Jawab Sasuke datar. Ia mendahului keluarganya untuk menyantap makanan di atas meja.
Tidak lama kemudia pria pirang itu pun turun dari kamar Sasuke di lantai dua.
"Ne ne kochi kochi." Wanita paruh baya itu menarik Naruto agar segera duduk di meja makan. "Masih sakit ka?"
"Ah tidak bibi. Aku sudah baikan." Jawab Naruto di sertai dengan senyum tiga jari andalannya.
"Yokatta. Ayo silahkan di makan." Mikoto menyuguhkan lauk pauk ke pada Naruto.
"Ne Arigato gozaimasu bibi. Itadakimasu." Pekik Naruto riang. Sudah lama ia tidak memakan makanan rumah.
"Hoi.'' Naruto berbisik ke arah wanita familiar di sampingnya. "Terimakasiy ya."
"Jangan berbicara saat sedang makan." Jawab Sasuke ketus.
"Huh." Naruto mencibir. Wanita ini benar benar mirip dengan rekannya.
Sarapan pun usai. Sasuke melihat kearah luar jendela. Badai salju sudah usai 4 jam yang lalu. Yang ia pikirkan kini adalah Naruto. Kenapa dia tidur di taman?
"Naruto." Panggil Sasuke. Naruto yang tengah nonton bersama Itachi itu sontak menoleh ke arah Sasuke.
"Huh? Do shitte?."
"Kenapa kau tidur taman?"
"Aku tidak punya rumah. Dan bagaimana kau tau namaku?" Naruto balik bertanya.
Sasuke terdiam seketika. Ia memikirkan banyak alasan untuk menjawab pertanyaan Naruto. Sampai ia melihat satu titik terang. "K-kalung." Jawab Sasuke dengan wajah datarnya.
"Oh yaa hahaha." Naruto tertawa lepas.
Sasuke hanya menatap prihatin ke arah Naruto. Bukannya dia orang kaya? Kenapa dia mengatakan jika ia tidak memiliki rumah?
Mungkin sebaiknya Sasuke pura pura tidak tahu di bagian itu.
"Tidak menyewa apartemen?''
"Hummmm... aku tidak puny uang."
"Sampai kapan kau akan jadi gelandangan, huh?" Sasuke menatap kesal Naruto.
"Aku lebih baik jadi gelandangan dari pada harus tinggal di rumah itu." Gumam Naruto.
"Apa?"
"Tidak ha ha lupakan." Naruto tertawa renyah.
Naruto Kembali menatap sendu serial komedi di layar tv. Sasuke mengerenyit melihat perubahan prilaku Naruto. Naruto yang selalu ceria?
Jam menunjuk tepat jam 13 siang. Namun mentari sama sekali tak ingin menampakan sosoknya. Mendung..
"Sepertinya sebentar lagi akan ada badai Salju." Naruto berbicara di depan telinga Sasuke membuat Sasuke melompat menjauhi Naruto.
"A-a-apa apaan itu." Pekik Sasuke dengan wajah semerah tomat.
"Yo. Selamat siang.'' Sapa Naruto. "Aku ingin berpamitan." ucap Naruto dengan senyum tiga jari andalannya.
"Hn?" Sasuke Terdiam menatap manik safir Naruto bingung. "Kau ingin menjadi lagi?"
"Gelandangan? Ughh kata kata mu itu kejam sekali." Naruto memeluk dirinya berpura pura sedih. "Oh ya kita belum berkenalan secara resmi. Nama ku Namikaze Naruto."
"Uchiha Sasuke." Jawab Sasuke singkat.
"Nama yang indah." Puji Naruto tulus yang berhasil wajah Sasuke lebih merah dari tomat.
"Oh ya. Maukah kau ikut dengan ku sebelum aku pergi?"
"Kemana?"
Naruto mengeluarkan dua buah kertas tiket dari sakunya. "Balas budi." Naruto tersenyum tiga jari.
"Aquarium?" Sasuke membincingkan matanya. Ingin ia menolak namun setelah melihat senyum tulus Naruto membuat Sasuke luluh. "Arrghh baiklah.''
"Yeaay."
"Aku akan meminta izin pada orang tua ku dulu."
"aku juga aku ingin berpamitan."
"Hn."
Di depan televisi. Mikoto dan Fugaku sedang menikmati siaran wartaberita. Melihat perkembangan kasus kopi maut yang sedang buming.
"Prosesnya sungguh lambat." Kritik tajam Fugaku. "Berapa kali pun mereka melakukan reka ulang itu tidak akan memunculkan titik terang." Gerutunya.
"Kasus ini tidak mudah suami ku." Timpal Mikoto.
"Kaa san Tou san. Aku ingin meminta izin untuk keluar bersama Naruto." Sasuke muncul dari balik sekat antara ruang tamu dan ruang TV.
"Kalian mau pergi kemana?" Tanya Mikoto sembari menatap dua orang anak muda itu di sampingnya.
"Aquarium." Jawab Sasuke singkat.
"Baiklah. Berhati hatilah di jalan."
"Bibi. Terimakasih atas tumpanganya satu malam ini dan terimakasih untuk sarapannya." Ucap Naruto tulus.
"Sudah mau pergi?" Mikoto memasang wajah sedih. Fugaku hanya melirik Naruto dengan ekor matanya.
"Hai. Suatu saat kebaikan kalian akan aku balas." Naruto membungkuk hormat dan berjalan keluar meninggalkan Fugaku dan Mikoto.
Aqua Center di bagian barat kota konoha. Tempat itu semakin ramai kala musim dingin. Nuansa romantis yang di paparkan di tempat itu yanh menjadi alasannya.
Naruto dan Sasuke mulai memasuki miniatur surga lautan itu. Melihat sekeliling mereka yang dipenuhi ikan ikan unik. Jujur saja ini kali pertama Sasuke mengunjungi aquarium super besar itu.
Sasuke tidak bisa membendung rona takjub di wajahnya. Ia benar benar akan berterimakasih dengan partber pirang nya itu.
Letih mereka berkeliling melihat ikan ikan. Senyum muncul sesaat dari bibir Sasuke saat perjalanan mereka melihat lihat jenis dan macam ikan.
Naruto memutuskan untuk mengajak Sasuke untuk berisitrahat di warung kakilima yang berada tepat di depan aqua center.
"Kau merasa lelah?" Naruto tiba dengan dua segelas kapucino hangat di tangannya.
"Sedikit." Sasuke duduk di sebuah bangku panjang sembari memijat kecil kakinya yang terasa penat.
"Ini." Naruto menyuguhkan salah satu kapucino di tangannyab.
"Hn domo." Jawab Sasuke singkat.
"Tadi itu menyenangkan." Ujar Naruto sembari mendudukan dirinya di samping Naruto.
"Hn." Jawab Sasuke menyembunyikan senyumnya.
"Baiklah ku rasa sampai di sini saja. Aku akan mengantar mu pulang."
"Hn."
"Terimakasih sudah mau menemaniku jalan jalan." Naruto tersenyum lembut. Sangat lembut hingga berhasil membuat wajah Sasuke terasa panas.
"Douita." Jawabnya berusaha mengeluarkan suara sebiasa mungkin. Senyum itu lah yang membuat jantung Sasuke tidak kuat, jika Naruto bersama lebih lama lagi, jantung nya bisa melompat keluar.
Dua minggu setelah kejadian itu, Sasuke tidak pernah melihat atau mebdengar lagi tentang Naruto. Sasuke harus segera siap menerima panggilan tugas lagi. Ya, masa liburannya telah usai.
"Bagaimana liburan kalian?" Tsunade menyandarkan dagu pada kedua tangannya.
"Lumayan." Jawab mereka serentak.
"Aku baru mendapatkan informasi baru mengenai kematian Sai." Ujar Tsunade sembari membaca berkas baru itu. Di balik wajah datarnya Sasuke berusah menajamkan indra pendengarannya.
"Sebenarnya misi ini terlalu berbahaya untuk ku serahkan seutuhnya pada kalian, jadi aku harus mengirim kalian bersama Akatsuki."
"A-akatsuki? Itu tidak perlu nona Tsunade. Kami bisa melakukan sendiri. Bukan kah anda sendiri yang mengatakan jika CIA dan Akatsuki itu terlibat dalam kasus ini?" Bantah Sasuke cepat.
"Kau tidak bisa membantah Suke. Ini demi kebaikan kalian. Perwakilan Akatsuki lima menit lagi akan tiba. Soal CIA kita sebenarnya sudah salah sangka. Mereka tidak terlibat sama sekali. Dan perwakilan mereka sudah menceritakan semua pada ku, termasuk penyampaian info baru."
"Boleh kami mendengar apa informasi barunya nona Tsunade." Tanya Ino penuh dengan rasa penasaran.
"Tentang keterlibatan pihak sekolah itu memang benar adanya.'' Saut Tsunade.
"Sudah ku duga. Aku dan kakek sudah mencurigainya dari awal." Naruto mengangguk angguk.
"Di perkirakan mereka berkerja sama untuk mengancurkan setiap orang yang akan menggagalkan misi mereka." Jelas Tsunade.
"Kami tidak mengerti apa maksudnya."
"Kalian ingat misi beberapa waktu lalu. Tentang penggagalan pengirimian narkoba ke Jamaika. Kalian menyelesaikan misi itu dengan sempurna."
"Kami tau." Saut Sasuke dan Ino.
"Ada kecacatan dalam kesempurnaan itu." Terang Tsunade.
"A-apa itu mustahi." Bantah Sasuke lagi.
"Kejadian ini adalah buktinya. Kalian tahu jika Sai masih hidup?" Penuturan Tsunade mebuat Ino dan Sasuke menbulatkan mata. Itu mustahil. Sasuke dan Ino melihat jasad Sai dengan jelas.
"Apa kalian melihat sendiri bagaimana cara Sai mati?" Suara lembut nan anggun terdengar dari arah belakang membuat Sasuke, Ino dan Naruto menoleh.
"Yo Suke." Sapanya.
"Kau sudah tiba Tachi."
"Hn, perjalanan dari CIA ke mari cukup memakan waktu yang lama."
Mulut Sasuke terbuka lebar. Ia tahu betul siapa wanita bernama Tachi ini. Ya kakak lak lakinya. Ia bahkan tidak tahu jika kakak nya itu bekerja untuk CIA.
Secepat kilat Sasuke menarik tangan kakaknya. Menyeret dirinya di sisi sepi ruang kerja Tsunade. "Apa maksudnya ini?" Tanyanya sepelan mukin.
"Apanya yang apa?" Itachi menarik sebelah alisnya.
"CIA akatsuki dan ini?" Sasuke menatap tajam mata anikinya itu.
"Ah. Seperti yang ku lihat. Pekerjaan ku." Suat Itachi santai membuat Sasuke menepuk kasar dahinya sendiri.
"Baka aniki." Umpatnya kesal.
"Bisa kita mulai kerja samanya?" Tanya Tsunade di sela percakapan diam diam mereka.
"Argghh Terserahlah." Sasuke membuang muka dan berjalan keluar dari ruang Tsunade.
"M-mate Suke kun." Ino menyusul kepergian Sasuke. Hanya Naruto dan Itachilah yang masih tersisa.
"Sekarang apa?" Naruto memecah keheningan.
"Haah baiklah. Besok kalian harus kembali ke KHS. Mulai selidiki para guru dan staff sekolah lainnya."
"Baik." Jawab Naruto dan Itachi serentak.
Spy dan CIA telah menjalin kerja sama. Tsunade berharap kasus ini segera selesai dan tidak berlarut larut.
Bersambung...
revew?
