Disclaimer: all characters here were owned by their real owner. I owned nothing but the stupidness in my head.
p.s: (still) try listening to Illa Illa by Juniel as you reading this messed up story.
Four Seasons
kier © 2013
neomuna manhi saranghaesseo, katjil motthanikka
you can't have it, since you love it too much
yoojin x rian
winter.
"Selamat datang, ada yang bisa sa…" perkataan gadis berambut panjang itu terhenti begitu melihat orang yang tengah berdiri di hadapannya.
Orang itu mencetak lengkung senyum sempurna di bibirnya sebelum membuka bibir itu untuk mengatakan sesuatu.
"Lama tak bertemu, Jikyung-ssi."
"Aa—iya. Ada bunga yang ingin kau beli, Woojae-ssi?"
"Ah, iya. Tolong buatkan sebuah buket bunga berwarna ungu berukuran sedang untukku. Dengan pita berwarna ungu tua. Kali ini, tolong gunakan pita berukuran besar."
Si gadis terdiam sebentar, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya kecil sembari menggumamkan 'ya' yang tidak jelas. Dengan cekatan, ia mengambil beberapa bunga berwarna ungu dan merangkainya menjadi sebuah buket seukuran kepalan tangannya.
"Sudah," ujarnya sembari menyodorkan buket bunga di tangannya ke arah pria yang tengah terdiam memandang keluar jendela toko bunga gadis itu. Tak ditanggapi, si gadis menyenggol pelan lengan pria itu.
"Ah, maaf," ujar sang pria sembari menyerahkan beberapa lembar uang seharga buket bunga yang dibelinya. Gadis itu menggumamkan terimakasih kemudian membungkukkan badannya—lama sekali. Menyadari pria itu tak juga pergi, sang gadis perlahan mengangkat badannya dan mendapati pria itu tengah menatapnya, intens—tapi dengan sorot yang berbeda. Bukan sorot mata yang diterimanya saat pertama kali ia mengenal pria itu, bukan juga sorot mata yang diterimanya di café tempat pria itu menyatakan cinta beberapa bulan yang lalu. Sorot mata itu lebih lembut dibanding saat pria itu menyatakan cintanya, tapi juga lebih asing dibanding saat pertama ia mengenalnya.
"Ada apa?" tanya sang gadis, terganggu dengan cara pria itu menatapnya. Bukan—bukan karena ia tak suka dengan Woojae, meskipun memang ia menolak pernyataan cintanya, lagipula Woojae tak sedang menatapnya dengan pandangan yang mengintimidasi. Ia hanya tak suka dengan sorot mata itu—lagi karena ditujukkan padanya; meskipun ia tak tahu apa yang salah dengan sorot mata yang tengah diterimanya itu.
"Jikyung-ssi," ujar pria itu setelah hening yang panjang. Yang merasa dipanggil mengangkat wajahnya—mengernyit karena sorot mata lawan bicaranya masih sama.
"Ya?"
"Kurasa, aku harus menceritakan sesuatu padamu."
"Apa?"
Jeda.
Sang gadis tak suka jeda dalam pembicaraan mereka kali ini. Meskipun obrolan mereka biasanya lebih banyak diisi keheningan—dan biasanya ia baik-baik saja dengannya, kali ini jeda itu memberikan suasana tak enak untuknya.
"Apa, yang harus kau ceritakan?" ulang sang gadis, mengisi jeda yang tak diinginkannya.
"Cerita yang seharusnya sudah kuceritakan padamu berbulan-bulan yang lalu; cerita yang seharusnya sudah kau ketahui sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di toko ini."
"Itu—apa?" tanya gadis itu lagi. Ia mulai tak menyukai perkembangan obrolan mereka yang begitu lambat. Ia mulai muak ditatap seperti itu.
Dan ia mulai takut.
"Kau—masih mau mendengarkannya?"
Rasa takut itu kian menguat.
"Masih maukah kau?Mendengarkanku?"
Tidak, aku takut.
Ia mengangguk.
Tolong, jangan ceritakan. Aku tak tahu mengapa, tapi aku tak ingin mendengar ceritamu.
"Ceritakan ceritamu, Woojae-ssi."
Pria itu tersenyum lembut. Sorot mata itu masih sama. "Baiklah, aku akan menceritakan kisahku."
Jangan! Kumohon, jangan ceritakan, Woojae-ssi.
"Kurasa kau tahu tokoh utama cerita ini."
Tidak, tidak. Hentikan!
"Ini cerita tentang seorang pria yang sangat bodoh. Ia terlalu bodoh sampai kau bahkan tidak dapat menamparnya karena kebodohannya. Nama pria itu Yoojin, Jin Yoojin."
forth.
"Jikyung-ah~!"
"Jangan sok mesra, tidak cocok untukmu, tahu," kata yang dipanggil dari balik majalah yang tengah dibacanya. Majalah itu diangkat tinggi-tinggi hingga menutupi wajah sang pemilik suara.
"Memangnya bisa baca majalah seperti itu?" ujar pemuda berambut keriting yang tiba-tiba sudah berada di hadapan gadis itu dan menarik majalah yang tengah dibaca sang gadis. Kedua alisnya bertemu.
"Wajahmu kenapa? Sakit?" tanya sang pemuda begitu melihat wajah gadis di hadapannya yang memerah. Salah satu tangan pemuda itu bergerak menyentuh dahi sang gadis, sedangkan tangannya yang lain diletakkan di dahinya sendiri—membandingkan suhu tubuh gadis itu dengan miliknya.
"Tidak, kok. Kenapa wajahmu merah?" gumam pemuda itu pelan.
"Tidak tahu. Kenapa tadi kau memanggil?" ujar si gadis, seraya melepaskan tangan si pemuda dari dahinya.
"Oh, iya! Aku dapat beasiswa! Hahahaha, aku memang jenius!"
"Bohoooong! Beasiswa ke mana?"
.
.
Jeda. Perlahan-lahan, sinar mata pemuda itu meredup, tergantikan oleh sorot penyesalan.
.
.
"Jikyung-ah."
"Kemana? Ke luar negeri ya?"
Si pemuda tidak menjawab. Ia hanya menatap gadis di hadapannya tanpa suara.
"Tidak apa-apa, kok. Aku bisa menunggumu. Pacaran jarak jauh tidak terdengar jelek, malah aku bisa lebih fokus dengan pelajaranku—sembari melatih kesabaran lagi," ujar gadis itu, menyertakan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Tatapannya melunak, sorot mata yang sangat jarang berdiam di sana.
Tapi si pemuda tidak berkata apa-apa.
"Yoojin-ah? Merasa bersalah akan meninggalkanku, ya?" tanya gadis itu, menyenggol kecil pemuda di hadapannya karena pemuda itu seolah tak lagi berada di sana. Yang disenggol tersentak, tersadar kembali saat melihat gadis itu tengah menatapnya sambil tersenyum. Perlahan, sebentuk lengkung senyum juga tercetak di sana—tidak lebar—tetapi cukup untuk menyenangkan gadis di hadapannya.
"Mm. Keluar negeri," gumam pemuda itu, menyertakan senyuman kecil di sana. Ia mengubah posisi duduknya sehingga berdampingan dengan gadis itu, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu sang gadis.
Kemudian menghela napas panjang.
"Dan kurasa akan sangat lama," bisiknya pelan—hampir tak terdengar. Sebuah senyuman kecil masih tercetak di sana. Hanya saja, kali ini senyum itu terlihat sangat dipaksakan.
forth.
.second party can tell
Because first love is beautiful, first love is a flower.
.
.
Itu tatapan yang sama. Sorot mata yang sama.
.
.
Itu sorot mata penyesalan.
.
.
"Maaf untuk tidak menceritakan hal ini lebih cepat padamu—ia sebenarnya hanya ingin aku menjagamu, bukan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padamu dulu."
Kau mengernyitkan dahimu, kau memunculkan kerutan halus itu terlalu sering akhir-akhir ini. Pria di hadapanmu tak lagi menatapmu seperti tadi—ia tak lagi menggunakkan tatapan yang mengganggumu itu. Ia sekarang hanya menatap kosong ke arahmu, tangannya yang menggenggam buket bunga buatanmu tengah sibuk meremas penganggan buket itu—gelisah.
"Ia juga sebenarnya tak ingin kau tahu—tapi ia sendirian di sana sekarang. Dan ia membutuhkanmu."
Kau merasakan pusing mulai menjalari kepalamu. Rasanya sulit bagimu untuk bernapas normal sekarang, dadamu terasa sesak dan oksigen di udara seolah menghilang ke negeri antah berantah.
"Maaf—awalnya aku ingin tahu seberapa penting ia untukmu—seberapa pantas kau untuk mencintainya. A-aku—sebagai sahabatnya—hanya ingin tahu wanita seperti apa kau sehingga ia bisa jatuh cinta padamu."
Kau ingin pergi dari sana. Kau ingin mengusirnya pergi dari hadapanmu. Tapi kakimu terlalu lemas untuk bisa melangkah, tanganmu terlalu lemah untuk menarik gagang pintu, dan rasanya seluruh kekuatanmu telah hilang hingga kau bahkan tak bisa membuka mulutmu dan meneriakinya supaya meninggalkanmu sendirian.
"Aku hanya ingin melihat reaksimu jika aku melakukan hal yang sama seperti yang dulu dilakukannya—aku mengujimu. Tapi kemudian, semuanya menjadi sesuatu yang seolah memang seharusnya aku lakukan. Aku jatuh cinta padamu."
Kau tak mau lagi mendengar kata-katanya. Kau benar-benar menginginkannya pergi meninggalkanmu.
"Tapi ternyata semuanya hanya membuka luka yang telah susah payah kau tutup. Maaf—aku benar-benar minta maaf, harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya dari awal aku tidak melibatkan diriku sendiri di antara kalian."
Kaki yang kau gunakan untuk menopang tubuhmu mulai kehilangan kekuatannya. Tapi kau menahannya, kau memaksanya untuk bertahan sebentar lagi—ini akan berakhir tidak lama lagi. Berulang kali kau menyuruh kakimu untuk tak menjadi lemah di depan orang lain.
"Ia tidak pergi ke luar negeri. Ia masih di sini, di dekatmu. Menjagamu meskipun kau tak menyadarinya. Mencoba menghiburmu meskipun kau tak pernah melihatnya. Ia selalu mengusahakan kebahagiaanmu."
Kau menahan tubuhmu yang mulai oleng menggunakan tanganmu yang bertumpu pada meja di hadapanmu. Ia menatapmu khawatir—tetapi tak bergerak dari tempatnya berdiri. Hanya matanya yang terus menatapmu nanar berada di sana, membantumu untuk kembali berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang kau miliki.
Jeda. Ia menarik napas panjang, melangkahkan kaki ke arahmu, kemudian meletakkan buket bunga yang tadi dibelinya darimu di atas mejamu. Ia lalu memasukkan tangannya ke saku mantelnya, mengeluarkan secarik kertas dari sana dan meletakkan kertas itu di samping buket bunganya. Mengigiti bibirnya sebentar sebelum ia kembali mengucap kalimat selanjutnya.
"He's dying, Jikyung-ssi."
Kau merasakan pandanganmu berputar ketika kau meraih ponsel, bunga, dan kertas yang ia letakkan di atas mejamu. Hal terakhir yang kau sadari adalah kau meraih gagang pintu tokomu dan meninggalkannya sendirian di sana.
.
.
.
You were young back then, you didn't know any better.
.
.
.
"Hei, ada apa?"
Pemuda berambut keriting itu menatap gadis di hadapannya lama. Ia menggeleng ketika dipersilahkan masuk, menggumamkan bahwa dirinya tak akan lama berada di sana. Pemuda itu kemudian bergerak maju, mengecilkan jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya.
Lalu mengecup pelan bibir sang gadis. Lama.
Ketika gadis di hadapannya membuka mata, gadis itu mendapati pemuda itu tengah menatapnya nanar. Ia menggigiti bibirnya sendiri, seolah menahan tangis.
Apa yang membuatnya ingin menangis?
Khawatir, gadis itu meraih lengan sang pemuda, mengajaknya masuk dan menenangkan diri; tetapi pemuda itu melepaskan tangan sang gadis dari lengannya. Kembali menggumamkan bahwa dirinya tidak akan lama berada di sana, ia menarik napas dalam, lalu membuka mulutnya.
"Uri ... keumanhaja."
"M-mwo?"
Pemuda itu diam.
"Mworago?"
"Kurasa ... tidak sebaiknya kita melanjutkan ini," ujar pemuda itu pendek, dingin.
"Wae ... wae kkapjagi? Kalau ini tentang sekolahmu ke luar negeri, bukankan sudah kubilang aku bisa menunggu?"
"Anni, ini bukan tentang aku yang akan keluar negeri atau kau yang akan menunggu."
"Keurom, mwo? Kenapa kita harus berhenti?"
"Keumanhae ... keunyang, keumanhaja."
Kemudian pemuda itu meninggalkan sang gadis yang tak bergerak dari pintu apartemennya tanpa menoleh. Tidak sekalipun.
.
.
When the stars drawn out on the night sky bring up your memories. I take you out of my old diaries.
.
.
Kau menghentikan langkahmu di depan bangunan besar itu. Tanganmu yang menggenggam buket bunga meremas peganggan buket itu—gelisah. Kau mencoba menenangkan dirimu, mengatur ritme napasmu yang sangat cepat, kemudian merapikan dirimu sendiri serapi yang kau bisa. Perlahan, kau melangkahkan kakimu masuk ke dalam bangunan itu, terus berjalan sampai akhirnya kau berhenti di depan sebuah pintu.
218.
Angka yang sama dengan yang tertulis di kertas yang telah berubah kumal karena kau remas. 218.
Tanganmu yang bergetar bergerak pelan meraih gagang pintu di depanmu. Hampir tanpa suara, kau menggeser pintu itu, membuat celah—tak besar—yang penting bisa kau lewati. Setelah melewati pintu geser itu, kau berbalik untuk menutupnya kembali. Memperlambat gerakanmu. Mengulur waktu.
Perlahan, kau melangkahkan kakimu, sengaja menundukkan kepalamu sehingga matamu hanya melihat kakimu yang berjalan perlahan dengan mengambil langkah kecil. Ketika kau akhirnya mendapati matamu menangkap bentuk ujung ranjang di ruangan itu, kau menghentikan langkahmu. Kau menutup matamu satu kali—lama sekali, sebelum akhirnya kau mendongakkan kepalamu.
Dan mendapatinya berada di sana. Tanpa sehelai rambutpun tumbuh di kepalanya.
Menatapmu.
Tersenyum.
"Pabo," katamu.
Ia masih tersenyum.
"Pabo. Nappeun neom," katamu sekali lagi.
Ia tetap tersenyum. Dan mengerjap sekali.
"Kenapa tidak pernah bilang padaku sebelumnya? Kenapa tidak pernah cerita padaku, hah? Manusia jahat, kau kira aku sekuat apa sampai bisa kau tinggalkan seperti itu?"
Tangismu pecah. Ia masih menatapmu dari ranjangnya, ia masih tersenyum di sana, tetapi matanya basah.
Ia menangis.
"Yah, Jin Yoojin, katamu kau jenius, tapi kenapa memikirkan perasaanku saja kau tak bisa? Kenapa kau menahan semuanya sendirian? Merasa hebat?"
Kau melihatnya menggerakkan bibirnya. Pelan, kau melangkahkan kakimu, memperkecil jarakmu dengannya. Ketika kau akhirnya sampai di tepi ranjangnya, ia tersenyum, kemudian mengucapkan sesuatu lambat-lambat. Ia lalu tersenyum padamu yang masih menangis, mengerjap—tapi kemudian tak membuka matanya lagi.
.
.
Seeing first love as a painful one, first love is like a fever.
.
.
Detik berikutnya, mesin EKG di samping ranjangnya hanya menunjukkan garis lurus berwarna hijau disertai lengkingan tinggi panjang yang tak kunjung putus. Seorang suster menuntunmu—yang terus menatap tubuhnya yang kini tengah dikelilingi banyak orang—keluar dari ruangan itu. Orang-orang itu telihat panik, mereka berteriak-teriak meminta sesuatu satu sama lain. Tapi kemudian mereka berhenti, menggeleng beberapa kali, meskipun mesin EKG di samping mereka tidak kembali mengeluarkan bunyi terputus-putus.
Mereka menyerah.
Tangismu kembali pecah. Suster yang menuntunmu juga melepaskan tangannya, tidak jadi membawamu keluar. Wanita itu membiarkanmu berjalan kembali ke ranjang tempatnya terbaring, kali ini tak ada lagi selang-selang menempel di tubuhnya. Dadanya tak lagi bergerak naik turun. Matanya tak lagi menatapmu meskipun senyuman yang ia tujukan padamu masih berada di sana. Bibirnya tak lagi bergerak mengucap kata yang beberapa menit lalu ia katakan padamu.
Ia mencintaimu.
.
.
Because first love can never be. You can't have it since you loved too much
—Juniel/Illa Illa
.
.
four seasons ends here
no short message here. see you on the next part
