Disclaimer: Naruto itu punya Masashi Kishimoto
Alone chapter 4
.
.
.
Kalau dipikir-pikir, menurutku Sai memang lebih tinggi daripada Sasuke. Mungkin itu alasannya Sasuke minum susu berkalsium tinggi. Pfftt… aku enggak bisa nahan tawa deh. Mungkin saja Sasuke itu jarang olahraga seperti Sai. sedangkan Sai, tiap hari main basket dan lompat-lompat melulu (padahal situ udah tinggi lho!).
"INOOO! Awas!"
Dukkk!
"Ya ampun! Sai! tanggung jawab! Lihat tuh! Ino mewek!"
Dan semuanya terasa menggelap ketika kepalaku mengenai sesuatu yang bundar dan agak keras. Secara reflek aku berjongkok sambil mendekatkan dahiku ke lutut. Kedua tangan memegangi sisi kepalaku yang baru saja berbenturan dengan sesuatu yang agak keras.
Plok!
Aku segera menengadahkan kepalaku ketika kurasa sebuah tangan tertangkup ke bagian kepalaku yang sakit. Kulihat Sai dengan wajah datarnya. Namun aku bersumpah kalau kedua matanya sempat melembut ketika mata kami bertatapan.
"Daijoubu? Kau yakin bisa berdiri? Mau kuantar ke ruang kesehatan?hm?"
Entah kenapa aku hanya bisa memperhatikan matanya yang melembut itu ketika Sai mengusap-usap kepalaku. Wake up Ino! Wake up!
"Aku enggak apa-apa! Sakitnya udah ilang!" ucapku ketika aku sudah sadar dari 'masa-dimana-dunia-seakan-berhenti'. Sai menatapku tidak percaya dan tatapan sinis pun muncul.
Dan sekarang aku seperti menghadapi seorang Sasuke =.=!
Aku takut!
"kalau kau yakin tidak apa-apa, sekarang kau harus bangun! Ayo bangun dan buktikan padaku kalau kau tidak apa-apa," ucapnya dengan nada memaksa. Aku berusaha bangun namun akhirnya terduduk juga.
"Bangun saja masih kesulitan dan sekarang kau bilang tidak apa-apa? Kepala itu isinya macem-macem dan kau seenak jidatmu bilang tidak apa-apa," ucapnya. Spontan muncullah beberapa siku-siku di kepalaku.
"Ayo Ino, bangunlah! Dari sini biar aku yang urus. Oke?" ucap Karin seraya membantuku untuk duudk dibangku cadangan di pinggiran lapanya basket. Sedangkan Sai hanya mengangguk pada Karin.
"Kau marah pada Sai? atau kau gusar padanya?" Tanya Karin tiba-tiba. Aku menatapnya tajam dan akhirnya menghembuskan napas frustasi.
"Siapa yang tidak kesal?"
"Sai itu orangnya memang begitu. Maklumlah, dulu saja Suigetsu pernah dihajar olehnya…."
Nani?! Dihajar!
"Kok bisa?"
"Yah, kami berdua ada konflik dan gitu deh! Dan ujung-ujungnya Sai yang jadi penengah. Dia itu sebenarnya perhatian. Namun caranyalah yang begitu berbeda…"
"Souka…"
Piiittt!
"Seluruh siswa dan siswi segera berkumpul di tengah lapangan basket sekarang!"
Ucapan dari Utakata-sensei membuatku segera berdiri dan mengambil posisi. Utakata-sensei terlihat begitu keren dengan bola basket yang berputar di ujung jari telunjuknya. Beberapa siswi blushing. Aku sendiri?
Aku sudah sering sampe bosan melihat yang begituan. Sai selalu bermain bola basket seperti itu di depanku. Jadi aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Ups!
'Kira-kira kita dites enggak?'
'Ya mana kutahu?!'
'Pssttt… kalian mau di-'
Buk!
Sebuah bola basket yang barusan berada di telunjuk tangan kanan Utakata-sensei segera berpindah tempat di salah satu dari siswa yang mengobrol. Dia hanya mengusap kepalanya yang kurasa akan benjol mengingat betapa 'bersemangatnya' Utakata-sensei melemparkannya.
"Nah, jika masih ada yang ingin seperti mereka. Silahkan lakukan sekarang. Jangan sungkan-sungkan…" ucap Utakata-sensei sambil tersenyum evil. Dan dia melirik ke arah tumpukan bola basket di dalam keranjang seolah-olah menunjukkan ekspresi 'disini-bolanya-masih-banyak-buat-nimpuk-kalian'.
"Nah, karena kalian tidak ada yang mau, maka sekarang Sensei akan bertanya. Siapa disini yang sering atau bahkan terbiasa dengan permainan basket?"
"SAI!"
"Tuh orangnya…."
Utakata-sensei segera memberikan gesture untuk Sai agar dia mendekat ke arahnya. Setelah cukup lama berbisik-bisik, akhirnya Sai mengambil sebuah bola yang ada di keranjang. Seluruh pandangan beralih pada Sai yang berjalan menuju ke ring basket.
Dan Sai mulai melempar bola ke arah papan yang berada di atas keranjang. Bola memantul dan masuk!
"Dan itulah yang akan kalian pelajari hari ini. kuberi waktu tigapuluh menit dan setelah itu kalian harus memasukkan bola sebanyak mungkin dalam waktu satu menit….." ucap Utakata-sensei. Kami pun segera berbaris untuk mendapatkan giliran. Sai sendiri hanya berdiri di samping ring yang lain sambil memperhatikan bola yang mereka lemparkan.
"Yah! Enggak masuk! Padahal tadi kelihatannya enak banget ngeliatin Sai."
Sai hanya tersenyum lalu mengambil sebuah bola.
"Kuncinya adalah didorong. Bukan dilemparkan….." ucapnya. Dan dia melakukan gerakan itu sekali lagi. Dan sukses membuat seisi lapangan basket ber'wow' ria.
Piittt!
"Sai, kemarilah!"
Sai segera berlari ke arah Utakata-sensei dan setelah bisik-bisik enggak jelas (lagi), akhirnya kami tahu kalau Sai disuruh untuk menjadi pengawas dalam tes ini. dengan berbekal stopwatch dan buku catatan nilai dia berdiri di tengah lapangan basket.
"Untuk yang di sebelah kananku, nomor genap dan yang di kiriku nomor ganjil. Kita akan mulai dalam waktu satu menit dan berapa banyak bola yang akan dimasukkan. Nomor selanjutnya yang menghitung nomor sebelumnya. Lalu nomor 'ketiga' hingga 'kelima' mengambilkan dan memberikan bola," ucap Utakata-sensei. Kami segera membentuk barisan lagi. Dan kali ini Sai akan beraksi paling terakhir karena dia juga bertanggung jawab dalam penghitungan jangka waktu.
Setelah Utakata-sensei pergi entah kemana, Sai hanya menaruh buku catatan nilai di atas bangku cadangan. Lalu dia memberikan aba-aba pada yang lain. Aku selalu melirik ke arahnya sebelum waktunya aku yang memasukkan bola. Sai terlihat keren…
"tujuh… delapan…."
Piiitt!
Waktu habis dan aku Cuma bisa memasukkan sepuluh bola. Padahal standarnya kalo cewek harus memasukkan duabelas bola dan cowok harus memasukkan limabelas bola. Aku hanya bisa pundung di pojokan. Hingga ….
"Awas… Ino!"
Set!
"Ayo! Waktunya mau abis nih!"
Yang kulihat tadi adalah sebuah bola yang sama yang menimpuk kepalaku berusaha untuk 'menimpuk'-ku lagi. WTH!
Dan Sai dengan gesitnya menghalangi bola itu dengan telapak tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk memegang stopwatch. Dia segera melemparkan bola itu ke arah kiri. Aku hanya bisa berbinar-binar saking kagetnya. Sedangkan Sai malah bersikap seperti biasanya.
Kau tahu Sai? itu adalah gerakan terkeren yang pernah kulihat…
Dan kau Cuma bersikap seperti biasa?!
.
.
.
Piiitttt!
.
.
"Semuanya sudah?"
"Sudah pastinya. Kau cepatlah bersiap-siap. Biar kuhitungkan!"
.
.
.
"Duapuluh… dua satu… dua dua…. Dua tiga…."
"Walah Sai! itu tangan apa mesin. Cepet banget!"
"Heh Sai, sampai kapan kamu ngelempar begitu? Enggak kasian apa sama kita-kita?"
"Ups, gomenasai. Oh ya, tes-nya ada dua kali. Jadi pembedanya Cuma posisinya aja. Sekarang yang di kiri pindah ke kanan dan yang satunya ke kiri. Biar kuhitung kalian," ucap Sai seraya tersenyum. Yang lain segera bergegas untuk mengambil posisi.
"Hey Sai! waktumu kurang lima belas detik lagi. Kenapa kok malah berhenti?"
"Enggak apa-apa… sudah lulus aja aku sudah syukur…"
"Kau ini, sayang tahu waktunya dibuang-buang…"
.
.
.
Yosh! Kali ini aku harus bisa memasukkan bola diatas dua belas kali! Harus bisa!
Aku segera mengambil ancang-ancang ketika Sai berdiri di sampingku. Kontan aku agak shock dan akhirnya menoleh ke tengah lapangan. Dan ternyata Gaara yang sekarang memegang stopwatch. Sai mendekat ke arahku dan berbisik.
"Kau tahu kenapa ada kotak hitam di atas ring basket? Incarlah kotak itu karena itulah gunanya ada gambar kotak bergaris hitam di atas sana. Itu juga yang membantu anak-anak klub basket dalam latihan," ucap Sai dengan nada yang sangat rendah (aku hampir berpikir kalau dia adalah anak paduan suara).
Piiittt!
"AYO INO! Cemungut ea!" ucap Karin sambil merangkul Suigetsu yang ternyata telah menyelesaikan tes-nya. Wah…. Pamer kemesraan di tengah lapangan. Ck ck ck…
Ingat donk sama yang masih jomblo! Kan kasian…..!
Tapi yang namanya Sui plus Karin ya gitu deh jadinya (?)
"Kurang satu lagi dan kau akan lulus Ino. Kurang satu dan kupikir waktunya kurang seperempat menit," ucap Sai seraya memberikan bola kepadaku setiap aku selesai melemparkannya ke arah yang diinstruksikan oleh Sai.
Piittt!
"Waktunya habis!"
Yei! (?) akhirnya aku berhasil lulus untuk yang kedua ini. terimakasih buat Sai yang membantuku dalam menyelesaikan tes. Dan ketika aku berniat untuk mengucapkan ucapan terima kasih padanya, situ malah ngeloyor ke ring sebelah.
Sakit woy! Sakit!
.
.
.
"Kya! Lihat tuh! Mereka keren!"
"Iya tuh! Mereka pada keren-keren!"
"Aku berjanji! Jika udah lulus aku akan masuk ke Universitas Konohagakure!"
"Piuh! Mentang-mentang disana banyak cowok di atas standar, kamu malah pilih kesana?"
"Aku bersumpah! Demi nama para cowok jomblo sedunia! Gue enggak bakalan masuk ke tuh Universitas! Demi ikatan cowok-cowok jomblo!"
Bletakk!
Bletakkk!
"Wadaw!"
"Hadooh!"
"Kepala gue!"
Setelah olahraga tadi, tiba-tiba saja jam yang seharusnya diisi oleh Jiraiya-sensei malah kosong. Tentu saja seisi kelas mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mulai dari Kankurou yang sibuk menekan Alt+F4 di keyboard laptop yang digunakan oleh para cewek-cewek untuk menonton film Korea. Alhasil, sekarang dia sedang di-bully oleh para cewek.
Aku menengok ke depan. Terlihat Sui yang sibuk mengomentari cowok-cowok anggota Boyband Korea. Kutengok ke sebelahku dan muncullah postur Sai yang sedang tertidur beralaskan buku paket matematika plus fisika. Kelihatannya enak tuh….
Dan perhatianku teralih ke arah kerumunan cewek yang sibuk ber-wah ria. Aku mengikuti arah pandangan mereka dan terlihat para cowok yang kurasa duta dari Olimpiade Farmasi di Universitas Konoha yang sedang promosi dari kelas satu ke kelas lain.
Namun ada yang menarik perhatianku.
Aku menatap Sai dan kembali menatap orang yang merupakan salah satu duta tadi.
Entah kenapa kok mirip ya?
Dan orang itu memasuki kelasku. Akhirnya para cewek pada blushing. Emang seganteng itu ya? Aku aja tidak terlalu meleleh begitu…
Kan masih ada….
Ups!
Aku segera memalingkan kepalaku yang sebelumnya tertuju pada sosok gumpalan yang masih sibuk di alam mimpi…..
"Hey… jangan tidur begitu dong…." Ucap sosok yang menjadi misterius dimataku ke arah Sui yang kebetulan mengambil posisi sama dengan Sai. Sui akhirnya bangkit dan muncullah wajah-wajah madesu (masa depan suram) yang seketika membuat seisi kelas tertawa.
"Kalian tahu tidak,kalau kalian tidur seperti itu bisa bahaya lho! Itu menyangkut kecerdasan…"
Dan seketika seisi kelas menoleh ke arah Sai yang masih setia di alam mimpi….
Yang kutahu dari teman-teman memang Sai itu pintar. Dan selama ini tidak ada yang salah dengannya. Dan kupikir posisi tidur seperti itu tidak ada pengaruhnya buat Sai.
Sosok itu menghela napas dan akhirnya menghampiri Sai yang masih tidur. Seisi kelas terdiam untuk menunggu apa yang akan terjadi. Sosok itu menepuk kepala Sai dan bak disetrum Sai terbangun. Sosok itu tersenyum dan kembali ke depan kelas.
Sai hanya berpangku tangan sambil mendengarkan ceramah.
"Perkenalkan nama saya Itachi dan yang ini Sasori…"
"Wah, Kak Itachi dan Kak Sasori ya?"
"Nah, sekarang kami mau promosi nih!"
Yah, karena aku agak alergi sama ilmu eksak, maka aku hanya memasang wajah mendengarkan. Justru dalam hati aku hanya penasaran, sosok yang bernama Kak Itachi itu siapanya Sai ya? Kok bisa-bisanya ngebangunin Sai yang semangat tidurnya kelewat batas begitu.
.
.
.
Tbc
Author's note:
Walah-walah, udah berapa tahun ya enggak update?
Gomen ne reader-sama. Sebenernya fic ini udah jadi separuh namun gara-gara kejepit sama yang namanya virus komputer jadi deh begini. Kasumi udah berhari-hari sampe jari-jari Kasumi keriting baru deh Kasumi memenangkan perang dahsyat melawan sang virus (?)….
Terakhir,
Review please…..
