"Satu persatu kelopak bunga kamelia itu berjatuhan."

"Apakah hidupmu tinggal beberapa hari lagi?"


Warning: kerenyes kranci, OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Modern AU. Disini Cao Caonya masih muda n fresh(?) kek yang di musou blast ver

Genre: Sho-ai, keknya angst hohohoho

Rate: T

Disclaimer: DWSW punya Koei

Selamat Membaca


Jam tujuh pagi, Cao Pi sudah kembali sadar, semenjak dia sadar dia hanya terdiam melihat ke langit-langit kamar, hal yang tidak dia inginkan terjadi juga, masuk ke dalam gedung serba putih ini, berbaring di atas kasur tak berdaya membuat dirinya kesal, saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia merasa kalau tangan kanannya digenggam. Kepalanya ia miringkan ke kanan, ia sedikit terkejut saat melihat manusia berkepala merah meletakkan kepalanya di atas kasur. Tangannya menggenggam tangan kanannya erat seakan berkata

"Jangan tinggalkan aku."

Tiba-tiba kepala merah itu terangkat, ia mengucek-ngucek kedua matanya sok imut, wajah manisnya yang baru bangun membuat Cao Pi sedikit tersenyum. Mitsunari melihat ke arah Cao Pi dengan mata setengah mengantuk.

"Ternyata kau sudah bangun..." gumam Mitsunari, lalu kepalanya terjatuh kembali ke atas kasur.

Wajah Cao Pi yang tadinya lembut berubah menjadi kesal, saat itu juga Cao Pi menggerakkan tangannya untuk menggetok kepala Mitsunari.

"Dasar ga becus."

"Sakit … apakah aku menjagamu semalaman kurang cukup?" tanya Mitsunari, kepalanya masih menempel dengan kasur.

"Diam."

"Haha, sekarang tuan muda yang angkuh, dan menyebalkan berbaring di atas kasur tak berdaya." kata Mitsunari dengan nada mengejek.

"Sudah kubilang diam." Cao Pi menggetok kepala Mitsunari lagi.

"Iya iya, oh ya."

"Hm?"

"Orang tuamu menyuruhku menjagamu, mereka akan jarang menjengukmu..." Mitsunari menghela nafas berat. "mereka sampai mengepak pakaianku, untuk disini..." lanjut Mitsunari agak malas.

"Jadi kau keberatan untuk menjagaku disini?"

"Tidak, bukan itu, hanya saja..." Mitsunari menggenggam tangan Cao Pi tambah erat.

"Aku akan sembuh, setelah itu, kau harus melanjutkan tugasmu sebagai guru privat."

Mitsunari mengangkat kepalanya. "Tapi kat-"

Perkataan Mitsunari terputus karena seorang suster yang datang dengan sepiring makanan, segelas air putih dan segelas jus buah di atas nampan, suster itu memberikan itu pada Mitsunari, dengan senang hati Mitsunari menerima makanan itu lalu ia letakkan di atas meja kecil setinggi dengan kasur.

"Sarapan udah dateng, makan ya." kata Mitsunari kek Ibu-ibu.

"Ga, ga ada nafsu buat ngunyah makanan."

"Yaudah minum jusnya."

"Ga."

Tarik nafas, lalu keluarkan perlahan, tahan, jangan emosi, namanya juga orang sakit, orang sakit tidak butuh belaian yang dibutuhkan adalah kekerasan, inginnya dihajar. Kelakuan Cao Pi sekarang kayak anak SD, segala ga mau, maunya dipaksa sampe dicekokin makanan.

"Biar cepet sembuh, Ibu suapin kalo gitu." Mitsunari mengambil membuka plastik yang membungkus makanan, tapi setelah itu Mitsunari diem sebentar, merekam ulang apa yang baru saja dia katakan tadi.

"Sejak kapan kamu jadi Ibuku?" tanya Cao Pi.

Mitsunari mendengus kesal, tidak menjawab pertanyaan dari Cao Pi. Mitsunari duduk kembali di kursi sambil membawa sepiring makanan dengan sayuran.

"Ayo tegakkan badanmu." pinta Mitsunari lembut.

"Ga, dadaku masih sakit."

"Ya kan elu lagi sakit TBC namanya juga." Mitsunari mencoba menahan amarahnya. Mitsunari menyendokkan nasi dengan wortel yang sudah agak lembek. "Aaaa, ayo buka mulutnya tuan muda."

"Udah dibilangin aku tidak nafsu makan." Cao Pi memiringkan badannya menghadap tembok, membelakangi Mitsunari. Mitsunari mendengus lagi, kali ini lebih keras.

Kedua mata Mitsunari melihat remot menggantung dengan beberapa tombol seperti tanda panah keatas, dan kebawah, karena kepo dengan tombol-tombol itu, dia menaruh piring kembali ke atas meja. Kemudian, Mitsunari menekan tombol dengan panah ke atas di remot itu.

Tiba-tiba kasur mengeluarkan suara, dan naik secara perlahan. Mitsunari tersenyum dengan lebar. Mitsunari menekan tombol itu agak lama sampai kasur cukup tegak untuk membuat Cao Pi bergerak untuk membenarkan posisinya.

"Jangan memainkan tembol di remot itu."

"Aku akan berhenti memainkannya kalau kau mau menegakkan badanmu dengan benar, dan makan."

"Ga."

Permintaan ala bocah ditolak mentah-mentah dengan satu kata dengan nada ketus. Mitsunari sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Cao Pi. Mitsunari pun mengambil sendok, lalu dia naik ke kasur, dia mencengkram dagu Cao Pi, membuka paksa mulutnya.

"Makan ga? Makan ga? Tinggal buka mulut doang, apa susahnya sih." Mitsunari menempelkan ujung sendok pada bibir Cao Pi yang belum terbuka.

Cao Pi masih menutup mulutnya rapat.

"BUKA MULUT ANDA TUAN CAO PI." kata Mitsunari penuh dengan penekanan. Tangan kirinya masih mencoba untuk membuka mulut Cao Pi.

Cklek

Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Mitsunari langsung turun dari kasur dengan jatung berdegup kencang takut disangka aneh-aneh.

Dokter yang mau memeriksa Cao Pi datang, sebenernya Mitsunari agak bersyukur yang dateng bukan orang tuanya, kalo orang tuanya yang dateng, ntar di nganggur lagi, dan lebih parahnya gabisa bertemu Cao Pi lagi. Mitsunari menaruh sendok kembali ke atas piring, lalu pasang senyum polos ke arah sang dokter.

Dokter dengan nametag 'Ranmaru Mori' berjalan mendekati Cao Pi.

"Sudah agak baikan?"

Cao Pi melirik ke arah Mitsunari. "Sedikit dok."

"Sudah sarapan?"

"Belum dok." yang nyaut bukan Cao Pi tetapi Mitsunari.

"Makanlah, gejala TBC satu itu bisa membunuhmu dengan cepat."

Setelah mengatakan itu dokter itu pergi, tanpa mengatakan apapun lagi. Mitsunari melihat ke arah Cao Pi.

"Apakah benar Bu dokter itu, dokter yang merawatmu dari kecil?" Mitsunari tampak ragu, karena perawakan sang dokter juga meragukan.

"Iya, dan aku mau kembali tidur."

"TIDAK! SEBELUM TUAN MUDA MAKAN SESENDOK!"

"Berhenti memanggilku dengan tuan muda, red head."

Mitsunari mengambil kembali sendok yang masih utuh dengan nasi, dan wortel diatasnya. "Kau sendiri yang meminta dipanggil seperti itu."

Cao Pi tidak nyaut lagi, membuat Mitsunari menghilangkan pikirannya tentang orang sakit butuh dibelai. Dan bisa ditebak, kejadian selanjutnya, Mitsunari naik lagi ke kasur sampai membuat kasur bergerak sendiri. Untung saja tidak ada penghuni kamar selain mereka. Cao Pi berhasil menyerah, dan membuka mulutnya saat jam 11 siang. Mitsunari puas dengan tindakannya yang penuh dengan kekerasan pada anak didiknya.

"Begitu, kunyah perlahan lalu telan."

"Aku bukan bayi yang baru belajar makan."

"Sudahlah diam."

"Cih."

"Sudah habis? Ayo a lagi aaaa." Mitsunari menyuapi Cao Pi seperti seorang Ibu pada anak kecil.

"Sebelum itu, tolong duduk kembali di kursi jangan menduduki kakiku seperti ini."

Mitsunari menyandar ke tembok, lalu membuat wajah sok imut. "Aku tidak mau nanti tuan muda gamau membuka mulutnya lagi."

"Menyebalkan."

"Siapa yang duluan yang membuatku menggunakan kekerasan hm?"

"Aku kenyang, jauhkan piring itu dariku, dan bawakan aku air putih."

"Baik-baik." Mitsunari turun dari kasur, mengganti piring menjadi segelas air putih. Mitsunari menyodorkan segelas air putih. "Minum sendiri."

"Sedotannya."

Untuk kesekian kalinya Mitsunari tidak ingin menggunakan kekerasan. "Minum sendiri, atau aku harus memberikan air putih ini lewat mulutku?"

"Bukan muhrim."

"MAKSUD GUA! GUA SEMBUR LU KAYAK DI LAGU MBAH DUKUN!" nafas Mitsunari memburu, lama-lama Mitsunari merasakan mukanya penuh kerutan karena kebanyakan marah.

Cao Pi mengambil segelas air putih dari tangan Mitsunari, Cao Pi menegak sekali, lalu menegaknya lagi, Cao Pi melihat ke arah Mitsunari.

BRUSSHH!

Cao Pi menyembur Mitsunari, sehabis itu Cao Pi turun dari kasur, lalu jongkok untuk melihat ke kolong kasur. "Bajuku ada di tas yang mana?"

"Yang sebelah kanan..."

Tahan, gaboleh marah, orang sakit harus dibelai, bukan dikasih kekerasan.

"CAO PI KALO GUE KETULARAN TBC JUGA GIMANA?!"

"Hm?" Cao Pi berdiri sambil mendekap baju, dan sebotol sabun oplosan. "Aku akan merawatmu sampai sembuh." setelah itu Cao Pi melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

"Jangan dikunci."

"Kau mau mengitip?"

"KALO LU!" Mitsunari menunjuk ke Cao Pi. "KENAPA NAPA, GUE YANG BAKAL DIAPA-APAIN, SAMA KEDUA ORANG TUA LU."

"Bukan kamu yang bakal panik ga karuan terus berpikir kalau aku akan meninggalkanmu karena aku kenapa-napa?"

Mitsunari mingkem, perkataan Cao Pi ada benernya juga.

Muka Mitsunari sedikit memerah, matanya melirik kekiri-kanan agak cepat. "Aku panik karena tidak mau kedua orang tuamu kenapa-napa, kalau mendengar anak semata wayangnya tak sadarkan diri untuk kedua kalinya."

Mitsun tsunderenya kambuh. Tidak mau mengakuinya.

"Terserah." Cao Pi masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintunya dengan keras.

Tes tes tes

Air putih yang membasahi muka, dan rambutnya perlahan menetes ke bawah, Mitsunari menunduk, mengepalkan kedua tangannya.

"Aku tidak mau kehilangan lagi..."

.

.

TBC

tepuk tangan saya sama chap ini :v bikin yang serius tiap satu chapter membutuhkan waktu seharian, tantangan membuat cerita yang serius :v kadang ana suka merasa ga bakat bikin yang serius :v dan ana takjub bisa nemu akun IG yang jadi Xun Yu di stage play :v yang muda kebanyakan punya IG sementara yang udah agak tua mainnya twitter :v

Betewe tenks udah baca cerita abal ini

See you next chapter~