"Woy, bangun!"
Jeweran kuping di telinga pemuda yang tengah memeluk tubuh mungil di sampingnya dengan melilitkan kedua kakinya ke pinggang gadis itu. Gadis itu, memang tidak bisa bergerak akibat beban kuat pada kedua tangan dan kaki di sekitaran tubuhnya. Hingga akhirnya memunculkan amarah terpendam pria berambut biru malam tersebut.
"Banting saja, Sasuke-sensei," ucap pemuda berambut merah hanya berdiri diam sambil bersandar di balik pintu kamar. "Kalau perlu, lempar saja lewat jendela sana jika memang tidak bisa bangun," katanya malas.
Dikeluarkannya amarah yang sedari tadi ditahannya, pria bernama Sasuke mengangkat tubuh pemuda berambut kuning hingga pemuda itu terjaga dari tidurnya. Menguap lebar-lebar tanpa mengetahui dirinya terangkat segitu mudahnya.
"Hoaam … Gaara, kamu datang ya? Ini jam berapa?" tanyanya tanpa dosa. Maksudnya, wajahnya.
Gaara hanya berwajah datar-datar saja, mengedikkan bahu seraya mengintip jam dinding di kamar ini. "30 menit lagi bel sekolah berbunyi."
"Saatnya kamu masuk Neraka, anak bandel."
Ditekankan amarahnya kuat-kuat dengan melemparkan Naruto ke jendela besar kamarnya. Naruto berteriak lantang hingga dirinya menabrak atap mobil sampai penyot. Entah mobil siapa. Jangan salahkan Naruto. Salahkan yang lempari tubuhnya.
"Sepertinya dia tidak mungkin mati, Paman Sasuke."
"Biar saja."
Barulah Sasuke mengangkat tubuh Sakura yang merinding ketakutan, keluar dari kamar Naruto. Tunggu! Kenapa Sakura berada di kamar Naruto? Tanya saja pemiliknya yang tiba-tiba mengendap-endap masuk kamar Sasuke tengah malam dan menculik Sakura masih tertidur lelap. Tenang saja, Sakura tidak di apa-apa'in sama Naruto. Toh, Naruto itu keponakan gemasnya. Tetapi itu di dalam rumah, lho. Lain di sekolah, kelewat—sok—cool. Coret saja sok-nya.
Kehidupan mereka sangat berbeda dengan di sekolah terbilang biasa. Di sini, di rumah, kehidupan mereka sangat luar biasa. Sampai-sampai kedua Orangtua mereka harus membeli furniture lagi karena dua orang berbeda umur tersebut selalu memecahkan barang hanya karena adu debat dan perkelahian—ah, sudah biasa.
Question &Answer
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI
WARNING: High School version. Ada typo. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor
.
Chapter 04: Finally?
Naruto yang meregangkan otot-otot tubuhnya gara-gara dilempar dari lantai dua dan menabrakkan tubuhnya di atap mobil hingga penyot—bekasnya masih ada, masuk ke ruang makan tanpa wajah bersalah. Itu hanya biasa buat keluarga yang super luar biasa—rata-rata ahli bela diri. Kembali lagi ke sok.
"Bunda dan Mama buat sayur lagi dan susu untukku?" tanya Naruto duduk di antara Sakura dan Gaara. "Asyik! Ini baru luar biasa supaya tubuh sehat."
"Punggungmu tidak apa-apa, Naruto?" Minato memandangi anak bungsunya tengah melahap makanannya sampai tandas.
Sambil makan, Naruto menatap Ayahnya lalu kembali ke makanannya lagi. "Bwukan, Yah. Kaki Naruto yang mendarat mwakanya tidak syakit," sahutnya dengan lahap.
Gaara menjitak kepala Naruto menggunakan sendok. "Telan dulu makanannya baru ngomong, bodoh."
"Ganteng-ganteng begini dibilang bodoh. Sama saja denganmu yang akhirnya mengatai dirimu bodoh," katanya setelah menelan habis makanannya, membalas Gaara dengan menyentil kepalanya.
Adu debatan kembali datang di meja makan pagi ini. Kedua pasang Orangtua hanya bisa menghela napas panjang pada ulah-ulah anak-anak mereka yang tidak berhenti berdebat. Sakura yang mulai terbiasa—menahan ketakutan—bisanya memakan sarapannya dengan tenang. Begitu pun Sasuke paling malas mengikuti perdebatan dua bersaudara beda 6 bulan itu. Si sulung, Gaara, dan si bungsu, Naruto.
Sakura, memang suka ketakutan apabila merasakan suasana tadinya hangat berubah terintimidasi. Kekurangan Sakura satu ini tidak bisa terlepas, apa lagi kelemahan ini memperhancur daya mentalnya. Untung saja, Sasuke cepat-cepat mengusap rambut Sakura di sampingnya agar isterinya tenang.
Gadis itu tersenyum lembut kepada suaminya, memejamkan mata merasakan lembutnya tangan besar Sasuke di rambut merah mudanya.
Mereka memang tidak berkata apa-apa dalam melakukan segalanya termasuk menunjukkan keromantisan mereka. Hal itu bukan dari Sakura, tetapi ke Sasuke sendiri. Jadi, tanya ke Sasuke saja atau menunggu cerita selanjutnya tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut di kepala. Karena jawabannya bakalan muncul seiring waktu.
"Saatnya kalian berangkat sekolah."
Mereka pun berhenti berdebat kembali menghabiskan sarapan buatan Bunda Kushina dan Mama Mikoto. Setelah sarapan, mereka menggunakan mobil masing-masing. Gaara paling malas ikut bareng adiknya, meninggalkan rumah duluan. Sebelum menjauh, sempat-sempatnya dia mendengar teriakan Sasuke akibat mobilnya atapnya penyot parah. Ah, ternyata mobilnya Sasuke toh.
Untung Naruto dan Sakura sudah kabur duluan.
.
.
Masuk kembali ke sekolah, Naruto dihadang oleh sekelompok anak-anak Akatsuki. Sakura berada di balik punggung Naruto pasrah pada masalah—lagi—pagi ini. Naruto berubah datar melihat mereka, memasukkan kedua tangan ke saku celana sekolah.
"Mau apa lagi kalian, para senpai?"
"Kami mau menyapa engkau, Naruto." Suara terdengar lembut—bikin merinding yang mendengarnya sampai menjauh 10 meter dari orang itu—ternyata milik Hidan, mencolek dagu Naruto yang tampangnya biasa saja. "Apa engkau mau ikut dengan kami masuk bareng ke kelas sama-sama?"
"Parah kamu, Hidan."
"Jangan masukkan kami ke dalam susunan rencanamu, dasar humu!" Jitakkan bertubi-tubi mengenai kepala putih Hidan yang mirip Bapak-Bapak penjual sate di depan sekolah mereka.
"Tunggu, senpai!" Akatsuki dan Naruto mendengar suara panik Sakura. "Bukankah kemarin senpai-senpai sekalian pada menyukai Naruto? Dan menyebut 'Naruto kami'," katanya tanpa merasa bersalah. Naruto melotot maksimal begitu pula dengan Akatsuki. Sasori memicingkan mata melihat teman-temannya, meminta jawaban.
"Ka—kalian tidak stress, bukan?" tanya Naruto gagap, masih melotot. "Kalian tidak berniat memasukkan aku ke dalam daftar list gay kalian, 'kan?"
Zetsu tidak terima, berhadapan langsung dengan Naruto. "Sorry, kami terpaksa melakukannya karena satu orang yang mengancam kami, Namikaze-san. Dan dia ini orang terus menerus mengincarmu!" tunjuk Zetsu dilayangkan di wajah Naruto.
"Siapa?"
Tidak lama kemudian, dua orang berdampingan di sisi kiri dan kanan menjewer telinga Hidan. Mereka adalah Sasori dan Nagato. Naruto mulai menduga yang bikin perkara di antara masalah ternyata orang yang membuat masalah tersebut.
"Hidan-senpai?"
"Sakiiit, Sasori, Nagato. Lepaskan tangan kalian di telingaku!" jerit Hidan menepis kedua tangan sahabatnya di kedua telinganya. "Astaga, kalian ini tidak ada rasa persahabatannya sama sekali. Aku 'kan sengaja ngomong begitu supaya Naruto menjauhi dari Haruno!"
"Hidan-senpai mengerikan." Naruto bergidik ngeri, Sakura malah mengangguk tidak bersalah.
"Tapi ... ini 'kan demi kamu."
"Jangan dekati aku, senpai bodoh!" umpatnya bersembunyi di belakang Sakura. Gadis itu Cuma bisa berhadapan dengan Hidan dan Sasori di sebelahnya. Sakura jadi ketakutan apabila bertatapan dengan Sasori. Kelemahan kedua Sakura.
Sekelompok orang-orang berjalan beriringan mendekati mereka termasuk Ino dan Tenten. Sakura bernapas lega karena ada dua temannya menghampirinya, meninggalkan Naruto berdiri membeku di tempat. Cepat-cepat Sakura mendekatinya dan bersembunyi di belakang dua temannya tersebut. Bukan karena takut, tetapi merinding akibat suara lembut—disengaja—oleh Hidan.
Naruto mengorek hidung, lebih memilih mengeratkan keberanian—sengaja tidak mau mendengar permintaan Hidan kelewat berlebihan. "Senpai bilang apa, sih? Kami sebentar lagi mau masuk. Pelajaran pertama itu si sadis, Sasuke-sensei. Apa kalian mau mendapat hukuman lagi dari Sasuke-sensei, senpai-senpai?" tanyanya—tanpa berdosa—membersihkan jarinya dari kotoran hidung ke kain seragam Hidan tanpa sepengetahuan sang pemilik. Wajah Naruto tidak gemetar ketakutan saat bersentuhan tadi walau Cuma di balik kain seragam.
Diliriknya gerbang sekolah, senyumnya berubah bentuk jadi senyum licik. Tetapi dalam kedua mata Hidan, itu senyuman untuk dirinya sendiri. Tetapi buat orang lain, senyuman itu berupa ancaman sebentar lagi datang.
Kendaraan beroda dua masuk parkiran khusus Guru mengundang decak kagum dari para siswa-siswi di sekolah ini. Terbukalah benda pelindung kepala, menampilkan wajah ganteng—menahan kesal karena mobil hancur ditindas truk alias kaki Naruto tadi pagi—membuat sekian banyak siswa-siswi berteriak histeris.
"Ah, Sasuke-sensei datang." Ditariknya lengan Sakura dan membawanya masuk ke dalam bersama geng-nya yang lain.
Mata hitam Sasuke mencari-cari pelaku menghancurkan mobilnya, menangkap punggung tegap tengah berlarian bersama isterinya, menahan seringai iblis. Siap-siap saja mendapatkan hukuman. Tetapi, lagi-lagi ditahan oleh sahabat ditambah sesama rekan kerja bidang Guru, Kabuto.
"Cemburu, ya?"
"Hah? Cemburu?" Sasuke mengernyit.
"Itu," tunjuk Kabuto mengarah pada Naruto menarik lengan Sakura. "Kamu marah karena cemburu, 'kan?"
"Maksud kamu apa, sih?" Kabuto menepuk jidatnya, menggeleng pada sifat polos Sasuke—apabila berada di rumah, beda dengan di sekolah. Beda sama isterinya, yang betul-betul dewasa. Cuma ketakutan jika melihat pertengkaran—luar biasa—Sasuke dan Naruto atau Gaara dan Naruto. Itulah kelemahan Sakura.
"Ah, kalau itu? Pasti cemburu, 'kan?" tanya Kabuto lagi menunjuk TKP (Tempat Kejadian Perkara). Nah, ini baru Sasuke yang pencemburu buta. Kabuto terkikik geli melihat sahabatnya meluncur secepat kilat ke arah tujuan mata Kabuto tadi.
Yang dimaksud TKP Kabuto tadi adalah lagi-lagi Naruto dihajar babak belur oleh Akasuna Sasori dan menarik paksa Sakura, yang tiba-tiba berlari mendekatinya. Hal ini bikin tingkat cemburu Sasuke menaik. Dia pun segera mendekati tempat tersebut dan melindungi Sakura dari Akasuna Iblis—cinta buta sama Sakura.
"Tidak boleh ada yang main kekerasan di sini!" teriak lantang mengguncang sekolah sekalian mengundang kekaguman dari para siswa-siswi termasuk Sakura. "Dan kamu, Akasuna Sasori, berperilaku baik-lah dengan perempuan. Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?! Hm?!" geramnya tertahan.
Terjawab sudah pemikiran Kabuto tentang Sasuke polos—belum menyadari cintanya pada isterinya yang disembunyikan selama dua tahun belakangan ini dari lingkungan sekolah. Naruto dan Gaara menahan gelinya pada kecemburuan Sasuke padahal pria itu memang tidak tahu apa itu cemburu. Oh, kasihan sekali. Guru tidak tahu apa itu kata "cemburu". Cih! Guru macam apa itu!
"Kalian akan dihukum berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat pertama!" Kena-lah Akasuna Sasori menerima hukuman ini. Naruto tersenyum penuh kemenangan. Sasuke melirik sekilas pada Naruto, menyeringai tertahan—sekali lagi. "Dan buat kamu, Namikaze Naruto, kamu juga kena hukuman karena memancing masalah."
"APA?!"
Kena kamu, Namikaze Naruto! Ahahaha!
To be continued…
.
Sign,
Zecka Fujioka
04 Mei 2014
