Pandangan aneh.

Itulah apa yang Naruto dapati ketika dia tiba di desa yang telah menjadi debu dan jelaga ini. Para sisa penduduk desa memberikannya tatapan aneh ketika dia datang dan mengutarakan apa maksud kedatangannya.

Dia berniat membantu mereka dengan sukarela.

Hal itu tentu saja mendapat pandangan aneh dari sisa penduduk yang selamat dari serangan naga hitam yang menyerang desa mereka. Naruto sendiri merasa maklum dengan tatapan mereka karena dia bukan kali pertama ini mendapatkan tatapan seperti itu.

Di suatu Quest dimana dia pernah membantu tanpa bayaran apapun dahulu dia juga mendapatkan tatapan yang sama dari para penduduk peminta Quest. Tidak lumrah seorang petualang membantu secara cuma-cuma begitu saja. Mereka biasanya baru mau membantu menjalankan Quest jika upah yang didapat sesuai dengan keinginan mereka.

Naruto memaklumi para petualang yang bersikap demikian. Para petualang tidaklah salah dengan sikap mereka yang seperti itu. Itu sikap manusia dimana petualang juga merupakan manusia yang menghidupi kehidupan mereka sendiri.

Namun meski begitu, Naruto adalah orang yang sedikit– mungkin katakanlah berbeda dengan yang lain. Dia tidak akan segan membantu yang tidak bersalah jika mereka dalam kesulitan bahkan jika untuk saat ini dia harus membantu tanpa imbalan apapun. Lagipula ini juga merupakan niatnya dimana setelah membantu para sisa penduduk disini, dia akan menanyai salah satu penduduk desa yang ada untuk menjelaskan arah kemana naga hitam yang sudah menghancurkan desa mereka.

Jadi dia dengan senyuman menjelaskan niatnya yang tulus tersebut. Sisa penduduk yang ada bahkan sampai menangis karena ucapan Naruto.

Bagaimana mereka tidak menangis ketika datang sebuah bantuan secara cuma-cuma di tengah kepedihan yang mereka alami.

Naruto bahkan sampai mengeratkan giginya ketika dia melihat ekspresi para penduduk tersebut.

Mereka terlihat seperti pengembara kehausan di tengah padang gurun yang bersukacita ketika menemukan sebuah oasis. Bahkan bantuan dari petualang kecil seperti dirinya terlihat begitu berharga sekali bagi mereka.

Makanan dan tempat penampungan yang baik adalah hal yang diperlukan untuk saat ini. Melihat kondisi bangunan desa yang seperti ini dan cukup jauhnya jarak desa ini dengan desa lainnya, Naruto tahu para penduduk ini sangatlah terancam bahaya kematian. Apalagi jika nanti malam tiba, dinginnya malam bisa membuat para penduduk apalagi anak-anak kecil yang selamat menggigil kedinginan.

Karena itulah dengan kekuatannya yang ada, Naruto kemudian bekerja. Di bawah penglihatan kagum para sisa penduduk desa yang selamat, Naruto mulai membalut tubuhnya dengan debu dan kotoran untuk membangun sebuah tempat penampungan besar di tengah desa pada bagian yang kosong. Dia memotong batang-batang pohon besar di sekitar desa dengan Tanto miliknya yang terlapisi chakra angin dan membawa batang-batang pohon besar itu sendirian di pundaknya. Langkah kakinya yang berat karena beban di pundaknya tidak menyulitkan dirinya sama sekali.

Sebenarnya Naruto bisa menggunakan Kage Bunshin untuk mempercepat pekerjaan ini. Tapi penggunaan Kage Bunshin sendiri nanti akan mengagetkan para penduduk dengan kehadiran dirinya yang lebih dari satu orang dan dia lagipula tidak ingin menunjukkan banyak jutsu di dunia ini karena jutsu sendiri penggunaanya sangat berbeda dengan sihir di dunia ini.

Karena itulah, dengan kedua tangannya sendiri dia membangun tempat penampungan sementara besar yang cukup untuk mengakomodasi semua sisa penduduk yang selamat.

Apa yang dilakukan Naruto sendiri membuat para sisa penduduk meneteskan air mata kala itu. Bahkan ketika Shinobi tersebut telah selesai dengan bangunan penampungan sementara yang diselesaikannya dalam waktu yang membuat decak kagum begitu besar, Naruto kemudian justru pergi ke hutan dan kembali dengan begitu banyak hewan buruan, buah-buahan dan air yang semakin membuat para sisa penduduk ini semakin tidak mampu berkata apapun lagi.

Karena bahkan setelah semua bahan makanan dikumpulkan di dalam dan dia mengajak mereka masuk ke tempat penampungan yang baru saja Naruto buat, dia tidaklah terlihat seperti seorang petualang yang biasa para penduduk lihat ketika mereka berkunjung ke desa mereka atau pun ksatria sihir kerajaan sebelum serangan naga hitam menghancurkan desa mereka.

Apa yang mereka lihat tidak lebih berbeda dengan seorang pengemis jalanan yang kotor dan tidak terurus dengan banyaknya kotoran di baju petualang yang membantu mereka.

Suatu pemandangan yang sangat kontras tersebut tentu saja terlalu mengejutkan dan langsung menyadarkan pada sisa penduduk tersebut dari keterkejutan mereka dan memohon untuk ikut membantu Naruto. Tidak masalah hal kecil apa yang bisa mereka bantu asal mereka bisa membalas kebaikan petualang yang telah menolong mereka.

Maka Naruto kemudian meminta mereka untuk membantunya memasak. Bahan makanan yang dia kumpulkan harusnya lebih dari cukup untuk melewati malam ini dan para sisa penduduk desa itu dengan senang hati membantu memasak. Mereka bahkan memohon agar Naruto beristirahat dan membiarkan mereka menyiapkan makanan.

Naruto mengangguk menyetujuinya dan dia kemudian pergi membersihkan dirinya di salah satu sumur yang masih ada di desa tersebut.

Malam itu dilalui dengan semua sisa penduduk berada di dalam tempat penampungan besar yang Naruto buat. Makanan yang tersaji dimasak sederhana dengan keterbatasan bahan-bahan masak namun itu sudah lebih dari cukup untuk sementara saat ini. Perapian yang berada di tengah penampungan membantu menghangatkan para penduduk untuk melalui malam ini tanpa rasa kedinginan.

Dan pekerjaan Naruto tidaklah sampai disana. Beberapa penduduk yang selamat banyak yang mengalami luka bakar di tubuh mereka bahkan ada salah seorang anak kecil yang menderita luka bakar di kakinya.

Naruto membantu meringankan luka mereka. Tidak cukup mungkin untuk menghilangkan bekas luka yang ada namun setidaknya itu cukup untuk sekarang menghilangkan rasa sakit yang ada.

Chakra kehijauan menari di tangannya. Membuat decak kagum dari anak-anak kecil lain yang mengelilingi Naruto.

Bagi orang dewasa, apa yang dilakukan Naruto bisa dikatakan mungkin sebagai sihir, namun ini bukanlah sihir. Dia tidak membutuhkan rapalan mantera untuk ini.

"Waaaaahhhh~!"

Suara kagum dari seorang gadis kecil yang dia obati kakinya akibat luka bakar yang dia derita membuat Naruto tersenyum kecil. Ini berbeda dengan raut muka pasif yang biasa dia perlihatkan. Naruto memang punya sisi lembut untuk anak-anak.

Chakra hijaunya memberikan rasa hangat dan kelembutan di setiap luka. Tidak ada ringisan sakit ketika diobati oleh chakranya. Naruto belajar teknik jutsu penyembuhan ketika dia dahulu meminta Shizune, murid dari Godaime Hokage mengajarinya.

"Aku butuh jutsu penyembuhan jika seandainya rekanku ada yang terluka di suatu misi jadi aku tidaklah harus merasakan sakit ketika kehilangan mereka."

Kata-kata yang dia ucapkan sebagai alasannya mempelajari jutsu penyembuhan kala itu membuat Shizune hanya bisa tersenyum saat ini dan berterima kasih pada Shizune karena mau mengajarkan jutsu penyembuhan.

Chakra hijau ditangannya mengecil dan memudar ketika luka yang dia obati dirasanya sudah sembuh. Untuk jaga-jaga, dia dengan pelan dan lembut membalutkan kain putih panjang untuk luka.

"Terima kasih Onii-san."

"Terima kasih Naruto-san."

Ucapan itu Naruto terima dari gadis kecil yang baru dia obati dan seorang wanita. Wanita ini adalah anak dari tetua desa yang tewas bersamaan dengan serangan naga hitam yang menyerang desa. Suami wanita ini bahkan juga tewas karena serangan itu dan hanya menyisakan wanita ini dan anaknya.

Nama wanita ini adalah Licia. Umurnya berkisar di kisaran dua puluh lima dengan putri kecilnya yang baru saja dia obati yang berumur lima tahun. Untuk putri kecilnya sendiri bernama Alissa.

Menjadi anak dari tetua desa menjadikan Licia sebagai pemimpin sementara untuk para sisa penduduk disini. Dia bisa turun sebagai pemimpin jika dia menyerahkan kepemimpinannya pada penduduk yang lain. Sebenarnya Licia ingin menyerahkan kepemimpinan yang saat ini dia pegang untuk penduduk yang mampu daripada dirinya. Sayang di situasi sekarang keadaannya masihlah kurang tepat jadi mau tidak mau Licia haruslah mengemban tugas ini untuk sementara.

Padahal ketika setelah dia mengumpulkan para sisa penduduk yang masih selamat dan terluka, dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Dia bingung ditambah dengan kesedihan yang dia alami akibat kehilangan suami dan ayahnya, Licia merasa dia sudah merasa bahwa inilah akhir dari mereka semua.

Walau dia berusaha terlihat tegar di luar demi anak gadisnya, Licia di dalam hatinya sudah merasakan keputusasaan yang luar biasa. Menunggu bantuan dari kerajaan akan memakan waktu dan itupun jika bantuan segera datang. Makanan semakin menipis dan rasa dingin di malam hari begitu menusuk kulit membuat semua semakin parah. Apalagi jika mereka, sisa penduduk yang selamat hanya tinggal di puing-puing sisa bangunan yang rusak sebagian. Licia bahkan berdoa memohon dengan sangat di malam kemarin agar bantuan segera datang dan ternyata– Licia tahu kini dia sudah bisa mengatakan bahwa dia sangat bersyukur dengan kedatangan petualang bernama Uzumaki Naruto tersebut.

"Tidak masalah."

Licia mendengar balasan dari rasa terima kasihnya. Sebenarnya Licia menganggap ucapan terima kasih saja tidaklah cukup untuk membalas kebaikan dari petualang yang telah menyembuhkan anaknya tersebut serta apa yang telah dilakukannya untuk penduduk lainnya. Ibu muda berambut coklat yang dikepang ke depan ini setidaknya ingin sedikit memberikan imbalan namun dia tahu bahwa apa yang disodorkan nantipun mungkin akan ditolak oleh petualang ini.

Licia telah melihat bagaimana petualang ini menolak imbalan dari salah satu penduduk yang Licia kenal. Dia bahkan berkata agar apapun yang masih tersisa dan masih bisa dipakai setidaknya gunakan untuk kehidupan mereka ke depannya.

Licia tidak tahu lagi harus berkata apakah dia. Bahkan dia tidak pernah menemui petualang seperti ini selama hidupnya.

"Bagaimana dengan keadaan yang lainnya? Apa masih ada yang terluka?" Naruto bertanya kepada Licia sambil melihat sisa penduduk lainnya. Barangkali ada yang terluka dan terlewat dia obati.

Licia menggeleng pelan. "Anakku adalah yang terakhir Naruto-san." Kata Licia memberitahukan kepada Naruto. Anaknya memang dia sengaja untuk diobati terakhir karena luka bakar di kaki anaknya tidaklah separah yang diderita penduduk lain.

"Begitukah?" Naruto merasa senang mendengarnya. Dengan ini semua sudah selesai dan dia bisa beristirahat sambil menanyakan informasi yang dia butuhkan.

Dengan beralih duduk dimana Naruto menyandarkan punggungnya di bagian dinding tempat penampungan yang terbuat dari batang-batang pohon besar yang dia susun ketika membangun tempat penampungan ini, Naruto kemudian menikmati waktu istirahatnya sekarang. Seorang penduduk yang melihat itu kemudian mengantarkan potongan buah yang diletakkan di piring kayu kepada Naruto.

"Terima kasih." Naruto mengucapkan rasa terima kasihnya ketika menerima pemberian salah satu penduduk tersebut. Penduduk laki-laki berusia paruh baya yang memberinya potongan buah itu tersenyum.

"Tidak Naruto-san, setidaknya kamilah yang harus banyak berterima kasih padamu." penduduk laki-laki itu berkata dengan nada yang begitu tersirat akan rasa terima kasih. "Kau sudah banyak menolong kami."

"Aku hanya bisa membantu sedikit saja. Selebihnya kalian mungkin tinggal harus menunggu ksatria sihir kerajaan untuk membantu kalian."

"Bantuan yang kau berikan tidaklah sedikit Naruto-san. Ini semua sudah terlalu banyak dan kami rasa kami hanya bisa membalas dengan ucapan terima kasih saja."

"Maka itu sudah lebih dari cukup." Naruto tertawa kecil untuk itu. Dia mengibaskan tangannya untuk memberikan tanda agar lawan bicaranya itu duduk.

Penduduk laki-laki yang mengerti tanda yang diberikan Naruto kemudian duduk di sana. Setelah melihat penduduk laki-laki itu duduk, Naruto kemudian mulai bertanya.

"Sebenarnya aku ingin bertanya ini sejak aku datang Kyle-san." Naruto memulai dengan perlahan ucapannya. "Bisa tolong jelaskan bagaimana desa kalian diserang? Atau mungkin ada dari kalian yang melihat arah naga hitam itu pergi kemudian?"

Penduduk laki-laki yang bernama Kyle itu kemudian memandang Licia sebentar seperti meminta izin untuk bercerita. Licia mengangguk untuk itu.

Kyle, penduduk laki-laki paruh baya dengan rambut hitam dan mata coklat itu mulai bercerita.

"Sebenarnya kami tidak tahu apa sebabnya naga itu menyerang desa kami. Aku yang kebetulan bekerja sebagai peternak kala itu mendengar suara ribut para ternakku di malam hari. Ketika aku mengecek apa yang terjadi aku melihat bayangan besar naga hitam di atas dan langsung saja menyemburkan api ke arah desa. Aku yang kaget langsung tersadar dengan teriakan dari penduduk lain dan mencoba menyelamatkan anak istriku."

"Kami kalang kabut ketika itu. Tidak tahu lagi siapa yang harus diselamatkan. Kami hanya berusaha semampu kami. Tetua desa dan suami dari Licia juga demikian. Sayang ketika mereka menyelamatkan anak kecil yang tertimpa bangunan gereja kecil di desa kami, api dari naga itu datang lagi dan membakar mereka." Kata Kyle.

Licia yang berada di samping Naruto dan Kyle juga ikut angkat bicara. "Saat melihat itu Alissa langsung berlari mencoba menyusul ayahnya. Untung saat itu aku berhasil mencegahnya tapi percikan api kecil menyambar kaki Alissa kala itu. Sedangkan untuk suami dan ayahku…" Licia berhenti sebentar. Naruto menoleh dan bisa melihat Licia, wanita yang baru saja menjadi janda itu terlihat menahan lagi air matanya.

"B-bahkan tubuh mereka saja tidak ada sisanya! Api naga itu menghancurkan tubuh mereka tanpa menyisakan apapun kecuali debu hitam. Aku bahkan tidak–"

Licia berhenti bercerita. Air matanya kembali keluar. Segukan tangis itu kembali terdengar dan suasana kembali menjadi muram.

Naruto sebenarnya tidak ingin mengingatkan lagi peristiwa buruk yang baru saja mereka semua alami. Tapi dia butuh informasi sekarang. Dia melihat ada penduduk wanita lain menghampiri Licia dan berusaha menenangkan wanita tersebut. Naruto kemudian juga melihat Alissa, putri dari Licia, gadis kecil berambut putih panjang itu juga berusaha menenangkan ibunya.

Naruto kemudian menghela nafas. Dia lalu menatap Kyle yang duduk di depannya.

"Maaf." Naruto menundukkan kepalanya tanda meminta maaf. Kyle yang melihat itu meletakkan tangannya di pundak Naruto.

"Tidak apa. Kau sudah menolong kami. Setidaknya kami bisa bercerita apa yang terjadi kepadamu." Kata Kyle.

Naruto mengangguk untuk itu.

"Jadi setelah naga hitam itu menyerang desa, ke arah manakah naga itu pergi?" Naruto bertanya lagi.

Kyle tampak mendongak sedikit ke atas, mencoba mengingat kemana arah naga itu pergi. "Naga hitam itu setidaknya pergi ke arah tenggara. Ke arah gunung Hitogan setelah lembah Zidya. Setidaknya itulah yang kulihat. Maaf aku kurang jelas memastikan karena waktu malam mengurangi jarak pandangku."

Naruto mengenyit kemudian setelah mendengar info dari Kyle.

Gunung Hitogan. Gunung itu dikatakan dalam buku kerajaan bahwa itu adalah gunung hitam dengan keadaan masih aktif. Sulfur dan asap beracun masih membumbung tinggi ke udara.

Jaraknya dari desa ini sekitar tiga puluh Els. Tapi jika dilihat dari salah satu sudut pandang desa ini, pucuk gunung itu bisa terlihat di ujung sana.

Apa itu sarangnya? Apa disana juga ada iblis yang mengendalikannya? Naga hitam setahu yang dia baca selalu dikendalikan oleh iblis. Apa keuntungan menyerang desa kecil seperti ini?

Berbagai pertanyaan itu langsung bermunculan di pikiran Naruto. Namun semua jawaban yang terpikir sekarang masihlah dugaan.

Dia akan cepat memastikannya malam ini. Mengirim Bunshin ke sana adalah pikiran logis untuk memastikannya sekarang.

Kyle yang melihat Naruto berkutat dalam pikirannya kemudian menjadi penasaran. "Untuk apa menanyakan arah pergi naga hitam itu Naruto-san?" Tanya Kyle.

Ditanya seperti itu Naruto langsung tersadar dari pikirannya. Shinobi yang sekarang menjadi petualang itu hanya tersenyum kecil. "Ah… tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui secara detail saja."

"Oh…" Kyle hanya bisa berkata demikian dan mempercayai apa yang dikatakan Naruto. Dia tidaklah tahu bahwa Naruto hanya berbohong kecil di sana.

Naruto tentu tidak mungkin bukan memberitahukan bahwa dia akan membunuh naga itu. Itu jelas akan di tentang oleh para penduduk yang dia selamatkan. Terlebih lagi dirinya hanya seorang diri. Bahkan setidaknya butuh enam buah Party atau kelompok petualang untuk membunuh naga dan itupun harus berperingkat emas.

Seorang petualang perak mencoba membunuh naga. Itu sama saja dengan bunuh diri.

Tapi Naruto bukanlah petualang. Dia adalah seorang Shinobi. Seorang Jinchuriki dari Bijuu terkuat. Naga baginya hanya seperti kadal besar saja.

Tapi dia tidak mungkin mengatakannya begitu saja. Dia tidak ingin membuat khawatir penduduk yang telah dia selamatkan.

Naruto mengambil satu potongan buah yang diberikan dari Kyle untuk dimasukkan ke mulutnya. Rasa manis memenuhi lidahnya dan dia mengunyah pelan.

Malam ini dia akan mengirim Bunshin dan besok baru akan pergi.

Itu adalah rencana terbaiknya sekarang.

[Stranded]

Grayfia Lucifuge, komandan pasukan ksatria sihir yang juga merupakan seorang penyihir kelas atas memimpin pasukan yang berada di belakangnya masuk ke dalam daerah desa yang sudah rusak dihancurkan oleh naga hitam yang menyerang.

Butuh setidaknya waktu dua hari untuk mencapai desa ini dengan melewati medan-medan yang cukup sulit dengan kuda-kuda yang mereka tunggangi. Salah satu anggota dari Round Table Knight kerajaan Camelot itu hanya bisa berharap penduduk yang selamat dari serangan naga hitam itu masih bisa diselamatkan.

Jubah perak yang dikenakan Grayfia berkibar terkena angin. Tongkat sihir panjang putih yang dia bawa di punggung terlihat sedikit mengkilap ketika terkena sinar matahari yang menelusup melalui celah-celah dedaunan.

Grayfia Lucifuge, wanita berumur dua puluh tahunan itu dengan rambut dikepang ke depan bisa melihat dari jauh sisa-sisa dari desa yang hancur. Namun pandangannya justru kemudian memincing untuk memastikan dengan jelas bahwa ada satu bangunan besar yang sepertinya terbuat dari batang-batang pohon besar dan disusun membentuk sebuah tempat penampungan besar berdiri megah di tengah desa.

Apa para penduduk yang selamat membangunnya? Bagaimana mereka membangunnya dalam waktu secepat ini?

Pertanyaan Grayfia itu kemudian terjawab ketika komandan pasukan itu beserta pasukannya masuk ke desa.

Adalah seorang petualang yang membangun tempat ini. Hal yang sulit dipercaya bahwa penduduk mengatakan bahwa tempat ini dibangun oleh satu orang saja.

Pastinya orang itu punya kekuatan besar bisa membangun tempat penampungan ini dengan sangat cepat sekali. Bahkan menurut penduduk yang selamat atau menurut wanita bernama Licia yang merupakan anak dari tetua desa yang tewas, petualang itu bahkan juga menyembuhkan penduduk yang terluka dari serangan naga hitam itu dan itu semua dilakukan secara cuma-cuma.

Hal itu tentu tambah mengejutkan mengingat bagaimana seorang petualang adalah pekerja bebas yang melakukan Quest untuk selalu mendapatkan upah. Bahkan tidak jarang mereka menganiaya penduduk jika seandainya upah yang diberikan tidak sesuai dengan Quest yang diterima.

Mendengar ada seorang petualang melakukannya secara cuma-cuma… Itu terdengar seperti omong kosong yang diucapkan dengan keras oleh pembohong yang sudah diketahui ucapannya tidak bisa dipercaya.

Namun ketika Grayfia menanyakan siapa nama petualang tersebut, sebuah nama yang muncul cukup membuat wanita penyihir cantik itu merasa cukup percaya dengan apa yang dikatakan para penduduk yang selamat.

Uzumaki Naruto.

Nama petualang itu cukup membuat heboh di lingkungan para anggota ksatria sihir atas seperti dirinya. Nama petualang yang tiba-tiba muncul dan dalam waktu cukup dekat langsung naik ke peringkat perak dan akan dinaikkan ke peringkat emas dalam waktu dekat. Pembunuh Wyvern yang menenteng kepala Wyvern seenaknya dalam ibukota dan dikatakan dia membunuh Wyvern yang masih merupakan keturunan naga namun lebih rendah kekuatannya itu sendirian.

Pemberi pedang Mithril yang harganya selangit pada sebuah desa yang kekurangan uang.

Melakukan Quest membunuh Goblin dan sarangnya tanpa meminta bayaran atas jasanya ketika melihat keuangan salah satu desa peminta Quest yang sangat kurang.

Astaga, petualang itu yang membuat tempat penampungan penduduk ini? Grayfia sulit mempercayainya jika dia juga tidak menyelidiki siapa Uzumaki Naruto ketika petualang itu mulai naik daun. Para ksatria sihir yang berada di bawah komandonya juga terlihat terperangah dengan tempat penampungan yang dibangun petualang yang disebutkan penduduk itu.

Ini adalah tempat penampungan kokoh dengan menjaga kehangatan di dalamnya. Ada perapian di dalam dan berada di tengah dengan satu pintu kecil masuk yang terbuat dari batang pohon yang lebih kecil dan diikat dengan rotan. Sebuah ventilasi asap dibuat di atas tempat penampungan dan Grayfia yakin tempat penampungan ini bisa menampung lebih banyak penduduk lagi.

Ada hewan-hewan buruan, potongan buah dan tempat air di dalam. Semua itu dikatakan juga dicari dan diburu oleh Uzumaki Naruto.

Hal itu semakin menarik Grayfia untuk bertemu dengan petualang tersebut.

Namun sayang ketika dia sampai di desa ini dikatakan dia telah terlambat. Pada pagi ini penduduk di dalam sini mengetahui penolong mereka telah pergi entah kemana tanpa pamit. Hal itu tentu mengecewakan untuk penduduk yang Uzumaki Naruto tolong karena mereka tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada penolongnya.

Grayfia tersenyum untuk itu.

Mungkin jika dia tidak bisa bertemu dengan petualang itu sekarang, dia bisa bertemu ketika mereka sudah berada di ibukota.

Grayfia tidak mengetahui bahwa apa yang dia harapkan datang jauh lebih cepat dari apa yang dia perkirakan.

[To be Continue...]

A/N

Round Table Knight adalah plesetan saja =D jangan terlalu dianggap serius sampai-sampai harus dikoreksi senpai.

Maaf. Aku katakan itu karena baru bisa update cerita ini. Alasannya mudah.

Aku malas! Dan aku sedang menamatkan sebuah game yang ingin kutamatkan!

Mau flame? Hah! Aku tidak peduli.

Ini hanya imajinasi kecil oke. Jangan dipermasalahkan. Berikan review jika seandainya menarik dan biarkan aku menulis chapter depan yang intinya Naruto vs Naga hitam.

Udah itu aja pemberitahuan dariku. Jangan panjang-panjang karena nanti jadi malas bacanya. A Love for the Queen akan update jika waktunya update jangan khawatir aku menghilang.

Terima kasih untuk semua dukungan kalian senpai~ aku tidak menyajikan sebuah cerita panjang karena aku belajar cara penyampaian sebuah cerita yang membuat pembaca tertarik dengan tulisan pendek saja. Lagipula ini hanya hiburan semata untuk kalian.

Terima kasih dan berikan review

RiesA Afiela out~