YOUNG PARENTS
A P4 fanfic
By: Ryuamakusa4eva
Summary: semenjak saat 'itu', Naoto merasa tidak enak badan......apa yang sebenarnya terjadi dengan Naoto? SouNao. WARNING: agak ecchi di prologue....XP
Disclaimer: ...kalo Persona 4 punya gua, udah pasti Souji x Naoto itu canon pairing kayak Minato x Aigis!!! XDDD
A/N: harap maklumi jika deskripsi dan kosakatanya abal, saiia org indo yang sangat payah dalam berbahasa indo XO
Dua perempuan sedang berdiri berhadapan, posisi mereka saat ini adalah berada di atap sekolah. Prempuan berambut coklat kemerahan menatap perempuan berambut biru yang berada dihadapannya dengan tajam, perempuan berambut biru itu tidak dapat menatap balik.
"Naoto-kun....sekarang beritahu aku kenapa kamu minum obat macam itu." kata perempuan berambut coklat kemerahan yang merupakan seorang idola remaja itu, dengan ketus dan dahinya mengernyit.
Mata perempuan detektif itu tetap hanya bisa tertuju kearah lantai "a...aku...."
Sang idola remaja itu menggegam tangannya dengan erat. "...bayi itu....anak Souji-senpai bukan...?" mata perempuan detektif itu terbelalak, dia lalu menatap perempuan yang berada dihadapannya dengan tatapan sangat terkejut.
"ba-bagaimana kau....?"
Rise menatap kearah langit dengan raut wajahnya terlihat sedih. "dari cara kalian berdua saling menatap....aku tahu....dan tidak mungkin anak itu bukan anak senpai jika hubungan kalian seperti itu......dan aku tidak sengaja mengintip kencan kalian di dungeon Nanako-chan."
Pipi perempuan detektif itu bersemu merah disaat Rise menyebutkan satu tempat dimana dia pernah berkencan, diapun tersenyum lembut mengingat kenangan itu, benar-benar kenangan tak terlupakan.....
....dia masih ingat disaat mereka sedang merasa nyaman dipelukan masing-masing, tiba-tiba saja sekumpulan shadow datang dan mengganggu kencan mereka.
"apa kamu sudah memberitahu senpai soal bayi itu?"
Naoto pun langsung tersadar dari pikirannya, sejenak dia tatap perempuan yang berada dihadapannya, lalu dia menggeleng pelan.
"aku....belum siap...." jawab perempuan detektif itu dengan nada suara yang sedikit pelan dan rendah.
"lalu apa kamu akan memberitahukan kami semua?"
"h-hah..?"
"....kami, The Investigation Team, adalah sahabatmu kan? apa kamu akan memberitahukan kami...?"
Perempuan detektif itu terdiam, tidak tahu apa yang harus dia jawab, matanya terfokus kearah lain, tidak dapat menatap sang idola itu. Lalu dia melirik kearah idola itu, beberapa saat kemudian dia menghela nafasnya.
"tapi....jangan beritahu Souji ya? aku....ingin memberi tahunya sendiri....jika saatnya sudah tepat...." sang idola itu lalu tersenyum kepada perempuan detektif itu dan mengangguk.
"aku akan bilang ke yang lain untuk ke Junes, kalau kita berbicaranya disini, bisa saja ada murid lain yang mendengarkan....kau kesana saja dahulu." lalu sang idola remaja itu berlari kearah pintu, namun tiba-tiba dia berhenti dan menengok kearah Naoto, dia beri tatapan tajam kearah perempuan detekitf itu.
".....kamu harus menjelaskan detail hubunganmu dengan senpai, dasar kamu cewek beruntung." kemudian dia pergi menuruni tangga.
Perempuan detektif itu hanya bisa menggaruk pipinya dan menghela nafas, lalu dia hanya menatap langit sambil mengepal tangannya dengan erat.
'...aku memang membutuhkan sahabat-sahabatku untuk membicarakan tentang ini....aku tidak bisa menghadapi ini sendirian....'
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN, DI JUNES
"yo Naoto-kun!!"
Perempuan detektif itu yang sedari tadi hanya duduk seorang diri di 'Special Headquarter' mereka, menengok kearah datangnya suara untuk menemukan Yosuke dan yang lainnya berjalan kearahnya.
Detak jantung perempuan detektif itu berdegup semakin kencang di setiap langkah mereka yang semakin lama semakin mendekatinya, pikirannya menjadi semakin bingung tentang bagaimana dia memberitahukan mereka soal kehamilannya.
Lalu saat perempuan detektif itu tersadar dari pikirannya, dia melihat mereka sudah duduk di tempat duduk, mereka memberikan tatapan bingung kearah Naoto. Sang idola remaja yang duduk tepat disebelah perempuan detektif itu sedikit menyenggol lengan Naoto.
Naoto melihat kearah sang idola remaja itu, lalu matanya terfokus kearah lantai, semakin bingung harus berkata apa.
"uhm...Naoto-kun? katanya Rise-chan kamu mau membicarakan tentang sesuatu......uhh, mau berbicara tentang apa?" tanya perempuan berambut coklat yang hobi menonton film Kung-Fu
"ah...aku...uhm...." mata perempuan detektif itu masih terfokus kearah lantai, tangannya menggengam celananya dengan erat, pipinya sedikit bersemu merah.
Mereka merasa semakin penasaran karena melihat reaksi seorang Naoto Shirogane yang tidak seperti biasanya, saat ini tidak ada sikap 'Detective Prince' yang biasanya tenang dan cool, yang ada adalah sikap seperti seorang gadis pemalu yang ingin mencurahkan hatinya tentang sesuatu.
"a-aku....mungkin sudah tidak bisa bersekolah di Yasogami lagi nanti...." jawab Naoto dengan nada rendah.
Dahi Rise mengernyit, tangannya sedikit menampar keningnya.
"apa?? kenapa???" tanya pemuda berwajah sangar dengan nada suara yang sedikit keras.
"kamu mau pindah Naoto-kun??" tanya perempuan berambut hitam dengan mata terbelalak.
dahi pemuda berambut coklat itu mengernyit. "karena kerjaanmu ya?"
"h-hah? oh...uhm....itu terdengar tidak benar....aku bukannya tidak bisa bersekolah di Yasogami karena pindah....tapi karena sebentar lagi kondisiku tidak memungkinkan untuk bersekolah....."
Pernyataan ini membuat mereka semakin bingung, sementara sang idola remaja yang duduk di sebelahnya menghela nafas.
Perempuan berambut coklat itu sedikit tertawa. "haha, kamu seperti orang yang sedang hamil saja, bilang kondisimu nanti tidak memungkinkan untuk bersekolah!"
Genggaman Naoto kecelananya semakin erat, dia sedikit menggigit bibir bawahnya. "....................."
Reaksi ini membuat semuanya, kecuali Rise, kagetnya bukan main.
"uhm...Naoto-kun....aku tidak mungkin benarkan...? ahaha...ha...?" tanya perempuan penyuka Kung-Fu itu dengan mata terbelalak, perempuan detektif itu tidak bisa berkata apa-apa.
Rise melirik kearah perempuan detektif itu, sebelum akhirnya berkata, "sayangnya......Chie-senpai benar." jawab sang idola remaja itu sambil menghela nafasnya.
"APA???" semuanya, kecuali Naoto dan Rise, berteriak, mereka tidak bisa percaya bahwa detektif prince yang merupakan sahabat mereka ternyata hamil, yang mereka tahu tentangnya adalah bahwa perempuan detektif itu tidak memiliki kekasih.
Pemuda berwajah sangar itu memukul meja bundar itu, raut wajahnya terlihat sangat marah. "siapa yang beraninya manghamilimu?? HUH?? biar kuhajar orang itu!!!!"
"Kanji-kun......b-bayi ini milik........Souji-senpai......" jawab perempuan detektif itu sambil mengelus perutnya, semuanya, kecuali Rise, menatap perempuan detektif itu seakan tidak percaya.
"ti...tidak mungkin...." Kanji menatap perempuan detektif itu, tatapannya menunjukan rasa sakit dan kecemburuan yang sangat dalam, tangannya mengepal dengan sangat erat.
Sang idola remaja itu tahu bagaimana perasaan pemuda itu, hancur, adalah yang dapat dideskripskan dari perasaan Kanji saat ini....dan perasaan itu sama dengan perasaannya sendiri, rasa hancur karena seseorang yang dia cintai ternyata sudah memiliki orang lain.
"se-sejak kapan?? bagaimana...??" tanya perempuan penyuka Kung-Fu itu.
"....se-sejak......uhm...."
"kapan kalian melakukannya?" semuanya dengan cepat menatap Rise dengan tatapan sangat kaget.
Pipi perempuan detektif itu bersemu merah. "s-satu bulan....yang lalu......dan...itu adalah pertama kalinya aku...uhm..." jawab Naoto dengan nada suara yang malu-malu, tangannya sedikit menurunkan topinya agar mukanya yang bersemu sangat merah tidak begitu terlihat.
'...Naoto terlalu lugu....' pikir semuanya secara bersamaan, sedikit bingung karena perempuan detektif itu menjawab pertanyaan sang idola remaja itu yang termasuk 'privasi' begitu saja.
"...kalian melakukannya berapa kali sih pada waktu itu sampai kamu bisa hamil?" semuanya kaget akan pertanyaan Rise yang termasuk sangat 'private'.
Pipi Yukiko sedikit memerah, dia menggaruk pipinya sambil melirik kearah sang idola remaja itu lalu kearah perempuan detektif itu secara bergantian. "Ri...Rise-chan...pertanyaan macam itu....."
"t-tiga...kali......"
"APA??" Kanji dan Rise berteriak bersamaan, yang lainnya hanya bisa menampar keningnya.
'sangat lugu....' pikir mereka lagi.
"N...Naoto-kun...apa kau sudah bilang si Souji soal ini?" tanya pemuda berambut coklat itu untuk mengubah suasana.
Perempuan detektif itu menggelengkan kepalanya. "...belum....aku belum siap mengatakannya dan...saatnya belum tepat......"
Naoto masih mengingat kejadian saat kekasihnya meneleponnya, nada suara yang suram, dan masalah yang dia ceritakan, masalah tentang keluarganya yang terlalu menekannya, dia tahu kalau dia memberitahu kekasihnya tentang kehamilannya, hanya akan menyusahkannya.
Pemuda berambut coklat itu menaikan satu alisnya "saatnya belum tepat...?"
"...a-ah itu--" kalimat perempuan detektif itu terpotong saat dia mendengar suara dering handphonenya, dengan satu alis naik dia lalu merogoh kantongnya, dia tatap layar handphonenya dengan tatapan bingung, lalu dia tekan tombol hijau itu dan mendekatkannya ke telinganya.
"Naoto disini....ada apa Dojima-san?"
"ah...Shirogane? uhm...Ada sedikit masalah....dan kepolisian butuh bantuanmu."
Dahi perempuan detektif itu mengernyit, perasaannya berubah tidak enak. "masalah...? masalah apa...?"
Hening beberapa saat sebelum akhirnya Dojima berbicara lagi. ".......Mitsuo Kubo, melarikan diri."
Mata perempuan detektif itu terbelalak, tanpa disadarinya dia berdiri dan memukul meja Junes itu, mengagetkan Yosuke dan yang lain. "bagaimana bisa--" perempuan detektif itu langsung tersentak "ah, jangan-jangan...!"
"ya....setelah sekian lama akhirnya dia malah dinyatakan menderita gangguan jiwa....dan di rumah sakit jiwa dia...."
Naoto menggertakan giginya. 'sial...kenapa harus sekarang disaat keadanku seperti ini??' perempuan detektif itu menggeram lalu menutup matanya, berpikir harus bekerja sebagai detektif seperti biasanya atau tidak.
Tapi masalahnya adalah, dengan keadaan seperti ini, dia tidak bisa bekerja seperti biasanya, Sekolah sudah terlalu mengekang waktu dan tenaganya, jika ditambah pekerjaan, apalagi saat ini pekerjaannya bisa saja mengandung pengejaran tersangka, bisa-bisa bayi yang ada di rahimnya itu yang akan kena ganjarannya...dan dia tidak mau itu.
Saat ini, Naoto Shirogane harus menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang Ibu yang harus menjaga anaknya.
Sebenarnya dia tidak mau mengatakannya, tapi, ini adalah keadaan yang sangat mendesak untuknya. ".....Dojima-san.....aku minta maaf, t-tapi...sepertinya aku...kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk bekerja....aku harus...memikirkan ulang soal keterlibatanku di kasus ini....." katanya dengan sedikit memaksa.
Naoto dapat mendengar Dojima menghela nafasnya. "......baiklah, tapi jika kau punya...suatu spekulasi tentang keberadaan Kubo, beritahu ya?"
"tentu saja."
"yah...itu saja, pekerjaanku sudah menunggu, oh ya, detail kasus kaburnya Kubo sudah kukirim lewat email, jangan lupa dibaca, dah." lalu pembicaraan mereka terputus.
Perempuan detektif itu mengembalikan handphonenya kedalam sakunya, dahinya mengernyit dan raut wajahnya telihat sedikit kesal, ini menimbulkan pertanyaan diantara para anggota Investigation Team.
Rise memberikan tatapan bingung kearah perempuan detektif itu. "...Naoto-kun?"
"Mitsuo Kubo melarikan diri."
Semua mata terbelalak.
"A-apa....?"
Naoto mengepalkan tangannya dengan erat. "...aku harus pergi..." dia lalu membungkuk kearah mereka. "permisi...!" lalu dia berlari keluar Junes.
"ap--tunggu!! Naoto-kun!" idola remaja itu mencoba memanggil Naoto, tapi sudah terlambat, dia sudah pergi keluar dari pandangannya.
Naoto berlarian di Shopping District menuju pemberhentian bus, namun dia teringat akan 'keadaannya' dan berhenti berlari, dengan nafas terengah-engah dan perasaan tidak sabar untuk mencapai rumahnya, dia berjalan dengan langkah cepat.
...hanya untuk berhenti saat dia melewati depan toko buku.
Dahinya mengernyit, sesaat dia merasa seperti melihat sesuatu yang familiar, dia berjalan mundur dan melihat-lihat majalah yang dipajang di toko itu.
Matanya terbelalak, tidak percaya akan apa yang dia lihat.
SETA RESIDENCE
Pemuda berambut abu-abu itu melempar sebuah majalah ke meja kerja Ayahnya
"apa maksud dari ini Ayah??" teriaknya, tangannya mengepal dengan erat, seakan-akan siap untuk memukul seseorang.
Ayahnya hanya menatap majalah itu dengan tatapan kosong. "oh, maksudnya ya tepat seperti apa yang dikatakan di majalah itu."
"bukan itu maksudku!!!" teriak pemuda berambut abu-abu itu sambil memukul meja yang berada didepannya
Ayahnya memberikan tatapan yang sangat tajam kearah pemuda itu, Souji tersentak akan tatapannya itu, dia mengepalkan tangannya lebih erat sampai-sampai kukunya menusuk telapak tangannya sambil hanya menghindarkan tatapannya dari tatapan tajam Ayahnya.
"Souji, semua yang kau perbuat akan kumaafkan jika kau melakukannya."
"Tapi aku tidak mau--"
Ayanya berdiri dari tempat duduknya dan mencengkram kerah baju Souji. "Tidak ada tapi-tapi!!! lakukanlah demi nama Seta dasar anak sial!!" bentak Ayahnya dengan keras.
Pemuda itu terdiam sebentar sebelum menampar tangan Ayahnya untuk melepaskan cengkramannya, lalu dia berjalan keluar dari ruang kerja Ayahnya dan menutup pintunya dengan sangat kasar.
Souji pergi menuju kamarnya dengan amarah besar yang sudah tidak dapat diredam lagi. "BANGSAT!!!!"
".........." wanita yang sejak tadi berdiri di depan ruangan itu hanya terdiam, dia lalu berjalan menuju ruang kerja Morinozuka, di dalam sana, dia tatap majalah yang ada di meja kerja suaminya.
" .....'Souji Seta yang merupakan Putra Morinozuka Seta dari Seta Group akan menikahi Mitsuru Kirijou yang merupakan pemimpin Kirijou Group yang tergolong masih sangat muda'...." ia baca berita utama dari majalah itu dengan dahi mengernyit, lalu ia tatap suaminya dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal. ".....Mori, kurasa kau sudah keterlaluan...."
"Ini demi perusahaan, kau diam saja Aoi, ini bukan urusanmu!" katanya sambil memberikan tatapan tajam kepada istrinya.
Istrinya terdiam sejenak, sebelum berkata kepada suaminya dengan nada suram. "....kau mau mengulang apa yang Ayahmu perbuat..? kau mau anak kita menjadi korban seperti aku...?"
Suaminya hanya tertawa sinis, "hah, korban? harusnya kau merasa beruntung karena bisa mendapatkanku berkat Ayahku, dan aku bisa menyelamatkan Ayahmu!"
"Kau hanya membuat Ayahku mengerjakan pekerjaan kotormu!!"
"ya, dan sekarang Ayahmu sudah menjadi detektif tua bangka yang kotor dan kau tidak bisa mengubahnya, Aoi."
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi seorang Morinozuka Seta, namun suaminya itu hanya tersenyum sinis.
"Aku memang benar kan? tidak usah mengelak, istriku tersayang."
"Selamanya aku tidak sudi menjadi istrimu!!!"
Tetap saja suaminya tersenyum sinis, bahkan sambil tertawa dengan tatapan paling dingin yang pernah ada.
SEMENTARA ITU
Perempuan detektif itu mengambil majalah itu dan membaca berita utamanya berulang-ulang, dia benar-benar tidak percaya akan apa yang dia baca.
Kekasihnya...kekasihnya yang sangat dia cintai....akan menikahi...orang lain...?
Dengan sigap perempuan detektif itu mengeluarkan handphonenya dari kantongnya, dia tekan beberapa tombol sebelum dia dekatkan handphonenya ke telinganya, setelah beberapa lama, telepon itu masih tidak diangkat-angkat juga, dahi perempuan detektif itu mengernyit, dia coba meneleponnya berkali-kali namun hasilnya nihil.
Dia tatap handphone itu, rasa kesal, rasa ingin tahu, dan rasa cemburu bercampur menjadi satu.
Naoto letakkan majalah itu pada tempatnya sebelum dia menekan beberapa tombol handphonenya lalu mendekatkannya ke telinganya, setelah beberapa nada dering, perempuan detektif itu mendengar suara.
"disini Dojima, ada apa Shirogane?"
".....aku menelepon untuk memberitahu bahwa aku akan membantu kepolisian, hanya itu Dojima-san." kata perempuan detektif itu dengan nada suara yang ketus.
"huh? ...uhm....baiklah, kita akan membicarakan tentang ini nanti, sampai nanti Shirogane."
Perempuan detektif itu mengangguk. "ya, sampai nanti." Lalu pembicaraan itu terputus.
Dia tatap hanphone itu sejenak sebelum dia mengantongi benda itu, lalu dia berjalan menuju rumahnya.
'...senpai.........bodoh!!'
BEBERAPA JAM KEMUDIAN, DI KAMAR NAOTO
Perempuan detektif itu keluar dari kamar mandinya, mukanya terlihat sedikit pucat, dan dengan nafas sedikit terengah-engah dia sedikit mengelus perutnya.
'ugh...aku lupa minum obat itu sebelum makan malam tadi....' ucapnya dalam hati.
Naoto duduk di kasurnya, tangannya meraih sebuah file yang berisi dokumen-dokumen mengenai Mitsuo Kubo dari atas meja kecil disamping kasurnya, dia buka file itu dan membaca dokumennya satu persatu.
"hm....Kubo pintar juga melarikan diri....." lalu perempuan detektif itu tersentak kaget saat mendengar suara-suara dari langit-langit kamarnya, dia melihat kearah langit-langit dengan dahi mengernyit.
'tikus ya...?'
BZZZZ....
Satu alisnya naik saat mendengar suara dering dari handphonenya yang menandakan ada SMS baru, dia pun meraih handphone yang berada dimeja kecil disamping kasurnya, lalu dia baca pengirim SMS itu, sekejap dahinya langsung mengernyit, perempuan itu melenguh dan melempar handphonenya ke kasurnya.
"......dasar senpai bodoh...!" gerutunya sambil meneruskan membaca dokumen-dokumen itu.
'maaf, tadi aku tidak bisa mengangkat handphoneku karena aku pergi keluar sebentar tanpa membawa handphone....ada apa Naoto?'
Adalah tulisan yang ada dilayar handphonenya, perempuan detektif itu membiarkan pesan itu tak terbalas karena masih merasa kesal karena Souji tidak menjelaskan kenapa dia akan menikah dengan orang lain....
...menikah......
Setetes air mata jatuh diatas dokumen itu, perempuan detektif itu mengusap air matanya yang mengalir deras, namun usahanya sia-sia, berapa kalipun dia mengusapnya, itu hanya membuat air mata itu mengalir lebih deras.
Naoto menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara isak tangisnya tidak terdengar, tangannya kini telah basah karena air matanya, nafasnya sudah tidak teratur, bahkan tangannya sedikit mencengkram wajahnya sendiri saking dia ingin menahan tangisannya, dia tidak ingin kakeknya maupun Yakushiji-san mendengarnya.
Perempuan detektif itu lalu dia mencoba mengusap air matanya lagi, berharap dia dapat berhenti menangis.
Namun sia-sia, rasa sakit yang dirasakannya terlalu besar untuk diredam, terlalu besar sampai rasanya dia ingin berteriak sekerasnya, memukul, maupun melempar...apapun, apapun yang dapat membuatnya dapat menahan rasa sakit itu.
Dia tidak ingin percaya ini benar-benar terjadi, dia berharap bahwa ini semua hanya mimpi, tapi dia tahu bahwa itulah kenyatannya, kekasihnya akan menikah, dan itu bukan dengannya, namun dengan orang lain, dengan seorang pemimpin perusahaan.
Perempuan itu jatuh terduduk diatas lantai, air matanya mengalir deras ke pipinya, kini isak tangisnya sudah tidak dapat diredam lagi, dia pun merelakan dirinya untuk menangis, dia sudah tidak peduli apakah nanti kakeknya atau Yakushiji-san akan mendengarnya menangis atau tidak, dia sekarang ini hanya ingin menangis.
Tiba-tiba handphonenya berdering, namun Naoto tidak peduli, dia hanya menekukkan lututnya, memeluknya dengan erat sambil tetap menangis, air matanya membasahi lututnya, dan dia tidak peduli, handphone telah berdering untuk kedua kalinya, dan dia masih tetap tidak peduli.
Saat ini untuk Naoto Shirogane, dunia telah mencampakkannya.
SEMENTARA ITU DI KAMAR SOUJI
PIPIPIPIPI..........
Wajah pemuda berambut abu-abu itu terlihat sedikit lega saat mendengar hanphonenya berdering, namun sesaat setelah dia melihat nama peneleponnya, wajahnya kembali datar, ternyata yang meneleponnya bukanlah orang yang dia nantikan, pemuda itu menghela nafasnya sebelum mengangkat handphonenya.
"ada apa Rise?"
".....senpai.....apa yang dikatakan majalah ini....benar?"
Dahi pemuda itu mengernyit, akhirnya temannya tahu siapa dia sebenarnya.
"senpai....adalah anak dari pemimpin Seta Group....? Dan senpai....senpai akan...?"
Souji menggertakkan giginya. "aku juga tidak mau melakukannya.......tapi pria bangsat yang adalah ayahku itu........."
lalu terdengar helaan nafas dari sang idola remaja itu. "...senpai, sekarang aku tidak akan bertanya lebih jauh mengenai ini, aku menelepon senpai karena ingin memberitahu......Mitsuo Kubo melarikan diri."
Mata pemuda itu terbelalak. "a-apa??"
"....masalah utamanya bukan itu......senpai, coba nyalakan TV senpai dan tonton berita Channel 7."
Pemuda itu menaikkan satu alisnya, lalu dia berjalan menuju TV yang ada dikamarnya, dia nyalakan TV itu dan mengubah channelnya menuju channel 7.
Dia dapat melihat bahwa saat ini sedang ditayangkan sebuah berita, terlihat dengan tulisan besar 'MITSUO KUBO, PELAKU PEMBUNUHAN YANG MENIRU PEMBUNUHAN DI INABA MELARIKAN DIRI!?' sebagai berita utamanya.
"kami akan tayangkan kembali adegan sesaat sebelum Kubo melarikan diri." kata pembawa berita itu sebelum video Mitsuo Kubo sebelum melarikan diri muncul.
Souji memperhatikan video itu baik-baik, mulut Mitsuo seperti bergerak-gerak, seakan-akan sedang mengucap suatu mantra, dia dekatkan wajahnya untuk melihat gerakan bibirnya, dia ingin tahu apa yang sebenarnya Mitsuo katakan, disaat akhirnya dia mengetahui apa yang dikatakannya, pemuda itu tersentak kaget.
"....senpai mengerti maksudku....?" tanya idola remaja itu dengan nada suara yang mengandung arti kekhawatiran didalamnya.
"Kubo....dia....."
"ya, mengingat Naoto-kun lah yang membuatnya jadi dicurigai......dan lagi, Naoto-kun saat ini mungkin dapat terlibat dalam pencariannya, walaupun dia sudah menolak untuk terlibat, tapi bisa saja Kubo..........."
Perempuan idola itu menghela nafasnya. "...dan aku sudah mencoba meleponnya dua kali tapi tetap tidak diangkat...bagaimana ini senpai?"
Genggaman pemuda itu terhadap hanphonenya menjadi sangat erat, diapun menggertakkan giginya, "baiklah, kalau begitu besok aku akan pergi ke sana....aku mohon, tolong kamu dan yang lain jaga Naoto sampai aku sampai sana ya...?"
"tentu saja senpai, kalau begitu aku akan memberitahu yang lainnya, sudah dulu senpai!" lalu pembicaraan pun terputus.
Dahi pemuda itu mengernyit, lalu dia tatap TV yang ada dihadapannya, dia pun membaca gerakan bibir Mitsuo itu lagi.
'Shirogane....Shirogane....Shirogane.....'
'.........aku akan menemukanmu........'
KEESOKAN HARINYA, DI YASOGAMI HIGH, PADA WAKTU PULANG SEKOLAH
"hey Naoto."
Perempuan detektif itu menggeram, lalu dia angkat kepalanya yang tadinya berbaring di atas lengannya untuk menatap pria yang ada di hadapannya......dengan mata yang merah dan sembab.
"Ada apa Kanji-kun?" tanya perempuan detektif itu dengan nada suara yang sedikit parau.
Pemuda itu menatapnya dengan tatapan bingung, sedikit penasaran kenapa matanya sembab....apa karena menangis?
'...oh...' pemuda itu akhirnya sadar kenapa mata perempuan detektif itu seperti itu, dia teringat apa yang Rise katakan kepadanya semalam, mengenai Mitsuo Kubo dan...Souji.
"uhm...Naoto.....m-mau pulang bareng?" tanyanya sambil menggaruk kepalanya, pipinya terlihat sedikit memerah.
Perempuan detektif itu mengedipkan matanya, sesaat dia terdiam untuk berpikir, lalu diapun mengangguk dengan sedikit tersenyum. Naoto pun berdiri, dia rapikan barang-barangnya lalu dia angkat tasnya, lalu mereka berdua pun berjalan bersama keluar kelas.
Kanji menatap kearah perempuan mungil yang berjalan disampingnya, pemuda itu tersenyum, walaupun senyuman itu memiliki arti rasa senang dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu.
'...maafkan aku Souji-senpai, aku tetap tidak bisa menghentikan perasaanku terhadap Naoto.....'
SEMENTARA ITU DENGAN SOUJI
'untung aku punya uang yang cukup untuk ke Inaba.....' pikir pemuda berambut abu-abu itu, lalu dia tatap pemandangan yang berada diluar jendela kereta itu.
Jarinya mengketuk-ketuk kursinya, ekspresinya berubah menjadi ekspresi yang tidak sabar, tidak lama kemudian dia menghela nafasnya.
"....dan untung aku bisa kabur......." gumamnya dengan pelan.
"Yasoinaba....Yasoinaba....."
Lalu pemuda itu pun berdiri, bersiap untuk menuruni kereta. Setelah beberapa saat, akhirnya keretapun berhenti, dengan langkah cepat dia berjalan keluar, tepat saat dia keluar dari kereta itu, dia mempercepat langkahnya, pemuda itu berlari keluar dari stasiun, menuju pemberhentian bis.
'...Naoto......Naoto....!' ucapnya dalam hati, pemuda itu tidak sabar untuk bertemu kekasihnya, dia merasa sangat khawatir dengan keadaannya, dan bukan hanya karena itu, pemuda itu memang sangat ingin bertemu dengan perempuan detektif itu, dia ingin memeluknya dengan erat dan tidak ingin melepasnya.
Perempuan detektif itu dan pemuda berwajah sangar berhenti di depan sebuah rumah, Naoto menengok kepadanya, "...terima kasih sudah mau mengantarkanku, Kanji-kun."
"eh....uhm....tidak masalah...." kata pemuda itu dengan pipi sedikit memerah.
Pemuda itu terdiam sejenak, lalu dia menyentuh pundak perempuan detektif itu, pemuda itu menatapnya tepat dimata, perempuan detektif itu menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kanji-kun....?"
Kanji mencengkram pundaknya dengan sedikit erat. "Naoto....a-aku...."
Pemuda itu terdiam lagi, pipinya terlihat memerah, dia menutup matanya, lalu dia menarik tubuh mungil perempuan detektif itu ke dalam dekapannya, lengannya yang kuat mencegah perempuan bertubuh mungil itu untuk lari.
Perempuan detektif itu tersentak kaget, bukan karena tiba-tiba pemuda itu memeluknya, tapi karena ada rasa hangat yang menyentuh bibirnya.
......Kanji....menciumnya.
BRUGH!
Terdengar suara benda jatuh dari tempat agak jauh dari mereka, sebuah tas jatuh tergeletak di atas tanah, dan pemilik tas itu adalah seorang pemuda berambut abu-abu, yang merupakan kekasih dari perempuan detektif yang saat ini sedang mencium pria lain.
Matanya terbelalak, tidak percaya akan apa yang terjadi di depan matanya.
".....Nao...to..?"
TO BE CONTINUED
Saiia sebagai author yg menulis fanfic ini, nangis-nangis buat nulis adegan terakhir.......KARENA SAIIA ANTI KANNAO!!!! (TToTT)!!!
huhuhu....kok jadinya tentang perselingkuhan gini yah? jangan lempari saiia sampah ya? XP
blom....ini blom sampe bagian tragisnya......nanti masih ada 'itu' dan 'ITU'! dan 'itu' bukanlah tentang perselingkuhan....mwehehehehe!! XD
btw, minna-san,. saiia mo kasih kabar klo saiia membuat fanfic baru, dengan kolaborasi bersama Nakamura Shizuru, berjudul "The Past's Darkest Hour", mohon dibaca en direview yaaaahhh??? XDD
