Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Hetalia Cardverse. USUK.


Sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi. Searah dengan angin, kemudian menancap kukuh tepat pada sasaran. Jantung angsa. Sepertinya. Unggas putih itu menggelepar sebentar, meregang nyawa. Beberapa ekor kawannya telah terbang pergi meninggalkannya sendiri.

Sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk seringaian. Tawa kecil terlepas dari mulutnya. Dengan sedikit berlari ia menghampiri target buruannya. Cukup untuk hari ini. Ia telah berhasil mengumpulkan beberapa ekor angsa dan menjualnya pada orang tua yang tinggal di perbatasan. Tadinya ia berniat langsung pulang setelah membeli bahan makanan dan sebotol wiski untuknya, tapi mengingat ekspresi wajah adiknya saat ia bersiap pergi tadi pagi, ia sedikit iba. Beberapa hari yang lalu Arthur pernah menyatakan ingin makan foie 'gras. Dari mana ia bisa tahu hidangan itu, Allistor tidak paham lagi. Pasti dari buku-buku bekas yang kadang ia beli di pasar kalau sedang berbaik hati. Ia tahu adiknya bosan berada di dalam rumah seharian. Anak itu pasti butuh hiburan. Allistor memang tidak mungkin menyediakan makanan aneh itu untuk Arthur, tapi angsa panggang kedengaran menarik baginya. Setidaknya jauh lebih baik daripada sup kodok yang ia santap tadi malam. Entah karena Arthur yang bodoh sekali dalam hal memasak atau Allistor yang salah menangkap kodok, sensasi pahitnya masih bisa ia rasakan di ujung lidah.

Allistor mencabut anak panah, kemudian mengeluarkan belati yang terselip di ikat pinggangnya dan menyayat dada angsa tersebut. Tangan kirinya menggenggam kedua kaki angsa, mengangkatnya dalam posisi terbalik. Darah mengucur mengotori lapisan lumut yang tumbuh subur di pinggiran danau. Ia menghela nafas dan menunggu. Kepalanya menengadah. Langit senja dihiasi semburat jingga. Posisi matahari sudah rendah dan sinar emasnya hanya tinggal sisa-sisa yang mengintip dari balik rimbun daun-daun pohon jarum. Burung-burung terbang bergerombol kembali ke sarangnya. Dari kejauhan mulai terdengar lolongan serigala, menjadi pertanda baginya untuk segera kembali. Allistor memasukkan hasil buruannya ke dalam tas goni bersama bahan makanan lain dan bergegas pergi. Ia harus cepat-cepat kalau tidak mau berurusan dengan anjing hutan. Penciuman mereka amat tajam dan Allistor tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Ia dihadang sekawanan anjing liar kelaparan dan terpaksa mengorbankan tangkapannya hanya agar bisa kabur dengan anggota tubuh utuh. Dan karena tidak ada lagi yang bisa dimasak, sup kodok sialan itu menjadi satu-satunya jalan keluar. Makanan menjijikkan itu ide gila Arthur. Allistor bersumpah tidak akan pernah makan makanan yang seperti itu lagi.

Sepasang kaki beralas sepatu boots berlari dengan kecepatan sedang. Menghentak-hentak bumi, melompati akar pohon, menginjak daun-daun kering yang tersebar tanpa peduli.

Allistor tidak punya waktu untuk mengagumi langit senja, atau bintang utara yang nampak terang karena tiadanya bulan. Ada satu nyawa lain yang jadi tanggungannya, menunggu kepulangannya. Meski selama sepuluh tahun terakhir anak itu bersikap cukup manis dan menuruti perintahnya untuk tidak menginjakkan kaki di luar rumah, Allistor tidak bisa tenang sebelum memastikannya sendiri; Arthur duduk di sudut favoritnya di dekat jendela, berpangku tangan menanti ia pulang. Kemudian sepasang mata emerald itu akan memandanginya penuh harap agar Allistor mengizinkannya pergi.

Dia menggelengkan kepala, menolak mentah-mentah ide yang muncul dalam benaknya. Tidak mungkin dia membiarkan Arthur pergi. Terlalu beresiko. Ada banyak binatang buas yang menunggu untuk dapat memangsanya. Dan selama Allistor masih hidup, ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Arthur boleh memohon, merengek, menangis, memanggilnya jahat dan sebagainya. Tapi ia tidak boleh melangkahkan kaki ke luar rumah.

Laju larinya melambat dan kemudian berhenti.

Ada sesuatu yang menarik hatinya. Belukar mawar. Warna biru. Alis tebalnya mengernyit, sedikit tidak mengerti mengapa tanaman itu tumbuh di sekitar sini. Hutan yang ia lalui ―dan tempat di mana rumah mungilnya berada― adalah zona buffer antara Kerajaan Diamond dan Spades. Dia sudah mengunjungi kedua kerajaan dan tahu betul perbedaan lingkungannya. Nuansa kuning Diamond dan biru pada Spades. Tapi zona buffer tempat tinggalnya sekarang merupakan daerah antara yang tidak masuk ke dalam wilayah salah satu dari keduanya. Seharusnya daerah ini netral. Seharusnya tidak ada sesuatu yang khas di sini, apalagi simbol kerajaan.

Mawar biru merupakan simbol Kerajaan Spades.

Allistor menggemeretakkan gigi-giginya. Mata emeraldnya menyala murka. Dia tidak peduli secantik apa bunga biru itu, tapi ia tidak akan membiarkan mereka tumbuh di sini. Sambil menggeram ia menarik satu-satunya kuntum bunga, yang bahkan belum mekar sempurna, dari tangkainya. Tidak peduli duri melukai telapak tangannya. Ia meremas kelopak biru dalam genggamannya penuh kebencian, lalu membuangnya. Aksinya tidak cukup sampai di situ. Waktunya memang sempit, karena itu ia harus bergegas. Allistor melingkarkan tangannya pada pangkal batang dan menariknya tanpa ragu. Tentu saja duri-duri yang tumbuh di sana melukainya. Tapi pengorbanan kecil ini perlu. Dia tidak akan membiarkan alam menunjukkan jalan menuju adiknya. Tanaman bodoh ini tidak boleh menghancurkan usahanya selama bertahun-tahun untuk menyembunyikan adiknya.

Arthur tidak boleh ditemukan oleh Kerajaan Spades.

Ia terlahir dengan sebuah tanda mirip tato pada leher sebelah kanannya. Tato sekop warna biru tua yang legendaris. Tato ratu. Ibunya tidak sempat mengetahui hal itu. Bahkan ia tidak hidup cukup lama untuk mendengar suara tangisan putra keduanya yang memecah malam sunyi. Allistor masih sangat muda, usianya baru 7 tahun saat itu. Tapi kehidupan yang berat telah menempanya menjadi anak laki-laki yang cerdas dan kuat. Ia tahu betul apa arti tato pada leher adiknya, dan apa yang harus ia lakukan. Bahkan ia tahu kalau ia tak punya waktu untuk menangisi kematian ibunya. Kau mungkin menyebutnya tak punya hati, karena ia meninggalkan begitu saja tubuh ibunya terbujur kaku di atas tempat tidur, di atas genangan darahnya sendiri. Sementara ia mendekap tubuh merah mungil adiknya dan berlari pergi. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang, terus berlari menembus sunyi malam mencekam.

Hingga selama dua puluh tahun bertahan hidup di tengah hutan. Di rumah mungil yang dulu dibangun ayahnya sebagai kabin untuk liburan. Dua puluh tahun ia menyembunyikan Arthur dari Kerajaan Spades. Dari takdirnya. Dari statusnya sebagai ratu. Ia pernah berencana menghapus tato itu, tapi melukai kulit putih pucat Arthur bukan ide yang bijak. Ia tidak tega melihat adiknya terluka bahkan sedikit saja.

Kalau tak bisa menghapus tato sekop itu, maka ia harus menghapus tiap petunjuk yang akan menunjukkan keberadaan adiknya.

Allistor kembali meneruskan langkahnya, tak peduli darah mengalir dari telapak tangannya. Desir angin mempertajam perih yang menjalari syarafnya. Laju larinya dipercepat. Langit semakin gelap dan pepohonan mulai membentuk bayang-bayang mengerikan. Adiknya sudah pasti di rumah menunggu dengan kelaparan. Kedua kakinya terus mengayun pergi.

Sepuluh menit kemudian sebuah rumah mungil di kejauhan tampak olehnya. Allistor mempercepat larinya. Ia ingin segera bertemu adiknya.

"Arthur, aku pulang!" Allistor berdiri di depan pintu, menunggu. Tapi tidak ada jawaban. Tidak terdengar derap langkah Arthur berlari untuk membuka pintu dan menyambutnya. Keningnya berkerut.

"Arthur?" Tangannya terulur, memutar gagang pintu. Terbuka. Tidak terkunci. Sepasang mata emeraldnya memicing. "Arthur, di mana kau?" Suaranya terdengar menggema menyapa telinga.

Allistor menjatuhkan wadah panah dan tas yang ia sandang, langsung mencari keberadaan adiknya di tiap sudut rumah. Tidak banyak tempat sembunyi untuk Arthur. Rumah mungil ini hanya memiliki dua kamar tidur, dapur sekaligus ruang makan, dan ruang tengah. Dalam waktu dua menit ia sudah menyusuri seluruh penjuru rumah, dan tidak ada tanda-tanda Arthur di mana pun.

Ia berdiri di dekat meja di ruang tengah. Ada secangkir teh yang isinya tinggal setengah. Tidak biasanya Arthur menyisakan minumannya. Allistor duduk di kursi dan menyibak tirai biru usang yang membingkai jendela. Rumah megah bercat abu-abu di seberang terlihat suram seperti biasa. Gelap dan tak berpenghuni, terabaikan selama sepuluh tahun lamanya. Tidak mungkin Arthur pergi ke sana. Terakhir kali ia menginjakkan kaki ke luar rumah, sesuatu yang buruk terjadi padanya di rumah itu. Tidak mungkin Arthur berada di sana.

"Arthur?"

Dia masih tidak percaya tidak mendapati adiknya di mana pun di dalam rumah. Jadi Allistor mencari sekali lagi, dengan jantung yang berdebar dua kali lebih cepat. Kali ini ia lebih teliti, memeriksa kolong tempat tidur, bahkan di balik pintu lemari dengan cermat. Siapa yang tahu Arthur mencoba mengerjainya dan malah jatuh tertidur di sudut sempit.

Pada ulangan yang ketiga dengan hasil yang sama, Allistor bergegas mencabut pedang pajangan di atas perapian dan berlari kembali ke dalam gelap hutan. Sepertinya Arthur bertindak bodoh lagi dan melangkahkan kakinya lebih jauh kali ini. Allistor mencatat dalam hati untuk memborgol tangan Arthur pada teralis jendela, atau mengurungnya dalam lemari lain kali.

Ia terus berlari menyusuri hutan sambil meneriakkan nama adiknya kepada gelap malam. Sepatu bootsnya menginjak sisa-sisa kelopak biru yang tadi ia buang.


Pertemuan dengan para petinggi kerajaan telah lama usai. Yang masih tinggal di singgasananya adalah Raja Edward, dengan Jack Yao berdiri di sampingnya. Sang ratu baru telah dibimbing Hedervary kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pangeran Alfred juga telah kembali ke ruangannya. Raja Edward sengaja menunggu semua orang pergi untuk berdiskusi pribadi dengan tangan kanannya.

"Apa yang ingin Anda bicarakan, Yang Mulia?" tanya Yao. Suaranya pelan seperti bisikan.

Raja Edward membenarkan posisi duduknya. Alisnya bertautan. Ia menoleh kepada Yao dan memberi isyarat pada pria Asia tersebut untuk mendekatkan telinganya. Mendengarkan rahasia.

"Ratu sudah tidak perawan lagi."

Muka Yao sedikit memerah mendengarnya. Ia menarik diri, berdehem dan meneruskan posisi siaga. "Tentu saja, Yang Mulia."

Raja Edward menggelengkan kepala. "Bukan, bukan itu! Bahkan sebelum aku melakukannya dia sudah tidak perawan!" tukasnya murka. Tak lagi peduli untuk merendahkan suaranya, yang menggema menyapa telinganya sendiri.

"Ma-maksud Anda?" Yao bertanya dengan terbata.

Sepasang mata biru memicing tajam. "Sudah jelas, kan? Dia tak lagi suci. Aku tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja! Aku tidak terima ratuku dinodai dulu!"

Hei, dia kan raja! Mana mungkin menerima bekas seseorang?

Jack Yao menyipitkan mata segarisnya. "Jadi, apa yang ingin Anda lakukan, Yang Mulia?" Ia bertanya.

"Dia punya seorang kakak, kan? Aku curiga orang itu yang telah melakukannya. Cari dia dan bawa kemari!" titah Raja Edward.

Yao menganggukkan kepalanya hormat, kemudian bergegas pergi.

Sementara di balik pintu mahoni tebal itu Pangeran Alfred terdiam mengerutkan keningnya. Ia berpura-pura sibuk mengelap pegangan vas bunga saat Yao keluar dari ruang pertemuan. Jack tidak mempertanyakan keberadaannya lebih jauh. Ada hal yang lebih penting daripada meladeni sang pangeran. Yao melenggang pergi.

Tangan Alfred yang tengah meraba kelopak mawar biru terhenti. Kabar mengejutkan baru saja ia dengar. Sang ratu telah ternoda sebelum koronasi. Ia kira Arthur seorang pemuda yang polos. Tapi bagaimana pun juga, pepatah bilang jangan menilai buku dari sampulnya. Ia bahkan tak tahu apa yang ada di dalam hati Arthur, mana boleh begitu saja menarik kesimpulan.

Karena itu ia harus lebih dulu menemukan kakak Arthur. Seorang pemuda berambut merah api, menurut cerita yang ia dengar dari Arthur. Tidak akan sulit mencari orang dengan ciri-ciri demikian. Ia hanya harus bergerak lebih cepat dari Yao.

Alfred bergegas menuju ruangan pribadinya untuk mengambil perlengkapan. Ia akan beralasan ingin berkuda keliling kerajaan. Dan tanpa dikawal pasukan Alfred memacu kuda putihnya berderap pergi.


Zona buffer antara Diamond dan Spades begitu sunyi seperti tanpa penghuni. Pohon-pohon berserak seenaknya tanpa aturan, tanpa penataan yang disengaja. Sedikit menyusahkannya memacu kuda, tak ada jalur tetap di sana. Mawar biru simbol Kerajaan Spades tak lagi terlihat, hanya semak-semak perdu dan belukar hijau. Tupai-tupai berlarian pada dedahanan, bercicit berisik. Sementara gemericik air sungai terdengar menyapa telinga, menyejukkan. Alfred memacu kudanya melambat. Ia perlu memperhatikan tanda-tanda yang pernah disebutkan Arthur. Tapi semuanya terlihat sama. Pohon-pohon berdaun jarum yang menjulang tinggi ke angkasa. Gerombolan bunga kertas liar. Lapisan lumut pada patahan kayu pohon yang telah lapuk. Dia tidak menemukan rumah di tengah hutan. Dan Alfred kira ia sudah menjelajah sejauh yang ia mampu. Tentu saja, memangnya siapa yang mau hidup susah di sini padahal bisa hidup dengan tenang di lingkungan kerajaan? Hanya buronan dan orang yang menyembunyikan sesuatu. Atau seseorang lebih tepatnya. Alfred yakin Allistor tahu tentang tato ratu yang dimiliki Arthur. Alfred yakin Allistor sengaja menyembunyikan Arthur.

Sepasang mata birunya memicing menangkap sebentuk rumah di kejauhan. Alfred memacu kudanya cepat, menyibak lebat ilalang yang menghalang.

Ia melompat turun dari pelana dan berdiri di depan pintu. Meragu antara akan mengetuk atau mendobrak masuk. Arthur bilang kakaknya seorang pemburu ulung, jadi Alfred menghunus pedangnya untuk berjaga-jaga. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mempersilakan dirinya masuk secara paksa. Tidak butuh banyak tenaga untuk merusakkan engsel pintu, membuatnya terbuka. Alfred melangkah masuk dengan pedang bersiaga.

Jujur saja ia sedikit merasa klaustropobik dengan tempat sempit, terbiasa dengan luasan lebar istana. Dia tidak mengerti bagaimana orang bisa bertahan hidup di tempat yang bahkan lebih berantakan dari kandang kuda. Baju-baju berserakan di lantai dan di atas meja. Peralatan makan kotor menumpuk. Bunga-bunga yang tumbuh membingkai jendela layu tak terawat.

Apakah benar ini tempat tinggal Arthur dan kakaknya?

Alfred berangkat memeriksa ruangan-ruangan di dalam rumah. Tidak ada bukti pasti kalau Arthur pernah tinggal di sini. Tidak ada potret diri tergantung pada dinding. Alfred hampir menjerit ngeri saat ujung sepatunya menendang tengkorak kering. Mengerikan. Dia tak sudi memeriksa apakah itu asli atau bukan.

Ia tengah menggeledah isi lemari saat ujung tajam belati ditekan pada belakang lehernya. Seketika itu Alfred membeku, menghentikan pencariannya.

"Siapa kau?" tanya suara parau dengan nada curiga.

Rambut merah. Allistor. Alfred melirik dari pantulan pada kaca.

"Aku―"

"Ah, Pangeran Alfred, aku tahu." Tekanan pada belakang lehernya menguat, membuat Alfred berjengit menahan sakit. Pedangnya diambil paksa dari tangannya, dibuang jauh. "Apa yang kau lakukan di sini seorang diri?"

"Aku hanya―"

"Mana Arthur? Aku tahu kalian menangkapnya!"

Alfred mengerang pelan saat lehernya sengaja dilukai.

Alfred terpojok. Bergerak sedikit saja, Allistor dapat membunuhnya dengan sekali tusuk. Harusnya ia tidak pergi sendiri. Paling tidak dikawal oleh prajurit kepercayaannya. Alfred telah bertindak gegabah seperti biasa. Dia tidak akan menjadi raja yang baik jika terus seperti ini. Itu pun kalau ia bisa lolos dari Allistor dalam keadaan hidup.

"Katakan, apa yang telah kalian lakukan pada Arthur?!"

Allistor memutar Alfred dan menghempaskan tubuhnya pada bagian kaca lemari dengan keras. Berhasil memecahkannya. Potongan kaca yang tajam menusuk-nusuk punggungnya, serpihannya berjatuhan ke atas lantai. Belati yang ujungnya bernoda darah kembali ditempelkan pada lehernya. Kali ini tepat menekan nadi. Alfred mendesis perih.

"Arthur baik-baik saja! Dia hanya― aargh!" Punggungnya kembali dipaksa beradu dengan pecahan kaca.

"Omong kosong! Aku melihatnya sendiri, dia terlihat begitu tersiksa!"

Alfred meringis menahan perih. Tapi penderitaannya tak bertahan lama. Tiba-tiba saja Allistor ditarik dijauhkan darinya, diringkus dan dijatuhkan paksa. Rentetan kata makian keluar dari mulutnya. Sepatu boots berujung lancip mendarat pada punggung Allistor, membuatnya menunduk paksa.

"Oh, Tuhan. Aku belum pernah mendengar orang memaki begitu lancar seperti membacakan sayembara." Sebuah seringaian lebar menghiasi wajah pria yang kemudian menganggukkan kepalanya hormat kepada Alfred. "Pangeran Alfred, kau baik-baik saja?"

"Uh, senang kau datang, Mathias."

Alfred menghela nafas lega, mengusap-usap bagian belakang lehernya yang terluka. Punggungnya memang terasa perih, tapi ia tak berani menyentuhnya sendiri.

"Haha, mana mungkin aku membiarkanmu berkeliaran seorang diri? Jack akan membunuhku kalau sampai ia tahu." Mathias tertawa lepas. "Buronan nomor satu Spades, eh? Aku harus mendapat promosi tinggi dengan tangkapanku ini."

Alfred hanya mengibas-kibaskan tangannya sambil lalu. Ia terlalu sakit untuk meladeni kelakaran Mathias dan terlalu enggan untuk menginterogasi Allistor. Si rambut merah ini tidak ragu-ragu melukainya, jadi Alfred tidak yakin kalau Allistor bersikap baik pada Arthur. Mungkin memang benar tuduhan ayahnya pada pemuda ini. Karena dilarang keluar, Arthur hanya bertemu dengan kakaknya, kan? Tentu saja apa pun yang terjadi pada Arthur merupakan perbuatan kakaknya, tidak salah lagi.

"Bawa saja dia ke istana dan biarkan Yao mengurusnya."

Mathias menyeringai. "Tentu, Pangeran. Tentu."

Orang ini pantas mati dan Alfred tak peduli.


Kedua tangannya diikat di belakang menggunakan tali kasar yang melukai pergelangannya. Mulutnya disumbat hingga tak bisa bicara. Dan ia harus menahan perih di ulu hati saat Mathias menggebuknya dengan lutut, hanya karena ia memberontak ingin melepaskan diri. Pada akhirnya Allistor dibawa ke istana dengan diikat pada kuda seperti upeti. Beruntung ia tidak diseret sepanjang jalan, karena ia tidak yakin akan tetap hidup jika demikian. Selanjutnya yang Allistor tahu, ia dipindah tangan kepada prajurit raja, diseret ke dalam istana seenaknya seperti karung kentang, kemudian dilempar ke hadapan raja seperti dadu undian.

Dia benar-benar tidak mendapat perlakuan yang pantas. Atau pantas menurut mereka. Perlakuan yang pantas untuk buronan. Heh, memangnya kejahatan apa yang telah ia lakukan?

"Allistor Kirkland." Namanya disebut dengan desisan penuh bisa. Mata biru sang raja memicing tajam ke arahnya. "Aku tidak peduli kau kakak ratu atau apa, kau telah melakukan banyak kejahatan!"

Dia ingin tertawa mendengarnya, sungguh. Tak peduli rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, karena, omongan raja tua bangka di hadapannya sungguh menggelikan. Allistor mendengus tertawa, tidak menghiraukan perih pada tulang rusuknya. Kalau saja kain sialan ini tidak membungkam mulutnya, pasti ia sudah tertawa terbahak-bahak.

Sudut mata sang raja mengejang. Dia tahu sedang ditertawakan.

"Yao, biarkan dia bicara!" Dalam sekejap kain hitam yang menutup mulutnya dilepas. Akhirnya ia bisa bernafas dengan bebas.

"Ratu? Heh, kau pasti bercanda. Mesum sekali dirimu menikahi orang yang bahkan lebih pantas menjadi anakmu!" seru Allistor.

Raja Edward menggeram murka. "Apa katamu?!"

"Kau tuli, ya? Apa aku perlu mengatakannya lebih keras, Raja pedofil! Tua bangka tidak tahu diri!"

Bagian belakang kepalanya dipukul dengan keras, hingga semua berputar dan menggelap. Sebelum kegelapan seutuhnya menariknya pergi, Allistor dapat menyaksikan samar-samar sosok Arthur berlari ke arahnya, meneriakkan namanya. Tapi adiknya terlebih dahulu diamankan oleh sang raja. Ditarik pergi dengan paksa.

Lalu gelap.


AN : Side story, tentang sepenggal kisah masa lalu Arthur dan Allistor, baca Soup.