CARTIER

Chapter 3. Meet again !

.

.

.

.

.

.

Cast

Oh Sehun

Xi Luhan

And other cast

Disclaimer

Sehun milik Luhan. Luhan milik Sehun. Mereka ber dua saling memiliki :D

Semua tokoh milik keluarga masing-masing.

Ide cerita dan cerita tentu milik saya, Lin a.k.a YWALin7

Warn! : YAOI, Boys Love, Sho-ai, BoyxBoy, Abrsurd, Typo (banyak), nista, dll.

Summary

Kehidupan Luhan berubah 180 derajat berbeda setelah bertemu namja albino itu./"konon katanya, orang yang memiliki gelang ini tak akan bisa terpisahkan dengan orang yang juga memiliki gelang pasangannya"

Don't Like, please, Don't read it, 'kay ? ;)

Happy readings!.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu telah berlalu. Liburan di Jeju pun tak begitu menyenangkan lagi bagi mereka.

Mau bagaimana lagi. Luhan kelihatan aneh, tak mau diajak keluar setelah hari dimana ia tersesat. Entahlah, ia tak mau menceritakannya. Membuat ketiga temannya bingung dan khawatir.

Tapi, setidaknya, 3 hari terakhir anak itu mau diajak keluar untuk menikmati pulau Jeju. Itu pun juga karena paksaan dari Xiumin dan godaan dari Baekhyun.

Kini mereka sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Bersantai di rumah, menunggu dua minggu lagi liburan musim panas selesai dan mereka akan melanjutkan studi mereka di kampus.

Uugh,

Dan itu berarti Luhan harus menyelesaikan tugas laknat dari Park Songsaenim.

"Aah~ capeknyaa..." desahnya lelah.

Ia baru saja sampai di apartemennya. Ia cukup malas untuk merapikan barang-barangnya. Berbaring sejenak dikasur tercintanya mungkin tak masalah. Dengan itu ia pejamkan matanya.

Sedetik kemudian, matanya terbuka kembali. Geez, kenapa bayang-bayang itu belum juga hilang ? Sungguh itu membuatnya susah untuk tidur. Tiap ia ingin memejamkan mata, walau sebentar, ia akan teringat oleh kejadian 'nista' itu.

Kenapa ?

Kenapa ia harus teringat bagaimana bibir tipis itu menyentuhnya, membelai belahan bibir mungilnya dengan lembut dan manis ?

Kenapa juga ia merasa ada getaran aneh saat mengingat kejadian nista itu ?

Damn, kepalanya perlu didinginkan sepertinya.

Luhan bangkit dari kasur empuknya. Ia perlu mandi. Yeah, siraman air dingin adalah hal yang perlu Luhan lakukan sekarang untuk mendinginkan otaknya yang panas. Mungkin ini karena pengaruh suhu udara di Seoul yang sedang panas. Ya tentu saja karena ini musim panas.

Syuuurrr~

"Aaah~ segar sekali~ Benar-benar menyegarkan..."

Mari kita tinggalkan saja namja rusa yang kini sedang berdendang ria di dalam kamar mandinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yoo Sehun, Kai..."

Duo namja berbeda warna kulit itu serentak berhenti dan menoleh ke arah kiri. Dimana asal suara yang memanggil mereka berasal.

"Chanyeol hyung ?" Kata mereka berdua serempak.

Pemuda bertelinga lebar ala 'Yoda' itu menunjukkan senyuman lima jari ciri khasnya. Menampilkan deretan gigi putih miliknya yang mengkilap.

Wow, silau man~

"Hei, apa yang kalian lakukan disini ?" Ujar namja tiang listrik itu, Park Chanyeol, sambil merentangkan kedua lengannya, merangkul kedua namja yang lebih pendek darinya.

"Nonton bola" tukas namja berkulit lebih gelap atau tan, Kai a.k.a Kim Jongin. "Tentu saja kami mau mendaftarkan diri lah, hyung."

"Mwoo ? Kalian akan kuliah disini ?" Tanya Chanyeol heboh. Matanya yang sudah bulat makin membulat (?)

"Aiish, hyung. Tak perlu seheboh itu." Desis Sehun.

"Ne, hyung. Kami akan kuliah disini. Kenapa ?"

"Wohohoo, tak kusangka kalian akan masuk ke Yonsei. Apalagi kau, Sehun."

"Aku ? Kenapa dengan ku ?"

"Bukankah kau ikut orang tua mu ke Jepang ? Ku dengar kau ingin kuliah disana."

"Ani. Lebih baik disini." Jawab Sehun singkat. Ia pun berjalan lebih cepat, mendahului dua orang yang memandangya heran.

"Oh ya ? Padahal dulu dia suka sekali membahas soal sekolah di Jepang." Chanyeol menurunkan tangannya dari bahu Kai. Menatap heran punggung Sehun yang makin menjauh "Aneh."

"Entahlah hyung. Sepulang dari Jeju dia jadi aneh." Ujar Kai. Chanyeol menolehkan kepalanya menghadap Kai, sebelah alisnya terangkat.

"Eoh, jinja ? Waeyo ? Kenapa bisa begitu ? Ada apa dengan Jeju ?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Chanyeol tanpa henti.

Kai hanya mengendikkan bahunya, tak tahu alasan pasti mengapa Sehun berubah pikiran untuk melanjutkan pendidikannya di Korea. Padahal sewaktu SHS, Sehun sendiri yang bilang ingin kuliah di Tokyo, Jepang.

Katanya, di Jepang wanita nya lebih cantik dan menggoda daripada di Korea. Apalagi Sehun itu bisa dibilang seorang otaku, karena koleksi anime, komik dan berbagai merchandisenya. Tentu saja wajar jika Sehun memilih untuk tinggal di negara kelahiran ibundanya.

Tapi kali ini Sehun terlihat aneh semenjak pulang dari pulau Jeju, menurut Kai.

Kai memang ke Jeju bersama Sehun dan teman-teman club dance SHS lainnya. Berlibur bersama, mengingat Sehun akan pergi dan tinggal di negara sakura tersebut. Tapi yang didapatinya, Sehun menghilang seharian saat anak itu pergi membeli makanan. Semuanya khawatir dengan menghilangnya Sehun secara tiba-tiba tentu saja. Teman-teman Sehun panik, hampir saja menghubungi polisi jika saja Sehun tak mengirimi pesan pada mereka untuk tak mencarinya.

Yang dikhawatirkan pun kembali di malam hari dengan senyum cerah dan kabar berita yang mengejutkan bagi mereka. Bahwa ia tak jadi ke Jepang dan memilih tetap tinggal di Seoul. Semuanya bertanya kenapa, tetapi hanya di jawab dengan cengiran aneh sang maknae.

"Yang ku tahu, seharian ia menghilang tanpa kabar. Malamnya ia pulang dan berubah pikiran begitu saja. " jelas Kai

"Hm, baiklah. Itu tidak masalah." Chanyeol mengangguk-anggukan kepala. "Lagipula itu hal yang bagus. Kita bisa satu kampus sekarang."

Kai menjawab dengan anggukan.

"Baiklah, Kai. Sebaiknya kau kejar bocah itu." Jari telunjuk Chanyeol mengarah ke depan, dimana Sehun berjalan semakin menjauh. "Kelihatannya Sehun meninggalkanmu."

"Well, aku pergi. Sampai jumpa, bro." Pamit Chanyeol sambil menepuk bahu Kai.

"Yaak, hyung. Teganya kau..." Kai hanya menatap Chanyeol yang sudah berlari meninggalkannya entah kemana. Kai pun memandang ke depan dan mendengus sebal

"Yaak, Cadell! Chankamaneyooo ! Jangan tinggalkan aku!" Kai berlari menyusul Sehun yang sudah berjalan jauh. Tampak tak terlalu peduli dengan teriakan cempreng sobat gelapnya itu.

Aah, Sahabat albino nya ini benar-benar menyebalkan rupanya.

.

.

.

.

.

.

.

Liburan musim panas pun berlalu. Mereka yang berlibur mulai melanjutkan aktivitasnya kembali.

Luhan pun begitu. Melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Berangkat kuliah, kerja part time, mengerjakan tugas, dan lain-lain yang biasa mahasiswa layaknya dirinya lakukan.

Syukurlah, tugas dari Park songsaenim sudah selesai ia kerjakan. Ia memang cerdas, tentu tak kesulitan mengerjakan tugas tersebut. Tinggal mengumpulkannya saja dan semua beres. Ia bisa melanjutkan kegiatannya seperti biasa.

Normal.

Bayang-bayang peristiwa 'nista' itu pun berangsur-angsur hilang. Terima kasih pada sahabat-sahabatnya. Xiumin, Lay dan Baekhyun yang berkunjung ke apartemennya saat libur masih berlangsung. Membuat pikirannya menjadi segar kembali.

Apalagi di tambah Kyungsoo, Do Kyungsoo. Sepupu Baekhyun yang akan kuliah di Yonsei, dimana Luhan dan kawan-kawannya menimba ilmu, ikut hadir meramaikan apartemen Luhan yang biasanya sepi.

Mereka hanya melakukan hal yang biasa mereka lakukan. Bermain game dengan Xiumin, memasak bersama Kyungsoo, mendengarkan berbagai macam jenis ocehan dan kicauan Baekhyun. Atau bermain gitar bersama Lay, mencoba membuat lagu baru, walau nada-nada ciptaan sang jenius selalu berakhir suram.

Atau terkadang mereka saling menjahili maupun menggoda satu sama lain. Yang diakhiri dengan kejar-kejaran atau menggelitiki tubuh satu sama lain sampai semuanya lemas karena lelah tertawa keras.

Walaupun begitu, Luhan sungguh merasa senang. Pasalnya ia bisa menghilangkan rasa rindunya pada kampung halamannya dan juga bayang-bayang 'nista' tersebut.

Sungguh, dia bersyukur. Tuhan masih sangat menyayanginya.

Iya kan ?

.

.

.

.

.

07.49 KST

Luhan kini berjalan di koridor kampus nya, menuju ruang kelasnya. Hari ini masih pagi. Hanya beberapa mahasiswa yang sudah datang. Entah kenapa ia sedang ingin berangkat pagi-pagi ke kampus.

Mungkin karena moodnya yang baik ?

Ah, mungkin saja.

Ia pasang headphone berwarna ungu dengan lambang 'b' di kedua sisinya. Mendengarkan musik di pagi hari bagus juga. Moodnya semakin hari semakin bagus saja. Itu berarti pertanda baik, bukan ?

Sepertinya, namja rusa ini terlalu asyik mendengarkan musik. Sampai-sampai ia tidak fokus berjalan dan akhirnya malah menabrak seseorang. Ya, dia sudah menabrak seaseorang karna kecerobohannya. Lagi.

Tapi kali ini agaknya berbeda. Karena kali ini, Luhanlah yang jatuh terduduk di lantai. Aww, pantatnya pasti sakit.

"Ap-appo.." ringis Luhan. Kepalanya menunduk menahan sakit di pantatnya.

"Jeongseohamnida." Maaf seseorang yang menabraknya. "Gwenchanayo ?"

Luhan tak menjawab. Telinganya masih tertutup headphone yang masih memutarkan sebuah lagu rock, membuatnya tak mendengar suara maaf dari pemuda yang menabraknya.

Melihat tak ada respon dari Luhan, pemuda itu mengulurkan tangannya, berniat membantu Luhan berdiri. Luhan yang melihat uluran tangan tersebut, tanpa pikir panjang, langsung menerima uluran tangan tersebut.

Luhan berdiri, kini sibuk menepuk-nepuk celananya, mencoba membersihkannya. Masih belum melihat siapa yang menabraknya. Headphone nya kini sudah melorot turun menggantung di leher jenjangnya.

Sedangkan pemuda yang menabraknya hanya membelalakan mata menatap korbannya, walau tak terlalu kentara. Sekejap kemudian, bibir tipisnya menyungging sebuah sebuah senyuman. Atau lebih tepatnya, seringaian.

"We meet again, deer."

Luhan yang mengenal suara itu seketika terdiam kaku. Mata rusanya membelalak lebar. Lalu ia mendongakkan kepala, menatap pemuda yang menabraknya. Matanya makin membelalak lebar. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Pemuda yang melihat raut wajah terkejut Luhan, makin memperlebar seringainya. Membuat Luhan bergidik ngeri melihatnya.

Luhan kini tak yakin jika Tuhan masih menyayanginya.

Mau bagaimana lagi, kenapa Tuhan harus mempertemukannya dengan pemuda didepannya itu ?

Padahal..

Pemuda di depannya lah yang membuat liburannya kacau.

Pemuda di depannya lah yang membuat Luhan susah tidur.

Pemuda di depannya lah ciuman pertamanya di curi.

Pemuda di hadapannya lah yang ingin Luhan lupakan seumur hidup.

Pemuda di hadapannya lah ia jadi merasa aneh.

Pemuda itu..

"SEHUUNN ?!"

Oh Tuhan,

Jika engkau memang menyayangiku,

kenapa...

KENAPA AKU HARUS BERTEMU LAGI DENGAN ALBINO SIALAN INI ?!

.

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

.

.

.

Eyy~ Yo !~~

Lin comeback, everybody~~

Fyuuh~ stelah sekian lama, Lin bru bsa update Cartier, tehe~ Mianhe~yo~...Lin masih dalam mode progressing, so yaa begini lah..

Duh, Lin terlalu fokus sama ff bru Lin, smpe' ff lainnya terbengkalai gtu..

Ada yang nanya klo Lulu ma Thehun straight or gay , gtu ? Jawabannya, dua-duanya masih dlam status straight. Lin bkin Thehun yang tertarik ama Lulu, jdi, ya begitulah :D

Yah, pokoknya, Lin udah update. Bagi yang mau Lin nglanjutin ini ff lanjut or not, it's all up to you, chingu... so, mind to review ?

Saran and kritik, Lin always terima...

Love yaa~

L7