Ya~~~aayyy~~!!! Sudah sampe' chapter 4. Ayo-ayo mari kita lanjutan cerita gajhe fic saya yang masih berlanjut hingga nggak tahu ampe' chapter berape. –digapok- Oke semuanya, enjoy aje nih fic abal nan gajhe saya! Don't forget to rephiew. Oya, untuk chapter ini saya menulis agak banyak. Jadi. . . jangan bosen bacanya ya. . ^^V
WARNING : HIRUMA jadi aneh agaiiiiinn~~!! Aneh!! Aneh!! Aneh!! Ane-Dhuaaakkk-!!!
___o0o___
I will let you go
I sure I can erase you
I promise to my self
I will be happy when you happy
I swear
I will keep my mind free
From your shadow
___o0o___
Ugly Doll ™ Present
Towards One Thousand Night
Chap. 4
Lonely Savior
An Eyeshield 21 Fanfiction
Hiruma Youichi-Anezaki Mamori-Yamato Takeru's
Triangle Love Story
~Mamori POV~
Kyoto Daigaku a ka Saikyodai, Amefuto Clubhouse
14:45
Oke, aku sudah puas sakit hati. Tapi aku juga sudah puas 'disembuhkan'. Setelah mengurus seragam anak-anak, aku meminta izin sama Hiruma-kun untuk keluar sebentar membeli makan dan tentu saja membeli bahan untuk syal yang akan aku berikan untuk Yamato-kun. Dia mengizinkannya, jadi aku cepat-cepat ke pusat kota. Agar tidak keteteran untuk persiapan latihan.
Saat aku menunggu di halte bis, aku mendengar suara seseorang yang sangat-sangat aku kenal. Aku tertawa geli, karena orang itu adalah Hiruma-kun. Apa lagi? Apa dia akan meminta dibelikan permen karet seperti biasa? Sepertinya seharian penuh ini agendaku dipenuhi oleh 'bertemu Hiruma-kun.'
"Manager sialan! Cepet banget kamu larinya!" dia terengah-engah setelah berhasil sampai di halte. Aku tertawa geli. Geli sekali melihat dirinya mengejar orang lain dan kelelahan seperti itu.
"Ada apa kau ketawa? Apa aku salah?" tanyanya nanar. Aku menawarkan air mineral segar yang aku bawa dari rumah, dan dia meneguknya.
"Tidak, hanya. . . kau aneh! Ada apa kau mengejarku kemari, hah? Apa kau mau minta dibelikan permen karet tanpa gula seperti biasa?" rasanya melegakan bisa menyindir Hiruma-kun. Habis, dia terus sih yang kebagian adegan nyindir.
Mendengar sindiranku, Hiruma-kun menatapku tajam seolah berkata, "Akan kubunuh kau!" dan aku sekali lagi tertawa melihat tingkahnya yang super aneh itu. Dia menyodorkan kembali botol air mineral milikku dan duduk disebelahku untuk mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Aku hanya mau menemanimu bodoh! Memangnya tidak boleh? Aku juga hanya. . . mau ikut makan siang. Aku malas makan sendirian." Wow, hebat. Tidak biasanya dia jujur begitu. Aku bisa bersumpah aku melihat rona merah di pipi kepucatan Hiruma-kun saat mengatakan, "aku ingin makan bersamamu.' Walhasil, aku hanya bisa tersenyum.
"Kau bodoh! Kita kan bisa bareng sejak dari kampus! Kenapa kau berlari menyusulku begini? Bajumu jadi basah kena keringat semua tuh!" aku mengernyit karena bau keringat Hiruma-kun mulai menusuk hidungku. Tapi, entah kenapa bau keringat Hiruma-kun masih tetap bau mint menyegarkan.
"Diam, kau! Aku sudah terlalu capek menanggapi omelan bodohmu! Dari pada itu, habis ini kau mau makan kemana?" Hiruma-kun bertanya sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangan. Aku berpikir sejenak memikirkan pertanyaan Hiruma-kun. Aku ingat sesuatu, lalu berseru.
"Bagaimana kalau kita makan di café La Petite? Itu rekomendasi dari teman-teman. Katanya sih enak, jadi. . ." dia hanya manggut-manggut menaggapi usulanku. Sebenarnya, nama café itu langsung keluar dikepalaku karena tadinya aku akan makan disana bersama Yamato-kun.
"Oke, aku setuju." Hiruma-kun menyetujuinya dan aku tersenyum. Hore, akhirnya kesampaian juga makan di La Petite.
___o0o___
Aku tersenyum puas setelah berhasil sampai didepan La Petite. Tipe café mewah yang hanya bisa kau datangi bila kau anak seorang konglomerat. Makanan disini, sumpah mahal-mahal. Tapi dengan harga mahal, kau juga bisa mendapatkan kualitas masakan yang berkelas tentunya.
"Anezaki. . ." Hiruma-kun menepuk pundakku dengan suara berat. Aku dengan penuh perasaan bahagia menoleh kearahnya. Kukira aku akan mendapatkan wajah super cerah yang sama denganku, tapi yang kudapatkan adalah ekspresi campuran antara shock, kaget, marah, dan sedih. Dengan jurus death glare andalannya, aku sukses dibuatnya sweat dropped.
"E he he. . ." aku menjulurkan lidah dan membentuk jariku menjadi huruf V.
"Ku kira café seperti apa, ternyata. . ." Hiruma-kun tidak melanjutkan kata-katanya. Hanya terus menunduk kebawah. Aku tersenyum kecut lalu menelan ludah.
"K. . .kalau kau tidak mau, kita bisa pindah kok. . . lagian disekitar sini ada restoran murah." Semoga usulanku kali ini membuat suasana menjadi lebih baik.
"Siapa bilang aku mau pindah?" Hiruma-kun bertanya padaku seolah kemarahannya sudah reda. Untung saja tadi aku alihkan pembicaraan kau-tau-restoran-macam-apa-ini menjadi mari-kita-pindah-tempat. Hiruma-kun menyeret tanganku masuk kedalam, dan tentunya aku senang-senang saja.
Mataku terbelalak kagum dengan dekorasi interior café mewah ini. Bukan hanya sekedar hebat, tapi sangat-sangat-sangat hebat. Langit-langitnya berlukiskan langit dengan gradasi warna krem, putih, oranye, dan biru dimana kau akan merasa berada di surga hanya dengan memandangnya. Dindingnya dilapisi wallpaper mewah berornamen klasik dengan sulaman benang-benang emas sutra yang gonjreng. Lampu Kristal bergantungan dengan anggunnya menemani lukisan di langit-langit. Anehnya, yang bisa kuucapkan sebagai rasa kagum adalah, "hmm. . ."
"Oi, kau tidak duduk?" suara Hiruma-kun menggema diruangan super besar itu. Aku agak merasa canggung karena yang sedang makan disini, semuanya memakai gaun. Ya, gaun! Gaun berenda yang super mahal. Tipe seperti itulah. Melihat kami berdua, well. . . berpakaian casual, para pengunjung dari kalangan darah biru itu menoleh kearah kami dan berbisik-bisik.
"Sudahlah, jangan kau risaukan bisik-bisik omong kosong pengunjung sialan itu. Duduk saja. Kau cukup pantas makan disini." Hiruma-kun berbisik santai sembari mengamati desain interior café yang bisa mengingatkan pada hotel di Macau.
"Umm. . . maaf, ya membuatmu kerepotan hari ini. Sepertinya seharian ini kau selalu menolongku." Aku mencoba tersenyum padanya. Dia mengangkat sebelah alisnya dan bergumam pelan sambil memasang senyum bulan sabit.
"Sekarang masalahnya adalah, dimana waitress-nya?" Hiruma-kun kembali mengamati seisi café. Sepertinya usahanya berhasil. Seorang waitres cantik datang menghampiri kami berdua dengan senyum berlebihan. Aku rolling eyes.
"Selamat datang ke café kami. Ini daftar menu kami." Waitress berambut panjang kecoklatan itu menyodorkan 4 daftar menu untuk appetizer, main courese, beverage, dan desert. Hebat. Untuk menu saja café ini mengeluarkan 4 daftar menu. Aku meraihnya salah satu, dan tertegun. Umm. . . semuanya. . . tidak aku mengerti. Yang aku tahu hanyalah jenis-jenis steak. Tapi, masa hanya pesan steak ? Umm. .
___o0o___
"Bisakah saya meminta pesanan kalian?" setelah lima menit kami terdiam memilih menu, waitress manis itu menanyakan pesanan kami. Duuh. Aku memang sudah memilih pesanan, tapi. . . aku tak yakin.
"Aku minta Macaroni Grattan untuk appetizer. " Hiruma-kun duluan yang mengangkat tangannya dan mengucapkan pesanannya. Aku diam mengamati saja Hiruma-kun. Aku tertegun menyadari sesuatu. Baru kali ini aku dan Hiruma-kun makan bersama. Baru tahun ini dia bersikap sebaik ini. Kesambet apa dia? Sejauh yang aku tahu, seharian ini dia tidak menyebutku 'manager sialan' lebih dari 10 kali. Biasanya dia selalu memanggilku manager sialan.
"Hoy, dia tanya pesananmu! Kau ngelindur?" Suara Hiruma-kun tiba-tiba mengisi gendang telingaku. Dari tadi ternyata aku hanya terus memandanginya. Aku jadi malu sendiri. Gadis waitress cantik itu terkikik dalam diam melihat tingkahku.
"Eh, umm. . . untuk appetizer. . . Risotto jamur. Untuk main course Steak Tenderloin saja ya. Desert. . . blueberry cheesecake. Beverage. . . strawberry pave. Mungkin itu saja." Aku mengucapkannya dengan agak cepat. Fuuh, pesananku ini tidak terlalu norak, kan?
"Baiklah. Terimakasih sudah makan di café kami. Ini spesial dari kami untuk sepasang. . . kekasih seperti kalian." gadis itu menyodorkan pada kamu berdua kue coklat berbentuk hati yang kelihatan enak. Dia menunduk pada kami berdua, lalu meninggalkan meja kami berdua.
"Kue gratis untuk sepasang kekasih. . ." aku berbisik pelan pada diriku sendiri. Menyadari sesuatu, aku berdiri dari meja dan hendak memanggil waitress itu kembali.
"Ano. . . kami. . . bukan. . . Uph!" Hiruma-kun menutup mulutku dengan tangan besarnya saat aku melakukan hal baik, yaitu jujur. Kami bukan sepasang kekasih. Makanya tidak berhak mendapatkan kue gratis semacam ini. Hiruma-kun lalu menaruh jari telunjuk didepan bibirnya dan mendesis pelan.
"Kue gratis! Nikmati sajalah!" setelah Hiruma-kun berhasil mendudukkanku kembali, dia memotong kue itu dengan santai dan memasukkan potongan kue itu kedalam mulutnya. Kue gratis.`. . untuk sepasang. . . kekasih. . . aku ingin Yamato-kun lah yang sekarang ada disini. Bukan Hiruma-kun.
___o0o___
"Sudah puaskah engkau menghabiskan uangku, nona Anezaki Mamori?" Hiruma-kun mengacak rambutku dan mendengus pelan menahan tawa. Aku merapikan kembali rambut yang amburadul karena ulah Hiruma-kun.
"Ya, deh. Maaf. Tapi masakannya enak, kan?" tanyaku padanya dan dia mengangguk pelan. Aku tersenyum puas melihat jawabannya. Itu berarti uang sebanyak 530.000 Yen dari`rekening sebanyak total kira-kira 500.000 juta Yen itu tidak terbuang sia-sia.
"Sekarang, kita harus pulang. Aku tak mau nanti anak-anak sialan tanya macam-macam tentang kepergian manager dan kaptennya. Bisa-bisa nanti jadi gossip. Kalau kau sampai jadian sama Yamato itu kau akan di cap play girl. Pasti akan banyak media massa yang- uph!" sekarang giliranku menyekap mulut Hiruma-kun. Aku melepaskan tanganku setelah Hiruma-kun tidak memberontak lagi.
"Hmm. . . Aku masih punya tujuan. Aku mau beli benang rajut buat syal-nya Yamato-kun. Bisakah aku minta kau temani aku selama 10 menit kedepan?" Hiruma-kun menatapku sebentar, mempertimbangkan permintaanku. Bebera detik kemudian, dia menoleh kepadaku dan mengangguk pelan. Seketika, aku langsung sumringah dan berlari menjauh dari Hiruma-kun menuju supermall didepan cafe.
"Eit, kau harus terus bersamaku. Kalau tidak kau akan menghilang." Hiruma-kun meraih tanganku dan menggenggamnya kencang. Aku terkaget sejenak. Hiruma-kun juga sepertinya terkaget. Pipinya kurasa memerah. Sesaat kemudian, dia melepaskan tanganku dan kami berdua salah tingkah sendiri.
"Umm. . . Ya sudah, ayo." aku yang pertama kali memecah keheningan diantara kami berdua. Aku mengelurkan tangan untuk Hiruma-kun genggam. Biarlah sekali-kali. Lagi pula kita jarang jalan berdua begini. As friend.
"Kenapa kau. . .?" Hiruma-kun menatapku. Aku tersenyum saja. Aku sedang tak mau ditanya alasan mengapa aku mengijinkannya menggenggam tanganku. Melihatku tersenyum, dia menggenggam tanganku lebih erat dan berhasil membuatku blushing.
___0o0___
"Baiklah. . . sekarang kita hanya membeli benang rajut untuk syal, oke? Tidak mampir kemana-mana." Hiruma-kun menekankan kalimat tersebut saat aku hampir saja mengiler melihat cream puff. Aku menarik-narik tangannya dan tersenyum lemah. Memohon. Tapi jawabannya tetap saja : BIG NO. Aku mengerucutkan bibirku.
"Ini sudah jam empat kurang dua puluh. Bisa gawat nanti. Kau tahu resiko-nya 'kan?" Hiruma-kun menggaruk-garuk kepalanya. Memandangku putus asa. Aku menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganku. Kami berdua terdiam.
"Hmm. . . kalau cuma cream puff sih. . . bolehlah. Asalkan jangan terlalu lama memilih. Oke?" Hiruma-kun memecah keheningan diantara kami berdua. Wajahku langsung berseri-seri. Tentu saja aku langsung berlari menuju stand cream puff yang baunya. . . hmm. . .
"Kak, cream puff dua kotak, ya. Untuk aku sama dia." aku merasa harus balas budi pada Hiruma-kun. Seharian penuh ini dia terus menemaniku wira-wiri. Aku senang, tapi juga risih. Aku sudah terlalu banyak mengandalkannya. Jadi biarlah uangku terbuang. Toh, paling-paling hanya 2.000 Yen.
"Hey, aku tidak perlu cream puff!" Hiruma-kun menyalak marah. Walaupun begitu, aku tahu kalau dia tidak marah. Hanya. . . gengsi?
"Ah, tak apa. Lagi pula aku memang ingin membelikanmu cream puff. Aku rasa aku belum pernah lihat dirimu makan cream puff?" Hiruma-kun mengernyit.
"Ini, gadis manis. Kapan-kapan mampir lagi, ya." kakak yang menjual cream puff itu menyodorkan dua box cream puff. Aku menyodorkan dua lembaran seribu Yen. Setelah itu aku membuka salah satu box dan mengambil cream puff-nya.
"Nih. Cobalah. Cream puff itu enak. Makanya jangan terlalu banyak makan masakan orang kaya. Kau akan cepat gemuk." Hiruma-kun kembali mengernyit melihat aku menodongkan cream puff hangat itu didepan matanya. Walau terlihat jijik dengan cream puff tersebut, toh dia juga mengambilnya dan memakannya.
"Bagaimana? Enak kan?" tanyaku disusul senyuman Hiruma-kun. Tuh kan. . . cream puff itu enak. Tidak seperti dugaannya.
"Yang terpenting sekarang adalah cepat sana beli benang rajut! Cream puff-nya enak. Terimakasih." Aku sampai lupa kalau harus beli benang rajut. Untung Hiruma-kun mengingatkanku. Kami berdua segera menuju korner jahit menjahit dan disana ternyata ada barang yang aku cari. Benang rajut.
"Tuh, benang rajut. Banyak macam warnanya lagi. Sana cepat beli! Nanti kita terlambat lagi." Hiruma-kun mendorong punggungku. Aku heran mengapa dia tidak ikut memilih. Ya sudah lah. Aku cepat-cepat membeli benang rajut. Aku agak bingung, tapi aku tahu kalau Yamato-kun menyukai warna putih. Jadilah aku segera menyambar benang warna putih seharga 50 Yen itu. Ku harap, Yamato-kun benar-benar menyukainya. . .
___0o0___
Saikyo Daigaku
19:45
Amefuto Clubhouse
Latihan berjalan lancar tadi. Kami semua sangat exited mengingat sebentar lagi Rice Bowl. Kami semua sudah mempersiapkan segalanya untuk melawan Kansai. Tahun ini, Kansai merupakan lawan yang tidak enteng bagi kita. Karena. . . disana ada Sena, Monta, Kurita, dan banyak pemain unggulan lain sewaktu SMU dulu. Tapi walaupun begitu, tim kami juga tak mau kalah.
"Oi, kau tidak pulang? Sebentar lagi jam 8 malam lho." Hiruma-kun meningatkanku saat aku sedang sibuk menata ruangan. Aku mengangkat satu alis melihat dia sedang dengan asyiknya mengetik.
"Hmm. . . kau sendiri juga masih sibuk. Ucapan itu tidak baik dikatakan orang sibuk sepertimu." Hiruma-kun menghela nafas. Pandangannya beralih dari laptop.
"Ruangan ini sudah bersih Cepat pulang. Biar kuantar kau pulang." Aku tertawa kecil dan melepas celemek. Aku membereskan barang-barangku, begitu juga Hiruma-kun.
"Kau duluan ke tempat parkir. Biar nanti aku susul." aku mengangguk mengerti. Aku melemparkan kunci pada Hiruma-kun dan keluar duluan dari clubhouse. Ternyata diluar dingin. Angin bertiup sangat kencang pada bulan Oktober. Aku mengancingkan jaketku dan segera berjalan kearah parkiran.
___o0o___
"Naiklah." Ucap Hiruma-kun setelah 5 menit aku menunggu di parkiran. Aku kembali terkejut, karena mobil yang dia pakai adalah porsche atau apalah itu namanya. Kurasa mobil Hiruma-kun salah satu dari 10 mobil termahal dan termewah sedunia.
Joknya super empuk dan super nyaman. Jadi betah duduk disini. Bau mobil ini mint. Persis seperti bau sang pemilik. Bau yang enak dan well. . . membuat nyaman. Kami berdua tak berbicara satu sama lain. Kurasa konsentrasi itu nomor satu baginya. Ya sudah, aku tak mengganggunya kalau begitu.
___o0o___
15 menit kegaringan melanda kami berdua. Namun hal tersebut terpecah setelah aku sampai didepan rumah.
"Sudah sampai. Jangan lupa sepatuku." Hiruma-kun berkata singkat dan membukakan pintu untukku. Aku tersenyum padanya dan mencium pipinya. Hiruma-kun blushing.
"A. . . apa-apaan ini?" Hiruma-kun salah tingkah sambil menggosok pipinya. Aku tertawa.
"Ucapan terimakasih." Ujarku singkat. Hiruma-kun mengernyit.
"Untuk apa?" dia bertanya. Mencoba untuk tegas, tapi suaranya malah bergetar.
"Segalanya." Dan dia memalingkan wajahnya. Lagi-lagi dia blushing. Setelah melambai singkat padaku, dia ngebut kencang meninggalkanku. Hiruma-kun. . . dia. . .
___o0o___
-HIRUMA POV-
Apa-apaan sih dia? Kenapa harus menciumku? Itu tidak adil! Dia kira aku ini apa? Aku sahabatmu, bodoh! Dan selamanya akan tetap menjadi sahabatmu! Aku tak tahu apa yang ada dipikiranmu itu. Untung saja aku tahu kalau kau suka pada Yamato. Kalau tidak. . .
Ah, sialan. Aku jadi tambah menyukaimu, dasar bodoh!
___o0o___
TBC? Oh, ya jelas. . . xD
Ending yang gaje... okeh, jangan lupa review semuanya! Saya paling seneng kalo dapat review. Oke, masih berlanjut. Mari kita bertemu di chap. Berikutnya! Ciao!
