Beberapa kenangan membeku dalam ingatan seseorang. Tersimpan kuat tanpa perlu susah mengingat. Kenangan, bisa menjadi manis serupa permen kapas merah muda, namun juga bisa menjelma tinta hitam, pekat, menusuk.
Kim Jongin adalah masa lalu.
Sekiranya, itu adalah hal pasti yang Baekhyun ketahui. Kyungsoo pernah bercerita tentang seperti apa Kim Jongin dan masa di mana Jongin dan Kyungsoo lalui.
Baekhyun ingat dengan jelas, Kyungsoo yang menceritakan Jongin dengan senyum Jatuh cinta di bibirnya meskipun kadang Kyungsoo mengelak jika Baekhyun bertanya seperti apa perasaannya kini.
Jongin adalah pribadi yang hangat, lelaki tampan dengan senyum semanis gulali dan terkesan sedikit dingin.
Jongin adalah cowok populer di masa ketika mereka bersekolah di SHS. Ketua klub dance yang baik hati, dan ramah kepada siapa saja.
Kyungsoo mengenal Jongin sejak awal masuk SHS. Ia sekelompok bersama Jongin namun mereka tidak saling bertegur sapa. Kelas mereka pun berbeda sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk menjadi akrab.
Namun, anehnya. Setiap kali Kyungsoo duduk membaca atau mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah, Jongin selalu ada dan akan duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Jongin tidak berbicara, hanya diam membaca entah buku apa. Kyungsoo pun, tidak merasa perlu untuk berbasa-basi. Kyungsoo melanjutkan aktivitasnya, dan Jongin akan duduk dengan tenang hingga bel masuk berbunyi dan membuat mereka kembali terpisah. Setidaknya, Jongin tidak menciptakan kebisingan.
Jongin tidak pernah menyapanya. Mungkin hanya sekali, saat perkenalan awal mereka. Pernah ketika Kyungsoo menemani Luhan mengunjungi ruang Klub dance untuk bertemu Sehun, temannya sekaligus pacar Luhan, Jongin juga ada di sana, duduk bersama Sehun, namun tidak menyapanya.
Hingga di suatu sore, di akhir tahun ke dua mereka. Kyungsoo sedang sibuk berlatih vokal untuk festival yang akan di adakan di sekolah. Di luar mendung, mungkin akan turun hujan. Luhan telah pamit lebih dulu, begitu juga dengan temannya yang lain. Kyungsoo yang mejadi paling terkahir pulang. Setelah membersihkan ruang klub musik, Kyungsoo mengambil ranselnya. Ia bergegas keluar, mengunci pintu, dan alangkah kagetnya ia karena ternyata Jongin berdiri menyandar di dinding dekat pintu masuk.
"Jongin?" Kyungsoo bertanya dan Jongin hanya membalas dengan senyuman. Senyuman yang menggetarkan hati Kyungsoo pertama kali, senyum yang terasa nyaman dan tulus untuk dilihat. Senyum yang menenangkan, untuk dianggap sebagai sebuah kesan pertemuan. Sangat di luar ekspektasi Kyungsoo selama ini, karena ia mengira Jongin dalah pribadi yang sedikit misterius.
"Kyungsoo, ayo pulang denganku!!" Kyungsoo bisa melihat kilat semangat di mata Jongin. Ia merasa bingung, namun kemudian hanya mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan, di bawah langit mendung menuju halte bus terdekat. Hanya diam, sekali-kali keduanya saling melirik.
"Aku menyukai Kyungsoo." Aku Jongin tepat ketika mereka berada di bawah atap halte. Hujan mulai turun, tidak deras, hanya rintik.
Kyungsoo menoleh karena terkejut dengan kalimat Jongin. Halte tidak ramai, hanya mereka berdua yang sedang menunggu bus.
"Menyukaiku?" Ulang Kyungsoo merasa tidak yakin. Karena memang tidak ada hal yang membuat ia untuk yakin atas pernyataan Jongin.
"Bus datang," Mata Jongin mengarah pada bus yang menuju mereka, "Aku memiliki penawaran." Lanjut Jongin, Bus semakin dekat dari arah punggung Kyungsoo.
"Penawaran?"
"Jika kau naik bus ini, kau menolakku. Namun, jika tidak, mari kita berkencan sebagai pasangan kekasih!!" Tidak ada keraguan dari nada bicara Jongin. Kyungsoo masih mencerna apa yang baru saja Jongin katakan.
Bus berhenti tepat di depan mereka. Jongin menatap lurus kemata Kyungsoo, dan Kyungsoo merasa seperti ada percikan menyenangkan kala melihat senyum manis Jongin.
Kyungsoo sama sadarnya saat bus berhenti di depan halte maupun pada saat pintu bus mulai menutup dan berlalu begitu saja meninggalkan sisa angin yang menerbangkan anak rambutnya.
Jongin tersenyum semakin lebar, dan Kyungsoo terkejut saat telapak tangan Jongin menariknya lembut, meninggalkan halte, berlari beratapkan lagit kelabu, dan hujan yang mulai menderas.
Kyungsoo menyadari, harinya telah berubah, sejak pertama Jongin menyatakan perasaanya.
Kyungsoo dan Jongin masih berlari, dari samping, Kyungsoo bisa melihat wajah tirus Jongin yang tegas, menyiratkan ketampanan yang pasti, rambut hitam Jongin bergerak acak menutupi dahi, dan bibir tebal Jongin yang menampilkan senyum yang menghangatkan keseluruhan tubuh dingin Kyungsoo.
"Kita mau kemana!?" Kyungsoo bertanya sedikit berteriak. Jongin, dengan tangan yang masih bertaut, melirik sedikit misterius.
"Mengantarmu pulang!!" Jawab Jongin juga sedikit berteriak.
Kyungsoo rupanya baru sadar kalau Jongin kembali menuju ke sekolah. Dan betapa bodohnya ia hingga lupa kebiasaan Jongin yang selalu menaiki motor sportnya setiap hari.
"Ayo naik!!"
Dengan ragu, Kyungsoo menaiki motor Jongin, ia sedikit kesulitan mengatur posisi duduknya. Ia berusaha untuk tidak menempel ke arah Jongin.
Jongin mulai meninggalkan parkiran dengan senyum di bibirnya karena tingkah Kyungsoo yang membuatnya gemas.
Jongin membawa Kyungsoo mengelilingi Kota seperti katanya kalau mereka akan berkencan. Hujan turun sangat deras, tapi Jongin seperti tidak ingin berteduh. Ia merasa tangan Kyungsoo yang bergetar halus, dengan hati-hati, ia mengambil tangan Kyungsoo yang sedari tadi hanya memegang ujung kemejanya erat. Jongin melingkarkan lengan Kyungsoo di perutnya, membuat Kyungsoo tertarik bersandar di punggung Jongin. Jongin terkekeh dalam hati saat Kyungsoo sedikit tersentak. Kyungsoo pun sangat malu karena ia baru pertama kali berdekatan sangat intim dengan laki-laki, namun bersandar pada punggung Jongin rasanya hangat, diam-diam Kyungsoo tersenyum. Ia akan menunggu akan menjadi seperti apa hari-hari bersama Kim Jongin, tapi dalam hati, ia merasa ia akan bahagia.
Jongin memutuskan untuk mengantar pulang gadis yang disukainya itu karena merasakan tubuh Kyungsoo menggigil. Ia merasa bersalah karena mengajak Kyungsoo hujan-hujanan.
Jongin mengantarkan Kyungsoo tanpa bertanya alamat Kyungsoo, karena sejujurnya Jongin adalah seorang stalker. Jongin telah jatuh cinta pada Kyungsoo sejak pertemuan pertama mereka, saat pertama kali mereka menjadi siswa SHS, saat Kyungsoo bertanya letak ruang guru padanya. Jongin menyukai Kyungsoo tapi terlalu malu untuk mengungkapkannya. Jongin merasa, Kyungsoo adalah gadis cuek dan sedikit sombong, tapi setelah ia bertanya pada Sehun tentang Kyungsoo, Ia jadi tahu bahwa Kyungsoo hanyalah sedikit pemalu dan susah untuk mengakrabkan diri dengan orang lain. Pantas saja Jongin hanya melihat Kyungsoo berteman dengan Luhan, itupun karena Kyungsoo dan Luhan sudah saling kenal sejak JHS.
"Kau tahu alamat rumahku?" Tanya Kyungsoo ketika ia telah berdiri di depan pagar rumahnya. Tidak mengira seorang Kim Jongin mengetahui tentang dirinya lebih banyak.
"Karena aku menyukaimu?" Kyungsoo mengernyitkan alisnya karena bukan mendapat jawaban, Jongin malah terlihat sedang menggodanya.
"Aku tidak tahu seperti apa perasaanku padamu. Kau tahu, ini terlalu mendadak." Hujan masih turun membasahi keduanya, Kyungsoo menatap ragu ke arah Jongin.
"Tak apa. Besok kau akan menyukaiku. Besoknya lagi. Besoknya lagi. Besoknya selamanya." Perkataan Jongin menjelma mantra di kepala Kyungsoo, karena sejak hari itu, Kyungsoo menyadari, Jongin telah mencuri dan mengikat hatinya di suatu tempat yang indah dan menyenangkan, namun Kyungsoo tidak pernah menyangka, tempat indah itu bisa menjadi tempat menyeramkan, berduri, mencengkeram, menyesakkan.
Baekhyun menatap lama wajah Kyungsoo yang tertidur pulas. wajah Kyungsoo sedikit pucat, namun tidak menghilangkan sisi polosnya, sangat bersih, meskipun Kyungsoo sering mengatakan dirinya kotor, namun bagi Baekhyun, Kyungsoo selamanya adalah perempuan terhormat dengan harga diri tinggi.
Baekhyun geram, kala mengingat jelas senyum Kyungsoo yang mulai pudar, saat cerita Kyungsoo tidak lagi tentang Jongin yang hangat dengan senyum manis. Jongin menjelma lelaki dingin, kasar, dengan seringai yang selalu terpatri di wajahnya. Jongin bukan lagi yang selalu berkata halus lembut, bahkan Jongin pernah memaki Kyungsoo, lalu kejadian menakutkan yang mengahancurkan Kyungsoo, yang di dalangi oleh Jongin sendiri. Baekhyun bahkan tidak mengira Jongin akan semenjijikan itu.
Baekhyun membenci Jongin, karena hadir dalam hidup Kyungsoo yang mulai tertata apik tanpa ada usaha bunuh diri yang selalu di lakukan Kyungsoo dalam tiga tahun sejak Jongin meninggalkannya. Apakah Kyungsoo tidak cukup menderita? atau, apakah Kyungsoo tidak pantas berbahagia? Tanpa Jongin? Baekhyun bingung haruskah ia menyalahkan takdir keduanya atas apa yang terjadi?
Pergerakan di telapak tangannya menarik Baekhyun dari lamunan. Ia melihat Kyungsoo yang mendadak bangun dengan kaget.
"Bermimpi buruk?" Tanya Baekhyun sembari menyeka keringat di dahi Kyungsoo.
Kyungsoo hanya diam, menatap lama ke arah Baekhyun, lalu secara perlahan melepas genggaman Baekhyun dari tangannya. Baekhyun memandang aneh Kyungsoo yang menjauh dari ranjang menuju meja rias. Bahkan dari pantulan cermin, Kyungsoo terlihat sangat berantakkan.
Baekhyun masih memerhatikan Kyungsoo yang mulai membuka laci perlahan, dan mendadak ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, ia bergegas menuju Kyungsoo, namun langkah Baekhyun terhenti karena Kyungsoo yang berbalik ke arahnya, dengam sebuah cutter di tangannya.
"Tidak lagi, Kyung!!" Baekhyun menahan emosinya, ia tidak boleh memicu sumbu pertahanan diri Kyungsoo.
Kyungsoo tidak menjawab, Ia menatap kosong ke arah Baekhyun. Otaknya seperti ingin meledak, segala kejadian buruk tujuh tahun silam mengacaukan sisi rasionalnya. Baekhyun sedikit menyesal membiarkan Chanyeol pulang.
"Kau punya aku, Kyung. Ingat?" Baekhyun baru akan mencoba mendekat namun pergerakkan Kyungsoo yang hendak menempelkan mata pisau cutter ke tangannya membuat Baekhyun kembali mundur.
"Maafkan aku Baek," Kyungsoo berucap datar, namun tangan kanannya dengan cepat mengiriskan pisau ke nadi di pergelangan tangannya. Baekhyun dapat melihat darah yang sedikit terciprat ke arahnya, dan dari pergelangan tangan Kyungsoo, darah mulai menetes membasahi lantai di bawah Kyungsoo, bunyi pisau cutter jatuh menyadarkan Baekhyun bahwa Kyungsoo tidak baik-baik saja.
Secepat kilat, Baekhyun berlari menangkap tubuh Kyungsoo yang pingsan, Baekhyun panik, karena ini pertama kalinya ia melihat Kyungsoo melakukan percobaan bunuh diri di depan matanya secara langsung. Biasanya, ia hanya akan menemukan Kyungsoo sudah terbaring di rumah sakit dengan selang infus dan tangannya.
Baekhyun meraih apa saja yang bisa ia gunakan untuk mengikat pergelangan tangan Kyungsoo, ia harus segera mengentikan pendarahan, namun sepertinya usahanya sia-sia karena rupanya sayatan yang Kyungsoo lakukan sangat dalam, nyaris memutuskan arterinya.
Baekhyun mulai menangis, dengan panik ia merogoh kantung celananya, mencari nama yang sekiranya langsung akan merespon panggilannya.
Nada sambung masih terdengar, dan Baekhyun baru saja akan memutuskan panggilan, namun suara di seberang meloloskan sedikit kelegaan.
"Halo?"
"O-opaa, maafkan aku. Tapi, kita harus bertemu di rumah sakit."
Baekhyun merasa tidak perlu untuk menunggu jawaban. Ia mematikan sambungan telepon, dan mengganti sambungan ke panggilan darurat. Dalam hati ia berdoa, "Kyungsoo, tolong. Hiduplah."
Tittle : Hurt
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), Park Chayeol, Byun Baekhyun (GS), Kim Jongdae, Kim Minseok (GS), Wu Yifan, and other (akan bertambah sesuai alur).
Rate : M (?)
Derap langkah kaki tergesa memenuhi koridor, suara napas memburu menggema ke seluruh dinding bercat putih sepanjang mereka berlari.
Yifan benci mengalami kembali hal seperti ini. Jika ia menghitung, mungkin ini sudah ke 17 kali atau 19 Yifan juga mulai lupa. Di belakang Yifan juga terlihat Jongdae, Chanyeol, dan Jongin. Mereka terlihat khawatir, meski Yifan sedikit bingung mengapa Jongin memaksa ikut.
Tadinya, Yifan, Jongdae, Jongin memang masih berada di bar milik Yifan, kemudian Chanyeol kembali muncul setelah menjelaskan bahwa Baekhyun akan menjaga Kyungsoo, mereka berempat memutuskan untuk mengadakan pesta penyambutan Jongin meskipun pada akhirnya mereka tidak benar-benar berpesta karena selain Jongin yang sibuk dengan pemikirannya sendiri, mereka bertiga malah terlibat pembicaraan mengenai Kyungsoo yang lebih mengarah ke rasa khawatir. Sampai pada bunyi ponselnya yang mengganggu dan nama Baekhyun terpampang di sana. Yifan sudah mengira ada yang tidak beres dan itu terbukti dari suara Baekhyun yang menangis panik dan meminta bertemu di rumah sakit.
"Baek!!" Yifan memanggil Baekhyun yang mondar-mandir di depan ruang operasi Kyungsoo. Wajah Baekhyun basah dengan air mata, dan terlihat sangat khawatir juga kacau.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jongdae, ia mendekat pada Baekhyun dan Baekhyun langsung memeluknya. Chanyeol sedikit terkejut melihat interaksi Jongdae dan Baekhyun, ia kira hanya Yifan saja yang mengenal Baekhyun. Jujur, ia sedikit cemburu. huh.
"O-oppa, ma-maafkan aku," ucap Baekhyun terbata. Ia masih menangis di dada Jongdae.
Jongdae mengelus pelan punggung Baekhyun, mencipta kekuatan. Ia mengerti, Baekhyun tidak pernah melihat aksi bunuh diri Kyungsoo secara langsung, karena Yifan dan dirinyalah yang terlalu sering mendapati Kyungsoo ingin mengakhiri hidupnya.
"Tidak apa. Tenanglah dulu." Jongdae menuntun Baekhyun untuk duduk di kursi besi ruang tunggu. Baekhyun duduk di ikuti Jongdae di sampingnya. Sedang Yifan dan Chanyeol berdiri di depan mereka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yifan, ia memang panik, tapi ia tidak bisa menyalahkan baekhyun juga. Sudah 4 tahun sejak usaha bunuh diri Kyungsoo terakhir kali, dan ia tidak mengira hal itu akan terulang lagi.
"Aku tidak tahu, Oppa. Kyung, dia... dia, meminta maaf dan mengiris nadinya di depan mataku." Baekhyun menghapus kasar air matanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kyungsoo tidak bisa di selamatkan seperti sebelum-sebelumnya, karena menurut dokter, sayatan Kyungsoo sangat dalam dan operasi yang di ambil termasuk sangat sulit.
"Dia akan baik-baik saja," Suara bass lainnya membuat Baekhyun menegadah wajah, ia melihat Chanyeol tersenyum menguatkan padanya, "Jika Kyungsoo ingin bunuh diri, dia sudah lama akan mati. Tapi, jauh di dalam hatinya, Kyungsoo ingin hidup, ia bertahan sampai hari ini bukan? Jadi percayalah, Kyungsoo akan hidup, dan bertemu denganmu lagi." Kata-kata Chanyeol membuat lega Yifan dan Jongdae, karena setidaknya Baekhyun tidak lagi harus menangis dan panik. Meskipun mereka khawatir, mereka percaya Kyungsoo akan memilih untuk hidup, seperti sebelum-sebelumnya. Mereka hanya perlu menunggu dokter menyelesaikan tugasnya.
Chanyeol kembali melihat ke arah pintu ruang operasi, dan sedikit terkejut karena Jongin masih berdiri menatap ke arah lampu hijau yang masih menyala.
"Jongin?" Yifan, Jongdae, dan Baekhyun sontak mengalihkan pandangan ke arah Jongin. Baekhyun sebenarnya ingin marah dan menampar, memukul, memaki Jongin, tapi biar bagaimanapun ia masih menghormati keputusan Kyungsoo untuk tidak menyebutkan siapa Jongin di hadapan ke tiga lelaki di sana.
"Jongin?!!" Suara Chanyeol sedikit berteriak, dan hal itu membuahkan hasil. Jongin berbalik ke arah mereka.
Baekhyun bisa melihat dengan jelas, wajah Jongin yang terlihat bingung, sedih, marah, khawatir. Baekhyun sedikit merasa kasihan karena ia masih bisa melihat tatap mata milik Jongin masihlah tentang Kyungsoo. Tapi ia mengeyahkan pikiran itu, karena Jongin adalah sosok yang membuat Kyungsoo seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di situ? Kemarilah."
Jongin tidak menjawab, ia hanya berjalan pelan, dan kemudian memilih duduk tidak jauh dari Baekhyun. Sorot mata Jongin kosong, semua yang berada di tempat itu bisa melihat bahwa Jongin terlihat sangat kacau. Tapi mereka kecuali Baekhyun tidak menemukan jawaban mengapa Jongin terlihat seperti itu. Apa karena Kyungsoo?
Di sisi lain, Jongin duduk dan menyenderkan punggungnya. Ia seperti memikul beban berat. Ia baru mengetahui kenyataan bahwa Kyungsoo terlalu sering melakukan usaha bunuh diri.
Jongin kembali berpikir, apakah ini karena kejadian beberapa jam lalu di hall parkir Victory Bar? Meskipun ia terluka melihat Kyungsoo yang baik-baik saja menikmati hidup, namun hatinya lebih terluka jika Kyungsoo harus berada dalam situasi antara hidup dan mati. Ia akan merasa sangat bersalah jika Kyungsoo tidak bisa terselamatkan.
Jongin mengangkat wajahnya memerhatikan sekitar, lampu ruang operasi masih menyala, Yifan juga masih terlihat menunggu di depan pintu, Jongin sedikit tidak mengerti mengapa semua orang terlihat sangat melindungi Kyungsoo. Jongin melihat ke arah Baekhyun, pandangan mereka bertemu, dan dari mata Baekhyun ia bisa melihat seberapa besar Baekhyun membencinya. Jongin memprediksi jika Baekhyun mengetahui sesuatu tentang dirinya.
"Baekhyun-sii," suara rendah Jongin mendapat perhatian dari Jongdae, Chanyeol, dan Yifan. Baekhyun sendiri tidak menjawab, namun ia melihat ke arah Jongin, menunggu perkataan Jongin selanjutnya, "Apa kau tahu sesuatu tentang aku?"
Pertanyaan Jongin membuat tanda tanya di kepala ketiga lelaki lainnya yang berada di situ. Setahu mereka, Jongin tidak mengenal Baekhyun.
"Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu." Baekhyun memutus kontak mata dari Jongin. Karena ia merasa pandangan Jongin seperti ingin menusuknya, seperti menuntut jawaban darinya.
"Jawab aku!!!!" Jongin berdiri, dan berteriak membuat ke empat orang di sana terkejut. Jongin terlihat sangat marah.
"Aku tidak-
"Mengapa dia bisa menjadi seperti itu??!!!!" Jongin bahkan tidak membiarkan Baekhyun mejawab. Ia menatap lurus ke arah Baekhyun yang bergerak tidak nyaman.
"Aku ingin dia menderita, tapi aku tidak ingin dia mati." Suara rendah Jongin bergetar, Jongin mendudukkan dirinya dengan kasar. Baekhyun hanya bisa mengaga kaget karena dengan jelas menangkap wajah Jongin yang menangis.
Jongin menangkup wajah dengan kedua telapak tanganya. Deru napasnya terdengar frustasi. Baekhyun sendiri masih terlihat sangat shock karena tindakan Jongin di luar ekspektasinya.
Melihat Jongin seperi itu, Baekhyun bisa mengetahui bahwa Jongin sangat menderita. Apakah sebenarnya yang terjadi di antara Kyungsoo dan Jongin? Yang terlewat oleh dirinya?
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Kyungsoo, Kim Jongin?" Yifan berjalan cepat menuju tempat duduk Jongin. Ia menatap tajam Jongin.
"Aku tidak tahu, hyung." Jongin bahkan tidak menatap Yifan, dan Yifan tahu dengan pasti bahwa ia tidak akan mendapat jawaban apapun dari Jongin.
"Baek?" Yifan berbalik menanyai Baekhyun yang terlihat gusar. "Apa yang kalian sembunyikan?"
"Aku menghormati Kyungsoo, oppa. Biarkan Kyungsoo yang mengatakan semuanya padamu. Pada kita. Dan soal Jongin, aku rasa ia memiliki urusan yang lain dengan Kyungsoo. Jangan beranggapan yang buruk dulu, oppa." Baekhyun tahu ia telah mencipta suatu kebohongan baru. Tapi biar bagaimanapun, ada hal yang entah mengapa membuat ia harus sedikit melindungi Jongin. Mata Jongin menyiratkan kebenaran, tentang rasa mendalam atas cinta, luka, juga kehilangan. Baekhyun baru menyadari, pantulan mata Jongin sangat mirip dengan mata Kyungsoo. Di mana segala kedukaan bersemayam.
"Aku benar-benar pusing." Ujar Yifan memijat pangkal hidungnya. Ia memilih duduk bersebelahan dengan Jongdae. Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu dalam diam. Meskipun otak mereka semua bekerja, untuk mengerti segala macam rangkaian teka-teki hari ini.
Sejujurnya, Jongin sedikit terkejut ketika Baekhyun seperti menolongnya. Ia sedikit melirik Baekhyun, tapi wanita itu seperti tidak ingin membesar-besarkan masalah. Jongin semakin yakin, dirinya adalah lelaki yang selalu di perbincangan oleh hyung-hyungnya. Ia hanya harus mencari jawaban, mengapa mereka terlihat sangat membenci dirinya. Cerita apa yang ada di balik rasa kebencian mereka. Jongin melirik Chanyeol yang masih berdiri memerhatikan pintu operasi, ia bertanya-tanya apakah Chanyeol akan tetap sama jika tahu bahwa Kyungsoo adalah gadis di masa lalu Jongin yang menyedihkan? Jongin merasa pusing, ia tidak mengira hanya dalam waktu kurang seminggu, hidupnya seperti berantakkan.
"Dokter Byun," suara laki-laki yang keluar dari pintu operasi menarik seluruh perhatian. Baekhyun buru-buru berdiri menghampiri rekan dokternya yang mengoperasi Kyungsoo.
"Bagaiamana keadaan Kyungsoo, dokter Lee?" Dokter yang bernama Lee itu memandang Baekhyun dengan senyum menenangkan.
"Operasinya sukses. Kyungsoo benar-benar tidak ingin mati. Kita hanya harus menunggu beberapa jam untuk ia melalui masa kritisnya. Jangan khawatir. Percayalah dia akan hidup." Dokter Lee menepuk-nepuk pundak Baekhyun untuk menenangkan wanita itu.
"Kyungsoo masih harus berada di ICU, setelah sadar baru akan di pindahkan ke kamar rawat. Tenanglah, kau akan segera melihatnya tertawa bodoh lagi. Dan kali ini, aku sendiri yang akan memarahinya. Anak itu, bikin repot banyak orang, bukan?" Dokter Lee tertawa, di ikuti Baekhyun yang tersenyum, ia kemudian mengitari pandangannya ke semua orang yang ada di situ. Setelahnya, ia pamit dan berlalu.
"Kau lihat, Kyungsoo itu tidak benar-benar ingin mati." Chanyeol mengelus pelan rambut coklat Baekhyun. Wanita itu hanya mengangguk, kemudian menghapus air matanya.
Setelah memastikan Kyungsoo sudah di pindahkan di ruang ICU, Yifan, Jongdae, dan Chanyeol memutuskan untuk kembali pulang dengan paksaan dari Baekhyun.
"Percayalah padaku, ini jam jagaku juga. Aku akan mengawasinya kali ini." Ketiga lelaki di sana mengangguk pasrah.
"Kabarkan kami jika terjadi apa-apa. Mengerti?"
"Siap!!! hehehe." Baekhyun melakukan gerakan hormat, yang membuat Chanyeol gemas sendiri. Ia ingin memeluk Baekhyun tapi keadaan tidak memungkinkan.
"Baiklah. Kami pergi dulu. Jongin, ayo!!" Ajak Chanyeol pada Jongin yang masih duduk termenung.
"Aku akan lebih lama di sini hyung. Kalian pulanglah lebih dulu." Jongin hanya ingin melihat wajah Kyungsoo sedikit lebih lama, lebih banyak. Ia mengesampingkan tentang dirinya demi melihat wajah Kyungsoo.
Yifan hendak memaksa, namun anggukan Baekhyun membuat ia setuju. Yifan akan mencari tahu nanti tentang hubungan seperti apa antara Kyungsoo dan Jongin setelah wanita itu pulih. Tapi, dalam hati Yifan memohon semoga Jongin tidak ada hubungan dengan masa lalu Kyungsoo, tujuh tahun yang lalu.
.
"Selama tujuh tahun aku bersamanya, baru kali ini ia melakukannya di hadapanku." Baekhyun yang pertana kali membuka percakapan. Mereka, Jongin dan Baekhyun sedang duduk di kursi besi depan ruangan ICU. Jongin melirik Baekhyun, bertanya maksud dari perkataannya.
"Bunuh diri, maksudku," Baekhyun mengambil napas, masih terlalu shock atas kejadian beberapa jam yang lalu, "Ini sudah yang ke 19 kali jika kau ingin tahu." Baekhyun melanjutkan, ia melihat Jongin yang tersentak kaget mendengar ucapannya.
"Dia terlihat baik-baik saja. Maksudku, Kyungsoo seperti sangat menikmati hidup," Baekhyun manyimak, mendengarkan, "Dia pergi ke bar, tidur dengan Chanyeol, dia benar-benar terlihat baik-baik saja." Jongin meloloskan helaan napas setelah mengucap kalimat itu. Sejujurnya, ia tidak bisa menerima kenyataan Kyungsoo yang berhubungan sex dengan Chanyeol.
"Kyungsoo juga tidur dengan Yifan dan Jongdae jika kau ingin mendengar kebenaran."
"Apaa?!!" Jongin benar-benar terkejut akan hal ini. Ia berpikir, apakah Kyungsoo benar-benar menjadi, Jongin bahkan tidak ingin membayangkan. Meskipun ia mengatakan Kyungsoo perempuan murahan, tapi itu hanya untuk menyakiti hati wanita itu. Jongin tidak benar-benar menganggap Kyungsoo seperti itu.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui, Jongin. Aku membencimu, sama halnya Yifan dan Jongdae juga. Mereka bahkan ingin membunuhmu, tapi Kyungsoo, anak itu benar-benar seperti melindungi dirimu. Ia memohon padaku untuk tidak pernah menyebutkan namamu pada mereka dan aku menghormati keputusan Kyungsoo." Jongin mendengar khidmat, meskipun lidahnya gatal ingin menyela.
"Kyungsoo menyebut dirinya pelacur. Ia menjual tubuhnya. Tapi asal kau tahu, ia bisa hidup meski tidak menjual dirinya." Baekhyun melihat ke arah Jongin yang hanya lurus memandang lantai di bawah kaki mereka. "Tanyakan sesuatu, aku tahu banyak hal yang ingin kau tanyakan. Aku mengatakan hal ini padamu karena aku sadari banyak hal yang tumpang tindih di antara kalian di masa lalu juga saat ini." Jongin melihat ke arah Baekhyun, dan untuk pertama kalinya, Baekhyun tidak melihatnya dengan tatap kebencian, lebih kepada memahami.
"Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Kyungsoo terbaring sakit, rasanya membuatku tidak bisa berpikir jernih. Hanya saja, kau perlu tahu Baek, di masa lalu, Kyungsoo sangat menghancurkanku."
Baekhyun sadar ia terkejut, tapi hal itu sudah di antisipasinya. Banyak hal yang saling tertukar di sini, saling menimbulkan kesalahpahaman. Jongin dan Kyungsoo, masing-masing mereka merasa di lukai. Baekhyun hanya perlu mencari titik terang dari kedua sudut pandang.
"Aku tidak tahu soal itu, aku hanya mendengar cerita Kyungsoo, tidak denganmu," Jongin mengangguk menyetujui,
"Tapi, Jongin," Jongin menahan napas menunggu ucapan Baekhyun selanjutnya,
"Alasan dari semua bunuh diri yang di lakukan Kyungsoo adalah karena dirimu." Napas Jongin tercekat, seperti ada yang meremas jalan pernapasannya, Jongin ingin menghancurkan Kyungsoo, tapi kenyataan bahwa bunuh diri Kyungsoo karena dirinya, meluruhkan segala rasa sakit di hatinya karena Kyungsoo. Jongin bertanya dalam hati, luka seperti apa yang Kyungsoo lalui, seperti apa rasa sakit yang Kyungsoo derita. Jongin bahkan tidak peduli dengan dirinya, yang ia inginkan sekarang adalah Kyungsoo membuka mata, dan ia akan memohon maaf padanya, untuk semua yang terjadi pada Kyungsoo.
Jongin dan Baekhyun berdiri hendak masuk melihat keadaan Kyungsoo, namun langkah kaki seseorang dari arah kiri mereka menghentikan gerakan keduanya.
"Apa maksud semua ini, Jongin?"
"Chanyeol / Hyung... "
Tatapan mata Chanyeol menyiratkan kemarahan, dan sepertinya, memang sudah seharusnya segalanya di luruskan.
TBC
.
Note :
Hai hai. Anna's kambek. wkwkwk.
tengkyu atas segala apresiasi kalian. sekali lagi aku mohon maaf karena tidak bisa membalas review tapi aku selalu membacanya kok.
aku harap chapter ini tidak membosakan dan semoga kalian bisa menikmati chapter ini yah.
Typo epriwer, happy reading gaes.
salam sayang,
Anna.
