Naruto © Masashi Kishimoto

White Rose © Bunga Teratai

.

.

.

Warning: standard applied

.

.

.

Happy reading~

.

.

.

Sasuke pergi dengan melewatkan sarapannya. Dia bilang dia sibuk dan akan makan di kantor saja. Aku mengangguk setuju meskipun dalam hatiku ada dari sebagian dari diriku yang menolak usulan itu. Namun aku tak mencegahnya, sebaliknya, aku mulai merapikan dasinya dan berakting menjadi isteri yang baik untuk suaminya.

"Aku akan menjemputmu sore nanti," katanya.

"Baik."

.

.

.

Sama sepertiku, Konan-nee juga menginap di kediaman utama Uchiha. Semua anggota keluarga Uchiha sudah duduk di kursi mereka masing-masing, kecuali Sasuke dan ayah. Aku tak melihat ayah semenjak semalam. Acara makan malam perdana kami sedikit tak lancar karena adu argumen yang terjadi di meja makan. Aku menduga ayah tak hadir karena dia tak ingin melihatku setelah kejadian di rumah kami; ayah menampar Sasuke karena telah menikahi seorang wanita macam aku. Aku tak pernah tahu alasan ayah membenciku, aku mengira semua ini ada dengan hubungan dengan masalah keluargaku. Aku pun juga tak berani bertanya pada Sasuke, karena aku merasa tak berhak tahu.

"Kau terlambat," ujar Konan-nee dengan nada yang masih ketus. Aku tak tahu alasan apa yang membuat dia membenciku. Apa karena status derajataku yang lebih rendah makanya dia membenciku?

"Summimasen," kataku sambil membungkuk.

"Mana Sasuke?" tanya Itachi-nii.

"Dia sudah berangkat, katanya ada urusan di kantor."

.

.

.

Aku menatap bunga matahari yang ada di depanku. Kata ibu, Sasuke-lah yang menanam pohon ini sebelum dia pindah ke rumah pribadinya. Aku sedikit terlonjak kaget kala itu. Aku tak menyangka Sasuke akan menanam bunga, karena menurutku dia adalah tipe orang yang cuek yang tidak butuh keindahan seperti ini. Aku suka bunga. Dulu, ibuku sering mengajakku menanam bunga di belakang rumah kami. Jadi, taman belakang rumahku kala itu seperti toko bunga karena berjajar bunga-bunga yang berbeda. Dan yang menjadi favoritku adalah mawar putih. Aku menyukainya, meskipun keindahannya hanya bisa bertahan sebentar, tak bisa seperti mawar yang lain. Tapi itu istimewanya. Mawar putih.

"Sasuke juga suka melukis," cerita ibu, "namun sekarang dia jarang melakukannya."

"Kenapa?"

"Ibu juga tak pernah tahu alasannya. Dia memindahkan semua lukisan berserta alat lukisnya entah di mana. Dia tak pernah mau terbuka terhadap ibu."

Aku diam. Bahkan, dengan ibunya sendiri Sasuke tak pernah terbuka, bagaimana denganku? Isterinya yang baru ia nikahi.

Setelah bercerita, ibu pergi. Aku diam sambil mencoba menerka alasan mengapa Sasuke bisa semisterius seperti ini. Terlalu banyak hal yang membuatku terkejut dan membuatku tak bisa berpikir dengan baik. Sasuke ... sebenarnya siapa dirimu?

"Melamun, eh? Enak sekali!"

Aku terlonjak kaget dengan suara Konan-nee yang menginterupsiku. Matanya menatapku dengan pandangan yang menusuk. Dia bersikap seolah-olah ingin menerjang, menerkam, lalu memakanku hidup-hidup.

"Apa yang kau lamunkan eh, Hyuuga?"

Mengapa dia ketus, sih?

"Melamukankan seberapa banyak harta yang keluarga Uchiha punya?"

"Aku tahu niat dibalik kau menikah dengan Sasuke, dan semua rencana busukmu," katanya, aku menahan napasku. Tahu apa dia tentang hidupku? Tentang perjuangan keras yang telah aku lalui selama ini? Dia tak tahu apa-apa. Aku tak bisa mencegah untuk tidak merasa jengkel, maupun marah terhadap kakak iparku itu. Seenaknya saja dia berbicara. Memang, salah satu alasan mengapa aku ingin menikahi dengan Sasuke adalah karena uang, karena dia kaya. Dan aku tak menampik itu. Tapi ... mendengar kata-katanya aku menjadi sakit hati.

"Jadi hentikan memperlihatkan wajah tanpa dosamu itu. Aku muak."

Setelah itu dia berlalu. Jadi seperti ini alasannya? Aku tersenyum kecut.

.

.

.

Wanita ini ... berbahaya.

.

.

.

Aku menatap wajahku di cermin. Setelah percakapan—kalau bisa disebut begitu—menjengkelkan itu, aku segera masuk ke dalam kamar, menguncinya dan membasuh mukaku. Sebenarnya, aku telah menduga ini akan terjadi, tapi aku tak pernah mengira akan secepat ini. Wanita itu terlalu blak-blakan. Agak menjengkelkan memang, tapi itu lebih baik dibandingkan dia harus pura-pura menjadi orang baik seperti di drama murahan yang ditayangkan di televisi. Justru itu menjijikkan.

Lagi, aku membasuh wajahku.

Ini baru awal langkahku.

Dan aku tak boleh menyerah.

Tapi aku bingung ... harus memulainya dari mana?

.

.

.

Seperti janjinya, Sasuke menjemputku sore harinya. Dia masih memakai baju kantornya, lengkap.

"Selamat datang," aku menyambutnya. Dia sedikit menyerngitkan alisnya; heran, lalu memelukku.

"Aku pulang," jawabnya.

"Sasuke-san mau mandi? Aku akan menyiapkannya."

"Tak perlu. Kita akan berangkat."

"Kemana?"

"Rumah. Kau tunggu saja di sini, aku akan mengambil barang-barangku yang ketinggalan." Aku mengangguk lalu duduk di sofa. Aku tak punya barang apapun yang bisa membuatku berkemas, jadi aku menunggu Sasuke pergi ke kamar sebentar dan mengambil barang-barangnya.

Sementara menunggu Sasuke berkemas, aku mulai mengenang masa laluku. Ketika pertama kali aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki.

.

.

.

Pein...

.

.

.

Aku sangat menyukaimu, sungguh.

.

.

.

Dia bukanlah lelaki terbaik yang pernah ada di sekitarku. Dia berandal, kasar, namun aku menyukainya.

"Pakai saja payungku." Aku menoleh, menatap seorang pemuda jabrik dengan warna rambut menyala yang berada di sampingku.

"Ta-tapi—"

"Kau berisik!" katanya lalu pergi menembus derasnya hujan tanpa pelindung apapun.

.

.

.

Itu awal pertemuan kami yang indah. Aku jadi merindukanmu, Pein.

.

.

.

"Hinata?"

"Hinata?"

"Eh? Ya, Sasuke-san?"

Ya ampun! Aku kok bisa melamun, sih?

"Apa yang kau pikirkan?"

"Aku tidak memikirkan apa-apa. Ayo kita pulang," ujarku dengan senyum yang semanis mungkin. Berusaha untuk menutupi kebohonganku. Namun Uchiha tetaplah Uchiha. Seberapa keras kau mencoba membohonginya, mereka tetap akan tahu kebohonganmu itu, dan nampaknya Sasuke pun begitu.

"Sasuke-san?" panggilku.

"Hn." Sasuke lalu mengamit tanganku. Menggiringku untuk keluar dari rumahnya dan memasuki mobilnya. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.

"Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku, Hinata."

Kan, apa yang aku katakan benar. Seorang Uchiha memang sulit untuk dibohongi.

Aku diam dan menyimak apa yang suamiku ucapkan. "Tapi aku sedang tak ingin membahasnya di sini." Manik Sasuke menatapku tajam, dan perasaanku mengatakan aku harus waspada.

.

.

.

Kami sampai di rumah dengan selamat, tak ada pembicaraan yang berarti selama perjalanan pulang. Aku jauh lebih takut dengan pembicaraanku dengan Sasuke nanti. Apa yang harus aku lakukan? Pura-pura mengantuk? Tapi nampaknya Sasuke tak akan membiarkanku lepas dari pertanyaannya.

Jantungku berdetak kencang ketika kami memulai memasuki ruang pribadi kami. Sasuke sedang memakai baju santainya, dan menolak untuk kutinggal selama dia berganti pakaian. Apa dia tidak malu berganti baju di depanku? Maksudku, aku bisa saja menoleh ke arah lain agar tidak melihatnya, namun tetap saja itu memalukan. Tapi seharusnya aku tak perlu malu, aku sudah berkali-kali menikmati dan melihatnya tubuh telanjangnya. Namun tetap saja ini sangat memalukan. Memikirkannya saja sudah membuatku memerah. Apalagi jika aku merasakannya ya? Duh, aku mulai melantur.

"Aku tidak tahu apakah bentuk tubuhku begitu buruk di matamu sehingga kau menolak untuk melihatnya," ujar Sasuke. Jadi semua ini hanya demi tubuhnya? Dia ingin pamer pada tubuhnya yang benar-benar wow ini?

"Bu-bukan begitu!" jawabku tergagap, "aku hanya malu."

Sasuke terkekeh, dan tiba-tiba saja dia sudah berada di depanku dan bertelanjang dada.

"Kenapa kau tidak memakai bajumu?" protesku.

"Aku hanya merasa tak perlu. Lagi pula, aku akan mandi."

"Kalau mau mandi mengapa ganti baju dahulu? La-langsung saja kan bisa?"

"Aku hanya ingin." Kadang aku tak pernah mengerti apa yang ada di dalam otak suamiku ini, dan aku tak pernah mengerti.

"Kalau begitu, aku keluar dulu, Sasuke-san. Silakan mandi." Aku akan beranjak saat tangan Sasuke menghentikanku.

"Kau akan mandi denganku."

"Hah?"

.

.

.

TBC

Hohoho #digaplok

Itu bagian yang terakhir bikin saya deg degan. Serius. Bagian akhir itu tiba-tiba nyempil aja di otak saya.

Hallo, long time no see. Hehehe ^^

Setelah lama akhirnya bisa update, meskipun pendek. Terima kasih buat semuanya. Maaf, gak bisa membalas satu-satu. Saya bahagia sekali karena masih ada yang nunggu fic abal ini TwT

Itu pun kalau ada. Hehe

Maaf ya, aku belum bisa update Eternal Love, kayaknya fic itu bakal discontinued beneran deh. Dan mungkin aku cuma bakal fokus ke fic ini dulu, tapi ya siapa yang tahu nanti aku dapat ilham buat nerusin Eternal Love.

Berniat meninggalkan jejak? :)