Dark Soldier
Disclaimer : Action Together KoG
Rate : T
Genre : Adventure, Friendship
Warning : OC, OOC(extra), AU, Typo(s)
A/N : Akhirnya, saya sudah bisa membuat lanjutan fict gaje ini. Maaf membuat anda menunggu sangat lama. Soalnya saya lagi bosan dan enggak ada ide untuk membuat cerita ini, SORRY!
Ok, langsung baca saja.
Don't like don't read!
Enjoy it, guys!
Chapter 4: Illusion
Sieghart dan Nova telah kembali ke bumi melalui portal teleportasi. Mereka sekarang berada di istana kerajaan Xenia. Nova yang masih belum percaya dengan apa yang dialaminya, masih memikirkannya sampai-sampai Ayahnya yang tadi bingung bertanya.
"Nova, ada apa? Kau tidak suka menu makan malah hari ini?" tanya Ayahnya. Nova hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak memakan makanannya melainkan hanya menatap makanannya saja yang mulai mendingin.
"Nova, kamu harus makan. Ibu tidak ingin kamu sakit. Apa kamu mau Ibu membuatkan makanan lagi untukmu?" kali ini Ibunya yang bertanya. Namun, gadis keras kepala itu menggelengkan kepalanya lagi.
"Ayah, Ibu. Aku tidak lapar saat ini. Jadi biarkan aku sendiri!" bentak Nova sambil memukul meja makan, sehingga makanannya yang sudah dingin berhamburan ke mana-mana.
Dia berjalan menuju kamarnya sambil berlari. Ayah dan Ibunya bingung dengan kelakuan anaknya saat ini. Sieghart yang dari tadi menonton langsung mencairkan suasana.
"Maaf, biar saya tangani anak anda yang keras kepala itu." ucap Sieghart sambil membawa makanan di atas piring yang cukup besar.
Sieghart berjalan menuju kamar Nova yang tidak jauh dari kamarnya juga. Dia membuka pintu dengan perlahan-lahan agar orang yang berada di dalam kamar tersebut tidak terkejut.
"Ng, pelayan bodoh? Ada apa?" tanya Nova yang berada di balkon kamarnya. Dia mengalihkan pandangannya lagi ke atas langit yang cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang.
"Ini makananmu, kau harus memakannya. Jangan membantah." perintah Sieghart. Nova yang dari tadi kesal jadi lebih kesal karena ada seseorang lagi yang menyuruhnya makan.
"Sudah kubilang, aku ti..." ucapan Nova di potong. "Aku memaksa." balas Sieghart sambil mengeluarkan pedangnya. Nova mulai merasa ada hawa mengerikan dari arah Sieghart. Dia akhirnya menurut saja dengan perintah Sieghart, padahal hatinya meronta-ronta agar tidak menurut oleh perintah pemuda misterius di depannya ini.
Baru beberapa sendok dia melahap makanannya, dia mulai merasa kenyang. Sieghart menyuruhnya menghabiskan makanannya. Tapi Nova malah berpura-pura tidur agar Sieghart mengira bahwa dia sudah tidur dan keluar dari kamarnya.
Tapi, itu tidak berlaku bagi Sieghart. Dia tetap menunggunya sambil memanggil namanya. Nova yang masih berpura-pura tidur berharap agar bisa tidur secepatnya. Sieghart yang mulai kesal karena dikacangin oleh Nova, memilih cara ekstrim.
Di luar dugaannya, Sieghart menindih badannya agar dia tidak bisa bergerak. Reflek, Nova yang tadi pura-pura tidur langsung terbangun dan berteriak sekeras-keras mungkin. Tetapi dia merasa kalau suaranya tidak keluar, pita suaranya seakan putus.
"Di negeri langit, aku di kenal sangat baik kepada semua orang. Mereka tidak pernah tidak menghiraukan apa yang kukatakan. Kalau mereka tidak menghiraukan perkataanku, aku tidak segan untuk membunuhnya dengan cara ekstrim seperti ini." ucap Sieghart dengan nada mengancam.
Karena tidak ada pilihan lain, Nova akhirnya memakan makanannya. Sieghart tertawa penuh kemenangan dengan semangat 45. Dia terus memandangi gadis yang tengah makan di depannya.
"Oh, iya. Kalau tidak salah, besok ada pertunjukkan sirkus, kan?" tanya Sieghart.
"Entahlah. Waktu aku kecil, aku tidak pernah melihat pertunjukkan yang namanya sirkus." balas Nova. Dia sudah menghabiskan makanannya sampai tidak ada sisa sedikitpun.
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok malam kita melihat pertunjukkan sirkus? Kau mau?" tanya Sieghart lagi.
"Ah, tidak terima kasih." ucap Nova. Namun Sieghart terus memaksanya agar dia mau ikut melihat pertunjukkan sirkus itu bersamanya. Akhirnya dengan berat hati, Nova menyetujui ajakan dari pelayan bodohnya, tetapi dengan satu syarat. Sieghart harus PvP dulu dengan Nova yang sangat keras kepala.
Sieghart pasti menyetujuinya karena dia yakin pasti menang. Memang, kecil kemungkinan Nova bisa menang dalam duel dengan rival terberatnya ini, tapi dia tidak akan menyerah semudah itu, karena dia sangat keras kepala.
Sieghart yang dari tadi menunggu tuan sekaligus pelayannya makan, lama kelamaan mulai bosan dan merasa lelah. Dia kemudian bangkit dari kursinya sambil menyimpan buku yang dari tadi dibacanya.
"Baiklah, aku tidur dulu. Kau juga harus istirahat. Kalau kau lewat dari jam yang aku tentukan, duel kita batal." kata Sieghart sambil menutup pintu balkon kamar tuannya.
"Oh, kalau begitu pertunjukan sirkus batal?" ancam Nova
"Tidak masalah. Aku bisa mengajak Arme, Lire, Elesis, dan Amy untuk menemaniku menonton sirkus." balas Sieghart. Nova merasa tidak senang mendengar nama-nama yang di sebut oleh Sieghart tadi. Karena setiap Sieghart menyebut nama-nama mereka, hatinya akan terasa sakit.
Sebenarnya dia memiliki perasaan dengan Sieghart, tetapi dia tidak mau mengakuinya dan menganggapnya sebagai rival sekaligus pelayannya.
"Hahaha. Baiklah, aku menunggu di tempat biasa kita berlatih." ucap Sieghart.
"Oke." balas Nova. Dia menarik selimutnya agar tidak kedinginan di malam hari.
"Selamat malam, tuan." kata Sieghart sambil menutup pintu kamar gadis yang hampir mirip dengan replikanya
"Pergi kau pelayan bodoh." ucap Nova. Dia tidak sabar untuk memperlihatkan jurus barunya kepada rival terberatnya yang sangat sombong.
Pagi hari ini, seperti biasa, Sieghart berjalan-jalan santai di koridor istana yang sangat besar sambil melihat-lihat keadaan. Mulai dari Jin yang berlatih dengan Dio, Elesis dan Lire yang sedang adu pikiran(main catur), Arme yang sedang menyiram tanaman lalu Ryan yang datang dan menghancurkan tanaman-tanaman milik Arme, dan masih banyak lagi.
Dia berjalan menuju tempat di mana dia dan Nova berlatih. Dia berpikir kalau Nova hari ini pasti akan terlambat lagi. Tetapi, ternyata tidak. Dia sudah menunggu sambil bersiap-siap menyerang.
Sieghart yang dari tadi masih santai-santai langsung mengeluarkan pedangnya dan menangkis serangan dari Nova. Dia menggerakkan pedangnya secepat kilat.
"Bagus sekali. Tapi kali ini aku akan bersungguh-sungguh." giliran Sieghart yang menyerang. Dia menggunakan jurus-jurusnya untuk mengalahkan tuannya yang sangat keras kepala.
"Hahaha, aku baru saja pemanasan. Kali ini kau akan merasakan bagaimana rasanya kalah." lama kelamaan pedang hitam milik Nova berubah menjadi pedang merah darah yang dilapisi oleh api.
'Jadi, dia pengguna jurus elemen api , ya? Kalau begitu, aku juga harus menggunakan satu elemen' batin Sieghart. Dia juga menggunakan elemen untuk pedangnya. Elemen yang digunakannya adalah elemen es.
"Kau sudah mulai hebat. Tapi masih belum sehebat diriku." ucap Sieghart. Dia menggunakan Skill Lv.1 dan Lv.3 dan membuat Nova kesulitan untuk menyerang karena dia harus menangkis serangan dari Sieghart.
"Terima ini. Gaia Flame!" pedang Nova membuat bola api super besar. Dia mengunci target bola api itu ke arah Sieghart.
"Gravity!" Sieghart menghentikan laju bola api itu dengan mengatur gaya gravitasi disekitarnya. Agar tempat latihannya tidak hancur oleh bola api merepotkan milik Nova, Sieghart mengaktifkan jurus dimensi. Dia membentuk segel segitiga dari tangannya.
"Black hole!" bola api yang melayang di udara tadi langsung terhisap ke dalam lubang hitam, dan akan meledak di masa lampau atau masa depan. Nova merasa masih belum bisa mengalahkan rivalnya, walaupun dia sudah mempelajari jurus baru.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Sieghart. Dia duduk di atas batu yang biasanya dia gunakan untuk tidur-tiduran sehabis latihan.
"Hhh, rivalku memang hebat, ya?" ucap Nova. Dia terduduk ditanah sambil mengatur nafasnya.
"Hahaha, tentu saja. Kau itu adalah manusia yang sangat lemah, tidak mungkin bisa mengalahkanku yang sangat hebat ini." Sieghart menyindir dengan nada yang sangat sombong. Membuat Nova merasa tersinggung.
"Apa? Tarik kembali kata-katamu itu, bodoh!" Nova terbawa amarah neraka Lv2.
"Hahaha. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi." ucap Sieghart sambil membawa sebotol air mineral. "Yang penting malam ini, kita akan melihat pertunjukan sirkus."
"Hh, aku tidak tertarik. Maaf." balas Nova. Dia merasa ada hawa membunuh di sekitarnya. Dengan cepat, dia meminta maaf kepada tuan Sieghart.
Malam ini begitu berbeda. Semua penduduk kota Xenia berhamburan ke lapangan utama kota, untuk menyaksikan pertunjukkan sirkus yang jarang hadir. Semua orang yang ada di lapangan begitu bersemangat, tetapi tidak dengan gadis yang satu ini.
Dia terlihat sangat kesal dengan pelayannya. Kesan muramnya membuat wajahnya yang cantik, kini terasa tawar. Tetapi berbeda dengan pemuda di belakangnya, dia terus memperlihatkan senyuman khasnya kepada semua orang yang menyapanya. Dia begitu semangat menanti pertunjukan sirkus dimulai.
"Hei, kau kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Sieghart sambil membawa dua buah permen gula-gula berwarna pink. (Maaf saya lupa namanya)
"Banyak." balas Nova singkat dan jelas.
"Hm? Apa saja?" tanya Sieghart. Mereka berdua duduk di kursi VIP yang disediakan oleh panitia untuk anggota kerajaan.
"Pertama Sirkus." ucap Nova sambil memasang wajah madesu. Sieghart menyimpan sebuah gula-gula di samping tempat dia duduk dan sebuah lagi di kursi Nova.
"Hahah, apa hubungannya dengan sirkus?" tanya Sieghart.
"Banyak." balas Nova. Sieghart hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku tahu." ucap Sieghart. "Tetapi kita sudah membeli tiket masuk sirkus ini." Sieghart memperlihatkan dua buah tiket yang sudah di beri cap.
"Para hadirin sekalian. pertunjukkan sirkus akan segera dimulai." kata Mc pertunjukkan sirkus. Semua orang bersemangat sambil bertepuk tangan.
"Baiklah. Sirkus ini kita mulai." para Juggler melakukan acrobat-akrobat yang luar biasa. Semua orang bertepuk tangan, bahkan ada yang tertawa.
"Hahahahaha, ng? Hei kenapa kau tidak tertawa?" tanya Sieghart kepada Lass yang duduk di sebelah kanannya.
"Sieghart, ada yang ingin ku sampaikan." bisik Lass ke telinga Sieghart. Dia memberi sekantung garam merah kepada Sieghart.
"Untuk apa garam ini?" tanya Sieghart. Lass lalu berbisik kembali ke telinga Sieghart.
"Begitu ya? tapi, garam ini apa gunanya?" Sieghart memandangi kantung garam merah itu.
"Itu untuk menghalau ilusi yang di buat oleh Ziddler. Kau bisa memberikan setengahnya kepada tuan putri." Sieghart mengerti. Dia mengerti bahwa kekuatan Ziddler berasal dari jiwa-jiwa manusia.
"Baiklah. Kau akan pergi?" tanya Sieghart.
"Tidak, aku akan menunggu di belakang plot. Kalau Ziddler sudah memulai aksinya, aku akan membantumu." balas Lass. Dia langsung menghilang menjadi asap.
Pertunjukkan sirkus ini membuat seluruh orang yang berada di plot ini tertawa. Bahkan ada yang menangis. Namun, Sieghart mengerti maksud dari pertunjukkan ini.
"Nova, kau harus memakan garam ini." perintah Sieghart sambil memberi gadis itu setengah dari garam merah yang diberikan oleh Lass.
"A... Apa ini?" tanya Nova sambil memandangi garam merah yang ada di tangannya.
"Ceritanya panjang, sebaiknya cepat." tanpa banyak bicara, gadis itu memakan semua garam yang diberikan oleh Sieghart tadi. Sieghart juga memakan sebagian garam yang diberikan oleh Lass tadi.
"Kita sambut bintang utama sirkus kita malam ini..." Semua orang terdiam. Suasana yang tadi ramai, kini menjadi sunyi.
"Ziddler." seorang berbadan besar keluar dari balik tirai. Dia menunggangi boneka kuda laut. Diikuti oleh dua orang temannya, yang satu berbadan besar dan yang satunya lagi menunggangi seekor singa.
Semua penonton tertawa lebih keras dari yang sebelumnya. Mereka menertawakan Ziddler yang berpenampilan konyol seperti itu.
"Halo semua. Namaku Ziddler." Ziddler memperkenalkan dirinya kepada semua penonton, tiba-tiba sepiring pie apel yang datang entah dari mana asalnya mengenai wajahnya. Semua orang tertawa sampai batuk.
"Khuhuhahaha. Tertawalah, maka jiwa-jiwa kalian akan terkumpul menjadi energi yang luar biasa. Khuhuhahahaha." Semua penonton tertawa. mereka tidak bisa berhenti tertawa.
"Tuan penyalur energy sudah siap." ucap wanita yang menunggangi singa sambil menyerahkan sebuah remot kepada Ziddler.
"Khuhuhahaha. It's show time." Ziddler menekan tombol biru yang terdapat di remot itu. Roh-roh manusia yang tertawa terhisap masuk ke dalam boneka kuda laut milik Ziddler.
"Khuhuhahahahaha. Tidak akan ada yang bisa menandingiku. Coba saja kalau mereka berani melawanku. Khuhahahaha." plot yang tadi bersuara ricuh, kini menjadi hening. Bahkan suara jangkrik bisa di dengar oleh telinga.
"Benarkah? Kalau begitu biar aku yang mencobanya." ucap seseorang dari langit-langit plot sirkus.
"Ka.. kau, Lass." Ziddler terkejut melihat Lass kembali. Dia mengalahkan para Juggler dan Big man. Tiba-tiba sebuah bola kecil datang menggelinding ke arah Lass.
"Khuhuhahahaha. Kau tidak bisa apa-apa lagi sekarang, Lass." Lass terjebak di dalam kurungan gas tidur berwarna hijau yang dilempar oleh Ziddler.
"Sial, uhuk." Lass dikalahkan oleh Ziddler. Ziddler tertawa melihat Lass sekarat di depannya.
"Khuhuhuhahaha. Sayang sekali Lass, seandainya saat itu kau tidak pergi meninggalkan kami. Kau pasti akan memiliki kekuatan yang sama sepertiku." Ziddler mengarahkan kepala kuda lautnya ke arah Lass.
"Mati kau. Khuhuhahaha." beberapa peluru keluar dari kepala kuda laut Ziddler. Lass yang pingsan akibat gas tidur tadi menghilang, membuat peluru itu meleset.
"A..apa yang..." ucapan Ziddler terputus saat melihat dua orang duduk di bangku penonton VIP.
"Haah. Sudah kubilang, aku tidak ingin melihat pertunjukan yang namanya sirkus." ucap seorang gadis yang memakan gula-gula.
"Sepertinya pertunjukkannya sudah selesai, Ziddler?" tanya Sieghart sambil mengeluarkan pedangnya.
"Si..siapa kalian?" tanya Ziddler.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Dari awal, memang tidak ada yang bisa membuatku tertawa. Membosankan." balas Nova sambil membuang gula-gula yang ada di tangannya.
"Ya.. begitulah. Padahal tadi aku begitu semangat." Sieghart berjalan ke atas panggung. Dia membunuh Juggler yang tersisa.
"Apaaa... Liona, bunuh bocah itu." Liona yang diperintahkan untuk membunuh Sieghart, memanggil kawanan singa-singa lainnya.
"Ini hanya semut yang mengacaukan jalanku saja." Sieghart menebaskan pedangnya ke arah singa-singa yang mengejarnya. Nova yang dari tadi duduk, kini sudah mengambil pedangnya.
"Pertunjukkan ini, baru akan di mulai." Sieghart mengarahkan pedangnya ke arah Liona. Tiba-tiba...
JLEB
Pedangnya tidak mengenai tubuh Liona, melainkan pedang seseorang. Liona jatuh ke lantai dengan tubuh bersimbah darah.
"No..Nova?" Sieghart tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis itu menusuk tepat di jantung Liona.
"Ada apa?" tanya Nova dengan wajah tanpa dosa. Sieghart masih menganga melihat kejadian langka ini.
"Se..sejak kapan kau membunuh orang?" tanya Sieghart. Nova hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu, aku bisa saja membunuhmu saat ini. Jadi jangan banyak bicara." Nova mengambil pedangnya yang tertancap di jantung Liona.
"A..apaaa? Sialan, akan kubunuh kalian berdua secara langsung." Ziddler menembakkan peluru dari kepala bonekanya. Peluru-peluru itu menyebar ke segala arah,
"Sieghart, gunakan teamwork." Sieghart mengangguk. Dia menggunakan jurus Black Hole untuk menghisap semua peluru ke dimensi lain.
"Terima ini." Nova melempar bola api ke arah Sieghart. Dengan cepat Sieghart membuat Black Hole dan mengirimnya ke belakang Ziddler.
Ziddler dibakar api. Tetapi dia masih belum mau menyerah.
"Khuhuhuhahahahahaha. Kaian akan membayar semua ini. Khuhuhahahahahahaha." tubuh Ziddler lama- kelamaan berubah menjadi api biru, mirip Ghost Raider.
"Khuhahahahaha. Bersiaplah menuju neraka." Ziddler mengeluarkan missil dari mulut boneka kuda lautnya. Reflek, Sieghart langsung menghindar. Namun, tidak untuk Nova. Dia terkena ledakan missil Ziddler karena terlambat untuk menghindar.
"NOVA!" Sieghart berlari ke arah gadis yang terluka akibat ledakan missil itu. Dia memanggil nama gadis itu, namun tidak ada jawaban.
"Khuhuhahahahaha, satu sudah mati, selanjutnya kau. Khuhahahaha." ucap Ziddler. Dia kembali menembakkan missil-missilnya ke arah Sieghart.
DUARR
Sieghart menangkap salahsatu missil dan melemparnya kembali ke arah Ziddler. Dia berada di luar kendali saat ini, rage modenya terisi penuh. Ziddler terjatuh dari bonekanya.
"Aku akan membunuh orang sepertimu." Sieghart mengangkat pedangnya. Dia bersiap-siap memukul Ziddler.
"To..tolonglah. Ja..jangan..bunuh... GYAAAAA" tubuh Ziddler terpotong menjadi partikel kecil. Tidak ada yang tersisa dari tubuhnya. Semua roh manusia kembali ke tubuh mereka masing-masing.
Sieghart membawa Lass dan Nova ke istana dengan menggunakan jurus perpindahan waktu. Dia menyuruh Arme dan dokter lainnya untuk memeriksa keadaan mereka berdua.
Kini dia berada di depan kamar Nova yang gagal dia selamatkan dari ledakkan missil Ziddler tadi. Sang raja yang binging bertanya kepada Sieghart.
"Sieghart, apa yang terjadi?" tanya sang raja kepada Sieghart yang terlihat cemas.
"Maaf, aku sedang tidak ingin berbicara saat ini. Mungkin bila ada waktu." balas Sieghart sambil pergi meninggalkan raja Xenia yang bingung. Pikirannya sedang kosong saat ini. Dia hanya butuh istirahat sedikit untuk regenerasi tenaganya.
Pagi hari ini, Sieghart berjalan gontai di koridor istana, membuat semua orang bingung dengan kelakuan Sieghart. Dia berjalan menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari kamarnya.
Sesampainya di depan pintu kamar itu, dia membukanya dengan perlahan-lahan. Seseorang terbaring lemah dia atas kasur, matanya tertutup seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan yang berarti.
Sieghart sedih melihat gadis yang biasanya ceria ini harus berbaring di kamar. Seandainya dia tidak mengajaknya ke acara sirkus itu, mungkin dia tidak akan jadi seperti ini. Sieghart terus mengutuk dirinya sendiri.
"Maaf, Nova. Karena aku, kau jadi seperti ini." suara Sieghart bergetar, rasanya dia ingin sekali mendengar suara gadis yang selalu mengajaknya berduel. Namun, gadis itu masih belum membuka matanya. Butiran air mata mengalir dari mata Sieghart.
Dia mengangis. Hal yang wajar dilakukan oleh manusia. Ini adalah tangisannya yang ke tiga dalam sejarah hidupnya. Hanya karena seseorang dia jadi seperti itu.
"Maaf, seharusnya aku.. hiks." Sieghart tidak dapat melanjutkan kalimatnya. tenggorokannya terasa kering. Dia terjatuh, lututnya menyentuh lantai.
"Sieghart, apa itu kau?"
TO BE CONTINUE
A/N: Huaaa. Sorry kalau jelek bikinnya. Ini adalah fict kebutan yang saya buat dalam waktu kurang dari 24 jam. Karena sekalian update, jadi tidak saya tinjau ulang cerita ini. Maaf. Sebenarnya ini fict gagal untuk dipublikasikan, tetapi ya sudah dari pada mubazir
Oh iya behind scenenya nggak saya buat, soalnya lagi tidak ada ide untuk kreatif. m(_ _)m
Klik Tombol review. (Maksa)
