Blood ©IndiahRahmawati

(KookV, MinYoon, NamJin) | T

Angst, Crime, Drama

.

.

.

.

.

Entah kenapa aku merasa pusing. Sejak ledakan perasaan dua hari yang lalu kepalaku terasa pening. Jika mengingatnya rasanya wajahku benar-benar panas. Arkh! Kenapa semua ini harus terjadi padaku?! Aku mendengar ketukan pintu dari luar

"Jungkook-ah! Kau mau sarapan atau tidak? Jika tidak cepat mandi dan berangkatlah sekolah!"

"ne! hyung!" aku bangking dari kasurku dan beranjak menuju kamar mandi. Aku bisa lihat wajahku yang berantakan, aku tak bisa tidur sampai jam 3, dan itu sudah terjadi sejak dua hari yang lalu. Fuck! Aku langsung membasuh wajahku dengan air, dan mulai melepas baju dan celana lusuh itu.

SKIP

Aku duduk sambil memakan roti yang sudah Jimin hyung siapkan, Jimin hyung masih sibuk mencari tugasnya dari tadi. Aku hanya mengoles selai dalam diam, ini aneh, aku seperti merasakan sesuatu yang ganjal tapi aku tak bisa mengingatnya. Seperti kaset rusak yang sudah tak bisa diputar ulang. Aku terus melamun sampai tak sadar aku meletakkan selai terlalu banyak

"Jungkook!"

Aku terkejut "ne?!"

"apa kau yakin ingin makan itu?" kata Jimin hyung

Aku melihat rotiku yang sudah penuh dengan selai coklat disana, aku tak yakin itu masih berbentuk roti "a-a-ahaha! Aku... tak jadi sarapan" kataku meletakkan selai dan sedikit mendorong piring didepanku, lalu meminum susu putih yang sudah Jimin hyung siapkan

"haah... ada apa denganmu... sikapmu aneh belakangan ini?" tanya Jimin hyung duduk disampingku

"bukan apa-apa... bukan apa-apa" kataku

Jimin meminum minumannya "yak... Yoongi akan tinggal disini, tak apa kan?" tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil berkata 'wae?' "dia kehilangan pekerjaannya karena asalan yang bodoh, dia bilang kalau ia hanya tak sengaja menjatuhkan coffee kesalah satu pelanggan, dan menampar pelanggan itu karena hampir melecehkannya dengan meminta Yoongi-KU membersihkan semua tumpahan itu dengan lidahnya..." kata Jimin hyung sengan nada kesal

"biar kutebak... kau membunug pelanggan itu dan manager Café itu?" kataku

"baru kubunuh managernya... tinggal pelanggan sialan itu..." katanya dengan aura kegelapan "akan kujilat dia dengan lelehan besi..." katanya

Aku tersenyum "ayolah hyung... kau bisa lebih kejam dari itu..." kataku mengambil tasku "oh, lalu manager café itu? bagaimana?" tanyaku takut Jimin hyung membuat kesalahan

"tenang. Semua hilang setelah aku katakan dia pindah keluar negeri membangun café lain disana" kata Jimin hyung membuka ponsel miliknya "oh! Aku janji tak akan berbuat macam-macam pada Yoongi..." kata Jimin melihat kearahku

"ya ya... akan kupastikan itu" kataku bangkit dari duduk dan segera memakai sepatuku "aku berangkat Jimin hyung" aku lalu menutup pintu setelah mendengar sapaan Jimin hyung. Aku mulai berjalan menuju tangga Apartemen.

Tenang, aku tau Jimin hyung tak akan bohong, meski itu akan menyiksa dirinya sendiri. Jimin hyung tau semua masa lalu ku dan dia pasti akan menjagaku, aku percaya padanya. Meski dia pembunuh sekali pun, aku yakin dia juga percaya padaku. Dia hyung terbaik yang aku punya, ketimbang kakakku yang dulu...

...

Aku membencinya...

...

Kakak yang sama sekali tak pernah peduli padaku

...

Dan semua trauma itu...

Aku menghentikan langkahku ditangga terakhir, aku bisa dengar suara-suara yang paling kubenci seumur hidupku. Suara yang selalu jadi mimpi terburukku

"nikmat ngaah!"

Aku menggenggam tangganku kuat, jika otakku sudah benar-benar gila aku bisa saja masuk dan dan memotong semua alat tubuh mereka yang menjijikkan itu. Tapi aku berusaha tak peduli dan pergi secepatnya dari sana. Semua karena kakaku...

Hmm? Mimpi basah? Pernah, semua pria mengalaminya itu wajar. Tapi aku selalu menganggap itu mimpi buruk. Selalu bangun dengan baju yang basah dan berharap tak pernah mengalami mimpi itu lagi. Aku juga bingung kenapa jika ingin menghasilkan keturunan atau melakukan kesenangan harus dengan cara yang membuatku muak?! Sudah kukatakan kalian tak akan mau tau dengan traumaku.

Aku berjalan menuju halte dan menunggu disana. Dan tak lama bus datang, dan sialnya sangat penuh dan terpaksa aku berdiri. Dan disana aku bertemu dengan itu lagi, dunia ini memang penuh orang mesum. Aku peringatkan kepada kalian untuk berhati-hati jika bisa selalu bawa benda untuk menjada diri kalian, dan jangan pernah tergoda pada apa pun! Kalian mengerti maksutku kan?!

SKIP

Haah... aku meletakkan kepalaku dimeja dan mencoba melupakan semua yang terjadi. Aku tak mungkin belajar dengan pikiran mengganggu ini. Mungkin seragam putihku telah basah oleh keringat, ini bukan karena pikiranku kotor atau pun mesum, tapi dari tadi aku menahan hasrat untuk muntah dikelas, aku rasa aku tak bisa makan bersama Taehyung nanti.

"Kookie?"

Aku langsung mengangkat wajahku mendengar suara Taehyung. Ia tepat didepanku, wajahku memerah "j-jangan panggil aku dengan nama itu!" kataku memalingkan wajahku

"hee... wajahmu pucat! Kau baik?" tanyanya

"ha-hanya kelelahan..." kataku

"bohong!" aku menengok dan seketika merasakan tangan Taehyung menyentuh dahiku, wajahnya benar-benar dekat denganku "badanmu padas... kau demam?"

Aku mendorong kursiku menjauh saking terkejutnya. Nafasku memendek saat itu, aku bisa lihat wajah bingungnya "a-aku baik-baik saja?!" kataku beranjak dari kursi dan berjalan keluar. Aku harap dia tak akan menikutiku. Aku berjalan menjauh entah kemana, aku bisa dengar orang-orang berbisik, pasti karena kemarin. Lalu tiga orang pria berdiri didepanku "oi! Jungkook-ah"

Itu Chansung hyung, Nichkhun hyung, dan Taecyeon hyung aku kenal mereka karena mereka juga ikut dalam Taekwondo sekolah. Aku panggil mereka hyung karena disekolah ini kelas 3 yang termuda hanya aku. "ada apa?" tanyaku

"kami sudah dengar kalau kau mendapat pernyataan cinta dari sianeh itu..." jawab Chansung hyung

"lalu..."

"kau tau kan masalah orang itu... jika kau bersamanya reputasi klub kita akan tercoreng. Kangin Sunbae sudah mempercayakan klub itu, kau mau membuatnya kecewa dengan satu hal sepele ini..." kata Chansung hyung

"so..." aku sengaja membuat mereka kesal

"jangan main main kau ya!" Taecyeon hyung menarik kerah bajuku, aku masih memasang wajah datar "kau tau tentang pria sialan itu?! gara-gara ayahnya ayahku terpaksa menganggur karena ia mengganji mereka semua sedikit padahal usahanya sangat sukses! Ayahnya itu seperti iblis yang membuat susah semua orang! Ayah dan anak akan sama saja!" kata Taecyeon hyung

Aku terdiam "memangnya kenapa?" aura membunuhku keluar, dalam sekejap Taecyeon hyung menurunkan kerahku dan sedikit mundur. Aku bisa rasakan ia sedikit ketakutan

Lalu Nichkhun hyung mendekatiku dengan santai disaat kedua temannya tampak ketakutan "bisa kita bicara Jungkook-ah..." katanya. Aku hanya menurut dan mengikutinya dari belakang. Kami berjalan menuju belakang sekolah yang digunakan untuk kebun kecil milih sekolah kami berhenti disana. Ia melihat kearahku... "lebih baik jangan sembunyikan lagi..." kata Nichkhun hyung

"apa... aku tak mengerti maksut hyung..."

"aku tau... " dia mendekatiku lalu memegang pundakku dan mendekatkan wajahnya pada telingaku "kau yang membunuh Ravi saat SMP... kan?"

Aku terkejut, tapi berusaha menahan ekspresiku "aku tak mengerti..."

Dia menjauh "kita teman satu kelas saat SMP, aku yakin kau ingat itu" dia tersenyum ramah "kau anak pendiam tapi saat itu hanya Ravi yang berani mendekatimu karena kau anak kaya yang disukai banyak gadis... aku yakin kau tau kalau Ravi hanya memanfaatkanmu... lalu tiba-tiba saja dia meninggal digym pribadinya. Laporan mengatakan kalau dia terpeleset dan kepalanya menimpa Dumbbell..." katanya menjelaskan dengan wajah tersenyum ramah seperti biasa "tapi ada yang mengganjal dalam pikiranku... posisi jatuh Ravi dan posisi dumbbell sedikit berbeda... posisi jatuhnya Ravi ada disebelah kanan dan dumbbell sebelah kiri... dan lagi luka Ravi ada dibelakang kepala, yang artinya Ravi harus berjalan kearah kiri jadi ia bisa terpeleset kebelakang saat berjalan dan membentur dumbbell, tapi arah kiri hanyalah tembok kosong yang belum diberi apa-apa, yang artinya..." dia melihatku "dia berjalan kearah kanan... tempat pengambilan handuk dan air minum. Akan aneh ada orang berjalan dari kanan dan Dumbbell sebelah kiri, tapi lukanya ada dibelakang kepala..." dia menatapku serius. Aku hanya membalas tatapannya dengan tajam "biasanya jika ia berjalan dari kanan ia akan terbentur didepan kepalanya... dan lagi posisinya juga tak akan terlalu jauh dari posisi Dumbell. Yang artinya hanya satu kemungkinan ia mendapat luka itu... sengaja dipukul dari belakang..." katanya "Akan beresiko memindahkan tubuh korban karena darah akan menempel pada baju atau memindahkan barang-barang karena disana tak pernah diurus jadi memindahkan satu barang saja akan terlihat bekasnya... dan yang bersamanya waktu itu hanya kau"

Aku hanya diam mendengar semua penjelasannya. Aku mulai membuka mulut "tapi jika membuka baju yang sudah terkena noda darah dan membakarnya tak akan terlihat, kan?"

"aku juga memikirkan itu, tapi selang waktu penemuan mayat dan polisi datang tak terlalu lama... itu karena kau langsung menghubungi mereka jadi tak akan sempat mengganti baju... dan lagi dari penglihatanku waktu itu kau masih mengenakan pakaian yang penuh keringat... jadi aku mengambil kesimpulan..." ia mendekatiku "kau membunuhnya terburu-buru dan membiarkan Dumbbell itu ditempatnya, lalu menelfon polisi dan berpura-pura kau berolah raga dan melihat Ravi terpeleset. Karena kau berkeringat jadi polisi percaya dan menganggap itu kecelakaan" kata Nichkhun hyung menatapku dingin

"kalau memang aku yang membunuhnya kenapa?... laporkan saja aku" kataku

"aku tak punya niat seperti itu" dia tertawa

"he?"

"kau itu murid berbakat... Kangin sunbae juga kagum denganmu... niatku dari awal memang tak mau melaporkanmu. Tapi... " ia menggantungkan kata-katanya "angap ini ancaman... jauhi Taehyung... semua demi klub kita... Kangin sunbae menitipkan klub itu padaku, jadi aku tak akan membiarkan apa pun menjatuhkan klub... termasuk pria itu..." ia menunjukkan wajah seriusnya, aku sedikit merinding dibuatnya. "yah... itu saja... jangan lupa berlatih besok ya! Jungkook-ah!" katanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku.

Nichkhun hyung adalah temanku saat SMP, ia punya pikiran dan analisi yang tepat, aku pernah dengar ia mendesak Jimin hyung untuk mengungkap sebuah kasus pembunuh yang dilakukan oleh Jimin hyung sendiri, beruntung Jimin hyung lolos dari kecurigaannya. Mungkin analisinya bagus tapi dia tak berniat menjadi detektif. Dimanapun ia disebut Prince of Everything, tak ada olahraga, matapelajaran, atau hal lain yang tak bisa ia lakukan. Tapi dia memilih untuk menjaga klub Taekwondo, Ia mau mewujutkan impian mendiang ibunya untuk menjadi juara dunia dalam bidang Taekwondo, dan setelah diberi kepercayaan kepada Kangin sunbae dia benar-benar bertekat membuat klub itu maju hingga tingkat dunia. Jelas saja ia mengancamku tadi... jika salah satu anggota yang cukup terkenal menjalin hubungan dengan orang yang dibenci se-sekolah, itu akan mencemari nama baik klub.

Aku tak ingin mengecewakannya karena dia sangat baik padaku, tapi aku juga tak mau mereka terus-terusan mendesak Taehyung yang tak salah apa pun. Aku menghela nafasku. Aku berjalan pergi dari sana, aku masih berfikir dan terus berfikir. Aku putuskan kembali kekelas sebelum pelajaran dimulai.

.

.

.

Istirahat diatap sekolah hanya ada aku dan Taehyung, ia bilang kalau ia membuat bekal ini. Tapi aku yakin kalau dia hanya menatanya sedang masakan-nya pasti 100% buatan Jin hyung. "haah... tadi kau membuatku khawatir... kau kemana tadi?" tannyanya

"aku hanya mencari udara segar" kataku memasukkan sebuah sosis berbentuk gurita kedalm mulutku

"t-tapi kau baik kan? Kau terlihat aneh sejak tadi..." katanya menatapku dengan wajah yang khawatir.

Wajahku memerah "aku baik..." kataku memalingkan pandanganku

"a-apa aku berbuat salah..." katanya menunduk

Apa yang harus kulakukan sekarang?! Tiba-tiba aku ingat saat Yoongi hyung ada diapartemen kami dan tampak marah dengan Jimin hyung, aku juga bingung Jimin hyung suka pria Tsundere seperti Yoongi hyung. Lalu saat pagi harinya Jimin hyung tampak memeluk Yoongi hyung dari belakang, aku tak terlalu dengar apa obrolan mereka.

Apa itu bisa kumanfaatkan?

Aku sedikit bergeser kebelakang dan setelah tepat dibelakangnya aku menaikkan kaki kananku tepat disamping kanannya. Dia terkejut "a-apa yang kau lakukan?!" ia mencoba menjauh

Aku mulai berfikir "s-sebenarnya aku memang demam... tubuhku dingin dari tadi..." kataku berpura-pura

"jjinja?!" dia langsung meraih tanganku dan meletakkannya pada pinggangnya "aku sering lihat Namjoon hyung memeluk Jin hyung saat Jin hyung demam" katanya "jadi peluk saja aku..."

Wajahku memerah seketika, aku ingin marah, tapi aku terlalu berdebar dan gemetar sekarang. Aku perlahan meletakkan sumpitku, lalu dengan gemetar memeluk pinggang dan pundaknya. Ia hanya diam, aku bisa rasakan jantungnya juga berdebar hebat. Aku menarik nafas panjang tapi tetap tak berhasil. Dan seharian kami hanya diam mematung dengan posisi yang sama, entah kenapa ia terasa sangat hangat...

SKIP

Aku berjalan menuruni tangga untuk sampai kebawah, pelajaran terakhir adalah olahraga. Aku telat ganti baju karena aku ketiduran tadi. Aku terus melangkah sampai dilantai dua saat berbalik aku melihat orang yang seperti telah menungguku cukup lama "hi... Jungkookie?"

"mau apa kau... Honseok-ah?" tanyaku

"menunggumu! Kau lama sekali... guru olahraga menunggumu..." katanya

"jjinja? Sepatumu belum terlalu kotor, artinya kau belum turun sama sekali..." kataku melihat sepatunya

"ehehehe... ketahuan ya?" katanya menghadapku "ada yang ingin aku bicarakan..." ia menatapku "kakakku terbunuh beberapa hari yang lalu... dan yang membunuhnya adalah... kakakmu" tatapannya berubah dingin

Aku terkejut "k-kau..."

"benar... Jung Daehyung... adalah kakaku..." katanya. Aku terkejut setengah mati "sudah beberapa minggu ia menghilang dan aku menyelidiki dimana dia... dan terakhir aku lihat dia bersama seorang pria, kelihatannya dia salah satu polisi yang membantu mencari hyungku, aku sempat lega dia menemukannya... tapi sejak memasuki apartemen itu hyung tak pernah kembali... aku mencari data tentang polisi itu dan aku menemukannya... Park Jimin tunangan kakakmu... dan dari yang aku dengar kakakmu meninggal dibantai oleh perampok... tapi aku tak berfikir begitu..." katanya mendekatiku "kita memiliki kesamaan iya kan? Kakak kita telah dibunuh oleh orang yang menganggap dia dirirnya benar" katanya menatap dengan senyuman sinis

Aku mengangkat kerah bajunya "jangan... bicarakan hal buruk... tentang Jimin hyung" Kataku dingin

Dia terkejut "heh... sudah kuduga..." katanya tersenyum "kau juga sama... kau yang membunuh orang-orangku digang menuju sebuah taman hiburan malam... waktu itu kan?"

Aku terkejut ia tau. Jadi itu suruhannya? Pantas aku curiga ada orang disana... "k-kau benar-benar..."

"heh... tapi aku yakin kau orang yang berhati-hati... sama dengan kakakmu itu. Semua teknik kalian tak bisa kubaca sama sekali... kau bisa menghilangkan bukti dengan mudah dan menjadikannya kecelakaan. Atau menghilangkan mayat kakakku dan membuatku tak bisa mencarinya... kau benar-benar tak suka dicurigai" katanya menghela nafas panjang "tapi bagaimana jika aku menghancurkan semuanya?" tanyanya

Aku tak mengerti, tiba-tiba mendorongku membuatku terkejut dan melepaskan genggamanku, aku lupa dibawahnya adalah tanggga. Aku mencoba meraihnya tapi terlambat. Ia tersenyum lalu tubuhnya terbentur tanggga dan menggelinding kebawah, kepalanya langsung terbentur tembok dibawah tangga. Aku terkejut setengah mati dengan apa dengan perbuatannya

Lalu seorang siswi datang dan melihat tubuh Honseok dan melihatku yang mengulurkan tanganku

"GGYYAAAAA!"

Aku terdiam mematung melihatnya. K-kenapa... kenapa seperti ini...

.

.

.

TBC/END?