HUNHAN | DEPRESSED | CHAPTER 4
Tittle : Depressed
Author : LarasAfrilia1771
Genre : Tragedy, Romance, Yaoi
Cast : Oh Sehun
Lu Han
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jinhwan ( iKON )
A/N : CHAP 3 its coming to town (?) kalo masih ada yang minat silahkan baca jangan lupa review ya karena aku butuh banget semangat juga saran kalian ^_^
Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali Sehun yang mutlak punya saya Bhaqq ^o^
.
.
Summary
Sehun terpaksa dijodohkan dengan putra dari kerabat orangtuanya bernama Luhan. Hal pertaman yang membuat Sehun aneh kepada orangtuanya adalah kenapa ia bisa dijodohkan dengan namja yang mengidap depresi seperti Luhan?
.
.
.
.
.
LEEEGGOOOOOOOOOOO~~~
.
.
.
.
_Sebelumnya_
Wufan menuntun Luhan untuk berjalan bersamanya. Meski Luhan difonis mengalami retak pada punggungnya meskipun hanya sedikit, namun namja cantik itu enggan jika harus menggunakan kursi roda. Dia bilang hal itu hanya membuat punggungnya semakin sakit dan dokter menyetujui itu hingga memperbolehkan untuk dirinya berjalan seperti biasa.
"Sehun" panggil Luhan membuat Sehun yang mengekor disana sontak terdiam.
"Ne, ada apa Luhan?"
Namja cantik itu nampak berpikir. Ia ingin mengutarakan ini, Luhan sangat menginginkannya hingga bibirnya sedikit bergetar untuk mengucapkan apa yang diinginkannya terhadap Sehun.
"Aku ingin tinggal di aparthemenmu" ujar nanja cantik itu cepat. Membuat Wufan juga Sehun sontak terkejut atas apa yang baru ia dengar tadi.
"Mwo?" Sehun dengan spontan berucap seperti itu, membuat raut wajah Luhan berubah dari sebelumnya.
"Ahh, ne boleh jika Wufan hyung tak keberatan"
.
.
_Depressed_
Chanyeol mencoba memeriksa beberapa dokumen yang bertumpuk di meja kerjanya, membolak balik seraya membaca tulisan didalamnya. Hingga pintu ruangan pribadinya dibuka secara tak sopan oleh seseorang disana.
Namja tinggi itu menatap datar namja mungil yang kini mulai duduk dihadapan meja, sedikit menyeringai saat matanya menatap raut wajah sosok yang terduduk disana.
"Wae?" ucap Chanyeol masih fokus pada dokumen di tangan, sedangkan Jinhwan telah melipat kedua tangannya dengan angkuh.
"Kau bilang kenapa? Kau bodoh atau apa hah" Jinhwan berucap dengan suara yang sedikit ia tinggikan membuat Chanyeol segera menutup dokumen itu dan beralih duduk tepat dihadapan namja mungil tersebut. Chanyeol sudah mengira sebelumnya jika Jinhwan akan membicarakan tentang sesuatu kali ini, ia yakin pasti akan ada sangkut pautnya mengenai Sehun juga Luhan, karena jika bukan ya apalagi.
"Jadi kau ingin aku melakukan apa?" tanya namja tinggi itu akhirnya.
"Aku ingin kau membatalkan pernikahan mereka nanti" Jinhwan mendelik ke arah Chanyeol. Dalam hati namja tinggi itu tersenyum getir, pernikahan dongsaengnya dengan mantan namjachingunya, bukankah ini menarik.
"Caranya?"
Jinhwan nampak berpikir membuat Chanyeol terdiam. Jika ia melalukan apa yang diinginkan oleh Jinhwan, berarti ia telah menjadi sosok jahat dibelakang Luhan maupun Sehun. Ia jelas sangat tak ingin seperti itu, namun rasanya akan menarik jika ia mencobanya sekarang.
"Aku tahu kau masih mencintai Luhan, jangan menampik semua itu karena kau terlalu naif" Jinhwan menekankan kata terakhir tersebut ke arah Chanyeol. Namja mungil itu merasa Chanyeol hanyalah namja yang terlalu merelakan sesuatu dan itu membuktikan jika Chanyeol tak punya nyali sedikitpun untuk ini.
Chanyeol sedikit menyunggingkan senyuman penuh artinya dihadapan Jinhwan. Sungguh dalam hati ia sangat tak suka mendengar ucapan Jinhwan yang sontak membuat sisi gelap dalam dirinya bangkit. Meskipun ia nampak baik di luar namun di dalamnya kemungkinan besar sesutu buruk bersarang disana, dan jika terjadi tak ada orang yang akan bisa menahannya.
"Ingat Chanyeol, Sehun tak akan bisa membahagiakan Luhan" Jinhwan menjeda ucapannya, beralih untuk mulai melangkah mendekat kearah sang namja tinggi tersebut "—karena hanya kau yang bisa membahagiakannya" Jinhwan berucap nyaris berbisik tepat di telinga Chanyeol, membuat dirinya merasa ucapan yang baru saja didengar memang benar adanya. Sehun tak mencintai Luhan, mereka menikah karena paksaan dan ia tak ingin Luhan tak bahagia karenanya.
Kembali Jinhwan duduk di tempatnya, membuka isi tasnya lalu menyodorkan sesuatu ke arah Chanyeol. Namja tinggi itu menatap benda yang kini beralih di tangan, menatap bingung maksud Jinhwan menyerahkan benda ini kepadanya.
"Ganti obat Luhan dengan ini"
"Kau gila, ini bukan obat yang pantas untuk Luhan" diletakkannya kembali benda itu di depan meja, ia tidak bisa melakukan ini karena dirinya tak mungkin mencelakakan seseorang, apalagi seseorang yang masih ia cintai. "—Karena ini sama saja membunuh seseorang secara perlahan".
Jinhwan mungkin sedang tak waras memberikan obat yang tak jelas,ini justru akan memperburuk keadaan Luhan yang jelas mengidap sampai ini terjadi, ia tak ingin.
"Lalu kau punya cara lain?"
Chanyeol terdiam, memikirkan kembali cara yang tepat untuk menggagalkan pernikahan Sehun juga Luhan. Jinhwan menyeringai, menatap keterdiam Chanyeol disana. Ia yakin namja tinggi itu bingung akan merencanakan apa.
"Ayolah Chanyeol demi Luhan. Lagipula ini obat yang hanya membuat Luhanmu pusing sesaat, dan asal kau tahu aku tak berniat untuk membunuhnya" Jinhwan mulai meraih kembali benda yang tergeletak dimeja untuk ia masukan kedalam tas. Namun tangan lain mencoba mencegahnya, membuat Jinhwan tersenyum menatap Chanyeol.
"Aku akan lakukan itu" Ucap Chanyeol telak, membuat senyuman Jinhwan terlihat sangat kontras diwajahnya. Jinhwan merasa rencana ini tak akan gagal, mengingat kedua pihak saling membutuhkan untuk ini. Dan ia sangat salut dengan kelputusan Chanyeol.
.
.
.
.
Luhan menatap ruangan besar dihadapannya. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya ia sampai di aparthemen milik Sehun. Namja cantik itu merasa nyaman dengan suasana ruangan ini, terbukti dengan dirinya yang mulai duduk nyaman di kursi ruang TV.
"Apakah aku pernah berkunjung sebelumnya?" tanya Luhan sambil menatap Sehun yang membawa tas berisikan bajunya di meja sana.
"Kau pernah berkunjung sebelumnya. Kau tak ingat?" Luhan menggeleng, dan kembali terdiam di sofa tersebut.
Sehun menghampiri namja cantik itu, ia merasa Luhan yang sekarang bukanlah sosok yang ia kenal dulu. Beberapa hari yang lalu ia mendapati Luhan yang berada di club waktu itu, dan sekarang ia melihat Luhan seperti sosok polos bagai anak kecil.
"Kau ingin teh?" Sehun bertanya, mulai menghampiri lalu menempelkan gelas hangat ke arah pipi namja cantik tersebut, mengingat diluar sedang turun salju. Luhan menggeleng, menatap lurus ke arah mata Sehun yang kini balas menatapnya.
"Sebenarnya aku sakit apa?" Sehun terdiam sesaat, sedangkan Luhan telah mengubah posisinya, menyamping agar berhadapan langsung dengan Sehun.
"Kau tidak sakit Lu" cangkir ditangannya ia letakkan di meja sebelum berucap"—Hanya saja kau butuh terapi sekarang" Luhan masih tak mengerti, sedangkan Sehun sudah memegang kedua pipi namja cantik tersebut. Entah apa yang dipikirkan Sehun sekarang hingga membuat jarak yang tipis diantaranya saat ini.
Wajah mereka perlahan saling mendekat satu sama lain berusaha untuk menempelkan kedua bibir itu. Sedikit lagi sebelum suara bel pintu apathemennya terdengar nyaring, membuat acara mereka terganggu sekarang.
Luhan menatap Sehun yang kini mengacak – acak rambutnya gusar. Sedikit lagi bibir mereka menyatu dan seseorang di luar sana sukses menghancurkan apa yang diinginkan Sehun sekarang.
Dengan cepat namja tampan itu membuka pintu, ingin mengetahui siapa yang berkunjung ke aparthemennya malam – malam seperti ini.
Pintu itu dibuka menampilkan seseorang yang sangat familiar berada dihadapannya. Chanyeol tersenyum lebar saat mengetahui sang dongsaeng hanya menatapnya datar di tempat.
"Mobilku mogok, bisakah aku menginap. Lagipula diluar sedang badai salju" papar Chanyeol membuat Sehun tak dapat mengelak, ia tak tega melihat hyung mati membeku di luara sana.
"Ya, terserahmu"
Dan dengan tak sopannya namja tinggi itu masuk, hingga langkahnya terhenti melihat siapa yang sedang berada di ruang TV sekarang.
"Luhan" nama yang dipanggil segera menoleh menatap pria tinggi disana yang nampak sedikit terkejut dengan keberadaannya.
"Luhan akan tinggal disini bersamaku, lagipula dua hari lagi kita akan menikah" Sehun melewati hyungnya yang nampak belum bergeming sedikitpun. Dua hari lagi dan ia akan melihat namja tercintanya dipersunting oleh dongsaengnya sendiri. Ada rasa sesak saat dongsaengnya mengucapkan hal yang sangat tak ingin ia dengar, namun apa boleh buat Chanyeol hanya bisa tersenyum simpul setelahnya.
"Kenapa aku baru tahu" Chanyeol melenggang menuju dapur tanpa menatap ke arah Luhan, berusaha senormal mungkin. Sehun melirik hyungnya sekilas, jujur ia merasakan jika Chanyeol sedang menahan sakit hatinya, Sehun sangat paham itu.
.
.
_Depressed_
Wufan baru sampai di rumah sekitar pukul sembilan malam. Namja tinggi tersebut mulai berjalan memasuki kamarnya sebelum seseorang membuatnya berhenti.
"Kenapa kau tak bersama Luhan hyung?" Jinhwan menatap Wufan yang nampak sendiri, dan namja mungil itu ingat jika sekarang Luhan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Dia menginap di aparthemen Sehun" Wufan berujar membuat Jinhwan diam ditempat, tak dapat bergeming karena mendengar ucapan barusan. "Menginap?" kembali namja mungil itu bertanya membuat Wufan menatap lekat sang dongsaeng yang nampak terkejut.
"Luhan meminta dan aku langsung menyetujuinya" ucapnya terdengar gembira sedangkan Jinhwan sudah tak ingin mendengar apa yang akan diucapkan hyungnya lagi "—Dan kau tahu, Luhan menjadi ceria dari biasanya. Itu semua berkat Sehun" Wufan tersenyum setelahnya, mulai memasuki ruangannya meninggalkan Jinhwan yang hanya bisa teridam, mencerna apa saja yang ia dengar tadi.
Namja mungil itu mendecih, membayangkan bagaimana Luhan dan Sehun yang berada pada satu bangunan, dan itu membuatnya kesal. Meskipun ia sudah tak berhunbungan lagi dengan Sehun, bukan berarti ia merelakan Sehun bergitu saja. Hatinya masih ingin merebut kembali Sehun untuk kembali lagi kepelukannya.
Tanpa berpikir panjang ia segera pergi dari tempat itu, hingga langkahnya kembali terhenti karena dering ponsel di sakunya. Jinhwan segera mengangkat panggilan itu, menyeringai saat mendengar suara seseorang diseberang sana.
"Aku tahu, dan ingat rencana yang telah kita buat"
.
.
.
Langkahnya ia bawa perlahan agar tak menimbulkan suara gaduh. Hingga dirasa ia telah sampai di tempat tujuan, mengambil beberapa obat yang di taruh pada laci untuk ditukar dengan obat lain yang ia genggam sekarang.
Chanyeol menatap sekeliling, mengedarkan pandangan ditengah lampu yang temaram. Ia segera mengambil obat tersebut, menaruhnya di saku celana. Hingga lampu menyala, membuat Chanyeol menoleh mendapati Sehun disana.
"Hyung kau sedang apa?"
Namja jangkung itu sedikit menguap, menetralkan suasan yang hanya akan membuat dongsaenya curiga. Ia harus senormal mungkin.
"Tiba – tiba aku ingin minum" balasnya, kemudian mulai melenggang melewati Sehun disana. Namja tampan itu menaikan bahunya, tak memperdulikan apa yang telah dilakukan Chanyeol tadi, karena sesungguhnya ia tidak tahu itu.
Saat Chanyeol telah sampai di kamar, segera ia raih ponselnya menekan beberapa digit angka untuk menyambungkan kepada seseorang. Ia ingin memberi tahu, dan semoga usahanya berhasil.
.
.
.
_Depressed_
Pagi itu Luhan hanya terdiam kembali di depan televisi, tak banyak hal yang namja cantik itu kerjakan mengingat pekerjaan rumah diselesaikan oleh pembantu yang disewa Sehun perhari, dan soal makanan namja tampan itu lebih ingin memesan sesuatu untuk mereka makan, alasannya adalah Sehun tak ingin melihat Luhan lelah.
Luhan menghampiri Sehun yang telah lengkap dengan seragam kerjanya, juga Chanyeol disana yang nampak sudah rapi untuk pergi bekerja. Sedikit tersenyum menatap Sehun yang kesusahan memakai jas disana.
"Biar ku bantu"
Sontak Sehun hanya bisa menyetujuinya. Luhan membantu memakaikannya, sedikit membersihkan noda yang berada pada jas namja tampan itu.
"Gumawo" Ucap Sehun sambil tersenyum kemudian membawa Luhan untuk sarapan bersama hari ini. Sehun tiba – tiba tak bisa untuk tidak tersenyum saat merasakan moment langka yang hanya dirasakan saat ini. Luhan berubah drastis entah kenapa, dan ia suka malah sangat menyukainya.
"Makanlah yang banyak, lalu kita pergi untuk terapi hari ini" Luhan mengangguk, perlahan memakan masakan yang terasa lezat di mulutnya. Ia makan lahap dihadapan Sehun, hingga seseorang yang berdiri disana menatap kedua namja yang tengah berada di meja makan.
"Sehun, sepertinya aku duluan saja"
"Kau tak sarapan dulu hyung?"
Chanyeol menggeleng sambil tersenyum dipaksakan. Ia menahan panas pada hatinya sekarang. Melihat bagaimana Luhan yang nampak bahagia bersama Sehun. Chanyeol tak akan memperbolehkan itu terjadi lagi, ia akan menyingkirkan Sehun secepatnya. Karena yang pantas untuk membahagiakan Luhan hanya dirinya seorang.
"Aku pergi"
"Ne, hati – hati hyung"
.
.
.
"SIALANN"
Ia memukul stir mobil dengan keras. Menyalurkan apa yang menjadi titik kesal sekarang. Ia terus mengumpat, mengatai orang yang telah membuatnya sekesal ini. Lihat saja kebahagiaan mereka tak akan berlangsung lama.
Mobil itu terparkir di depan rumah besar milik keluar Wu. Matanya menatap seorang namja mungil yang kini mulai mendekat kearah mobilnya.
Pintu mobil itu dibuka oleh seseorang lalu ditutupnya dengan cepat. Chanyeol tak bergeming saat namja yang kini tengah duduk itu menatapnya dari arah sebelah.
Jinhwan namja mungil tersenbut menyeringai, menatap raut wajah Chanyeol yang nampak kesal sekarang.
"Wajahmu merah. Sedang kesal?"
Chanyeol tak balas menjawab pertanyaan itu, malah fokus menatap kemudianya. Chanyeol sengaja datang pada Jinhwan untuk membicarakan perihal masalahnya, sekaligus mencurahkan semua kekesalannya sekarang.
Chanyeol menoleh bertatapan langsung dengan manik mata sipit Jinhwan. Namja mungil yang ditatap hanya diam, ia tahu apa yang dibutuhkan namja disebelahnya ini.
Tangan kokohnya dengan cepat meraih tengkuk Jinhwan, menyatukan bibir itu secara tiba – tiba. Jinhwan menyeringai dalam lumatan itu. Pangutan kasar yang menuntut, namja mungil itu sangat tahu sebagaimana kekesalan hati Chanyeol sekarang dan ia ikut kesal membayangkannya.
"Enghhh" Leguhan terdengar, membuat libodo Chanyeol naik lebih tinggi. Namja tinggi itu semakin memperdalam ciumannya, menekan lawannya agar bersandar pada sisi, ia mendominasi kali ini.
Jinhwan nampak kualahan mengimbangi ciuman Chanyeol. hingga sesuatu berdering dari saku namja tinggi tersebut, membuat keduanya segera melepas pangutan yang lumayan panjang itu.
"Sepertinya aku harus pergi ke rumah sakit sekarang" Jinhwan mengangguk mulai membuka kembali pintu mobil, namun tanggan seseorang mencekalnya segera.
"Wae?"
"Kau ikut saja"
.
.
.
Setelah sampai kedua namja itu berjalan menuju ruangan yang berada di sebelah kiri sana, tepat ruang kerja pribadi Chanyeol. Mereka hanya terdia sepanjang perjalanan hingga sekarang. Chanyeol mendengus mengingat kebodohannya tadi yang dengan seenaknya mencium Jinhwan. Namja tinggi itu tak dapat memulai pembicaraannya, ia merasa bodoh sekarang.
Seorang namja manis berlari kearah Chanyeol dengan membawa peralatan infus yang jelas – jelas masih menancap di tangannya. Chanyeol menatapnya, hingga matanya melebar mendapati siapa namja yang kini sedang berlari ke arahnya.
"Baekhyun, hey apa yang kau lakukan?" ucapnya seketika sedangkan namja manis yang kini berada di hadapannya hanya tersenyum, menampilkan deret gigi putihnya. "Dokter kemana saja, aku merindukanmu" Chanyeol terkejut karena dengan tiba – tiba Baekhyun memeluknya, sedangkan Jinhwan yang melihatnya hanya bisa geleng – geleng menyaksikan adegan disana.
Segera ia melepas pelukan itu, mencoba untuk berbicara pada Baekhyun "Dengar, kau tak boleh berkeliaran seperti ini, memangnya kakimu sudah baik?" Baekhyun mengangguk antusias, beberapa hari yang lalu kakinya telah sembuh dan sekarang ia bisa berjalan dengan normal kembali meskipun masih ada sedikit rasa nyeri.
"Aishh, sudah – sudah ayo kita kembali ke kamarmu" Chanyeol menuntunnya, namun namja manis itu sedikit mendelik menatap seseorang yang berada di sebelah dokternya "Ya dokter, siapa namja itu?" Baekhyun menunjuk Jinhwan, Chanyeol menoleh sebelum memerintah Jinhwan untuk segera pergi ke ruangannya "— Jinhwan kau duluan saja pergi ke ruanganku, aku mengantar Baekhyun dulu sebentar" namja mungil itu segera mengangguk mulai berjalan meninggalkan keduanya. Baekhyun menatap kesal namja tadi, hingga bibirnya gatal untuk tak bertanya.
"Dokter, siapa namja itu? Aku tak pernah melihantnya kecuali jika dokter bersama dengan dokter Sehun"
"Dia temanku" Baekhyun mengangguk, meski dalam hati ia tak yakin. Dokter itu segera membawa Baekhyun untuk tidur diranjang saat tiba. Menaruh infusannya kembali pada tiang besi disana.
"Tidurlah, kau perlu banyak istirahat" ujarnya dengan senyuman tipis yang serasa sangat pas di wajah tampannya. Baekhyun ingin protes saat sang dokter mulai pergi dari ruangannya, hingga namja tinggi itu menoleh memerintahkan Baekhyun untuk menurut.
"Jangan merajuk, aku akan kesini jika tugasku telah selesai"
Dan pada akhirnya Baekhyun hanya mangangguk, menatap punggung kokoh sang dokter yang mulai menjauh. Ia harus mengetahui secara jelas hubungan Dokter Chanyeol dengan namja tadi.
.
.
_Depressed_
Luhan duduk di sofa ruangan Sehun saat dirinya telah selesai melakukan terapinya hari ini. Terapi yang dilakukannya barusan memang tak menguras sedikitpun tenaga hanya entah kenapa namja mungil itu nampak berkeringat sekarang.
"Kau berkeringat, apa perlu aku naikkan pendingin ruangannya?"
"Tidak perlu Sehun"
Dengan membawa dua buah kaleng minuman Sehun menghampiri namja cantik itu. Menyerahkannya kearah Luhan yang segera diterima olehnya.
"Aku merasa pusing" ujar namja cantik itu setelah meminum sedikit minuman kaleng pemberian Sehun. Disibaknya poni yang menutupi sebagian dahi Luhan, dan benar saja suhu tubuh Luhan terasa beda di tangannya.
"Mungkin kau kelelahan. Bagaimana jika pakai kursi roda, bukankah dokter sudah menganjurkan itu" ujar Sehun setelahnya namun segera Luhan menggeleng, ia tak mau menggunakan benda itu. "Aku tak mau menggunakannya Sehun" punggungnya ia sandarkan pada sofa di ruangan itu, membuat kepalanya menengadah dan itu semua membuat Sehun melelan air liurnya paksa.
"Baiklah, satu jam lagi kita pulang. Kau bisa tidur disini dulu. Ada pasien yang harus aku periksa"
Luhan hanya menyahutinya dengan dehaman saja saat Sehun mulai keluar dari ruangan. Entah kenapa tubuhnya merasa lemas sekali juga kepalanya terasa pusing kali ini, padahal ia telah meminum obat sebelumnya.
.
.
Sehun berjalan menuju toilet di ujung sana, setelah memeriksa beberapa pasien tadi ia belum juga membersihkan tangannya. Langkahnya ia bawa menuju pintu besi berwarna abu – abu itu. Mulai masuk kedalam untuk pergi ke wastafel sebelum seseorang yang familiar berada disana.
Mereka saling pandang melalui cermin besar, hingga kontak mata mereka diputus sepihak oleh Sehun sendiri.
Namja tampan itu menghiraukan seseorang itu dan mulai berjalan menuju wastafel. Ia membersihkan tangannya, sedikit mengibas bekas air tersebut kemudian mulai melangkah pergi.
"Sehun"
Merasa namanya dipanggil ia segera menoleh, meskipun ia tak ingin lagi berhadapan dengan Jinhwan namun ia harus menghargainya karena bagaimanapun Jinhwan adalah seseorang yang pernah membuatnya jatuh cinta.
Sehun tak menjawab namun kini tubuhnya telah berbalik, berdiri tegak bersamaan dengan Jinhwan yang berada tak jauh darinya.
"Kau sedang apa disini?" Sehun bertanya, berusaha senormal mungkin. Namja mungil itu berjalan beberapa langkah kearah Sehun agar lebih leluasa untuk berbicara.
"Aku ada urusan dengan Chanyeol disini" ucapnya sambil menatap Sehun yang balas menatap dengan datar, namun Jinhwan sudah terbiasan dengan itu.
"Bagaimana untuk pernikahanmu nanti?"
"Ya baik, semua sudah dipersiapkan" Jinhwan mengangguk, tersenyum saat dirasa Sehun akan beranjak untuk meninggalkannya. Hingga tangan Jinhwan mencekal pergelangan tangan Sehun, menahan agar namja tampan tersebut untuk tidak meninggalkannya.
Sehun menatap jengah kearah Jinhwan, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat pikirnya. Jika ia memaksa untuk melepaskan pegangan ini dijamin namja mungil itu malah semakin mencekalnya, ia sangat tahu bagaiman watak Jinhwan ini.
"Apakah kau gila untuk menikahi namja depresi seperti Luhan" seringaian tercetak jelas pada wajah lawan bicaranya. Sehun menatap tak suka ke arah Jinhwan, hingga dengan cepat ia menepis pegangan itu.
"—Kau dan dia dijodohkan bukan? Dan aku sangat tahu jika kau tak mencintainya. Dan aku yakin Luhan bukan hanya depresi namun gila"
"CUKUP" sentak Sehun segera, mendorong tubuh mungil yang nampak sangat dekat itu untuk mejauh darinya. Jinhwan tertawa sinis melihat apa yang dilakukan Sehun kepadanya, hingga dengan cepatnya Jinhwan meraih kembali lengan lawanya, berusaha memeluk tubuh tegap namja yang masih dicintai itu.
"Jinhwan tolong lepaskan" Jinhwan kekeh untuk memeluk tubuh itu lebih erat, membuat Sehun menyerah dan berakhir balas memeluk namja mungil itu. Setahun sudah ia menyudahi hubungannya bersama Jinhwan, hingga sekarang ia terjebak lagi dengan semunya.
"Biarkan seperti ini dulu Sehun, Kumohon" ucap namja mungil itu masih memeluk pinggang Sehun. Merasakan apa yang sudah tak ia rasakan setahun belakangan ini.
Sehun menyerah, mengelus helayan rambut itu perlahan. Mungkin ini terakhir kalinya untuk Jinhwan, dan ia menolak akan perasaannya terhadap Jinhwan kembali, karena sekarang ia telah memiliki Luhan yang harus ia lindungi sepenuh hati.
.
.
_Depressed_
Hari demi hari akhirnya pernikahan Sehun juga Luhan akan berlangsung beberapa menit lagi. Namja cantik itu telah memakai setelan tuksedo putihnya, terduduk sambil berhadapan langsung dengan cermin disana.
Seorang yeoja menghampirinya, menatap calon menantunya yang terlihat sudah sangat siap untuk sekarang. Sooyong menghampiri Luhan disana, tersenyum cantik sebari menyerahkan kotak merah beludru berisi kalung berlian disana.
Luhan berbinar menatap benda di dalam kotak itu. Sooyong menyerahkan barang berharga ini kepadanya, awalnya Luhan mengelak karena ia yakin kalung itu sangat berharga bagi calon mertuanya.
"Pakailah, karena kau akan menjadi menantuku" Luhan tersenyum mendengarnya, dengan cepat Sooyong mengambil kalung tersebut memakaikannya di leher jenjang Luhan yang nampak sangat pas. Luhan menatapnya dari kaca hingga ia tak bisa menahan kebahagiaannya untuk ini.
"Mulai sekarang panggil aku eomma paham?"
"Eomma" Luhan mengulang perkataannya saat itu, sepintas ingatan masa lalunya bersama sang eomma terputar kembali membuatnya sedikit menahan rasa sedih dalam hati. Sooyong memeluk Luhan, menyalurkan kehangatan seorang ibu yang sudah tak ia rasakan. Luhan tak dapat menahan air matanya sekarang, memeluk erat yeoja cantik itu yang mulai mengelus punggungnya menenagkan.
"Sekarang aku adalah eommamu, ingat itu"
.
Sehun telah berdiri di altar dengan setelah tuksedo putih yang nampak sangat pas ia dikenakan. Ia sudah tak sabar untuk segera mempersunting Luhan sekarang. Hingga pintu diujung sana terbuka menampilkan seorang yang ia tunggu berjalan kearahnya.
Luhan dibawa oleh Wufan hyung disana, melangkah mendekat kearahnya yang nampak sangat gagah dengan pakaian tersebut. Sehun tersenyum menatap Luhan yang nampak sangat cantik sekarang meskipun Luhan mengeluh jika ia sedang tak enak badan.
Kedua orang yang berada di kursi khusus disana, saling mengepalkan tangan menatap moment bahagia disana namun tak bagi kedua namja tersebut.
Jinhwan melirik Chanyeol tepat disebelahnya, berpikir jika namja tinggi itu tengah menahan sesuatu kekesalan disana.
Kedua pasangan calon pengantin tengah berdiri bersebelahan disana, dengan pendeta yang mulai mengucapkan janji sehidup sematinya di depan para tamu undangan. Melupakan Luhan yang sedang melawan rasa pusing pada kepalanya saat ini.
Sehun dengan tegas menjawab jika ia sangat bersedia hingga Luhan yang berdiri disana juga mengucapkan apa yang diucapkan Sehun barusaja, meski dengan suara yang agak lemah.
"Saya bersedia"
Tepuk tangan para tamu terdengar. Sehun lega, hingga mereka saling berhadapan kini untuk melakukan sesi ciuman di altar sana.
Luhan tersenyum tipis kearah Sehun, meskipun ia tengah mati - matian menahan rasa nyeri pada kepalanya.
"Lu kau baik – baik saja"
Luhan mengangguk atas pertanyaan dari Sehun. Hingga tubuh itu ambruk seketika di pelukan Sehun yang telah resmi menjadi suaminya sekarang.
"LUHAN"
TUBIKONTINYUUUUEEEE~~~~
Masih ada yang minat kah?. maaf ya updatenya kelamaan, ada beberapa persoalan yang harus aku selesaian belakangan ini. Belum ulangan, ulangan praktik, Quiss dan sebagainya. Belum lagi laporan numpuk + jurnal juga #Deritalooo
OK ini HUnhannya udah nikah kok.
makasih banget buat pada reader yang udah kasih reviewnya meski cuma lanjut atau enggak next aku mahhh makasih banget lohhh. trus yang udah follow dan favs saya cium kalian semuanya #PLAKKK
maafya gak bisa sebutin satu satu yang review ff ini karena saya orangnya rada males, tapi untuk balas PM saya nomer 1.
