Chapter 4 : Lebih Dalam

Taki Tooru POV

"Kenapa kau membawa dua tas?"

Aku menoleh dan melihat Sasada tengah menatapku curiga, aku tersenyum tipis dan menggeleng. "Bukan apa-apa" ucapku nampak membuat Sasada geram.

Sasada menarik paksa tas bento yang kubawa dan melihat isi didalamnya. "Kenapa kau membawa dua kotak bento?" tanya Sasada heran, "Setahuku kau bukan gadis yang suka makan banyak"

Aku meringis dan meraih kembali tas bento ditangan Sasada. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Sasada karena malu. Sasada nampak masih menganggap Natsume-kun itu pria misterius yang sombong. Ia pasti akan merebut bento yang seharusnya kuberi pada Natsume-kun jika mengetahuinya.

"Yah, entah kenapa aku agak lapar hari ini, jadi aku membawa makanan lebih" sahutku dan langsung berjalan mendahului Sasada menuju kelas.

Di kelas seperti biasa aku asik mengobrol dengan teman-teman sekelas. Hari ini aku juga mulai akrab dengan para laki-laki dikelas. Salah satunya, Nishimura dan Kitamoto. Mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak SD. Mereka sering menceritakan beberapa lelucon lucu yang membuatku tertawa. Aku senang berada di kelas ini, banyak orang-orang menarik dan baik hati.

Aku yakin Natsume-kun juga salah satunya.

Bel masuk sudah berbunyi. Lagi-lagi Natsume-kun nampaknya belum datang. Natsume-kun tiba di kelas lima belas menit setelahnya, membuat ia akhirnya kena marah lagi oleh Akibara-sensei. Aku juga heran kenapa dia sering sekali terlambat. Kemarin dan hari saat upacara pembukaan itu juga.

Beberapa siswa lain nampak saling berbisik, aku bisa mendengar sebagian dari mereka mulai menjelek-jelekan Natsume-kun. Natsume-kun kembali ke kursinya usai menerima omelan dari Akibara-sensei. Sensei juga memberinya hukuman membersihkan taman sepulang sekolah nanti. Namun, seperti biasa Natsume-kun nampak tetap tenang.

"Kau tak apa Natsume-kun?" tanyaku setengah berbisik agar tak terdengar Akibara-sensei.

Natsume-kun menoleh, tersenyum dan mengangguk. Aku menghela nafas lega.

Bel jam istirahat berbunyi. Seketika aku langsung gugup. Tas bento masih ditanganku, aku terlalu gugup untuk memberikannya pada Natsume kun, bagaimana jika ia berpikir aku sengaja mendekatinya.

"Taki, ayo makan siang bersama" ajak Sasada dan langsung begitu saja menarik mejanya dan menyatukan mejanya ke meja ku.

Aku menghela nafas, aku benar-benar tak bisa menolak Sasada. Sedangkan Natsume-kun sudah melangkah meninggalkan kelas. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu gugup. Padahal apa susahnya memberikan bento pada seseorang.

Akhirnya aku belum juga memberikan bento pada Natsume-kun. Hingga jam pelajaran berakhir. Aku mendengus, mengutuk diri sendiri. Kulihat Natsume-kun sudah meninggalkan kursinya dan pergi. Aku benar-benar gagal hari ini.

"Taki, tampaknya aku tak bisa pulang bersamamu. Aku harus ke toko buku" Sasada menyatukan kedua tangannya dan memasang wajah bersalah.

"Tak apa, aku bisa ke stasiun sendiri" Sasada nampak senang dengan jawabanku dan langsung pergi terburu-buru. Dia pasti sedang berburu promo buku pelajaran. Walau sifatnya seperti itu, Sasada benar-benar seorang kutu buku. Dia gadis yang cukup pintar.

Aku berjalan lesu keluar kelas dan pergi ke loker untuk mengganti sandal dengan sepatu sekolahku. Aku menoleh kearah luar pintu masuk. Natsume-kun nampak berjalan menuju halaman belakang dengan membawa peralatan kebun. Benar juga. Tadi dia kena hukuman karena terlambat. Ini kesempatanku.

Aku meraih tas bento dan berjalan menuju halaman belakang, terlihat Natsume kun nampak sibuk menyiram bunga dengan selang air. Aku berjalan menghampiri lelaki itu, aku berdiri didepannya namun lelaki itu nampak belum sadar. Lagi-lagi matanya terlihat kosong. Ia melamun, sampai tak sadar jika tanah tempat menanam bunga itu sudah hampir banjir.

Aku menepuk pundaknya, dia terjengat dan menoleh dengan selang masih menghadap kedepan hingga airnya mengenaiku. Natsume-kun nampak gelagapan melihatku seragamku basah.

"Ah maafkan aku, maafkan aku" ia meminta maaf dua kali dan langsung mematikan keran air.

Aku tertawa. Terbahak-bahak. Membuat Natsume-kun nampak bingung. Baru pertama kali ini aku melihat ekspresi panik Natsume-kun. Dia nampak lucu. Seperti anak kecil yang tak sengaja menjatuhkan permennya.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Natsume-kun nampak bingung.

"Kau lucu saat panik" ucapku sambil memegang perutku yang mulai sakit karena kebanyakan tertawa. Natsume hanya diam, seketika aku berhenti tertawa. Apa dia marah? Aku mendongak memandang wajah tirusnya. Natsume memandangku dan tiba-tiba senyumnya melebar dan ikut tertawa cukup keras.

Natsume-kun tertawa. Lagi-lagi sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menyukai wajahnya yang nampak ceria. Aku ingin selalu melihat ekspresi itu.

"Eh! Kau membuatkanku bento?" Natsume-kun nampak terkejut dan perlahan membuka kotak bento yang aku berikan.

Aku menghela nafas, dia menerima nya dengan mudah. Seharusnya aku memberikannya sejak jam makan siang tadi. "Maaf Natsume-kun, bento nya sudah dingin aku se-"

"Terima kasih"

Aku terperangah. Natsume-kun menunduk, menyorot dalam kotak bento yang kuberikan. Aku bisa melihat sedikit mata nya yang sebagian tertutup poni rambut. Matanya berkaca-kaca, berbinar. Seperti baru saja menemukan harta karun yang telah terpendam ribuan tahun.

"Aku senang sekali" ucapnya lirih tanpa mengalihkan pandangannya.

Sebenarnya ada apa dengan lelaki ini. Melihat ekpresi Natsume-kun membuat dadaku terasa sesak, dia memiliki wajah orang yang tenggelam dalam lautan kesepian. Apa selama ini tak ada yang memberikan itu kepadanya? Maksudku, Ini hanya bento. Aku ingin menangis. Natsume-kun tidak bisa berhenti tersenyum, matanya masih terlihat berkaca-kaca. Dia nampak sangat senang.

Natsume-kun, sebenarnya bagaimana kau menjalani hidup selama ini.

Aku ingin tahu. Lebih dalam lagi.

Tentang Natsume-kun.

"Aku akan membawannya lagi besok!"

Natsume-kun menoleh, "Ya, kau tak perlu repot-re-"

"Aku akan!" sanggahku sebelum Natsume-kun menyelesaikan kalimatnya. Aku ingin berada didekatnya, lebih, Lebih lama.

Natsume-kun tersenyum lembut. Ia berdiri dihadapanku, baru ini aku menyadari lelaki ini cukup tinggi. Ia menepuk pelan kepalaku hingga aku tersipu. Aku menunduk dalam, entah kenapa aku merasa gugup.

"Eum" angguknya. Aku mendongak, memandang kedua mata cokelat itu dan ikut tersenyum lebar.

Serahkan padaku, Natsume-kun

"Tooru-chan, kau membuat dua bento lagi?" tanya Ibu sambil memperhatikanku yang sibuk membuat onigiri.

Aku mengangguk. Entah kenapa, aku senang melakukannya. Melihat bagaimana respon Natsume-kun kemarin membuatku bersemangat. Aku merasa kini ia lebih terbuka padaku. Tanpa sadar aku tak bisa menurunkan ujung bibirku.

"Kau benar-benar sedang jatuh cinta kan Toori-chan" celetuk Ibu membuatku hampir menjatuhkan onigiri yang baru saja kubuat.

"Bukan!" sahutku membuat ibu tertawa dan pergi.

Mungkin.