"Kau mengajakku kencan?" tanya Cassandra. Charlie terbatuk.
"Yah, k-k-kita bisa jalan-jalan dan – eh – entahlah…"
Cassandra nyaris melompat saking girangnya. "Ya! Aku kosong hari Minggu!"
Charlie sepertinya mendengus geli lagi. "Baiklah. Bagaimana kalau ketemu di King's Cross jam sebelas?"
"Oke. It's a date, then," Cassandra nyengir.
Empat hari terasa sangat lama jika kau menunggu-nunggu janji kencan dengan Cassandra; Charlie menyimpulkan ketika dia bersiap-siap Minggu pagi. Ia memanfaatkan waktu empat hari itu dengan membaca buku "Bagaimana Mengencani Muggles" dan "Kehidupan Modern ala Muggles" yang dipinjami Hermione. Lumayan berguna, meski dia harus ekstra hati-hati dan berusaha tidak membawa buku itu keluar kamarnya. Mrs Weasley bakal bertanya macam-macam jika buku itu sampai terlihat olehnya.
Charlie sarapan dengan sedikit gugup, tapi berusaha menyembunyikan dari kedua orang tuanya. Ginny berkunjung pagi itu, membawa James dan Albus. Ginny memandang kakaknya dengan curiga dan membuat Charlie justru tambah gugup. Akhirnya Charlie memutuskan untuk pergi satu jam lebih awal, hanya untuk menghindari tatapan adik perempuannya itu.
Ia tiba di King's Cross terlalu cepat, belum ada tanda-tanda dari Cassandra. Ia masuk ke Books & Beyond dan mengambil koran terdekat. Berita Muggles kelihatannya sama sekali tidak menarik. Tidak ada satu topik pun yang dia pahami. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk menunggu saja, duduk di kursi logam panjang di lobi besar stasiun itu.
Cassandra mengecek penampilannya tiga kali di cermin sebelum yakin bahwa dia terlihat cukup pantas. Ia mengenakan turtleneck putih dipadu dengan terusan merah kotak-kotak kesayangannya, yang jatuh tepat di lutunya, sepatu bot cokelatnya terlihat cocok dengan mantelnya. Ia membiarkan rambutnya jatuh tergerai di punggungnya dan mengoles sedikit make up. Hah, katanya dalam hati, mudah-mudahan tidak terlihat aneh.
Sejak kecil Cassandra dibiasakan untuk selalu tepat waktu. Tapi kali ini dia justru terlalu awal. Setengah sebelas ia sudah berada di depan stasiun. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Charlie duduk termangu tengah-tengah lobi.
"Hai, kau pagi sekali," sapa Cassandra.
Charlie bangun dari duduknya. "Yah… eh, kau juga lebih awal," jawabnya, masih sedikit kaget dengan kedatangan gadis itu.
Untuk sesaat Charlie merasa dikenai mantra bius. Manis sekali Cassandra, pikirnya. Seperti cokelat Valentine yang terbungkus rapi di kaca etalase; kau bisa melihatnya tapi tak boleh menyentuhnya.
"So… kita berangkat nggak?" suara Cassandra mengembalikannya. Dia tersenyum lebar dan mengangguk.
Keduanya melangkah keluar stasiun. Charlie membawakan tas tangan yang Cassandra bawa, sementara gadis itu bersikeras membawa sendiri bungkusan kain kotak yang dia bawa. Dengan ringan Cassandra berkomentar tentang betapa gentleman-nya dia. Charlie tersenyum senang.
Tempat pertama yang mereka datangi adalah bioskop. Charlie membaca satu bab penuh tentang film dan tetek bengeknya di "Bagaimana Mengencani Muggles", dan berpikir bioskop adalah pilihan yang aman. Kelihatannya semua Muggle suka nonton film.
Tetapi Cassandra terlihat agak kecewa dengan pilihan Charlie. Ia mengernyit cukup dalam sambil melihat daftar film yang dipertunjukkan hari itu.
"Tidak ada yang menarik," katanya akhirnya. Charlie bahkan tidak bisa menilai mana yang bagus dari yang jelek. Dalam hati dia merasa bodoh dengan pilihan ke bioskop.
Kesedihan Charlie pasti menerobos sampai ke wajahnya karena kemudian Cassandra berkata, "yah, yang itu saja, deh," sambil menunjuk sebuah poster film.
Mereka berdua duduk di dalam bioskop dengan diam, masing-masing terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Charlie masih merutuki buku itu sementara Cassandra berpikir mungkin dia terlalu jujur dan to the point. Satu hal yang mereka sepakati: kencan ini berawal dengan buruk.
Terdengar suara keras dan Charlie terlonjak dari bangkunya. Lampu mulai dimatikan, sementara tirai besar di hadapan mereka tertarik dan menunjukkan layar putih super besar, hanya sedikit lebih kecil dari rentangan sayap Bola Api Cina. Layar itu menampilkan gambar-gambar yang bergerak, sangat nyata, dan disertai dialog-dialog. Charlie berdiri terpaku beberapa saat. Ini nyaris seperti sihir.
"Heeeei, duduk, Charl. Kau menutupi orang," desis Cassandra.
Charlie duduk dan spontan bertanya, "itu apa?" sambil melirik layar bioskop.
Cassandra melihatnya dengan tampang datar. "ITU adalah layar bioskop, Charl. Jangan bilang kau belum pernah nonton bioskop."
Charlie diam saja. Untung gelap, Cassandra tidak bisa melihat merah pipinya.
"Charlie? Ya ampun… kau belum pernah…? Betulan?"
Charlie menggeleng sedikit. Demi Merlin, dia pasti terlihat bodoh.
Cassandra hampir-hampir tertawa terbahak-bahak. Gadis itu berhasil menahan gelinya dan bertahan hanya dengan kikikan terputus-putus. Orang-orang di sekitar mereka berdesis-desis menyuruh mereka diam.
Sepanjang film itu, Charlie menonton dengan sedikit terpesona. Jalan ceritanya agak aneh sebetulnya, tentang laki-laki yang mendapat kekuatan sihir dari makhluk luar angkasa. Film itu sepenuhnya dibuat oleh Muggle, karena tidak ada adegan sihir yang mendekati kebenaran sama sekali. Cassandra berbisik di tengah film bahwa film itu membingungkan, dan Charlie mau tidak mau sepakat. Menurut Cassandra, efeknya biasa saja dan plotnya tidak jelas. Satu-satunya yang membuat Cassandra bertahan menghabiskan 100 menit di situ adalah ekspresi wajah Charlie yang seperti anak kecil saat menonton.
"Wow, itu tadi… freak," komentar Cassandra ketika keduanya berjalan berdampingan keluar gedung bioskop. Film itu berakhir dengan pemeran utamanya jatuh cinta pada makhluk luar angkasa dan memutuskan untuk tinggal di planet itu.
"Yeah… benar-benar freak," balas Charlie, dan keduanya mulai tertawa keras-keras.
"Aku tidak percaya itu adalah film pertama yang kutonton. Apa semua film sejelek itu?" tanya Charlie di tengah-tengah tawanya.
"Aku tidak percaya kau baru pertama kali nonton film. Kau lihat ekspresimu di awal tadi? Priceless!"
Satu-satunya hal yang bagus dari film itu adalah ia meleburkan es yang awalnya menggenangi gelas kencan mereka.
Cassandra menarik Charlie ke sebuah taman setelah keluar bioskop. Udara cukup berangin, tetapi langit berwarna biru pucat dan matahari tersenyum malu-malu dari balik awan putih cemerlang. Cassandra mengeluarkan kain alas dari tas tangannya dan keduanya duduk di udara terbuka, menikmati angin sambil bernaung di bawah pohon beech.
Cassandra membuka bungkusan kainnya, menampilkan kotak makan berukuran sedang. "Voila!" katanya, "aku tahu kau lapar."
Bola mata Charlie melebar seiring dengan penampakan makanan. Perutnya bernyanyi mengiringi. Cassandra tertawa dan membuka tutup kotaknya.
"Itu nasi, ya?" tanya Charlie. Cassandra mengangguk dan menjelaskan masakan Jepang yang ia siapkan.
"Nasi kepal, udang, telur, nugget, dan salad. Sederhana, tapi kalo urusan rasa, jangan ditanya!"
Tidak peduli dengan rasa, menurut Charlie makanan itu terlalu indah untuk dimakan. Cassandra menyusun makanan-makanan itu dalam bentuk yang terlalu rapi dan mendetail. Bekal sandwich-dalam-kantong-plastik yang Mrs Weasley siapkan waktu ia masih sekolah dulu benar-benar kalah dibandingkan yang ini.
Cassandra memberikan sumpit pada Charlie, dan mereka mulai makan sambil sedikit mengobrol.
"Mum akan meminta resep kalau dia mencicipi udang ini," puji Charlie seraya menelan potongan udang terakhir.
"Well, kuanggap itu pujian. Sejujurnya aku sudah lama sekali tidak masak. Kau tahu, aku cuma buat bento kalau pergi piknik atau kencan. Dulu kami sekeluarga selalu pergi menonton bunga sakura mekar sambil piknik. Indah sekali, kau tahu, bunga sakura itu. Jauh lebih indah daripada seluruh bunga di Britania Raya digabungkan jadi satu," kata Cassandra cepat.
Charlie memperhatikan wajah gadis muda itu melembut selagi membicarakan negerinya. Ia tiba-tiba ingin membelai lembut pipinya.
"Ngomong-ngomong, seperti apa Mrs Weasley? Aku jadi ingin bertemu," tanya Cassandra.
"Cerewet seperti kau, burung kecil. Jago masak dan hobi membabat rambut orang," jawab Charlie, tersenyum mengenang wajah ibunya yang mulai bertambah keriputnya.
Cassandra mengubah posisi tubuhnya, menelungkup dengan bertumpu pada sikunya sambil menengadah menghadap Charlie. "Orang yang menarik. Ceritakan tentang keluargamu," katanya sambil tersenyum.
Dengan senang Charlie menceritakan tentang keluarga besarnya, orang tuanya, saudara-saudaranya, keponakan-keponakannya, namun dia hati-hati agar tidak menyebutkan pekerjaan mereka atau apa pun yang bisa membuat Cassandra curiga. Dia juga menceritakan tentang Fred, dan entah mengapa setetes air jatuh dari kelopak matanya setelah itu.
Cassandra duduk dan memeluk Charlie, yang terkejut dengan langkah tiba-tiba itu. Cukup lama gadis itu memeluknya, bahu mereka naik turun seirama dengan nafas mereka.
Ketika Cassandra melepas pelukannya, Charlie adalah pria paling bahagia di semesta.
A/N: Yaaah…. Part 4 done. Jauh lebih pendek. Tiring because I've not updated this since last year. Kinda forget the character concepts. Dan ini temponya agak kelambatan kayaknya. Bab berikutnya akan sedikit dipercepat. Bakal ada kejutan buat Cassandra dan Mrs Weasley! Dan saya mau minta maaf karena lamaaaaa banget ga diupdate. Minta doanya juga karena saya dua hari lagi ujian. *crap*
Better go back to studying. Farmakologi membunuhku! Oh, tombol reviewnya boleh dipencet habis ini :P
PS: disklaim lihat bab 2.
