Vampire : Prince of Darkness
Naruto©Masashi Kishimoto
*NaruSasu*
ItaHina, KibaShika, KyuuNaru
Romance/Fantasy
T/T+
Warning
Sho-ai, Typo(s), Miss Typo, BL, AU, Aneh, Percakapan dan, Bloody, dll..
.
'Terinspirasi dari Film Twillight dan anime-anime sejenis hehe..'
Dan makasih buat yang udah ngelike dan nge Follow hehehe... Maaf Updatenya telat. Hehe
...HAPPY NEW YEAR...
*telat*
.
Kalau enggak suka, silahkan ancurin komputer, HP, atau Laptop anda *di timpukin reader* #Hehe bercanda lhoo..
.
HAPPY READING
...
Cerita sebelumnya...
Naruto yang merasakan perubahan mimik Itachi yang ikut terdiam, rasa bersalah karena tak bisa melindungi Fugaku dari kaumnya semakin menjadi. Tanpa ia sadari matanya berubah merah, kuku di tangannya memanjang, taringnya ikut memanjang, postur tubuhnya mengikuti perubahannya. Yah... Naruto berubah ke bentuk vampirnya...
"Na-naruto..." Panggil Itachi.
"Grrr... akan aku bunuh mereka!" Ujar Naruto penuh dengan amarah. Kini ia berdiri menatap lurus ke arah bulan purnama yang bersinar indah di malam ini.
"Vampir sialan! Ku bunuh kau.." Umpat seseorang.
Terdengar nada kemarahan di setiap perkataannya,, siapa orang itu?
...
Vampire : Prince of Darkness
Part 4
...
Naruto dan Itachi terkejut mendengar suara yang tak asing bagi mereka terutama bagi Itachi, perlahan mereka menoleh ke asal suara itu.
"Te-teme?" Ujar Naruto datar dan dingin walau pun ada kesan gugup di dalamnya.
"Hn..." Gumam Sasuke tak kalah datar.
Perubahan yang luar biasa dari Sasuke.
"Sejak kapan kau disini? Dan untuk apa kau membawa pedang pemburu itu?" Tanya Itachi datar juga.
"Hn, sejak kalian membicarakan tentang masa lalu Pemburu dan Vampir." Jawab Sasuke dingin.
Pandangannya benar-benar tajam, dalam pandangan itu sendiri tersirat dendam dan kebencian yang besar.
"Jadi untuk apa pedang itu? Kau ingin membunuhku karena aku yang membuat ayahmu tak ada kabar?" Tanya Naruto datar.
Kumpulan makhluk datar sepertinya. Hufth...
"Hn... aku membencimu, dasar vampir sialan!" Gertak Sasuke yang kehilangan kontrol akan dirinya.
Itachi yang melihat tingkah adiknya hanya diam, dalam hatinya sendiri ia juga bimbang. Ia berfikir, apakah adiknya itu akan membalaskan dendam dengan membunuh Naruto. Tapi Itachi tau kalau semua ini bukan semata-mata karena kesalahan Naruto, Naruto pun juga jadi korban, bukan tersangkanya. Itachi ikut berdiri—
"Jika itu perlu, aku akan membunuhmu!" Ujar Sasuke tajam.
"Oto—"
"Jangan ikut campur aniki! Kau juga tau kan karena orang ini tou-san tak ada kabar! Atau mungkin sekarang sudah MATI!" Bentak Sasuke, matanya sedikit berair seperti menahan air mata.
Sreet... Greb...
Tanpa izin dari si pemilik tubuh, Naruto memeluk tubuh Sasuke yang saat ini sedang rapuh. Naruto tahu Sasuke berusaha tegar dengan semua kanyataan ini. Memang tak mudah memaafkan orang lain jika sudah bersangkutan dengan orang yang di sayangi, apa lagi orang yang disayangi itu tak ada kabar hidup-matinya.
"Menangislah!" Ujar Naruto, persis seperti apa yang dulu ia ucapkan pada Fugaku.
"Cih.. aku tak butuh simpatimu, Dobe!" Ujar Sasuke dingin, matanya tajam bagai mata elang.
Dengan kasar Sasuke melepas pelukan Naruto dan menjatuhkan Naruto ke bawah. Secara otomatis Naruto jatuh ke bawah. Tanpa rasa bersalah Sasuke kembali masuk ke dalam rumah.
"Sasuke-kun?" Tanya Iruka bingung saat berpapasan di dalam rumah.
Sasuke hanya menatap dingin Iruka dan mendecih jijik. Iruka terdiam bingung menatap kepergian Sasuke.. Wajah Sasuke memerah marah, dalam hatinya ia membenci semua vampir tanpa terkecuali Naruto yang notabene sahabat Ayahnya sendiri. Ia bertekat untuk membalaskan dendamnya dengan membunuh semua vampir, dan lagi-lagi tanpa terkecuali. Pemikiran yang naif. Walaupun ia juga tahu kalau kekuatan vampir itu sendiri sudah berada jauh di atasnya. Tapi dengan tekadnya, apa pun yang dianggap orang lain mustahil pasti akan tercapai suatu saat nanti. Janjinya!
Mata Sasuke yang awalnya masih berwarna hitam berubah ke titik Sarengannya, titik dimana kekuatan kekkai dari klannya diturukan. Dengan mata itu para pemburu dari klannya dapat membunuh vampir dengan mudah, namun dengan diimbangi dengan skill yang mumpuni juga. Jika dari pemburunya sendiri skillnya rendah, maaf saja jika perburuannya akan tetap sulit. Mata itu –Sarengan-, memang setiap anggota klan memilikinya -terutama kaum pria- namun tak semua anggota klan dapat menggunakannya dengan baik. Titik tertinggi dari Sarengan adalah Enternal Mangekyou Sarengan, hingga saat ini hanya Madara Uchiha saja yang bisa menggunakannya. Sedangkan Itachi berada di titik dua, di atas Sarengan dan di bawah Enternal Mangekyou Sarengan a.k.a Mangekyou Sarengan. Sedang 'kan adiknya ada di titik Mangekyou Rasengan namun masih dasar. Itu pun sudah termasuk hebat, karena lagi-lagi hanya beberapa orang saja yang bisa menggunakannya.
Di tempat Naruto saat ini.
Naruto terjatuh dari atap Mansion Uchiha, yah tentu ia tak luka parah. Ingat! Ia seorang vampir, yang sebenarnya adalah makhluk abadi. Walaupun ada cara juga untuk membunuh mereka. Naruto duduk bersila tepat di tempat ia terjatuh barusan. Kepalanya mendongak menatap bulan yang bersinar di atas sana.
'Apa tuhan benar-benar membenciku hingga tak ada satu pun manusia yang mau menerimaku?' batinnya dalam hati.
Naruto mendesah pelan memikirkan nasibnya yang menyedihkan itu. Ia kembali teringat Fugaku, ia teringat keluarga di kastilnya.
'Bagaimana kabar kalian? Di malam yang tenang ini, apa yang sedang kalian lakukan? Adakah di antara kalian yang memikirkanku di sini?' Tanyanya entah pada siapa.
Lagi-lagi-dan lagi Naruto mendesah pelan. Matanya terpejam menahan sebuah air yang sepertinya ingin melarikan diri dari asalnya. Tidak! Ia tidak boleh menangis. Ia seorang pemuda yang akan berajak menjadi seorang pria sejati. Mana boleh ia menangis.
...oo0oo...
Kastil Vampir
Naruko berdiri di atap kastil menatap langit malam. Malam itu begitu dingin dan tenang, bintang pun bertabur indah menghiasi malam. Naruko sesekali memejamkan matanya, menyembunyikan keindahan langit biru di matanya.
"Aniki, kapan kau akan pulang? Tahukah kau, aku merindukanmu?" Tanya Naruko pada kakaknya, yang tentu saja tak akan terjawab karena saat ini kakaknya –Naruto- ada di dunia yang berbeda.
...
Di dalam Kastil, Minato, Kushina dan warga kastil sibuk mencari keberadaan Naruko yang lagi-lagi menghilang entah kemana. Ya, sepeninggal Naruto. Naruko jadi lebih tertutup dari biasanya. Ia sering menghilang tanpa jejak, bahkan seorang raja vampir pun tak bisa menemukannya. Kushina kelihatan khawatir, baru seminggu sepeninggal Naruto, kekacauan selalu saja terjadi. Menyedihkan memang..
"Naruko-chan, dimana kamu nak?" Ujar Kushina masih dengan wajah khawatir.
Minato menatap istrinya sendu, secercah penyesalan datang menembus pertahanan hatinya.
"Maaf, Kushina." Ujar Minato lirih.
"Bukan salahmu Minato-kun." Ujar Kushina.
Minato tersentak istrinya mendengar kata-katanya.
"Jangan salahkan dirimu karena ini sayang, mungkin ini memang yang terbaik. Kami-sama pasti punya rencana yang indah." Ujar Kushina mencoba menguatkan hati suaminya.
Minato hanya mengangguk pelan.
..oo0oo..
Dunia Manusia
Iruka yang menyadari keanehan sikap Sasuke segera naik ke atap, tetapi di atap pun ia hanya menemukan Itachi seorang dan dimana Naruto?
"Itachi-san?" Tanya Iruka ambigu.
Itachi hanya bisa menggeleng yang entah apa artinya, Iruka berjalan mendekat kearah Itachi. Entah kenapa Iruka ikut sedih dengan apa yang terjadi, sedikitnya ia tau situasi yang sedang terjadi di sini, malam ini.
"Tolong jangan salahkan Naru-chan." Ujar Iruka menatap Itachi.
Itachi hanya tersenyum, ya.. ia tersenyum kepada Iruka.
"Pasti Iruka-san. Saya akan berusaha-, Tou-san belum mati! Ia pasti ada di suatu tempat saat ini." Ujar Itachi yakin.
"Kami pasti akan membantu." Ujar Iruka sembari tersenyum ramah.
...oo0oo...
Kembali ke tempat Naruko, di atap kastil..
Mata Naruko menajam menatap bulan purnama yang tengah bersinar dengan terangnya.
"Aku akan pergi ke dunia manusia, apapun caranya." Tekad Naruko.
"Ya." Lanjutnya.
Wush... Naruko berubah menjadi ratusan Kupu-kupu berwarna Hitam.
Naruko pergi meninggalkan dunia Vampire tanpa terdeteksi oleh vampire penjaga dunia vampir itu sendiri. Ia kembali muncul di tepian danau tengah hutan yang gelap, hanya di temani sang dewi malam dan beberapa suara binatang malam yang menemaninya.. Naruko berubah ke wujud manusianya..
Auuuu... Suara lolongan serigala memecah keheningan malam, membuat merinding siapa saja yang mendengarnya.
Naruto menatap sekelilingnya, alisnya berkerut menandakan ia sedang heran. Ia berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti kakinya melangkah. Ia memang vampir, tetapi maaf saja.. tak pernah sekalipun ia berada di luar pagar daerah perbatasan Kerajaan Vampirnya.
"Ah, sepertinya aku tersesat." Keluhnya pada diri sendiri.
Naruko terus melangkahkan kakinya pelan menyusuri hutan,
"Siapa disana?" Tanya Naruko siaga sembari melirik ke sekitarnya.
Ia merasa ada yang memperhatikan, ia yakin ada yang memperhatikannya.. Matanya mencari-cari orang yang memperhatikannya..
Ctak.. Wush...
Sebuah mawar hitam bartangkai tajam melesat ke sebuah semak-semak.
"Ittai.. kau bodoh ya?" Ujar sebuah suara dari balik semak.
"G-gomenne.. aku kira kamu mau menyerangku." Ujar Naruko ragu-ragu.
Dari balik semak-semak muncul seorang pemuda yang mungkin bisa dibilang manis, di masing-masing pipinya terdapat sesuatu yang menyerupai tato berwarna merah berbentuk segitiga. Ia berjalan menghampiri Naruko yang terdiam,
"K-kau werewolf?" Tanya Naruko.
"Um.. Kau ada di kawasan werewolf." Jelas pemuda itu sambil manggut-manggut.
Naruko kembali terdiam menatap datar pemuda yang saat ini berada di depannya, sejujurnya dalam hati Naruko ada sedikit rasa curiga pada pemuda di depannya. Banyak cerita tentang mereka –para kaum werewolf- banyak yang mengatakan tentang betapa kejamnya werewolf itu. Mereka sendiri tidak sadar jika mereka sama kejamnya dengan para werewolf.
"Eh- kenapa kau diam? Dan dari mana kau berasal?" Tanya pemuda itu memecah keheningan di antara mereka berdua.
"K-kas... maksudku Kota." Ujar Naruko bohong.
"Lebih baik kamu jangan main-main disini. Disini itu tempat berbahaya.. Banyak werewolf yang kelaparan," jelas pemuda itu menasehati Naruko.
"Ano- sebenarnya aku tersesat." Ujar Naruko.
"He? Ini sudah malam.. sepertinya kau butuh istirahat. Dari pada kau disini dimakan werewolf lebih baik ikut saja denganku." Ajak pemuda yang sejak tadi belum diketahui namanya.
"Tapi kan kau juga werewolf." Ujar Naruko polos.
"Ah- ada beberapa type werewolf di sini, aku sih tak terlalu suka makan manusia." Jelas pemuda itu.
"Em baiklah... ah perkenalkan, namaku Haruka." Ujar Naruko sembari tersenyum manis.
Naruko tak punya pilihan lain selain mengganti namanya, ia takut kalau petinggi Werewolf menemukannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Siapa sih yang tak kenal nama Naruto? Hampir semua bangsa mengenalnya begitu juga Naruko. Yah, Naruko memang terkenal di luar, tetapi ia tak mengenal orang bangsa luar. Ironis memang.
Pemuda yang sejak tadi berdiri di depan Naruko terpesona dengan senyumnya, di pipinya terlihat semburat merah tipis. Naruko yang melihatnya hanya tertawa geli.
"Ki-kiba, Inuzuka Kiba." Balas Kiba memalingkan wajahnya yang merah.
"Salam kenal Kiba-kun." Ujar Naruko riang.
Naruko terlihat senang, ia sendiri tak pernah berfikir jika akan bertemu dengan seorang werewolf, apa lagi sampai berteman dengan bangsa mereka. Ia jadi tau bagaimana rasanya mempunyai teman di luar bangsanya sendiri, sekarang ia tau alasan mengapa kakaknya lebih suka di luar kastil dari pada di dalam. Di luar kastil banyak teman-teman yang menyenangkan. Walaupun pertemanan ini sebenarnya melanggar peraturan para vampir bahkan mungkin bangsa lain juga.
"Kamu mau ikut denganku Haru-chan? Ayo kita ke rumahku.." Tawar Kiba.
"A-apa tidak masalah?" Tanya Naruko khawatir.
Naruto berusaha menghilangkan aura vampir dalam dirinya, jadi wajar jika Kiba tak menyadari kalau Naruko adalah seorang vampir.
"Tak apa." Balas Kiba.
Mau tak mau ia pergi juga. Naruko melihat sekelilingnya, bau khas werewolf menyeruak masuk melewati rongga hidungnya. Bau yang benar-benar khas.. Naruko menatap sekelilingnya. Banyak orang berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka masing-masing layaknya yang manusia lakukan. Lagi lagi ia teringat orang-orang sebangsanya.. memang tak terlalu jauh berbeda sih..
"Ne, Haruka-chan. Kenapa kamu bisa tersesat di sini? Di mana rumahmu? Besok akan aku antar kau pulang ke rumahmu, tapi sekarang kamu tinggal disini dulu ya.. Hari mulai gelap." Ujar Kiba panjang lebar.
"E-eto, rumahku di-di tengah kota Kiba-kun. Awalnya aku berlibur di rumah nenek, tapi- *pose sedih* tapi aku tersesat. Sepertinya nenek akan khawatir padaku." Akting yang bagus Naruko-chan.
Kiba hanya diam menatap gadis di sampingnya, ingin ia menghibur gadis itu. Tapi itu bukanlah keahliannya. Ia tak terlalu pandai menghibur orang atau- memang authornya yang bingung cara ngehibur orang.
Mereka berjalan santai menuju sebuah rumah dalam diam, hingga-
"Kibaaa..." Panggil seorang gadis cantik menatap tajam kiba.
"Nee-chan, ada apa?" Tanya kiba malas.
"Haaa-aaah... kau belum melakukan tugasmu hm? Kau tau kan, kita harus membasmi mereka malam ini?" Tanya gadis cantik yang lebih dewasa dari Naruko.
"Apa mereka mengganggu werewolf lagi? Kenapa kita harus turun tangan? Ah..." Tanya Kiba mengerutkan dahi –heran-.
Gadis dewasa itu hanya menggedikkan bahunya. Tiba-tiba matanya teralih pada Naruko yang ada di samping Kiba.
"Kau membawa manusia Kiba?" Tanya Gadis dewasa itu menatap lembut Naruko.
"Ya dia tersesat.. apa boleh buat. Aku ajak dia pulang saja, daripada ia dimakan werewolf atau vampir yang tak bertanggung jawab?" Ujar Kiba santai.
"Tak seharusnya manusia tau tentang bangsa kita Kiba," Ujar gadis dewasa itu, lalu ia hanya menghela nafas.
"Hallo, namamu siapa? Aku Hana, Inuzuka Hana." Ujar Hana lembut.
"Ha-haruka." Ujar Naruko singkat.
"Ya sudah ajak Haru-chan masuk Kiba. Dan ingat nanti malam!" Ujar Hana yang berjalan pergi meninggalkan Naruko dan Kiba.
"Ini sudah malam nee-chan." Ujar Kiba sweatdrop.
Setelah yakin jika Hana pergi, Naruko bersiap melontarkan beberapa pertayaan pada Kiba.
"Ne Kiba-kun, kalau boleh tau um-" Ujar Naruko terpotong.
"Tugas membunuh vampir." Ujar Kiba datar.
Naruko terdiam menatap Kiba, ia dapat merasakan betapa bencinya kiba terhadap vampir. Ia tak tau apa masalah yang dihadapi pemuda lebih tua setahun darinya itu. Tapi ia tau pasti jika rasa bencinya itu bukanlah main-main.
"Ne, Kiba-kun. Maaf.." Ujar Naruko menyesal.
"Bukan salahmu. Aku hanya membenci mereka, karena mereka selalu saja mengganggu bangsa lain. Aku tak mengerti dengan jalan fikiran mereka.. dan aku hanya mengenal satu orang vampir yang baik hati." Ujar Kiba panjang...
"Siapa?" Tanya Naruko penasaran.
"Naruto-niichan." Jawab Kiba santai.
"Oh." Naruko tersenyum, entah di dalam maupun luar Anikinya itu selalu baik pada orang lain. Tak heran jika Kiba terlihat menghormatinya. "Ne, boleh aku ikut berburu denganmu?" Lanjut Naruko.
"Jangan, kamu hanya manusia. Bisa berbahaya jika mereka mencium aromamu. Darah bagai candu untuk mereka. Jadi lebih baik kamu di rumah saja." Ujar Kiba.
Naruko menatap Kiba lalu tersenyum, ia tau ada seorang werewolf baik hati di sampingnya sekarang ini. Ya, Kiba!
'Akan aku ingat nama itu.' Pikir Naruko sembari tersenyum, manis
Oh, dan Kiba kembali terpesona dengan senyuman manis Naruko. Oh ayolah Naruko.. jangan tersenyum! *Dilempar batu*
Kiba mengantarkan Naruko ke kamar tamu, entahlah apa werewolf juga saling bertamu author tak tak tau.
Di dalam kamar ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang lumayan empuk, ia memejamkan mata. Ia berharap pertemanan ini akan berlangsung lama, Naruko tak pandai bergaul layaknya Naruto. Ia juga takut jika Kiba tak mau menerimanya, jika kebohongannya terbongkar. Kiba terlihat sangat membenci Vampir, itu tersirat jelas dimatanya. Ia tau Kiba menerima keberadaan Naruto, tetapi apakah Kiba juga mau menerima keberadaan Naruko. Naruko jadi galau sendiri jika memikirkannya. Ia hanya bisa berdoa yang terbaik saja untuk kedepannya nanti, entak berakhir Happy ending maupun Sad ending.
...oo0oo...
Kembali ke kastil
Minato dan beberapa penjaga mencari dimana keberadaan Naruko di seluruh bagian kerajaan dari paling pojok sampai pojok, pokoknya semuanyalah. Sedangkan Kushina duduk di kamarnya, matanya sayu, air matanya mengalir perlahan. Ia memejamkan matanya, mencoba melacak lewat kemampuannya. Namun semua itu hanya sia-sia, Naruko pun juga memiliki kemampuan yang sama walau tak jauh lebih tinggi dari pada Kushina. Tetapi tetap saja, hanya terlacak sampai ke luar pagar saja, tak sampai dimana Naruko berada.
"Apakah Naruko menyusul Anikinya?" Ujar Kushina.
"Mereka memang susah dipisahkan." Lanjut Kushina.
Tentu saja ia hanya bicara sendiri, karena hanya ada Kushina di dalam kamar itu. Ia berdiri dan menghilang meninggalkan ribuan mawar hitam. Dan beberapa detik kemudian ia muncul di samping suaminya yang tengah mengimando beberapa pasukan untuk mencari Naruko.
"Anata.." Ujar Kushina pelan.
"Ada apa Kushina." Tanya Minato tegas.
"Akan percuma jika kalian mencari Naruko di dalam-" Ujar Kushina ambigu. Tetapi Minato tau apa maksud kata-kata ambigu Kushina itu.
"Haa-aaah... anak itu memang keras kepala." Ujar Minato lelah.
"Tapi masalahnya Naruko tak tau arah Anata." Ujar Kushina menatap serius mata suaminya.
...oo0oo...
Malam ini, dimana perburuan vampir di daerah werewolf
Naruko menatap khawatir Kiba yang sepertinya sedang bersiap-siap untuk bertarung melawan bangsanya sendiri –vampir*Naruko*-.
"Kau yakin siap melawan mereka Kiba-kun?" Tanya Naruko khawatir.
"Kau meragukanku eh?" Ujar Kiba kesal, ia merasa di remehkan Naruko.
"Aku akan ikut bersamamu." Ujar Naruko datar.
"Sudah ku katakan bukan, kau manusia Haruka!" Ujar kiba tegas.
"Percayalah padaku!" Ujar Naruko tegas.
Kiba yang melihat Naruko hanya menghela nafas, sepertinya tugasnya akan bertambah berat. Melawan vampir dan melindungi gadis manis di sampingnya. Naruko, Kiba, Hana dan beberapa werewolf pergi menuju ke tempat pertarungan mereka.
Naruko menatap sekelilingnya, banyak werewolf yang menatap tajam kearah sekumpulan manusia di seberang sungai dengan warna mata mereka yang merah dan gigi yang runcing yang sudah pasti tajam. Manusia haus darah itu tersenyum mengejek kearah keluarga kiba.
'Kenapa mereka mengganggu kawasan werewolf? Bukankah tou-san sudah membuat peraturan tentang ini? Lalu kenapa hanya ini yang bertarung? Hm.. banyak yang tak aku mengerti.' Batin Naruko menatap tajam sekumpulan vampir di depannya.
Beberapa orang yang tadinya ada di belakang keluarga Kiba sudah berubah ke wujud werewolfnya, sedangkan Kiba sendiri masih di wujud manusianya.
"Kenapa kau ajak Haruka Baka?" Tanya seekor mirip serigala di depan Kiba.
"Ia memaksa Nee-chan..." Ujar Kiba malas.
"Lindungi dia!"
"Tapi- Ah baiklah..."
Beberapa werewolf menyerang vampir jahat itu, begitu juga vampir itu. Mereka bertarung hebat, suara raungan para werewolf benar-benar memekakkan telinga. Taring dan kuku saling beradu satu sama lain..
Hana berlari kearah seorang vampir, vampir itu terlihat sombong. Hana menatap tajam kearah vampir sombong itu yang saat ini tersenyum miring kearah Hana.
Roarr... Hana meraung marah.
Beberapa werewolf mati di tangan vampir begitu pula dengan si vampir itu sendiri, beberapa werewolf merobek robek bagian tubuh vampir. Darah hitam mengalir dari tubuh vampir itu. Naruko yang menatapnya hanya diam. Ia percaya para werewolf mampu mengatasinya. Naruko berjanji pada dirinya sendiri, setelah ia kembali ke kastilnya, ia akan memecat Minato sebagai ayahnya yang tak mampu mengandalikan semua ini. Pertumpahan darahlah yang ada saat ini.
"Kamu tak apa Haruka?" Tanya Kiba khawatir karena dari tadi ia hanya diam saja. Takutnya Haruka Trauma dan membencinya karena semua ini, haah itu sedikit berlebihan.
Naruko hanya menggeleng sambil tersenyum, tanpa mereka sadari jika posisi werewolf saat ini mulai terpojok karena ada beberapa orang vampir kerajaan yang ikut turut andil melawan werewolf. Naruko segera tersadar jika di belakang Kiba ada sesosok vampir yang hendak menyerang mereka secara tiba-tiba. Dengan sigap Naruko menggeret Kiba dalam pelukannya untuk melindungi pemuda itu.
"Ah..." Ujar Naruko yang tangannya terkena cakaran vampir.
Kiba yang awalnya mematung karena pelukan Naruko, kembali tanggap dengan situasi yang ada. Matanya berkilat tajam, ia berubah ke wujud werewolfnya untuk melindungi gadis yang lebih muda darinya. Beberapa vampir menatap kearah mereka berdua karena mencium bau darah segar.
"Kalian membawa manusia rupanya." Ujar salah satu vampir.
"Jangan mendekat!" Teriak Kiba dalam wujud werewolfnya, suaranya terdengar tegas berbeda dari sebelumnya.
Naruko sendiri hanya diam, ia juga sedang menahan diri untuk tidak berubah ke wujud aslinya. Ya, Naruko juga tak sekuat Naruto. Ia juga haus sebenarnya.. darahnya, itu bau darah yang menggoda. Entah bagaimana ia tertarik dengan bau darahnya sendiri. Naruko memejamkan matanya mencoba meredam nafsunya, matanya hampir berubah biru menyala.
"Bawa dia pergi Kiba!" Teriak Hana yang selesai dari pertarungnya melawan vampir lain.
Tanpa basa basi Kiba mengajak Naruko pergi menjauh dari kawanan vampir itu.
"Naik!" Teriak Kiba.
Naruko hanya mengangguk dan segera menaiki punggung Kiba.
Kiba dan Naruko kembali kerumah. Naruko masih saja memejamkan matanya, berusaha merubah dirinya menjadi manusia lagi dan lagi. Sungguh ia tak tahan.. namun ia teringat pil buatan kakaknya, segera saja ia makan untuk meredam rasa hausnya. Dan.. berhasil. Naruko berkeringat dingin, hampir saja ia berubah ke mode vampirnya. Tanpa ia sadari jika Kiba mencium bau yang berbeda. Tiba-tiba Kiba berhenti..
"Apa kau menciumnya Haru-chan?" Tanya Kiba.
"Bau apa Kiba-kun?" Tanya Naruko gugup, sepertinya auranya lepas.
"Sepertinya ada seorang vampir yang mengikuti kita, baunya memang sedikit berbeda." Ujar Kiba..
"Sepertinya Kiba-kun," Balas Naruko.
Naruto mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh melepaskan aura vampirnya, mau bagaimana lagi kan? Ia hampir saja berubah menjadi vampir.
"Ah, sepertinya ia sudah pergi." Ujar Kiba.
Naruko hanya diam, tapi dalam hati teriak-teriak gak jelas gara-gara gak jadi ketahuan.
Naruko dan kiba sudah sampai rumah, segera Kiba mengobati luka di tangan Naruko. Ia bersihkan luka di tangan Naruko. Heran... ya Kiba heran melihat tangan Naruko yang tadinya lukanya besar tiba-tiba sedikit lebih kecil.
"Tingkat penyembuhanmu hebar Haru-chan." Ujar Kiba.
"Eh?"
"Lihatlah, lukamu menutup dengan sendirinya." Ujar kiba.
Kiba menatap curiga kearah Naruko, regenerasi manusia tak akan terjadi secepat ini. Klan Uchiha maupun Hyuga saja regenerasinya tak secepat Naruko. Naruto menatap takut kearah Kiba, Kiba sedikit berbeda. Naruko menyadari keanehan dalam sikap Kiba. Hey.. Kiba tak sebodoh itu!
Naruko meratapi kecerobohannya saat ini. Baru beberapa jam di dunia werewolf sudah ketahuan, bakat akting macam apa itu. Naruko menggigit bibir bawahnya.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Kiba, tatapannya menajam..
"A-aku-...
...TBC...
Apakah rahasia Naruko akan terbongkar?
Dan bagaimana kisah NaruSasu yang masih ambigu ceritanya?
Temukan jawabannya di chapter selanjutnya muehehehe... :D
...
Saya mau cerewet bentar nih, boleh ya boleh... hehe..
Maaf saya sangat terlambat updatenya, er- saya belum bisa komitmen buat nulis yang ada jadwal-jadwalnya. Jadi kalau updatenya lama, mohon di maklumi ya hehe..
Saya juga enggak pandai nulis dan bikin romance, tapi saya jadikan fic ini sebagai pembelajaran untuk bikin fic romance. Mohon kerja samanya...
Dan, Ini Romance NaruSasu tapi yang dapet Romance malah Char lain. Maaf minna... saya juga bingung kenapa begitu, mungkin NaruSasu memang gak jodoh *Ditimpukreader* bonus *DirasengandanChidori*
Sebagai ganti gara-gara Hiatusnya, ini wordnya saya panjangin heheh
.
..Thanks buat..
Akira No Sikhigawa, Nasumichan Uharu, Guest Aicinta, YumeYuumei CrystalFlee, Arum Junnie, puchan, guest, Naminamifrid, Akira Naru-desu
Dan juga yang udah ngefollow dan ngefavorite
...
Preview
Guest Aicinta. Nee makasih udah RnR. Maaf Updatenya sangat lama, saya sibuk ne. tapi ini udah update kok hehe
Puchan. Heheh... makasih, ini update. Maaf updatenya lama sekali.
Guest. Ini udah terus kok hehe. Makasih udah RnR.
Naminamifrid. Maaf, saya sempet Hiatus beberapa bulan itu. Hehe makasih Udah RnR.
.
..REVIEW YA..
Kalau boleh saya minta KRITIK dan SARANYA
Buat Romancenya apa lagi
Hehehe
V
V
V
V
V
V
v
