"Jadi, jika sudut x adalah 60° dan bersumbu pada x', Naruto-sama harus memakai rumus-" Penjelasan Sāra harus terhenti ketika Naruto berteriak frusrasi.

"Akhh! Peduli dengan sudut dan rumus! Aku mau pu ... *Pletak!*... lang, ahh." Kepala Naruto harus rela dijitak Sāra berulang-ulang kali.

Niat awalnya Naruto sangat bersemangat belajar Matematika dengan Sāra agar nilai ulangannya tidak 0 lagi. Tetapi, sepertinya Naruto salah memilih guru. Ia terus menerus terkena jitakan Sāra, ketika salah memberi rumus pada soal di buku.

"Anda harus bisa menghafalkan rumus ini, Naruto-sama! Agar tidak mendapat nilai 0 lagi dalam ulangan nanti!" Jelas Sāra pada Naruto yang terus berkata, pulang.

Pletak!

"Kau ini orang yang malas ya, Naruto-kun?" Ucap Sāra usai menjitak Naruto(lagi). Bahkan, ia tidak menggunakan kata-kata formal pada Naruto. Untuk Naruto? Ia terus meletakkan kepalanya jika dijitak oleh Sāra.

"Kau itu harus bisa mendapat nilai di atas KKM, agar dapat naik ke kelas 3, Naruto-kun!" Walaupun Sāra berkata begitu, Naruto hanya menanggapinya dengan santai. Dengan kepala masih di atas meja.

"Memangnya kenapa kalau tidak naik kelas? 'Kan tinggal mengulang lagi seta-"

*Pletak!

"Jika kau tidak naik kelas terus menerus, bagaimana? Naruto-kun itu harus bisa naik kelas. Setelah itu, lulus dari Akademi Kuoh, kemudian kuliah sampai lulus. Lalu mencari peker-"

"Kau ini crew-"

Pletak!

Potong memotong. Naruto memotong, Sāra pun juga ikut memotong. Ditambah menjitak tentunya.

"Jangan memotong ucapan orang lain sebelum mereka selesai bicara!"

"Kau sendiri ju-"

Pletak!

"Kembali ketopik pembicaraan. Setelah lulus dari kuliah, kau bekerja. Lalu menikah, berkeluarga dan punya anak."

"Lalu? Apa hubungannya mata pelajaran Matematika dengan menikah, berkeluarga dan punya anak?" Tanya Naruto heran, tanpa terkena jitakan dari Sāra.

"Tentu saja ada! Aku mana mau menikah, berkeluarga dan punya anak dari seorang yang masih kelas 2 SMA dan tidak naik kelas terus menerus sepertimu, Naruto-kun!" Entah ia sadar atau tidak, ketika Sāra menjawab seperti itu.

"Kau mau menikah denganku? Berkeluarga bersamaku? Punya anak dariku? Hm ..." jeda Naruto sambil membayangkan.

"Sudah pasti dan jelas, aku dan anak-anakku nanti akan terus menerus kau jitak jika mempunyai istri dan ibu galak sepertimu, Sāra." Lanjut Naruto usai membayangkan apa yang ia pikirkan.

Pletak!

'D-Dia tak henti-hentinya menjitak kepalaku.' Umpatnya memegangi kepala.

"Aku begitu karena sayang padamu, Baka!" Seru Sara kesal.

"Sayang untuk menjitak calon suami-mu ini." Ucap Naruto pelan.

Pletak!

Tapi sayangnya, Sāra masih mendengar ucapan Naruto.

"Kau calon istri yang kejam, Sāra!" Ujar Naruto sambil menangis ala anime.

"Apa kau bilang? Heh?!" Oh! Naruto bisa merasakan hawa yang tidak enak di sekitarnya. Aura hitam keluar dari tubuh Sāra dan tak lupa, mata seekor predator yang siap memangsa siapa saja di depannya.

"T-Tidak, tidak, tidak, S-Sāra. A-Aku tadi sa-salah bicara. Ya, s-salah bicara. " Ucapnya gemetar.

"Lalu?"

"K-Kau itu cantik. Ya, ca-cantik ba-bahkan manis. Ja-Jadi, mana mungkin aku berkata kau calon istri yang kejam."

Jawab Naruto sedikit berbohong.

"O-Oh, te-terima kasih." Ucap Sāra yang merona malu.

"Fuihhh! Kukira aku akan jadi pirang panggang, karena dimangsa nenek sihir ini." Kata Naruto tanpa sadar.

Muncul aura hitam dari tubuh Sāra, dan berseru. "NARUTO-KUN NO BAKAA!"

Dugh!

Duagh!

Bugh!

Buagh!

Dan seterusnya.

.

.

.


Tittle : Duo Ootsutsuki

Disclaimer : I don't own either 'Naruto' or 'Highschool Dxd'

Rated : M

Genre : Action, Comedy, Ecchi, Friendship, Fantasy, Supranatural, Martial Art dengan sedikit Romance

Warning : OOC, Gaje, Typo(mungkin), Etc.

[A/N: Mungkin judul dan cerita memiliki banyak kesamaan dengan fic lain.]


Happy read and enjoy

→°Arc I-Bagian 4-6°←

.

[Bagian 4: Rubah Akademi Kuoh, dan Ootsutsuki Sasuke!]

.

Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi sang Namikaze Naruto atau Ootsutsuki Naruto. Ia berjalan sempoyongan akibat ulah Sāra, sang calon istri di masa depannya, itu katanya. Pulang jam 9 malam, sendirian. Sampai Naruto mendapat telepon dari seseorang.

Drrtt ... drrtt ... drrtt!

Srek!

Tut!

"H-Halo...," menjauhkan telepon genggamnya dari telinga karena teriakan keras dari sang penelepon. "Tidak, tidak ada apa-apa Iruka-san. Hanya kecelakaan kecil lagi dari calon istri-ku." Ujar Naruto setelah mengangkat telepon dari Iruka dengan memegang kepalanya yang penuh akan sebuah bola-bola bertumpuk, benjolan. Bukan itu saja, seragam Akademi-nya juga kusut dan terdapat cap sepatu wanita di beberapa bagian.

"Memangnya kenapa? Dia sendiri yang bilang akan menjadikanku calon suami di masa depan. Iya aku tahu itu, dia juga bilang begitu. Tidak, dia yang bilang akan menikahiku. Walaupun rasanya aneh, seorang wanita melamar pria. Dan terima kasih atas ucapan selamatnya.

Ngomong-ngomong. Kau sudah mengganti pintu depan rumahku bukan, Iruka-san. Baguslah. 'Tapi'? Tapi apa Iruka-san?" Naruto mulai panik ketika Iruka berbicara dengan terbata-bata.

Di kediaman Namikaze

"I-Itu, Naruto-sama. Ada seorang wanita berambut oranye dan memakai seragam Akademi Kuoh yang terus memanggil nama Anda sedari tadi. Dia kelihatan marah, bahkan sangat marah. K-Kalau begitu, s-saya tutup d-dulu teleponnya dan se-egera pulang, N-Naruto-sama!"

Tut!

"Huahhhh! Wanita menyeramkan!" Usai menutup teleponnya dengan Naruto. Iruka langsung lari terbirit-birit, meninggalkan kediaman Namikaze selesai mengganti pintu depan rumah tersebut.

Alasan Iruka lari seperti itu hanya satu. Karena Kurama. Dan 'mungkin' saja, Naruto akan babak belur(lagi) setelah tiba di rumah. Dihajar pacar atau kekasihnya(menurut Kurama) nanti.

"GO-SHU-JIN-SAMA...!"

-Kembali ke Naruto-

"Wanita oranye? Sepertinya, aku pernah melihat wanita itu. Tapi, siapa ya?" Tanya Naruto yang tidak tahu jika wanita oren itu adalah Kurama.

Terus berjalan menuju ke kediamannya dengan berpikir, siapa wanita oranye itu? Yang padahal, Naruto sudah mengenal dan mengetahuinya. Setelah tiba di rumah nanti, mungkin ia akan tahu sendiri.

.

.

Ceklek!

Klik!

Membuka pintu dan menyalakan lampu ruang tamunya. Kemudian, menutup pintu rumahnya kembali.

Ceklek!

"Aku pulang, huam." Ucal Naruto entah pada siapa, sambil menguap ngantuk.

"Hemmmmm!" Kurama telah siap menghadang Naruto dengan wajah cemberut dan kesal.

"Huh? Ternyata kau, Kurama? Kita bicarakan hal tadi besok saja, aku sudah mengantuk nih, huam." Ujar Naruto yang tidak sadar jika Kurama sedang marah.

"Selamat malam, Kurama. Jangan lupa mematikan lampu ruang tamu, huam." Lanjutnya berjalan menuju ke kamar miliknya.

.

"Aku lelah dan *huam* sekali." Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan besar. Saking lelahnya, Naruto sampai tidak mengganti seragam Akademinya dengan pakaian untuk tidur.

Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!

"Goshujin-sama!" Seru Kurama menerjang Naruto yang sedang merebahkan dirinya di atas kasur.

Cuingg!

Gedebruak!

Ia terbang dan mendarat di atas tubuh Naruto. Sampai 4 kaki peyangga tempat tidur tersebur, roboh karena tidak kuat menahan beban.

Grip!

Grrrtt!

"Daisuki, Goshujin-sama! Daisuki! Daisuki!" Seru Kurama sambil memeluk Naruto. Dengan erat, bukan, tapi sangat erat. Membuat Naruto bangun dan berkata,

"Se-Se-Sesak Ku-Kurama." Dengan terbata-bata. Tapi Kurama tidak memperdulikannya. Rubah itu memeluk Naruto dan berkata, 'Daisuki' terus menerus.

'Jika seperti ini. Aku bisa mati dan juga, tidak bisa tidur.' Umpat Naruto dalam hati. Bagaimana tidak? Memejamkam mata saja tidak bisa, apalagi tidur. Pelukan Kurama ini, layaknya dijepit atau ditindih 2 beton baja dengan berat 1 ton.

.

.

Cit! Cit! Cit! Cit! Cit!

"Enggh." Erang Naruto ketika mendengar cicitan burung di pagi hari. Membuka kedua bola matanya dan sadar, jika hari sudah pagi.

'Ugh! Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?' Mencoba untuk bangun, namun tidak bisa. Ia tidak menyadari jika seseorang berada di dalam selimut yang menyelimutinya. Tanpa sengaja, Naruto mendengar erangan dari dalam selimut.

Bets!

"Heh? Kurama!" Kaget Naruto saat melihat Kurama sedang tidur dengan memeluk tubuhnya.

'Sejak kapan dia tidur dengan memelukku di atas?' Tanya Naruto pada dirinya sendiri

'Daripada itu, jam berapa ya sekarang.' Melupakan tentang Kurama tidur di atasnya dan melirik jam yang berada di dinding.

'Apa! Akademi akan dimulai setengah jam lagi!' Panik Naruto melihat jam yang menunjukan pukul 7.30 pagi.

Akan tetapi, yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana ia bisa berangkat ke Akademi jika bangun saja tidak bisa. Itu karena Kurama ada di atasnya; tidur, menindih dan memeluk tubuh Naruto.

'Membangunkannya, hanya akan menambah masalah.' Pikirnya.

Kenapa? Sebab, jika Naruto bangun sudah pasti, ia harus membangunkan Kurama. Dan jika ia membangunkan Kurama, Naruto harus mencari beribu alasan untuk Kurama agar berhenti memeluknya. Supaya ia bisa pergi berangkat ke Akademi.

'Tidak ada pilihan lain.'

"Hey, Kurama. Bangun, ini sudah pagi dan aku mau berangkat ke Akademi Kuoh." Ucap Naruto membangunkan Kurama dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Enggh... Kurama masih mengantuk, Goshujin-sama." Jawab Kurama dan kembali tidur.

"Ayolah Kurama, ughh! Setengah jam lagi, aku harus ada di Akademi. Jadi cepatlah bangun supaya aku bisa mempersiapkan diri ke sana, ughh!" Kata Naruto sebari menyingkirkan Kurama dari atas tubuhnya.

'Makan apa sih kau? Berat badan bisa seberat gajah.' Pikirnya.

"Kurama tidak se-gendut itu, Goshujin-sama!" Tiba-tiba saja, Kurama bangun dan berteriak seperti itu. Hingga membuat Naruto sendiri terkejut.

'Perasaan, aku tidak mengatakannya gendut tadi.' Gumamnya heran.

"Sudah Kurama bilang! Kurama tidak gendut, GO-SHU-JIN-SAMA!" Seru Kurama dengan mengeja kata 'Goshujin-sama'.Daripada masalah ini tambah besar dan lama. Naruto menjawab 'iya'.

"Sekarang, bisakah kau menyingkir dari sana, Kurama?" Pinta Naruto.

Grep!

"Tidak! Kurama tidak akan melepaskan Goshujin-sama! Nanti Kurama tidak bisa memeluk Goshujin-sama lagi!" Katanya menggelayut manja sambil memeluk Naruto.

"Bagaimana kalau kau ikut saja aku ke Akademi Kuoh? Jadi kau bisa memelukku di sana sepuasnya." Sebuah tawaran yang menggiurkan(bagi Kurama) keluar dari mulut seseorang. Tapi suara tersebut terdengar seperti suara Naruto.

"Benarkah?!"

"Eto ..." Bingung harus menjawab apa dan bagaimana.

"Kalau begitu, Kurama akan terus memeluk Goshujin-sama di sini berjam-jam!" Seru Kurama dan langsung memeluk Naruto.

Grep!

"Atau mungkin seharian, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sekalipun! Kurama tidak akan melepaskan Goshujin-sama! Selamanya!" Lanjutnya.

"Baiklah-baiklah, kau menang Kurama." Jawab Naruto menyerah. Menyerah untuk berdebat dengan Kurama, apalagi ia terus mengancam akan memeluknya selama itu.

"Yakin? Kurama boleh ikut?" Tanya Kurama memastikan.

"Iya. Jadi, bisakah kau menyingkir? Aku mau mandi terlebih dahulu."

Menarik Naruto tiba-tiba dan membawanya menuju ke kamar mandi bersama dengan Kurama. "Baiklah! Kita mandi sama-sama saja, Goshujin-sama!"

"HUWAHH!" Teriak Naruto sampai terdengar dari luar rumahnya.

.

.

Dua remaja berbeda gender sedang berjalan bersama satu sama lain. Salah satunya pemuda pirang dengan seragam laki-laki Akademi Kuoh. Kedua, wanita bersurai oranye panjang sepunggung, mengenakan seragam perempuan Akademi Kuoh.

(Naruto's POV)

Ini benar-benar hari yang buruk. Lebih buruk daripada mimpi kemarin. Memang, aku suka jika berjalan dengan wanita cantik, ditambah imut dan manis pula.

Tetapi,

Kenapa juga Kurama harus memelukku seperti ini?

(Kurama memeluk lengan kanan Naruto sambil menggelayut manja)

Orang-orang pasti mengira jika aku dan Kurama adalah pasangan kekasih. Padahal tidak.

Aduh! Mereka bahkan memandangku dengan tatapan iri. Tapi anehnya, dimana Kurama menemukan seragam itu ya? Karena aku tidak memiliki seragam Akademi Kuoh untuk wanita.

Walaupun itu telihat cocok dengannya, tapi tetap saja. Ah lupakan saja. Sudah bagus aku bisa berangkat ke Akademi daripada membolos lagi.

Bisa dapat masalah nanti oleh si 'muka datar' alias Shitori Souna. Membayangkan saja sudah membuatku merinding. Julukannya sebagai 'Ketua OSIS Terdisiplin' memang bukan main. Bolos 1 hari saja, disekap dan diintrograsi berjam-jam. Bagaimana jika 2 hari? Aku sudah tidak bisa membayangkan lagi.

Tanpa sadar, kami sudah sampai di depan gerbang Akademi Kuoh. Dan juga... berbagai tatapan ditujukan padaku dan Kurama, serta sebuah pujian dan cacimaki.

"Kya! Mesranya!"

"Apa itu kekasih Namikaze-kun?!"

"Kekasih Namikaze-kun cantik sekali!"

"Dia imut dan manis!"

"Aku juga mau memeluk Namikaze-kun seperti itu!"

"Kya! Namikaze-kun!"

Ah, sudah kuduga mereka akan berkata seperti itu. Dasar wanita.

"Sialan! Pacarnya bikin iri!"

"Namikaze brengsek!"

"Mati saja sana, Pria tampan!"

"Bunuh Namikaze itu!"

Untuk kata-kata terakhir, lebih baik aku lari saja. Daripada mati dibunuh mereka.

(Naruto's POV End)

"Heh? Kenapa kita lari dari mereka, Goshujin-sama?" Tanya Kurama yang tidak tahu akan keadaan sekarang.

"Kau itu bodoh atau apa sih, Kurama?" Naruto heran dengan pertanyaan Kurama.

"Lihat! Mereka mengejar dan ingin membunuhku karena kau!" Lanjutnya terus berlari dari kejaran para siswa Akademi.

"Siapa?! Siapa yang berani ingin membunuh Goshujin-sama. Biar Kurama bakar dengan api emas ini sampai hangus!" Tiba-tiba, Kurama mengeluarkan bola api emas seukuran bola kasti dari salah satu telapak tangannya.

"Bodoh! Apa sih yang ada pikiranmu? Jangan gunakan kemampuanmu itu di Akademi. Bisa jadi masalah besar kalau itu terjadi nanti." Ucapan Naruto membuat Kurama menghilangkan bola api emas miliknya.

"Hmph!"

'Pokoknya, jangan kau gunakan kekuatanmu disini, oke? Kau mengerti 'kan, Kurama?' Ucap Naruto dalam pikirannya.

'Kurama?' Namun, tidak ada respon dari Kurama.

Saat hendak berbelok di sebuah persimpangan sebuah lorong, seorang berjubah hitam muncul di hadapan Naruto dan Kurama.

Melihat orang tersebut, Kurama memperingati Naruto. "Goshujin-sama! Awas!" Serunya.

"Ada apa- HUWAHH!" Ketika hendak bertanya, Naruto tersedot dalam lubang hitam yang muncul di depannya.

Zruutt!

Kurama hanya bisa menyaksikan tuannya, tersedot dalam lubang tersebut. Dan pada saat ia memanggil Naruto, Kurama terkejut dengan sosok berjubah tadi berada di depan dan menatapnya."Go-Goshujin-sa-, *Deg-deg!*, si... siapa kau, *Bruk!" Kurama pingsan setelah menatap mata merah sosok itu. Salah satu bola mata merah darah, dan 3 tanda koma di sekeliling pupil.

Sosok itu mendekati tubuh Kurama yang ambruk, kemudian menggendongnya. Hendak ingin pergi dari sana, 4 siswi Akademi Kuoh telah mengepung dirinya.

"Berhenti! Siapa kau?!" Seru salah satu siswi berkacamata dengan surai hitam sebahu a.k.a Souna.

Sosok tersebut cuma melirikkan ekor matanya tanpa menjawab pertanyaan Souna.

Deg-deg...!

Bruk!

Souna berlutut sambil memegang kepala dengan satu tangan dan tangan lain menyanggah tubuhnya. 'Ta-Tadi itu...'

Ughh!

"Souna/Kaichou!?" 3 siswi yang diketahui adalah Rias, Akeno, dan Tsubaki, panik dengan apa yang terjadi pada Souna.

Uhuk-uhuk... gohagh!

Souna terbatuk dan memuntahkan darah dalam jumlah yang banyak. Sebelum kesadaranya mulai hilang, ia sempat berkata. "Ja-Jangan... tatap, mata... nya..."

Bruk!

"Souna/Kaichou!?" Panggil mereka setelah Souna jatuh di atas lantai.

Melihat Souna sudah tak sadarkan diri, sosok berjubah itu membuat sebuah lubang hitam dari ketiadaan. Tapi, saat hendak ingin memasuki lubang tersebut, Rias menghentikannya dengan kekuatan Iblis-nya. "Enyahlah kau!"

Sebuah serangan berwarna hitam kemerahan tua, mengarah kepada sosok tersebut.

Duar!

Serangan yang berasal dari salah satu 72 Pillar Iblis Utama milik klan Bael ini, berhasil mengenai sosok tersebut. Serangan yang dapat menghancur-musnahkan musuh atau benda dalam sekejap. Itulah kekuatan milik Rias, [Power of Destruction].

Walaupun serangan Rias berhasil mengenai musuhnya, tapi ia masih belum yakin. Apakah sosok itu terkena [Power of Destruction] miliknya atau tidak. Menunggu asap yang mengempul hilang, Rias beserta Akeno, dan Tsubaki, mulai bersiaga.

"Lumayan untuk seorang pemula yang berhasil menyerangku." Ucapnya dari dalam kempulan asap tersebut.

Wussh!

"Ti-Tidak mungkin...,"

"... serangan Rias...,"

"... ditangkisnya dengan mudah..."

Gumam Rias, Tsubaki, dan Akeno terkejut. Kemudian, ia menatap bola mata Rias dengan mata merahnya yang berputar searah jarum jam, kemudian berkata. [Gengi: Shigetsu!]

(Dunia Ilusi)

Wanita bersurai merah panjang atau dikenal Rias Gremory, kini berada di dunia yang diciptakan oleh sosok berjubah tadi.

Menoleh ke segala arah, ia bisa menyimpulkan satu hal mengenai keberadaanya sekarang. "Ternyata aku ada di tempat lain."

Tempat yang Rias injak saat ini, sebagian besar ialah air yang berupa lautan dengan warna hijau tua. Langit hitam yang disinari oleh cahaya bulan. Bukan bulan seperti pada umumnya, bulan itu berwarna merah seperti warna darah dan surai merahnya.

Tes! Tes! Tes!

Bats!

Karena salah satu panca indera-nya mendengar bunyi tetesan air berjatuhan, Rias mengeluarkan sayap Iblis-nya dari balik punggung.

Brashh!

Namun, sayap-nya tiba-tiba saja menghilang dan ia pun jatuh ke bawah.

Bum... zruashh!

Walaupun Rias menghantam air, ia seperti menghantam permukaan tanah yang padat dan keras.

"Ugh!" Rintihnya sebari memegang bahu bagian kanan

Tep! Tep! Tep!

Rias mematung ketika sosok yang membawanya ke dimensi itu, berada di depannya. Penampilannya masih sama, hanya hoodie yang menutupi kepalanya telah terbuka. Menampakan wajah tampan keren, kulit putih, dan jangan lupa. Salah satu mata merah darah yang tidak tertutup oleh poninya, menyala terang diikuti 3 tanda koma yang berputar searah jarum jam.

'O-Orang ini...' entah apa yang Rias pikirkan mengenai sosok di hadapannya itu.

Tiba-tiba, tiga tentakel yang terbuat dari air, muncul di sekitar Rias. Melilit tubuh Rias sampai dua 'aset' miliknya mengencang dan ia menjerit.

"Kyaahh!"

Grrttt!

Tentakek yang melilit Rias, semakin mengencang di sekitar tubuhnya.

"Ugh!"

Merasa sudah puas dengan apa yang sosok tersebut lakukan pada Rias, ia berjongkok untuk menyamai tinggi wanita itu dan mencengkram leher Rias.

"Hei! Dengarkan aku. Apapun yang kau lakukan untuk bebas dari lilitan tentakel ini, itu adalah hal yang mustahil. Semakin kau bergerak, dia akan semakin mengeratkan lilitannya pada tubuhmu." Jelas sosok tersebut menatap kedua bola mata Rias.

Rias bisa merasakan perbandingan kekuatan yang jauh dari sosok di depannya ini. Aura mata merah yang menakutkan. Lebih menakutkan ketika melihat kakaknya marah.

Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Rias bertanya."Si-Siapa kau... ugh!"

"Siapa aku? 'Kalian' harusnya sudah tahu. Atau mungkin, kau memang belum tahu, ya?" Melepas cengkramannya dengan kasar, lalu ia berdiri.

[Raiken!]

Zrttt...!

Suara percikan listrik berbentuk pedang yang terbuat dari petir sepanjang 30 centi itu, muncul dari genggaman tangannya.

Jleb!

Pedang Halilintar milik Sasuke, menusuk bagian perut Rias. Hingga memuntahkan darah dari mulut wanita merah tersebut.

"Guhogh!"

"Sebelum aku mulai menyiksamu disini. Akan kuberitahu, siapa aku ini." Katanya sebari mencabut [Raiken] miliknya.

"Ugh!"

"Namaku... Ootsutsuki Sasuke. Saudara dari Namikaze Naruto yang marga aslinya, sama denganku. Ootsutsuki Naruto."

Jleb!

"Uhuk!"

Sosok yang diketahui bernama Sasuke itu, kembali menusukkan 'Raiken'nya ke tubuh Rias. "Ingatlah baik-baik namaku itu, Gremory."

Jleb!

Jleb!

Jleb!

Dan seterusnya, Sasuke melakukan hal itu pada Rias. 3 hari 3 malam(Dalam dunia ilusi)

(Dunia Nyata)

Uhuk-uhuk! Gohogh! Bruk!

Akeno beserta Tsubaki terkejut dan tidak percaya dengan kondisi Rias yang tergeletak di samping Souna.

"Ja-Jangan... lihat... matanya... ugh!" Ucapan peringatan yang sama dengan Sona katakan sebelumnya.

Karena bingung, mereka berdua bertanya pada Rias diikuti menoleh ke arah sosok berjubah tadi. "Apa maksudmu Ria... deg!"

Sayangnya, Akeno dan Tsubaki, sudah terlebih dahulu terkena teknik yang sama dengan Rias. Hanya membutuhkan waktu 3 detik setelah menatap kata mereka berdua, dan...

Uhuk-uhuk! Guhough!

Bruk! Bruk!

"I-Itu tadi... ugh!" Akeno dan Tsubaki hanya bisa merintih kesakitan setelah mendapatkan sebuah siksaan maut dari Sasuke.

Melihat 4 wanita sudah pingsan tidak berdaya, Sasuke membuka kembali lubang hitam miliknya. "Menyedihkan." Kata yang singkat ia katakan pada mereka semua sebelum dirinya beserta Kurama, benar-benar menghilang ditelan oleh lubang hitam tersebut.

Usai menghilangnya Sasuke, remaja bersurai coklat tiba-tiba datang ke persimpangan pada lorong Akademi Kuoh. Sambil memegang celana hitamnya di bagian kelamin. Hyoudou Issei.

"Sialan! Aku harus cepat-cepat ke toilet sebelu- BUCHOU! AKENO-SAN! SOUNA-KAICHOU! TSUBAKI-SENPAI!" Teriak Issei tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mereka berempat.

"Ke-Kenapa kalia- eh!" Ucapannya terhenti saat ia merasakan sebuah cairan membasahi kulit lalu menoleh ke arah celana Akademi-nya.

"SIALAN! AKU KENCING DI CELANA!

.

[Bagian 5: Mimpi Aneh, dan Penyelamatan Gadis Birawati!]

.

-Ditempat lain-

Zruutt...!

Sosok berjubah atau disebut Sasuke, yang telah menculik Naruto dan Kurama, menjatuhkan kedua tubuh mereka secara bersamaan dan kasar.

Bruk! Bruk!

"..." ia tidak bisa berkata apa lagi dengan posisi Naruto dan Kurama sekarang. Yang ada dibenaknya hanya satu. 'Pasangan serasi'.

"Enggh...," erangan Kurama terdengar tenang dalam kondisinya sekarang ini. "Goshujin-sama..." ia bahkan mengigau nama tuannya sambil memeluk tubuh Naruto.

Berbeda dengan Naruto. Ia seperti sedang menahan sesuatu di dalam hidungnya. Hingga Sasuke mendekati wajah pemuda pirang tersebut dan...

Hacing!

"Nenek sihir sialan!" Igau Naruto setelah ia bersin ke arah Sasuke lalu, mengusap-usap hidungnya.

Dalam pikiran Sasuke, ia memikirkan sebuah cara untuk membunuh pemuda bersurai kuning layaknya buah durian ini dalam sekejab. 'Naruto sialan... berani-beraninya dia bersih ke arah wajah tampanku ini...'

Tapi, niatnya ia urungkan. Mengingat tujuannya menculik Naruto ialah ingin berbicara tentang sesuatu yang sangat penting. Yang terpenting sekarang, bagaimana ia membangunkan pemuda durian ini yang masih dalam berada di alam mimpi.

'Kusiram saja dengan air.'

Zruuttt... zruoshh!

Air menyembur dari lubang hitam milik sosok berjubah itu. Senyum kepuasan terukir dari bibir Sasuke.

"Gyaa! Air!"

Mendengar teriakan itu, Sasuke tertawa dengan tidak elite-nya.

"Muahahahah! Rasakan itu Duren Busuk! Siapa suruh bersin ke wajah tampanku ini!"

Namun, Sasuke tidak sadar jika, teriakan yang ia dengar bukan berasal dari Naruto.

"Beraninya kau menyiram Kurama dengan Air... grrr!" Tapi Kurama.

'A-Apa?! Su-Suara i-itu... aaaa...' jika dugaan Sasuke benar, suara tersebut milik Kurama. Sasuke menoleh dengan gerakan pelan kalau dugaannya itu benar.

"SASUKE-SAMA NO BAKA!" Kurama menerjang Sasuke dan menyiapkan sebuah pukulan.

Buagh!

"KURAMA TIDAK AKAN MEMAAFKAN ANDA YANG SUDAH MENYIRAM AIR DAN MENGHINA GOSHUJIN-SAMA!" Seru Kurama karena alasan yang menyangkut Naruto.

"TERIMA INI! TINJU RUBAH AMARAH KURAMA!"

Buagh!

"Enggh...," terganggu karena mendengar sebuah keributan, Naruto mulai bangun. "Ada apa sih? ribut-ribut sekali." Berucap sambil mengusap-usap matanya.

"Goshu-"

"Uwahh... *gedebugh*" sebuah kejadian yang tak terduga yang disebabkan oleh Kurama, membuat Naruto tertimpa oleh Sasuke.

Bukan itu saja. Bahkan, posisi mereka berdua bisa dikatakan tidak wajar bagi kau pria. Kenapa begitu? Mana ada seorang Namikaze berperawakan tampan seperti dia, mencium bibir sejenisnya.

Orang yang ditimpa kembali pingsan, yang menimpa masih setia dengan bibir menempel pada pemuda di depannya.

Tidak kuasa melihat orang tercintanya dicium oleh Sasuke. Kurama berlari menghampiri pemuda raven tersebut.

"GYAA! MENJAUHLAH DARI GOSHUJIN-SAMA! SASUKE-SAMA NO BAKA!"

Menjauhkan Sasuke dari Naruto. Dan...

PLAK-PLAK-PLAK-PLAK...!

Menampar wajah tampan pemuda raven itu. Sambil berkata, 'Sasuke-sama no baka' terus menerus.

.

.

.

'Cinta dan Kasih Sayang... adalah kekuatanmu. Kegelapan dan Kebencian... ialah kelemahanmu. Berhati-hatilah kepada 'mereka', wahai keturunanku. Ootsutsuki Naruto.'

"Huah! Hah... hah... hah..." pemuda pirang yang dikenal bernama Naruto, siuman akibat sebuah peringatan aneh dari mimpinya.

Memegang kepala dengan tangan kanannya, Naruto sangat penasaran kenapa ia bisa bermimpi bertemu dengan kakek tua berambut putih. 'Apa maksud perkataan kakek-kakek tadi? Dan... siapa dia?' Pikir Naruto.

Sementara itu, Naruto yang sedang memikirkan mimpinya tadi, mendengar suara erangan. "Enghh..."

Menoleh ke sumber asal erangan tersebut. Naruto mendapati orang yang belum ia kenal, sedang tidur bersama wanita bernama Kurama.

Berdiri dari posisi duduknya, dan Naruto menghampiri mereka berdua. Ia terkejut oleh pemuda yang dijadikan bantalan oleh Kurama. "Sasuke?!"

Aneh, itu yang Naruto pikirkan. Bagaimana bisa sepupu jauhnya ini ada di sini, ditambah lagi tidur bersama Kurama. Untuk menjawab pertanyaannya tersebut, ia menoleh ke samping kiri dan kanan mencari sesuatu. "Mungkin dengan ini, bisa membuatnya bangun." Ucapnya setelah menemukan sebuah benda yang ada di ruangan itu. Pipa besi.

"Mei-chan! Tsunade-chan! Jangan tinggalkan aku!" Naruto yang awalnya ingin memukul pemuda bergaya pantat ayam ini, mulai ragu.

'Dia bermimpi apa sih? Sampai mengigau nama Mei-san dan Tsunade-san.' Pikirnya heran.

"Ehehehe... bibir Goshujin-sama sangat manis."

'Ja-Jangan katakan. Jika Kurama bermimpi mencium bibirku.' Batin Naruto sebari menyentuh bibir-nya.

"Naruto Sialan! Dasar Duren busu-*duagh!* GUHAGHH!"

Untuk igauan yang satu ini, Naruto tanpa babibu lagi menghajar Sasuke dengan pipa besi dalam genggamannya.

.

.

-Gedung belakang Akademi Kuoh-

"Buchou! Buchou!" Merasa seorang memanggil namanya, remaja wanita bersurai merah itu bangun.

"Aku dima-,ugh!" Ketika hendak bertanya, remaja yang diketahui bernama Rias, merintih memegangi kepalanya.

"Jangan terlalu bergerak dulu, Anda masih dalam tahap pemulihan." Ucap pemuda pirang pendek dengan seragam Akademi Kuoh yang dia kenakan.

"... Akeno! Dimana Akeno sekarang, Yuuto?!" Ingat jika bukan dirinya saja yang berkeadaan seperti Rias.

Pemuda yang dipanggil Yuuto atau Yuuto Kiba ini, menoleh ke arah lain. Rias mengikuti pandangan Kiba dan melihat Akeno duduk di sofa seberang ruangan gedung PIG(Penelitian Ilmu Gaib) bersama Koneko. Namun, kondisinya masih belum membaik.

"Maaf Buchou. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Anda, Akeno-san, serta Souna-Kaichou dan Tsubaki-senpai? Kami menemukan kalian pingsan di koridor Akademi." Tanya Kiba yang penasaran.

"Kaichou juga bilang, untuk beristirahat terlebih dahulu hingga otak kalian berdua stabil." Lanjutnya memberitahu.

Dalam pikiran Rias, ia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Yang dia ingat hanyalah, sebuah siksaan selama 3 hari 3 malam tanpa henti, usai menatap mata merah milik sosok yang bernama Ootsutsuki Sasuke.

(Rias's POV)

Teknik yang dimiliki oleh Sasuke itu... entah bagaimana aku menjelaskanya. Dia melukai musuhnya hanya dengan menatap mata mereka saja dalam waktu yang terbilang lama. Tapi, terasa hanya beberapa detik ketika ia selesai mengakhiri teknik tersebut . Ditambah lagi, aku masih bisa merasakan sakit, walau tidak ada luka fisik sedikitpun di tubuhku. Seperti, serangan mental.

Dia juga berkata, ia adalah saudara Naruto. Tapi, kenapa ia bilang kalau marga Naruto adalah Ootsutsuki. Bukan Namikaze. Auranya bahkan hampir sama dengan wanita rubah itu(Kurama).

Ootsutsuki... jika benar Naruto memiliki kekuatan yang sebanding dengan orangnitu(Sasuke). Keluarga-ku pasti akan bertambah kuat untuk bisa mengalahkan 'dia'. Ya, benar.

Aku harus bisa me-renkarnasi Naruto dan Kurama menjadi Peerage milikku, bagaimanapun caranya.

Tapi... hanya Sasuke yang jadi masalahnya. Dia seperti sulit untuk diajak negoisasi. Bahkan...

-siapa aku? 'Kalian' harusnya sudah tahu. Atau mungkin, kau memang belum tahu, ya?-

Siapa yang ia maksud dengan 'kalian'?- Mungkin, aku harus bertanya dengan Onii-sama mengenai Sasuke dan marga Ootsutsuki.

(Rias's POV End)

.

.

-Di sisi Issei-

Pemuda bersurai coklat dan masih mengenakan seragam Akademi Kuoh lengkap ini, berlutut menahan sakit di bagian betisnya. Issei.

Issei yang awalnya sedang menjalankan sebuah panggilan dari Klien keluarga Gremory, malam hari. Mendapati kejadian yang tidak ia teduga. Klien yang memanggilnya, sudah dibunuh oleh pendeta gila bernama Freed, Freed Zelzan.

Bukan itu saja. Ia juga tidak percaya bahwa, teman gadis birawati pirang yang baru kemarin Issei kenal, Asia Argento. Bersekutu dengan Freed. Pendeta itu awalnya terkejut, birawati seperti Asia berteman dengan Issei yang sebenarnya ialah Iblis.

Sewaktu akan membunuh Issei, Asia menghalanginya karena ia menganggap Issei bukan Iblis seperti yang dikatakan oleh Freed. Tapi, serangannya meleset dan cuma mengenai betis pemuda berambut coklat tersebut. Muak dengan tindakan Asia melindungi Issei, Freed mengikat kedua pergelangan tangannya.

Sreeek!

Pendeta itu juga merobek pakaian birawati milik Asia. Sampai terekspor payudara berukuran kecil milik remaja pirang tersebut.

"Kyaah!" Jerit Asia.

.

-Diluar sebuah bangunan-

Berdiri dua wanita cantik dan err... seksi, di depan gedung apartemen.

"Yakin ini tempatnya?" Tanya wanita berambut pirang. Tsunade.

"Ya," jawabnya singkat sebari berjalan maju. "Sudah terbukti dengan adanya [Kekkai] tipis ini." Lanjut wanita yang memiliki bibir seksi ini alias Mei, tangannya menyentuh benda seperti kaca.

Tsunade bisa melihat dengan jelas, sebuah penghalang di seluruh bangunan di depannya ini. Ia juga ingat akan ucapan kekasih-nya.

-Kuingin kau dan Mei, mencari seorang pendeta bernama Freed Zelzan. Bawa dia hidup atau mati. Aku pergi dulu, ada urusan yang penting dengan anak 'Duren' dan rubah itu-

Entah kenapa, dari dulu Tsunade selalu tertawa jika kekasihnya memanggil nama bos-nya seperti itu.

Sibuk dengan dunianya sendiri, Mei menatap tajam Tsunade. "Aku tak 'kan membiarkanmu memiliki Sasuke-sama seutuhnya, 'Pirang'." Ujar Mei dengan penekanan kata, pirang.

"Heh?" Gumam Tsunade heran. Tiba-tiba saja, Mei berkata demikian. Yang memang intinya, dia sedang membicarakan kekasihnya a.k.a Sasuke. Tapi ucapan yang diucapkan oleh Mei, terdengar aneh.

"Ayolah, Mei. Aku tidak mungkin serakah terhadap sahabat-ku sendiri. Kita sudah sepa-"

"Kyaah!"

Perkataan Tsunade terpotong ketika suara jeritan dari gedung berlantai di depannya. Menoleh ke arah Mei, dia mengangguk dan mulai menghilang.

Siing!

-Kembali ke Issei, Asia, dan Freed-

"Asia!" Seru Issei melihat aksi Freed merobek pakaian Asia secara kasar.

"Lihat baik-baik, Iblis-chan. Aku akan menikmati tubuh gadis ini, di depan matamu." Ujar Freed sebari menjilat pipi kanan Asia.

"Brengsek! Lepa-"

Bang!

"Gohagh!"

Freed menembak Issei menggunakan pistol untuk kedua kalinya. Pistol yang berisikan amunisi berbahan suci itu, cukup membuat Issei tidak bisa bergerak. Karena hal berbau suci adalah kelemahannya, kelemahan bagi Iblis.

"Issei-san!" Teriak Asia mengkhawatirkan Issei.

"Aduh! Itu pasti sakit ya, Iblis-kun? Sudah pasti sakit! Tapi kau tidak apa-apa 'kan? Tentu saja apa! Maafkan aku ya," ucapnya ia buat menyesal, sedih, dan gila. Kemudian Freed meraba payudara kecil Asia. "Lihat? Payudara yang sehat dan indah bukan?"

"Engh... uh..." desah Asia ketika salah satu dada-nya disentuh.

"Apalagi tubuhnya, terlihat menggoda saja. Aku tahu, kau juga pasti menginginkannya, iya 'kan? Jika iya, AKU AKAN MEMPERKOSANYA TERLEBIH DAHULU! LALU, MEMBUNUHNYA BERSAMA DENGANMU! BUAHAHA!"

"BAJINGAN!" Issei mulai geram dengan apa yang dilakukan oleh Freed pada Asia. Berusaha berdiri, tapi usahanya sia-sia.

Bang! Bang! Bang!

Tiga tembakan kembali mengenai Issei. Asia bisa mendengar jelas suara perih dari mulut pemuda yang ia anggap teman itu.

"Uhuk-uhuk... gohagh!"

Tertawa puas akan aksi membuat Iblis di depannya ini menderita. "Setelah dada, lalu ke bibir untuk dicium..."

"Ungghh...!" Erang Asia mencoba melepaskan diri.

"Kau harus melayaniku, gadis lajang!" Kata Freed dengan menekan kedua pipi Asia.

"I-Iseei-san... to-tolong..." pintanya sambil air mata keluar dari kedua bola matanya.

Perlahan, pendeta itu mulai mendekatkan bibirnya ke bibir manis Asia. Issei yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat adegan itu di depan matanya.

"HENTIKAN! FREED!

Shiing!

Seakan sebuah doa yang menjawab teriakan Issei, tiba-tiba saja muncul wanita bersurai merah maroon di sebelah Freed.

"...?!"

Buagh!

Bruak!

"Guhagh!"

Pendeta tersebut terpental hingga menghantam tembok dinding akibat pukulan dari wanita bernama Mei.

"Tsuna." Kata Mei seperti memberikan kode.

Tap!

[Suigi: Mizurō!]

Sebuah bola air muncul dan membungkus Freed layaknya penjara.

Usai menangkap pendeta tersebut, Mei mendekat. "Kerja bagus, Tsuna." Ucap Mei pada rekannya, Tsunade.

"Kau tahu, pukulanmu itu berlebihan, Mei." Tsunade hanya bisa menghela nafas untuk apa yang telah Mei lakukan pada pendeta di dalam bola air miliknya.

"Siapa suruh kurang ajar seperti tadi. Memperkosa gadis yang tidak berdaya di depan seorang pemuda mesum." Ujarnya dengan tangan kanan menyentuh pinggul.

"SIAPA YANG KAU SEBUT MESUM, NENEK TUA!" Seru Issei tak terima disebut mesum. Walaupun itu benar.

Menoleh ke arah Issei dan menjawab. "Ouh! Mengelak dengan fakta yang ada? Sekarang aku tanya. Siapa yang dihajar habis-habisan oleh perkumpulan wanita Kendo di Akademi Kuoh akibat mengintip mereka sewaktu mengganti pakaian?" Terkejut akan jawaban Mei tentang aksinya tersebut.

"Dan siapa yang kau sebut 'nenek tua'? Hah?!" Lanjutnya menghampiri Issei. Wajah membunuh ala Mei disertai aura hitam dengan mata predator.

Takut, gemetar, dan binggung. Itulah apa yang dirasakan oleh pemuda bermarga Hyoudou. Sampai Mei sudah di hadapannya, Issei cuma menatap sosok di wanita merah maroon ini dengan berbagai rasa.

'Matilah aku!' Umpatnya takut.

Namun, Issei masih beruntung. Karena Tsunade telah berada di samping Mei dan menghentinkan tindakannya yang akan menghajar pemuda itu. Alasannya cuma satu, Issei sudah pasti tidak akan melihat hari matahari esok lagi.

"Sudahlah, Mei. Kita di sini bukan untuk menghajar bocah mesum ini." Ucapnya sebari menahan teknik penjara air miliknya.

'Bahkan temannya juga mengatakanku mesum. Tapi...,' melihat dari bawah sampai atas, Issei bisa menyimpulkan satu hal. 'Mereka punya tubuh dan payudara besar.' Tersenyum mesum melupakan luka tembakan di tubuhnya.

Buagh!

"Aku benci orang mesum." Tsunade menendang wajah Issei, serta memperlihatkan wajah sangar-nya melebihi Mei.

"Kau berkata benci mesum. Yang padahal berbanding terbalik jika bersama Sasuke-sama." Tsunade dibuat linglung akan pernyataan yang Mei katakan.

"Heh?! E-Eto... ano... itu..."

Menunjuk Tsunade lalu berkata. "Dengar ya, Tsuna! Kau jangan berharap banyak untuk memiliki Sasuke-sama seutuhnya." Berdebatan kecil, dimulai oleh Mei.

"Hey! Apa yang kau katakan Mei?"

"Jangan pura-pura!"

Boing!

Dada milik Mei berguncang naik turun. Issei, yang memperhatikan berdebatan mereka, senyum-senyum akibat goyangan dada milik Mei.

"Memangnya aku tidak tahu apa?"

"Tahu apa sih Mei?"

"Kau!" Tunjuk Mei. "Sudah bercinta dengan Sasuke-sama. Ya 'kan?!" Lanjut Mei sambil memajukan tubuhnya sampai dua buah dada mereka beradu.

Splash!

(Suara bola air pecah)

"Terus?" Memegang pinggul samping kiri dan kanan miliknya dengan kedua tangan. "Ouhh... jadi kau belum pernah mencobanya ya, Mei? Tubuh Sasuke-sama... sangat hangat waktu itu. Dia juga tergila-gila dengan... payudara-ku ini." Sambung Tsunade yang posisi tangannya berpindah ke dada. Tak lupa senyum menggoda ia tunjukan kepada Mei.

"Ternyata kau!" Emosi Mei hampir meledak jika Issei tidak menghentikan berdebatan mereka berdua itu.

"Maaf. Sebenarnya, aku ingin melihat kalian berdebat seperti itu lebih lama lagi." 'Karena payudara kalian, hehe.'

"Tapi... pendeta yang kalian berdua tangkap, kabur." Lanjutnya sebari menunjuk genangan air di samping Tsunade.

Akhirnya, Mei dan Tsunade menoleh ke arah tunjukan Issei. Lalu saling tatap kembali dan mengangguk.

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI! ERO-GAKI!" Teriak mereka di kedua telinga pemuda berseragam Akademi Kuoh itu.

'Su-Suara mereka seperti macan saja.' Pikir Issei dengan kedua bola mata berbentuk pusaran yang berputar-putar.

"I... Isse... -san..." suara gadis yang sedari tadi mereka bertiga abaikan, memanggil nama Issei.

"Aku lupa! ASIA-, ugh!" Akibat luka tembakan oleh Freed, ia jadi tidak bisa menghampiri Asia yang kedua tangannya masih terikat.

Merasa tidak tega, Mei membantu Issei berdiri, dan Tsunade, berjalan ke arah Asia lalu melepaskan ikatan pada tangannya.

"Terima kasih." Ucap Issei berterima kasih pada Mei.

"Lupakan rasa terima kasih mu itu, Ero-gaki. Yang terpenting sekarang adalah menyembuhkan lukamu dan pacarmu itu." Balas Mei.

Tanpa sengaja, tangan kiri Issei menyentuh dada kiri Mei kemudian meremasnya sebentar.

Squeeze!

'Be-Besar, kenyal dan-'

Duagh!

Membenturkan kepalanya ke kepala Issei dan berucap. "Jangan pernah menyentuh 'mereka'! Hanya satu orang yang boleh melakukan itu. Mengerti?!" Cuma mengangguk paham karena takut akan amukan Mei.

'Sial! Padahal dada-nya tadi benar-benar mengangumkan.' Pikir Issei terkagum-kagum dengan 'aset' milik Mei.

Selesai melepas ikatan Asia, Tsunade menggendongnya lalu berkata. "Kita bawa mereka ke Cafe."

.

[Bagian 6: Segel Tubuh, dan Dua Ciuman Wanita!]

.

Dua pemuda bersurai pirang dan raven, yaitu Naruto dan Sasuke. Ditatap oleh dua wanita cantik yang salah satunya memiliki warna rambut oranye dan merah. Kurama, serta Sāra.

Mereka semua duduk disalah satu cafe milik Naruto yang sudah sepi.

'Hanya perasaanku saja, atau mereka seperti anak kecil ya?' Pikir Sāra heran.

Naruto dan Sasuke, saat ini sedang melakukan kegiatan permainan yang jarang dimainkan oleh orang seusia mereka.

"Kita coba sekali kali. Aku tidak terima jika kalah oleh orang sepertimu, Naruto!" Sasuke terus menantang Naruto sampai ia benar-benar menang dari pemuda pirang itu.

Orang yang ditantang cuma mengangguk malas. "1... 2... 3..." dan usai hitungan ketiga, mereka berdua berseru bersamaan.

"BATU GUNTING KERTAS!"

Hasilnya adalah Sasuke kertas, dan Naruto ginting. Sudah jelas pemenangnya ialah Naruto, karena kertas kalah dengan gunting. Dan sudah ke-5 kalinya, Sasuke kalah dalam permainan itu.

"Aghh! Sialan! Kenapa aku selalu kalah darimu, Naruto!" Seru Sasuke frustasi.

Sebenarnya, awal Naruto ditantang oleh Sasuke ia malas. Tapi berhubung, wanita yang ada di sebelahnya mau membantu. Naruto pun setuju.

Melalui kekuatan pembaca pikiran atau telepati, yang hanya bisa dilakukan oleh sesama keturunan Ootsutsuki saja. [Ootsutsuki no Xinyomi]

Yang menang tersenyum puas, dan yang kalah frustasi serta heran. Tapi, senyum sang pemenang hilang, ketika wanita jelmaan rubah itu berbicara dengan Naruto melalui telepati.

'Karena Kurama telah membantu Anda menang. Goshujin-sama harus memberikan sebuah ciuman di bibir untuk Kurama.'

Ekspresi wajah Naruto menjadi terkejut, seakan berkata, 'mencium-mu?'. Kurama pun hanya menganguk cepat kemudian memajukan wajahnya ke arah Naruto.

Melihat sang rubah wanita, seperti ingin mencium Naruto. Sāra lalu mencoba menghentikan aksi Kurama, akan tetapi...

Siing!

Muncul seorang gadis, satu pemuda, dan dua wanita dari atap cafe itu. Tsunade, Mei, Issei dan Asia. Sayang, Mei yang sedang memampah Issei, salah satu 'aset' berharganya disentuh oleh tangan pemuda mesum itu. Hingga ia melempar Issei ke sembarang arah.

"Brengsek! Matilah kau, Ero-gaki!"

Bwushh!

"Uwahh...!" Teriak Issei ketika dilempar.

Tapi siapa sangka, jika arah lemparan Mei mengarah ke bawah Naruto, Kurama, dan Sāra.

Gedebruak!

Meja cafe Naruto, hancur akibat Issei yang telah menghantamnya. Tapi beruntungnya Issei, ia tidak apa-apa setelah jatuh dilempar oleh Mei. Tetapi tidak untuk Naruto dan Sāra.

Mereka berdua jatuh dengan posisi saling tindih. Semua orang yang ada di situ, tidak percaya akan apa yang mereka lihat sekarang. Khususnya Kurama.

Kenapa? Karena kedua bibir NaruSāra, menempel satu sama lain. Yang padahal, Kurama-lah yang menginginkan ciuman Naruto. Tapi kenapa Sāra, pegawai Cafe Namikaze yang mendapatkannya.

"Pemandangan yang bagus."

"Mereka serasi."

"Tidak menarik."

Ketiga tanggapan itu, berasal dari MeiTsunaSasu. Dan untuk Kurama dan Issei...

"GOSHUJIN-SAMA!"

"NARUTO SIALAN!"

Hanya mereka berdua-lah yang memiliki tanggapan paling berbeda dari MeiTsunaSasu sebelumnya.

Sementara NaruSāra, tidak ada satupun dari mereka yang bergerak. Seperti menikmati ciuman tersebut.

'A-Aku... mencium... Na-Naruto-kun?!' Umpat Sāra tidak percaya.

Untuk Naruto, ia terlihat tenang. Seakan terbiasa dengan ciuman tersebut. Tidak mau berlama-lama dengan hal itu, Naruto menjauhkan Sāra dari wajahnya.

"Ma-Maaf, Naruto-kun... a-aku..." cara bicara Sāra menjadi terbata setelah terlepas dari bibir Naruto.

"Tidak kusangka, berciuman denganmu, rasanya manis juga... Sāra." Ucap Naruto sebari menyentuh bibir bawahnya.

Kaget mendengar ucapan Naruto mengenai bibirnya. 'Tapi... terasa aneh. Kenapa Naruto-kun tidak terkejut dengan ciuman tadi? Atau jangan-jangan...' rasa penasaran Sāra muncul.

Hal itu perlu dipertanyakan untuk seorang Namikaze Naruto. Jika Sāra, ia memanglah terkejut dengan kejadian tadi. Terlebih lagi, itu adalah ciuman pertamanya. Dan sekarang, ciuman tersebut telah diambil oleh pemuda pirang di depannya ini.

Tapi ia masih bersyukur. Karena orang yang mengambil ciuman itu ialah Naruto. Orang yang ia sayangi.

Bruak!

Tiba-tiba saja, seorang memukul pipi kanan Naruto.

"SIALAN KAU NARUTO! BERCIUMAN DENGAN WANITA CANTIK DI DEPANKU! KAU 'KAN SUDAH BERJANJI UNTUK TIDAK MENCIUM MEREKA SEBELUM AKU MENDAPATKAN PACAR! BRENGSEK!" Ternyata, orang tersebut ialah Issei.

Saat hendak memukul wajah Naruto lagi, aksinya terhenti ketika menyaksikan kembali adegan seperti sebelumnya.

"Hah~" Sasuke hanya bisa menghembuskan nafas melihat hal tersebut.

"Ada apa, Sasuke-sama? Anda juga ingin seperti Naruto-sama." Tanya Mei sambil menggoda.

"Bukan, bukan itu. Hanya saja...

(Flashback)

Naruto, Kurama, dan Sasuke. Saat ini mereka bertiga sedang berjalan menuju Cafe Namikaze yang sekarang ini dipegang oleh Naruto.

Sasuke berjalan sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Seperti dipukul sesuatu yang keras.

'Sialan! Perutku sakit sekali. Ini pasti ulah si brengsek itu.' Umpatnya menebak Naruto-lah yang membuat perutnya seperti itu.

Untuk Kurama, dia berjalan sebari merangkul lengan kanan Naruto. Tapi pandangannya, menatap Sasuke dengan kesal.

'Sasuke-sama no Baka! Kurama akan membuat perhitungan dengan Anda nanti.' Sepertinya, Kurama masih kesal dengan kejadian di rumah kosong tadi. Melihat Goshujin-sama-nya dicium oleh Sasuke.

Beda lagi dengan Naruto. Ia tidak terlihat memikirkan kejadian apa-apa. Hanya memikirkan perkataan kakek tua dalam mimpinya saja.

"Hei! Naruto, kau pasti melakukan sesuatu dengan perut ini, ya 'kan?!" Tanya Sasuke menatap tajam Naruto.

Tanpa menoleh ke arah Sasuke, ia menjawab. "Siapa suruh menyebutku 'Duren Busuk'." Suara Naruto terdengar cetus di telinga Sasuke.

'Brengsek! Jika rubah ini tidak ada, sudah pasti kau menjadi debu dengan sihir [Kama] ku.'

Mengetahui apa yang dipikirkan oleh Sasuke, Kurama mengancamnya dengan mengatakan, 'Anda-lah yang akan Kurama jadikan debu dengan mode [Jinenhu], Sasuke-sama no Baka!' Acamnya melalui telepati.

"Hei Naruto! Bisakah kau menunggu dulu di sini sebentar? Aku ingin bicara dengan Kurama." Ujar Sasuke lalu berjalan ke belakang.

"Sepertinya penting. Kau hampiri saja dia dulu, Kurama." Naruto bisa mengerti tatapan serius Sasuke saat berkata tadi.

"Tapi..."

"Sudahlah, sana." Akhirnya, Kurama melepaskan rangkulannya lalu menghampiri Sasuke.

.

Sekarang ini, Sasuke dan Kurama, berada 500 meter dari posisi Naruto. Tak lupa dengan penghalang kedam suara yang dibuat oleh Sasuke.

Hening...

... hening, dan

Hening

Itulah yang terjadi diantara Kurama dan Sasuke. Namun, keheningan tersebut hilang saat Sasuke memanggil Kurama.

"Hey, Kurama!"

"Apa?!" Balas Kurama ketus.

Sasuke mengerti jika Kurama seperti ini karena peristiwa memalukan tadi. "Lupakan soal kejadian tadi, oke?"

Meletakkan kedua lengannya ke dada, lalu berkata."Tidak akan! Kurama tid-"

"Akan kubantu kau agar bisa melakukan 'itu' dengan Naruto." Potong Sasuke dengan penawaran yang menggiurkan. (Bagi Kurama)

"Be-Benarkah?!"

"Iya. Jadi jawablah pertanyaanku ini." Hanya dengan penawarannya itu, Sasuke berhasil membodohi rubah ini supaya bisa berbicara nyaman dengan Kurama.

"Kenapa kau tidak membuka segel milik Naruto?"

"..."

Sebuah pertanyaan yang membuat Kurama diam tak menjawab.

Melihat Kurama diam, Sasuke menjelaskan. "Kau juga tahu 'kan, jika 'mereka' sudah mulai bergerak. Cepat atau lambat, 'mereka' akan memukan Naruto dan-"

Sebelum Sasuke selesai menjelaskan, Kurama berseru. "Kurama tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"

"Walaupun kau memiliki mode [Jinenhu], kau tetap tidak bisa mengalahlan 'mereka', Kurama. Kau juga tahu itu 'kan." Ujar Sasuke.

"Kurama... Kurama hanya tidak ingin jika Goshujin-sama mati seperti Minato-sama dan Kushina-sama karena kekuatannya." Nada suara Kurama terdengar pelan dan sedih.

"Aku tahu, apa yang akan kau rasakan jika kehilangan Naruto. Sama sepertiku, kehilangan Itachi-nii karena ulah 'mereka'. " Ucapnya sambil mengepalkan tangan kananya menahan emosi.

Kurama bisa merasakan kemarahan dari perkataan Sasuke. "Sasuke-sama..."

"Setelah kematiannya, aku terus menerus menyalahkan diriku yang lemah ini." Emosi Sasuke lama-kelamaan memuncak akibat terbawa suasana.

Namun, emosi Sasuke tiba-tiba reda karena mengingat ucapan mediang kakaknya.

-Emosi... hanya akan memperburuk jiwamu-

Tersenyum senang jika ia mengingat perkataan tersebut. Memejamkan matanya dan mengingat lagi apa yang Itachi selalu beritahukan kepadanya.

-Sasuke, kau harus tahu jika aku menjadi Iblis karena dirimu. Mendapatkan kekuatan ini, untuk melindungi orang yang berharga bagiku, yaitu kau-

-Cinta... adalah kekuatan yang tidak tertandingi oleh apapun. Karena Cinta... mereka mau berkorban untuk melindungi orang yang berharga. Jadi, janganlah takut mati untuk mereka yang kau anggap berharga-

Menatap langit malam, Sasuke menampilkan sebuah senyuman akan semua yang telah ia pelajari dari Itachi.

Menatap Kurama kembali, lalu berucap. "Apa kau sudah tahu penyebab Jiraya-ji-san tewas?" Tanyanya dan cuma dibalas gelengan oleh Kurama.

"Itu karena 'mereka' mengetahui jika Oji-san adalah mata-mata dalam kelompok 'mereka'. " muncul wajah kaget karena keberanan tersebut.

"Ja-Jadi... yang dikatakan-"

"Ya, kau benar. Aku yang menyuruh Mei dan Tsunade untuk berbohong kepada Naruto dan kau, Kurama." Alasan Sasuke melakukan hal itu hanya untuk membuat Naruto ataupun Kurama tidak panik dan berkeinginan balas dendam.

-Dendam... hanya akan membawa mereka dalam kegelapan tiada dasar-

"Kurama!" Memegang kedua bahu Kurama dengan menatap bola mata wanita rubah itu. "Kau harus sesegera mungkin melepaskan segel pada tubuh Naruto. Sekarang ini, 'mereka' bukanlah lawan seperti dulu lagi. Walau dengan kekuatanku yang sekarang ini, mustahil untuk mengalahkan mereka seorang diri. Untuk itu, lepaskan segel kekuatan Naruto, dan kemudian latihlah dia. Dan pasti, dengan adanya Naruto, kita bisa mengalahkan 'mereka' semua." Melepaskan bahu Kurama, usai membujuknya.

"Jika saat segel milikku dilepaskan, aku memiliki mata kutukan atau [Sharingan], maka Naruto pasti memiliki mata dewa, [Rinnegan]." Sambung Sasuke sebari menyentuh kepala bagian kanan. Menunjukan mata merah darah miliknya.

"Tapi... bukankah seharusnya, kedua mata itu adalah satu?" Pikir Kurama heran.

Karena informasi yang ia dengar dari Sasuke, berbeda dengan Hagoromo(sebelum tiada). Dua mata yang disebutkan itu, seharusnya adalah satu, yaitu [Yogengan].

Tapi, jika [Yogengan] terbagi menjadi dua. Artinya...

"Sasuke-sama! Apa mata kiri-mu itu tidak bisa kembali ke bentuk semula?" Tanya Kurama untuk menyimpulkan tentang [Yogengan].

"Ya, kau benar," menjawab sambil menyingkirkan poni surai raven-nya yang menutupi mata kiri Sasuke. "Mata kiri-ku memang permanen. Warna ungu dengan bentuk pola riak air, serta 3 tomoe di sekitarnya. Mungkin butuh waktu setengah tahun untuk [Rinnegan] Naruto ber-revolusi menjadi [Yogengan]." Lanjut Sasuke menutup kembali mata kiri tersebut dengan poni rambut raven-nya

"Seperti dugaan Kurama." Gumamnya dengan pose berpikir.

"Ada yang salah?"

"Jika Sasuke-sama awalnya mendapat mata kutukan, dan [Yogengan] permanen di mata kiri. Itu berarti... Goshujin-sama memiliki [Rinnengan] dengan mata kanan yang... TIDAK!" Terkejut karena Kurama tiba-tiba saja berteriak.

"Goshujin-sama *hiks* akan menjadi *hiks* aneh *hiks*" tangis Kurama sebari membayangkan bagaimana mata kanan Naruto yang awalnya biru saphire indah, menjadi seperti itu.

Sasuke tidak menyangka jika alasan Kurama menangis hanya karena ke anehan di mata kanan Naruto. 'Rubah aneh.'

"Bukan kah itu bagus? Naruto jad-"

"Bagus bagaimana?! Kurama 'kan cinta semua yang Goshujin-sama punya! Jika mata kanan-nya jadi ungu begitu, Goshujin-sama tidak akan tampan lagi. Huwah...!"

Tersenyum masam, usai mendengar alasan tersebut. 'Hanya karena alasan itu?'

"Huwah...!" Walau Sasuke sudah menutup kedua telinganya, tangisan Kurama tetap terdengar kencang.

"Jika aneh, itu menguntungkanmu. Kau jadi bisa memiliki 'Pirang Busuk' itu seutuhnya. Tanpa ada wanita lain yang jatuh cinta kepadanya." Ucapan Sasuke berhasil menghentikan tangisan wanita rubah tersebut.

"Be-Benarkah?" Bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh Sasuke.

"Yeay! Kurama bisa memiliki Goshujin-sama sendirian!" Jika terus menerus melihat dan mendengar tingkah Kurama seperti saat ini, Sasuke mungkin bisa jadi gila.

"Ngomong-ngomong. Kapan kau akan melepaskan segelnya?" Tanya Sasuke mengembalikan topik pembicaraan.

"Hmm... mungkin, jika Kurama sudah 'siap'. " jawaban Kurama membuat Sasuke ragu.

"Kata 'siap' yang kau katakan. Seperti 100 tahun lagi baru kau siap, Kurama."

"Masa bodoh! Yang penting 'kan Kurama sud-, tunggu dulu! Sasuke-sama tadi berkata 'Pirang Busuk'. Siapa yang kau maksud itu?!" Didengar dari cara bicara Kurama yang tidak se-formal sebelumnya, Sasuke mendapat sebuah firasat buruk tentang itu.

"Eto..." perlahan-lahan, Sasuke melangkah mundur dengan tangan kanan merapal sebuah mantra.

Namun, aksinya disadari oleh Kurama saat hendak menyelesaikan mantra tersebut. "Hyaaa! TERIMA INI, TINJU AMARAH KURAMA!"

Buagh!

"Uagh...!"

(Flashback Off)

... lupakan saja." Mei dan Tsunade dibuat bingung oleh pemuda raven di samping mereka itu.

"Kurama?!" Kaget Naruto ketika wanita rubah ini, mencium bibirnya.

Melepas ciuman tersebut, wajah Kurama terlihat merona dengan mata oranye yang sayu. "Goshujin-sama..." gumamnya sambil membelai pipi tuannya.

Naruto yang kedua pipinya dibelai oleh Kurama, sedikit memerah. "Ku-Kurama-"

Plak!

Sebuah tamparan, mendarat di pipi Naruto. Dan pelakunya sudah jelas, yaitu Kurama.

"Kurama! Kena-"

Plak!

"Goshujin-sama yang kenapa!" Potongnya sebari menampar Naruto, lagi.

Plak!

"Apa maksudmu? Aku tida-"

Plak!

"Kenapa Goshujin-sama membiarkan wanita itu menciummu?!" Tunjuk Kurama kepada Sāra.

"Itu tadi 'kan, hanya sebuah kece-"

Plak!

"Jangan beralasan! Pokoknya... Goshujin-sama tidak boleh mencium wanita lain, selain Kurama!"

"Ada apa denga-"

Plak!

Nasib malang menimpa pemuda bersurai pirang ini untuk kesekian kalinya.

Sementara yang lain. Issei, Sāra, Sasuke, Mei, dan Tsunade, hanya bisa menyaksikan kegiatan Kurama menampar Naruto.

'Tidak kusangka. Ternyata Naruto itu bodoh soal wanita.' Gumam Issei yang niat awalnya ingin menghajar Naruto, kini hilang.

Saking menariknya melihat aksi tampar menampar Naruto, semua orang melupakan gadis birawati yang dibawa Tsunade, Asia. "Iseei... san." Panggil gadis tersebut pada Issei.

Menoleh ke sumber suara, Issei dengan cepat menghampiri Asia yang ditidurkan di atas meja. "Asia! Kau tidak apa-apa 'kan? Sudah baikkan? Tubuhmu tidak apa-apa? Dada-mu tidak lecet ka-"

Pletak!

"Ittai!" Rintihnya ketika dijitak oleh seseorang.

"Kau menanyakan berbagai pertanyaan yang tidak berguna, gaki." Yang menjitak Issei ternyata ialah Mei.

"Lihat! Gara-gara pertanyaanmu tadi, gadis ini jadi seperti orang kebingungan!" Lanjut Mei menunjuk Asia yang wajah sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Isee... san, ano... aku... baik-baik... saja, kok..." balas Asia malu-malu.

"Apanya yang 'orang kebingungan'? Dia terlihat baik-baik saja, Nenek Tua!" Seru Issei pada wanita bersurai merah maroon di sampingnya itu.

Mendengar Issei mengatakan 'nenek tua' kepadanya. Mei menarik kerah seragam pemuda itu, lalu berkata. "Kau punya nyali juga ya, Ero-gaki."

Seperti tidak lagi takut dengan amarah Mei, Issei membalas. "Tentu saja! Karena aku punya ini!" Membalas sambil menaikkan tangan kirinya ke atas.

Flash!

Muncul cahaya merah dari tangan kiri Issei. Membuat semua orang yang ada di situ, menoleh ke arah sumber cahaya tersebut. Termasuk Naruto dan Kurama.

Dan saat cahaya merah itu lenyap, sebuah sarung tangan merah dengan bola kristal hijau, berada di lengan kanan Issei.

"I-Itu 'kan...," ucap Mei tidak percaya dengan sarung tangan tersebut.

"... sulit dipercaya...," dilanjutkan oleh Tsunade.

"... salah satu dari...," sambung Sāra.

"... 13 Longinus terkuat...," bahkan, Sasuke ikut dalam keterkejutan itu.

"... Sacred Gear Heavenly Dragon, Sekiryuutei Ddraig... [Boosted Gear]!" Ujar MeiTsunaSasuSāra bersamaan.

Namun, orang yang memiliki Sacred Gear itu, bingung. "Heh? Longinus terkuat? Heavenly Dragon? Sekiryuutei Ddraig? [Boosted Gear]? Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan."

Gubrak!

Empat orang yang awalnya terkejut, kini terjungkir balik akibat pertanyaan Issei.

"Hei Kurama. Apa kau mengerti?" Tanya Naruto pada Kurama yang sudah menghentikan aksi menamparnya.

Menggelengkan kepalanya, kemudian Naruto berkata, "dasar bodoh!"

Plak! Plak! Plak!...

Menampar Naruto(lagi) sebari berkata. "Kurama tidak bodoh! Goshujin-sama itu yang bodoh!" Terus menerus seperti itu.

Satu kata untuk Naruto. Malangnya.

-Kembali ke Issei-

"Pssst, Sasuke-sama. Kita apakan bocah ini?" Tanya Mei berbisik pada Sasuke.

"Hancurkan saja mukanya. Aku benci dengan wajah mesumnya itu." Bisik Tsunade sambil menatap tajam Issei.

'Me-Mengerikan!' Seru Issei dalam hati.

"Hmm...," memejamkan kedua matanya dengan pose berpikir. "Itu boleh juga. Tapi, aku lebih suka memotong motong tubuhnya menjadi beberapa bagian." Kata Sasuke menyeringai ke arah Issei.

"Tapi aku lebih suka meratakan wajahnya terlebih dahulu."

"Itu juga bisa."

"Tidak, tidak. Kita potong kakinya terlebih dahulu agar ia tidak bisa berjalan lagi."

"Penggal saja kepalanya, lalu taruh di tengah jalan raya supaya dilindas oleh truk."

'Mereka seperti orang bodoh dengan pembicaraan yang aneh dan tidak jelas.' Ucap Sāra dalam hati.

Mendengar hal yang menyangkut dirinya, Issei tidak habis pikir dengan 3 orang tersebut. 'Mereka ingin membunuhku atau rapat menghajarku sebenarnya.' Pikirnya heran.

"Isse-san... apa kau tidak apa-apa?" Tanya Asia mengkhawatirkan pemuda yang ia anggap teman.

Menengok ke arah Asia, Issei menyunggingkan sebuah senyuman, seakan berkata 'aku baik-baik saja'.

"Syukurlah. Tapi... mereka yang telah menolong kita tadi, siapa?" Mendengar pertanyaan Asia, Issei baru sadar jika dua wanita yang telah menolongnya dari pendeta gila tadi.

"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya," menoleh ke arah Naruto yang sedang ditampar oleh wanita bersurai oranye sedari tadi. "Mereka semua adalah teman Naruto." Sambung Issei.

"Ano... Isse-san. Terima kasih karena sudah menolongku tadi." Ucap Asia menampilkan rona merah dikedua pipi putihnya.

Mendengar ucapan terima kasih Asia, Issei menjadi salah tingkah. "I-Itu bukan apa-apa, hehe-, maksudku! Me-Merekalah yang menyelamatkanmu. A-Aku cuma-"

Ucapannya terhenti ketika sebuah tangan menggengam tangan kirinya. "Asia..." gumam Issei saat gadis birawati di depannya ini menampilkan sebuah senyuman.

"Walaupun bukan Issei-san. Asia tetap senang, karena Issei-san sudah berusaha untuk menolongku." Ucapnya yang masih menggenggap tangan Issei.

Membalas genggaman tangan Asia, kemudian Issei berkata. "Lain kali... akulah yang akan menyelamatkan dan melindungimu dengan kekuatanku sendiri, Asia. Janjiku seumur hidup."

"Issei-san...," ia tidak bisa berkata apa lagi dengan Issei katakan kepadanya. "Terima kasih." Tangis Asia pun keluar sambil memeluk tubuh pemuda bersurai coklat di depannya ini.

'Aku akan bertambah kuat untuk melindungimu dari apapun, Asia.' Gumam Issei dalam hati dan membalas pelukan tersebut.

"Ehem! Sudah selesai dengan drama romantis-nya, Ero-gaki?" Suara dari Mei, menghentikan kegiatan Issei dan Asia yang sedang berpelukan. Merekapun akhirnya melepas pelukan tersebut, karena malu dilihat oleh MeiTsunaSasuSāra.

Untuk Naruto dan Kurama? Jangan ditanya lagi. Mereka berdua masih nyaman dengan ke'mesra'an layaknya sepasang kekasih. Menampar wajah.

"Baiklah. Namamu Issei bukan?" Tanya Sasuke memulai pembicaraan.

Mengangguk sebagai jawaban 'iya'. "Sebenarnya... ada yang ingin kutanyakan pada kalian semua." Ucapnya sejak berada di cafe Namikaze, Issei ingin bertanya.

"Siapa kalian sebenarnya?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut seorang murid Akademi Kuoh tingkat dua tersebut.

"Hmm... jika kujawab saudara dan orang dekat dari Naruto. Apakah kau percaya?"

'Jika mereka(SasuSāra) sudah ada di sini bersama Naruto, dan dua wanita yang tadi(MeiTsuna) membawaku serta Asia kemari. Itu berarti, apa yang dikatakannya benar.' Pikir Issei dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban 'ya'.

"Tapi... kenapa kau dan tiga wanita itu, mengetahui tentang Sacred Gear milikku ini?" Bertanya sambil menunjukan lengan kirinya.

"Mungkin ini akan menjadi pembicaraan yang panjang," gumam Sasuke memejamkan matanya untuk sesaat. "Tapi... baiklah." Membuka matanya dan mulai menjelaskan.

"Sarung tangan merah di lengan kirimu itu, bukanlah Sacred Gear biasa. Sacred Gear-mu itu adalah [Boosted Gear], salah satu dari 13 Longinus yang berisi satu dari dua jiwa Heavenly Dragon, Sekiryuutei... Ddraig. Yang memiliki kekuatan untuk membunuh Tuhan di dunia ini. Kemampuan Sacred Gear itu dapat melipatgandakan kekuataan setiap 10 detik dan bisa memberikan kekuatannya yang dikalikan kepada apa yang kau kehendaki." Jelas Sasuke mengenai Sacred Gear di lengan Issei.

Untuk Issei sendiri, ia tidak percaya jika benda merah di lengan kirinya sehebat itu. 'Aku baru tahu jika benda ini bisa sehebat apa yang dia(Sasuke) katakan.' Pikirnya sebari melihat Sacred Gear tersebut.

"Dan orang yang di sebelahmu itu..." Ucapan Sasuke terhenti karena mengingat sebuah informasi yang ia dapat sebelum tiba di Kuoh.

-Argento Asia. Gadis pirang yang diincar oleh Datenshi karena memiliki Sacred Gear [Twilight Healing]. Dia juga seorang birawati dari Vatikan. Tapi, akibat sebuah peristiwa yang ia tidak sengaja lakukan, gadis itu diusir dari sana-

"... kami akan membawanya. Setidaknya sampai urusan-" belum selesai berkata, Issei sudah memotong perkataan Sasuke.

"Tidak akan! Aku sudah berjanji akan menjaga dan melindungi Asia dengan tanganku sendiri!" Potong Issei dengan membawa Asia ke belakang tubuhnya.

"Issei-san..." gumam Asia dengan apa yang dilakukan Issei.

Menghela nafas, sebelum Sasuke berucap kembali. "Dengar! Kau tidak tahu bahaya apa yang mengancam gadis birawati itu." Ucapnya menjelaskan situasi yang sedang dilanda oleh Asia.

Issei dibuat bingung dengan ucapan Sasuke. "Apa maksudmu?"

"Dia... saat ini sedang diincar karena memiliki benda seperti yang ada di tubuhnmu itu. Sebuah Sacred Gear yang dapat menyembuhkan luka pada siapapun. [Twilight Healing]" Mendengar Sasuke berkata seperti itu, Issei kembali mengingat-ingat pertama kali ia bertemu dengan Asia. 'Benar juga, waktu itu Asia menyembuhkan luka pada bocah di taman kemarin.'

"Kau tenang saja Ero-gaki. Sepulang dari Akademi, kau bisa kemari menengok pacarmu itu bersama Naruto-sama." Ujar Mei membujuk Issei untuk menyerahkan Asia pada mereka.

Menoleh ke arah Asia dengan memasang wajah yang seakan berkata, 'apa tidak apa-apa'.

Menjawab dengan anggukan dan senyum senang. "Selama bisa melihat Issei-san. Asia tidak masalah." Katanya membuat pemuda bersurai coklat itu membalas senyuman Asia.

"Karena masalah ini sudah selesai. Maka-" ucapan Sasuke kembali dipotong, namun bukan oleh Issei atau lainnya. Melainkan...

"Goshujin-sama itu yang bodoh!" Dan ternyata, ke'mesra'an diantara Naruto dan Kurama, belum selesai.

"Naruto-sama... Naruto-sama. Aku jadi kasian dengan Anda." Gumam Mei yang tidak tega melihat bos-nya seperti itu.

"Kau benar, Mei." Tsunade ikut berkata.

"..." entah apa yang dipikirkan Sasuke. Tapi yang jelas, ia tidak mau ikut campur dengan masalah Naruto. Karena Kurama akan membeberkan peristiwa 'memalukan' tadi jika ia menghentikan aksi rubah itu.

'Naruto-kun...' Sāra pun juga ikut mengkhawatirkan keadaan Naruto. Itu akibat kejadian yang tidak ia sengaja dan sampai membuat pemuda jabrik itu bernasib malang sekarang ini.

"Lama kelamaan, aku kasian juga melihatnya ditampar seperti itu terus menerus." Issei yang awalnya ingin menghajar Naruto. Menjadi kasian melihat teman sekelasnya ditampar oleh seorang wanita.

"Kasian sekali pemuda itu(Naruto)." Bahkan, Asia sama halnya dengan semua orang, kecuali Sasuke.

Sementara dengan Naruto sendiri, ia terlihat pasrah dengan keadaannya sekarang. Yang pada dasarnya, Naruto memang tidak mau meladeni namanya 'wanita'. Seperti kata Jiraya pamannya, -jangan pernah melawan seorang Wanita jika mereka sedang dalam keadaan marah ataupun kesal-. Entah apa maksud dari perkataannya itu. Naruto tidak mengerti dan mungkin, tidak akan pernah mengerti tentang mereka(wanita).

.

.

.

TBC


Maaf ya, jika chapter ini sedikit mengecewakan. Padahal saya sudah janji untuk membuat adegan pertarungan. Tapi yah... ide keluar begitu saja. Dan jadilah seperti di atas.

Keterangan:

-Jinenhu (金炎狐)

Rubah Api Emas adalah mode Senjutsu milik Kurama yang sempat ia gunakan sewaktu melawan Koneko. (Di chapter sebelumnya dan belum saya perbaiki)

[Note: Huruf Kanji di atas, ada beberapa yang saya ambil dari Kanji lain. Contoh 狐(Rubah) harusnya dibaca 'Kitsune' dalam Kanji Jepang. Tapi saya gunakan pengucapan dalam Kanji China agar terbaca singkat/sederhana, maka dibaca 'Hu'. Kanji tersebut memang sama, hanya pengucapannya saja yang berbeda.]

-Suigi: Mizurō (水義: 水牢)

Teknik Air: Penjara Air, teknik dimana sang pengguna menggunakannya untuk mengurung lawan dalam sebuah penjara air berbentuk bola. Dan pengguna harus menempelkan telapak tangannya pada bola air milik itu, agar lawan tetap dalam bola tersebut.

-Raiken (雷剣)

Pedang Halilintar, pedang yang terbuat dari elemen petir.

-Gengi: Shigetsu (幻義: 死月)

Teknik Ilusi: Bulan Kematian, teknik dimana pengguna menyerang lawan dalam dunia ilusi selama 3 hari 3 malam= 3 detik di dunia nyata.

-Ootsutsuki no Xinyomi (心読み)

Kemampuan telepati yang hanya bisa dilakukan oleh sesama keturunan Ootsustsuki.

[Note: Kanji 心, dalam Kanji Jepang dibaca Kokoro. Tapi saya gunakan pengucapan Kanji China agar terlihat singkat. Maka dibaca Xin.]

-Kama (炎魔)

Api Iblis. Salah satu sihir api yang Sasuke pelajari dari mendiang kakaknya, Itachi. Api berwarna biru yang Itachi kuasai setelah menjadi Iblis keluarga Phenex. Dan sihir yang digunakan Sasuke untuk membunuh Iblis. Honō no Metsuaku Madoshi (炎の滅悪魔導士) Sihir Pembunuh Iblis Api

Bagaimana menurut kalian mengenai Chapter kali ini? Bagus? Jelek? Seru? Membosankan? Hanya kalian yang bisa menilainya, haha.

Di chapter sebelumnya, ada yang me-review tentang masalah Naruto menjadi Akuma dan Pair. Itu yang paling banyak dikatakan oleh sebagian dari kalian.

Hmm... untuk masalah Pair, sepertinya sudah banyak yang menebak benar. Tapi masih kurang tepat.

Yang kedua. Yah... saya tidak habis pikir dengan anggapan kalian jika Naruto nanti menjadi Akuma. Sayangnya, saya masih belum bisa memberitahukan hal itu kepada kalian(sebagian).

Jika berkenan, berilah kritik, saran, pendapat, dan apapun itu(menyangkut Fic ini), dalam kotak review yang telah disediakan.

Oh, iya! Chapter depan, mungkin agak lama. Mengingat kelanjutan dari Chapter di atas, adalah pelatihan Naruto, pertarungan antara MeiTsunaSasuSāra dengan salah satu dari 'Mereka', dan kebernaran kematian seseorang.


Bocoran Chapter depan...

"Goshujin-sama harus bisa memusatkan energi dalam tubuh Anda ke mata."/"Tidak kusangka, kau berani juga muncul di sini..."/"TrioDatenshi! Jululan kalian memang bukan omong kosong belaka!"/"'Jiwa dan Kekuatan Kedua'? Di dalam..."/"Dia adalah murid dari 'Generasi Pertama',..."/"Jadi... akulah yang telah membunuh mereka berdua?"/"Aku menginginkan mata kirimu itu... Ootsutsuki Sasuke!"

Siapakah orang yang muncul itu? TrioDatenshi? 'Generasi Pertama'? 'Jiwa dan Kekuatan Kedua'?

Siapa yang membunuh siapa? Dan kenapa, ada orang yang menginginkan mata kiri Sasuke?

Simak kelanjutannya... di Chapter depan.

Hanya itu saja yang bisa saya beritahukan. Akhir kata, undur diri. Bye...!