OUR

(What If..)

Kyuhyun mendengus. Lagi-lagi Kibum mengabaikannya jika sudah ada si Lee Donghae. Pemuda pucat itu melambatkan jalannya, membiarkan Kibum dan Donghae berjalan lebih dulu masuk kedalam area sekolah. Tadi, ketika dia dan Kibum turun dari bus –kebetulan hari ini mereka naik bus, si Lee Donghae juga turun bersama mereka, dan berakhirlah dia yang tak mengerti apa yang sedang dibicarakan dua pemuda itu. Jadi daripada ia menjadi obat nyamuk dan sejenisnya, ia memilih menjauhi mereka saja.

"Kyuhyun-ah!"

"Hei Minho!" Kyuhyun melambai pada pemuda tinggi yang berlari kearahnya. Minho, Choi Minho, salah satu rekannya diklub basket. Mereka berteman sejak kelas 1 meski tak pernah satu kelas. Minho selalu sekelas dengan Jonghyun –salah satu rekan klubnya juga, dan dirinya selalu sekelas dengan Changmin.

"Kau terlambat?"

Minho itu selalu datang 30 menit sebelum bel berbunyi, berbeda dengan Kyuhyun yang datang 5 menit sebelum bel berbunyi. Pemuda tampan itu sering menghabiska 30 menitnya itu untuk berkencan dengan 'kekasihnya'. Well, Kyuhyun sedikit ngeri dengan kata 'kekasih' dalam kamus hidup sahabat-sahabatnya –Changmin, Minho dan Jonghyun.

'kekasih' dalam kamus hidup Changmin –sampai saat ini, adalah kulkas dan makanan. Sungguh, saat pertama kali mengenal Changmin, Kyuhyun bahkan sampai tak nafsu makan melihat begitu banyak makanan yang ada dimejanya dan Changmin. Dan dia benar-benar meneguk salivanya kasar ketika Changmin menghabiskan semuanya bahkan sebelum jam istirahat berakhir.

Lain lagi dengan Minho. 'kekasih' dalam kamus hidup Minho –sampai saat ini, adalah olahraga. Ya. Semua jenis olahraga. Tapi Minho, sahabatnya itu benar-benar cinta mati dengan segala macam olahraga. Well, Ayah Minho memang seorang pelatih sepak bola. Pernah suatu kali Kyuhyun menerima ajakan Minho untuk berangkat 30 menit sebelum bel berbunyi, dan dia bersumpah tidak akan melakukannya lagi setelah seperti hampir mati kebosanan karena Minho asyik sendiri dengan segala macam olahraga mulai dari pemanasan, push-up, sit-up sampai bermain basket dan diakhiri dengan bermain sepak bola. Dan dia melakukannya sendiri. Kyuhyun sih dipaksa menemani, tapi dengan dalih mengerjakan PR, Kyuhyun berhasil menghindar. Dan sejak hari itu, dia benar-benar bersumpah tak akan menerima ajakan Minho berangkat pagi lagi.

Dan Jonghyun, 'kekasih' dalam kamus hidup Jonghyun –sampai saat ini, adalah benar-benar kekasih. Jonghyun adalah pria yang mudah sekali mendapat teman kencan. Well, pemuda itu memang tampan dengan segala kharisma yang dia pelajari dari Minho. Jonghyun juga ramah dan mudah bergaul, jadi mendapatkan teman kencan bukanlah hal sulit. Tapi yang kadang membuat Kyuhyun menautkan alisnya adalah pemuda itu bisa dengan mudah berganti teman kencan, dan bisa berteman baik dengan mantan teman kencannya. Bukankah Jonghyun-lah yang paling waras dengan kamus 'kekasih'nya?

Dan menurut Kyuhyun 'kekasih' dalam kamusnya masih cukup waras. PSP –setidaknya daripada 'kekasih' dalam kamus Minho dan Changmin.

"Hei—melamun?"

"Kenapa terlambat?" Kyuhyun melangkah mengikuti langkah Minho, mengulang kembali pertanyaan yang mungkin sudah dijawab Minho tapi ia tak mendengarnya karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

"Aku terlalu senang atas kemenangan kita kemarin, jadi aku bercerita sepanjang malam pada Ayah dan hyung-ku. Dan berakhir bangun kesiangan pagi ini" katanya kemudian meringis. "Eh—kemana saudara kembarmu?" Minho celingukan, tak mendapati 'satpam' Kyuhyun disamping pemuda pucat itu. Biasanya, keduanya selalu berangkat bersama kan? Dan kemudian Kibum akan menatapnya dingin karena akrab dengan Kyuhyun.

"Tadi kami bersama, tapi kemudian dia bertemu ikan nemo, dan berakhir dia mengabaikanku" Kyuhyun mengangkat bahunya.

"Siapa? Ikan—nemo?" alis Minho bertaut.

"Lee Donghae" Dan tawa Minho langsung terdengar.

"Jangan bicarakan dia lagi" katanya kemudian merangkul Minho berbelok kearah lorong menuju kelasnya dan kelas Minho yang kebetulan bersebelahan.

.

.

"Um—Bum"

"Apa?"

"Tidakkah kau—melupakan sesuatu?"

Alis Kibum bertaut, "Apa?" tanyanya.

"Kyuhyun?"

Tap

Kibum menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada Donghae yang tengah meringis padanya. Sejak tadi sebenarnya Donghae sudah berniat memberitahu Kibum, tapi Kibum tampak asyik dengan buku yang baru saja dia pinjamkan –bahkan mengabaikan panggilannya.

.

.

"Kyuhyun-sshi daebak!"

Kyuhyun tersenyum saja sebagai ucapan terimakasih pada teman-teman sekelasnya yang hari ini berjajar didepan pintu kemudian memberinya pujian. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya berkeliaran mencari sosok sahabatnya. Tapi nihil, ia tak menemukannya. Ia jadi sedikit menyesal membiarkan Minho masuk kelasnya lebih dulu tadi.

"Kau benar-benar hebat, Kyuhyun-sshi. Aku tak tahu kau bisa bermain sangat baik"

"Benar. Kenapa kau baru bergabung dikelas 2?"

"Itu—"

"Waah ada apa ini?"

Kyuhyun diam-diam tersenyum begitu mendengar suara Changmin. Ia membalikan badan, menemukan sosok Changmin disana dengan wajah cool-nya, meski ketika pandangan mereka bertemu, Changmin langsung menunjukan cengiran khas-nya. Dan Kyuhyun langsung melengos, melangkah masuk kedalam kelas dengan senyum kaku. Ia juga bukan tipe yang ramah, bahkan ia jarang bermain dengan teman-teman sekelasnya kecuali Changmin. Tapi—sambutan yang mereka beri padanya, seperti—entahlah, sulit untuk menjelaskannya.

"Aku tak tahu kau sehebat itu, Kyu"

Changmin yang baru saja meletakan ranselnya dan mendudukan dirinya disamping Kyuhyun langsung menghadap pemuda pucat itu. Kyuhyun memutar bola matanya malas. "Tentu saja agar aku bisa masuk final"

"Bukan itu maksudku" Changmin mendengus, "Seperti pertanyaan mereka, jika kau sehebat ini—mengapa kau baru bergabung dikelas 2?"

"Juga—bukankah kau jarang ikut olahraga?"

"Aku hanya ingin saja" Kyuhyun menjawab acuh. Pemuda pucat itu mulai mengeluarkan buku pelajaran dari ranselnya.

"Aku bukan orang bodoh. Permainan sehebat itu—tentu tak didapat hanya dengan berlatih setahun dua tahun" pandangan Changmin menajam. "Kyu—"

"Berhentilah memikirkan hal tak penting" Kyuhyun melirik kasar. "Lebih baik kau belajar, Miss Ahn tak akan membiarkanmu duduk disampingku saat kuisnya hari ini"

Changmin mendelik. Astaga, mengapa ia sampai lupa kalau hari ini guru menyebalkan itu akan memberi mereka kuis? Dan sialnya lagi dia pasti tak akan dibiarkan duduk disamping Kyuhyun.

"Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi, Kyuhyun-ah" katanya kemudian sibuk mengambil buku dalam ranselnya dan mulai membuka secara acak.

Kyuhyun sendiri diam-diam meremas jemarinya.

.

.

"Kim Kibum-ssi, kau dipanggil Guru Hwang"

Kibum yang baru mendudukan dirinya didalam kelas saling pandang dengan kedua teman abnormalnya –Donghae dan Eunhyuk, kemudian beralih pada Ryeowook yang mencolek lengannya dengan tatapan bertanya. Kibum menggelengkan kepala, kemudian berjalan keluar kelas menuju ruang guru.

Tak butuh waktu lama untuk sampai didepan ruang guru, Kibum tinggal berjalan lurus kemudian menaiki tangga dan ruang guru berada setelah ruang OSIS yang berada dikanan ujung tangga. Pemuda itu tersenyum samar ketika bertemu beberapa pengurus OSIS yang menyapanya dengan ramah. Bagaimanapun dia pernah hampir menjadi bagian dari mereka kan?

Kibum berhenti tepat didepan ruang guru, mengetuk sekali kemudian setelah mendapat sahutan, pemuda itu segera masuk. Hal pertama yang dilihatnya diruang guru adalah—beberapa guru tampak tersenyum sumringah padanya.

.

.

Kyuhyun memutar bola matanya malas ketika Changmin yang berjalan beriringan dengannya kembali mengoceh betapa mengerikannya ulangan matematika yang baru saja mereka laksanakan dan betapa ia merasa kesal karena Miss Ahn tak membiarkannya duduk disamping Kyuhyun.

"Berhentilah mengoceh, Chwang!" Kyuhyun buka suara ketika mereka memasuki kantin. "Atau kau akan kehilangan waktu untuk berkencan dengan 'kekasihmu'" katanya kemudian berjalan menuju antrian, meninggalkan Changmin yang berteriak menyumpahinya. Well, Kyuhyun tak terlalu peduli, bukankah Changmin sudah terlalu terkenal dengan sikap anehnya itu? Dan lihat saja, sebentar lagi pemuda itu akan memasang wajah cool-nya. Berani bertaruh?

"Oh sial, aku hanya mendapat ini untuk makan siang" Changmin kembali mengeluh ketika keduanya sudah memilih tempat duduk dengan senampan makan siang ditangan masing-masing.

Kyuhyun mendelik, "'Hanya' kau bilang?" tanyanya membuat Changmin bungkam. "Melihat menu dinampanmu saja sudah membuatku kenyang bodoh!" dan satu pukulan mendarat dikepala Changmin. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kyuhyun?

Kyuhyun menggelengkan kepalanya tak mengerti, atau—tak habis pikir? Entahlah. Meski sudah tahu 'kekasih' Changmin adalah makanan, tapi tetap saja, melihat begitu banyak makanan yang ada diatas nampan Changmin, rasa-rasanya perut Kyuhyun mendadak mual. Changmin benar-benar food monster!

"Aku butuh asupan gizi untuk mengganti energi yang kukeluarkan untuk mengerjakan soal-soal monster itu" Changmin membela diri, bergidik ketika mengingat rentetan angka-angka yang harus dikerjakannya dengan berbagai rumus yang sayangnya sering sekali ia lupakan.

Kyuhyun berdecak saja, enggan menyahuti alasan Changmin. Pemuda pucat itu mulai melahap makan siangnya dalam diam. Changmin juga melakukan hal yang sama, hingga—

"Kyuhyun-ah—soal penampilanmu saat pertandingan kemarin—" jeda, Kyuhyun menelan makan siangnya dengan sulit. Ia tahu kearah mana percakapan ini akan berlanjut. "—kau seperti pemain profesional. Itu permainan bagus, dan aku yakin kau tak mendapatkannya setahun dua tahun kan?"

"Jadi?"

"Jadi?" alis Changmin bertaut, "Aku mengenalmu sejak dulu, Kyuhyun-ah. Kau tak pernah bersentuhan dengan olahraga"

Changmin menghela nafas ketika Kyuhyun menghentikan makan siangnya dan menatapnya tajam. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah lalu kembali sibuk dengan makan siangnya meski sesekali melirik pada Kyuhyun yang kembali makan dalam diam.

"Kau mengenalku sejak middle school, Changmin-ah" Kyuhyun membuka percakapan kembali, mengingatkan Changmin tentang sesuatu. Pemuda itu meneguk air mineral, "Banyak yang tidak kau ketahui tentangku"

"Kau benar. Karena itu—beritahu aku semua tentangmu" Changmin balas menatap sepasang mata Kyuhyun. Dan Kyuhyun melihat kesungguhan disepasang manik milik Changmin, seolah memberi keyakinan akan ketulusan pria jangkung didepannya itu.

"Ada seseorang yang ingin kukalahkan, Changmin-ah"

"Eh?"

.

.

Kibum berlari menyusuri lorong sekolah untuk sampai didepan kelas Kyuhyun. Dan yang didapatinya adalah suasana kelas yang kosong, hanya menyisakan beberapa teman sekelas Kyuhyun yang entah sedang melakukan apa. Kibum yang sudah hendak kembali berlari terpaksa menghentikan langkahnya ketika salah satu teman sekelas Kyuhyun memanggilnya.

"Kyuhyun-sshi baru saja keluar kelas setelah cukup lama menunggumu, Kibum-sshi"

"Terimakasih infonya—" jeda, "Nam Jihyun-sshi" lanjutnya setelah melihat name tag teman sekelas Kyuhyun. Pemuda itu kemudian berbalik, berlari kembali, mengabaikan teriakan histeris teman sekelas Kyuhyun karena dirinya memanggil salah satu dari mereka dengan sedikit senyum mematikannya.

Cklek

Kibum tersenyum melihat Kyuhyun menatapnya sekilas untuk kemudian sibuk dengan PSP ditangannya. Pemuda itu memasang sabuk pengaman, "Pakai sabuk pengamanmu, Kyu"

Tak ada percakapan didalam perjalanan mereka. Kyuhyun tampak sibuk dengan PSP-nya sedangkan Kibum lebih memilih memandang keluar jendela dengan pikiran yang entah berada dimana. Ia bahkan tak sadar Kyuhyun sejak tadi memandanginya dengan tatapan aneh.

"Kibum"

".."

"Kibum"

".."

"KIBUM!"

"Apa yang kau lakukan, Kyu!" mata Kibum mendelik sedangkan tangannya sibuk mengusap kupingnya yang mendadak tuli karena teriakan tak berperikemanusiaan Kyuhyun.

"Kau kenapa?"

"Eh?"

"Kau melamun?" tanya Kyuhyun. "Aku memanggilmu sejak tadi dan kau mengabaikanku"

"Benarkah? Maaf"

"Kibum—kau kenapa?"

"Aku? Aku baik-baik saja"

Kyuhyun mendengus mendengar jawaban Kibum. "Bukan itu maksudku!" katanya sedikit frustasi. "Kau tak membaca. Itu maksudku" jelasnya. "Kau sudah kehabisan buku bacaan?"

Meski sedikit tak yakin, tapi Kyuhyun tetap menanyakannya. "Jika iya, aku akan membelikanmu nanti. Jangan melamun, kau menakutiku tahu" katanya kemudian menyibukan diri dengan ponselnya yang berdering, meninggalkan Kibum yang terenyuh mendengar janji Kyuhyun. Ia tahu adik kembarnya itu perhatian padanya, sama seperti dirinya yang perhatian pada Kyuhyun. Hey—mereka kembar kan?

"Apa-apaan sih Ibu?" bibir Kyuhyun mengerucut setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan Ibunya. "Kenapa Ibu selalu menanyakan dimana posisiku setiap kali aku terlambat pulang?" tanyanya sambil menunjukan isi pesan singkat yang didapatnya dari sang Ibu pada Kibum.

Kibum melongok kemudian tersenyum. "Karena Ibu mengkhawatirkanmu" katanya.

"Mengapa Ibu selalu mengkhawatirkanku? Bukankah aku selalu denganmu?" protesan polos Kyuhyun membuat Kibum menoleh. "Karena kau selalu bersamaku, seharusnya Ibu tak perlu merasa begitu khawatir padaku, kan? Tsk—Ibu memang selalu berlebihan"

Kibum membuang pandangannya keluar jendela. Ucapan polos Kyuhyun lagi-lagi membuatnya merasa gelisah, merasa bersalah. Diam-diam pemuda itu meremas tangannya sendiri guna menyalurkan perasaan gelisah yang mengganggunya.

.

.

"Dimana Kibum?"

Tuan dan Nyonya Cho yang tengah menonton salah satu acara televisi itu menoleh kearah suara, menemukan sosok Kyuhyun yang berjalan dengan mata terpejam-terbuka. Tuan dan Nyonya Cho tersenyum, menarik tangan Kyuhyun untuk bergabung bersama mereka.

"Kau tidur sejak pulang sekolah Kyu. Bahkan menolak bangun ketika Ibu panggil tadi" Nyonya Cho mengacak surai caramel Kyuhyun dengan gemas. Anak bungsunya itu memang benar-benar menggemaskan kan?

"Benarkah?"

"Ya. Pergilah makan malam atau mau kami temani?"

Kyuhyun berdecak, "Tidak usah. Ngomong-ngomong dimana Kibum?" mata cokelat Kyuhyun mencari sosok kakak kembarnya didalam ruangan itu. "Aku tak menemukannya dikamarnya tadi"

"Ditaman?"

"Malam-malam begini?"

Setelah menerima anggukan atas pertanyaannya, Kyuhyun segera berjalan menuju dapur, mengambil beberapa lembar roti kemudian mengolesinya dengan selai. Setelahnya pemuda itu menaruh roti itu diatas piring dan membawanya keluar rumah. Sedikit bergidik karena udara dingin yang menyambutnya menerbangkan ujung pakaiannya.

Pemuda itu berhenti tak jauh dari ayunan ditaman yang bergerak. Diatasnya ada Kibum yang tengah menatap kosong kedepan. Melamun lagi? Kau kenapa, Bum?

Pluk

Kibum berjengkit kaget ketika sesuatu diletakan diatas kepalanya. Ketika dia menoleh, dirinya mendapati Kyuhyun tengah menatapnya dengan alis bertaut. Adik kembarnya itu menarik sesuatu yang diletakan diatas kepalanya –sebuah piring dengan roti selai diatasnya, kemudian mendudukan dirinya disamping Kibum membuat suara decitan ayunan.

"Makanlah. Kau belum makan kan?"

"Kau sudah makan?"

Kyuhyun mendengus, "Aku baru bangun tidur" katanya dengan pandangan lurus kedepan, tangannya yang terbebas dari memegangi piring mencomot salah satu roti selai dan memakannya dalam diam.

Kibum menarik piring ditangan Kyuhyun, menyimpannya dipangkuannya sendiri kemudian ikut memandang lurus kedepan. "Kenapa kau seperti itu, Kyu?" tanyanya ambigu.

"Aku kenapa?" Kyuhyun balik bertanya. Ia tak paham ucapan Kibum. Perasaan dia baru saja datang, itupun tak mengganggu Kibum bahkan dia membawakan makan malam untuk Kibum meski hanya roti isi selai.

"Ya, selalu harus dibangunkan?" Kibum mengangkat bahu.

Kyuhyun terkekeh, "Karena aku magnae? Lagipula kan ada kau dan Ibu. Itu tak akan jadi masalah"

"Kau juga selalu lupa menyimpan sesuatu"

Alis Kyuhyun berkerut mendengar ucapan Kibum selanjutnya, "Kau keberatan harus membantuku mencari barang-barangku yang aku lupa dimana menyimpannya?" tanyanya dengan nada kaget.

"Bukan" Kibum menggeleng, terseyum kikuk ketika melihat Kyuhyun menatapnya tanpa berkedip. "Kau tahu kan Kyu, aku mencintai Sains seperti kau mencintai basket?" Kibum memilih membuang pandangan kearah lain, memulai membicarakan sesuatu yang memang harus dimulainya. "Seperti kau yang akan melakukan apapun untuk bisa bermain basket, akupun akan melakukan apapun untuk mengejar impianku itu"

"Aku tahu" Kyuhyun menganggukan kepalanya.

"Jadi—bisakah kau memaafkanku jika—aku mengingkari janjiku?"

"Huh?"

"Maksudku—bagaimana jika—aku meninggalkanmu demi impianku itu?"

Kyuhyun meremas jemarinya yang mendingin. Bukan, bukan karena angin malam yang menghembus dengan kencang. Pemuda pucat itu tahu kemana arah pembicaraan ini. Ia sadar cepat atau lambat, Kibum dan dirinya akan berpisah untuk kuliah. Dan Kibum merasa khawatir padanya karena janji yang telah dibuat Kibum pada dirinya.

"Itu—kita sudah pernah membahas ini, Bum" Kyuhyun membuang pandangan kearah lain. "Aku akan berusaha masuk universitas yang sama denganmu. Aku akan belajar keras untuk itu. Kau tak perlu khawatir. Carilah universitas terbaik yang bisa membuatmu mewujudkan impianmu dan aku akan berusaha untuk bisa masuk universitas itu juga"

"Kyu—bukan universitas, tapi—high school"

Deg

"Aku mungkin akan—"

"Aku—tiba-tiba mengantuk" Kyuhyun memotong. "Aku pergi tidur dulu, Bum" katanya kemudian berlalu, meninggalkan Kibum yang hanya menatap punggung adiknya dalam diam.

*TBC*

Aku benci bagian ini. 'bagaimana jika' kau bilang? Tentu saja aku akan kesulitan tanpamu. Kau adalah bagian dariku, dan aku bagian darimu. Meskipun aku sering mengeluh kau terlalu protektif padaku, tapi—dalam hatiku, aku menyukainya. Kau dengar, Bum? Aku menyukainya! Aku menyukainya ketika kau selalu berada disekelilingku. Aku menyukainya ketika kau selalu mendahulukanku dari semuanya. Dan bagian terpenting lainnya adalah—aku menyukainya—bahwa kau adalah saudaraku. Saudara yang berbagi semuanya denganku sedari dalam kandungan Ibu.

Ada yang nunggu fanfic ini?

Oya makasih buat review-nya, maaf aku ngga bisa bales satu-satu -_-

Aku lagi ngga bisa sering-sering update soalnya pekerjaan lagi butuh perhatian khusus nih hehe,

Last—wanna RnR?