.
.
Dark Hand
SasuSaku
Rate M
Romance & Horror
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
Chapter 4
Kehidupan ini begitu lucu. Mereka semua berpikir jika dapat melihat 'sesuatu' yang tidak bisa di lihat orang biasa itu menyenangkan. Mereka berpikir mereka hebat jika memiliki kemampuan tersebut. Tapi, sebenarnya bukan seperti itu.
Memiliki kemampuan yang dapat di sebut sixth sense bukanlah hal yang menyenangkan. Bagi Sakura kemampuan tersebut begitu mengerikan.
Seperti pertama kali Sakura dapat melihat makhluk yang kasat mata. Saat itu ia baru saja menginjak umur tujuh tahun.
Pada saat itu hari mulai senja, Sakura baru saja selesai bermain. Sakura berjalan melewati jalanan pinggir hutan yang biasa ia lewati.
Disanalah ia pertama kali melihat sosok wanita yang memakai kimono lusuh dengan rambut hitam yang terurai panjang.
Wanita itu memiliki tinggi yang mencapai dua meter. Wajahnya tertutup rambutnya yang panjang. Sakura yang melihat hal itu hanya bisa diam, gadis kecil polos itu berpikir kenapa wanita itu bisa setinggi itu.
Namun saat mata wanita itu mengintip menatap Sakura, barulah gadis kecil itu sadar jika yang di depannya itu bukanlah sosok manusia. Dan malam setelah kejadian itu Sakura mendapati demam tinggi yang berlangsung tujuh hari.
Selama dua tahun ia di ikuti wanita berkimono tersebut. Dan selama itu ia selalu ketakutan. Namun setelah itu ia bisa melihat makhluk yang tak dapat di lihat oleh mata biasa. Ketakutannya menghilang begitu saja.
.
.
-o0o-
.
.
Bunyi detikan jarum jam terdengar mengisi kesunyian ruangan yang di tempati Naruto. Pemuda itu menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Helaan nafas berat terdengar dari mulut pemuda pecinta ramen tersebut.
sudah hampir satu jam ia berbaring di atas ranjangnya. Dan selama itu ia berada di apartmennya. Sesungguhnya ia sedikit merindukan tidur di apartemennya yang sudah seminggu lebih ia tinggalkan. Tapi kali ini ia tidak bersama dengan Sasuke. Ia mengajak Rock Lee untuk mampir ke apartemennya sebelum ia kembali ke rumah Sasuke.
Naruto berbaring miring menatap jendela kamarnya. Ruangan itu terasa sangatlah sunyi, meski samar-samar ia masih bisa mendengar suara Lee yang berada di dapur. Cahaya jingga menembus kaca jendela kamar Naruto yang sengaja tidak ia tutup.
Kembali lagi naruto berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa ia begitu bingung. Ia ingin melakukan sesuat tapi apa ?
Pemuda itu bangkit, duduk di atas ranjang seraya menggaruk kepala kuningnya yang gatal. Ia menatap ke pintu kamarnya sebentar sebelum memilih untuk pergi menemui Lee yang berada di dapur.
Naruto menatap Lee yang memakan ramen instan dari ambang pintu. Hari ini Naruto tampak tak bersemangat. Ia juga mendadak tidak berselera dengan ramen.
Tentu saja. Semua pemikirannya tertuju pada apartemennya. Ada apa dengan apartemennya ? dan kenapa harus Naruto ? Naruto tidak pernah merasa mengganggu seseorang, buang air kecil sembarangan. Lalu kenapa Naruto harus di hantui, apa salah pemuda itu sampai dengan teganya para hantu itu menerornya.
"Kenapa semua ini terjadi kepadaku ?" Naruto menatap Lee dengan tatapan memelas. "Kenapa bukan si alis tebal saja." Naruto mengendus kesal sebelum ia melangkah mendekati Lee yang masih sibuk memakan ramennya.
Lee meliriknya sebentar sebelum kembali fokus memakan ramen.
"Hei, kau tidak mau pulang ? Hari sudah senja, aku harus kembali ke rumah Teme sebelum malam." Naruto menarik salah satu kursi disana dan duduk seraya menompang kepala kuningnya.
"Tunggu sebentar, Naruto-kun." ujarnya dengan mulut penuh dengan ramen.
Naruto berdecak pelan sebelum ia berdiri. "Kutunggu kau di luar." ujarnya seraya melangkah pergi. Ia kembali menengok ke belakang, menatap Lee. "Jangan lupa cuci mangkok yang kau pakai."
Naruto menghela nafas panjang sebelum ia menghempaskan pantanya ke sofa. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. Seolah ada beban di kedua bahunya.
Jika seperti ini terus, Naruto bisa saja menjadi gila. Siapa yang mau gila karena hantu.
Sementara di tempat Lee. Pemuda berambut boob itu sibuk membersihkan mangkok yang ia pakai. Perutnya terasa kenyang setelah menghabiskan tiga bungkus ramen instan milik Naruto.
Lee mengusap tangannya yang basah pada lap tangan yang menggantung di tembok. Entah kenapa ia merasa merinding menatap sekeliling dapur Naruto.
Tak lama, telingannya mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia menatap kamar mandi yang terbuka sedikit pintunya. Mungkinkah Naruto tengah mandi.
"Apa-apaan dia itu ?! Tadi memaksaku untuk cepat sekarang dia malah mandi." Lee berjalan mendekati kamar mandi. Sedikit membuka pintu kamar mandi Naruto. Bukan bermaksud untuk Mesum tapi hanya ingin tahu siapa yang mandi.
Lee menyengit. Mata bulatnya semakin lebar menatap isi kamar mandi itu. Ada seorang wanita berambut panjang terurai tengah mandi di bawah shower membelakanginya.
Lee berkedip dua kali, menatap lekat-lekat siapa wanita yang tengah mandi itu. Tangan wanita itu yang awalnya mengusap rambutnya kini berhenti di belakang kepalanya. Perlahan jemari putih pucat itu menyingkap rambut belakangnya.
Lee terbelalak menatap apa yang ada di depannya. Ia tersentak kaget melihat mata merah menyala yang berada di balik rambut wanita itu.
"Gyaaaaaa !"
Naruto yang ada di ruang tamu tergesa berlari ke Lee yang sudah terduduk di lantai apartemennya. Matanya menatap takut kamar mandi. Keringat dingin membasahi tubuh pemuda itu.
"Kau kenapa Alis Tebal ?" tanya Naruto khawatir.
Lee tidak menjawab dan hanya duduk kaku. Naruto yang tidak enak hati pun segera menyeret Lee keluar dari apartemennya. Sebenarnya sedari tadi ia merasakan perasaan yang tidak mengenakkan. Akan tetapi Naruto berusa tidak memperdulikannya.
.
.
-o0o-
.
.
Malam semakin larut. Angin dingin berhembus pelan. Dari ujung jalan terlihat seorang gadis berambut soft-pink yang berjalan lengkap dengan seragam sekolahnya.
Haruno Sakura. Kali ini ia pulang sendiri karena Sasori sedang sibuk dengan entah apa. Pemuda itu menghilang setelah menemuinya saat jam istirahat makan siang.
Sakura sudah terbiasa dengan suasa sunyi yang tak menyenangkan. Bahkan lebih dari ini. Ia perlahan menuruni tangga yang biasa ia lewati. Mata emerald indah itu perlahan melirik ke dalam gelapnya hutan.
Ada sesuatu yang seolah menariknya untuk masuk kesana. Mengikuti apa yang menariknya, ia melihat sosok pria paruh baya yang duduk di depan pohon besar dengan membawa dupa.
Sakura menyengit bingung. Ia segera mendekati sosok pria tua itu. "Apa yang sedang anda lakukan disini ?"
"Gyaa !" pria itu berjengit kaget menatap kehadiran Sakura yang tiba-tiba. "Kau mengagetkanku." ujarnya menghela nafas lega begitu ia tahu jika yang berdiri di hadapannya adalah manusia.
"Anda belum menjawab pertanyaanku."
"Apapun yang kulakukan bukan urusanmu. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau disini ?! Ini sudah malam. Anak gadis tidak baik berkeliaran malam hari." gerutu pria itu.
"Apa kau memuja pohon ini ? Apa kau berniat memperkaya dirimu dengan memuja pohon ini ?" tanya Sakura dengan nada kalem.
"Kau mengganggu saja. Memangnya kenapa jika aku ingin kaya, aku yakin mereka bisa memberiku semuanya." ujarnya dengan penuh percaya diri.
Jika yang ada di hadapan pria paruh baya ini adalah Naruto. Mungkin pria itu akan di semprot Naruto dengan makian bernada cempreng. Tapi ini Sakura, gadis itu tersenyum menanggapi ucapan pria itu. Mereka percaya jika hal seperti itu akan membuat mereka kaya dalam sekejap.
"Anda boleh percaya bahwa mereka ada, tapi bukan berarti anda harus mempercayai mereka. Seharusnya anda percaya dengan Tuhan yang memberi kehidupan."
Pria itu hanya mengendus kesal mendengar ucapan gadis itu. "Memangnya kau siapa ? Jangan sok menjadi pendeta."
"Aku memang bukan pendeta, tapi lebih baik anda banyak-banyak berdo'a kepada Tuhan agar tidak masuk ke dalam Nerakanya." ujarnya berlalu begitu saja dari pria itu. Sakura menggelengkan kepalanya.
Mereka ingin usaha mereka sukses namun mereka tidak sabar. Itulah yang terjadi, memuja sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan salah akan membut mereka dosa.
Langkah kaki Sakura memelan. Ia menatap kaki yang melayang di hadapannya. Perasaannya menjadi tidak enak. Kaki pucat yang di tutupi kimono lusuh. Terlihat lebih besar dari ukuran manusia biasa. Perlahan gadis itu mendongkak menatap makhluk apa yang ada di hadapannya.
Mata emerald itu melebar. Mimpi buruknya selama ini pun kembali. Ketakutan yang pernah hilang pun muncul membuatnya bergetar pelan. Pusing begitu menekan kepalanya hingga semua menjadi gelap.
.
.
-o0o-
.
.
Naruto menyengit mendengar ucapan Sasori. Sementara Sasuke hanya diam dengan segala pemikirannya yang sedikit kacau.
"Sakura-chan tidak pulang semalam ?" ujar Naruto mengulangi ucapan Sasori. "Lalu, dimana dia ?"
Sasori menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."
"Apa kau tidak mencarinya ?" ujar Sasuke tidak sabaran. "Bagaimana bisa kau-"
"Aku mencarinya, Uchiha." Sasori menatap Sasuke yang tampak kesal. Pemuda Uchiha itu mengendus kesal seraya melipat kembali kedua tangannya di depan dada.
"Apa kau yakin ? Bagaimana jika-" Naruto memasang tatapan horor pada Sasori. "Bagaimana jika dia di culik oleh psikopat ?!"
Duak
Sasuke menendang perut Naruto dengan perasaan kesal. Ada perempatan kecil di dahinya. "Jangan berpikir yang aneh-aneh, Dobe."
Naruto mengelus perutnya, meringis menahan sakit. Ia menatap Sasuke kesal. "Aku hanya mengkhawatirkannya, Teme."
Sasori menghela nafas panjang. Ia sungguh memikirkan dimana Sakura berada. Terlalu pusing untuk memikirkan keberadaan Sakura. Seperti yang terjadi dulu. Dimana Sakura pertama kali di hantui oleh wanita berkimono.
Sasori terdiam dengan pemikirannya. Ia mencerna kembali apa yang barusan ia pikirkan. "Wanita berkimono."
"Apa ?" tanya Naruto menatap Sasori yang duduk kaku di bangkunya.
Brakk
Baik Naruto ataupun Sasuke sama-sama berjengit kaget saat Sasori menggebrak mejanya dengan tiba-tiba. "Aku tahu dimana Sakura."
.
.
Naruto menatap pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Ia celingak celinguk menatap kesana-kemari. Hari sudah siang tapi di dalam hutan tampaknya sangat sejuk.
Mereka bertiga sepakat untuk membolos saat istirahat makan siang. Sasorilah yang memaksa untuk membolos, dia benar-benar mengkhawatirkan adiknya.
Sasuke diam menatap sekelilingnya. Semak-semak yang tumbuh tak beraturan dengan daun kering yang menutupi hampir seluruh tanah yang ia pijak. "Kau yakin tahu tempatnya."
"Hmm, di dalam hutan ini ada makan wanita yang mati saat perang. Dialah yang membuat Sakura bisa melihat sosok tak kasat mata." jelas Sasori seraya melangkah dengan hati-hati. Semak-semak itu menghambat langkah mereka membuat mereka sedikit lebih lama untuk sampai kesebuah makam tua yang tak terawat.
Naruto menatap ngeri pada batu nisan yang sudah pudar dan penuh dengan retakan yang tertutup daun-daun kering. "Kau yakin Sakura-chan ada di tempat seperti ini." ia bergidik ngeri menatap kesekeliling.
Sasori tak menjawab. Pemuda itu sibuk menyingkapi daun-daun yang menutupi tanah hutan itu.
Sasuke yang paham dengan apa yang dilakukan Sasori pun juga segera ikut membantu pemuda itu. Ia mengitari makam itu hingga saat ia menyingkap daun kering dekat dengan pohon oak besar. Ia menemukan tangan pucat. Segera di singkapnya daun-daun yang menutupi tangan itu.
Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat sosok wanita berambut hitam dengan wajahnya yang kosong disertai darah yang menghiasi wajahnya.
Sasuke terduduk begitu menatap apa yang ada di depannya. Sasori bingung menatap Sasuke yang tampak syok. "Kau kenapa Uchiha ?" didekati Sasuke yang kaku. Ia dapat merasakan panas dingin tubuh pemuda Uchiha itu.
Sasuke mengatur kesadarannya kembali lalu menatap ke depan dimana ada wanita yanh berbaring di hadapannya. Sosok itu menghilang entah kemana.
"Kuso !" Sasuke mengumpat pelan begitu ia merasa di permainkan dengan makhluk tak kasat mata itu.
"Teman-teman !" teriakan Naruto membuat mereka berdua serempak menatap Naruto. "Aku menemukan Sakura-chan."
Segera Sasori berlari ke arah Naruto yanv berada di depan semak-semak yang tumbuh dengan liar. Disingkapnya semak-semak itu dan ia dapat melihat Sakura di dalamnya. Gadis itu memejamkan mata dengan ekspresi ketakutan. Tidak seperti tidur ataupun tak sadarkan diri.
"Sakura." panggil Sasori dengan nada bergetar. Ia segera mengeluarkan Sakura dari sana. Sasori menatap khawatir Sakura. "Saku." ia menepuk pelan pipi Sakura. Gadis itu bereaksi di luar pemikiran Sasori.
Sakura menangis sesegukan. Berulang kali memanggil Sasori. "Nii-san..." panggilnya lirih. "Nii-san...Nii-san..."
Sasori hilang kendali begitu mendengar cicitan Sakura. Ia dengan segera menggendong Sakura, membawa gadis itu pulang. Sakura harus dibersihkan dari sesuatu yang buruk.
.
.
-oOo-
.
.
Ruangan itu tampak gelap, meski remang-remamg cahaya menyelinap masuk dari jendela. Di dalam kegelapan masih dapat dilihat barang-barang mewah berkelas yang mengkilat.
Seorang pemuda berambut coklat panjang berjalan santai ke dapur yang gelap. Ia membuka lemari es. Cahaya kuning pun menerangi ruangan itu meski hanya sekilas. Pemuda itu mengambil air dingin dalam lemari es dan meminumnya dua tegukan.
Sreet
Hampir saja ia tersedak, segera kepalanya menoleh kesana-kemari. Ia merasa ada sosok yang berjalan dalam kegelapan.
Mata pearl-nya sedikit membulat melihat sosok hitam yang begitu ia kenal. Berdiri membelakanginya.
"Sial !" umpatnya pelan.
.
.
To be continuen
Telat update/ :3 /O.O/
Hahahaha #tertawanista# Chapter ini pendek yaa... itu karena author sibuk sekarang. Sangat sibuk...
Sibuk main game sampe lupa waktu :3 #tabokrame-rame# habis kalo udah main game kagak jelas pasti bakalan lupa waktu (padahal umur udah tua tapi mainnya macem anak kecil)
Sebenernya author agak berat nulis romance di campur dengan horror. Nempatin adegan romantis di tengah ketakutan itu susah #jambakrambut# kalo udah di romance yaaa romance mulu lupa kalo setannya gak muncul. Kalo di horor malah bingung sasukenya mau di apain #dikardusinmungkin# #PLAKK
Terus pas nulis chapter ini ada kejadian tidak terduga, pas dimana sampe sasori lagi nyari sakura. Author kan haus ambil air dulu. Setelah minum balik lagi ke kamar pas didepan kamar author cium-cium kok ada bau wangi gitu macem melati campur kamboja. Lahh author merinding jadinya sempat gak author lanjutin. Terus pas lanjutin lagi lampu mati, buru-buru keluar kamar sampe nendang botol minuman yang ada di samping kasur. #soalnyaauthortakutgelap# ini juga hari ini baru selesai langsung publish. Gak tau Typho apa nggak. Terlalu lelah untuk chek kembali T.T
Mungkin chapter ini chapter paling kaku. T.T Maaf mengecewakan. Oke waktunya bales Review Chap 3 yang sebenarnya cuma di baca kagak pernah di bales. /O.o/
Psycho-chan : emmmh, ini telat update kayaknya padahal kan di jatah dua minggu sekali update _ Chap 5 deh update cepet.
Aquariuscouple : hehehe XD ini udah update, telat tapinya :v
Ombre : jangan-jangan gendruwo lagi O.o/ ini udah lanjutt.
Ranindri : keluar, meski sedikit berat nulisnya T.T
Nurulita as Lita-san : adem panas O.o liat gituan badan langsung gemeteran.
Khoerun904 : sok banget saskey ini padahal cuma anak ayam doang :3
Kiirach : masa iya :3 gk lah romancenya jangan pengalaman sendiri -_- masa iya author di grope-grope pas naik kereta #plaakkk Arigatou ini udah lanjut :v
Terima kasih banyak untuk yang Review. Yang baca. Yang nunggu. Yang favorit. Yang follow. Dll. ketemu dua minggu lagi. Jangan lupa review yaa... Tinggalkan jejak meski hanya "." saja :') #lapopo. Setidaknya itu menandakan kalian benar-benar hidup dan ada #plaaakkk# Bubye :v
Oh ya satu lagi numpang promo dikit ah :v yang mau add fb author 'Dae-Chan' yang mau follow IG author ' banana_byun' new account ini :v :v mari bertemaaannnnn :v :v :v _ _ ^_^ ^_^
