Naruto - 'Masashi Kishimoto'

[ Hujan Dalam Hati ]

Author Note :

Naruto hanya remaja biasa seperti remaja laki-laki pada umumnya, dia juga bisa membedakan mana itu cinta atau yang hanya sekedar suka.

Dibalik penampilan yang urakan seperti berandalan sekolahan, remaja bernama Naruto ini memiliki sifat yang lembut ia memang terlihat menyeramkan dari segi penampilan! Hanya penampilan belum bisa menunjukan sisi sesungguhnya seseorang bukan?

Dia menyukai seorang gadis remaja yang cukup populer di sekolahnya. Sakura Haruno nama gadis itu namun mereka tidak cocok bilang saling bertemu? Karena Sakura tidak menyukai Naruto yang suka berkelahi di sekolah?

Kenapa Naruto suka berkelahi? Dan apakah mereka bisa saling suka ya?

Senpai akan persatukan mereka dalam cerita NaruSaku kali ini, semoga sukses!

Minta do'anya biar lancar ya hehe...

Yosh! Proses!

Musim semi adalah dimana saat bunga sakura memanjakan mata dengan keindahannya dan juga dimana hari pertama masuk sekolah bagi senior maupun juniar.

Di lapangan sekolah SMA Konoha begitu banyak kerumunan murid baru yang ingin melihat apakah mereka masuk dalam daftar nama sebagai siswa/siswi baru disekolah itu?

Dari semua yang ada ditempat itu ada gadis remaja yang paling mencolok dari gadis remaja lainnya. Rambut panjang sepunggung dengan warna pink yang alami sangat terlihat begitu indah bagi para kaum ada yang segaja atau tidak segaja melihat kearahnya.

"Hey jidat! Lihat namamu ada disini!"

"Ah, yang benar?! Jangan panggil aku jidat lagi pig!"

Di kerumunan para remaja laki-laki ada yang begitu mencuri perhatian. Seorang remaja kini sedang terlihat senang ia sempat berteriak karena senang dan tidak menyangka bisa masuk sekolah unggulan di Konoha.

"Yosh! Aku tidak rugi belajar kalau begini hasilnya!"

"Naruto, kau norak sekali."

"Kiba kau terlalu banyak bicara. Terserahku mau berisik atau norak sekalipun."

"Naruto, se-selamat ya. Aku senang kita bisa satu sekolah lagi."

"Terimakasih Hinata kau memang baik beda dengan Kiba."

"Aku kenapa? Kurang baik apa? Kita sahabat dari SD kau ralat ucapanmu itu Naruto!"

"Ya-ya nanti aku ralat hehe..."

Seminggu setelah penerimaan murid baru. Naruto yang berpenamilan urakan dan yang paling aneh dari penampilannya ia memakai ikat kepala berwarna hitam dan tidak memasukan baju seragamnya seperti yanglain. Naruto dicap sebagai berandalan sekolah padahal baru seminggu namun sudah mengemparkan seisi sekolah dengan kejadian yang dianggap sangat nekat sebagai salah satu siswa SMA unggulan di Konoha.

Dalam sejarah panjang di SMA Konoha, Naruto mengukir sejarah baru yaitu berkelahi dengan siswa yang berbeda kelas dengannya, siswa yang Naruto sempat hajar sampai babak belur itu terkenal dengan sikap mesumnya sering menyelinap ke toilet siswi. Naruto yang kebetulan memergoki siswa itu yang berniat melakukan pelecehan tanpa basa-basi langsung Naruto hajar sampai kehilangan salah satu giginya.

"Dia itu sok jadi pahlawan padahalkan yang dia hajar itu senior ya?"

"Tapi niatnya baik, kau jangan asal bicara."

"Tapi itu terlalu ekstrim. Kau dengar tidak kalau yang dia hajar sampai ketakutan?"

Naruto berjalan tidak peduli dengan siswi yang sedang membicarakannya. Di koridor sekolah hampir semua murid yang ada ditempat itu menatap kearah Naruto.

'Mereka melihatku seperti melihat monster saja.'

"Naruto!"

Naruto menoleh kearah kiri, ia melihat Kiba kini sedang menuju kearahnya bersama Hinata yang terlihat senang ketika melihat Naruto.

Kiba menepuk-nepuk pundak Naruto dan menasehati agar Naruto bisa bersabar dengan semua yang dia alami.

Naruto, Kiba dan Hinata mereka bertiga menjadi sahabat sejak SD. Hinata yang terlihat pemalu itu selalu tersenyum senang setiap Naruto ada didekatnya.

Naruto menghela nafas setiap Kiba memulai ceramahnya yang amat membosankan bagi Naruto. Naruto melihat kearah siswi bernama Sakura yang sedang mendapatkan ceramah panjang dari sahabatnya yang bernama Ino Yamanaka.

Hinata mengikuti arah pandangan Naruto yang teramat serius. Kiba juga ikut melihatnya.

"Kau suka dengannya juga ya?"

"Hah?"

"Kiba, kelihatnya tebakanmu benar, Naruto sedang menyukai Sakura Haruno."

Hinata tersenyum setelah menyebut nama Sakura. Kiba melirik jail kearah Naruto, sambil menyikut pelan.

"Tapi dia itu membencimu loh."

"Membenciku?"

"Itu hanya gosip Naruto tenang saja ya."

Hinata memberi semangat untuk Naruto yang terlihat khawatir dengan ucapan Kiba.

Saat jam pelajar kedua. Naruto mencoba memastikan ucapan Kiba yang membuat perasaan Naruto khawatir. Naruto menghampiri Sakura yang sedang duduk di bangku taman sekolah, membaca buku itulah yang Sakura lakukan.

"Pig sialan dia lebih memilih bersama Sai daripada dengan ku sahabatnya." gumam Sakura sembari membaca buku.

"Ehem!"

"Mmh?"

Sakura menoleh kearah kiri. Disebelah Sakura, Naruto duduk dengan polosnya dan tersenyum lebar menunjukan cerianya.

"Kau!" teriak Sakura tiba-tiba sampai Naruto terkejut dan bingung apa penyebabnya.

"Hadeh! Jantungku hampir lompat hehe.."

"Kau! Pergi dari sini! Kenapa kau ikut duduk disini hah!"

"Hah! Kenapa kau marah? Inikan tempat umum? Semua boleh duduk disinikan?"

"Iya tapi tidak untukmu!"

"Tidak untukku?"

Naruto bingung karena dimarahi tanpa sebab lalu Sakura menatap tajam kearah Naruto.

'Dia seperti Ibuku saja, sama-sama mengerikan!'

"Cepat pergi dari sini!"

"Kenapa aku harus pergi?" Naruto bertanya dengan polosnya dan tersenyum ramah.

"Karena kau itu tipe orang yang kasar.."

"Mmh? Tipe orang kasar?"

Sakura pergi meninggalkan Naruto yang masih duduk di bangku taman sambil garuk kepala karena tidak mengerti dengan ucapan Sakura.

"Dia benci aku karena tipe kasar ya? Aku tipe kasar?"

Naruto mengangguk sambil berguman dan mengelus dagu seperti sedang berpikir keras.

Srrk!

Naruto mengecangkan ikat kepala miliknya dan menatap kearah Sakura pergi. Naruto menunjuk lurus kearah dengan walaupun Sakura tidak ada ditempat itu.

"Aku Naruto Uzumaki! Aku akan buktikan padamu! Kalau penampilan itu bisa menipu!" Naruto mengelus dagu sambil berpikir setelah berucap.

'Kata-kataku tadi keren juga.'

Naruto meminta bantuan Kiba dan Hinata. Naruto berniat agar Sakura menyukainya dan berpikir ulang bahwa Naruto bukan tipe seorang yang kasar seperti yang dipikirkan oleh Sakura.

Kiba dan Hinata mencoba dekat dengan Sakura. Kiba yang segaja selalu membahas Naruto, ia memuji Naruto sangat berlebihan namun Hinata malah terlihat senang berbeda dengan Sakura yang berpikir bahwa cerita Kiba itu seperti karangan saja.

"Hey! Semuanya! Ikut aku ada tontonan seru! Naruto dari kelas 1-C. Dia berkelahi dengan sekolahlain!"

Kiba, Hinata dan Sakura terkejut saat mendengar ucapan siswa yang terburu-buru pergi meninggalkan kantin setelah menceritakan bahwa Naruto sedang berkelahi.

Semua yang berada di kantin langsung mengikuti siswa yang tadi menceritakan Naruto sedang berkelahi.

Di gang tidak jauh dari sekolah, Naruto sedang melawan murid dari sekolah Akatsuki. Naruto menghusap darah membasi bibirnya.

"Wah, aku mimisan!" Naruto sempat bercanda padahal 4 orang yang dihadapannya kini sedang mengambil pemukul baseball yang berada di aspal jalan gang.

"Siapa Namamu?"

"Aku Naruto Uzumaki! Kau Pain kan!"

"Mmm.. Kau kenal aku ternyata."

"Jangan ganggu murid dari sekolahku!"

"Berkelahi adalah hobi. Kau melarangku? Yang benar saja kau pikir kau itu apa? Seorang pahlawan kesiangan!"

Braaaak!

Naruto menepis pemukul baseball yang diarahkan tepat di kepalanya. Dengan cerdik Naruto mengambil penutup tempat sampah sebagai tamengnya.

"Kau pintar juga!"

"Grrrgh..."

Ke-tiga orang yang berada di belakang Pain, memutuskan ikut menyerang. Naruto yang memang memilik beladiri yang cukup untuk melawan 5 orang bahkan 7 orang sekaligus. Naruto dapat bertahan bahkan membalas ke-empat orang yang menyerangnya.

Pain berlutut tepat dihadapan Naruto yang berdiri tegap dan menatap tajam walaupun kondisinya kini sudah babak belur dan seragam sekolahnya lusuh dan ada noda darah yang melekat. Ketiga orang yang sebagai anak buah Pain, mereka terkapar tak berdaya.

"Kalau kau datang lagi, aku akan menghajarmu! Kalau kau masih melakukan hal yang sama! Jangan salahkan aku kalau tanganmu jadi tak berguna!" teriak Naruto tegas.

"Naruto!"

Naruto berbalik ketika mendengar suara Kiba dan yanglainnya ikut memanggilnya. Sakura terkejut karena Naruto melawan 4 orang sendirian. Sakura sudah mendengar cerita dari siswa yang Naruto tolong namun Sakura tetap dengan pendiriannya tidak suka dengan seseorang yang kasar.

"Wah! Kau jelek sekali!"

"Tapi kerenkan!"

"Naruto! Awas belak-."

BRAK!

"Aaarrkh!"

Sekali ayunan pemukul baseball yang mendarat di rusuk. Naruto langsung terkapar sambil berteriak menahan rasa sakitnya.

"Brengsek kau!"

Daaak!

Pain yang mencoba berdiri tegap langsung mendapat tendangan dari Kiba yang diliputi dengan amarahnya.

Kiba dan Hinata yang panik karena melihat Naruto sedang kesakitan, mereka berdua membawa Naruto ke rumah sakit. Sakura hanya melihat kebawah begitu banyak noda darah.

Kondisi Naruto yang mengalami luka memar dibagian rusuknya. Naruto hanya bisa tertunduk saat duduk di ranjang. Kushina Uzumaki ibu Naruto kini sedang memarahi Naruto habis-habis sampai tidak ada titik dalam ucapnya.

"Sudah ibu bilang kau jangan ikut campur dengan masalah orang!"

"Tapi aku hanya berniat menolong temanku.."

"Kau ini selalu saja pintar mencari alasan."

"Bu, Kiba dan Hinata mana?"

"Mereka baru pulang. Kau ini selalu membuat ibumu ini khawatir."

"Maaf.. Aku janji ini terakhir mungkin."

"Dasar bocah keras kepala."

Kushina mengelus surai pirang Naruto sembari tersenyum dan terharu dengan kondisi Naruto dengan wajah yang babak belur.

Tok. Tok. Tok.

Kushina menoleh kebelakang ia menuju pintu lalu membuka pintu. Naruto membulatkan mata karena ia tidak menyangka kalau Sakura yang Naruto lihat sebagai yang pertama menjenguknya di rumah sakit.

Kushina tersenyum dan meminta Sakura duduk. Sakura membawa bingkisan buah jeruk dan memberikannya kepada Kushina.

"Naruto, apa gadis cantik ini pacarmu?"

"Ak-anu di-dia it-."

"Saya teman Naruto, bibi." ucap Sakura. Kushina tersenyum dan membelai surai milik Sakura.

"Manisnya kau mirip, aku saat masih remaja."

Naruto tersenyum lebar seperti anak kecil yang polos. Sakura hanya tersenyum kecil sebagai balasannya.

Kushina meninggalkan Naruto bersama Sakura. Kushina hanya bisa tersenyum dan melihat langit yang biru, ketika keluar dari rumah sakit.

"Kau bisa lihat tidak sayang? Naruto sudah memiliki kekasih, semoga saja nanti jadi kekasihnya.." gumam Kushina disetiap langkahnya.

Sakura bertanya kenapa Naruto suka berkelahi walaupun dengan tujuan baik tapi itu sangat buruk dari sudutpandang Sakura.

"Aku punya alasan kuat."

"Alasan kuat apa?"

Sakura bertanya dengan nada suara yang cukup pelan karena Naruto tiba-tiba menyekat airmata.

"Dulu aku hanya seorang pecundang. Ketika Ayahku dirampok saat kami sedang membelikan hadah ulangtahun untuk Ibuku.

Aku hanya bisa berlari saat Ayahku di hajar habis-habisan. Walaupun dia memintaku untuk lari! Tapi harusnya aku melawan dan menolong Ayahku!"

Sakura tiba-tiba membimbing Naruto agar menatapnya dengan kedua tangan.

"Lihat aku. Laki-laki tidak boleh menangis."

Naruto membulatkan mata karena ucapan Sakura sama dengan ucapan Ayah Naruto, Minato Namikaze.

"Jadi kau berkelahi untuk karena itu? Maaf ya aku berpikir jelek tentangmu Naruto."

"I-iya Sa-Sakura."

Sakura menceritakan alasannya kenapa dia tidak suka dengan orang yang kasar. Semua berawal saat kelas 1 SMP, Sakura memilik kekasih yang berperilakuan sangat kasar padanya sampai-sampai Sakura merasa hidup seperti di neraka. 'Sasuke Uchiha' nama yang Sakura sebut dan Naruto ingat dalam-dalam untuk mengingat nama itu selamannya.

1 bulan berlalu Naruto dan Sakura menjadi teman yang sangat dekat, terkadang mereka ribut dengan alasan yang tidak jelas. Hinata yang selalu dekat dengan Naruto, kini ia hanya bisa melihat Naruto dari kejauhan. Kiba selalu menghibur Hinata ketika ia sedang murung.

"Naruto kembalikan buku milikku!"

"Haha... Rebut kalau bisa! Kau terlalu sering baca buku nanti jadi kutunya buku!"

Sakura berlari kecil mengejar Naruto saat mereka melewati kerumunan pejalan kaki. Sepulang sekolah mereka selalu pulang bersama kadang ditemani Kiba dan Hinata juga.

Sakura membulatkan mata ketika seorang remaja menatap tegas kearahnya. Tepat di halte Sakura diam membeku karena tatap yang selalu ia takuti kini Sakura kembali lihat. Naruto hanya celingak-celinguk karena mencari Sakura yang ia tinggal entah seberapa jauh.

"Sakura mana ya?"

Naruto kembali dan berlari agar cepat menemui Sakura. Naruto memicingkan mata ketika melihat kearah halte bis.

"Hn, kau susah sekali dihubungi, aku butuh hiburan."

"Kita sudah putus."

"Putus?"

"Iya kita putus aku sudah mengirimu sms. Aku lelah dengan hubungan kita Sasuke karena kau.."

"Aku keras padamu itu hakku Sakura, apa kau tidak suka hah!"

"Kau Sasuke ya?"

Sakura membulatkan mata terkejut dengan suara yang tidak asing. Ketika Sasuke berbalik melihat Naruto, Sakura hanya bisa tersenyum.

"Hn."

"Naruto, buku.."

"Ini buku mu Sakura."

Naruto memberikan buku dan sekilas melirik Sasuke dengan cara yang mengerikan.

"Aku dengar semuanya. Kau jauhi Sakura, atau-."

"Atau apa?"

Brak!

Naruto mendaratkan tinju tepat mengenai pipi Sasuke. Sasuke tersungkur duduk di bangku halte sambil menyekat darah yang mengalir dari hidungnya.

"Naruto apa yang kaulakukan!"

"Ayo Sakura kita pulang." ucap Naruto saat mengandeng Sakura untuk pergi dari halte yang sepi.

"Naruto kau keterlaluan sekali harusnya kau jangan memukul Sasu-."

Naruto mengecup bibir Sakura, ia pergi dengan kedua tangan dibelakang kepala sambil bersiul seakan tidak terjadi apapun.

Dak!

"Aduh!"

Naruto mengaduh saat buku yang Sakura pegang mendarat ke kepala Naruto.

"Dasar pencuri kesempatan!"

"Kabur!"

"Naruto sini kau jangan lari!"

Mereka berdua kembali ceria dan melupan kejadian barusan. Sasuke yang masih duduk di halte ia hanya bisa melihat layar smartphone miliknya dan membanting. smartphone nya ke lantai marmer sampai smartphone miliknya hancur.

#The_End

Jangan kyk Sasuke ya nanti Sakura kalian sedih terus Naruto muncul dihidupnya hihi...