Exceeding Love: Reincarnation.
.
.
Disclaimer : Suikoden is Konami's.
Warning : AU, OOC, OC, Random, etc.
.
.
Luc membuka matanya perlahan. Aroma obat-obatan yang begitu khas, pemuda itu langsung tahu jika ia berada di klinik sekolah. Perlahan ia mencoba mendudukan tubunya, dengan tangan sebagai tumpuan. Kepalanya masih terasa berat, Luc memutuskan untuk bersandar sejenak. Kedua mata olivenya masih menyapu ruangan klinik. Tidak merasakan kehadiran siapapun, Luc menghela napas. Sepertinya dokter Tuta sedang pergi. Luc mulai menapakkan kakinya di lantai, berjalan perlahan ke arah jendela yang terbuka. Satu tangannya memegangi pinggiran jendela, sementara satu tangan lain memegangi kepalanya. Luc mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi membuat kepalanya kembali sakit. Kedua matanya ia pejamkan, merasakan hembusan angin yang lembut. Angin itu seperti memulihkan fisik Luc. Suasana hening itu begitu menenangkan. Menghela napas perlahan, selanjutnya Luc berniat untuk pergi dari klinik, setelah ia berhasil mengumpulkan semua nyawanya.
Kriiett… suara pintu klinik dibuka. Langkah kaki cepat tiba-tiba mendekat. Dari belakang, tubuh Luc dipeluk oleh seseorang. Itu Sasarai. Pemuda itu seperti berbicara sesuatu, tampak khawatir dengan saudara kembarnya sendiri. Luc tidak punya tenaga besar untuk meronta. Kakak kembarnya itu memeluknya semakin erat.
"Syukurlah, Luc. Syukurlah!" seru Sasarai sembari memutar tubuh Luc menghadap ke arahnya. Kedua mata miliknya berkaca-kaca, dan raut wajahnya terlihat lega, "Kau demam sangat tinggi sampai malam tadi." Ucapnya lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya Luc, wajahnya masih terlihat pucat. Sasarai menuntun Luc untuk duduk di pinggir kasur klinik. Selanjutnya, Sasarai duduk di sampingnya.
"Kau tiba-tiba pingsan saat Tuan Nash pulang. Marina yang membawamu ke klinik dan segera memberitahuku." Jelas Sasarai, "Selanjutnya, kau dirawat dokter Tuta di klinik selama tiga hari."
"Tiga hari?" sahut Luc tidak percaya, "Maksudmu aku tertidur selama tiga hari?" lanjutnya.
Sasarai menggeleng, "Kau sempat sadarkan diri, lalu berbicara aneh." Jawab Sasarai, "Tentang dunia abu-abu dan… tentang kembali hidup? Mungkin mimpi buruk."
Kedua mata Luc membulat, pemuda itu mencoba kembali mengingat. Tidak. Luc sama sekali tidak bisa mengingatnya. Tidak seperti mimpi-mimpi sebelumnya yang begitu terlihat jelas, kini Luc sama sekali tidak bisa mengingat kembali mimpi yang dialaminya. Sasarai menghela napas, maklum. Kakak kembar Luc itu menepuk pundak Luc pelan. Luc menoleh ke arahnya, kedua mata olive itu memandanginya dengan khawatir, namun tetap tersenyum.
"Kalau ada apa-apa, bilang saja padaku, ya?" ucap Sasarai lagi, "Luc tidur lagi saja, aku hanya ingin mengecek keadaanmu…" lanjutnya, kemudian Sasarai berdiri, "Hari ini masih ada rapat OSIS, tapi aku akan segera menemuimu lagi. Cepat pulih, ya?"
Luc mengangguk. Setelah melihat Sasarai pergi, pemuda ash-brown itu menidurkan tubuhnya kembali. Kedua matanya masih memandangi langit-langit ruangan. Tik tik tik. Telinganya hanya bisa menangkap suara detik jam, serta suara angin yang kembali berhembus. Ditolehkan kepalanya ke arah jendela, bermaksud melihat langit. Pepohonan yang bergerak karena angin, itulah yang dilihat. Kedua matanya seakan memandang jauh, entah ke mana. Tiba-tiba Luc mengingat satu ucapan dalam mimpinya.
Aku pun hanya memanfaatkanmu, Sarah… Maafkan aku dan terima kasih…
"Sarah?" gumamnya, tidak terasa air mata jatuh perlahan dari kedua matanya, "Kenapa aku menangis?" gumamnya lagi, pemuda itu menyeka air mata dengan kedua punggung tangannya. Tidak berhenti, tapi semakin deras. Dadanya terasa amat sesak. "Khhh… berhentilah…"
Luc menutupi wajahnya dengan selimut, lalu membalikan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Pemuda itu sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. "Berhentilah… sesak…" rintihnya, kini tangannya meremas baju yang ia kenakan.
Luc merasakan kehadiran seseorang di samping, duduk di pinggir tempat tidur. Jika itu dokter Tuta, ia tidak akan duduk di tempat tidur. Kepalanya terasa ringan ketika ia merasakan elusan lembut dari tangan kecil. Rasa sesak di dadanya pun perlahan menghilang. Luc segera membuka selimut dan membuat gadis mint yang mengelus kepalanya terkejut. Keduanya saling berpandangan.
"Marina." Tegur Luc dengan pandangan tidak suka ketika tahu kepalanya dielus seperti itu, "Apa yang kau lakukan?"
Marina melihat ke arah lain, "Ma-maaf. Habis saat masuk ke sini aku mendengar suara tangis…." Jawabnya, "Terdengar sedih sekali…"
"Jangan bilang pada siapa-siapa, awas kau!" ancam Luc.
Marina tersenyum kecil, "Dulu saat pertama kali aku tinggal bersama Nona Leknaat… saat aku masih kecil, ketika aku mimpi buruk… seorang anak laki-laki selalu mengelus kepalaku sampai aku tertidur." Ucap Marina tidak memperdulikan ancaman dari Luc, "Walau wajah dan ucapannya dingin, tapi dia benar-benar memperdulikan sekitar… Hatinya begitu lembut, ia tidak mau orang lain menderita." Lanjutnya, "Bahkan beberapa tahun kemudian, dia menyelamatkan seorang gadis kecil dan merawatnya hingga dewasa… Dia bilang dia ingin memperlihatkan dunia pada gadis kecil itu, seperti Nona Leknaat memperlihatkan dunia padanya."
Luc mengernyitkan dahinya, "Kau bicara apa sih?" tanya Luc heran.
"Aku juga ingin melihat dunia bersama mereka berdua," Marina terdiam dan menunduk, "Tapi… setelahnya takdir berkata lain… Kami berpisah untuk selamanya. Berapa kali pun aku mencoba untuk menyelamatkan keduanya dengan kekuatan rune…. Tapi nyatanya takdir tidak bisa diubah."
Luc terdiam, mendengarkan. Kemudian, Marina menatap pemuda itu dengan tatapan sedih, "Luc. Terima kasih sudah terlahir kembali."
.
.
Sasarai bersama dengan anggota OSIS yang lain memulai rapatnya. Di sana, Sasarai memutuskan untuk menceritakan kejadian seminggu lalu. Firasatnya buruk setelah mendapat kabar terbaru dari Nash melalui seekor burung pembawa pesan. Kabar yang diberikan Nash bahwa bukan hanya kota itu saja yang diserang monster mengerikan, namun yang hanya bisa membuat monster hilang tanpa jejak hanya di tempat sekolah itu berada. Kerajaan mencurigai jika ada dalang dibalik semua itu, lebih buruknya yang dicurigai jika sekolah New Leaf mengajarkan sihir terlarang seperti yang digunakan penyihir wanita dahulu. Kemungkinan terburuk, akan terjadi pencarian besar-besaran dari pihak kerajaan di sekolah tersebut. Sasarai tidak ingin melibatkan seluruh siswa. Pemuda itu juga tidak ingin sekolah terlibat lebih jauh.
"Maksudmu… Pihak kerajaan akan menggeledah tempat ini? Bukankah sudah ada perjanjian jika Kota ini saja yang akan dibiarkan oleh pihak kerajaan? Tidak ada satu pun yang bisa menganggu wilayah ini, ini tempat netral 'kan?" tanya Hugo tak percaya. "Bahkan orang dari negeri lain dapat dengan bebas bersekolah di kota ini."
"Lebih buruknya lagi, bisa-bisa warga yang tidak tahu apapun akan dilibatkan." Timpal Chris, gadis perak itu bertopang dagu, memikirkan sesuatu.
"Seseorang dari dimensi lain…" gumam Thomas yang memegangi kepalanya, "La-Lalu kita harus apa?" ucapnya panik. "Ka-kalau nanti kita diperbudak oleh kerajaan bagaimana?"
"Kalian tahu sendiri 'kan? Kerajaan yang sekarang begitu kejam bahkan dengan penduduk aslinya sendiri. Perjanjian seperti itu pun tidak akan mereka pedulikan." Kata Caesar kemudian menguap karena mengantuk, "Kita tidak boleh panik, santai saja."
Dios berdeham, "Tampaknya rapat ini akan memakan waktu yang panjang, akan kubuatkan teh."
"OOOII! Ini bukan waktunya minum teh, dasar kau mancung!" sahut Hugo kesal.
"Tenanglah Hugo, tenanglah." Sahut Caesar yang kini menempelkan dagunya di atas meja, "Sasarai, keadaan akan lebih buruk lagi jika keberadaan kau dan Luc diketahui pihak kerajaan."
"Kenapa?" tanya Chris bingung, "Ada apa dengan Sasarai dan Luc?"
Sasarai tersenyum kecil, lalu tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Y-Ya… Jadi sebenarnya aku dan Luc ini putra mahkota dari Raja sebelumnya yang dikudeta hahaha… Hebatkan?" ucapnya lalu tertawa garing.
Mendengar jawaban Sasarai, semua anggota rapat terdiam, hening. Sementara, Caesar hanya menguap kembali dan memejamkan matanya sebelum kericuhan di ruangan itu terjadi.
"APANYA YANG HEBAT?!" teriak Hugo semakin kesal, pemuda blonde itu menggebrak meja. "KAU SEHARUSNYA SUDAH DIUMUKAN MATI KAAN? KENAPA HIDUP LAGI?" lanjutnya sambal menunjuk-nunjuk Sasarai kesal.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?!" sambung Chris kemudian menepuk dahinya dan menggelengkan kepala tanda tidak percaya. "Kerajaan sekarang 'kan benar-benar memburu anggota keluarga raja yang dulu…"
"HEEEE-?" sementara Thomas bingung bukan kepalang, "Lalu apa yang harus kita lakukannn?" ucapnya lagi panik.
Sementara Dios memandangi Sasarai semakin kagum, "Tuan Sasarai memang bukan orang biasa." Pujinya. Sepertinya Sasarai-complex Dios semakin akut.
.
.
Luc masih duduk di atas tempat tidur klinik, kini ia membaca sebuah buku catatan pelajaran yang dibawakan oleh Sasarai tadi pagi. Pemuda ash-brown itu masih belum boleh keluar dari klinik karena belum pulih seutuhnya. Luc masih sering merasa pusing ketika mengingat mimpi miliknya yang seakan nyata. Kedua matanya menangkap kata demi kata yang tertulis di buku catatan itu. Daripada terus mengingat kejadian dalam mimpi, Luc berpikir lebih baik jika ia mengalihkan diri dengan membaca. Materi yang dipelajari oleh para siswa dan siswi selama Luc tidak masuk adalah pilihan yang baik. Terlebih, catatan milik Sasarai mudah sekali dimengerti. Luc menghela napasnya panjang setelah halaman terakhir selesai ia baca. Pemuda itu menutup buku catatan milik kakaknya, dan bermaksud kembali berbaring. Kedua matanya dipejamkan, namun sesosok gadis blonde terus menghantuinya.
"Sarah." gumam Luc yang kemudian membuka kembali matanya itu, "Yang kuingat itu namanya… Apakah benar mimpiku itu adalah kenyataan?"
Luc mengernyitkan dahinya, ia meletakkan tangan kanannya di atas dahi. Merasakan suhu tubuhnya sendiri. Normal. Luc menghela napas sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Pemuda itu menyelinap keluar klinik, mengendap dan memeriksa keadaan. Aman. Dengan masih mengenakan pakaian klinik, Luc berlari kecil ke arah sekolah New Leaf. Pemuda itu bermaksud menemui Marina yang memberinya petunjuk.
Luc, terima kasih telah terlahir kembali.
Ucapan itu menjadi petunjuk jika mimpi yang selama ini dialami Luc adalah hal nyata yang pemuda itu alami di kehidupan dahulu. Maka pemuda itu ingin memastikannya kembali. Namun, langkahnya terhenti ketika mendapati sesosok pria berpakaian serba hitam menyeringai di hadapannya. Luc terbelalak ketika pria itu berlari dengan cepat dan mengarahkan dual-sword tepat di leher pemuda itu. Luc sama sekali tidak bisa menghindar, begitu cepat dan otaknya masih mencerna apa yang terjadi. Pria itu terkekeh dan membisikan sesuatu pada Luc.
"Tempatmu bukan di sana, Luc. Khukhukhu…" bisiknya, sorot matanya begitu tajam dan senyumnya begitu menyeramkan, "Kau yang berniat menghancurkan dunia tidak pantas berada di sini khukhukhu…" lanjutnya.
"Menghancurkan… Dunia?" ucap Luc, matanya masih menyoroti sesosok pria itu.
Tiba-tiba pria itu melompat mundur sebelum hantaman listrik mengenai dirinya. Gadis berambut mint yang Luc cari segera berlari dan memasang badan melindungi pemuda ash-brown itu. Gadis itu terlihat geram melihat sosok pria serba hitam itu. Sementara itu, pria serba hitam di hadapan mereka tertawa terbahak-bahak dan sangat menyeramkan.
"Jangan percaya dengannya, Luc." Ucap Marina yang meremas tongkat sihirnya, "Pergi dari sini, Yuber!" seru gadis mint itu.
"Pergi?" sahut Yuber meremehkan, "Kau yang hanya manusia biasa memerintahku? Khukhukhu…" lanjutnya, "Sebentar lagi negeri ini akan penuh kekacaukan dan pertumpahan darah, mana mungkin aku pergi. Khuhuhuhahahaha." Pria itu kembali menghindar ketika Marina melancarkan serangan.
Luc terus mengamati keadaan, tubuhnya masih tidak mengizinkan dirinya untuk menggunakan sihir. Tetapi satu yang Luc tahu… pria itu berbahaya. Tidak. Dia amat berbahaya. "Marina, kau tidak bisa menang melawannya." Kata Luc yang memegang pundak Marina, "Aku bisa merasakan aura hitam dari pria itu."
Marina mengangguk, gadis itu bermaksud melakukan teleportasi sedari tadi. Namun, tidak ada celah. Pria itu, Yuber, tidak memberikan kesempatan sedikit pun. Benar saja, tiba-tiba Yuber sudah berada di hadapan mereka dan mengayunkan dual-sword miliknya yang berhasil menghempaskan Marina dan Luc secara bersamaan. Keduanya jatuh tersungkur ke tanah.
"HAHAHAHA" gelak tawa Yuber semakin menjadi, "Aku tidak akan kalah dari manusia biasa," ucapnya setelah ia berhenti tertawa, "Ini hanya salam, Luc. Pertemuan berikutnya kau akan bergabung denganku dan si penyihir itu, Windy. Khukhukhukhu…" Sesaat setelahnya, Yuber menghilang dengan portal sihir miliknya. Sementara Luc dan Marina masih berusaha untuk berdiri dari serangan Yuber tadi.
"Siapa… dia?" tegur Luc pada Marina yang masih terduduk lemas, "Apa… maksudnya aku akan bergabung dengan…?" Gadis itu hanya terdiam. Akibat melindungi Luc dari serangan Yuber tadi, tubuh Marina terluka namun gadis berambut ikal tersebut segera menyembuhkannya dengan sihir.
Kemudian, Marina menatap Luc, tatapannya cemas. Luc bisa merasakan hal yang amat menyeramkan akan menimpa negeri tempatnya tinggal. Marina berdiri dan mengulurkan tangannya pada Luc. "Aku akan menceritakan semuanya… pada kalian semua." Ucapnya.
Luc menyambut uluran tangan Marina dan mendapati Sasarai dan anggota OSIS lainnya yang terlihat terengah-engah napasnya. Mereka nampak berlari jauh untuk memastikan keadaan Luc. Menyaksikan pertarungan yang berat sebelah itu. Sasarai segera berlari memeluk Luc tanpa memerdulikan napasnya yang hampir habis itu.
"Syukurlah…" ucap Sasarai yang tahu-tahu sudah menangis terharu, "Kalau kau sampai kenapa-napa lagi… aku tidak tahu harus berbuat apa." Lanjutnya lagi.
"Syukurlah…" gumam Chris yang juga berjalan menghampiri Luc, diikuti rekan OSIS yang lain.
"Saat ada ledakan kami segera berlari ke arah klinik." Ucap Thomas sambil memegangi dadanya, ia merasa lega.
"Sasarai langsung meneriakan namamu tahu, Luc!" sambung Hugo dengan seringai menyebalkan diikuti tawa Caesar.
"O-Oi. Aku tidak apa-apa—" sahut Luc sebal. Sasarai mengangguk senang dan pemuda berparas tampan itu tersenyum lebar melihat adiknya, sementara Luc hanya membuang muka tidak mau melihat wajah Sasarai karena malu.
Sasarai lalu melihat ke arah gadis mint yang tersenyum kecil memperhatikan saudara kembar itu, "Marina… kau yakin akan menceritakan semuanya pada kami?" tanya Sasarai meyakinkan gadis yang berasal dari dimensi yang berbeda dengan mereka itu.
Marina mengangguk yakin, "Sudah waktunya kalian mengetahui hal yang sebenarnya." Jawab Marina sembari memandangi mereka satu persatu dengan sorot mata yang begitu serius.
.
.
Sosok pria serba hitam tiba-tiba muncul di halaman istana. Pria itu, Yuber, berjalan menelusuri lorong-lorong dengan tiang tinggi. Beberapa penjaga istana yang berpapasan dengannya segera menunduk dan tidak berani untuk bertemu mata dengan pria itu. Selanjutnya, Yuber berjalan memasuki altar istana, sampai ia menemui sosok seorang wanita yang duduk di atas singgasana. Wanita itu pun berdiri dan menuruni tangga, menemui Yuber yang tersenyum menyeringai. Wanita itu berdiri di tepat di hadapan pria berambut blonde itu.
"Bagaimana, Yuber? Kau sudah menemui anak itu?" tanya sang wanita.
Yuber mengangguk, "Ya, seperti dugaanmu dia ada di sana."
"Begitu, fufufufu." Wanita itu menoleh pada seorang pria yang sedang ditahan, tangannya diikat dan para penjaga istana mengawalnya, "Jelas, kau berbohong, Tuan Nash."
Nash menatap wanita itu sedikit takut. Kepalanya menunduk menyesal. Bukan karena menyesal telah membohongi pihak istana, namun menyesal tidak bisa menyelesaikan masalah itu hingga Sasarai dan Luc dalam bahaya. Wanita itu berjalan menghampiri Nash, dan mengangkat dagu pria tersebut. Senyuman jahat tergambar dari wajah wanita itu. Nash merasakan hawa pembunuh yang begitu besar.
"Yuber, kau urus anak ini." perintah wanita itu.
Yuber menyeringai dan mengeluarkan dual-sword miliknya, "Dengan senang hati, Windy."
~to be continued~
Selamat pagi/siang/sore, semuanyaaa~ Sudah Exceeding Love sudah chapter 4. Bagaimana chapter kali ini~? OvO)/ Selama mengerjakan chapter ini playlistku selalu putar November Rain loh~ Entah mengapa jadi lancar gitu ngetiknya. Selain itu kebanyakan di playlistku semuanya lagu-lagu galau X"D AH dari pada saya mengoceh terus, sampai jumpa di chapter 5~
