-_ Ui Present _-
000 SUBTITUTE LOVE 000
Pairing : SasuFemNaru, GaaFemNaru
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC maybe, FemNaru, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan
Rated : T aja
Summary :'Apa ini hukuman untuk pendosa sepertiku Tuhan? Apa sudah tak ada lagi bahagia yang tersisa untukku? Mengapa semua yang ku cintai meninggalkan ku Tuhan, ku mohon bebaskan aku Tuhan.'
READ N RIVIEW PLEASE
DON'T LIKE DON'T READ
4. Big Brother's Love
FLASHBACK
"Nah sekarang Naru-chan senang, tak marah lagi pada Kaa-san hmm?" Tanya seorang wanita cantik berambut semerah darah yang tengah duduk di belakang kemudi. Jemari lentiknya menelusuri surai keemasan sang anak yang sempat ngambek karena permintaannya tak dituruti.
"Naru senang sekali Kaa-san, setelah ini Naru janji akan giat belajar jadi bisa lulus dengan nilai memuaskan. Agar bisa membanggakan Kaa-san dan Otou-san juga bisa pamer pada Oni-chan, he..he.." Janji bocah berusia 11 tahun itu pada sang Kaa-san, perasaannya sangat bahagia karena sang ibu menurutinya untuk mengikuti kontes menyanyi yang diselenggarakan oleh sebuah mall besar itu meski sang ayah menentang keras hobi menyanyinya.
"Tapi Kaa-san bangga sekali lho sama Naru-chan, Naru-chan bisa mengalahkan banyak peserta dan keluar sebagai juara. Kaa-san bangga sekali…." Ucap sang Kaa-san sembari mengecup pipi chubby sang putri tunggalnya.
"Apa Otou-san juga bangga padaku Kaa-san?" Tanya Naruto lirih, ia menatap piala yang dipangkunya sedih. Sang ayah tak pernah menyukainya menyanyi, bahkan untuk menyanyi disekolah sekalipun sang ayah tak pernah setuju.
"Otou-san juga pasti bangga dengan Naru-chan, Otousan kan sangat saying pada Naru-chan." Ucap Khusina –ibu Naruto- berusaha membesarkan hati sang anak.
Ketenangan yang damai itu terpecah dengan adanya bunyi sebuah tembakan disertai laju mobil yang tak lagi normal. Khusina yang sadar terjadi sesuatu yang aneh memeluk Naruto erat, sang supir mencoba menginjak rem untuk menghentikan laju mobil itu gagal karena rem mobil blong.
Naruto hanya memandang wajah ibunya yang panic, ia meneratkan pelukannya pada sang ibu.
"Semua akan baik-baik saja Naru-chan. Tenang saja, ada Kaa-san disini." Ucap Khusina menenangkan sang buah hati yang mulai ketakutan. Sejujurnya ia takut, ia takut tak bisa lagi bersama suami dan kedua buah hatinya.
Sedangkan laju mobil semakin tak terkendali hingga sebuah truk tampak melaju kencang dari arah berlawanan dan menghantam mobil yang mereka tumpangi dengan keras.
"Kaa-san bangun, Kaa-san bangun." Naruto menggoncang tubuh ibunya pelan, ia bisa melihat kepala sang ibu banyak mengeluarkan darah. Sedangkan ia baik-baik saja karena sang ibu yang mendekapnya erat.
"Naru-chan..sa..yang, ka..mu..ha..rus..ba..ha..gia ya?." Ucap Khusina lalu mencium kening sang anak dalam untuk terakhir kalinya. Naruto menatap nanar wajah sang ibu, tak ada hembusan hangat dari sang ibu. Ia hanya bisa menatap kosong, hingga akhirnya kegelapan menyapanya.
FLAHBACK END
Naruto menangis dalam diam, air deras yang mengucur dari shower kamar mandinya bercampur dengan air asin yang tak mau berhenti dari kedua belah matanya. Ia menggenggam erat seragam sailor yang masih lengkap pada dadanya. Sakit hanya satu rasa itu saja yang menyeruak keluar tak terkendali lagi.
'Kaa-san aku tidak bahagia, kenapa Kaa-san tak mengajakku juga. Aku sakit Kaa-san, disini sangat sakit.' Air mata itu mengalir lebih deras lagi, tak dihiraukannya bibir yang hampir membiru beku. Sepulang dari pantai tadi ia segera mengurung diri dalam kamar mandi, kebiasaan yang selalu ia lakukan di awal kepergian sang bunda.
Mungkin ayahnya benar, Ia yang telah membunuh ibunya sehingga sang ibu memilih membiarkannya hidup dan tersiksa. Mungkin ini balasan dari Tuhan untuknya, karena jika ia tak memaksa mengikuti kontes menyanyi impiannya sang ibu masih didunia ini.
'Apa ini hukuman untuk pendosa sepertiku Tuhan? Apa sudah tak ada lagi bahagia yang tersisa untukku? Mengapa semua yang ku cintai meninggalkan ku Tuhan, ku mohon bebaskan aku Tuhan.' Naruto menggenggam kalung Rosario bermanik biru hadiah dari Kyuubi 2 tahun lalu erat, hingga akhirnya kegelapan menyergapnya tapi sebelum itu ia masih bisa melihat manik merah sang kakak menatapnya khawatir.
"O..ni..chan."
/..
/..
Kyuubi POV
"O..ni..chan." Aku masih bisa mendengar panggilannya ketika kami masih kecil dulu sebelum ia benar-benar pingsan di pelukanku. Segera ku angkat tubuhnya yang sudah benar-benar basah ketempat tidurnya dan menyelimutinya.
Aku segera ke luar menuju ruang tengah tempat kedua sahabatku berada.
"Konan bantu aku." Ucapku pada gadis berambut biru yang tampak bingung melihat penampilanku yang acak-acakan dan basah. Namun akhirnya ia mengangguk dan mengikutiku disusul dengan Pain.
Kami berlari cukup cepat kearah kamar Naruto.
"Astaga Naru-chan, apa yang terjadi Kyuu?" Tanya Konan padaku melihat keadaan Naruto, ia segera mengambil handuk dan mengeringkan rambut Naruto.
"Aku akan mengganti bajunya, kalian keluarlah." Perintah Konan, aku hanya bisa mengangguk dan melangkah keluar.
Kududukan tubuhku disofa ruang baca yang tepat diantara kamar Naruto dan kamarku. Aku mendongak sejenak, merebahkan kepalaku pada sandaran kursi berwarna pastel kesukaan Naruto. Aku mengusap wajahku keras, aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Aku seharusnya mampu menjaga Naruto, melindunginya dari keterpurukan, namun apa? aku sekarang harus melihat lagi adik kesayanganku terpuruk untuk kesekian kalinya. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa menjadi penonton, aku tak bisa melindungi Naruto seperti janjiku pada Kaa-san.
Aku menutup mukaku mencoba menghalau perasaan sakit yang mulai mendera setiap aku gagal melindungi Naruto, sebuah tepukan menyapa punggungku. Aku tahu pasti Pain sahabat terbaikku, dapat ku rasa sebuah perasaan hangat melingkupiku ketika sahabatku dari kecil memelukku, mencoba mengurangi beban dari pundakku.
"Semua akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkanku.
Kyuubi POV END
/..
/..
"Mengapa Naru-chan seperti ini lagi?" Tanya Konan setelah ia selesai mengganti baju Naruto dan menempelkan plester turun panas.
"Aku tak tahu, ia masih baik-baik saja tadi pagi." Ucap Kyuubi, ia sungguh tak tahu mengapa Naruto seperti ini lagi. Terakhir kali Naruto seperti ini tepat peringatan satu tahun kematian sang ibu karena setelahnya ada Gaara yang selalu disamping Naruto.
"Kau harus lebih memperhatikannya, ia membutuhkanmu untuk menguatkan hatinya." Ucap Pain, menepuk bahu sahabat yang sudah ia anggap seperti adik sendiri yang tampak rapuh.
"Lebih baik kami pulang, kau butuh istirahat Kyuu. Dan jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku, mengerti?" Ucap Konan sembari memeluk Kyuubi ringan layaknya seorang ibu pada anaknya.
"Kau juga bisa menghubungiku sobat." Ucap Pain.
"Terima kasih." Ucap Kyuubi tulus, ia memang hanya menampakkan kerapuhannya pada kedua sahabatnya ini. Sahabat yang selalu menemaninya meski ia sedang susah ataupun senang.
Kyuubi melangkahkan kakinya kea rah kamar rubah kecilnya, sebuah kamar sederhana bercatkan kuning pucat dengan perabotan seperlunya. ia melanakah lebih gelap, ia menatap dalam wajah pucat adiknya yang tenang.
"Apa yang membuatmu seperti ini lagi Naru?"
"Jangan buat aku tampak seperti kakak yang tak berguna untukmu." Kyuubi mengusap pelan surai emas sang adik yang dibiarkannya panjang dibanding dengan beberapa tahun lalu yang tak pernah melewati pundak.
Kyuubi tak beranjak, ia merebahkan dirinya disamping Naruto, sungguh ia tak bisa meninggalkan Naruto walau selangkah. Ia tak mau kehilangan lagi, tidak lagi.
Ia menatap teduh wajah sang adik disampingnya, ia kecup dalam kening hangat Naruto yang terlapisi plester turun panas. Dan mulai memejamkan mata, ia merasa sangat lelah dengan semuanya. Tangan hangatnya ia tautkan erat dengan tangan kecil yang dulu selalu digandengnya. Dan kegelapan melelapkannya, meringkankan semua rasa sakitnya.
/..
/..
Sepasang kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sepasang bola mata shappire indah yang menerjap-ngerjap pelan mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dalam matanya. Ia menyadari ada sesuatu yang berat melingkari menolehkan wajahnya, tampak wajah yang selalu menemani harinya. Berada disampangnya, melingkarkan tangan kirinya pada tubuh Naruto posesif.
Naruto membelai pelan wajah yang tampak tenang sekali ketika tidur, siapa sangka wajah tenang ini akan sangat ketus ketika bangun nanti. Naruto menyusuri wajah sang kakak, ia dapat melihat dengan jelas raut wajah lelah dan kantung mata yang sedikit menghitam.
"Gomen Oni-chan, aku selalu menyusahkanmu." Mata biru indah itu mulai dihiasi genangan air yang siap meluncur kapan saja. Naruto segera saja menghapus air matanya sebelum terjatuh deras.
Ia melepaskan pelukan sang kakak pelan, tapi baru disadari tangan kanan Kyuubi menggenggam erat tangannya. Ia tersenyum kecil, ia melepaskan genggaman itu perlahan tak ingin membangunkan Kyuubi yang pasti kelelahan menjaganya.
Naruto melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkannya dengan dapur dan ruang tengah makan. Ia melanglahkan kakinya pasti, rumah ini sudah dihuninya dengan Kyuubi lebih dari 4 tahun bersama. Rumah yang dibeli Kyuubi dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.
Setibanya di dapur minimalis ini, segera ia memakai celemek dan mulai melihat isi kulkas. Memutuskan untuk membuat nasi goreng saja karena tak banyak bahan yang tersisa dikulkas. Naruto mulai memotong bahan-bahan dengan lincah, dan mencampurkannya di penggorengan.
Jangan heran jika Naruto sangat lincah dengan kegiatan memasak, karena memang sejak tinggal dengan Kyuubi Narutolah yang memasak, meski diawal masakannya sedikit hancur. Namun Kyuubi tak pernah protes.
Segera saja Naruto menghidangkan makanannya di meja tempat mereka merangkai miniature milik Kyuubi dulu. Naruto baru akan membangunkan Kyuubi namun nampaknya tak perlu karena Kyuubi sudah menuruni tangga dengan tampang mengantuk dan rambut acak-acakan.
"Pagi Kyuu." Salam Naruto sambil melepaskan celemeknya dan meletakkannya dimeja dapur.
"Pagi, huaah.. ngantuk sekali." Ucap Kyuubi disela-sela kegiatan menguap dan peregangan tubuh paginya.
Segera saja Kyuubi duduk pada Zaisu yang tersedia disusul Naruto duduk disampingnya. Mereka makan dengan diam tak ad sepatah kata apalagi candaan yang biasanya terlihat.
"Hari ini tak usah pergi sekolah, aku akan menghubungi Nenek sihir supaya menijinkanmu tak masuk. Kita akan pergi ke suatu tempat." Ucap Kyuubi santai tanpa perubahan emosi berarti.
"Hmm, baiklah. Dan jangan panggil Baa-chan seperti itu Kyuu." Ucap Naruto mengoreksi kebiasaan Kyuubi yang suka memberikan julukan aneh kepada nenek mereka.
"Terserah." Ucap Kyuubi cuek.
/..
/..
Mereka baru sampai disebuah area pemakaman yang cukup jauh dari keramaian kota, mereka melangkah beriringan menuju sebuah makam yang sudah mereka hapal tempatnya. Angin dingin meniup cukup kencang melambaikan dress biru selutut yang digunakan Naruto, ia menata lagi syal kremnya yang berantakan karena tiupan angin.
Mereka tiba disebuah pusara dengan nisan marmer putih yang tampak terawat. Terukir jelas disana sebuah nama yang begitu mereka sayangi 'Namikaze-Uzumaki Khusina'. Kyuubi meletakkan lili putih kesukaan sang ibu yang tadi ia bawa. Mereka mengatupkan kedua tangan erat memanjatkan do'a dan kata-kata yang ingin mereka sampaikan pada sang ibu.
'Kaa-san maafkan aku, aku tak bisa menjaga Naruto dengan baik sesuai dengan janjiku. Aku sungguh merindukanmu Kaa-san, aku janji aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga Naruto. Aku janji Kaa-san, jadi Kaa-san tidurlah dengan tenang disana, tunggu hingga kita bersatu lagi. Aku mencintaimu.'
'Kaa-san aku sungguh merindukanmu .Maafkan aku karena tak bisa bahagia seperti pinta Kaa-san, semua kebahagiaanku seakan terus terenggut Kaa-san. Tapi Kaa-san tenang saja, aku akan berusaha bangkit demi Kyuubi. Dan mencari kebahagiaan seperti yang Kaa-san inginkan. Jadi lelaplah dalam lindunganNya Kaa-san, kami akan baik-baik saja. Aku mencintaimu.'
Mereka membuka mata perlahan, ada raut tenang dalam wajah mereka. Mungkin karena mereka berada begitu dekat dengan Kaa-san mereka.
"Bagaimana kalau kita mengunjungi suster Rin, ia pasti senang." Usul Kyuubi pada sang adik, ia sungguh-sungguh menginginkan jiwa sang adik lebih tenang dengan mengunjungi tempat yang dulu sering mereka kunjungi dengan sang ibunda.
"Ya, aku merindukannya."
Mereka melangkah menjauhi tempat istirahat terakhir salah satu orang yang mereka cintai di iringi angin yang berhembus lembut seakan membisikkan kata penenang.
"Aku mencintai kalian, bersabarlah sayang sebentar lagi bahagia kalian akan datang."
/..
/..
Kyuubi memarkir mobil merahnya di pelataran panti asuhan 'Protect The Angel', dulu mereka sangat sering datang mengunjungi tempat ini bersama Kaa-san mereka, meningat dulu sang ibu juga dibesarkan di panti asuhan ini. Panti asuhan ini sangat asri terletak di dataran tinggi yang menampakkan pemandangan indah.
Naruto keluar mobilnya disusul dengan Kyuubi, ia menghirup dalam aroma segar khas dataran tinggi. Mereka melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan bercat hijau sari, tempat anak-anak panti asuhan tinggal. Naruto membuka perlahan pintu kayu itu perlahan, segera saja ia mendapat serbuan dari anak-anak itu. Sedang Kyuubi terlebih dulu mengambil bingkisan yang mereka bawa.
"Kak Naruto." Ucap mereka serempak berebut memeluk Naruto, Naruto tersenyum senang melihat tingkah laku adik-adik kecilnya.
"Apa kabar semua? Kalian tidak nakal kan selama ini?" ucap Naruto membimbing mereka untuk kembali ke tempat mereka tadi. Mereka memposisikan diri di sebuah karpet, duduk melingkar bersama Naruto.
"Kakak kemana saja? Sudah lama kakak tidak kemari." Ucap Inari salah seorang penghuni panti.
"Kak Naruto kok sendiri kak Gaa.." Sebuah sikutan dari Inari menghentikan pertanyaan Konohamaru, disusul tatapan tajam dari seluruh anak panti.
"Aku datang, ada yang mau makanan?" Kyuubi datang dengan beberapa kantung plastic dikedua tangannya, melihat itu anak-anak segera saja menghampiri Kyuubi dan berebutan.
"Naruto." Sapa seorang dari arah belakang. Naruto menoleh, tatapannya bertemu dengan seseorang yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
"Suster Rin." Ucap Naruto dan memeluk suster yang selalu menemaninya bermain ketika kecil itu. Rin yang tahu kegundahan hati Naruto mulai mengelus rambut Naruto sayang.
"Ada apa anakku? Apa ada yang mengganjal dihatimu?" Naruto menggeleng pelan dalam pelukan suster Rin.
Naruto melepaskan pelukannya perlahan dan memandang sahabat ibunya itu, ia memberikan senyum tulus tanda ia baik-baik saja.
"Kak Naruto, ayo bermain bersama kami." Panggil Inari yang tampak sedang asyik bermain dengan Kyuubi dan anak panti lain.
"Aku permisi dulu suster." Salam Naruto dan melangkahkan kakinya menyusul Inari. Suster Rin mengangguk singkat, ia tahu anaknya ini tengah menghadapi cobaan yang tak kunjung usai.
'Kuatkan dia Tuhan.' Do'a Suster Rin.
/..
/..
Naruto tampak khidmat berlutut didepan altar gereja yang berada dalam kompleks panti asuhan. Tautan erat kedua telapak tangannya menghantarkannya dalam do'a khusyuk pada Sang Pencipta. Matanya menatap sendu.
"Tuhan aku berlutut disini, memohon padamu. Berikanlah tempat terindah untuk Kaa-san disurga, rawat ia seperti dulu ia merawatku dengan cinta."
"Tuhan aku percaya setiap hal adalah jalanMu untukku, setiap langah ini telah kau tulis rapi. Tapi ku mohon, kuatkan aku dalam liku hidup ini. Gandeng tanganku menuju waktu terindah yang Kau beri untukku."
"Tuhan rasa sakit ini, angkatlah dari hatiku. Bukakan mata Tou-san agar melihat juga kepedihanku, aku mencintainya Tuhan, sungguh meski ia telah menorehkan segala sakit ini. Tuhanku berikan jalan terang pada arah ku menuju Gaara, aku merindukannya dengan segenap rasa cintaku. Temukan dia dan kembalikan ia kepelukanku Tuhan. Aku sungguh mencintainya, Amin."
Naruto segera berdiri seusai do'anya, ia melihat jam biru yang melingkar cantik ditangannya. 15.00, sudah 2 jam lalu Kyuubi pamit karena ada keperluan mendadak di kampusnya, hingga ia harus menunggu disini.
Ia melangkahkan kakinya meninggalkan gereja menuju bukit yang ada disamping gereja, bukit tempat ia dan Gaara dulu menghabiakan waktu bersama ketika mengunjungi panti asuan ini. Namun seseorang terlebih dulu berdiri di bukit itu, Naruto mendekatkan dirinya, mencoba melihat siapa gerangan yang berdiri disana.
"Sasuke-san." Ucap Naruto pelan, Sasuke yang merasa namanya dipanggil menoleh.
"Naruto, sedang apa kau disini?" Tanya Sasuke.
"Aku memang sering kemari sejak kecil, kau sendiri?" Tanya Naruto mensejajarkan badannya dengan Sasuke sembari memandang pemandangan indah yang disuguhkan di puncak bukit.
"Tak ada, hanya ingin mengunjungi tempat yang diceritakan seseorang." Jawab Sasuke pelan.
"Owh." Keheningan menyelimuti mereka, tak ada yang berniat memecah keheningan yang membuat mereka merasa nyaman. Mencoba menikmati semua pemandangan indah dengan angina yang membelai lembut wajah mereka.
"Kau tahu, tempat ini begitu indah dengan segala ketenangannya, denting suara gereja dan kasih sayang yang terpancar jelas dari setiap wajah para suster ditambah dengan keriangan para anak panti. Begitu menyenangkan." Ucap Sasuke pelan namun cukup jelas untuk didengar Naruto.
Naruto menatap Sasuke terkejut.
'Kata-kata itu.'
"Kau tahu Naruto, tempat ini begitu indah dengan segala ketenangannya. Denting suara gereja, segala kasih yang terpancar dari para suster dan keriangan anak panti. Semua begitu indah, disertai kau yang ada disisiku."
"Kata-katamu sangat indah, Sasuke-san." Ucap Naruto seraya mengalihkan pandangannya dari Sasuke.
'Mungin hanya kebetulan.' Batin Naruto mencoba meyakinkan dirinya kalau sosok yang ada dihadapanny adalah sosok yang berbeda.
'Dia bukan Gaara Naruto.'
TBC_-
Chapter 4 selesai dengan kegundahan hati yang tak usai-usai. Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya.
Sebenarnya aku sedikit kecewa karena riview yang ku dapat lebih sedikit dari chapter lalu. Sungguh aku ingin tahu pendapat kalian tentang fic ini. Mungkin dengan saran-saran atau kritik yang membuatku dapat memperbaiki cara menulisku supaya semakin baik. Tapi tetap saja, aku tidak boleh memaksa kalian juga.
Aku mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mau meriview, membaca atau hanya membuka fic ini. Tanpa kalian sungguh tak ada semangat menulis fic ini.
Dan karena libur telah usai mungkin aku akan sedikit lebih lama untuk update fic, mungkin seminggu sekali. Tapi aku akan tetap berusaha update cepat kok.
Balesan riview :
Mamitsu27 : tentang mengapa Tante -?- Khusina ninggalin Naru sudah dijelaskan diatas, kalau soal Gaara akan menyusul nanti.
Jimi-li : tenang fic ini akan terus dilanjutin kok, apa benar sedih? Syukurlah. Syuut, jangan keras-keras, kurang lebih memang seperti itu sih. He..he..
Nakamura Nezumi : gak akan bosen karena riview kalian adalah semangatku. Ini udah dilanjutin nih biar makin penasaran,he..he…
Imperiale Nazwa-chan : arigatou, udah panjang belum ya –lihat word yang sekitar 2600-. Baiklah sudah update gak lama kan?
DheKyu : Ne, kan udah kewajiban ku untuk menyelesaikan fic ini.
Farenheit July : terima kasih udah menikmati. Gaara baru nongol dichap-chap terakhir kemungkinan. Kalau untuk saat ini Cuma kilasan memori tenteng Gaara aja.
Nah segitu dulu, special Thanks untuk lagu-lagu Oppadeul yang selalu menemani setiap ketikan jariku.
MIND TO RIVIEW?
-_Uichan…..
