Married By Accident

Yang namanya berurusan dengan Akashi, memang jagonya makan ati. Bukan Mayuzumi tak merestui, tapi kalau begini juga bikin gregetan setengah mati!

Begitu juga Tetsuya yang merasakan hal senada dengan Mayuzumi.

Tetsuya masih merasa kesal atas peraturan-peraturan seenak jidat buatan Akashi. Begini-begini, Tetsuya juga punya benda yang menggantung diantara dua kaki.

"Pokoknya Tetsuya harus ikut bertemu Okaa-sama."

Yang ini masih normal. Tetsuya memang harus segera bertemu dengan calon mertuanya.

"Tetsuya tidak boleh bekerja."

Ya sedikitnya Mayuzumi setuju dengan pernyataan ini.

"Tetsuya harus tinggal di kediaman Akashi."

Oke, sebenarnya Mayuzumi sedikit keberatan kalau harus berpisah dengan adik kesayangannya.

"Tetsuya milikku, tidak boleh bertemu selain dari ijinku meskipun itu kau, kakak sepupu iparku!"

Kampret memang si bocah belang!

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Original Story milik Gigi

Main Cast.:

Kuroko Tetsuya

Akashi Seijuro

Mayuzumi Chihiro

Kiseki No Sedai

Warn :

T+

Yaoi a.k.a Shounen Ai.

Romance, Family, Etc.

MPreg.

AU! Entertaint.

OOC.

Typo.

Hati Tetsuya rasanya parah. Kehamilannya yang sudah masuk bulan ketiga sudah bisa dipastikan menjadi salah satu factor naik-turunnya emosi sang calon ibu muda.

"Tetsuya, jangan meremat rambutku." Mayuzumi tahu kalau adik kesayangannya ini tengah dongkol setengah mati dengan sang calon suami. Kesal karena tanpa tedeng aling-aling dan persetujuannya, tiba-tiba sudah muncul saja undangan akan pernikahan mereka.

"Nii-san tidak tahu perasaanku!"

'Dan kau juga tidak tahu betapa sakitnya tangan ringkihmu mencoba mencabuti rambutku.' Batin Mayuzumi. Dirinya memilih untuk memendam keluhan dalam hati daripada mahkota dan kokoro-nya ini teraniaya dalam taraf yang lebih ngeri.

Pernah sekali dirinya protes dengan ngidam Tetsuya yang memilih menjambaki rambutnya daripada rambut bapak calon anaknya, dan saat itu juga, hatinya lebih teraniaya dengan kata-kata tajam Tetsuya.

"Rambut uban begini apa yang kau banggakan, Nii-san? Sudah beruntung aku masih mau menyentuh rambut ubanmu!" Omel Tetsuya kalap ketika itu, "Harusnya rambutmu berwarna merah, bukan beruban seperti ini!" Lanjut si calon ibu muda tanpa rem di mulutnya.

Saat itu juga, pertama kali dalam hidupnya, Mayuzumi terjangkit patah hati yang tengah nge-hits di jajaran remaja ababil masa kini. Rambut yang dibanggakannya sedemikian rupa, telah dinodai dengan kejamnya oleh adik kesayangan sekaligus orang yang dia harapkan mau jadi partner incest di masa depan.

Pokoknya, setelah ini semua terlewati, Akashi harus membayar semua, termasuk bunganya! Hm, mungkin juga mutilasi atas surai merahnya, hahaha. Mayuzumi tertawa jahat dalam hati, mengikuti suara-suara khas pemeran antagonis yang sering muncul di TV.

"Nii-san masih waras kan?" Tanya Tetsuya dengan tampang innocent-nya yang memukau hati,

-tapi hanya ditanggapi dengusan kesal Mayuzumi.

"Kapan Akashi mengajakmu ke rumah orangtuanya?"

"Nii-san mengusirku?"

"Bukan, Tetsuya. Undangannya saja sudah tersebar, setidaknya mintalah restu orangtuanya. Meski anaknya kurang ajar, orangtuanya tak salah apa-apa."

"Kalau mereka tidak merestuiku bagaimana?"

'Tenang saja, aku tak keberatan menikahimu,' Pengennya sih gitu jawabnya, tapi melihat campuran bapaknya yang kemungkinan akan mendominasi si calon bayi hingga 90%, dirinya tak bisa, tak menyanggupinya. Bukannya ketemu anak yang bikin awet muda, tapi malah cepet mati sih, iya.

"Tentu saja aku akan menuntutnya," Jawab Mayuzumi akhirnya, "Enak saja mau menanam benih, tapi tak menunggu panennya."

"Memangnya kapan Sei-kun beralih pada sektor pertanian, Nii-san?"

Mayuzumi memandang adiknya yang masih stagnan dengan tampang tanpa dosanya, menghancurkan atmosfir yang sebenarnya sedang penuh drama.

Suasana tempat syuting itu terasa pengap. Udara seakan jadi rebutan oleh manusia-manusia yang tengah kalap. Teriakan, makian hingga kata-kata berdefinisi binatang, seakan membelah udara tanpa jeda. Dan jelas, tak baik bagi anak yang berada pada usia yang suka meniru apapun yang didengarnya.

Akashi yang saat itu berdiri disamping Tetsuya menarik kedua tangan mungil itu untuk mendekap perutnya yang mulai membesar di sebelah kanan dan kiri, sedangkan tangan Akashi menutup telinga sang calon istri.

"Apa yang Sei-kun lakukan?"

"Aku tidak mau anakku mendengar kalimat yang tidak tahu adat,"

"Aku bukan anakmu." Ujar Tetsuya sambil berusaha menjauhkan kepalanya dari kedua tangan Akashi. Sebenarnya Tetsuya tak keberatan kalau saja wajah Akashi tak sedekat ini! tangannya sih memang menutup kedua telinganya, tapi tak usah menempelkan kening dan hidung juga!

"Ya, kau ibu dari anakku." Akashi menyeringai, men-fokuskan pandangan pada mata jernih itu, sebelum menatap mesum pada bibir merah muda yang menggoda. Sedikit lagi.. sedikit-

"Ehem!" Mayuzumi yang memang sedari tadi mendampingi adik kesayangannya berdehem keras, untuk menyadarkan bahwa dia ada. Tepatnya, dia juga disana. Hatinya menyumpah kesal pada makhluk bersurai merah. Kampret memang, dirinya sudah tidak bisa sabar kalau dari tadi dianggap obat nyamuk bakar.

"Chihiro-san, ah maaf, aku lupa kalau kakak sepupu iparku ada disini," Kata-katanya sih ada maafnya, tapi tampang Akashi ituloh yang bikin gregetan. Menyeringai menyebalkan.

"Lagipula, Chihiro-san. Sebaiknya kakak segera cari calon pacar, jangan merecoki dua insan yang lagi kasmaran," Sekarang tangan Akashi mendekap Tetsuya dari belakang, dan semakin terlihat mesra saat tangan putih itu mengelus lembut perut si calon bayi berada.

Apa-apaan?! Lagipula siapa dua insan yang lagi kasmaran? Dan siapa juga yang mau jadi kakak si merah! Sumpah, kalau saja bukan si kepala merah yang menanam benih di janin adiknya, sungguh dia tak akan segan mengirim Akashi ke alam baka.

"Sei-kun, malu." Tetsuya berusaha lepas dari dekapan calon suami yang menglaimnya dan sekarang malah mengecup samping lehernya.

"Tidak usah malu, ini akan jadi rutinitas kita," Ujar Akashi sambil menyentuhkan hidungnya pada tengkuk Tetsuya. menghirup dengan buas aroma yang menguar dari sana.

"Tapi-"

"Ssst.. Nanti setelah ini, ikut denganku. Kita bertemu orangtuaku."

"Ung," Tetsuya mengangguk kikuk dengan tampang malu-malunya.

Kokoro Mayuzumi benar-benar hancur. Adiknya.. adiknya yang biasanya nada bicaranya nyelekit begitu, berubah layaknya gadis pemalu. Apalagi nada mendayu itu digunakan saat berbicara dengan Akashi! Akashi yang itu, yang kalau ketemu bisa membuat mulut, tangan dan kaki maju.

Sasuga efek si calon bayi, bisa memutar balik kepribadian Tetsuya jadi telak begini. Tahu begitu, Mayuzumi ikut saja membuahi. Laki-laki bersurai abu-abu itu mengangguk-angguk, setuju atas bisikan setan yang sedang merajuk.

- Dan saat dia tersadar, ada 2 makhluk yang sedang melihatnya dengan tatapan yang satu 'Apa kau sudah gila?' dari Akashi dan tatapan 'Apa Nii-san baik-baik saja?' dari Tetsuya.

Deru mobil itu membelah jalan. Tidak macet, tapi tak juga lenggang. Suasana dalam mobil masih terasa sunyi, saat kedua mulut masih dalam mode terkunci.

"Kenapa diam saja, Tetsuya?" Tanya Akashi membuka pembicaraan.

"…"

"Kau gugup?"

Yaiyalah gugup, belum pernah pacaran, dekat dengan seseorang, sekalinya dapat, langsung tahap punya momongan dan lamaran!

"Tenang saja, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Ujar Akashi sambil mengecup punggung tangan Tetsuya.

"Kenapa Chihiro-nii tidak diajak?"

"Dia akan aku persiapkan menjadi manager-ku menggantikan Reo yang akan aku pindah untuk mengurusi perusahaan."

"Tapi, Chihiro-nii itu manager-ku, Sei-kun."

"Selama Tetsuya hamil hingga anak kita berumur 5 tahun, aku tidak mengizinkanmu bekerja." Dan selama jangka waktu itu, akan ku buat kau enggan menginjakkan kaki di dunia perfilman lagi. Kau milikku, sayang. Dan tak akan rela membagimu dengan siapapun itu, Lanjut Akashi sambil tertawa licik dalam hati.

"…"

"Tetsuya dirumah, merawat anak kita, dan menungguku pulang kerja." Kali ini Akashi tersenyum tulus, saat dia membayangkan keluarga impiannya.

Dan Tetsuya yang terkena senyum tulus Akashi yang langka, hanya bisa terpana. Dia terlihat begitu tampan.. dan mempesona. Parahnya, membuat dirinya terkena salah satu ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta.

Setelah perjalanan selama 25 menit terlewati, sampailah mereka pada tujuan yang membuat hati Tetsuya makin doki-doki. Mansion utama Akashi. Mewah, megah dan tentu saja indah. Kalau begini ceritanya, tak heran deh kalau sang pewaris tunggal, jadi incaran paling dicari dari penjuru negeri.

"Ayo turun." Ajak Akashi sambil membuka pintu mobil untuk Tetsuya saat sudah sampai di depan pintu utama.

Tapi Tetsuya masih terdiam ditempatnya. Masih tak bergeming untuk menuju langkah selanjutnya. Batinnya bergejolak, mendukung dan menentang.

Apa benar tidak apa-apa? Apa tidak masalah kalau penikahan ini dilangsungkan? Maksudnya, kalau saja calon bayi mereka tidak ada, apa ini juga akan tetap terlaksana? Pikiran Tetsuya makin menjadi-jadi, hingga tak sadar kalau air mata mulai mengalir di pipi. Tangan yang sedianya akan digandeng Akashi, ditarik kembali.

"Tetsuya? Hei, kau kenapa?" Wajah Akashi memang tidak ada perubahan, tapi ada nada khawatir dalam kalimatnya.

Tetsuya tak menjawab, tapi tangisnya semakin deras.

"Tenang, Sayang." Akashi menarik Tetsuya dalam pelukannya. Mendekapnya erat, seolah ikut menegaskan kalau semuanya akan baik-baik saja.

"…" Tetsuya masih diam, namun semakin tenggelam dalam pelukan.

Akashi melepas pelukannya. Laki-laki tampan itu berjongkok, kedua tangannya menangkup lembut pipi yang paling menggemaskan menurutnya seraya menyeka air mata.

"Aku tidak mengerti," Akhirnya bibir mungil itu membuka, "Apa pernikahan ini harus terjadi?"

Akashi tak tau kalau pertanyaan singkat itu membuat hatinya ngilu, "Tetsuya tidak mau menikah denganku?"

"Aku tidak mengerti." Kembali Tetsuya menyuarakan kalimat yang sama, ketidakmengertian yang masih bersarang di otaknya.

"Ayo ikut denganku,"

Kedua tangan itu terjalin meragu. Tepatnya Tetsuya yang masih enggan untuk mau. Mata azure dan heterokrom bertemu, mencoba saling bertelepati agar bisa menyatu.

"Apa tidak apa-apa?"

Akashi menggeleng, "Ayo ikut denganku. Akan ku jawab ketidakmengertianmu."

Tetsuya mengangguk. Jemari mungil itu mulai mengerat, menggenggam dan mencoba mengikat.

Pintu terbuka, menawarkan keangkuhan sejauh mata memandang. Ornament yang terpajang, dengan jelas menggambarkan tingkat kemakmuran. Mata Tetsuya jelalatan, ingin tahu sekaligus penasaran. Tempat ini memang indah, tapi bukan rumah impiannya kelak.

"Orangtuaku ada di gazebo taman belakang," Ucapan Akashi seolah menjawab pertanyaan tanpa suara yang dibatin Tetsuya, "Sebelum Tetsuya bertemu mereka, akan ku tunjukan sesuatu padamu."

Tetsuya mengangguk, dan mengikuti langkah sang tuan rumah. Sesampainya di lantai 2, langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu, pintu yang sedikit berbeda dari ruangan lainnya. Lebih indah, dan.. entahlah, ada semacam aura yang muncul dari dalamnya.

"Tetsuya, saat kita masuk nanti, tolong dengarkan semua penjelasanku."

"Apa yang ada di dalam, Sei-kun?"

Akashi memandang lembut laki-laki mungil yang merupakan orang yang diidamkannya, "Saa."

Ruangannya bernuansa biru menenangkan, sebuah kamar dengan ukuran yang cukup luas dengan barang-barang yang jelas berkualitas.

"Ini-"

"Ini kamarku, Tetsuya. Hanya kau yang pernah masuk kesini selain orangtuaku."

Mata Tetsuya mengamati lagi, mengelilingi tapi tak berharap banyak untuk bisa menelanjangi sampai matanya menatap dinding penuh pigura foto yang kalau ditamati lagi, itu dirinya sendiri.

"Sei-kun," Tetsuya masih merasa terkejut, foto-foto dirinya dengan berbagai angle dan ekspresi yang bahkan dirinya tak mempunyai. Dan.. oh, sederet barang-barang yang tak jelas bentuknya, yang menempati lemari mewah berbahan kaca itu adalah benda-benda yang pernah dia lemparkan pada Akashi saat rasa jengkelnya sudah mencapai ujung kepala. Benda yang dianggapnya tak lagi berguna, kini diperlakukan Akashi layaknya harta berharga.

"Aku mencintaimu. Aku tak tahu kapan, tapi jelas, jauh sebelum kau mengenalku."

"Tapi Sei-kun sudah beberapa kali berkencan," Tetsuya masih tak yakin, dan mencoba menolak fakta.

"Kencan?" Bibir itu mendengus, "Itu hanya setting-an. Beberapa kali kau juga hampir menjadi korban kencan setting-an, tapi aku pasang badan. Meski hanya setting-an, aku tak rela Tetsuya jadi milik orang."

Akashi menghela nafas, kemudian melanjutkan, "Dengar, Tetsuya. Aku sama sekali tak menganggap ini kecelakaan, bagiku yang tak terlalu percaya atas keajaiban, ini sesuatu yang menakjubkan. Aku bisa bersamamu, memiliki anak atas darahmu dan darahku," Akashi menutup matanya yang terasa panas, "Kau bahkan tak tahu, rasanya aku ingin melompat, meluapkan kegembiraanku."

Tetsuya tak menjawab, namun setitik air mata lolos dari kelopaknya. Benarkah ada yang mencintainya hingga seperti ini?

"Kalau anak ini tidak ada, apa kita akan menikah juga?"

"Aku menginginkanmu. Ingin memilikimu, sangat. Tapi aku tak bisa memaksamu, Tetsuya. Aku memang berharap, bisa melakukan 'hal itu' suatu saat nanti, saat kita sudah menikah. Tapi sekarang pun aku tak menyesal, justru aku berterima kasih." Akashi menggenggam kedua tangan sambil menatap erat mata Tetsuya. "Aku bisa bersamamu, memiliki keluarga impianku. Ini bahkan melebihi harapanku."

"Sei-kun," Tetsuya tak melanjutkan kata-katanya lagi, namun kedua tangan rampingnya memeluk erat leher Akashi dan masih dalam tangisnya, hatinya membisikan rasa terimakasih atas cinta luar biasa yang telah diterimanya dari laki-laki yang tengah dipeluknya.

Mungkin sekarang, dirinya belum mencintai Akashi. Ini terlalu cepat dan melebihi ekspektasi. Tapi, Tetsuya yakin, entah kapan itu terjadi, Akashi adalah pilihan hati.

"Tetsuya, mau kah kau menikah denganku? Mengizinkanku menjaga dan membahagiakanmu bersama anak kita?"

Tetsuya melepas pelukannya, kemudian matanya menatap heterokrom yang menatapnya teduh disana. Sorot mata itu memancarkan harapan yang begitu tinggi, meski raut wajah Akashi tak berubah sama sekali.

TBC.

Author's Note :

Ada yang mau nimpuk saya? Maafkan kalau ini super telat. Kemarin-kemarin saya terlarut dengan genre angst, dan takutnya pas saya lihat ff ini, malah saya ubah genrenya juga T.T (efek flirtation dan saya sampai bikin sequelnya sampai beberapa one shot -_-")

Ada yang mau ngobrol sama saya? Btw, kalo diinget-inget, saya nggak punya temen fujoshi :( hahaha. Kenal ff juga gara-gara nyasar kirain ini manga yang diubah jadi novel, dan saya jadi fujoshi gara-gara disini juga, wkwk. Temen yang suka anime ada, err nggak banyak sih, tapi ada. Kalo fujoshi, beneran nggak adaa!

Iusernem saya juga mau satu dibungkus :D. Daisy Uchiha wah, makasih loh ya udah ngingetin saya tentang apdet saya yang ngaret, hahaha. Maaf udah telaat, ini kelanjutannya semoga suka :D. Wulancho95 Iya Tetsuya mah udah beruntung banget inii. Atin350 yang ini udah kerasa belom? (sambil masukin roiko lagi) shirota strain, Shinju Hatsune, Eun810, Sofi Asat, Miss Ngiweung, Akiko Daisy, Night Kanaze, Mr. Oh94, Izumi H, Clarissillia, El Ree, Chayeon, SEIJURO cayang TETSUYA, Inah Sainah makasih, ini kelanjutannya semoga suka :D. Adelia santi iya nih saya semedi nya terlanjur tidur -.- maaf ya lama, ini saya lanjut lagii. Cheonsa19 hehe, namanya juga berharap incest dianya :P. Deagitap katanya orang hamil kan begitu, saya sih belum hamil, hahaha. Lanjut kok, udah hampir selesai ini, maaf banget yaa, nggak maksud nelantarin segini lama :(. AkariHanaa saya malah baru nyadar loh kalo nggak ada adegan gunting melayang, haha. AySNfc3 Udah saya bilangin tapi Tetsuya ngeyel, haha. SecretVin137 iya ini mau saya nikahin, biar cepet berkembang biak, wkwk. ObeyCarly iya dong, kudu cinta pastinya :D. Sayuri nggakpapa, komen dimana aja saya terimakasih :D. BlueAddict hahaha, salam kenal jugaa. Naelfatih iya panggil gigi ajaa :). Ssstt.. nanti saya pm ya, (sok terkenal, wkwk) biar kita bisa ngobrol, :D. Choikim1310 kayaknya bakal T deh, nulis rate M itu.. penuh dengan rasa, haha. Lhiae932 punya sih, tapi belum saya isi, hehe. Nah ini udah lanjut, semoga suka :)

Terimakasih buat supportnya ditunggu lagii ya dan terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.