Suasana di apartemen itu senyap. Hanya terlihat dua orang pria yang sedang berbaring diatas sebuah ranjang kamar utama. Memang tidak besar, tapi rasanya sangat menyenangkan saat berdempetan tanpa dihalangi sehelai benang apapun dengan orang yang kau cintai. Seokjin menyukai saat sensasi kulitnya bersentuhan dengan Namjoon. Ia tidak perduli dengan lengketnya badan mereka karena berkeringat ataupun rasa gerah saat Namjoon memeluk tubuhnya posesif.
Karena apapun tentang Namjoon, ia sangat menyukainya.
Matahari sudah bersiap kembali tidur, membiarkan bulan dan bintang berjaga diatas langit. Cahaya jingga mengintip dari tirai putih jendela, seolah malu malu memancarkan cahayanya. Suasana senja membuat kamar itu temaram. Dengan kondisi berantakan: baju bertebaran, bantal tergeletak dilantai, ujung seprai terlepas dan beberapa bungkus tissue bekas berjatuhan di sekitar tong sampah karena Namjoon tak berhasil melemparnya tepat sasaran, seolah menjadi saksi bisu atas panasnya kegiatan mereka diatas kegiatan mereka semalam
Seokjin terbangun lebh dulu, dia menemukan dirinya sedang berada di dalam pelukan Namjoon, seperti biasa. Suara dengkuran halus Namjoon terdengar sangat menenangkan, ia bahkan bisa merasakan dada pria itu naik turun seirama hembusan nafasnya. Dengan hati hati, Seokjin mencoba membenahi posisinya agar bisa berhadapan dengan Namjoon. tapi ternyata usahanya gagal karena pria itu menggeliat dan perlahan membuka matanya .
"morning princess." Namjoon berujar dengan suara parau, mata pria itu hanya terbuka sedikit. Masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Seokjin tertawa pelan."selamat sore, tepatnya." ya, mereka selalu bangun saat hari sudah sore jika sehabis melakukan 'ritual' malam mereka.
Namjoon menggeliat lalu meregangkan setiap sendi tubuhnya yang terasa pegal, membuat pria itu mendesah saat sendi sendinya berbunyi dan menimbulkan rasa melegakan. Seokjin bangkit dari ranjang tanpa mengenakan pakaian. Ia sendiri tidak bisa menemukan dimana kausnya. Sial, kamar ini berantakan sekali.
"sudah hampir malam, kau ingin makan malam apa?" Seokjin bertanya seraya membereskan kamar sekenanya sambil mencari kaus tidurnya yang entah ada dimana. Pria itu sibuk memungut tissue dan memasukannya ke tong sampah. Pemandangan Seokjin yang sedang menunduk tanpa memakai sehelai benang apapun sangat menggoda bagi Namjoon. astaga, lihat bongkahan bokong kenyal itu.
"malam? Apakah itu artinya aku bisa meminta jatah malam ku lagi?" Namjoon masih berbaring diatas tempat tidur dengan kepala yang ia sanggah dengan tangannya, menatap lurus lurus kearah Tubuh Seokjin yang terlihat sangat sempurna. Seokjin terkekeh tanpa membalikan badan.
"kau sudah mendapatkan jatahmu untuk 1 minggu kedepan." Penuturan Seokjin tersebut langsung disambut oleh desahan tak terima Namjoon. pria itu nyaris merengek, Seokjin tersenyum kecil saat mendengarnya.
"aku akan mandi lebih dulu lalu menyiapkan makanan." Sahut Seokjin begitu ia menemukan kausnya yang terlempar jauh dari ranjang. Ia memungutnya dan juga beberapa helai pakaian milik Namjoon, lalu melemparkan semua itu ke keranjang kotor di sudut ruangan.
"aku ikut." Namjoon bangkit secepat kilat dan Menyusul Seokjin yang sudah masuk kedalam kamar mandi. melanjutkan kegiatan mereka yang membuat Seokjin mendesah hebat di dalam pancuran.
SENJA
Pairings: NAMJIN
Cast: Namjoon, Seokjin
Rate: M
warnings: typos, cerita ga jelas. bikin ngantuk.
.
.
.
enjoy!
.
.
"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah hubungi beberapa saat lagi." Suara wanita diseberang sana terdengar jelas sekali. Seokjin bahkan hampir hafal dengan setiap intonasi wanita itu. sudah lebih dari 10 bulan terakhir, panggilan Seokjin dijawab oleh si wanita ini. Seokjin melempar asal ponselnya diatas meja. Sedikit merutuki dirinya karena mencoba hal yang ia tau tetap tidak akan berhasil
Seokjin lalu kembali mengalihkan fokusnya pada setumpuk kertas laporan yang berada di atas meja. Mungkin laporan bulanan ini bisa membantunya.
.
.
"bagaimana harimu sayang?" suara Namjoon terdengar dari seberang sana. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menelfon satu sama lain setiap hari. Sekedar bertanya bagaimana kesibukan keduanya di kantor. Meskipun mereka bisa melakukan itu saat kembali pulang ke apartemen mereka, tapi Namjoon lebih suka seperti ini. disaat kepalanya pusing dengan tekanan kerjaan, Suara Seokjin bisa menenangkannya saat itu juga. menyenangkan sekali bisa memiliki Moodbooster seampuh itu.
saat kembali ke apartemen, Namjoon tidak begitu suka bercerita banyak. Ia lebih suka menonton TV dengan Seokjin sambil meminum coklat panas, cuddling diatas sofa, membicarakan hal hal ringan. Atau jika esok libur, make out dengan Seokjin sampai pagi. Tidur pulas dan terbangun sore esok harinya.
"cukup sibuk, aku harus meeting dengan Tuan Jung nanti. Kau sendiri bagaimana?" kata Seokjin lembut meskipun suasana disekitar Seokjin sedang cukup berisik. Seokjin bekerja sebagai supervisor di sebuah restoran yang cukup besar di daerah Gangnam. Setiap hari ia harus menjadi watchdog dan pengarah anak anak bawahannya. Hari yang sangat melelahkan.
"lelah. Aku baru saja selesai meeting dengan GM-ku"
"lalu?"
"ya.. bukan pekerjaan jika tidak ada tekanan bukan?" kata Namjoon sambil terkekeh pelan. Meskipun Seokjin bisa mendengar suara tawa Namjoon, tapi ia bisa merasakan dengan jelas rasa lelah kekasihnya. Bekerja sebagai Center Manager di sebuah cabang perusahaan yang prestigious tentu menguras otak dan tenaganya. Seokjin tersenyum, ia ingin sekali memeluk Namjoon sekarang
"kau sudah makan?" tanya Seokjin saat ia sudah kembali ke ruangannya. Lepas dari hiruk pikuk kegiatan sibuk restoran.
"belum."
"makanlah, kau butuh makan banyak jika ingin berfikir keras."
"I need you. Maukah kau menyiapkanku makan malam?" Suara Namjoon terdengar lelah sekali. tapi Seokjin suka saat Namjoon mengatakan 'I need you' dengan intonasi yang menurutnya sangat seksi.
"kau ingin aku membawakannya ke kantormu?"
"tidak. dirumah saja. aku akan pulang cepat. Sampai bertemu di rumah sayang."
"baiklah. Sampai nanti."
Pip
Malamnya Namjoon menghabiskan berpiring piring makanan yang sudah dsiapkan Seokjin. tingkat stress yang tinggi membuat nafsu makan Namjoon jadi berlipat ganda. Setelah selesai, Namjoon menyikat gigi dan segera berjalan gontai kearah kamar.
"babyyy?" sedang asiknya memainkan busa saat mencuci piring, panggilan Namjoon terdengar dari kamar mereka. suaranya merengek dan sedikit menuntut. Seokjin mematikan keran airnya agar ia bisa mendengar lebih jelas suara Namjoon.
"yaaa?"
"kemarilah. Cepatttt"
"aku sedang mencuci piring sekarang." Namjoon tidak bersuara lagi. Seokjin baru saja mau menyalakan keran air kembali tapi suara derap langkah terdengar semakin mendekatinya. Namjoon menarik lengan Seokjin sampai pria itu berputar dan berdiri menghadapnya.
"I cant wait any longer, honey." Namjoon menggeram penuh nafsu dan menggendong Seokjin secara paksa ke kamar mereka. meninggalkan beberapa piring kotor yang akhirnya dicuci Esok Pagi.
.
.
~ooo~
Seokjin pulang larut sekali malam itu. ia bukan seorang yang gila kerja sebenarnya. Tapi setidaknya, menyibukan diir dengan pekerjaan bisa mengalihkan pikiran Seokjin dari masalah yang melandanya belakangan ini.
Seokjin masuk ke unit apartemennya. Kamar itu bersih karena suah dibenahi oleh pesuruh harian yang ia sewa. Menjabat sebagai Manager restoran yang sedang ramai ramainya, Seokjin merasa waktu can tenaganya terkuras. Tapi aneh, setelah tiba di apartemen, rasa kantuk dan lelahnya seolah menguap begitu saja.
Pada akhirnya, Setelah Mandi, Seokjin hanya duduk diatas sofa di depan TV, membaca majalah langganan yang akhir akhir ini belum sempat ia sentuh. Hanya suara kertas majalah yang beberapa kali di balik yang terdengar. Keadaan saat itu hening. Bahkan Seokjin bisa menangkap suara lembut khas Air Conditioner
Seokjin menghentikan kegiatan bacanya. Ia mengusap pelan permukaan sofa yang ia duduki. Rasa rindu itu kembali menyergap. Bahkan lebih menyakitkan.
.
.
Seperti biasa, dihari libur mereka, Seokjin dan Namjoon enggan untuk pergi berkencan keluar. Kedunya sedang lelah, dan bersantai santai di rumah tampaknya lebih menyenangkan. Sore itu, Namjoon dan Seokjin sedang sibuk menonton dvd marathon. Drama korea yang sedang ramai dibicarakan kala itu.
"sudah 5 tahun" Namjoon bergumam pelan. Pria itu berbaring dengan posisi kepala berada di pangkuan Seokjin. sesekali Seokjin akan mengelus pelan surai itu. atau mencium kedua mata Namjoon saat ia tertidur di tengah film.
"uhm?" Seokjin memelankan volume TV. Pemeran wanita utama sedang menangis nangis tidak jelas dijalan dan suara teriakannya sangat menggangu percakapan mereka.
"sudah 5 tahun kita bersama. apa kau menyadari itu?" Namjoon berkata tanpa melepaskan pandangannya dari langit langit apartemen. Ia tidak menatap Seokjin, atau menonton TV. Seolah sedang menerawang sebuah kenangan.
"ya… jika diingat ingat, sudah cukup lama."
Hening beberapa detik. Scene dalam drama bahkan sudah berganti. Namjoon kemudian mengangkat kepala nya dan bangkit duduk. Ia membenarkan posisinya agar bisa menatap Seokjin lebih jelas.
"apa kau berfikir untuk… kearah sana?" Namjoon bertanya serius. Membuat dahi Seokjin berkerut bingung.
"maksudmu?"
"menikah." Jawab Namjoon dengan lugas. Soelah apa yang mereka bicarakan sekarang sangat normal. Seokjin merasa jantungnya melewatkan satu deguban saat itu. ia kaget. sudah bertahun tahun mereka bersama dan Namjoon tidak pernah membicarakan soal ini sebelumnya. lalu kenapa tiba tiba seperti ini?
Seokjin pun berdehem, karena ia yakin suaranya akan tercekat . ia menarik nafas dalam dalam sebelum membuka suara"tak mudah menikah sesama jenis di Korea, Namjoon."
Namjoon tau itu, pernikahan sesama jenis bukanlah hal lumrah di Negeri Gingseng tempat mereka tinggal.
"jika aku bisa mewujudkan itu, apa kau mau menikah denganku?" Namjoon berkata lagi. Nada pria itu masih tenang seolah pembicaraan ini bukan lah pembicaraan berat. Seokjin menatap Namjoon sambil tersenyum miring
"kau sedang melamarku?" Seokjin tertawa remeh. Ia bukannya tidak ingin. Seokjin hanya tidak mau berharap muluk muluk
"tidak."
"lalu?"
"aku hanya bertanya Jin." Seokjin sempat merasa hatinya mencelos. Namjoon kembali bergeser, mengganti posisinya. Sekarang Namjoon tidak lagi duduk berhadapan dengan Seokjin, tapi pria itu bersender disofa dengan pandangan mengarah ke layar TV. Sejenak drama yang mereka tonton terlupakan begitu saja. Seokjin memutuskan untuk ikut kembali menonton drama tadi meskipun ia sudah tidak minat.
Hening beberapa lama. Keduanya sibuk dengan pikiran masing masing. hanya suara dialog sayup sayup yang terdengar dari TV. Seolah sedang mengejek pembicaraan mereka barusan, sekarang adegan drama menunjukan seorang wanita yang tengah dilamar pria disebuah taman yang cantik dan indah.
Sangat romantis.
"karena jika aku melamarmu, akan aku pastikan hal itu istimewa." Kata Namjoon serius tanpa memalingkan wajahnya. Melanjutkan ucapannya yang menggantung tadi. Seokjin menoleh kearah Namjoon yang masih menatap lurus lurus kedepan. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagiannya.
Menikah dengan Namjoon, adalah mimpi terbesar Seokjin
~ooo~
Esok paginya Seokjin bangun pagi pagi sekali. dari beberapa bulan terakhir pria itu tidak bisa tidur nyenyak, tak perduli selelah apapun kondisinya. ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur badannya di bawah pancuran. Matanya terpejam. Menikmati setiap sentuhan air hangat yang bergulir di kulitnya
.
.
Seokjin tersentak begitu ia merasakan tangan Namjoon memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan Namjoon sudah menanggalkan segala pakaiannya dari kulit mereka yang bebas bersentuhan. Tangan Namjoon bergerak liar, nafas Namjoon memburu di leher nya. saat pria itu menarik Seokjin lebih dekat, ia bisa merasakan kebanggan Namjoon yang menegang dan siap memasukinya. Seokjin berbalik, melepaskan rengkuhan penuh nafsu Namjoon. "kau ini kenapa?"
"waee? Apa tidak boleh?"
"ka-kau belum puas juga?" Pipi Seokjin bersemu merah, ia tidak pandai membahas kegiatan sex mereka. Itu hanya membuat dirinya semakin malu. Ditambah dengan kondisi Namjoon yang naked dan basah sedang berdiri tepat di depannya. Oh. Jangan lupa. Mr. P yang juga ingin diperhatikan dibawah sana. Alih alih tersenyum saat melihat tingkah lucu Seokjin, Namjoon malah menarik Seokjin mendekat.
"aku sedang banyak pikiran. Dan hanya dirimu yang bisa menenangkan ku Jin." Kata pria itu dengan nafsu yang memuncak.
"I want you. So bad." Lanjutnya lagi. Tak ada pecakapan apapun selanjutnya. Karena tepat saat itu, Namjoon mendorong tubuh Seokjin ke dinding dan menyerang bibir nya dengan brutal. Shower sex di hari tampaknya tidak buruk
.
.
Seokjin menyudahi mandinya cepat cepat setelah kegiatan masturbasinya selesai. Ia tidak bisa menahan hasratnya sendiri saat kenangan itu kembali teringat. Ia masih bisa ingat dengan jelas bagaimana tubuh kekar Namjoon, kejantanan pria itu yang melesak masuk ke dalam dirinya, desahan puas saat Namjoon mencapai klimaksnya. ia masih ingat jelas semua itu.
~ooo~
Saat itu sudah larut, Seokjin beranjak ke pantry dan mengambil sekaleng beer disana. Awalnya ia ingin meminum kopi. Tapi mengingat langit sudah malam, ia tidak mau kembali terjaga semalaman dan tidur dini hari. Seokjin perlu membenahi pola tidur nya akhir kahir ini.
Pria yang sekarang menjabat sebagai Branch Manager itu sebetulnya tidak pandai minum. Tapi akhir akhir ini, tampaknya sekaleng beer sudah berubah menjadi layaknya air putih bagi Seokjin : begitu dibutuhkan
.
.
"apa ini Namjoon?" Seokjin tidak bisa menyembunyikan rasa terpukau saat ia baru kembali bekerja. Biasanya Jika Namjoon tidak menjemputnya, pria itu akan pulang lebih dulu sebelum Namjoon dan bersiap menyediakan makan malam atau keperluan Namjoon yang lain. Tapi berbeda dengan hari ini, Namjoon lebih dulu sampai. Apartemen mereka disulap sedemikian rupa sampai terlihat seperti restoran romantis. Meja untuk berdua, dekorasi sempurna untuk candle light dinner, dan Namjoon yang berdiri dengan pakaian rapih.
Seokjin masuk kedalam sambil tertawa pelan. Bisa dikatakan, ia salah tingkah sekarang.
"hari ini ada yang spesial Jin. Duduklah sayang." Namjoon menghampiri Seokjin, mengambil tas dan coat kekasihnya lalu menaruh kedua benda itu cepat cepat. Ia bersikap layaknya seorang pelayan sekarang.
Seokjin duduk dibangku yang disiapkan Namjoon. ada makanan dan wine diatas sana. "ada apa?" ia langsung bertanya tepat saat Namjoon baru mendudukan dirinya di hadapan Seokjin.
"tenanglah, kau bahkan belum menyentuh makananmu."
"ah please Namjoon, aku sangat penasaran." Namjoon tertawa renyah sementara Seokjin masih dengan binar takjub nya. tak lama, tawa Namjoon mereda. "aku punya kabar untukmu?"
"kabar? Baik atau buruk?"
"tergantung kau menafsirkannya." Seokjin merespon kata kata Namjoon dengan kernyitan didahi, tidak mengerti. Namjoon menarik nafasnya, bersiap menjelaskan apa alasan dibalik ia bertingkah aneh seperti ini.
"jin, aku diangkat menjadi General Manager di salah satu Anak Perusahaanku.."
"woah.. itu kamar bagus Namjoon. Aku turut senang untukmu." Seokjin tersenyum lebar. Ia bahagia sekaligus bangga. Tapi ekspresi Namjoon agak berbeda dari miliknya. Pria itu tertunduk dan hanya tersenyum simpul
"tapi…"
"itu berada di Kanada. Dan aku akan ditarik kesana secepatnya." Senyum Seokjin perlahan memudar tanpa ia sadari, matanya yang membulat karena bahagia perlahan menjadi sayu. Entah kenapa, ia merasa sedikit lemas. Sadar dengan perubahan raut Seokjin, Namjoon memajukan dirinya dan meraih tangan soekjin yang bebas diatas meja,
"Jin, pikirkanlah, ini akan bagus untuk masa depan kita. Kau tidak perlu bekerja lagi. Aku akan membeli rumah mewah disana dan pulang padamu setiap malam. Menghabiskan waktu bersamamu sampai pagi. Kita bisa menikmati kebersamaan kita disana kan." Namjoon menjelaskan dengan sungguh sungguh. Menggenggam tangan Seokjin dengan erat. Seolah menjelaskan bahwa ucapannya tidak perlu diragukan.
"bukan itu Namjoon." lirih Seokjin dengan sebuah senyum miris.
"aku sangat sennag kau mendapatkan jabatan itu. kau telah bekerja keras. Kau pantas mendapatkannya."
"aku hanya tidak terbiasa dengan kenyataan berjauhan denganmu Namjoon. sudah 5 tahun kita bersama. bisa dikatakan aku terikat padamu." Genggaman Namjoon mengendur, ia merasa bersalah pada Seokjin. ia mengerti maksud pria itu. percayalah, Namjoon juga merasakan hal yang sama. berat sekali untuk meninggalkan Seokjin. tapi ada kalanya kau harus mengambil sebuah langkah besar yang bisa menentukan hidupmu. Sesekali, kau harus keluar dari zona nyaman. Dan itu yang Namjoon sedang coba lakukan sekarang.
"tapi tidak apa apa, maafkan tingkah kekanakan ku ini. pergilah sayang. Go get your dream." Kata Seokjin akhirnya, ia menatap Namjoon dengan tulus. Meskipun sulit, tapi apapun untuk Namjoon akan selalu ia dukung.
"mimpiku belum sempurna." Kata Namjoon lembut.
"saat semuanya sudah berjalan lancar, berjanjilah padaku untuk terbang ke Kanada. Tinggalkan pekerjaanmu. Tinggalah disana bersamaku." Genggaman Namjoon kembali mengerat. Intonasinya menuntut. Menuntut sekali. bahkan pria itu tidak berkedip saat mengatakannya.
"karena aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu, aku sangat mencintaimu."
Namjoon melepas genggamannya, ia bangkit dan menghampiri Seokjin. "dan aku ingin menghabiskan waktu sisa hidupku denganmu"
Jantung Seokjin berdegub cepat, apakah Namjoon berniat untuk…
Dan tepat saat itu, Namjoon berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru yang cantik. Ia membuka kotak beludru itu, menunjukan sebuah cincin yang terlihat sempurna jika melingkar di jari manis Seokjin. cincin berwarna perak yang indah.
"Kim Seokjin, will you marry me?" hanya sebuah senyuman dan mata berkaca kaca yang Seokjin tunjukan. Seokjin tidak melompat daro kursinya, ia tidak memekik, ia tidak histeris. Hanya sebuah senyum kebahagiaan yang tulus.
"I love you." Dan sebuah kecupan pun mendarat di bibir Namjoon, menjadi jawaban atas dari lamarannya.
.
.
.
.
.
.
Keduanya sudah berada di bandara malam itu, rasanya waktu bergulir cepat sekali. mereka belum siap untuk berpisah. entah kenapa hari itu waktu berjalan sangat cepat.
Namjoon akan bersiap masuk, yang artinya Seokjin tidak bisa mengantar lebih jauh
"cepatlah urus visamu Jin, dan kunjungi aku sesekali saat kau bisa. Aku akan menyiapkan tiketnya." Namjoon berkata (lagi). Hal itu sudah menjadi yang ke seribu kalinya untuk Seokjin. Namjoon berkali kali menegaskan Seokjin untuk mengurus Visa dan segera menyusulnya. Akhir akhir ini malah Namjoon terlihat lebih manja.
"yang terpenting jagalah dirimu." Kata Seokjin lembut sambil membenarkan coat Namjoon yang sedikit kusut. Sudah kebiasaan Seokjin mengurus Namjoon sampai hal hal terkecil.
"belilah makanan yang sehat. Jangan mencoba masak sendiri karena kau malah akan membunuh dirimu." Namjoon tertawa pelan. Seokjin benar, ia tidak pandai memasak. Mereka terdiam sebentar. Hanya saling tatap tanpa mengatakan apapaun. Dan akhirnya, Namjoon pun harus segera masuk.
"see you soon, my future husband." Namjoon menarik Seokjin kedalam pelukannya,
"see you. Take care sayang." Cukup lama mereka berpelukan. Baik Namjoon atau Seokjin tidak ingin melepaskan satu sama lain. Tapi waktu seolah tak berpihak pada mereka. Namjoon harus pergi sekarang. Pria itu beranjak dengan langkah berat. Seokjin berusaha menahan air matanya dan memberikan senyum terbaiknya. Meyakinkan Namjoon bahwa ia baik baik saja.
"Namjoon!" Panggil Seokjin tepat sebelum Namjoon menghilang dibalik kerumunan orang orang. Namjoon menoleh, dilihatnya Seokjin tengah berlari mendekat. Tanpa perduli dengan pandangan mencemooh orang orang sekitar, Seokjin mengalungkan tangannya di leher Namjoon dan mencium pria itu dalam dalam. Namjoon membalas ciuman itu dengan sepenuh hati. Ia bahkan membuat Soekjin berjinjit dan sedikit terayun. Saat pasokan oksigen yang berkurang memaksa mereka untuk melepaskan ciuman,Seokjin mendorong bahu Namjoon dan segera menjauhkan dirinya.
"aku mencintaimu. Sekarang, pergilah" sahutnya lalu berbalik dan segera pergi. Begitu juga dengan Namjoon yang melangkah masuk dengan sebuah senyum bahagia.
~ooo~
Seokjin menuju balkon apartemennya, menatap hamparan kota dimalam hari. Memang udara malam itu cukup dingin, tapi ia tak perduli. Beer yang ia tenggak tadi membuat badannya menghangat dan itu cukup baginya.
Mata Seokjin menatap lurus lurus kedepan. Dimana langit dan daratan seolah menyatu dan tampak seperti garis lurus. Ia tau, garis itu bukanlah batas terakhir dari kota Seoul, hanya sebuah ilusi optik yang membuatnya terlihat seperti menyatu.
karena sebenarnya, Dibalik itu masih ada hamparan luas. Dan jika matamu bisa menelusuri sejauh jauhnya, mungkin kau bisa menemukan Negara lain, entahlah, seperti kanada?
.
.
Kenyataannya, berhubungan jarak jauh tidak semudah yang ia pikirkan. Memang diawal awal, komunikasi mereka masih baik baik saja. Namun semua berubah ketika kesibukan dan pekerjaan menjadi alasan klasik yang selalu Namjoon lontarkan. Dan anehnya itu selalu ampuh.
Seokjin selalu mengerti. Atau mungkin, mencoba mengerti?
.
"Seokjin. maaf aku terlalu lelah kemarin. Banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku berangkat kerja dulu ya, sampai nanti. "
"nanti akan ku hubungi dirimu ya?"
"maaf, baru bisa kuhubungi, apakah kau sudah tidur?"
"Seokjin, besok aku ada perjalanan bisnis dan sepertinya akan sangat sibuk."
"Seokjin, maaf aku lelah, bolehkah aku tidur sekarang?
Dan semacamnya.
Seokjin hampir terbiasa dengan komunikasi singkat-padat mereka selama 6 bulan terakhir. ia mencoba mengalihkan rasa bosan dan rindu dengan pekerjaannya sampai akhirnya Seokjin berhasil diangkat menjadi Branch Manager sekarang.
Tapi layaknya sesuatu yang dipendam, lama kelamaan akan mencapai batasnya. begitu pula dengan Seokjin. ia merasa hal ini perlu dibicarakan dengan Namjoon. komunikasi mereka lama kelamaan menjadi tidak sesehat dulu. dan itu tidak baik untuk keduanya.
Malam itu, Seokjin memutuskan untuk bicara serius dengan Namjoon.
Seokjin berharap mereka bisa menemukan solusi atau setidaknya membaik, tapi ternyata yang ia dapatkan malah berbeda jauh.
"Seokjin. mengertilah. Aku sedang sibuk. Banyak hal yang harus aku urus. Apalagi proses beradaptasi tidak mudah bagiku." Namjoon berkata dengan nada jengahnya. Pria itu marah dan tidak suka Seokjin menuntut komunikasi lebih. Menurutnya 1 text sehari itu sudah cukup. Bahkan tak jarang Namjoon menghubunginya 1 minggu sekali.
"kau ingin aku meraih mimpiku kan? Kau ingin semuanya berjalan lancar dan kita sdgera menikah bukan? Aku mohon mengertilah." Seokjin menggit bibirnya, ia berusaha untuk tidak ikut meledak ledak seperti Namjoon sekarang. apalagi, mereka sedang berjauhan.
"ini hanya maslaah sepele."
Seokjin menghela nafasnya yang entah sudah keberapa. Sekarang, ia lebih merasa sakit hati ketimbang marah.
"jangan cengeng. Dan biarkan ku bekerja."
Dada Soekjin berdenyut nyeri. Nyeri sekali.
"untuk sekali saja Seokjin. jadikanlah dirimu berguna." Dan itu kata terakhir Namjoon sebelum panggilan ia matikan sepihak. Namjoon akan menjalani rapat penting, dan Seokjin malah merusak mood nya dipagi hari.
.
Pertengkaran memang sebuah hal biasa. Namjoon dan Seokjin pun juga sering bertengkar dan selisih paham. Tapi mereka bisa menyelesaikan nya baik baik. Tapi tidak dengan yang ini.
Berminggu minggu mereka tidak bertegur sapa. Tidak mengirim text, voice call, video call atau bahkan mengirim email. Awalnya Seokjin ikut ikutan tidak menghubungi Namjoon merupakan sebagai bukti rasa mengalahnya. Memberikan Namjoon apa yang ia inginkan. Meskipun Seokjin berharap Namjoon sadar bahwa ia sudah menyakiti perasaannya lalu mereka akan kembali normal seperti sedia kala.
Tapi kenyataannya sudah 3 bulan, Namjoon tidak menghubunginya. Seokjin memutuskan untuk terus mencoba menghubungi Namjoon lebih dulu.
Tapi nihil
Line, kakao talk, text, skype, voice call, email, bahkan menghubungi kekantornya, tapi semua nihil, Namjoon tidak bisa dihubungi.
Ia pergi ke kanada begitu urusan Visa selesai dan ia mendapat cuti, tapi Namjoon sedang berada di Vegas saat itu. sekertaris dikantornya mengatakan, Namjoon sedang menjalankan Bussiness trip dan akan kembali bulan depan.
Seokjin pasrah. Ia tidak bisa berada di kanada terlalu lama. Akhirnya, ia menitipkan sebuah surat untuk Namjoon. Seokjin memang ingin menuangkan banyak hal disurat itu, tapi aurungkan. surat itu pun hanya berisi permintaan maaf telah bertingkah kekanakan. Dan meminta agar Namjoon menghubungi secepatnya.
Tapi itu pun tak berhasil
.
.
Dan tepat saat ini, sudah1 tahun Namjoon mendiamkannya. dan ia harus memilih, apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
~ooo~
Seokjin mengepak kopernya, apartemen itu terlihat lengang dengan perabotan yang sudah berpindah kedalam box box besar yang sekarang sudah berada di apartemennya yang baru. Ya, Seokjin pindah. Ia merasa terlalu lama di apartemen ini hanya akan membuat dirinya treingat dengan Namjoon.
Kepindahan Seokjin bukanlah sesederhana pindah tempat tinggal pada umumnya. Sejujurnya ia tidak ada masalah dengan apartemen itu. ia sudah jatuh cinta malah.
Tetapi kenanagan yang terngiang disanalah alasan Seokjin pergi. Karena ia sudah memilih.
Seokjin menggeret kopernya dan mengedarkan pandangan untuk terakhir kalinya di apartemen itu. ia maish ingat dulu, saat Namjoon dan Seokjin bertemu. Keduanya masih bekerja di titik entry level. Menyewa apartemen tanpa perabotan. Tempat itu kosong, persis seperti yang terlihat sekarang. Hanya saja warna catnya berbeda.
setiap bulannya, Namjoon dan Soekjin membeli perabotan satu persatu. Seperti TV, sofa, meja dan lain lain. menabung bersama, mencicil bersama, Meniti karir dari awal bersama. Sampai akhirnya Soekjin menjadi supervisor dan Namjoon menjadi Center manager. Dan akhirnya, Apartemen itu pun mereka beli.
setiap tawa, tangis, keringat, marah dan desahan terekam jelas disana.
setiap malam panjang
setiap senja menangkan saat keduanya bersama.
semua berawal dari sana.
dan tidak ada tempat bagi Seokjin untuk tetap bertahan diantara kenangan kenangan yang semakin mencekik.
.
.
.
Seokjin masuk kedalam mobilnya di basement. Bersiap pergi sejauh mungkin. Kaki jenjang pria itu baru saja ingin menginjak pedal gas tapi kemudian terhenti. Disudut hatinya, masih ada rasa keberatan atas keputusan ini. Seokjin menarik nafas dalam dalam dan memejamkan matanya beberapa menit. bayangan Namjoon tengah tersenyum dengan latar belakang senja hari terbersit di benaknya.
"maafkan aku Namjoon" Seokjin berbisik pelan.
Seokjin membuka matanya, dengan mantap, ia memacu mobil itu pergi sejauh jauhnya. Cukup jauh sampai ia melewati jembatan dengan pemandangan sungai yang indah.
Cukup jauh sampai ia tidak tau ia dimana.
Apartemen Seokjin yang baru memang tidak dekat, tapi juga tidak sejauh ini. ia seharusnya sudah belok di beberapa blok terakhir tapi ia urungkan.
Untuk sekarang, Seokjin hanya ingin pergi berkendara, meninggalkan semuanya dibelakang
Meninggalkan kenangan mereka dan mencoba melupakan Namjoon
Karena Namjoon adalah senja.
Indah, memukau.. tapi tidak bertahan lama.
.
Seokjin sempat melirik ke jari manis ditangan kirinya, sebuah garis semu melingkar disana. Garis itu Tercipta karena cincin pertunangan yang selama ini ia pakai, sudah ia lepaskan.
Seokjin hanya berharap, kenangan yang berada disana juga ikut terlepas.
Meskipun ia sendiri tau, itu sangat sulit
.
Seokjin P.O.V:
"Kata orang bijak, waktu akan menjawab segalanya. Tapi aku tidak mengerti.
Apakah aku harus menunggu lagi agar waktu bisa menjawab mengapa Namjoon bersikap seperti ini?, menjawab kejelasan hubungan kita? menjawab mengapa ia meninggalkanku?
Atau malah waktu selama 1 tahun terakhir sudah cukup menjadi jawaban atas segala hal?
Silahkan sebut aku tidak setia
Silahkan sebut aku tidak berusaha
Silahkan sebut aku lemah.
Tapi pernahkah kalian berada disuatu titik buram yang kalian bahkan tidak tau harus kemana?
aku tau, kalian pasti berfikir aku lemah. menyerah pada 1 tahun terakhir, padahal kami sudah cukup lama bersama. rasanya tidak sebanding.
Tapi mungkin aku memang lemah. Tidak bisa bertahan 1 tahun tanpa kabar sedikitpun dari Namjoon.
Aku sudah berusaha apapun, mencoba mempertahankan komunikasi kita yang sudah rapuh, mencari tau kabarnya. Tapi lagi lagi, semua itu hanya berujung buntu.
Aku bahkan tidak tau apa dia baik baik saja? apa ia sehat? Apa ia berhasil mengejar mimpinya? Apa dia makan dengan baik? Tidur dengan nyenyak?
Apa dia bahagia?
Atau.. apakah ia masih mencintaiku?'
Lalu aku sampai disebuah kesimpulan bahwa Namjoon baik baik saja. terlalu baik baik saja sampai ia tidak membutuhkanku. Jika memang begitu.. aku hanya bisa turut bahagia untuknya
Dan sekarang giliranku, untuk mengejar kebahagiaanku sendiri.
hal itu hanya bisa aku dapatkan jika aku membuka halaman baru. melupakan halaman lama yang lusuh. melupakan semua dan menutupnya rapat rapat.
Jika memang ini yang diinginkan oleh waktu, aku yakin waktu akan memberikan kebahagian untukku nantinya.
Tuhan, jika memang kau mengingkan ku berpisah dengannya, tolong jaga dia dimanapun berada
.
Kim Namjoon, I've loved you, and I let you go.
.
.
.
END
Hello, its kimmy here.
Niatnya mau lanjutin Field trip Vkok sbeelumnya, tapi kayanya responnya kurang. Jadi aku lanjutin nanti aja kalo ada yang nyariin atau lagi mood. hahaha malah lanjutin oneshoot super absurd karena lagi bosen-_-
Ini beberapa pairings one shoot yang bakal aku update setelah ini:
KookJin
YoonMin
Vkook (entah lanjutin Field trip atau yang )
Oh iya, btw, ini ada one shoot prequel dan one shoot sequelnya. Jadi ada 3. Mungkin kalian berminat aku update itu juga? hehehe
Terima kasih sudah baca, ditunggu reviewnya.
With love, K:*
