Previous Chapter:
Setibanya kami di restoran ala Jepang itu, aku dan Hinata mengambil posisi duduk di dekat jendela. Hinata memesan Ramen begitu juga dengan aku. Tampaknya gadis itu sedang memikirkan cinta pertamanya yang sangat suka ramen, terlihat dari raut wajahnya yang sedih. Pria itu sudah tewas dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu.
Aku hanya tersenyum pahit. Kenapa susah sekali bagiku untuk menempati posisi di hatinya?
Warning: OOC, Alternative Universe
Disclaimer: Masashi Kishimoto
EsCream presenting:
Most Wanted
.
.
.
Chapter 4: APARTMENT
Sai's POV
Setelah makan siang yang kuakui tidak begitu memuaskan - aku lebih suka makan Sushi tuna tapi demi Hinata aku pesan makanan yang sama dengannya - akupun membawa Hinata ke basement mall. Chevroletku terparkir di sana. Sebenarnya aku rada takut digebuk Kakashi karena membawa mobil mewah itu ke Indonesia - dia minta aku bertingkah setidak mencolok mungkin - tapi mau bagaimana lagi, itu kan mobil termurah diantara semua koleksi mobilku.
Chevrolet Camaro merah itu kubeli sepuluh bulan yang lalu di sebuah pameran mobil di Boston seharga dua puluh tujuh ribu dollar. Bukan harga yang fantastis amat, sih. Malahan menurutku biasa aja. Tapi bagi orang Indonesia mobil itu sudah tergolong mobil mewah.
Aku meletakkan barang-barang belanjaan kami di jok belakang lalu membukakan pintu depan untuk Hinata. Setelah dia masuk, aku menutup pintunya dan menuju ke bagian kemudi. Hari sudah mulai siang dan kami harus sudah selesai meninjau apartemen sebelum sore hari tiba. Kami akan makan malam di hotel sebelum check-out, lalu akan pindah ke apartemen yang kami pilih.
Aku sudah menyimpan beberapa alamat apartemen yang tentu saja memiliki dua kamar di setiap ruang apartemennya. Hinata akan makin mudah kuawasi kalau kami tinggal di ruang apartemen yang sama.
Aku menyalakan Chevroletku. Mesin menderu dan mobil mulai bergerak meninggalkan basement Mall yang padat.
Kami menuju ke Apartemen U - Residence Karawaci Lippo Cikarang. Apartemen dengan letak paling menguntungkan, yaitu tepat di sebrang Sekolah Pelita Harapan, sekolah di mana Hinata dan aku telah terdaftar menjadi salah satu muridnya.
Perjalanan lumayan memakan waktu karena jalanan padat sekali. Harusnya aku bawa helipkopter saja kalau tau Indonesia semacet ini. Karena bosan, aku pun mengajak Hinata ngobrol sambil memutar lagu Classic kesukaan gadis itu.
"Kamu masih sedih soal Naruto?"
Kulihat bahu Hinata sedikit menegang mendengar perkataanku. Oh shit, kenapa aku malah ngomongin Naruto, mantan kekasih Hinata yang meninggal dua tahun silam? Jelas-jelas Hinata jadi sedih.
Hening beberapa saat, aku kira Hinata marah padaku karena nanya-nanya soal Naruto. Lalu ia bersuara, membuatku agak kaget karena rupanya dia menjawab dengan tenang, dan bahunya tidak lagi tegang, "Dia udah meninggal. Sekarang aku cuman akan sedih kalau terjadi sesuatu ke orang-orang yang aku sayang."
"Jadi kamu sedih kalau terjadi sesuatu ke aku?"
"Tentu aja, aku kan sayang kamu, Sai," jawab Hinata sambil tersenyum penuh kasih sayang yang membuat wajahku terasa panas.
Aku membalas senyumnya dengan tulus dan perasaan bahagia, bercampur sedikit rasa tidak tenang.
Aku juga sayang kamu, Hinata. Tapi lebih dari rasa sayang seorang kakak ke adik. Aku sayang kamu layaknya seorang pria pada kekasihnya. Aku gak yakin kamu juga ngerasain hal yang sama sekarang.
Setelah seperempat jam terjebak macet akhirnya mobilku bisa kembali bergerak leluasa. Kakiku lumayan pegal karna harus terus menginjak rem - taulah mobil matic. Akupun fokus mengemudi sementara Hinata asyik melihat ke arah jalan. Ia tampak ceria. Tampaknya memang ia tak lagi memikirkan Naruto. Well, itulah yang kuharapkan.
Pukul dua lewat sepuluh menit, kami pun tiba di lokasi tujuan.
Kami turun, meninggalkan barang-barang kami di mobil. Repot kan kalau keliling-keliling apartemen luas sambil bawa-bawa belanjaan berat. Kami masuk. Seorang pelayan wanita menyambut kami dengan tatapan mata genit ke arahku. Ya ampun.
Aku langsung menuju ke bagian customer service dan bertanya apakah tipe ruang 2 Bedrooms masih ada - dan kalau masih disewakan aku ingin melihat-lihat. CS itu lalu memanggil seseorang untuk membawaku ke ruang yang kumaksud. Pelayan pria itu dengan sopan pun mengajakku dan Hinata untuk naik lift, menuju lantai 53.
Kutarik Hinata untuk berdiri dekat denganku saat di lift, karena pelayan pria itu bertampang rada mesum.
Kami tiba di lantai 53 kira-kira tiga menit kemudian. Lift berdenting, pintunya terbuka, menampakkan lobby lantai 53 yang lenggang. Hanya terlihat seorang wanita yang sedang bertelepon di dekat pot bunga tak jauh dari lift. Kami beranjak keluar dari lift, mengikuti si pelayan berbelok ke kanan, menelusuri koridor panjang. Pelayan itu lalu berhenti di depan sebuah pintu dan membuka kuncinya.
"Ini, Sir, kamarnya," ujar pelayan itu sambil melirik-lirik ke Hinata. Orang ini minta ditendang ke lantai satu, ya!
Aku lagi-lagi menarik Hinata agar tidak dekat-dekat dengan pelayan itu saat kami berjalan melewatinya. Yang pertama kali kulihat saat aku masuk adalah sebuah jendela besar bertirai tebal di sebrang ruangan. Ruangan itu memiliki ruang tengah yang luas, yang sekalian dimultifungsikan menjadi ruang makan. Dapur berada tak jauh dari sana. Kamar-kamar terletak di bagian kanan. Saat aku cek kamarnya, masing-masing kamar punya kamar mandinya sendiri-sendiri. Boleh juga, meskipun jujur saja aku lebih ingin berbagi satu kamar mandi dengan Hinata.
Aku meninjau penuh ruangan itu. Keamanan dan kenyamanan adalah aspek utama. Aku menyibak tirai jendela di ruang tengah itu dan melihat hamparan kota Tangerang yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Jarak apartemen ini dari gedung lainnya lumayan jauh, dan jendela besar ini punya tirai tebal, jadi seorang sniper profesional pun bakalan susah untuk nembak ke sini.
Sip lah. Apartemen ini lumayan aman. Aku gak perlu ke kamar lagi untuk tau apa yang bisa dipandang dari jendela kamar. Aku tadi cuman liat-liat tapi sudah ingat betul - jendela di kedua kamar itu gak ditirai, kalau liat ke bawah ada kolam renang yang meskipun diliat dari lantai ke 53 tetep aja besar. Bisa dibayangkan luasnya kolam renang itu.
Soal kenyamanan, apartemen ini lumayan. Perabot-perabot yang ada masih layak pakai dan terlihat masih sangat bagus. Alat-alat dapur lengkap, kamar mandi bersih, saluran air lancar, telepon terpasang dengan baik. Nanti aku tinggal memesan tirai untuk dipasang di kamar Hinata, dan semuanya perfect.
Aku pun menghampiri pelayan pria tadi yang kini asyik ngobrol dengan Hinata. Wah, wah, dia belum pernah digiles tank ya. Aku menjewernya dengan senyum jengkel di wajahku sebelum menendangnya ke luar ruangan. Ia pun terjatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.
Aku menghampirinya yang sedang mengaduh kesakitan. "Aku mau sewa ruangan ini," ucapku dingin. Kukeluarkan cek dari dalam dompetku dan menulis sejumlah nominal, lalu kulemparkan cek itu ke wajahnya. "Biaya sewanya 180 juta per tahun. Itu 15 ribu US Dollar. Kau cairkan ke bank, kau dapat 205 juta. Kau serahkan 180 juta ke cashier, suruh dia beri bukti sewa, lalu kau ke parkiran," kulempar kunci mobilku ke arahnya, "cari mobilku, ambil barang-barangku dan antar ke sini, beserta bukti sewa dari cashier tentunya."
"Kau bisa mengemudi mobil, kan?" lanjutku masih dengan suara dingin. "Ke Hotel Allium Tangerang, atas namaku, Calvin Bettencourt, lakukan check-out. Bensin mobilku masih terisi penuh jadi kau gak perlu repot-repot ke pom bensin. Lakukan semua perintahku, maka kau berhak atas 25 juta yang nganggur itu."
"Ingat," kataku lagi dengan nada yang makin dingin. "Kalau kau berlama-lama," aku menatapnya yang terlihat ketakutan dan gemetar, "akan kucabut semua gigimu."
"Tanpa obat bius."
"Di depan ibu tirimu."
Dan dia langsung menjerit "Baiklah! Baiklah! Aku segera kembali!" sambil lari terburu-buru ke lift dan menuju lantai dasar.
Hinata menghampiriku sambil tertawa kecil.
"Kamu sadar juga, ya," ucapnya.
"Ya, meskipun baru nyadar saat dia ngobrol sama kamu."
"Gak nyangka dia beneran jadi langsing. Aku sempat kaget."
"Ahahaha, ya ampun. Ngomong-ngomong... dia gak ngenalin kamu kan?"
Hinata menggeleng dan berkata dengan nada yakin. "Nggak sama sekali."
Pria tadi, yang mendadak kujadikan pembantu itu, sebenarnya adalah teman SD Hinata yang pernah tergila-gila dengannya. Pria itu bernama Chouji, pria tergendut di kelas Hinata saat itu. Aku tidak mengenalinya pada awalnya karena pria itu bener-bener udah berubah total! Sekarang dia tinggi besar, tidak gendut lagi. Yang membuatku mengenalinya adalah cara bicaranya yang menjengkelkan. Selalu menggunakan kata 'anu' dan menggigit-gigit jarinya saat dia sedang bicara dengan gadis yang disukainya.
Karna aku sudah kenal pria itu, aku pun tidak segan-segan menyerahkan kunci mobilku padanya. Ancaman tadi hanya untuk mempermainkannya - ia sangat takut giginya dicabut dan ia takut pada ibu tirinya. Aku tau dia tidak bakal bawa kabur barang yang bukan miliknya. Meskipun menjengkelkan dan genit, ia pria yang baik. Aku menakut-nakutinya karna pria itu membuatku jengkel. Bisa-bisanya sih dia, setelah melupakan cintanya ke Hinata, malah suka lagi dengan versi lain dari Hinata. Untungnya dia gatau cewek indigo ini Hinata. Kalau iya, hancur sudah rencana Kakashi yang jenius hanya gara-gara pria berIQ tak seberapa ini.
Menurutku, dengan badannya yang lumayan ideal dan dipacu dengan rasa takut akan ancamanku, ia seharusnya tiba di sini tiga menit lagi, jadi akupun mengajak Hinata untuk masuk dan menonton TV.
TV terletak di ruang tengah juga bersebelahan dengan meja makan. Ada beberapa sofa di depan TV dan kami duduk bersama. Tak berapa lama kemudian bel ruangan berbunyi menandakan seseorang ada di depan pintu.
Chouji berdiri di hadapanku sambil menenteng tiga kantung plastik besar berisi belanjaan. Ia terengah-engah. "I-ini, sir."
"Bagus, letakkan di sini." Tentunya aku gamau dia masuk dan ketemu Hinata lagi.
Ia melakukan sesuai perintahku. "Sekarang pergi ke hotel yang tadi kubilang. Ingat, atas nama Calvin Bettencourt."
"O-oke, sir!"
Calvin Bettencourt adalah nama yang diberi ibuku. Ibuku orang Swiss dan ayahku orang Jepang. Nama dari ayahku itu tentu saja: Sai. Kakashi dan Hinata lebih sering memanggilku Sai karena mereka berdua juga orang Jepang. Aku menggunakan nama Calvin Bettencourt di Indonesia karena nama Sai setelah kutelusuri, mempunyai arti agak gak enak dalam salah satu bahasa daerah mereka.
Aku mengambil barang belanjaanku yang tergeletak di lantai dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Aku meletakkan plastik berisi bahan-bahan makanan di dapur, plastik berisi pembersih di kamar mandi, plastik berisi perlengkapan Hinata di kamar Hinata, dan ugh masih banyak lagi.
Aku tidak pernah membereskan barang-barang ini sendiri sebelumnya. Biasanya selalu ada maid yang akan melakukannya. Jadi ini hal baru untukku.
Rupanya melelahkan juga meski cuman ngeberesin barang. Sepertinya aku harus menaikkan gaji maidku di rumah sepulangnya aku nanti. Kasihan si bibi tua.
Saat keluar dari kamar, kulihat Hinata tidak lagi menonton TV. Ia turut membereskan barang-barang belanjaan. Ya ampun, dia terlihat seperti ibu rumah tangga saja, meskipun versi newbie - tampak ekspresi kebingungan di wajahnya.
"Hime-sama juga baru pertama kali beresin barang belanjaannya sendiri, ya?" ucapku dengan nada agak mengejek. Gak kusangka-sangka Hinata malah berusaha menimpuk wajahku dengan sebuah kotak sereal - yang kutangkap dengan gampang menggunakan tangan kiriku.
"B-Baka!"
Aku mengukir senyum di wajahku. Mataku selalu tertutup kalau aku tersenyum dengan tulus. Tiba-tiba saja kurasakan sesuatu menimpuk jidatku. Saat kubuka mataku, aku melihat Hinata sedang tertawa lepas. Ia memegangi perutnya dan tertawa manis sekali, membuatku tertegun dan lupa akan jidatku yang sepertinya dilempari telur.
Sudah lama sekali aku tidak melihat Hinata tertawa seperti itu. Dan aku bahagia menyadari aku lah yang membuatnya tertawa.
Umur kami terpaut tujuh tahun namun aku tidak peduli. Ia satu-satunya gadis yang bisa membuatku jatuh cinta. Kakaknya sangar - namun aku tidak peduli. Akan kubuktikan kalau aku juga mampu menjaga Hinata sebaik dirinya.
Aku banyak mempelajari sifat Kakashi sedari kecil, jadi aku hampir mirip dengannya. Cara berpikirnya, tingkahnya, bahkan mental kami hampir sama. Kuharap aku tidak berakhir dianggap hanya kakak oleh Hinata. Itu bakalan sakit banget, man.
Aku sudah menyukai Hinata dari kecil. Makin besar aku malah makin mengiginkannya. Karena umur kami yang terpaut begitu jauh aku selalu takut hanya akan dianggap sebagai kakak olehnya.
Akankah Sai yang tampan ini terperangkap dalam dunia brotherzone?
Ehem. Aku tidak akan mau itu.
Aku berjalan mendekati Hinata yang masih tertawa terpingkal-pingkal. Kubersihkan telur di keningku dengan tapak tangan. Bekas telur di tapak tanganku itupun kuoleskan ke pipi Hinata.
"H-hee, Sai!" seru Hinata kaget. Ia segera mengambil lap di konter dapur.
Aku menahan tangannya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya.
Lick.
.
.
.
A/N: Nyawww, baru update lagi. Chapter 3 dan 4 untuk ngasih tau bagaimana perasaan Sai ke Hinata. Semoga Sai yang sok tampan dan tukang pamer ini gak bikin pembaca bosen XD
Sebenarnya chapter 4 dan 5 udah lama selesai berminggu-minggu lalu, cuman belum pede untuk publish (?). Karena itu support dari para pembaca sangat berarti :'D
Terimakasih buanyak untuk yang sudah review, follow, dan fav!
Love,
EsCream
