"Aku… tahu apa yang kulihat, Miya."
Miya menurunkan busur kayu yang ia temukan. Tidak perlu khawatir, teman-temannya sudah aman dalam perlindungan, pasti. Reruntuhan negeri megah yang mereka lalui nampak suram dengan kabut yang menyelimuti, Karina menendang becekan pikat berwarna gelap yang melata ke arah Miya—monster itu berdecak, kemudian mengeluarkan suara seperti jeritan saat pisau elf itu membelahnya.
Karina lebih suka berpikir kalau ia hanya berhalusinasi, dan sosok yang membawakan kehancuran ke negeri malang ini hanyalah Alice bersama pasukan kegelapannya—tapi tidak mungkin. Ia mengenali sosok itu, dimanapun. Ia kenal betul—mereka menghabiskan seluruh masa kecil mereka bersama-sama.
Saat itu, iblis itu tertawa sinis ketika Karina berlari menembus anak-anaknya untuk melumpuhkan sosok yang terus menciptakan perangkap dan membantu mereka mendapatkan kekuatan luar biasa itu. Alice menyuarakan kesenangannya saat melihat Karina membatu, melihat seseorang dengan rupa yang sama sepertinya, suara rayuan melodi lirih yang ia kenal betul, dan tarian pemujaan yang ia hafal diluar kepala.
Pedangnya tidak bisa mengantarkan keadilan untuk orang-orang yang seharusnya ia lindungi.
"Karina... kalau apa yang kaulihat benar, mungkin… ada sesuatu yang membuatnya melakukan apa yang ia perbuat."
"Kau… kau tidak mengerti, Miya—"
Itu mungkin Selena, itu mungkin bukan (ia yakin kalau itu Selena—tidak salah lagi.)
Kakinya terasa ingin menyerah pada gravitasi di bawahnya. Miya menyentuh pipinya, mata mereka bertemu—binar mata elf rembulan itu mendukungnya untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. Ia menarik napas. "Itu bukan Selena yang kukenal."
Senyum yang ia goreskan saat sihirnya mendapatkan pegangan yang kuat pada Alucard dan menariknya mendekat—mengerikan, menakutkan. Karina mendengar Zilong berteriak, tetapi suara Selena meredam semuanya, "Kau tampan, tuan. Maukah menjadi pendampingku di negeri baru yang akan kuciptakan di atas kehancuran ini?"
Familiar, seperti rumah—disaat yang bersamaan, mungkin analogi yang buruk; terlalu mengerikan untuk dipanggil rumah.
Ia berlari, setelah itu—untuk menolong Alucard. Busur yang Miya lontarkan melesat lebih cepat darinya, namun cahayanya pudar sebelum menyentuh kegelapan itu. Sosok (tidak) familiar itu mendengus. Tubuh kecilnya diselimuti kegelapan, lalu—
Matanya bertemu dengan Karina.
"Selena tidak mungkin…." ia berjongkok tepat dimana adik perempuannya berdiri, menyentuh tanah yang tandus; rumputnya berwarna hitam kelam dan mati. "Aku mengenalinya jauh lebih baik dari diriku sendiri—Selena tidak akan sampai hati melakukan hal sekeji ini."
Elf bersurai perak itu mengusap punggung Karina. "Kau salah lihat." Katanya, sebagai servis lidah untuk membuat Karina merasa sedikit lebih baik.
Karina tahu ia tidak salah lihat.
.
immaculate deception
mobile legends: bang bang (c) moonton.
[saya tidak menerima keuntungan dalam pembuatan fic ini.]
.
4: even odds
warning: see ch1; little oc, noncanon places. headcanons.
note: chang'e dan mo rilis dan ada sedikit perbedaan, untuk memperjelas. disini dia pergi atas kemauan sendiri, di canon-nya dia pergi karena disuruh bokap, makanya dia ga naik bulan(?) (bayangin semarah apa papi pas chang'e balik….)
.
Seseorang menamparnya.
"—coba sekali lagi." kata suara cempreng itu, yang Zilong beri label 'Menyebalkan'. Bentuk abstrak di sebelahnya dengan dominasi warna merah jambu mengangguk ragu, lalu mendaratkan tamparan di pipinya, kali ini lebih kuat. Keduanya terkekeh. "Dia tidak bangun juga, huh. Pemalas! Bangun!"
Chang'e mengangkat tangannya untuk menampar Zilong, tapi ia lebih cepat. Tangan adik perempuan kurang ajar itu ditangkap sebelum sampai menampar pipinya (yang mungkin sudah sangat merah, rasanya pipinya sangat panas). Ia melirik sinis Chang'e—sedangkan Nana sudah berlari duluan ke pintu keluar ruangan, tak ingin terkena murkanya. "Apa yang kau lakukan selama aku tidur?"
"Pacarmu menyuruhku untuk menjagamu." Jelasnya.
"Dan kau memukulku?" Zilong berusaha untuk tidak memerah saat adik perempuannya merujuk Alucard dengan istilah 'pacarmu'.
"Aku bisa jelaskan itu." ia berdehem, lalu merangkak perlahan naik ke atas kasur. Zilong memberinya tempat—walaupun menyebalkan tapi anak ini adalah adiknya. "Kakak tak berhenti berteriak tadi—jadi untuk menjaga kakak dari mimpi buruk satu-satunya jalan yang kulihat adalah memukuli kakak sampai kakak bangun!" matanya berkilat antusias saat menjelaskan. "Mimpi apa kakak tadi?"
Ia berusaha mengingat apa, namun yang ia lihat hanyalah perasaan hampa dan kegelapan pekat, juga diikuti dengan sakit kepala yang amat sangat. Zilong menghela napas, merasa hanya akan sia-sia, lanjut menyentil dahi adik perempuannya yang segera mengaduh kesakitan. "Dan kau meminta Nana untuk memukulku? Kau pikir aku bodoh?"
"Hehe—lagian wajah kakak lucu saat tidur tadi." Chang'e mendekat untuk berbisik, "Menyebalkan, minta dipukul." Ia melebarkan senyum yang sedikit menyebalkan di mata Zilong. "Oh, kakak juga memanggil Alucard terus-terusan—kenapa? Tidak bisa tidur kalau tidak sama-sama—"
Zilong menjitaknya, segera. Tangannya yang lain menutupi wajahnya yang mungkin sudah merah padam, percampuran antara perasaan jengkel dan jengah, dibuat kehabisan kata oleh adiknya sendiri. Memalukan. Chang'e di sampingnya tersenyum polos. "Kakak mau bertemu Alucard? Dia di luar bersama yang lainnya."
Mungkin sebaiknya ia bersama Alucard.
Ia ingin bersama Alucard—
"Bagaimana dengan kotanya?"
Mereka mendapatkan kontrak untuk bekerja melindungi negeri ini, setelah peramal kerajaan negeri mendapatkan penglihatan bahwa akan ada keruntuhan yang dibawakan oleh kuasa kegelapan, tidak lama setelah Karina dikenali sebagai elf yang pernah membantu mereka—mereka tidak mengatakan apa spesifiknya, hanya mereka berhutang banyak, dan berharap elf itu bersama dengan rombongan orang-orang kuatnya bisa menjadi tenaga tambahan untuk melawan balik.
Chang'e menoleh ke sembarang arah, matanya tidak bertemu Zilong, ia nampak murung, tapi senyumnya tetap pada wajahnya. "Ya-yang terpenting kakak dan teman-teman semua sudah berusaha sebaik mungkin, kan…?"
Jadi mereka gagal.
Seketika ia tersadar pada nyeri di bagian perutnya—ia melirik ke bawah dan menyadari tubuhnya dibalut perban yang baunya seperti herbal dari kala ia bertarung bersama para elf di Emerald Woodland. Ia tidak sempat bertanya lebih jauh lagi, adiknya sudah pergi, menutup pintunya perlahan—ia ingin agar Zilong segera bangun dan mengikutinya.
Ia bangun, bukan karena keinginan untuk mengikuti Chang'e atau bertemu yang lainnya—ia ingin melihat Alucard, memastikan kalau pria itu tidak kenapa-napa selama ia berada dalam masa pemulihan.
.
.
Aurelia, peramal kerajaan itu, duduk bersama mereka untuk menyesap teh putihnya—Alucard menyentuh tangan Zilong di bawah meja, meremas kuat-kuat. Wajahnya nampak sangat marah, pada dirinya sendiri—gagal untuk melindungi orang-orang yang ikut melawan bersama mereka; banyak yang gugur untuk menyaksikan kekalahan mereka. Sia-sia.
"Etna mungkin runtuh, tapi semangat kami tidak." Ia memejamkan matanya.
Zilong melirik pada Alucard yang berusaha untuk menelan kegagalannya—tapi yang ada ia nampak benar-benar terluka. Mungkin lukanya terbuka lagi, Zilong tahu persis di bagian mana saja pria itu terluka—karena ia teledor, membiarkan Alucard terbuka untuk diserang oleh mereka yang memiliki pedang dan taring untuk membunuh penghalang mereka menghancurkan Etna.
Mereka mengambil cemilan kecil yang disajikan di atas meja. Roger mengatakan padanya kemurahan hati mereka untuk melayani para pendatang di negeri ini sudah cukup sebagai bayaran usaha mereka—mengingat mereka gagal untuk melindungi apa yang esensial. Tetapi Aurelia menggelengkan kepalanya, bola mata hampanya yang berwarna keemasan berbinar layaknya matahari saat bertemu dengan milik Roger.
"Anda tidak perlu sungkan—kami sudah berjanji, lagipula." Katanya. Wanita itu menghela napas, kepalanya menoleh ke arah Alucard dan Zilong. "Bukankah saya juga sudah mengatakan dulu, runtuhnya Etna di masa depan bukanlah tanggungan kalian?" ia menyeruput tehnya, tangannya terangkat untuk menghentikan Roger yang ingin membalas. "Maaf telah melibatkan kalian pada perang yang terlihat jelas akan berakhir dengan kehancuran."
Kehancuran.
Ia mengingat iblis elf itu—sesuatu tentang mengajak Alucard untuk memimpin negeri yang—
Tangannya meremas milik Alucard, pria di sampingnya tersentak kaget, tidak menduga. Kepalanya ditolehkan pada Zilong yang memiliki wajah berpikir itu—yang berkali-kali Alucard komentari dengan 'membosankan' dan 'menyebalkan'. Ia merasakan tangan Zilong yang berkeringat menyentuh punggung tangannya—pria itu mungkin memikirkan sesuatu yang benar-benar mengusiknya.
Rasanya inilah momen yang tepat untuk menarik diri dari pertemuan, dan biarkan kedua orang tua itu untuk berbincang—mungkin Roger akan senang, akhirnya memiliki waktu untuk berbicara dengan orang yang seumuran (jauh lebih tua) darinya. Bukan melulu berurusan dengan muda-mudi dimabuk asmara dan menjadi kakek baik yang mengurusi buah hati anak-anaknya yang kurang ajar.
Alucard berdiri, ia membungkukkan tubuhnya pada wanita tua bersurai keemasan itu, lalu menarik tangan Zilong untuk ikut bersamanya.
Kakinya berhenti pada perpustakaan suaka, dengan rak-rak kayu yang menjulang sedikit di atas kepala mereka. Ia tidak melepaskan tangan Zilong, tubuh kekasihnya dituntun untuk duduk pada kursi terdekat, dengan meja dan satu buku yang tergeletak begitu saja—majalah busana dan tren yang dibeli di Eruditio (milik Miya, yang telah habis ditertawakan bersama Zilong selama perjalanan). Alucard menyadari kalau kekasihnya gemetaran, dan matanya menyiratkan ketakutan.
"Zilong? Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Pria itu nampak tersadar, kedua tangannya meraih Alucard, genggamannya erat, tidak ingin lepas—takut kehilangan. "Tidak; kurasa… aku hanya… mengingat mimpiku—kau… kau tidak perlu khawatir. Kau disini; baik-baik saja, bersamaku." Tatapannya menerawang saat menatap Alucard.
Justru ia semakin khawatir. "Ayolah. Kau tampan—tapi karismamu tidak menembusku; sesuatu mengusikmu. Aku tahu." Ia memiringkan kepalanya, berharap Zilong mau menceritakan apa yang ada pada pikirannya. Mungkin akan sulit—pria ini tidak pernah ingin menceritakan apapun yang tidak ia sukai, takut kalau pendapatnya menyakiti perasaan orang lain. "Zilong, kau bilang kau ingin mencoba—aku tidak yakin menyimpan rahasia adalah hal yang kita lakukan bila kita ingin menjalin hubungan…."
Akhirnya pria itu menghela napas, kalah. "Aku bermimpi… ia menarikmu saat itu—dan kau menghilang, selamanya jauh daripadaku." Zilong berusaha untuk memandang ke bola mata yang bersinar itu—tapi sulit rasanya. "Aku sangat takut, Alucard—aku… aku tidak ingin, bukan, aku tidak yakin aku bisa… tanpamu—"
"Kalau aku menghilang… kau akan mencariku, kan?" Alucard bertanya padanya, ada senyum kecil menari pada bibirnya.
"Te-tentu saja, kau pikir… aku akan menyerah begitu saja untukmu?"
"Sampai kita bertemu lagi?"
"Ya?—maksudku, pasti."
Senyumnya lebar—Zilong merasa dadanya menjadi ringan, dan tentram. "Kalau begitu… aku tidak akan menghilang, kan? Kau akan mencariku, dan aku akan mencarimu—kita akan bertemu lagi di tengah jalan, pasti. Kau tidak perlu takut."
Tangannya ditelungkupkan dengan milik Alucard di atas meja, mereka menatap satu sama lain, tidak ada kata. "Ada sesuatu lain yang mengusikmu, atau sudah siapkah kau untuk kembali dan menggantikan Roger menghibur wanita itu?"
Zilong membiarkan tatapannya terpaku pada Alucard. "Maukah kau… eh, menciumku?—maaf, gamblang, tapi, aku hanya… merasa… mungkin akan sedikit baikan bila kau—"
Ia tertawa untuk beberapa detik, membiarkan pipinya bersemu sedikit kemerahan, tapi menuruti apa yang diinginkan.
.
.
Beberapa hari kemudian, mereka siap meninggalkan Etna untuk berangkat ke Ischia, negeri kecil di kaki bukit, sebelum sampai pada Moniyan.
Luka-lukanya masih mereka emban, walau sudah sedikit lebih baik. Aurelia dan raja serta ratu mengantar kepergian mereka, mengucapkan terima kasih atas upaya keras mereka untuk membantu. Wanita peramal itu menyentuh Karina, sebelum ia sempat menyusul yang lainnya, lalu memperingatinya untuk tidak memercayai bayangan yang mencuri rupa sosok yang ia sayangi.
"Dan… temanmu yang dari negeri es itu… peringatkanlah ia sebelum ia menarik perhatian orang-orang yang berbahaya lainnya." wanita itu menarik napas, lalu ia melepaskan Karina—yang masih tetap berdiri di hadapannya, menunggu kelanjutan perkataan wanita peramal itu. "Katakan juga pada serigala itu kalau tudung merah menantinya dalam perlindungan seorang wali—sebentar lagi, kalian akan bertemu."
Karina mendorongnya untuk mengatakan apa yang ia ketahui tentang Zilong—oh, ayolah, ia perlu mengetahui ini. Ia akan bersenang-senang dengan informasi apapun yang diberikan padanya.
Wanita itu tertawa, ekspresinya nampak terhibur seolah ia menyaksikan sesuatu yang menarik dari bola matanya yang berpendar keemasan. "Jalan yang ia lalui akan sangat, sangat berduri dan menarik untuk disaksikan karena seseorang terus mengundang pesaing baru kemanapun ia melangkah." ia menahan tawanya. "Katakan padanya untuk cepat bertindak."
Ia ingin menanyakan tentang Chang'e dan Nana, tapi wanita itu menautkan alisnya, lebih dulu di depannya. "Hm, aneh. Aku tak melihat apapun tentang anak-anak itu."
Mendengar itu menaikkan kewaspadaan pada Karina—berarti sesuatu akan terjadi pada mereka. Gawat—dan mereka hanya anak kec—
"Oh, tunggu—ada. Ini hal yang paling signifikan yang akan mereka lakukan; yang usil akan mencuri sandwich ularmu saat kalian bertemu di Moniyan, yang jahil akan terlontar sampai ke hantaran orang-orang dengan wajah familiar."
Syukurlah—apa maksudnya, waktu akan menjawab nanti.
Senyumnya misterius, walau nampak sangat menikmati apa yang terjadi pada matanya yang memandang jauh ke depan. "Selamat bersenang-senang dengan informasi itu."
Ia melambaikan selamat tinggal pada mereka, yang menyorakinya sebagai seorang pahlawan (bukan; ia sungguh bukan)—Karina berlari dengan cepat menyusul teman-temannya, pedang gandanya di tangan. Mereka semua sudah termakan jarak—dengan Alucard dan Roger yang nampak membahas sesuatu—Miya menunggunya di pertengahan, bersama Nana, keduanya meratapi busur elf wanita itu, yang rusak.
Perjalanan berlalu dengan membosankan—dengan Miya yang terus merengek untuk mampir ke kota terdekat dan membelikannya peralatan baru untuk memperbaiki busurnya yang patah, apalagi itu adalah busur kudus, bukan busur sembarangan—pasti untuk membeli bahan yang diperlukan memerlukan biaya besar, kecuali kalau ia mau, "Kembali ke Emerald Woodland sendiri lalu meminta orang pandai disana untuk memperbaikinya," untuk reparasi gratis.
Yang tentunya membuat Miya mengembungkan pipinya, tersinggung—tega sekali Roger menyuruhnya untuk pergi berkelana seorang diri kembali ke Emerald Woodland, setelah mereka pergi sejauh ini?
Hal itu membuatnya menjaga jarak dengan Roger dan berjalan dengan hentakan di belakang Karina, yang tertawa melihat tingkahnya. Ia merasa perlu untuk menghibur omega malang itu. "Kalau kita sampai Ischia nanti, kita bisa membaur dengan keramaian dan mencari penempa yang memiliki sumber daya yang kita perlukan untuk memperbaiki busurmu… aku bisa membantumu."
Miya kembali senang, "Sungguh? Karina? Beruntunglah ada seorang alpha yang baik—tidak seperti seseorang."
Karina merasakan bangga meletup di dadanya—tapi umurnya tidak panjang, karena tiba-tiba ia merasakan lonjakan energi sihir yang luar biasa merangkak ke arah mereka.
"Hei, kalian—berhenti sebentar."
Chang'e dan Nana menghentikan nyanyian mereka, menoleh kompak ke arah Karina yang membatu di tempat, tangannya menarik pundak Miya untuk mendekati tubuhnya. Ketiga pria lainnya berbalik dan memandang heran Karina.
"Tidakkah kalian merasakan itu?"
Mendekat—instingnya menjeritkan bahaya, bukan seperti bahaya pada umumnya. Bukan, sesuatu yang lain, yang lebih besar… dan—mungkin sihir penyerangan, ataukah kutukan? Karina tidak tahu, ia harus bertindak cepat—pergerakan yang seharusnya ia kenali dari ratusan kilometer jauhnya… mencari-cari sesuatu di antara mereka yang—
"Alu—awas—"
Pria yang ia panggil terhentak, seluruh tubuhnya menegang saat mendengar suara Karina. Temannya segera berlari ke arahnya dengan cepat, sebelum tanah di bawah kaki pria itu menimbulkan celah suram yang mengisapnya masuk ke dalam dan menghilang seolah ditelan bumi. Ia meraih tangan pria itu untuk menariknya menjauh, tapi terlambat.
Auranya mengerikan; ketika Karina ikut ditelan masuk ke lubuk bumi, ia merasa seperti ini adalah perjalanan panjang kembali ke rumahnya.
.
.
"Huh, kau berbeda."
Alucard membuka matanya pada odor busuk yang sangat ia kenali seperti mayat dan bau amis darah. Suasana mencekam menggigiti kulitnya—ia tidak bisa mengapus perasaan itu, bulu romanya berdiri. Ia menatap ke depan, bertemu pandang dengan bola mata indigo muram yang terpaku sepenuhnya pada dirinya. Tatapan matanya kosong seperti ia telah mati, namun ia nampak hidup.
Ia memegang gagang pedangnya dengan erat, siap untuk menebas. Ia kenal orang ini—ini adalah elf yang waktu itu, yang memimpin pasukannya untuk menghancurkan dan memberantas orang-orang Etna. Karina pun tahu, mulutnya terbuka, tapi tak cukup sampai pada kata-kata yang ingin ia ucapkan. Wanita elf itu menarik Alucard ke tengah sel, menjauh dari jerujinya.
"Ah, maaf, kalian pasti sangat kebingungan karena tidak mengenaliku—apa istilahnya, stranger danger?" wanita dengan kabut berwarna hitam tebal di ujung jemarinya mengulurkan tangannya pada Alucard. Senyumnya ramah seperti ia sedang memperkenalkan diri sebagai tetangga baru di rumah sebelah. "Tak kenal maka tak sayang, kan?—namaku Selena."
Ingatannya terbangun pada nama itu—tapi ia tidak tahu persis dimana ia pernah mendengar nama itu disebut pertama kali.
Tidak ada yang menyambut uluran tangan itu—Selena menarik tangannya, ia lantas mengangkat bahunya, berpura-pura merasa sedih. "Baiklah, aku mengerti, kalian tidak suka orang asing. Tapi bukankah namaku sudah cukup? Kita adalah kenalan sekarang, kan? Dan dari kenalan kita bisa menjadi teman, lalu… kita bisa menjadi sepasang sahabat, dan dari sahabat kita bisa menjadi—"
Sulur pekat terulur dari tangannya, dengan itu ia mencekau pergelangan tangan Alucard, dan menariknya untuk mendekati jeruji. Alucard menatap mata wanita itu dengan tidak senang, ia mengendus feromon lemah omega yang bercampur dengan alpha, tetapi bukan membaur, seperti saling tumpangtindih pada satu sama lain. "—dekat, dekat, dan sangaaat dekat—menjadi apa yang manusia sebut dengan… sepasang kekasih. Lalu kita bisa menikah, dan memiliki anak-anak iblis mungil yang menggemaskan—"
"Maaf, tidak tertarik, aku—"
"Aku juga tidak tertarik denganmu—yah, kau yang seperti ini, sih."
Karina menangkap temannya saat cengkeramannya dilepas, Selena melangkah menjauhi sel, lalu berbalik. Sepatunya minumbulkan bunyi ketukan di lantai, dan bergema ke seluruh ruangan. "Tidak, aku ingin melihatmu seperti yang kemarin—kacau dan berantakan, dengan nafsu membunuh itu, pada matamu." Ia menyeringai. "Aku jatuh cinta padamu saat itu, dan kupikir, aku akan menjadikanmu milikku—aku tidak pernah menganggap manusia adalah makhluk yang indah, tapi saat melihatmu menghancurkan anak buahku yang tidak berguna dan tidak kompeten itu, aku—"
Napas wanita itu berat, matanya berkilat saat menceritakan perasaannya—Alucard mulai berpikir kalau ia telah melakukan kesalahan besar. Selena menutupi bibirnya dengan punggung tangannya, ia mengusap salivanya. Matanya teralih pada Karina. Melihat rupa mereka yang mirip, Selena merasakan sesuatu yang karib menghampirinya, tapi ia tidak mengingat apapun.
Selena tertawa melihat elf di samping Alucard, yang menatapnya pucat dan seolah tidak berdaya. "Ahh, kalau alpha-mu mati pun, kurasa tidak akan sulit mencari pengganti—walau aku bukanlah alpha, tapi kau tidak akan mengenali perbedaannya, kan?" ia menjulurkan lidahnya, dan meniupkan kecupan pada Alucard. "Kau hanya perlu menjadi pendampingku—setia di sisiku selama aku duduk di atas takhta."
"Masih tidak tertarik karena aku bukanlah pajangan yang bisa kau perlakukan seenaknya. Aku—"
"Ups, maaf sekali tamu-tamuku yang kusayangi," ia berkedip pada Alucard. "aku harus pergi, melatih para anak buahku yang tidak berguna menjadi berguna sedikit untuk memperlihatkan pesonamu seperti waktu di kota mati itu, kemarin. Tenang, jangan khawatir! Alice akan kemari, supaya kalian tidak bosan."
Wanita itu pergi dengan suara langkah kakinya yang mengetuk lantai, membuat Alucard sedikit gelisah.
"Hei, Karina, kau tahu kita dimana?"
"Sarang nenek lampir itu, kemungkinan." Elf itu menghela napas. Ia duduk dan bersandar pada dinding, kedua pedangnya diletakkan di sampingnya. "Aku tahu betul tempat ini—semuanya sangat familiar. Tetua pernah menggantung kami terbalik selama berjam-jam di ruangan ini karena kami bermain di ruang doa setelah lewat jam malam." Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak penting; kita harus keluar dari sini sebelum penghancur bangsa-bangsa itu tiba."
Alucard menoleh ke kiri dan kanan, menginspeksi seluruh jengkal ruangan. Ada sebuah ventilasi berjeruji kayu yang daerah luarnya tertutupi sesuatu—oh, Tuhan, Alucard tidak mau tahu apa itu, tapi dengan lukanya yang menganga lebar, itu jelas torso manusia. Ia menoleh ke sisi lain, ada retakan yang tidak begitu bagus, kalau mereka mencari celah yang cukup lebar yang bisa dilewati untuk dua orang dewasa.
Pria itu mengacak rambutnya. Ia mengamati dengan risih Karina yang tak bergerak dari posisi duduknya—ia tidak mau membantu, sepertinya. Alucard ingin mengatakan sesuatu tentang sikap Karina, tapi saat ia menyadari beban pikiran yang wanita itu miliki… ia memutuskan untuk duduk tepat di sampingnya, dan bertanya, "Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"
Ia mencekal, napasnya putus-putus—ia berusaha menenangkan dirinya sedaritadi, tapi sulit berkonsentrasi saat Alucard berusaha bersimpati dengannya. Wajahnya ia sembunyikan dengan malu di telapak tangannya. "Dia adikku." Karina mulai terisak di sampingnya. "Dia adikku, Alucard—kau tahu apa ini artinya? Dewa sudah memberikanku kekuatan ini—berkat ini padaku, pada seorang dari hamba-nya yang menyimpang dari jalan yang ditakdirkannya."
Apa yang harus ia lakukan—ia harus melipur wanita ini, temannya. Tapi tangannya berhenti sebelum dapat melingkarkan diri pada wanita itu. "Aku harus memberinya pengadilan yang sepantasnya atas apa yang telah ia perbuat—menciptakan jentaka dan petaka kemanapun ia melangkah… aku harus—"
"Kau… tidak harus." Katanya. "Itu bukan kewajibanmu, kan?"
"Kau tidak mengerti, aku harus." Karina mendesis padanya. "Andai saja aku bisa melindunginya di hari itu… ia tidak mungkin seperti ini—aku dan dia, berdampingan, kembali pada terang rembulan, tidak berdiam pada bayangannya."
Apa yang Karina sesali, di hari itu?
"Kau terus mengatakan itu—apa maksudnya? Apa yang terjadi di hari itu, pada adikmu, pada Selena?"
Karina tidak menjawab.
"Karina?"
Mulutnya terbuka, ragu-ragu, tapi sebelum ia sempat mengeluarkan suaranya, suara tawanya menggema di koridor.
Alice berdiri di depan selnya, di belakangnya seorang pria mengikuti. Karina tak lagi membiarkan emosinya terjaga—ia berlari ke jeruji dan tangannya terulur, siap untuk mencengkeram leher wanita iblis di hadapannya. Tapi sosok itu melangkah mundur, ia terkekeh. "Begitukah caramu menyambut kawan lamamu?"
Karina menjerit histeris ke arah wanita itu. Alucard ingin menariknya mundur tapi kakinya terpaku pada tempatnya berdiri. "Hanya ingin bilang hai, dan juga menyampaikan apa yang sudah kukatakan beberapa tahun silam—usahamu sia-sia; semua hal yang kau cintai akan berakhir menjadi hal yang paling kau benci—mereka akan membawakanmu pada jurang kehancuran.
"Tidakkah kau melihat Selena, adikmu itu? Indah, bukan? Pahatan dari Yang Mulia sendiri; wadah sempurna untuk menampung seluruh kenistaan—"
"Aku masih mencintainya."
"Tidak, tidak mungkin." Alice tersenyum padanya, seolah ia tahu segala hal yang Karina tidak ketahui. "Kau tidak mungkin masih mencintainya. Bodohkah pikirmu, aku ini? Aku melihat amarah itu di hatimu—kau sangat membencinya sekarang, kan? Kau lihat apa yang mampu ia lakukan—dan kau tahu kau tidak berdaya untuk menandinginya, ataupun menghentikannya."
"Aku. Masih. Mencintainya." Pegangannya pada jeruji erat, buku-buku tangannya memucat akibatnya. Ia nampak ingin mengatakan sesuatu lain, tapi Alice memotongnya.
"Maka menyerahlah." Ia mengangkat bahunya. "Bergabunglah bersama adik kecintaanmu, disini. Kekuasaan, kejayaan, kebebasan—apapun yang kau inginkan adalah milikmu. Kau tidak akan merana di sini. Kau memiliki segalanya. Bersama adikmu, Selena."
Alucard melihat punggung Karina gemetaran, kepalanya ditundukkan turun lebih jauh. Kakinya nyaris tersungkur ke tanah. Ia mulai khawatir Karina akan tergoda untuk menerima tawaran kosong itu—
"Tidak."
Wanita itu kembali berdiri, suaranya tegas. "Ia adikku. Aku menyayanginya lebih dari seluruh hidupku, itu sudah jelas. Bila mencintainya berarti aku harus membiarkan diriku menjadi korup dan kembali pada jalan yang tak diperkenankan padaku." ia mengangkat kepalanya. "Aku adalah kakak yang buruk bila membiarkan saudara perempuanku melakukan apapun yang ia inginkan, baik ataupun buruk. Kemanapun dia pergi, aku akan ikut—mengawasinya."
Mendengar itu membuat Alice tertawa. "Kegagalanmu sudah jelas sejak hari dimana kau berpaling dari kaummu yang menjeritkan doanya pada kami. Kau bukan kakak yang baik. Kau tidak berarti apapun. Kegagalanmu sungguh fatal, tidakkah kau sadar itu?"
"Aku pasti melakukan kesalahan di masa lalu, tapi aku akan berusaha untuk meluruskannya. Selena tidak mungkin selamanya hilang dari jalan terang—aku tidak akan melepaskannya, dan aku tidak akan menyerah dengan mudah. Untuk kebaikannya."
"Sangat luhur." Alice memutar bola matanya. Alucard melirik ke belakang wanita itu, wajah pria itu nampak beraduk dengan sebuah ilham yang tiba-tiba ia temukan.
Alice kemudian pergi, setelah habis mengolok Karina.
Alucard tersadar dari lamunannya saat ia meraskan tatapan Karina terpaku menembusnya. Elf itu mengatur napasnya—wajahnya membiru karena darahnya mengalir naik ke pipinya. "Kurasa cukup untuk hari ini—kita harus istirahat." Katanya. "Maaf membuatmu menyaksikan itu semua."
"Ti-tidak apa." balasnya. "Kau mengenal wanita itu?"
"Sampai aku membusuk di neraka pun aku tak akan sudi mengenalnya, tapi apa bisa dikata? Ia sosok yang bertanggung jawab atas runtuhnya ras elf rembulan yang menetap di sini. Abyss. Tentu saja aku mengenalnya." Ia berjalan menjauhi Alucard, ada senyum pada wajahnya yang nampak lelah. "Kurasa untuk sementara, kita harus menjaga jarak kita—aku tidak ingin Zilong menghabisiku saat kita kembali nanti, dan juga aku tidak ingin membuat Miya cemburu."
Alucard membalikkan tubuhnya, tidak menghadap Karina yang tertawa sambil memegang perutnya.
Ia baru dapat tertidur saat suara Zilong menuntunnya untuk berlayar lebih jauh ke dalam alam bawah sadar, mengatakan padanya, "Mimpi indah, Alu."
.
.
Pintu sel terbuka perlahan.
Alucard terbangun kira-kira dua jam setelah ia memejamkan matanya. Sosok itu menurunkan tudungnya, memperlihatkan Alucard pada wajah yang ia kenali sebelumnya. "…yang tadi bersama Alice…?"
Pria itu tidak mengatakan apapun, ia memberikan jalan agar keduanya bisa keluar dari sel. Tapi baik Karina maupun Alucard tidak melangkah menuruti apa yang diperintahkan. "Katakan apa motif dari ini semua." Ucap Karina, ia berdiri, pedangnya kokoh pada kedua tangannya. Diayunkan, untuk mengeja pada pria itu kalau ia tak segan untuk menebasnya kalau ia melakukan sesuatu yang membuatnya tak senang.
"Aku butuh bantuan untuk keluar dari sini." Ia berbisik. "Aku tidak ingin dikekang olehnya lebih lama lagi."
"Kenapa?" Alucard bertanya. Ia mengamati pria itu dari atas ke bawah. Suara ibunya mengingatkannya untuk tidak cepat memercayai orang asing dengan gerak-gerik mencurigakan—pria itu asing, dengan jubah panjang dan tudung gelap yang menutupi wajahnya, cukup mencurigakan. "Kenapa kau ingin keluar dari sini?"
Karena apa yang dikatakan Alice tentang kekuatan dan kejayaan itu tidak mungkin hanya isapan jempol. Mengapa orang ini ingin lari dari itu semua?
"Aku… aku perlu menebus kesalahanku pada wanita yang kusayangi." Jelasnya, singkat. Ia lanjut bilang, "Aku harus menariknya keluar dari jalan pembalasan dendam yang akan ia ambil, sebelum dendam dan amarah menjerumuskannya. Sebelum semuanya terlambat untuk kuperbaiki." Alucard dan Karina masih tak bergerak dari posisinya. "Aku perlu bantuan kalian hanya untuk keluar dari sini—aku yang akan mencarinya sendiri. Kau sudah membantuku banyak untuk membuatku tersadar dari hipnotis dan manipulasinya."
Keduanya melemparkan pandangan pada satu sama lain, sebelum Karina menganggukkan kepalanya, dan berjalan mendekati pria itu. Tangannya menginstruksikan Alucard untuk tetap di tempatnya. "Dan… namamu…."
"Moskov."
"Bila kau memiliki niatan buruk, ketahuilah aku membawa namamu bersamaku ke neraka." ia menelan salivanya, lalu melangkah keluar, matanya tak lepas dari Moskov. Alucard mengikutinya setelah itu. Moskov menutup pintu selnya, lalu menyerahkan pada mereka pakaian yang sama persis seperti yang ia kenakan. Sebuah jubah panjang dengan tudung yang dapat membayangi wajah mereka, dengan aroma busuk yang mungkin diharapkan dapat menyamarkan feromon mereka.
Mereka tidak akan dikenali.
Alucard mendengus, sedikit geli. "Kita seperti… anggota sekte gelap." Heh.
Karina dan Moskov memicingkan mata mereka padanya, tak senang. "Jangan sampai mereka mengenali kalian. Ayo."
.
.
Alucard dan Karina melepaskan jubahnya karena tak tahan gerah, dan bau tak sedap. Pedangnya disandarkan pada dinding terdekat, mereka melemparkan jubah itu ke sembarang tempat. Moskov memijit keningnya. Karina menancapkan mata pedangnya pada seorang iblis kecil yang ingin melarikan diri. Iblis dengan rupa elf (sama sepertinya) itu berteriak lantang, lalu menghilang menjadi gumpalan asap.
Tombak pandak milik pria itu lenyap menjadi asap. "Apa yang kalian lakukan, kenakan itu—kalian bisa ketahuan seperti tadi! Tidak ada—"
"Kita hanya perlu membunuh mereka, kalau ketahuan." Alucard balas, santai. Ia meraih pedangnya, demikian pula Karina.
"Lihat kan, kau tidak perlu khawatir. Yang tadi hanya kesalahan teknis. Kalau ketahuan lebih mudah untuk membunuh mereka dibanding berkeliaran dengan pakaian aneh itu." elf itu lanjut melangkah—bahkan tidak berusaha untuk menyamarkan langkahnya. Sepatunya menggema sepanjang lorong, membuat Moskov menurunkan tudungnya lebih jauh, agar tidak ada yang mengenalinya berjalan bersama tahanan-tahanan yang seharusnya berada di sel.
Mereka lanjut berjalan, bersembunyi di balik tiap pilar dan ruangan kosong seandainya mereka melewati beberapa petinggi yang mungkin mengenali mereka. "Mungkin kau bisa mencari borgol dan berpura-pura sedang mengantar kami ke sel?" Karina berbisik, memberi saran saat mereka menyaksikan dua monster dengan wujud yang tidak familiar bagi Alucard.
Mereka berciuman, tanduk mereka mengantam kepala satu sama lain. Mereka menabrak meja, dan vas bunga kaca—lalu masuk ke ruangan, dan mengunci pintunya. Ada ide yang tercipta dalam kepala Alucard. "Bisakah kita sedikit mengintip ke sana?" ia tersenyum jahil pada Moskov, yang wajahnya sedikit menjadi lebih gelap.
Karina melemparkannya tatapan jijik. "Apa—tidak! Kau aneh."
"Aw." Ia menyeringai saat melihat ekspresi Karina.
Mereka melanjutkan berjalan, dengan sesekali mengorbankan Moskov untuk menciptakan celah selagi pria malang itu berbincang dengan kawanannya yang heran dan terkejut dengan kehadirannya. Mereka selalu menanyakan tentang Alice, yang selalu dibalas dengan, 'jangan khawatir, aku tidak kemari bersamanya.'
Langit suram di luar jendela.
Demikian pula pekarangan di luar—gelap. Ketiganya melihat Selena diantara kerumunan orang-(orang?) di sana. Mereka bersorak riuh saat Selena menyuarakan semangatnya.
"Kita tidak mungkin bisa lewat." Seandainya saja orang-orang sialan ini tidak melepaskan jubahnya.
"Tidak adakkah jalan putar? Pintu belakang?" Alucard bertanya tidak sabar, ia terus mengamati apa yang terjadi di depan matanya. Selena berjalan di antara orang-orang itu seolah itu adalah suatu hal yang natural, senyumnya memesona—mereka bersorak saat ia membungkuk. "Kau tidak mungkin mengharapkan kita untuk melawan mereka saat Selena ada di sana, kan?"
Karena terakhir kali mereka melakukannya, mereka kalah. Besar. Dibandingkan dengan monster yang mengekspos mereka di koridor tadi, iblis yang mereka lawan di Etna jauh (sangat) lebih kuat. Mungkin wanita itu membantu memberikannya energi tambahan. Entah. Ia sedikit ragu bisa melakukannya.
Ia harus keluar dari sini. Cepat. Hatinya berdebar tidak tenang.
"Karina, kau tidak tahu jalan rahasia untuk keluar dari sini?"
Ia mungkin tahu—wanita itu termenung sedaritadi. Ini daerah asalnya, kan? Tempat yang sama, kuil yang ternoda. Karina pasti tahu persis tata letak tempat ini, walaupun banyak perubahan, mungkin, setelah beberapa tahun ditinggalkan. Karina berdehem, ia mengedipkan matanya dengan cepat lalu menoleh ke Alucard.
"Mungkin…? Dulu di tempat ini… jauh sebelum kami korup dan peperangan pecah di berbagai tempat—elf rembulan pernah menjadikan Abyss sebagai tempat pertemuan dengan para penjaga lainnya… untuk Estes, raja terdahulu—" ia menunjuk ke lorong panjang yang letaknya berlawanan dari tempat mereka berada. "bersama para penjaga Land of Dawn lainnya. Legendanya… ada sebuah metode transportasi dengan energi sihir yang menghubungkan keempat penjaga dengan satu sama lain."
"Dan itu berada di… ruang doa?"
Karina berkedip. Wajahnya menjadi terang. "Kau tahu?"
"…bisakah kita mencari metode lain?"
Mendengar sugesti Moskov membuat Alucard tak senang. Ia mendorong pria itu sedikit menjauh darinya. "Bisakah kita mencoba itu?" ia bertanya pada Karina—Moskov menautkan alisnya, tak setuju, tapi Karina sudah mengangguk dan berjalan menuju ruang doa di koridor lain kuil. Ia dapat merasakan Moskov yang ragu-ragu untuk mengikuti mereka.
Elf itu menghela napas. "Kau tinggal atau ikut tidak masalah; aku tahu tempatnya bahkan kalau kau tidak menunjukkan jalan. Hanya ketahuilah kalau apa yang kau inginkan tak akan kau capai bila kau hanya diam di sana tanpa melakukan apapun."
Akhirnya Moskov ikut, ia berjalan ragu di belakang Alucard—lembingnya kembali hadir di genggamannya, kali ini lebih kuat.
Tidak begitu menyadari sepasang mata memerhatikan mereka dari kejauhan.
.
.
Lorong itu semakin dingin dan gelap saat mereka berjalan lebih jauh. Suara jeritan mengisi pendengaran mereka, bergaung di koridor yang nampak tanpa ujung ini. Alucard bergidik, mendengar suara pekikan nyaring seorang yang terdengar seperti seseorang baru saja menumpahkannya aspal ke kulitnya. Karina menunjuk sebuah pintu dengan bingkai bermotif spiral yang berkilat meskipun sudah tertutupi debu dan sarang laba-laba di sana-sini.
Pintunya didorong terbuka.
Ruangan itu adalah ruang doa—sama persis seperti yang ada di Emerald Woodland, bedanya aroma lautan menari di udara; dengan sentuhan amis. Di lantai banyak tubuh tak bernyawa yang dibiarkan tergeletak begitu saja, wajahnya pucat, tak ada darah—bersih. Di altar ada tubuh ringkih seorang wanita yang nampak masih segar.
Alucard mendekat, tangannya menyentuh tubuh wanita itu—manusia, ah, ini elf—dan masih hangat.
Di depan altar ada sebuah cermin, dengan ornamen pada bingkainya yang ia kenali sebagai bunga ruby—terkenal di Nost Gal karena manjur untuk mengobati berbagai keluhan, dan juga mekar sepanjang tahun, tanpa peduli iklim dan musim daerah itu (dingin dan salju sepanjang tahun, untuk Nost Gal). Cermin besar itu retak di tengahnya.
Karina mengulurkan tangannya, memfokuskan sihirnya pada ujung jemarinya—permukaan cermin itu bersinar, merespon panggilan dari sedikit kekuatan magis yang ia miliki.
Tetapi kemudian fokusnya hilang, saat mendengar hantaman benda yang jatuh dari atas.
Alice.
Tiba, dengan seringai lebar pada bibirnya yang memerlihatkan taring dan bibirnya yang merah tedas. Lidahnya menjilati berkas darah pada ujung bibirnya. "Aku sungguh kecewa pada aksimu, Moskov." Katanya. Karina mengambil ancang-ancang, demikian pula Alucard. "Kau menjual kepercayaanku semudah membalikkan telapak tanganmu—setelah apa yang kulakukan untukmu? Semurah itukah aku di matamu?"
Moskov menegang. Pria itu menahan diri untuk tidak meledak di sana.
"Dan… sedaritadi aku berusaha untuk memasangkan wajahmu pada momen yang pernah kulewati—kau sangat familiar." Ia beralih pada Alucard. Telunjuknya menunjuk pria itu, ia menjentikkan jarinya. "Masih ingatkah kau padaku, atau ingatanmu sudah tidak mampu untuk melakukan demikian?"
Alucard terdiam, ia menatap heran Alice. Raut mukanya membuat wanita itu tersinggung, seolah ia melewati sesuatu yang seharusnya sangat penting. Tapi amarahnya belum ditunjukkan, ia menyadari sesuatu. Wanita iblis itu tertawa. "Ah, kau bukan… dia."
Karina menggenggam tangannya, tangannya yang lain terfokus pada cermin itu. Kedua pedangnya tergeletak di altar—"Ulur waktu," pintanya.
"Kau… kau salah orang."
"Ha! Salah orang! Tidak salah lagi, jenius!" ia tertawa histeris. Amarahnya meledak, ditujukan pada Alucard—yang tidak memahami apapun. "Kita bisa menjadi raja dan ratu di dunia baru, katanya—tapi oh, tentu saja, tidak, bajingan itu malah lari bersama pelacur manusia pertama yang ia temui di muka bumi—tidak lihatkah ironinya? Manusia yang menjatuhkan iblis ke dalam perbuatan haram—bersekutu dengan manusia."
"A… kau tahu ayahku?" ia bertanya—banyak sekali pertanyaan, tentang ayahnya. Tapi ia tidak yakin ingin mendengarnya dari wanita ini. Ia hanya perlu tahu apakah ayahnya hidup atau mati.
"Tahu? Tentu. Kenal? Tidak, setelah pengkhianatannya. Oh, bastar haram, kau jiwa yang malang." Katanya. "Kemari mencari ayahmu setelah akhirnya ibumu membusuk di neraka?—sayang sekali—ah, mungkin ini sebuah keberuntungan beruntun, kan? Ayahmu dan ibumu kini akan selalu bersama di tempat mereka seharusnya berada, dan kini neraka bisa melengkapi koleksinya. Sesuatu yang harusnya terjadi sejak dahulu kala."
Wanita itu tertawa layaknya maniak, melihat ekspresi Alucard yang beraduk antara ketidakpercayaan dan ketakutan besar yang ia miliki. Melihat pria itu yag masih menerawang, ia terbang mendekat ketiga mangsanya, taringnya hadir, dan ia siap untuk menerkam—
—Moskov melemparkan lembingnya ke arah Alice, yang mengenai sayapnya, membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan segera meluncur kembali ke lantai. Wanita itu menjerit sejadi-jadinya.
Alucard menarik napas, terkejut saat Karina menyentuh pundaknya, lalu mendorongnya ke permukaan cermin yang bersinar terang—ia melakukan perlawanan, tak ingin pergi. Ia menarik tangan Moskov untuk ikut bersama-sama masuk, tapi pria itu tak bergerak, bahkan ketika Karina menghilang. Moskov terdiam, menatap Alice yang menjerit kesakitan, berlutut di lantai.
Cerminnya masih bersinar dengan warna hijau pucat, semakin lama semakin pudar, permukaannya mulai retak. Ia tidak mampu mengeluarkan suaranya. Permintaan maafnya tak ia suarakan, ia segera menyentuh cerminnya, membiarkan diri ditarik masuk untuk menyusul Alucard dan Karina, keluar dari sini; siap untuk menebus kesalahannya.
(—ia berusaha untuk mengabaikan jeritan memilukan Alice, yang terisak seraya menazarkan sumpah, "Aku akan membuatmu membayar untuk ini semua!")
Cerminnya pecah, ruangan itu kembali hampa tanpa aura sihir mengudara.
.
.
Hal pertama yang akan Alucard lakukan saat menapaki tanah mungkin muntah.
Tubuhnya basah kuyup, mereka menyelam di air bersuhu negatif derajat. Moskov menariknya ke permukaan. Permukaan airnya membeku—Karina menggunakan pedangnya untuk menciptakan retakan, lalu dengan kepalan tangannya ia meretakkan permukaannya, sampai mereka dapat keluar dari kolam tempat mereka menyeruak—ah, ini air mancur.
Airnya membeku di udara, tak sampai ke kolam di bawahnya.
Dan badai salju, jangan lupakan itu.
Ketiga orang itu bergidik menggigil. Alucard merasa suasana salju yang sangat ia kenal… ini… Nost Gal? Ia pernah mendengar cerita bahwa salah satu penjaga Land of Dawn bersemayam di Nost Gal. Jadi… disinikah sosok misterius itu tinggal?
"Ada rumah." Moskov—dengan tangannya yang rapat dengan tubuhnya—menunjuk ke arah sebuah pintu masuk besar yang letaknya tepat di depan air mancur yang membeku itu. "Lebih baik kita masuk ke sana untuk berlindung dari badai dingin ini."
Baik Karina maupun Alucard tak bergerak, keduanya nampak larut pada pikirannya masing-masing, memegangi tubuh masing-masing untuk memenjarakan kehangatan tubuhnya yang masih tersisa. "Kalian mau membeku disini?"
Mereka langsung berjalan, tubuh berhimpitan untuk tetap hangat—dengan air yang masih menetes dari sekujur tubuhnya ditambah badai salju yang menerpa, adalah keajaiban mereka masih bisa berdiri dengan kedua kaki dan berjalan, juga mengetuk pintu rumah—istana, kastil—megah itu. Mereka menunggu agak lama.
"Rasanya seperti penghuninya sengaja membuat kita menunggu untuk membeku di sini." Gumam Karina, sedikit jengkel dibuat menunggu.
Pintunya terbuka dengan dorongan yang lemah. Alucard terkesiap saat melihat sosok yang membukakan pintunya.
"Ruby?"
"Tunggu, siapa?"
Wajah pemalu itu segera sumringah, senyumnya lebar dan wajahnya menjadi ramah. Ia menarik Alucard untuk masuk—kedua orang yang mengikutinya tak begitu ia pandang dengan senang. Gadis belia itu melepaskan tudungnya dan menyerahkannya pada Alucard, yang menolak dengan halus. Ia memicingkan matanya pada kedua orang dewasa yang bersama Alucard.
Alucard tertawa melihat tingkah gadis itu. "Itu adik perempuanmu?" Karina bertanya—wajah gadis itu menjadi merah, ia memendam wajahnya di telapak tangannya. Alucard pernah (sering) bilang kalau ia berasal dari Nost Gal, tapi hanya itu—tidak ada detail lain, hanya, "Kalau di Nost Gal" begini, "Kalau di Nost Gal" begitu.
"Ah, bukan—Ruby, ini Karina dan Moskov."
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Karina yang menjabatnya. Ia bergidik kedinginan. Melihat reaksi itu, Moskov dengan sopan menolak jabatan tangannya. Ruby mengusap telapaknya pada tudung merahnya. "Duduklah dimanapun… aku akan mengambilkan sesuatu untuk kalian…."
Alucard melepaskan mantelnya dan meletakkannya secara sembarang di atas meja. Karina meremas rambutnya, lalu membiarkan air menetes dari rambutnya yang tergerai. Ia menggigil, lalu duduk di antara Moskov dan Alucard. Ia tersenyum pada kedua pria di sampingnya.
Untuk saat ini ia merasa bisa menghela napas lega. Setidaknya Ruby aman.
Jantungnya masih berdebar keras—hawa dingin terkepul dari mulutnya. Ia tidak menyadari ini sebelumnya, karena banyak sekali yang terjadi disaat yang bersamaan—tapi baru saat ini ia merasakan hatinya tidak nyaman. Ia merasa seperti baru saja kehilangan sebelah tangannya, atau lebih parah. Ia tidak menyukai ini—perasaan ini harus cepat menghilang.
Ia menyentuh dadanya, lalu memejamkan matanya.
Membayangkan orang lain duduk di sebelahnya, membayangkan alpha lain duduk di sebelahnya, menghangatkan hatinya.
Zilong—ia ingin kembali bersamanya.
Ia tidak merasa lebih baik—ia masih terguncang dengan informasi yang diucapkan Alice atas dasar kebencian itu. Tapi untuk sekarang, hanya memikirkan alpha itu membuat hatinya tentram.
.
.
"Kau punya petunjuk seperti apa wanita yang kau cari?" ia menyikut Alucard, mengingatkannya untuk tidak tertidur—pria itu mendesis ke arahnya dengan keadaan mata terpejam dan tangan yang menyentuh dadanya. Yasudah. "Aku yakin aku bisa membantumu mencari wanita itu—mempermudahmu menemukannya. Dunia ini terlalu lebar kalau kau jelajahi sendirian, untuk mencari satu orang."
Moskov terdiam, ia nampak ragu-ragu untuk menjawab. Karina memotong, sebelum pria itu sempat membalas. "Ah, tunggu. Aku penasaran. Siapa wanita yang kau cari ini, dan mengapa ia sangat penting bagimu?"
"Dia… dulu tinggal di perbatasan Abyss—hutan Askati."
Karina mengenali orang-orang itu, dulu—kekuatan sihir mereka jauh lebih superior dibandingkan elf rembulan, terutama kaum elf yang menetap di Abyss, muncullah perasaan iri. Manusia Gagak, mereka dikenal sebagai ras tertua yang masih hidup di tanah ini. Karina tidak peduli, tapi Karina tahu rasa iri dari kaum elf rembulan itulah yang membawakan kehancuran bagi kaumnya terdahulu.
"Aku bertemu dengannya saat ia pergi mendekati jurang terjal menuju Abyss—kupikir ia berniat untuk mengakhiri hidupnya." Pria itu mendekati dirinya pada Karina—feromonnya mendekati tidak ada, meyakinkannya kalau mantan tangan kanan Alice ini hanyalah seorang beta. "Kami berbincang panjang, awalnya hanya karena kebetulan, lama-lama menjadi rutinitas.
"Kurasa Alice mengetahui apa yang kulakukan di belakangnya; ia mengirimkan perintah untuk menghabisi orang-orang penetap di hutan Askati—hari itu tepat pada hari pernikahannya. Aku… aku membunuh suaminya." Matanya berkilat penuh sesal. "Setelah itu, tiap detik yang kulalui terasa seperti sebuah kesalahan—aku menyaksikan wanita itu berubah menjadi monster yang bahkan Alice takuti. Ia akan membalas dendamnya, dan jalan itu bukanlah jalan yang harus diambil untuk mencapai ketenangan dalam jiwa."
Karina melingkari tangannya ke perutnya. "Kau benar." Gumamnya. Ia mengingat Selena, dan amarahnya. Mati-matian berusaha menjadi lebih kuat untuk mendapatkan kembali Selena yang saat ini dalam kendali Alice—ia berhenti saat menyadari bahwa pembalasan dendam adalah metode yang buruk untuk mencapai yang ia inginkan.
Tetapi sesuatu yang lain muncul dalam benaknya. Kepalanya perlahan menoleh ke Moskov, yang giginya bergemeretak. "Wanita yang kau cari itu… namanya bukan… Pharsa, kan?"
Alisnya bertaut saat mendengar nama itu lari dari bibir wanita di sebelahnya. "Kau mengetahuinya?"
Ia tertawa. "Oh, tidak—aku pernah bertemu dengannya; benar-benar individu yang menarik." Ia tidak ingin mengingat kekalahannya di hari itu, melawan seekor burung yang tak bisa ia tangkap. "Aku dibuat nyaris mati waktu itu—aku tidak menyalahkannya, karena ia mengenaliku sebagai elf malam, kaum bejat yang selalu dan selamanya hanyalah dalal antara dunia luar dan kegelapan di bawah. Aku lari sejauh mungkin dari wanita itu—aku masih menyayangi nyawaku."
Gadis itu kembali dengan pakaian tebal dan handuk. Ia membawakan mereka selimut juga. Tubuh kecilnya berbalik, lalu menghilang ke tempat lain—tidak lama ia kembali membawakan nampan dengan cangkir berisi minuman hangat. Alucard perlahan membuka matanya, ia mengambil handuk yang dibawakan untuk mengeringkan tubuhnya.
Karina dan Moskov pun demikian.
"Um… kalau kalian sudah siap… naiklah ke atas… ia ingin bertemu."
Ucap si gadis, dengan senyum maklum pada wajahnya. Sebelum ada yang dapat melontarkan pertanyaan, gadis itu pergi menaiki tangga dan menghilang.
.
.
[to be continued.]
note: maaf lama updatenya kawan. spellbound bener-bener nyita waktu dan tenaga buat mikir, waktu mau nulis chapter 4, pikiran saya gabisa nemuin plot ataupun apapun itu—tidak sampai spellbound kelar, setelah itu semuanya lancar jaya tanpa hambatan.
sejauh ini yang dialognya paling susah ditulis adalah karina dan alice (kenapa saya nyiksa diri buat nulis dialog yang nyusahin kayak mereka? entah.) sebelum adanya plot antara selena dan karina seperti di chapter ini, saya awalnya niat bawa balik martis. tapi rasanya sudah cukup, dan perkenalkanlah orang jahat baru—alice. ini bukan pertama dan terakhir alice bakal muncul. idk tentang karakterisasi yang lain, tapi selena kayaknya yang paling akurat (dan alice yang salty ke semuanya, karena terus-terusan dikhianatin… poor soul).
oh, dan saya melakukan research paling ga penting dan keluar dengan kesimpulan kalau senjata yang dipake moskov mungkin javelin. nama kota-kota fiksi di sini diambil dari nama gunung di itali (jangan tanya kenapa).
gimana zilong saat itu terjadi? panik setengah mampus, dia bakal maksa balik buat ketemu aurelia dan nanya apa yang terjadi—terus mereka cuma disaranin buat lanjutin perjalanan ke moniyan, dan mereka akan ketemu di sana (hint, lebih dari dua bulan). terima kasih telah membaca, dan review, diperkenankan?
(Untuk Guest yang nanya soal mark: kalau alpha atau omega mati mark akan tetep ada, tapi sistemnya sama—kalau ga diperbaharui, pudar. Soal mark yang bisa dihapus—nggak, disini mark gabisa dihapus. Kalo di omegaverse lain ada variasi bisa. Tapi disini nggak.
Soal pembuatan mark itu… itu mungkin seperti deklarasi cinta? kayak, kamu sayang sama orang, dan kalau pernikahan ga akan mengikat selamanya (dan pasti terjadi selingkuh, rahasia, atau ketidaksetiaan dan berbagai hal lain), maka mark itu ada sebagai bukti nyata buat kedua orang yang ingin bener-bener komitmen ke satu sama lain.
disini zilong sama alu belom—alu masih takut-takut, dan zilong belom siap (both of them are babies in romance stuff) walau dua-duanya sudah mantep ke satu sama lain. mereka cuma ga siap untuk komitmen seumur hidup karena yang permanen itu kesannya terlalu mengerikan dan ekstrim buat mereka.)
im also sleep deprived while writing this note i could be wrooooong
—29 Mei 2018, 12:21 AM, Bogor.
