Secret Chapter 3 – Running

Cast: Ino Yamanaka – Naruto Namikaze.

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Naruto.

.

.

.

.

.

Srek!

Ino buka tas ransel miliknya itu. Lalu mulai memasukkan semua baju-baju miliknya.

"Sudah tak ada alasan bagiku untuk berada di sini. Dia sudah mengetahui keberadaanku dan sekarang aku tak bisa apa-apa kecuali lari." Sembari memasukkan baju-baju, Ino bergumam panik. Selesai mengemasi barang-barangnya. Ino segera berlari ke pintu keluar.

Dibukanya pintu rumahnya, dan saat pintu itu terbuka, ia keluar lalu mengunci pintu itu kembali. Ino berlari dengan terburu-buru kearah rumah Nenek Chiyo.

Tok! Tok!

"Sebentar." Dari luar Ino bisa mendengar sahutan dari dalam rumah itu dan tak lama pintu terbuka. Menampakan wajah seorang wanita berusia senja.

"Ino? Kau kenapa? Kenapa kau membawa ransel? Apa kau ingin pergi?"

"Ya, Nenek. Aku harus segera meninggalkan tempat ini."

"Apa yang terjadi?"

"Aku tidak bisa menceritakannya, Nenek, yang terpenting sekarang adalah aku harus meninggalkan tempat ini. Ini kunci rumahku. Tolong, ya Nenek?"

"Dengan senang hati, sayang. Tapi, kau akan pergi ke mana?"

Ino terdiam dan berpikir. "Entahlah. Aku belum tahu."

Nenek Chiyo mengangguk maklum. "Tunggulah di sini sebentar?" Ino mengernyit saat Nenek Chiyo dengan tiba-tiba masuk. Untuk beberapa saat Ino hanya diam sembari menunggu Nenek Chiyo keluar. Tak lama Nenek Chiyo keluar dengan wajah yang ia tolehkan ke sana ke mari. Lalu tangannya meraih tangan Ino. Ino tersentak saat merasakan kertas menyentuh kulit tangannya. "Nenek punya sedikit uang. Siapa tahu bisa membantumu."

"Tapi, Nenek.."

"Tidak apa-apa. Ambillah." Nenek Chiyo bersikeras memberikan uang itu padanya.

"Terima kasih, Nenek." Ino peluk tubuh renta Nenek itu. Tak selang berapa lama dilepas pelukannya, lalu ia memberikan senyum terbaiknya pada Nenek Chiyo. "Aku pergi, Nenek."

"Hati-hati dijalan. Semoga kau selalu dalam perlindungan-Nya."

"Terima kasih atas doamu, Nenek. Semoga Nenek selalu sehat." Ucap Ino lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Nenek itu.

Ino mendudukkan dirinya di halte. Setelah berjalan kurang lebih satu jam akhirnya ia sampai di halte satu-satunya di wilayah itu. Ino membuka ransel yang sejak tadi digotongnya dan mengeluarkan botol air mineral yang ia bawa dari rumah.

Glek.. glek.. glek..

"Mph.. aaahh.." Ino menyandarkan tubuhnya masih dengan sisa-sisa nafas terengah. Tangannya bergerak untuk merogoh sesuatu dikantong, uang yang diberi Nenek Chiyo tadi. Ia menghitung uang tersebut dan terkejut saat tahu nominalnya.

"Ini uang yang banyak. Bagaimana bisa Nenek memberikannya padaku dengan begitu mudah? Huft... kuharap suatu saat nanti aku bisa kembali dan menggantikan uangnya."

Tak lama sebuah bis datang. Dengan segera dimasukkannya botol air dan uang itu. Lalu berlari memasuki bis. Didudukkannya tubuhnya disalah satu kursi di sana. Perlahan kepalanya ia sandarkan dikursi bis dan tanpa ia sadari, ia justru mulai tertidur.

Ino terbangun saat telinganya menangkap banyak suara kendaraan berlalu-lalang. Matanya sedikit mengerjap, sebelum kemudian wajahnya menunjukkan tanda kebingungan.

"Di mana ini?" ditolehkan kepalanya ke samping dan ia mendapati seorang wanita seusianya duduk dengan memangku seorang anak berusia sekitar 5 tahun disebelahnya. "M-maaf?" panggil Ino. Wanita itu mendengar panggilannya dan menoleh. Begitupula dengan anak dipangkuannya. Wajah mereka menunjukkan ekspresi bingung. "Ah, aku ingin bertanya. Ini di mana?"

Wanita itu tersenyum. "Oh, ini Tokyo." Jawabnya ramah.

"Tokyo?"

"Ya." Jawab wanita itu dengan senyum. "Jika aku boleh tahu. Kau ingin pergi ke mana?"

Ino terdiam mendengar pertanyaannya. "Aku... aku juga tidak tahu. Aku pergi tanpa rencana karena terburu-buru."

"Oh, begitu. Lalu sekarang apa rencanamu?"

"Entahlah. Aku juga bingung." Ino menunduk saat melihat tatapan iba dari wanita itu.

"Bagaimana jika kau ikut aku? Aku bekerja sebagai pelayan disebuah rumah keluarga kaya di Tokyo dan kebetulan aku baru kembali dari cutiku, dan kemarin majikanku memintaku untuk membawa seseorang untuk dipekerjakan. Bosku itu membutuhkan satu tenaga kerja lagi. Kau mungkin bisa bekerja di sana." Ino mendongak dan menatap tak percaya pada wanita itu. Senyumnya perlahan mengembang.

"Sungguh? Aku bisa bekerja?"

"Tapi, aku masih tidak tahu. Bosku itu sangat pemilih dalam mencari seorang asisten rumah tangga. Jadi, aku harap kau cukup beruntung menarik bosku untuk mempekerjakanmu di sana. Berdoalah."

"Baiklah. Terima kasih... ehm.. namamu?" tanya Ino.

"Panggil saja aku Sakura, dan ini anakku, Yagura."

"A... nak?" alis kiri Ino terangkat. "Kau berasal darimana?"

"Kyoto."

"Apa suamimu tidak marah kau bekerja sangat jauh seperti ini?" Ino mengernyit saat melihat wanita di depannya menatapnya sendu.

"Aku belum menikah." Ino mengerti maksud nada bicara itu.

"Ah, aku mengerti." Ino mengalihkan padangannya pada anak Sakura lalu tersenyum.

"Hai, Yagura."

"Halo. Kakak yang cantik ini siapa namanya?" Ino tersenyum mendengar penuturan polos anak laki-laki itu.

"Namaku, Ino."

"Nama yang cantik."

"Terima kasih."

"Omong-omong, kau sendiri berasal darimana?" tanya Sakura.

"Aku dari daerah pesisir pantai di Nara dan aku pergi untuk mencari kehidupan lebih baik."

Lari dari masalah tepatnya.

"Apa kau punya orangtua?" Ino terdiam mendengar pertanyaan Sakura. Lagi-lagi memori menakutkan itu melintas.

"Mereka sudah tidak ada." Jawab Ino pelan. Nampaknya Sakura terkejut mendengar ucapan Ino. Terbukti sekarang wajahnya berubah menyesal.

"Aku minta maaf."

"Tidak masalah."

"Lalu, di sana kau tinggal dengan siapa?"

"Sendirian."

"Sendirian?"

"Ya." Ino tersenyum kecil lalu menunduk.

Setelah itu pembicaraan terus berlanjut dengan menyenangkan. Hingga membuat kedua wanita sebaya itu tak begitu merasa bosan dalam perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lamanya. Akhirnya bis sampai di daerah ramai. Saat bis berhenti di halte. Sakura berdiri, dan itu membuat Ino bergerak untuk mengikutinya. Saat Ino akan mengeluarkan uang untuk membayar uang bis. Sakura lebih dahulu menahannya.

"Biar aku saja yang bayar. Kau tunggulah diluar bersama Yagura."

"Terima kasih banyak, Sakura. Ayo Yagura." Ujar Ino lalu menggendong Yagura untuk turun dari bis.

Tak lama Sakura menyusul Ino dan Yagura turun dari bis.

"Ini sangat aneh, tak biasanya Yagura seakrab ini dengan orang yang baru ia temui."

"Mungkin dia merasa nyaman berada di dekatku." Jawab Ino seadanya.

"Ya. Mungkin saja. Ayo cepat, kita harus tiba di rumah majikanku tepat waktu. Mereka itu sangat disiplin waktu."

"Ah, iya." Balas Ino lalu berjalan mengikuti Sakura.

"Sakura, apa majikanmu itu baik?"

"Ya. Mereka sangat baik dan mungkin Nyonya Tsunade akan sangat senang jika melihatmu. Nyonya Tsunade sudah lama ingin seorang anak perempuan."

"Apa Nyonya Tsunade tidak punya anak?"

"Tidak. Tapi, dia memiliki seorang keponakan laki-laki. Tapi, dia sudah dewasa mungkin dua tahun lebih tua darimu dan dia bekerja di perusahaan suaminya."

"Begitu..." komentar Ino.

Tak berapa lama. Mereka sampai disebuah rumah besar. Rumah yang sangat besar. Dengan halaman luas dan pagar besar yang melindunginya.

"Wow... ini rumah?"

"Ini belum seberapa. Kau belum lihat bagian dalamnya." Ucap Sakura. "Paman Kotetsu!" Sakura memanggil seorang penjaga yang tengah tertidur. Sontak panggilan Sakura itu membuat pria tua yang ia panggil Kotetsu itu tersentak bangun.

"Apa? Apa? Apa? Siapa? Oh, Sakura, Yagura... dan.. siapa itu?"

"Halo." Sapa Ino.

"Halo." Balas paman itu kaku.

"Dia orang baru, yang akan aku rekomendasikan di rumah ini."

"Oh, kebetulan sekali." Ucap paman itu. Lalu mereka terdiam.

"Oke. Apa paman hanya akan diam dan membiarkan kami kedinginan diluar?" tanya Sakura dengan alis terangkat. Paman itu tersentak, lalu tertawa.

"Maafkan aku." Ucap paman itu lalu mulai membuka gerbangnya. "Selamat datang di kediaman Uzumaki. Silahkan masuk." Ino tersenyum kecil sebelum pada akhirnya terdiam.

Uzumaki? Tidak... mungkin... hanya sama.

"Ino, kenapa? Ayo masuk." Ino tersentak dan segera berjalan mengikuti Sakura.

Setelah masuk. Sakura pun membawa Ino ke kamar pelayan untuk meletakan barangnya dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan itu semua, Sakura bergegas membawa Ino keatas. Di mana Sakura bilang bahwa kantor Nyonya Tsunade ada diatas.

Tok... tok.

"Masuk."

Sakura menatap Ino lalu perlahan membuka pintu. Saat pintu terbuka yang pertama kali Ino lihat adalah seorang wanita berkacamata yang tengah duduk dibelakang meja dengan sebagian wajahnya yang tertutupi layar laptop. Ino sedikit gemetar saat melihat mata Tsunade mulai menatap kearahnya. Perlahan ditutupnya laptop berwarna hitam itu, lalu mulai menatap Ino lebih seksama.

"Siapa dia, Sakura?" tanya Tsunade ramah.

"Dia seorang kenalan saya. Dia pendatang baru di Tokyo dan sedang membutuhkan pekerjaan. Bukankah, Tuan Muda sedang mencari penata baru?" jawab dan tanya Sakura.

"Oh, syukurlah. Kupikir aku akan gagal menemukan penata baru untuk si bandel itu. Oh, ya, Nona, kau berasal darimana?" tanya Tsunade itu dengan senyum manisnya.

"Nara."

"Nara? Itu cukup jauh dari sini. Di sana kau tinggal di daerah mana?"

"Di dekat pantai."

"Oh." Komentarnya. "Apa kau bisa melakukan pekerjaan rumah tangga? Apa kau itu penyabar? Apa kau bisa memasak? Menjaga seseorang? Mengawasinya? Bisakah kau lakukan itu semua?" Ino mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Aku bisa melakukan pekerjaan rumah. Aku tidak tahu apakah aku penyabar atau tidak. Karena masalah itu bukan diriku sendiri yang menilai tetapi orang lain. Aku bisa memasak. Aku bisa menjaga seorang anak dan juga orang tua. Tapi, anak muda... aku belum pernah. Untuk mengawasi, aku harus terlebih dahulu tahu apa dan kenapa aku harus mengawasinya. Baru aku akan melakukannya." Jawab Ino panjang.

"Aku suka jawabanmu. Baiklah, kau aku terima. Sekarang pergilah ke Apartemen CeLight. Kau akan diantar supir kesana, dan untuk kamar serta kuncinya. Aku akan beritahu pihak Apartemen untuk mengantarmu. Mengerti?" ucap Tsunade.

"Apartemen? Kenapa saya harus kesana?"

"Karena di sanalah kau akan bekerja. Keponakanku meminta agar Asisten sudah harus ada sebelum jam lima dan aku sangat bersyukur kau ada. Karena dia tidak ingin melebihi hari ini. Karena nanti malam dia harus menghadiri pesta sebagai pengganti Pamannya yang sedang dalam urusan bisnis di Paris. Jadi, aku minta kau berangkat secepatnya sebelum dia kembali dari kantor. Jadi sekarang, kemasi barang-barangmu. Karena kau akan tinggal di sana." Ucap Tsunade masih dengan wajah ramahnya. Lalu bergerak hendak kembali membuka laptopnya.

"Apa di sana ada pelayan lain?" tanya Ino ragu.

"Tidak. Kau hanya akan tinggal berdua dengannya. Tapi, jangan khawatir. Dia tidak akan berbuat macam-macam." Ucap Tsunade seperti mengetahui kegelisahan yang Ino rasakan.

Semoga saja.

Sakura menundukan sedikit kepalanya dan Ino pun mengikutinya. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan kantor Nyonya besar itu.

"Nyonya itu sangat ramah."

"Bukankah aku sudah bilang padamu?"

"Sakura," panggil Ino saat mereka tengah menuruni tangga.

"Ya?"

"Apa, Tuan Muda itu baik?"

"Ya. Tuan Muda sangat baik. Walau kadang sedikit menjengkelkan. Tapi, jangan khawatir."

"Tapi kenapa saat kita hendak keluar tadi, Nyonya berkata 'semoga kau bisa betah dengannya.' Kenapa Nyonya berkata demikian?"

"Itu karena banyak penata yang memilih mundur untuk melayani Tuan Muda."

"Kenapa?"

"Selera Tuan Muda sangat rumit─menurut mereka, padahal kenyataannya tidak serumit itu. Itu yang membuat mereka merasa lelah. Karena Style mereka tak pernah sesuai dengan Style yang Tuan Muda suka dan yang terjadi, mereka hanya dibentak-bentak. Bahkan ada yang gagal dihari pertama. Kudengar Tuan Muda mengajukan pertanyaan tak masuk akal pada mereka. Kebanyakan yang diajukan pertanyaan itu adalah para Asisten perempuan." Jelas Sakura dengan nada datar.

"Memang, Tuan Muda suka Style yang bagaimana?"

"Casual, tapi Elegan dan Simple. Hanya itu."

"Oh. Lalu, pertanyaan apa yang Tuan Muda ajukan itu?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Sakura dengan mengkendikkan bahu. "Baiklah. Sebaiknya kau cepat. Tuan Muda hari ini pulang jam enam. Jadi kau sudah harus ada di sana. Dan ingatlah ini, saat Tuan Muda datang, sambutlah dengan baik lalu jelaskan siapa dirimu, dan tanyakan apa saja tugas-tugasmu. Mungkin tanggapan awal akan dingin. Tapi, jika kau sabar kau akan lihat sisi lembut dan hangat dari Tuan Muda." Ino menyimak baik-baik saran Sakura. Tanpa ada keinginan tertinggal satu bait kata pun.

"Terima kasih Sakura, atas saran dan bantuanmu hari ini. Gaji pertama aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih."

"Aku akan menunggu saat itu. Sekarang kemasilah barang-barangmu. Aku akan minta Hayate untuk menyiapkan mobilnya." Ucap Sakura sembari mengelus rambut Ino. Lalu berlalu pergi. Ino segera berlari kearah kamar pelayan. Lalu mengambil ranselnya dan kembali berlari keluar. Setibanya diluar, ia sudah disambut oleh sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam. Seorang pria muda yang Ino yakini adalah supir bernama Hayate yang Sakura sebut tadi, tengah berdiri di samping pintu mobil bagian penumpang. Ino sempat minder sendiri saat ingat penampilannya sekarang. Namun, ia mengabaikannya dan justru berlari kearah Sakura yang tengah berdiri sembari menatapnya dengan senyuman lalu memeluknya.

"Jika ada waktu. Aku akan mengunjungimu."

"Aku juga." Ino melepas pelukannya lalu berjalan kearah mobil. Saat ia telah masuk. Pintu pun ditutup dan Hayate berjalan kearah kursi pengemudi. Ino membuka jendela kaca itu, lalu melambai kearah Sakura yang juga dibalas lambaian oleh Sakura.

Selama sepuluh menit perjalanan, hanya ditemani suara mobil-mobil yang mereka lewati dan suara keributan jalan raya.

"Hai, siapa namamu?" Ino yang semula menatap keluar jendela sontak menoleh. Dari kaca depan, Ino bisa melihat supir muda itu tengah menatapnya, namun sesekali matanya mengarah ke jalan raya. Ino tersenyum kikuk dan menjawab.

"Ino. Senang bertemu denganmu..?"

"Hayate. Aku supir pribadi Tuan Muda. Aku juga senang bertemu denganmu." Ino tersenyum kecil. "Oh, ya. Kau berasal dari mana?"

"Di pesisir pantai di Nara."

"Apa kau pergi jauh seperti ini atas izin orangtua?" Ino tersenyum sendu.

"Orangtuaku sudah tidak ada." Jawab Ino apa adanya.

"Maafkan aku."

"Pertanyaanmu sama sekali tidak salah. Jadi, kau tidak perlu minta maaf."

Perjalanan pun berlanjut dengan keheningan. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah kawasan Apartemen Elite.

"Aku antar kau sampai di sini. Nanti saat kau masuk beritahu namamu, maka Recepsionist itu akan memberitahu Apartemen Tuan Muda."

"Kau mau ke mana?" tanya Ino pada Hayate.

"Aku supir pribadi Tuan Muda, jelas saja aku akan menjemputnya. Sebaiknya setibanya kau di Apartemen segera siapkan baju yang harus tuan kenakan ke pesta nanti. Karena dia harus berangkat jam tujuh." Ino menyimak baik-baik apa yang Hayate jelaskan padanya. Lalu mengangguk.

"Terima kasih. Informasimu sangat membantuku."

"Ini memang tugasku." Ino tersenyum. Lalu segera keluar dari mobil. Setelah itu ia masuk menuju loby Apartemen dan menemui Recepsionist.

"Selamat datang di Apartemen CeLight. Ada yang bisa saya bantu?"

"Namaku Ino Yamanaka. Aku Asisten baru yang dikirim oleh Nyonya Uzumaki."

"Oh, kau pelayan baru Tuan Namikaze?" tanya Recepsionist itu dengan wajah ramah.

Deg!

Na-Namikaze? T-tidak mungkin. Oh, ayolah yang namanya Namikaze ada jutaan didunia ini. Pasti orang yang lain. Pas... ti.

"Ya."

"Kalau begitu, tunggu sebentar." Recepsionist itu menunduk sebentar untuk membuka laci di mejanya, dan tak lama menyerahkan sebuah kartu. "Ini kunci kamarnya. Tuan Naruto tinggal di Apartemen 202 dilantai 20."

"Terima kasih." Ucap Ino sembari meraih kunci.

"Ini tugas kami. Kenyamanan pelanggan adalah pioritas utama kami." Recepsionist itu tersenyum. Ino pun mulai berjalan menuju lift.

Ia masuk kedalam lift lalu mulai menekan tombol 20. Perlahan pintu pun tertutup. Saat dilantai 15 lift bergoyang dan lampunya menyala dan mati. Dengan spontan tangan Ino berpegang pada besi yang ada di samping lift.

"Apa yang terjadi. Aku terjebak tolong!" Ino berteriak histeris dan menggedor-gedor pintu lift dengan panik.