Akashi : Masih belum dapat pekerjaan -_-"
Takao : Lah, yang kabur siapa?
Akashi : Aku..., abis berisik banget. Orang kayak gini tuh gak pernah suka tempat rame.
Midorima : Benda keberuntanganmu hari ini adalah bola basket. Eh? Aku taruh mana ya bolanya?
Takao : Nih, tadi abis dia ambil tukul, eh, tuyul. *ngasih bola basket yang di bedah Midorima*
Midorima : Ah, 39. Nih, benda keberuntunganmu, kalo kamu bawa pasti dapat pekerjaan bagus. ^^)b
Akashi : Itu ngapain sih ngomong pake angka. Kayak kalkulator aja.
Midorima : Ih, gak tau ya. Itu kan lagi jaman. 4649 = yoroshiku, 39 = sankyu, masa gak tau?
Akashi : Tau sih tau, tapi itu kan alay banget. Yang lagi jaman tuh bergalau ria di tengah malem.
Takao : Ngapain galau, nakut-nakutin orang malem-malem tau.
Midorima : Oh, ternyata suara tangisan di malam hari tuh orang lagi galau. Ternyata.
Takao : Kalo yang dimaksud Shin-chan itu yang di rumah sakit, itu bukan orang galau, itu pocong nangis-nangis pengen pipis tapi gak pengen ngebasahin kainnya.
Midorima : Terus, dia pipisnya gimana?
Takao : Akhirnya aku potongin kainnya pake guntingmu itu, lalu *mulai bersembunyi dibelakang tembok* kena sedikit pipisnya dan aku belum menyucinya.
Akashi : APAA!? *lempar gunting ke arah Izumi*
Izumi : Hei, apa-apaan nih, aku dateng-dateng langsung dilemparin gunting. Baunya kayak cumi-cumi lagi. Jangan-jangan salah satu dari kalian ada yang m*****basi.
Akashi :Jorok ih. *ngelap tangan di bajunya Midorima*
Izumi : Maaf pembaca, sambil aku memecahkan permasalahan ini, kalian baca lanjutan ceritaku aja ya. OK, siapa yang abis m*****basi?


Chapter 4


Akashi sudah 3x dipecat, DALAM SEHARI. Akashi yang sudah marah jadi tidak memperdulikan aturan untuk menyebrang. Saat dia di tengah jalan, dia hampir tertabrak oleh mobil polisi, nah loh. Akashi, masih kesal dengan nasibnya, bersikap seperti tidak tau dan tetap berjalan seperti biasa. Polisi yang menyetir mobil yang tadi langsung keluar mobilnya dan menangkap pemuda itu. "Hei, apa-apaan nih. Udah kamu gak nyebrang di zebra cross atau di jembatan penyebrangan, lalu kamu gak liat lampu lalu lintas yang menandakan belum boleh menyebrang, lalu kamu juga ngacangin polisi. Berani sekali ya kamu?". Polisi yang berkulit gelap itu langsung membawa Akashi ke pos polisi.

"OK? Intinya kamu galau gak punya pacar jadi kamu pengen bunuh diri, tapi gak ditabrak oleh polisi ganteng seperti ini?". Penjelasan macam apa itu? "Enak aja, budi ya. Gak deng gede banget.". "Namaku bukan budi, namaku Aomine Daiki. 'Itu'-ku emang gede sih, kok tau, emang keliatan?" Aomine melihat ke arah resleting celananya. Akashi pun facetable, atau jangan-jangan dia pingsan. "Bukan gede itu, budi itu 'budeg dikit'. Dasar Ahomine Dakian.". "HEH?! Dapat dari mana panggilan itu, yang manggil itu kan cuma fans-fans tercintaku." Ternyata Aomine punya fans ya. "Btw, aku gak galau, pengen nyari pekerjaan tapi gak dapat-dapat.". 'O', itulah bentuk mulutnya Aomine saat itu... bayangkan sendiri.

"Kalo kamu nyari pekerjaan, gak ada di sini. Sana pergi!" Aomine mengusir Akashi dan mengambil majalah yang ada di atas mejanya. "Enak aja main ngusir." Akashi menyita majalah yang di pegang polisi itu, "Baca apaan sih? Kayaknya seru banget.". Akashi tidak menyadari kesalahan yang dia baru lakukan. Yang dia sesali selama 1 detik.

Seperti di chapter Midorima, Aomine dan Akashi akan beradu bacot. Mulai dari Akashi, douzo~!
"INI...!? Oh, majalah porno. Kirain majalah gunting edisi terbaru."
"Hah? Maksudmu apaan O doang? Majalah ini berisi harapan semua cowok di dunia ini, tidak, semesta ini."
"Ah, lebay. Ini harapan para cowok di dunia? Berarti kalo aku robek, semua cowok akan berputus asa? Aku harus mencobanya."
"Eh, enak aja. Kamu juga cowok kan? Berart kamu juga nanti putus asa."
"Oh tidak bisa. Aku ini bukan cowok."
"Terus kamu apa? Jangan-jangan banci."
"Bukan, aku ini. . ./JENG JENG/. . . laki-laki. *zoom in zoom out zoom in zoom out*"
". . . '_' OK. Btw, balikin, aku mau baca lagi."
"Enak aja, aku baca dulu, baru aku balikin."
"Aaah! Balikin gak." Aomine seketika bertingkah seperti bocah menyebalkan.
"Ih! Jijik... Yaudah, ayo baca bareng."
"Hihihihi, ya kan, majalah ini penuh dengan harapan cowok."
"Harapan apanya? Isinya cuma cewek yang dadanya besar, itu saja."
"Itu saja? ITU SAJAA!? Hehe, anak kecil. Kamu belum tau apa-apa."
Aomine mengambil setumpuk majalah dari bawah mejanya yang dia sembunyikan entah dimana.
"Itu apa?"
"Udah, jangan sok polos. Dari covernya udah keliatan."
"Iya, iya. Ini majalah porno lagi kan? Apa bedanya sama yang ini?"
"Oh, kamu masih pemula, liat ini."
"Yaudah sih, cuma cewek lagi nyiksa cowok. Terus yang ini cewek sama cowok lagi berdua di tempat tidur. Terus kenapa?"
"Polos sekali kamu, jadi ini tuh-"
"Udah tau kok, cuma jaga-jaga yang baca belum cukup umur."
Mereka liat ke pembaca...
"Kamu biasa banget lihat ginian? Udah pernah liat?"
"Udah, sering. Aku juga udah sering ngelakuin. Jangan-jangan kamu belum pernah? Yah, payah."

Ternyata Akashi... "Anyways, disitu ada yang lagi ngeliatin. Siapa?". Aomine melirik, "Oh, Ryou. Sini kau!". Ryou? Jangan-jangan dia yang terkenal dengan frase . . . "Sumimasen, sumimasen." Ah, salah orang. Kirain yang suka ngomong "Mada mada dane.". "Itu Ry*ma dari Prince of *enis.". "Maaf Aomine-san, kamu kurang satu n." hanya rambut kecoklatannya yang kelihatan. "Oh iya." Aomine menulis di udara...ngapain? "Maaf, maaf. Maaf namaku mirip dengan orang lain. Maaf kamu salah orang. Maaf kamu harus mendengarkan aku meminta maaf, bla bla bla (males nulis).". Aomine menghela nafas, "Udah ah, berisik!". "Sumimasen, sumimasen. Maafkan aku untuk bernafas dengan udara yang sama denganmu. Maaf aku hidup. Untuk permintaan maaf setulus-tulusnya, aku akan bunuh diri." peminta maaf bernama Sakurai Ryou mengambil gunting, "Tapi kalo aku mati, nanti aku akan menyusahkanmu untuk membersihkan badan dan darahku."

"Yaudah, kalo mau bunuh diri di hutan aja, nanti juga ada singa yang makan." Akashi mengambil gunting yang dipegang Sakurai, "Terus kamu tuh berisik tau, minta maaf mulu. Udah ah, aku pergi aja. Gak ada masalah lagi kan?". "Iya, udah sana pergi. Mataku sakit tau ngeliat kamu.". Aomine seharusnya tidak mengatakan itu, fangirls (dan fanboys) langsung menyerbu Aomine. "Enak aja, kamu tuh harus bersyukur bisa lihat mukanya Akashi-sama.""Bilang aja kamu iri melihat ketampanan Akashi-sama. Kamu kan keling gini, pasti iri, ya kan?""Kamu gak boleh bilang gitu sama Akashi-sama, aku udah cinta mati sama Akashi sejak kita melakukannya." dan yang lebih mengagetkan adalah yang ngomong paling terakhir adalah cowok.

Akashi yang pergi dengan senyum tipis di mukanya menyampaikan salam terakhir (?) kepada Aomine-yang masih di gencet sama fansnya Akashi-dan Sakurai-yang masih ngomong 'sumimasen, sumimasen'-.


Yak sampe situ dulu. Maaf ya fanficnya lama update, otaknya lg macet.

Time for RnR~!