"Akashi-kun, apa kau pernah jatuh cinta?"
"UHUK—A-Apa?!" Akashi tersedak saat meminum teh yang kau sajikan. Salahkan saja pertanyaan mendadak yang kau lontarkan.
"Aku tanya, apakah Akashi-kun pernah jatuh cinta?"
Lelaki berambut merah itu membatin sebelum menggidikan bahunya acuh tak acuh. Kau pun menatap Akashi bingung.
"Maji de? Akashi-kun tidak bohong kan?"
Akashi mengangguk. "Tidak, dan bagiku perasaan seperti itu tak berguna."
Mangaka
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama, (slight) Humor
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixReader, slight KisexReader & KurokoxReader, Mangaka!Reader, OOC
[Drabble 4—Pekerjaan, Rahasia Kecil yang Kau Sembunyikan]
Kau kembali menimbang-nimbang.
"Jadi Akashi-kun belum pernah ya," gumammu sembari menghela nafas. "Kalau begini kurasa aku hanya bisa menggunakan imajinasiku saja..."
Akashi melirikmu tajam. "Lagipula untuk apa kau bertanya hal seperti itu?"
Kau menatapnya sejenak sebelum menghela nafas. "Temanku mengusulkan untuk membuat scene pernyataan cinta."
"Jadi, jika Akashi-kun sedang jatuh cinta dengan seseorang, aku mengusulkan untuk menembaknya secepat mungkin disaat aku melihat," serumu lancang—membuat Akashi hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
Akashi mengadahkan kepala—menatapmu dengan wajah gelap. Kau mengerjap kedua matamu berulang kali. Akashi yang melihat responmu pun mendecih pelan.
Kau kebingungan, namun memutuskan tuk kembali fokus pada manga yang kau—ralat, kalian—kerjakan. Kau sudah selesai menggambar semuanya, hanya tinggal mem-beta saja. Yang tentu saja dilakukan dengan bantuan Akashi.
Akashi yang perfeksionis dengan cepat mengerti dan mengerjakan semuanya dengan baik. Kau tersenyum melihat hasil kerja Akashi. Hanya tinggal beberapa lembar lagi, lalu chapter pertama akan complete!
Manik matamu kau arahkan pada jam dinding. Ah! Sudah jam setengah lima! Syukurlah, masih ada setengah jam sebelum Riko sampai di apartemen!
Kau memandang kembali Akashi, lalu dua lembar kertas bergambar manga yang belum sempat ia beta. Kau pun mengambil satu dan membantunya dengan cepat. Hingga saat kau selesai, Akashi juga telah selesai.
"Hmm..." Kau mengecek hasil beta Akashi dengan bibir melengkung ke atas. "Terima kasih banyak atas usaha kerasmu!"
Akashi menanggapinya dengan anggukan. Senyumanmu melebar.
"Kurasa Riko-nee akan senang dengan hasilnya," ucapmu ceria. "Bagaimana menurutmu, Akashi-kun?"
Akashi mengabaikanmu, ia justru menatap intens cover chapter 1 manga buatanmu.
"Kitagawa Ruri?" Akashi menautkan kedua alisnya heran melihat nama yang tertampang di bawah. "Siapa itu?"
Kau memiringkan kepalamu. "Tentu saja itu nama penaku. Aku sudah membuat dua komik menggunakan nama itu—Nightmare Rose dan Bunny Honey, yang masing-masing satu volume. Aku kan tidak mungkin menggunakan nama asliku!"
Akashi mengangguk datar sebagai respon.
"Ah, tapi lebih baik Akashi-kun memanggil namaku seperti biasa saja." Kau menggaruk bagian belakang lehermu. "Rasanya aneh kalau Akashi-kun memanggilku Ruri seperti Riko-nee."
Akashi tak merespon. Manik matanya menatap angkuh setiap lembaran manga yang kau gambar. Kau tak begitu peduli mengenainya dan memutuskan untuk mengamati sebuah bola basket di balik sofa.
Ting Tong! Ting Tong!
Sara bunyi bel menggema secara tiba-tiba. Kau menegang lalu menarik kumpulan lembaran manga dari tangan Akashi, mengurutkannya kembali, dan memasukannya ke dalam amplop coklat—yang kau ambil dari dalam tasmu.
Akashi mengerti. Ia pun membuka pintu apartemen dan mempersilahkanmu keluar—bersama tasmu tentunya.
Kau pun dengan cepat melangkah keluar. Akashi menungguimu sejenak, entah apa alasannya. Matamu bergerak mengamati sekitar—hingga terhenti pada sosok wanita berambut coklat pendek depan pintu apartemenmu.
"Ri-Riko-nee!" panggilmu.
Wanita berumur dua puluhan itu menoleh ke arahmu—heran. "Ah, Ruri-chan! E-Eh? T-Tunggu... Mengapa kau keluar dari apartemen itu? Bukannya apartemenmu yang ini?"
Kau menggaruk bagian belakang kepalamu—cangung. "Emm, aku menjatuhkan kuncinya entah dimana. Jadi aku singgah dulu di tempat Akashi-kun."
Riko menaikkan sebelah alisnya. "Akashi-kun? Siapa dia?"
Kau sontak menunjuk lelaki berambut merah yang kini tengah berdiri bersandar pada pintu yang masih terbuka. "Dia Akashi-kun."
Riko menatap kalian berdua bergantian beberapa kali sebelum bertanya dengan wajah horror. "K-Kalian tidak melakukan sesuatu yang aneh kan?"
Kau mengerjapkan kedua matamu, lalu memandang Akashi heran. Akashi tak menjawab. Dengan acuh tak acuh, ia masuk dalam apartemennya kembali tanpa mengucapkan salam.
Kau kembali memandang Riko polos. "Kurasa hanya mem-beta dan melakukan berbagai hal yang tak perlu kujelaskan."
Mendengar jawabanmu, Riko memekik pelan sambil memegangi pipinya yang kini memerah. Kau memiringkan kepalamu sedikit—bingung.
Entah apa yang ia imajinasikan mengenai kalian berdua.
.
Avjksl. Oke, di warning ada slight KisexReader dan KurokoxReader. Dan kurasa itu mulai tampak di drabble 5/6 nanti. Saya rasa Kuroko dulu baru Kise menyusul.
Dan karena Kuroko—rencananya—itu temen sesama pengarangnya si 'kau', jadi nanti manggilnya Kitagawa-san. Yang manggil pakai nama asli cuman Akashi dan Kise /plek
Gyaaa~ Makasih banyak buat semua yang mau nyempetin baca, fave, review, follow! Huweeee *terharu*
Sekian...
~alice dreamland
.
.
And Happy Valentine! /sendirinya-ngak-rayain-woi
