part 4 : Sudahlah. Ini semua sudah berakhir. Aku lelah
Let's Stop Being Friends
cast : Oh Sehun, Xi Luhan and others
Rated : T-M
Boy and Boy Love
DLDR!
Setelah kejadian Sehun yang menolaknya dan mengatakan tidak mengenalnya. Membuat Luhan semakin gencar mendekati Sehun
"Tidak mungkin dia tidak mengenalku. Pasti otaknya sudah dicuci. Aku harus ada disana dan membuatnya memanggil sayang padaku" gumam Luhan tersenyum evil
"Aku sudah jauh-jauh kemari hanya untuk mendengarkan kalimat "aku tidak mengenalnya" apa-apaan itu. Tidak bisa dibiarkan" kata Luhan bersemangat.
Dan karena semangatnya itulah sekarang ia bisa bekerja di perusahaan Sehun. Luhan bekerja dengan jabatan yang bisa memungkinkan ia bertemu dengan Sehun setiap hari. Luhan bekerja dengan jabatan yang membuat Sehun akan memanggilnya terus karena pasti Sehun butuh.
Yak. Luhan bekerja sebagai Office Boy di perusahaan Sehun. Karena hanya itulah satu-satunya jabatan yang bisa ia peroleh karena pendidikannya yang tak selesai.
"Ya sajangnim, apa tidak ada jabatan lain selain menjadi office boy? Aku kan melamar sebagai sekertaris" protes Luhan pada ketua bagian personalia di perusahaan Sehun yang bernama Lee Sun Bae
"Tidak ada hanya itu lowongan yang tersedia untukmu, siapa yang menyuruhmu datang setiap hari kesini mencari pekerjaan. Lagipula kami tidak membutuhkan pria asal kau tahu, kami membutuhkan wanita. Karena karyawan kami sedang cuti melahirkan selama 3 bulan. Kau hanya menggantikan karyawan kami yang sedang cuti, jika tidak mau kau bisa pergi sekarang" kata ketua Lee panjang lebar
"A-aniyaa, tentu saja saya mau. Tidak apa walau hanya tiga bulan, kapan saya mulai bekerja?" Tanya Luhan
"Besok pagi tentu saja. Besok ada rapat semua bagian perusahaan jam 8. Kau harus tiba dikantor pukul 6, kau harus menyiapkan teh dan cemilan untuk seluruh bagian. Jika kau terlambat, kau akan dalam masalah besar" kata ketua Lee pada Luhan
"Baiklah aku tidak akan terlambat sajangnim, aku pamit pulang dulu, terimakasih atas kebaikanmu" kata Luhan tersenyum senang dan meninggalkan ruangan ketua Lee
..
..
..
Keesokan paginya Luhan tengah bersiap-siap untuk memulai hari pertamanya bekerja di Seoul, yang membuatnya bersemangat adalah kemungkinan bertemu dengan Sehun yang sangat banyak. Luhan agak tergesa-gesa karena dia terlambat bangun.
"Lu, sarapan dulu, eomma sudah menyiapkan roti" kata Heechul melihat anaknya sangat terburu-buru
"Aniya eomma, aku sudah telat, aku sarapan nanti saja" jawab Luhan terburu-buru
"Kalau kau tidak sarapan eomma juga tidak akan sarapan" ancam Heechul
Luhan menatap ibunya dan mencubit pipi Heechul gemas
"Baiklah aku sarapan...aaaaa" kata Luhan minta disuapi Heechul
Heechul dengan senang hati menyuapi putranya
"Kau benar mendapatkan pekerjaan yang baik kan nak?" Tanya Heechul khawatir
"Benar eomma, ini perusahaan besar, walaupun gajiku tak seberapa aku rasa akan cukup untuk membayar bunga dan hidup kita sehari-hari" kata Luhan bicara sambil makan
Heechul mengusap wajah anaknya yang nampak kelelahan dan tak lama ia menangis
"Eomma kenapa menangis lagi?" Protes Luhan melihat eomma nya selalu menangis selama beberapa tahun ini
"A-aniya nak, eomma hanya merasa kau sangat menderita. Maafkan eomma dan appa yang hanya bisa menyusahkanmu" kata Heechul terisak
"Eomma" kata Luhan membawa tangan Heechul ke pipinya
"Aku tidak menderita dan kalian tidak menyusahkanku, ini kewajibanku sebagai seorang anak. Aku hanya ingin melihat eomma bahagia dan kembali cerewet seperti dulu, itu tujuan hidupku sekarang" kata Luhan mengecup tangan ibunya.
"Kau sangat baik nak" kata Heechul mencium kening Luhan
Luhan tersenyum memeluk eomma nya dengan sayang
"Baiklah eomma aku berangkat dulu. Tunggu aku dirumah ya" kata Luhan mengecup kening Heechul
"Eomma bekerja nak" kata Heechul memberitahu
"Eommaa" protes Luhan
"Hanya ditoko kue Lu, jam kerjanya hanya sampai jam 6 sore, tidak apa-apa kan?" Tanya Heechul
Luhan menghela nafas dan tersenyum
"Baiklah tidak apa-apa, tapi jangan terlalu lelah, dan jika terjadi sesuatu eomma harus menghubungiku" kata Luhan dengan cepat
"Iya nak, kau hati-hati ya" kata Heechul mengantar Luhan kedepan pintu
"Hmm. Aku sayang eomma. Sampai nanti eomma" kata Luhan berlari dan melambai pada eommanya
"Eomma juga menyayangimu nak, berhati-hatilah" kata Heechul yang juga melambai dan kembali tersenyum sedih ketika sosok anaknya sudah tak terlihat.
Heechul merasa bersalah dengan hidup Luhan yang ia jalani sekarang. Luhan sudah tidak pernah bermanja manja lagi padanya, justru sebaliknya Luhan lah yang selalu memanjakan dirinya dan berusaha memenuhi kebutuhan dirinya.
"Maafkan eomma nak, semoga kau selalu berbahagia" lirih Heechul dan segera masuk ke dalam flat kecilnya.
..
..
..
"Yak! Kau pegawai baru itu kan?" Tanya seorang wanita yang bernama Jung Sunhyee, sekertaris ketua Lee pada Luhan
"Ah n-nee" jawab Luhan sopan
"Cepat, direktur Oh sudah berada ditempat dan dia terlihat marah karena pegawainya banyak yang belum datang dan belum tersedia minumannya" kata Sunhyee yang nampak habis dimarahi oleh Sehun
"N-nee baiklah, ini sudah selesai" kata Luhan siap mengantar minuman ke ruang rapat
"Sejak kapan Sehunnie jadi tukang marah? Dia memang dingin tapi dia tidak suka marah" gumam Luhan
"Yak! Cepatlah" teriak Sunhyee mengagetkan Luhan
Luhan mau tak mau langsung membawa pesanan minuman keruang rapat. Jantungnya berdegup kencang karena sebentar lagi akan berpapasan dengan Sehun
Sampai didepan ruangan rapat, tangan Luhan bergetar hebat membuat minuman yang dibawanya sedikit tumpah. Ia menghela nafas dan memasuki ruangan dengan takut
"Sehunnie, aku akan melihatmu sebentar lagi" kata Luhan senang dan memasuki ruangan
"Maaf saya terlambat, ini minumannya" kata Luhan membagikan minuman satu persatu, dia mendengus kesal karena Sehun tidak menoleh saat dia bersuara
"Kau pegawai baru?" Tanya seseorang
"Ah n-ne. Xi Luhan imnida" kata Luhan memperkenalkan diri
Saat Luhan memperkenalkan diri, barulah Sehun dengan otomatis menoleh mencari keberadaan Luhan. Matanya sesaat menatap Luhan dengan Sendu, kemudian ketika ia bertemu pandang dengan Luhan tatapannya kembali menjadi dingin.
"Siapa kepala bagian personalia?" Tanya Sehun tiba-tiba
"Ah saya direktur" kata ketua Lee mengangkat tangan
"Kenapa dengan pegawai barumu? Dia terlambat dan teh ku sepertinya sudah dingin. Lagipula bukankah yang mengantar minumanku harus wanita?" Tanya Sehun menatap ketua Lee dengan tak suka
"Song Minah pegawai yang biasa mengantar minuman sedang cuti melahirkan direktur, dan pegawai saya yang baru dia terus meminta pekerjaan kepada saya selam beberapa hari ini. Karena memang bagian saya sedang membutuhkan pegawai makanya saya menerimanya" kata tuan Lee menjelaskan
"Pecat dia. Mau bagaimanapun dia bukan wanita" kata Sehun sangat kejam
Luhan sangat ingin memaki Sehun sekarang, mana Sehun yang dulu yang mengatakan akan melakukan apapun untuknya, yang akan menjaganya. Sehun sekarang hanya terus berusaha mengusirnya dari hidupnya
"Maaf direktur saya tidak bisa melakukan itu. Lagipula kita membutuhkan Luhan untuk 3 bulan menggantikan posisi Minah. Saya tidak menerima lamaran sebagai office girl belakangan ini, jadi saya tidak bisa memecat Luhan. Lagipula saya lihat Luhan belum melakukan kesalahan" kata tuan Lee membela Luhan
Luhan memandang tuan Lee yang sedang menatapnya dan menyegir berterimakasih pada tuan Lee. Tuan Lee membalasnya dengan tatapan "cepat kerja dengan benar"
"Baiklah. Terserah. Jika dia melakukan kesalahan segera pecat dia" desis Sehun menyeramkan
"Baik direktur, hanya 3 bulan Luhan disini" jawab ketua Lee
"Terserah. Rapat kita mulai. Yang tidak berkepentingan silakan pergi" kata Sehun
Mengingat satu-satunya orang yang tidak memiliki kepentingan adalah dirinya, Luhan langsung pamit dan segera keluar.
"Huh. Apa-apaan dia ingin langsung memecatku" kesal Luhan berbicara pada cermin di toilet
"Apa dia tidak tahu aku mati-matian ingin bekerja ditempatnya untuk menemuinya" kata Luhan
"Dan bohong sekali kalimat "aku tidak mengenalnya" jelas-jelas dia mengenalku, bahkan dirinya menoleh saat aku memperkenalkan diri" kata Luhan masih marah-marah didepan cermin
"Sehunnie jahat" tiba-tiba umpatan Luhan berubah menjadi isakan
"A-aku rindu padamu" kata Luhan menghapus air matanya dan kembali menyemangati dirinya untuk bekerja.
..
..
..
Ini sedang jam istirahat kantor, Luhan sedang membereskan gelas dan piring sendirian, ia belum istirahat untuk sekarang
"Apa kau sudah makan" tanya seseorang yang ternyata ketua Lee
"Ah ketua. Silakan duduk" kata Luhan mempersilakan ketua Lee duduk
"Kau belum menjawabku" kata ketua Lee
"Ah-n-ne aku belum makan, aku akan makan nanti selesai kerja" jawab Luhan sopan
"Kenapa begitu?" Tanya ketua Lee
Luhan hanya tersenyum menjawabnya, tidak mungkin ia mengatakan pada tuan Lee kalau ia tidak makan karena sedang berhemat. Luhan tidak ingin dikasihani.
"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin memberitahumu, kau harus tahan dengan sikap direktur Oh. Perkataannya memang selalu menyakiti, banyak yang tidak tahan dengan sikapnya. Tapi percayalah sebenarnya direktur Oh sangat perhatian pada pegawainya" kata ketua Lee pada Luhan
"Aku lebih mengenalnya" gumam Luhan tersenyum
"Kau bicara apa?" Tanya ketua Lee
"Tidak bicara apa-apa ketua. Aku akan bertahan 3 bulan ini" kata Luhan bersemangat
"Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu takut kau akan mengundurkan diri kan, sangat sulit mencari pegawai, lagipula aku mulai menyukaimu sebagai pegawaiku" kata ketua Lee beranjak dari kursinya
"Ah ne terimakasih ketua, saya tidak akan mengecewakan anda. Dan saya ingin mengucapkan terimakasih karena anda tidak memecat saya seperti perintah Seh- direktur Oh" kata Luhan mengoreksi ucapannya
"Aku hanya melindungi pegawaiku, bekerjalah dengan baik" kata ketua Lee tersenyum pada Luhan dan pergi
Luhan melanjutkan pekerjaannya dengan bersemangat tidak peduli apapun kata Sehun dia akan bertahan paling tidak untuk tiga bulan ini
Drrtt
Drrt
Drrt
Luhan mengernyit mendapat telepon dari nomor yang tak dikenal
"Yeboseyo" jawab Luhan dan tak lama ia menjauhkan teleponnya dari telinganya karena orang itu berteriak keras
"Ya! Ahjussi kau sendiri yang mengatakan memberi waktu padaku dua minggu" kata Luhan yang juga berteriak
"Araseoo, aku akan bayar, kau cerewet sekali" balas Luhan masih setengah berteriak
"Yak ahjussi, jangan menelponku dengan private number lagi, kau seperti fansku saja" sindir Luhan kemudian menutup sambungan telponnya, ia yakin sekali mendengar umpatan dari ahjussi preman itu
"Baiklah" kata Luhan menghela nafas
"Aku tidak bisa jika hanya bekerja disini, aku akan mencari pekerjaan lagi, arhhhhh apa aku sanggupp" kata Luhan bertanya pada dirinya sendiri
Drrttt
Drrtt
Drrtt
Tak lama ponsel Luhan kembali bergetar dan kali ini nama eomma nya terpampang di layar ponselnya
"Eomma, eomma tak apa-apa kan?" Kata Luhan khawatir
"Ah syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu" kata Luhan
"Aku sudah makan eomma" jawab Luhan berbohong
"Eomma mendapatkan makan disana? Ah syukurlah" kata Luhan bersyukur karena tempat eommanya bekerja sepertinya sangat baik.
"Ne eomma tenang saja aku akan membayarnya" kata Luhan karena ibunya memberitahu tadi pagi pemilik flat meminta sisa uang tagihan pembayaran
"Umm, aku akan langsung pulang nanti, sampai nanti eomma, saranghae" kata Luhan menutup telepon dari ibunya
"Baiklah, aku memang harus mencari pekerjaan lain" lirih Luhan mengusap wajahnya dengan kasar.
..
..
..
"Bagaimana hari pertamamu bekerja nak?" Tanya Heechul mengelus surai Luhan yang sedang berbaring di pahanya
"Kau tampak lelah" kata Heechul mengecup kening Luhan
"Aku baik-baik saja eomma. Bosku sangat baik, hanya ada seseorang yang sepertinya sangat membenciku. Tapi jangan khawatir aku akan membuatnya menyukaiku. Dia pasti menyukaiku seperti dulu" kata Luhan memelankan suaranya di kalimat terakhir
"Jika kau tidak tahan jangan memaksakan diri sayang" kata Heechul tersenyum
"Aku baik-baik saja eomma. Percayalah" protes Luhan cemberut
"Eomma percaya sayang" balas Heechul mencium kening Luhan
"Apa kau sudah bertemu dengan Sehun, nak?" Tanya Heechul masih mengelus rambut Luhan
"Ah, i-itu, aku belum bertemu dengannya eomma, aku belum menemukannya" kata Luhan berbohong
"Cepat temui dia sayang, dia pasti sangat merindukanmu dan sangat senang melihatmu kembali" kata Heechul tersenyum membayangkan satu-satunya hal yang bisa membuat Luhan tersenyum adalah Sehun.
"Hmmm...dia pasti senang melihatku kembali" kata Luhan tercekat,
Ia ingin sekali bercerita pada Heechul bahwa dirinya telah bertemu dengan Sehun. Namun Sehun yang sekarang sangat tidak menerimanya dan sangat membencinya. Ia ingin mengatakan itu tapi ia takut membuat Heechul khawatir padanya.
"Eomma lebih baik kita tidur" kata Luhan menarik Heechul kekamarnya agar segera tidur
"Baiklah. Luhannie juga istirahat ya" kata Heechul yang sedang dipasangkan selimut oleh Luhan
"Hmmm,, tentu eomma aku akan istirahat, selamat malam eomma" kata Luhan mencium kening Heechul dan meninggalkannya dikamar.
Setelah memastikan eomma nya tertidur, Luhan kembali keluar untuk kembali bekerja. Ia mendapatkan pekerjaan keduanya dari koran, karena menurutnya mudah maka Luhan mencobanya dan langsung diterima sepulang ia kerja hari ini.
Luhan bekerja di klub malam dan bertugas untuk mengantarkan pelanggan yang mabuk dan sendirian kerumahnya, klub malam tempat ia bekerja hanya buka sampai pukul 2 pagi. Membuat Luhan tertarik menerima pekerjaan ini karena dapat kembali sebelum eommanya bangun.
"Ah kau siapa?" Kata pria mabuk yang berada di belakang jok mobil
"Saya Luhan pegawai baru klub, saya akan mengantarkan anda kerumah anda dengan selamat. Jadi anda tinggal memberitahu alamat anda" kata Luhan malas
"Oh begitu. Baiklah ini alamatku, kepalaku sangat sakit, aku ingin tidur" kata pria itu dan tak lama tertidur
"Tentu saja kepalamu sakit, kau minum seperti mau mati" kesal Luhan dan menjalankan mobil si pelanggan
"Baiklah kau sampai tuan" kata Luhan kesusahan membawa pria tua ini masuk kedalam rumahnya
Ting Tong
Ting Tong
Luhan memencet bel rumah pria itu dan tak lama pintu terbuka
"Aigoo yeobo, kau kenapa mabuk" tanya seorang wanita yang terkejut melihat suaminya
"Ah apa kau pegawai klub?" Tanya wanita itu pada Luhan
"N-ne saya pegawainya. Biarkan saya membawa suami anda kedalam lebih dulu, dia sangat berat" kata Luhan dan langsung membawa pria tua itu ke sofa terdekat
"Terimakasih anak muda" kata istri dari pria tersebut sambil menyerahkan beberapa lembar uang
"Ah sama-sama nyonya. Ini kunci mobil anda, saya pamit" kata Luhan segera meninggalkan rumah pria mabuk tersebut.
"Baiklah cukup untuk hari ini, sudah pukul 3 pagi, aku harus bergegas pulang" kata Luhan yang mau tak mau berjalan kaki kerumahnya karena tidak ada kendaraan.
..
..
..
Sudah seminggu semenjak Luhan menjadi karyawan perusahaan Sehun dipagi hari dan menjadi pegawai klub di malam hari. Luhan nampak sangat kelelahan dan sangat tidak sehat. Heechul sudah mengetahui kalau anaknya sedang tidak enak badan namun Luhan mentah-mentah mengatakan kalau dia baik-baik saja.
Luhan sekarang sedang mencuci mukanya kasar karena merasa sangat pusing. Setelah mencuci mukanya ia langsung bergegas menuju keluar toilet dan tak sengaja menabrak seseorang.
"Ah maafkan aku, aku tidak melihat" kata Luhan membungkukan badannya berkali-kali
"Pakai matamu lain kali" balas seseorang dengan suara khasnya
Luhan menoleh dan mendapati Sehun yang sedang berdiri didepannya
"Maafkan aku Seh-, direktur Oh, maafkan aku" kata Luhan yang tidak sedang dalam mood untuk menarik perhatian Sehun karena kepalanya sangat sakit
"Saya pergi dulu direktur" kata Luhan pamit namun lengannya dicengkram Sehun.
Sehun memeriksa suhu Luhan dengan dahinya membuat nafas Luhan tersengal sengal karena jarak mereka yang begitu dekat. Luhan dapat merasakan aroma Sehun yang menyeruak indra penciumannya dan seketika ia tersenyum karena Sehun belum mengganti parfumnya. Parfum favorit yang ia pilihkan untuk Sehunnya.
"Pulanglah, kau demam" kata Sehun masih dengan aura dinginnya
"Aku tidak apa-apa" kata Luhan memperhatikan Sehun mencuci mukanya, Luhan merasa sakit kepalanya hilang melihat Sehun yang sedekat ini dengannya. Sehun menoleh dan memergoki Luhan yang sedang memperhatikannya.
"Terserah. Jangan menyusahkan orang lain dengan demammu" kata Sehun melewati Luhan dan langsung pergi
Lagi, Luhan merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya karena perlakuan Sehun yang masih belum menerimanya. Ia menyandarkan dirinya di wastafel untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Paling tidak kau masih memperhatikan aku" kata Luhan menghibur dirinya sendiri
"Aku tidak akan menyerah padamu" gumam Luhan dan kembali berjalan menuju ruang office dengan gontai karena kepalanya kembali merasakan nyeri.
..
..
..
Tok tok
Tok tok
"Masuk" kata Sehun
"Ini saya direktur, apa anda memanggil saya?" Tanya ketua Lee
"Hmm,, aku mau minta laporan pengeluaran bagian personalia" kata Sehun tanpa melihat ketua Lee
"Bukankah saya sudah menyerahkan seminggu yang lalu" tanya ketua Lee yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun
"B-baiklah direktur, saya akan memberikan laporannya pada anda hari ini, saya pamit terlebih dulu" kata ketua Lee pamit keluar
"Pegawai barumu" kata Sehun membuat ketua Lee melihatnya kembali
"Sepertinya dia demam. Suruh dia pulang dan istirahat daripada akan mengganggu kalian" kata Sehun tanpa melihat ketua Lee
"Dia demam dari kemarin tuan, tapi dia menolak pulang. Dia malah menerima tawaran lembur, karena beberapa pegawai mengambil cuti. Sangat sulit melihatnya istirahat, dia sangat bekerja keras sepertinya" kata ketua Lee yang benar sudah menyukai sifat Luhan
"Paling tidak suruh dia makan, dia akan mengeluarkan darah dari hidungnya jika panasnya mencapai 38 derajat" desis Sehun masih sibuk dengan laporannya
"Eh? Baiklah tuan saya akan meminta Luhan makan, walaupun seminggu dia bekerja disini, saya tidak pernah melihatnya makan sekalipun" kata ketua Lee yang sedikit bingung dengan sikap direkturnya
"Saya pamit direktur" kata tuan Lee meninggalkan ruangan Sehun
Sehun menatap kepergian tuan Lee dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tak lama ia menekan tombol teleponnya
"Aku ingin secangkir kopi lagi" kata Sehun
"Harus pegawai baru itu yang mengantarkannya" ucap Sehun lalu menutup teleponnya.
Tak lama Sehun memesan kopinya terdengar suara ketukan
Tok Tok
Tok Tok
"Masuk" kata Sehun tanpa melihat Luhan yang mengantarkan minumannya
Luhan meletakkan minumannya di meja Sehun dan bersiap meninggalkan ruangan Sehun
"Apa ini? Aku minta kopi bukan orange juice" desis Sehun
Luhan tersenyum dan menatap Sehun
"Kau terlalu banyak minum kopi hari ini, itu tidak bagus untuk kesehatanmu" kata Luhan masih tersenyum
"Cih apa pedulimu. Cepat bawakan aku kopi, dan singkirkan minuman itu" kata Sehun membanting gelas yang berisi orange juice membuat Luhan terbelalak takut
"Cepat" teriak Sehun
"Baiklah, aku akan memunguti pecahan gelas ini terlebih dulu. Ketua Lee bisa memecatku jika tahu aku membuat masalah" kata Luhan bergetar dan memunguti pecahan gelas
"Hentikan" desis Sehun
"Tidak apa, ini pekerjaanku" lirih Luhan
"Aku bilang hentikan" teriak Sehun mencengkram pecahan gelas yang dipegang Luhan membuat tangannya tergores berdarah
"Ya Tuhan Sehun, tanganmu tergores" pekik Luhan
"Aku bilang hentikan! " desis Sehun membuang pecahan gelas itu ke sembarang tempat.
"Baik! baik! kau akan mendapatkan kopimu. Tapi bukan aku yang mengantarkannya" teriak Luhan kemudian berlari meninggalkan ruangan Sehun
Sehun memperhatikan kepergian Luhan dengan perasaan yang dia sendiri tidak tahu itu apa. Dia bersikeras melupakan Luhan selama bertahun-tahun, namun sekarang Luhan muncul lagi di hidupnya. Membuat emosi dan rasa rindu dalam dirinya bergejolak bersamaan. Ia ingin menepis kehadiran Luhan disekitarnya. Namun jauh didalam hatinya, dia tahu dia tak bisa melakukan itu.
..
..
..
Sehun kembali memasuki ruangannya setelah mencuci tangannya yang tergores. Ia mengernyit heran melihat ruangannya sudah bersih dan sudah tersedia secangkir kopi. Ketika ia mengangkat cangkirnya untuk diminum ada secarik kertas, obat luka dan plester
"Bersihkan lukamu jangan membuatku semakin bersalah kepadamu" begitulah isi tulisan di secarik kertas tersebut
Sehun langsung terburu buru menekan tombol teleponnya lagi
"Apa pegawai baru itu yang mengantarkan kopi ke ruanganku" tanya Sehun pada sekertarisnya
"Baiklah" jawab Sehun dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
Luhan sedikit terburu-buru keluar dari ruangan Sehun. Setelah mengantarkan kopi dan plester dia menolak untuk bertemu Sehun saat ini, karena takut Sehun akan marah lagi.
Luhan sedang dalam perjalanannya kembali ke ruang konsumsi sampai dia melihat Sunhyee kebingungan karena melayani beberapa orang yang sepertinya bicara menggunakan bahasa asing.
"Sunhye-ssi ada yang bisa kubantu? Kau nampak kerepotan" tanya Luhan
"Ah Luhan, tamu-tamu ini berbicara dengan bahasa china, mereka tidak bisa bahasa inggris. Aku sangat bingung" kata Sunhyee
"Berbahasa China?" Tanya Luhan
"Biar aku bantu" kata Luhan yang akhirnya melayani tamu tersebut dan menanyakan maksud mereka
"Sunhye-ssi mereka menanyakan apakah proposal pengajuan kerja sama mereka sudah disetujui direktur Oh?" Tanya Luhan
"Oh proposal itu, ini, direktur Oh menolaknya karena perjanjiannya tidak menguntungkan untuk perusahaan ini" kata Sunhye menjelaskan
Luhan kembali berbicara pada tamu dari China tersebut. Mereka tampak marah karena proposal mereka ditolak dan seperti menuntut sesuatu pada Luhan
"Mereka mengata-ngatai direktur Oh. Mereka bilang direktur kita hanya banyak omong, dan mereka menuntut penjelasan proposal mereka yang cacat dibagian mana. Aku harus bagaimana?" Tanya Luhan berbisik pada Sunhyee
"Direktur Oh sudah menggaris bawahi hal yang merugikan untuk perusahaannya kau hanya perlu menjelaskannya" kata Sunhyee menunjukkan beberapa coretan
"Hey ini banyak sekali, akan butuh waktu menjelaskannya" protes Luhan
"Luhan-ssi aku mohon bantu aku, jika kau tidak membantuku, direktur Oh akan memarahiku" kata Sunhyee memohon
"Setengah jam lagi ada meeting aku harus mengantarkan minuman untuk mereka" kata Luhan berusaha menjelaskan
"Aku yang akan mengantarkan minuman bagaimana?" Kata Sunhyee memberikan tawaran
"Umm.." Luhan nampak berfikir
"Baiklah. Kita bertukar posisi satu jam ini. Tapi kau harus mengantarkan minuman, jika tidak direkturmu akan memakanku" kekeh Luhan
"Pasti Luhan-ssi terimakasih" kata Sunhyee
"Baiklah apa aku boleh duduk di lobi menjelaskan semua ini ppada mereka?" Tanya Luhan
"Tentu saja. Sementara kau menjelaskan aku akan membuat minum" kata Sunhyee bergegas pergi
Luhan tersenyum karena paling tidak ia punya teman sekarang.
"Silakan ikut saya" kata Luhan dalam bahasa China dan mulai menjelaskan tentang proposal mereka yang ditolak Sehun.
Cklek!
Sunhyee masuk membawakan minuman untuk para karyawan yang ikut meeting. Sehun menoleh dan mengernyit mendapati Sunhyee yang mengantar minuman bukan Luhan
"Sunhye-ssi, apa yang kau lakukan mana Luhan?" Tanya ketua Lee yang juga heran karena bukan Luhan yang mengantar minuman
"Ah ne ketua. Luhan sedang membantuku menjelaskan proposal yang ditolak oleh direktur" kata Sunhyee takut-takut
"Luhan menjelaskan proposal? Aishh bagaimana bisa?" Tanya ketua Lee yang mengantisipasi takut Sehun akan marah
"Karena mereka klien dari China, saya tidak bisa menjelaskan pada mereka ketua. Mereka juga tidak dapat berbahasa inggris. Ketika saya sedang bingung Luhan menawari bantuan, ternyata dia sangat fasih berbahasa China. Jadi saya minta bantuan Luhan ketua" jelas Sunhyee
"Ya! Kau ini bagaimana, kenapa bisa seenaknya menyerahkan pekerjaan pada orang lain" bentak ketua Lee
"Maafkan saya ketua" kata Sunhyee takut
"Isshh. Aku harus memberi peringatan pada Luhan" kata ketua Lee yang sudah berdiri dari kursinya.
"Tidak perlu. Duduklah" kini Sehun yang berbicara
"Tapi direktur" kata ketua Lee menggantung
"Itu proposal yang ditolak, tidak masalah, kau boleh pergi" kata Sehun menyuruh sunhyee keluar
"Ah, ne, saya permisi direktur, ketua" kata Sunhye dan segera bergegas pergi
"Kita mulai rapat" kata Sehun
Ketua Lee sekali lagi mengernyit bingung dengan perlakuan Sehun kepada Luhan. Karena tidak mau terlalu berfikir ketua Lee hanya mengangkat bahunya.
Selesai rapat ketua Lee langsung menemui Luhan dan bertanya padanya
"Aku dengar kau menjelaskan proposal yang ditolak oleh direktur?" tanya ketua Lee pada Luhan yang sedang mencuci gelas
"Ah ketua. Silakan duduk" kata Luhan sopan
"Iya. Tadi Sunhyee terlihat kebingungan menghadapi mereka, saya hanya membantu. Tidak apa-apa kan ketua?" tanya Luhan takut-takut
"Lain kali kerjakan apa yang menjadi pekerjaanmu saja. Jika kau melakukan kesalahan direktur Oh mempunyai alasan untuk memecatmu" kata ketua Lee menasehati Luhan
"Saya mengerti ketua. Terimakasih atas nasihatnya" jawab Luhan menundukkan kepala sekilas
"Kau keturunan Cina?" tanya ketua Lee
Luhan tersenyum mendengarnya
"Ayah saya keturunan Cina, eomma saya keturunan Korea, ketua" jawab Luhan
"Hmmm… kau sangat beruntung memiliki mereka sepertinya" kata ketua Lee yang untuk pertama kalinya tersenyum
"Iya saya sangat beruntung memiliki mereka" balas Luhan tersenyum
"Kau boleh kembali bekerja, jika kau ingin pulang cepat, pulanglah, kau nampak kelelahan" kata ketua Lee
"Saya baik-baik saja ketua. Terimakasih atas perhatiannya" ucap Luhan membungkuk dan mengantarkan ketua Lee keluar ruangan.
..
..
..
Hari sudah malam, Luhan yang memang dapat jatah lembur baru akan bersiap-siap pulang. Ia sedang jalan ke pintu keluar karena memang kantor sudah sepi. Hanya terlihat beberapa security yang berjaga.
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Luhan tersenyum melihat eommanya yang menelpon
"Eommaa" teriak Luhan senang
"Ah wae? Aku kan merindukan eommaku?" Protes Luhan
"Kenapa eomma menelpon? Eomma sudah pulang kerja?" Tanya Luhan
"Eh hujan? Diluar hujan?" Tanya Luhan
"Ah eomma benar, memang hujan, aku sudah berada diluar gedung sekarang" kata Luhan sedikit kesal, kepalanya sudah sangat sakit dan harus menunggu hujan berhenti
"Araseo eomma, aku tidak akan hujan-hujanan. Ya sudah tunggu aku dirumah ya, bye eomma" kata Luhan menutup teleponnya
Luhan sudah menunggu 30 menit dan hujan tidak kunung reda, dia mulai menggigil kedinginan karena hujan dan memang suhu tubuhnya yang naik turun.
"Sudahlah, aku sudah tidak tahan" kata Luhan yang ingin menerobos hujan, tapi lagi-lagi lengannya dicengkram kuat oleh seseorang
Luhan yang terkejut hendak marah-marah kepada orang yang menariknya, namun terdiam ketika melihat siapa yang menariknya.
"Tunggu sampai reda" kata Sehun tanpa menoleh ke Luhan
"Seh- direktur, anda belum pulang?" Tanya Luhan
Tidak ada jawaban dari Sehun
Sehun hanya berdiri memandang ke depan tanpa menghiraukan Luhan
Luhan tidak terlalu mempermasalahkan karena tidak mendapat respon dari Sehun. Dirinya malah sangat bahagia karena sedang berdiri berdua dengan Sehun. Ia berharap hujannya tidak reda. Walaupun hanya keheningan yang mencekam keduanya.
Lihat bagaimana bisa dia bilang tidak mengenalku, dia bahkan menemaniku menunggu hujan reda, ah aku sangat bahagia kikik Luhan dalam hati
Setelah 5 tahun lamanya inilah pertama kalinya ia bisa berdiri sedekat ini dengan Sehun. Luhan memperhatikan Sehun diam-diam. Semuanya tidak banyak berubah, pria disampingnya tetap Sehunnya yang dulu, walau beberapa kenyataan yang menohok dirinya adalah Sehun yang sekarang begitu dingin, begitu tidak mempedulikannya namun tetap tampan, sangat tampan untuk Luhan.
"Kau menyiksaku dengan keberadaanmu di sekitarku" kata Sehun membuka suara
Luhan yang agak terkejut mendengar penuturan Sehun hanya mendengarkannya
"Berhentilah berpura-pura bekerja sebagai office boy. Kau tidak membutuhkan pekerjaan ini" kata Sehun lagi
"Cepat pergi darisini. Jika kau ingin memastikan keadaanku. Aku sudah baik-baik saja tanpamu selama ini. Aku bahkan sudah melupakanmu" kata Sehun menatap Luhan dengan tatapan tajam.
Luhan yang mendengarnya hanya bisa menunduk. Dia yakin Sehun berbohong. Mana mungkin Sehun melupakannya, mana mungkin Sehun baik-baik saja tanpanya. Karena Luhan merasakan seluruh dari dirinya remuk redam tanpa kehadiran Sehun, jadi dia meragukan perkataan Sehun
"Sudah reda, kau boleh pergi, pakai ini" kata Sehun memberikan jasnya pada Luhan
"Setelah kau pakai, buang jas itu" ucap Sehun meninggalkan Luhan
"Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku yang sekarang, aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini" kata Luhan membuat Sehun menghentikan langkahnya
"Dan aku yakin kau tidak baik-baik saja karena aku begitu hancur tanpamu. Aku sangat merindukanmu Sehunna" isak Luhan
"LALU KENAPA KAU PERGI DAN TAK PERNAH BERUSAHA MENGHUBUNGIKU" teriak Sehun emosi tanpa melihat Luhan
Hanya terdengar isakan dari Luhan. Luhan juga melakukan kesalahan, ketika ia tiba di China ia mengganti nomornya. Luhan merasa tersiksa karena Sehun tidak pernah menghubunginya.
Ada satu kesempatan Luhan dapat menghubungi Sehun, tapi dia tidak melakukan itu. Karena ia takut Sehun tidak mau bicara dengannya, dan takut rasa rindunya pada Sehun akan semakin besar.
"Sudahlah. Ini semua sudah berakhir. Aku lelah" kata Sehun dan meninggalkan Luhan
Luhan hanya bisa menatap sosok Sehun yang semakin menjauh dengan isakan. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan pada Sehun. Tapi tidak dalam keadaan seperti ini, lidahnya begitu kelu untuk berbicara.
"Aniya, kau tidak boleh lelah denganku Sehunna. Tidak boleh. Jangan begini padaku" isak Luhan yang kini terduduk di lantai, ia merasakan dingin yang amat menusuk dirinya. Bukan hanya karena cuaca tapi juga karena perlakuan dan perkataan Sehun
"Jangan lelah sayang, aku sudah disini" gumam Luhan tersenyum lemah.
..
..
..
Setelah perasaannya lebih baik, Luhan memutuskan untuk berjalan pulang kerumahnya. Dia sudah bertekad untuk tidak menyerah pada Sehun. Dia rela diperlakukan dingin oleh Sehun, karena dia yakin pada akhirnya dia akan mendapatkan Sehunnya kembali.
Luhan tersenyum senang memakai jas yang diberikan Sehun, jas itu penuh dengan aroma Sehun yang sangat ia sukai. Luhan tersenyum malu-malu seperti seorang wanita yang sedang jatuh cinta menciumi jas Sehun
"Hmmm Sehunnie" katanya merona
Luhan sedang terpesona menciumi jas Sehun, sampai ada sesuatu yang membuatnya membelalakan mata.
"Sial" umpat Luhan melihat para preman yang berdiri didepan rumahnya. Luhan segera berlari menghampiri mereka, ia takut ibunya diganggu oleh mereka.
"Aku sudah bilang jangan ke tempat aku tinggal, dasar sialan" teriak Luhan sangat kesal
"Aigooo, tuan putri baru pulang eoh?" Ejek si preman yang belum lama mengejar Luhan
Tak lama kedua tangan Luhan dicengkram oleh seorang pria berbadan besar
"Kau sudah sangat berani ya? Apa perlu aku masuk dan mengganggu ibumu" kata preman tua yang sering dipanggil anak buahnya dengan nama Kang Heebom
"Tuan Kang" kata seorang pengawal memberikan ponselnya
"Ada yang mau mendengar suaramu" kata Tuan Kang menempelkan ponselnya ke telinga Luhan
"Mulai bulan ini bunga hutangmu dinaikkan 20%. Jangan telat membayar, kau tahu resikonya kan?" Kata seseorang di telpon dalam bahasa China. Luhan hanya diam tidak memberikan respon ap-apa
"Iya bocah ini memang tidak menjawab" kata tuan Kang yang kini bicara dengan orang tersebut
"Oh kau merindukan suaranya bos? Baiklah akan aku buat dia bersuara" ucap tuan Kang menyeringai
"Buat dia bersuara" perintah tuan Kang pada anak buahnya dan tak lama
BUGH!
Luhan dipukul tepat didadanya, membuat dia sesak karena serangan yang terlalu tiba-tiba
"Bagaimana bos?" Tanya tuan Kang
"Ah kau belum mendengarnya? Baiklah akan aku buat dia teriak kesakitan" kata tuan Kang
Dan tak lama Luhan kembali dipukuli oleh dua orang pengawalnya yang berbadan besar. Mereka menendang Luhan yang sudah terkapar di tanah berkali-kali. Mereka melakukan ini untuk kesenangan pribadi mereka.
Beruntung mereka menghajar Luhan tidak diwajah. Luhan berusaha mati-matian melindungi wajahnya, karena dia harus bekerja. Dia tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari semua orang.
"Cukup" perintah tuan Kang
"Sudah cukup untuk hari ini. Dia mungkin akan lebih parah dari ini seminggu lagi. Jangan menghabiskan tenaga kalian anak-anak" seringai tuan Kang yang kemudian mendekati Luhan yang sedang terkapar di tanah
"Kau tahu kan harus membayar berapa nak?" Kata tuan Kang menjambak Luhan
"Jangan sampai kurang. Waktumu tinggal 5 hari" tuan Kang menghempaskan Luhan ke tanah
Luhan tidak memberikan respon apa-apa. Dia sudah biasa diperlakukan seperti ini. Dia bahkan sudah lelah melawan, satu-satunya hal yang membuatnya melawan adalah jika para bajingan itu berani menyentuh ibunya.
Luhan perlahan memasuki rumahnya dengan tertatih, ia menghela nafas lega ketika mengetahui Heechul sudah tertidur. Mungkin ia juga lelah karena menunggu Luhan yang pulang larut malam.
Luhan segera kekamar mandi, membasuh seluruh tubunya menahan nyeri. Tubuh Luhan dipenuhi dengan banyak bekas luka, kebanyakan luka karena dipukul dan digores. Dan sekali lagi dia sudah tidak mempedulikan dirinya. Dia hanya ingin menghilangkan rasa sakitnya.
..
..
..
Keesokan paginya Luhan merasakan badannya yang semakin panas ditambah nyeri karena pukulan, belum lagi kepalanya yang terus menerus berdenyut membuatnya merasakan sakit.
Luhan baru saja selesai membersihkan toilet dikantor Sehun dan melihat beberapa karyawan membungkukan badan karena kedatangannya.
"Selamat pagi" sapa Luhan membungkuk ketika Sehun melewatinya
Sehun hanya sekilas melihatnya kemudian seperti biasa mengacuhkan Luhan
"Eh.. Luhan hyung?" Kata sebuah suara berasal dari seseorang yang berjalan di belakang Sehun
Luhan menoleh dan tersenyum mendapati Kai yang memanggilnya.
"Hey Jonginieee" sapa Luhan
"Jaga bicaramu, dia direktur sepertiku" ucap Sehun yang masih bisa mendengar sapaan Luhan
"Ah..n-ne..selamat pagi direktur" sapa Luhan pada Kai yang terlihat sangat bingung sekarang.
..
..
..
"Ya! Oh Sehun. Bukankah itu Luhan? Kenapa dia berpakaian seperti itu?" Tanya Kai
"Dan kenapa kau sangat kasar padanya" tuntut Kai
"Ya dia Luhan. Dia office boy dikantorku, lalu aku harus bagaimana? Memeluknya dan mengatakan aku merindukannya?" Desis Sehun
"Cepat kita mulai rapatnya. Aku tidak punya waktu mendengarkan ocehanmu" ucap Sehun datar
"Kau tahu? Kau akan menyesal dengan sikapmu" kesal Kai dan menarik kursi didepan Sehun
..
..
..
Selesai rapat dengan Sehun, Kai bergegas mencari Luhan untuk sekedar mengobrol
"Hayyy Luhan hyung" teriak Kai, membuat Luhan yang sedang mengelap kaca menoleh padanya
"Ah direktur, ada apa mencariku?" Tanya Luhan menahan tawanya memanggil Kai dengan sebutan direktur
"Hisss, kau ini hyung meledekku saja. Jangan dengarkan manusia es itu" kata Kai memukul lengan Luhan keras
"Ouchh" Luhan meringis karena Kai memukul di bagian memarnya
"Hyung apa aku terlalu keras?" Tanya Kai panik
"Arghhh..sakit sekali. Tadaa! Kau tertipu" kata Luhan berbohong
"Kau ini hyung. Ah sudah lama sekali sepertinya" kata Kai memeluk Luhan, Kai merasakan bahwa tubuh Luhan sangat kurus dan ringkih, ia juga mengernyit melihat memar di belakang leher Luhan. Kentara sekali jika itu bekas pukulan
"Lu, lehermu memar?" Tanya Kai
"A-aniya. Memar kenapa? Kau pasti salah lihat" kata Luhan gugup
"Itu..seperti"
"Ah sudahlah aku tidak apa-apa" elak Luhan
"Kau yakin Lu? Badanmu juga sangat panas, mukamu saja sudah berubah merah sekarang, kau pucat kau tahu?" Tanya Kai
"Hmm aku memang sedang tidak enak badan. Aku berencana meminta ijin untuk pulang cepat nanti" kata Luhan
"Oh iya. Kalau kau mau kita bisa mengobrol di office room, aku akan membuatkanmu teh" kata Luhan
"Ide bagus hyung, kajja" kata Kai menarik tangan Luhan
"Taraaa ini dia" kata Luhan menyajikan teh untuk Kai
"Aku akan meminumnya nanti"
"Oh iya ceritakan hidupmu Lu. Ini sudah berapa tahun semenjak kepergianmu?" Tanya Kai
"Lima tahun Kai" jawab Luhan
"Ah kau benar 5 tahun, sudah sangat lama yaa, kau tahu setelah kepergianmu orang itu benar-benar berubah. Dia benar-benar menjadi dingin dan kejam, dia bahkan dengan senang hati menyakiti seseorang yang berani mengungkapkan perasaan padanya" kekeh Kai
"Aku bisa melihatnya sekarang" balas Luhan
"Apa dia baik-baik saja Kai selama ini?" Tanya Luhan
"Entahlah Lu, dia benar-benar menutup dirinya bahkan dariku, dan namamu adalah hal yang tidak boleh diucapkan semenjak kepergianmu. Bila ada yang menanyakan dirimu Sehun akan sangat marah dan tak segan menghajar orang itu" cerita Kai
"Jadi dia benar membenciku ya?" Lirih Luhan
"Kau jangan terlalu memaksakan diri, aku tak mau kalian berdua merasakan sakit lagi" kata Kai menepuk bahu Luhan
Luhan hanya tersenyum lirih
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Ponsel Luhan bergetar dan menampilkan nama mafia sialan di screen layarnya membuat Kai sekali lagi mengernyit dan dengan tergesa gesa Luhan mengambil ponselnya
"Tidak kau angkat?" Tanya Kai
"Tidak penting" jawab Luhan
"Oh begitu" balas Kai seadanya
"Oia bagaimana tentang hidupmu ceritakan. Kau pasti sedang menyamar ya? Hingga rela menjadi petugas kebersihan disini" goda Kai
Luhan tersenyum mendengarnya
"Hidupku tidak seperti dulu Kai" kata Luhan
"Aku bekerja seperti ini selain untuk mendekati Sehun juga mencari uang" kata Luhan sungguh-sungguh
"Aku tidak mengerti maksudmu" kata Kai
"Kau akan mengerti nanti" jawab Luhan
"Luhan.. Eh.. Selamat siang direktur" kata Sunhyee yang terkejut mendapati Luhan sedang berbicara dengan Kai
"Santai saja" balas Kai
"Ada apa Sunhyee-si?" Tanya Luhan
"Bagian pemasaran minta dibuatkan teh, mereka minta dibuatkan sekarang ada lima orang" kata Sunhyee menjelaskan
"Baiklah akan kubuatkan" jawab Luhan
"Emm terimakasih. Saya permisi direktur" kata Sunhyee terburu-buru pergi
"Aku bekerja dulu ya" kata Luhan membuatkan teh
"Ya sudah, lain kali kita bicara lagi hyung, aku akan makan siang dengan Sehun" kata Kai berpamitan
"Ummm, pastikan dia makan dengan banyak Kai" pesan Luhan sambil tertawa
"Hmmm. akan kusampaikan" balas Kai, namun lagi-lagi ia mengernyit melihat lengan Luhan yang berwarna biru memar ketika ia sedang mengambil gula dilemari atas
"Kenapa menatapku Kai?" Tanya Luhan
"A-aniya Lu, baiklah aku pergi" kata Kai bergegas pergi dengan banyak pertanyaan dibenaknya.
Drrttt
Drrrtt
Drrttt
Tak lama Kai pergi, ponsel Luhan bergetar lagi, masih orang yang sama yang menelponnya
"ini aku" jawab Luhan malas
"Luhannie, bagaimana keadaanmu? apa memarmu banyak? Ah pasti sudah tidak sakit kan? Aku rasa kau sudah mati rasa" ejek tuan Kang dari telepon
"Aku sibuk, kalau tidak penting aku tutup" kata Luhan
"Dasar bocah brengsek. Ingat lima hari lagi bayar tunggakan bungamu, atau eommau yang cantik akan menyusul appamu kedalam penjara" ancam Kang Heebom pada Luhan
"Itu tidak akan terjadi" kesal Luhan menutup telponnya
"Ah sial" kata Luhan memijit kepalanya yang bertambah nyeri. Luhan benar-benar dalam tertekan dengan semua ancaman yang didapatkannya selama beberapa tahun belakangan ini.
Luhan memukul wajahnya kasar dan segera mengantarkan minuman yang sudah dipesan oleh bagian pemasaran.
..
..
..
Cklek!
"Yak! Kamjongie kau mau membuatku mati kelaparan? Kenapa ke toilet lama sekali?" Kesal Sehun yang sudah menunggu Kai sangat lama
"Hehe maafkan aku" ucap Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Aku tadi bicara dengan Luhan" cerita Kai
"Aku tidak peduli" jawab Sehun malas
"Ayo kita makan" kata Sehun yang masih sibuk membereskan berkasnya
"Ada yang aneh dengan Luhan" kata Kai bercerita entah pada siapa
"Aneh kenapa?" Tanya Sehun yang kini melippat kedua tangannya didada
"Entahlah. Aku merasa dia menyembunyikan banyak hal" kata Kai melirik Sehun
"Yaaaaaaa! Kau masih peduli padanya" goda Kai
"Tenang saja aku akan mencari tahu tentang Luhan dan memberitahukannya padamu" kata Kai merangkul Sehun
"Aku tidak peduli" kesal Sehun melepas rangkulan Kai
"Kau bohong. Ayo kita makan siang" teriak Kai yang kembali merangkul Sehun dan bergegas pergi dari ruangan Sehun untuk makan siang.
..
..
..
Sehun kembali kekantornya setelah selesai makan siang, namun ia mengernyit heran mendapati ruang meeting pemasaran penuh dengan karyawan-karyawannya yang sedang berkumpul seperti sedang terjadi sesuatu.
"Ada apa ini?" Tanya Sehun yang mendapati ketua Lee sedang dibentak oleh bagian pemasaran
"Ah direktur, pegawai baru ketua Lee membuat masalah, dia menumpahkan teh yang dia bawa ke proposal kami, tapi ketua Lee terus-terusan membelanya mengatakan kalau pegawainya sedang sakit" kata ketua bagian pemasaran.
"Apa proposal kalian asli?" Tanya Sehun
"Iya direktur, itu proposal asli" jawab ketua Han
"Proposal kalian ditolak. Buat ulang proposal kalian" kata Sehun dingin
"Tapi direktur, anda bahkan belum melihatnya" protes ketua Han
"Ganti atau kalian dalam masalah" desis Sehun
"N-ne direktur" ketua Han membungkukan badan dan segera pergi
"Aku lihat sudah tidak ada masalah, kenapa masih berkumpul?" Tanya Sehun
"Cepat kembali bekerja" teriak sehun membuat semua pegawainya menghambur kembali bekerja
"Suruh dia pulang. Jika dia menolak katakan padanya besok tidak usah bekerja. Aku memecatnya" kata Sehun dengan tatapan marah pada ketua Lee
"Saya mengerti direktur. Setelah mengurus beberapa hal saya akan menyuruh Luhan untuk pulang" jawab ketua Lee membungkukan badan.
Sehun bergegas pergi keruangannya namun langkah kakinya terus menuju satu tempat, dia ingin memastikan sesuatu.
Cklek!
Pintu office room terbuka, Sehun ternyata pergi untuk mengecek keadaan Luhan
"Ketua Lee, maafkan saya, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya. Kepala saya sangat sakit tadi, jangan pecat saya, saya mohon ketua" kata Luhan menyembunyikan kepalanya di atas meja, dia tidak melihat siapa yang datang dan terus berbicara dengan menyembunyikan wajahnya.
Sehun sedang menebak di benaknya kenapa Luhan menyembunyikan wajahnya. Awalnya dia mengira Luhan menangis, namun ketika melihat tisu yang jatuh kelantai ia membelalakan matanya karena tisu itu penuh darah.
"Demammu pasti sangat tinggi" desis Sehun memaksa Luhan menatapnya, dan benar saja, hidung Luhan tidak henti-hentinya mengeluarkan darah.
"Apa kau mau mati?" Teriak Sehun panik
"Bangun" desis Sehun
"Se-sehunnie, sakit, tolong aku" kata Luhan yang sudah tidak fokus, ia tidak bisa menatap Sehun dengan jelas, kepalanya sangat sakit.
"Cepat berdiri" kata Sehun memaksa Luhan berdiri, tak lama Luhan berdiri dari kursinya, ia pingsan di pelukan Sehun
tobecontinued...
ada yang nunggu kelanjutan lsbf kah? semoga ada :p
Aku usahain bakalan nyelesain cerita yang udah aku post, soalnya aku pribadi tau banget rasanya sama cerita gantung gimana *nyesek wkwkwkw
yowiss...keep reading and review yaaa...terimakasih kesayangan :*
