Disclaimer: Masashi Kishimoto
~The True Akatsuki~
Genre: Adventure, Friendship, Tragedy, dan lainnya.
Rate: T
Warning: AU, OOC, alur terlampau cepat, typo bertebaran, beberapa kata tak sesuai KBBI.
Hope you enjoy with this fic.
Chapter 4
"Pertarungan pertama Uchiha Sasuke melawan Akado yoroi. Untuk peserta yang disebutkan namanya harap tetap berada didalam arena. Untuk peserta lainnya harap menunggu diatas tangga arena".
Pertarungan pertama akan diisi oleh Shinobi dari Konoha dan Oto. Para peserta lainnya langsung pergi menuju sisi arena, untuk melihat bagaimana jalannya pertarungan. Sakura yang melihat teman paling disukainya merasa khawatir. Ia tahu bagaimana kondisi Sasuke saat ini. Sakura takut kalau Sasuke mendapat banyak luka dalam pertarungan kali ini. Tapi dirinya hanya bisa terdiam melihat kegigihan Sasuke yang masih ingin melanjutkan bertarung.
Di tim Naruto, tampak Kusano yang berjalan menuju sisi arena. Tapi pandangannya tak bisa lepas dari pemuda berambut hitam disana. Naruto yang ada disampingnya tahu dengan maksud dari tatapan rekan satu timnya. Tapi Naruto tidak tahu, apa Itachi merasa khawatir padanya atau apa. Terlebih dirinya juga tidak terlalu tahu tentang hubungan diantara mereka berdua.
Naruto juga melihat Ayano yang tampak sedang berbicara pada Sasuke disana. Naruto tak tahu apa yang dibicarakan olehnya terhadap Sasuke. Pembicaraan itu juga tak berlangsung lama, mereka berdua akhirnya pergi menuju sisi arena. Bagi Naruto sendiri mungkin Ayano hanya mengucapkan beberapa kata semangat pada rekan satu timnya itu. Yah pasti memang itu.
'Aku ingin tahu seberapa pesatnya kau berkembang, Sasuke. Dan kalian semua para Shinobi Konoha. Setelah aku dibuang dari desa ini, aku tak tahu bagaimana perkembangan Shinobi dari desa ini. Aku sedikit penasaran akan hal itu. Terutama dirimu… Ayano".
Ameno atau Uzumaki Naruto saat ini hanya bisa menunggu. Berada diatas tangga bersama dengan timnya. Kali ini ia hanya bisa melihat pertandingan pertama dalam ujian Chunin kali ini. Melihat kebawah ia bisa melihat 2 orang yang saling berdiri satu sama lain, dengan wasit ditengah mereka. Setelah memberikan beberapa penjelasan mengenai aturan bertarung, wasitpun memulai pertarungan.
Tampak mereka berdua maju satu sama lain. Adu taijutsu tak terelakan. Sasuke yang lebih mendominasi daripada musuhnya. Akado lebih banyak menghindar ketimbang menyerang. Namun saat Sasuke melancarkan tendangan menyamping dari kanan, ia membloknya. Tak menyiakan kesempatan, lantas Akado langsung membanting Sasuke dan mencengkram kepala miliknya. Sasuke sedikit bingung, hingga ia sadar. Chakra miliknya sedang diserap.
'Kemampuan orang itu sama sepertiku. Menghisap Cakra milik lawan dengan menyentuhnya. Hanya saja, Cakra yang ia serap lebih lambat dariku. Untuk seorang ninja dari Oto kemampuannya lumayan'.
Ameno saat ini tengah mengobservasi salah satu Shinobi bernama Akado. Kemampuan yang sama dengan salah satu tehnik mata Rinnegan miliknya. Walau begitu, orang ini sepertinya kurang berpengalaman dalam mengunci pergerakan lawan. Terbukti dari Sasuke yang dapat lolos dari cengkraman milik Akado. Pertarungan kembali berlanjut.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Sasuke memutuskan untuk menggunakan tehnik itu. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia langsung melesat maju menuju kearah musuhnya. Melihat itu, Akado dengan reflek miliknya langsung melancarkan serangan berupa pukulan menyamping. Sedetik pukulan itu akan mengenai wajah putihnya, Sasuke sudah menunduk untuk menghindari serangan itu. Ia kemudian melancarkan serangan berupa tendangan, membuat Akado langsung terbang keangkasa.
Belum sampai disitu, Sasuke langsung muncul dibelakang tubuh Akado yang saat ini tengah mengambang diudara. Dan dengan itu Sasuke langsung melancarkan kombo serangan miliknya bernama Shishi Rendan. Serangan berupa pukulan dan tendangan. Serangan itu kemudian diakhiri dengan tendangan yang membuat Akado terbanting kebawah dengan keras. Pertandingan sudah usai.
Namun dibalik tangga penonton, ada beberapa orang yang takjub dengan serangan yang dilancarkan Sasuke tadi. Salah satunya adalah seorang Shinobi berperawakan hijau dengan baju yang sangat ketat.
'Serangan itu, Omote Renge. Siapa sangka Sasuke bisa meniru tehnikku itu. Bahkan aku sendiri perlu waktu 1 bulan untuk menguasainya. Tapi Sasuke dalam waktu singkat, sungguh hebat'.
Batin seorang Shinobi bernama Rock Lee. Tehnik yang sama namun dengan gerakan yang berbeda. Entah kenapa ada rasa iri dihatinya ketika melihat Sasuke dengan mudah meniru dan merubah tehnik miliknya dengan mudah.
"Pemenangnya Uchiha Sasuke". Teriak sang wasit.
Kesisi lain tampak Ameno yang memandang biasa saja pada Sasuke yang sudah mengalahkan musuhnya. Tapi mungkin dirinya ingin mendengar komentar dari sang kakak disampingnya.
"Sepertinya adikmu cukup hebat bisa mengalahkan orang itu dengan cepat. Bagaimana menurutmu?". Ucap Naruto pelan pada pemuda berambut hijau disampingnya.
"Biasa saja. Tak ada yang spesial dari gerakannya tadi".
"Begitu menurutmu, biarlah. Selanjutnya siapa yang akan bertanding?".
Menuju papan elektrik disana. Terlihat papan itu sedang mengacak nama Shinobi yang akan bertarung. Papan itu masih terus mengacak para nama Shinobi, hingga akhirnya papan itu berhenti dan menunjukkan 2 nama disana. Melihat itu Naruto harus memberi beberapa saran pada orang disampingya. Karena sudah waktunya ia beraksi.
..
Kusano vs Shimazaki Ryu
..
"Sepertinya giliranmu sudah tiba, Kusano. Shimazaki Ryu, dia seorang Shinobi dari desa Konoha. Cobalah untuk tidak mengeluarkan kemampuanmu yang sesungguhnya, apalagi dengan Sharinganmu itu".
Ameno nampak memberi beberapa saran pada Kusano. Saat ini adalah gilirannya untuk bertarung. Namun karena ini bukanlah pertarungan bebas seperti di hutan kematian, ia harus bisa mengalahkan orang itu tanpa identitas asli miliknya diketahui. Akan menimbulkan masalah jika semua orang tahu kalau Kusano seorang Uchiha, terlebih dia adalah Uchiha Itachi.
"Tak perlu cemas, Ameno. Aku akan menahan diri untuk mengalahkan orang itu". Ucapnya seperti biasa kalem.
Mendengar itu, Ameno hanya mengangguk mengerti. Kusano tak lama langsung pergi menuju arena pertarungan. Sedikit lama berjalan ia akhirnya bisa berada dihadapan musuhnya. Shimazaki Ryu, seorang Shinobi laki-laki dengan perawakan rambut yang agak berantakkan. Raut muka yang terkesan optimis dengan sikapnya yang mudah terbiasa dengan keadaan sekitar. Terlebih, mata Kusano bisa melihat sebuah senjata yang tersimpan dipunggung miliknya. Senjata itu berupa Tanto atau Katana. Nampaknya ia seorang pengguna Kenjutsu.
"Kalau begitu…. Mulai!".
Wasit langsung memulai pertandingan. Shimazaki yang mendengar aba-aba pertarungan dimulai, melesat cepat dengan senjata yang sudah tergenggam. Melihat itu, Kusano tak tinggal diam. Ia lantas merogoh saku miliknya dan mengambil 1 kunai untuk menangkis serangan Shimazaki.
Trankkk!
Suara dentuman yang cukup keras langsung terdengar tak kala kedua benda tajam itu saling bertemu. Kusano dengan wajah tenang menahan serangan Shimazaki. Sementara musuhnya bisa terlihat ekpresi senyum yang seolah meremehkan dirinya. Melihatnya, Kusano tahu bahwa orang ini sangat percaya diri.
"Untuk seorang Shinobi Amegakure kau cukup hebat. Tapi aku tidak akan kalah denganmu".
Kusano tak menggubris apa dikatakan oleh musuhnya. Ia tetap tenang, tak terusik dengan setiap perkataan musuhnya. Saling beradu senjata cukup lama, mereka akhirnya melompat mundur guna mengambil jarak.
Dari atas tangga penonton, Ameno dengan wajah datarnya melihat bagaimana jalannya pertarungan mereka berdua. Mereka belum mengeluarkan Jutsu mereka masing-masing. Seolah menikmati pertarungan mereka yang berupa adu senjata.
"Apa kau berpikir bahwa Kusano tak akan sungguh-sungguh melawan musuhnya, Ameno?". Haku yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
Iris coklat kehitamannya itu bisa melihat bagaimana Kusano yang cukup kerepotan disana. Terlebih mereka masih bertarung dengan saling menyayatkan senjata tajam mereka. Kusano dengan Kunai dan Shimazaki dengan pedangnya.
"Aku tak tahu. Untuk seseorang seperti dia, aku ragu ia akan kerepotan seperti ini dan kalah oleh musuhnya. Dia pasti mempunyai rencana tersendiri untuk mengalahkan musuhnya".
Kembali ke arena. Kali ini serangan mereka bercampur, antara sayatan benda tajam yang diselingi dengan pukulan dan tendangan. Dari setiap serangan yang dari kedua pihak. Kusano tampak dengan mudah menghindari setiap serangan dari Shimazaki dengan pedangnya. Seolah ia sudah mengetahui pola serangan Shimazaki. Tapi tetap saja, musuh didepannya ini juga bisa menghindari setiap serangan miliknya.
Mundur beberapa langkah, Kusano lantas membuat beberapa segel tangan. Selesai dengan cepat, ia lantas langsung mengeluarkan serangan andalan miliknya.
"Katon: Goukakyu no Jutsu!".
Serangan bola yang cukup besar langsung keluar dari mulutnya. Melihat itu, Shimazaki tak tinggal diam. Ia lantas membuat beberapa segel tangan dan mengeluarkan Jutsu pertahanan miliknya.
"Doton: Doryuheki!".
Dinding tanah yang cukup tebal langsung tercipta didepan Shimazaki. Melindungi dirinya dari bola api yang diciptakan oleh Kusano. Sedikit ledakan tercipta tak kala kedua Jutsu berbeda itu saling bertubrukan. Asap tebal langsung tercipta disekitar Shimazaki. Serangan api itu nampaknya cukup kuat untuk menghasilkan asap hitam pekat seperti ini. Namun tak cukup kuat untuk menghancurkan tembok tanah miliknya.
Seketika reflek bertarungnya langsung menyala. Melihat kesamping kiri, ia bisa melihat sosok yang mencoba menembus asap pekat dari serangan api milik Kusano. Ia menganggap bahwa dia adalah Kusano yang langsung menyerang dirinya. Namun, ia hanya bisa melebarkan mata miliknya dengan shok. Orang ini nampaknya cukup pintar, itu yang ia pikirkan.
Pasalnya sosok yang menembus kabut tebal ini hanyalah sebuah kunai dengan sedikit kain yang terlilit dibatangnya. Ini hanyalah umpan. Ia tak mengira bahwa Kusano akan membuat umpan. Hingga ia sadar Kusano sudah berada disamping kananya. Ia hanya bisa menyadari itu tanpa bisa menghindari serangan yang akan datang.
Buakhhh!
Tendangan yang keras langsung dikeluarkan Kusano mengenai kepala Shimazaki. Ia hanya bisa merelakan serangan milik Kusano mengenai kepalanya. Dengan wajah ia tak menyangka akan dikalahkan oleh Shinobi dari Amegakure ini. Kerasnya tendangan yang dikeluarkan Kusano, membuat tembok yang diciptakan Shimazaki langsung retak. Membuatnya langsung pingsan seketika.
Melihat Shimazaki yang tak sadarkan diri lantas membuat wasit langsung mengumumkan pemenangnya.
"Pertandingan selesai. Pemenangnya Kusano".
Beberapa orang berdecak kagum akan keberhasilan Kusano mengalahkan lawannya. Tampak beberapa pembimbing dari setiap desa Shinobi yang memandang Kusano dengan tatapan menerawang. Untuk seorang Shinobi dari Amegakure ia cukup terampil dalam menganalisa gaya bertarung sang lawan serta membuat umpan yang tak terduga. Generasi ninja Amegakure kali ini sangat berbakat, itulah yang mereka pikirkan. Sementara itu pembimbing mereka yang bernama Kazuma hanya memandang biasa akan keberhasilan anak didiknya itu. Seolah ia sudah tahu bahwa muridnya itu akan menang.
Selesai dengan pertandingan miliknya, Kusano langsung kembali menuju tangga arena guna melihat pertarungan selanjutnya. Tak ada luka serius yang dialami olehnya selama pertarungan. Mungkin hanya sedikit kelelahan yang ia alami. Sementara musuhnya terkapar tak sadarkan diri yang kini sudah dibawa oleh petugas medis des Konoha guna mendapat perawatan.
Pertarungan kembali berlanjut. Satu demi satu Shinobi mulai menunjukkan taring mereka dipertarungan ini. Kali ini pertarungan antara Shinobi dari Otogakure bernama Zaku melawan Shinobi dari Konoha bernama Aburame Shino. Pertarungan mereka bisa dibilang mengesankan. Zaku dengan kesombongannya sementara Shino dengan ketenangannya dalam menganalisa lawan. Hingga akhirnya pertarungan dimenangkan oleh Shino dengan kedua tangan Zaku yang hampir putus karena Jutsunya sendiri.
Kali ini Shinobi dari Sunagakure bernama Kankuro melawan Shinobi dari Konoha bernama Akimichi Chouji. Pertarungan mereka bisa dikatakan begitu singkat. Chouji yang berusaha keras untuk mengalahkan Kankuro dengan Jutsu andalan milik klan Akimichi. Harus kalah ketika serangan dari Kankuro berupa racun dari boneka miliknya mengenai dirinya. Hingga akhirnya pertarungan dimenangkan oleh Kankuro.
Papan elektrik disana kembali menyala. Mengacak nama para peserta untuk kembali bertarung. Papan terus mengacak nama para peserta, hingga akhirnya berhenti dengan 2 nama yang terpampang disana. Melihat itu, Ameno serasa menelan pil pahit. Ia tak menyangka kalau mereka akan dipertemukan disini.
..
Namikaze Ayano vs Haku
..
Itulah nama kedua peserta yang tertulis dipapan elektrik disana. Melihat itu, Ameno tak mempunyai pilihan. Haku harus kalah dipertandingan ini.
"Haku maafkan aku. Aku ingin kau dipertandingan ini untuk tidak menang melawannya. Sayang sekali kau harus berhadapan dengannya". Ucap Ameno dengan sedikit berat.
Kazuma atau Sasori yang ada dibelakang menyadari reaksi yang ditimbulkan oleh pemimpinnya ini. Entah keputusan apa yang akan diambil, ia tak tahu. Tapi jika dirinya berasumsi, mungkin Haku dipertandingan ini harus kalah melawannya. Jika dirinya menang, akan sulit untuk menangkap Jinchuriki ekor Sembilan itu.
"Tak apa, Ameno. Lagipula aku tak peduli dengan ujian Chunin ini. Menang atau kalah bukanlah hal yang berarti untukku. Keberhasilan misi ini merupakan prioritas utama kita. Jikalau harus kalah melawannya, aku tak apa". Ucap Haku dengan tenang dengan keadaan ini yang diluar rencana.
"Baiklah. Tapi setidaknya berilah dia pertarungan yang layak untuk diingat. Aku juga perlu informasi mengenai kemampuan miliknya".
Setelah mendengarkan beberapa patah kata dari pimpinannya ini. Haku langsung menuju arena dimana dia akan bertarung dengan Jinchuriki Kyuubi, Namikaze Ayano. Untuk Ayano sendiri tampak ia merasa biasa saja ketika ia akan bertarung. Namun jauh dari itu ada sedikit luapan emosi didalam dirinya ketika gilirannya tiba. Setelah mendengar beberapa saran dari Kakashi, kata penyemangat dari Sakura, serta perkataan dingin dari Sasuke. Tak bisa dipungkiri kalau ia merasa bersemangat akan pertarungan kali ini, walaupun dengan wajah yang terkesan dingin.
Terlebih lawannya ini juga seorang wanita sama seperti dirinya. Ia tak akan segan-segan. Walau begitu ia juga harus tetap waspada. Shinobi dari Amegakure ini tak bisa diremehkan. Setelah kemenangan rekan satu timnya, ada kemungkinan kalau dia juga lawan yang kuat.
Mereka kali ini sudah berada didalam arena. Berada dalam jarak yang cukup jauh. Ayano bisa melihat ekspresi lawan didepannya yang begitu tenang, seolah tak ada tekanan yang ia rasakan akan pertarungan ini. Melihat itu, raut emosi Ayano berubah, menjadi sedikit serius. Lagipula ini adalah ujian yang menentukan dirinya. Apapun itu ia tak boleh kalah.
"Pertandingan…. Dimulai!". Teriak sang wasit memulai pertandingan.
Seolah mengerti satu sama lain. Mereka berdua lantas melesat menuju arah lawan, guna menyerang satu sama lain tanpa ragu. Kali ini pertarungannya sedikit berbeda dengan pertarungan Kusano. Mereka kompak menggunakan Taijutsu andalan masing-masing. Pukulan dan tendangan menghiasi pertarungan mereka. Belum ada satu pun dari mereka yang sudah mendaratkan serangan ditubuh lawan. Mereka sungguh lincah dan hebat dalam menggunakan Taijutsu
Melihat itu, raut kagum jelas terukir pada semua Shinobi Konoha. Entah itu pembimbing dan juga teman-teman Ayano. Bahkan sang guru Hatake Kakashi tak henti-hentinya takjub akan Taijutsu yang dikeluarkan Ayano. Menuju tempat Hokage, terlihat senyum bangga dari seorang pria berambut kuning berantakkan. Dialah Namikaze Minato, Hokage keempat sekaligus ayah Ayano. Perkembangan kemampuan putrinya ini selalu saja membuatnya bangga, itulah yang ia pikirkan.
Cukup dengan Taijutsju, lantas mereka berdua kompak melompat mundur untuk mengambil jarak. Dengan cepat Haku kemudian merapal segel tangan untuk mengeluarkan Jutsu miliknya.
"Suiton: Bakushi Souha!".
Ombak raksasa kemudian tercipta dari mulut kecilnya. Arena seketika itu juga langsung dibanjiri dengan air. Melihat itu, Ayano kemudian menghindar dari ombak-ombak yang mencoba menenggelamkan dirinya. Beberapa penonton nampak kagum dengan Jutsu yang dikeluarkan oleh Shinobi Amegakure itu. Jutsu air yang dikeluarkannya mungkin setingkat rank-B ataupun Rank-A.
Keterkejutan belum sampai disitu. Ketika ombak air itu mencoba untuk menenggelamkan Ayano, seketika itu juga ombak air itu langsung membeku. Air itu membeku ketika Ayano akan terperangkat oleh gulungan air tersebut.
'Dia menguasai tehnik penggabungan Cakra. Elemen es. Sungguh hebat. Tapi, aku tidak akan kalah'.
"Hyoton: Hyouketsu!"
Haku masih terdiam diposisi miliknya tanpa bergeming selangkahpun. Ia masih berkonsentrasi mengendalikan beberapa air yang belum membeku untuk menangkap Ayano. Setelahnya langsung membekukannya dengan cepat menggunakan elemen es miliknya. Seperti yang diduga, lawannya ini sungguh lincah.
Merasa kesal dengan tehnik musuh, Ayano lantas tak tinggal diam. Ia mencoba mencari sudut yang pas untuk menyerang musuhnya ini yang terus-terusan menggunakan elemen air. Berlari dan melompat serta backflip untuk menghindari setiap serangan. Ayano lantas berlari menuju arah kiri guna mendapat sudut yang pas untuk menyerangnya dengan serangan jarak jauh. Merogoh kedalam kantung ninja miliknya, 2 Kunai bercabang 3 sudah berada digenggamannya. Ia lantas melompat dan langsung melempar 2 kunai itu. Setelah melempar kedua kunai miliknya ia langsung membuat beberapa segel tangan.
"Shuriken Kagebunshin no Jutsu!".
Kedua Kunai itu lantas berubah menjadi ratusan atau bahkan ribuan. Menyadari bahaya datang padanya, dinding es tebal langsung tercipta untuk melindungi dirinya. Dibalik dinding es itu ia bisa melihat hujan kunai ini yang berusaha untuk menghancurkan tembok es miliknya. Menyadari pertahannya tak akan kuat. Haku lantas mundur dari dinding es ciptaan miliknya. Dan benar saja, beberapa saat ia melompat mundur, dinding es itu lantas hancur berkeping-keping oleh hujan Kunai milik Ayano.
Pertarungan belum berakhir. Haku kembali merapal segel tangan guna untuk mengeluarkan tehnik miliknya. Selesai dengan segel tangan miliknya ia lantas langsung mengeluarkan salah satu tehnik miliknya.
"Hyoton: Kugi ame!"
Bongkahan es yang begitu tajam mulai tercipta disekeliling Haku beserta sisa es yang masih ada. Bongkahan es itu kemudian berkumpul diatas arena hingga tercipta ratusan bongkahan es dengan ujungnya yang tajam. Target mereka hanya satu, yakni Namikaze Ayano. Hingga tak lama satu persatu bongkahan es itu langsung melesat menuju Ayano diikuti dengan semua bongkahan es yang ada. Melihat itu, Ayano hanya bisa melebarkan mata safir miliknya ketika melihat serangan dengan jangkauan yang luas itu akan mengenai dirinya.
Boom! Boom! Boom!
Asap pekat yang tebal langsung tercipta ketika serangan milik Haku mengenai Ayano. Nafas semua penonton serasa tercekik ketika melihat bagaimana serangan yang dilancarkan Haku mengenai Ayano. Apa Ayano mati? Apa Ayano sekarat? Apa Ayano masih hidup, itulah pertanyaan yang berasal dari semua penonton. Walau begitu ada beberapa penonton yang melihat dengan wajah serius, salah satunya Naruto. Mereka masih terus melihat, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan pertandingan ini.
Haku hanya menampilkan wajah datar dengan serangan yang ia buat. Naruto sudah menyuruh dirinya untuk tidak menang melawan Ayano. Walau begitu, ia tak akan percaya jika Jinchuriki itu akan langsung kalah dengan serangan miliknya. Ia saat ini hanya menunggu. Menunggu musuh didepannya ini menampakkan dirinya.
Shiuuuttt!
Namun seketika iris coklat kehitamannya itu hanya bisa terbelalak, ketika menyadari seseorang sudah berada dibelakangya. Bagaimana mungkin, ia bisa berpindah dari sana menuju belakang dirinya dengan sangat cepat tanpa disadari olehnya. Melihat itu semua penonton langsung melebarkan matanya dengan kemunculan Ayano. Mereka semua yang hadir tak menyangka kalau Ayano akan menggunakan tehnik tingkat tinggi yang hanya bisa dikuasai oleh satu orang, Hiraishin.
Ameno dari tangga penonton tak luput dari keterkejutan. Rinnegan yang tertutup poni merahnya itu sedikit melebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
'Aku tak menyangka, dia sudah menguasai tehnik itu. Hiraishin no Jutsu. Jutsu yang sangat merepotkan".
Kakashi sebagai guru Ayano juga tak menyangka kalau muridnya ini mengusai tehnik yang sama seperti ayahnya. Selama dalam asuhanya, Ayano tak pernah menunjukkan tehnik itu padanya. Tapi siapa sangka ia akan menggunakannya disini. Dari tempat Hokage, tampak raut terkejut dari Hokage ketiga dan keempat. Namun keterkejutan dari Hokage keempat berubah menjadi senyum canggung. Seolah ia tak tahu harus berpikir apa dengan salah satu anaknya ini.
Menuju arena. Haku hanya bisa membalikan badan miliknya untuk melihat Ayano yang siap melancarkan serangan miliknya. Dengan mata yang melebar, ia bisa melihat Tangan kanan gadis ini sudah tercipta sebuah bola Cakra dengan ukuran sebesar bola tangan. Tak menunggu waktu lama, Ayano langsung melancarkan serangan itu tepat mengenai perut Haku.
"Rasengan!". Ledakan Cakra sedikit tercipta tak kala serangan Ayano mengenai dirinya.
Ughhh! Akhkkk!
Dengan wajah terbelalak, Haku hanya bisa merelakan perutnya itu terkena serangan milik Ayano. Hingga akhirnya bola itu hancur dengan Haku yang terpental beberapa meter dari sana. Haku hanya bisa merelakan tubuhnya itu terpelanting serta menghantam beberapa tembok es hasil ciptaannya. Dengan posisi terlentang serta sekujur tubuh yang terluka, Haku mencoba untuk bangkit seraya melanjutkan pertarungan. Walau keadaanya tubuhnya ini tak memungkinkan dirinya untuk bertarung. Namun, dirinya hanya bisa terdiam tak kala Kunai bercabang 3 milik Ayano sudah terarah padanya. Serasa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Haku memilih untuk menutup matanya serta menghembuskan nafas kecil.
"Aku menyerah". Ucapnya.
Mendengar kata menyerah dari Haku, sang wasit langsung mengumumkan pemenangnya.
"Pemenangnya Namikaze Ayano".
Tampak beberapa penonton yang bersorak atas kemenangan Ayano. Serasa tahu bahwa putri dari Hokage ini tak akan kalah walau lawan sekuat apapun. Beberapa tampak terdiam memandang kagum kearah Ayano, serta Shinobi dari Amegakure itu yang menguasai penggabungan Cakra. Pertarungan kali ini tampaknya cukup memberi kesan baru akan Shinobi Amegakure.
'Jutsu yang ia keluarkan sebelumnya, pastinya merupakan kunci akan Jutsunya itu. Shuriken Kagebunshin miliknya yang asli pastinya menancap didekat tubuh Haku hingga ia bisa menteleportkan dirinya. Jutsu Hiraishin sendiri memerlukan tanda segel agar pengguna bisa berpindah dari satu tanda ke tanda lainnya. Seperti yang diduga, putri dari Hokage keempat. Namikaze Ayano. Kau bahkan mewarisi kemampuan ayahmu'. Batin Ameno menganalisa kemampuan Ayano.
Sementara itu diarena bertarung tampak Ayano yang mengulurkan tangannya, hendak membantu Haku untuk berdiri. Terdiam sesaat memandang tangan putih itu yang terarah padanya. Hingga tangan putih miliknya meraih tangan milik Ayano.
"Kau itu Shinobi yang sangat hebat. Apalagi dengan kemampuanmu itu dalam tehnik penggabungan Cakra. Kurasa kau akan menjadi Shinobi yang hebat untuk kedepannya".
Entah itu sikap rendah diri atau sikap sportif. Haku bisa melihat raut wajah itu yang begitu kagum akan pertarungan tadi. Entah itu pujian untuknya atau sekedar basa-basi sebagai pihak pemenang. Haku lebih memilih untuk tidak ambil pusing dengan perkataannya. Jika dirinya serius, pemenang disini pastinya adalah dia. Hanya saja keadaan yang memaksa dirinya untuk kalah.
"Terima kasih atas pujiannya, Namikaze Ayano". Balas Haku datar.
Setelah beberapa perbincangan serta merapikan pakaian miliknya yang berantakkan, Haku akhirnya kembali ke tangga arena. Setelah menolak tawaran medis dari Konoha, ia lebih memilih untuk kembali bersama dengan timnya. Lagipula luka yang ia alami baginya tidaklah terlalu parah.
"Kerja yang bagus. Bagaimana keadaanmu saat ini?". Tanya Ameno untuk memastikan keadaan Haku.
Setelah ia terkena serangan telak dari Ayano bisa saja ia mengalami luka yang cukup serius.
"Tak apa. Hanya luka kecil dan rasa lelah biasa. Tapi mungkin aku perlu mengganti bajuku".
Melihat kebawah Haku, Ameno bisa melihat bekas serangan yang dilancarkan Ayano membuat pakaiannya berlubang di daerah perut. Hanya saja tak ada luka yang tertera. Perutnya itu bagaikan tak tersentuh apapun selama pertarungan tadi.
"Setelah mendapat serangan telak darinya, perutmu seharusnya mengalami luka yang cukup berarti. Namun yang kulihat, seperti tak ada goresan yang tertera disana".
"Kalau itu aku sudah mengantisipasi serangannya. Sesaat ia akan melancarkan serangannya tadi, aku sudah menggunakan tehnik Hyoton untuk melapisi tubuhku dengan es, layaknya sebuah jirah tak kasat mata. Serangan tadi sebenarnya tak memberikan efek yang berarti padaku. Namun karena aku harus kalah, aku hanya memanfaatkan momen itu untuk menciptakan kemenangan untuknya".
"Kau sudah memperhitungkan semuanya. Kerja bagus".
Pertandingan berlanjut. Kali ini tinggal menunggu gilirannya untuk bertarung. Peserta kali ini adalah Shinobi dari desa Suna, Sabaku no Temari. Melawan Shinobi dari desa Konoha bernama Tenten. Kedua peserta langsung memasuki arena untuk bertarung. Tak menunggu waktu lama wasit lantas memulai pertarungan.
Nampak Tenten yang menggunakan kemampuannya dalam menguasai berbagai macam senjata, serta kemampuan untuk mengeluarkan berbagai senjata dari gulungan. Temari dari desa Suna juga tak mau kalah. Ia yang membawa senjata andalannya berupa kipas raksasa, dengan mudah menahan serangan Tenten berupa lemparan berbagai macam senjata kepadanya. Bahkan serangan terkuat milik Tenten sekalipun dapat ditahan oleh gadis berambut pirang ini. Hingga pertandingan dimenangkan oleh Temari.
Papan elektrik kembali berputar untuk menentukan siapa yang akan bertarung. Terus mengacak nama para peserta, hingga papan itu menampilkan 2 nama yang akan bertarung.
..
Inuzuka Kiba vs Ameno
..
"Akhirnya giliranku tiba. Inuzuka Kiba. Kalau tak salah ia seorang Shinobi yang selalu membawa anjing kecil kemanapun ia pergi".
Ameno langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari seorang Shinobi bernama Inuzuka Kiba. Hingga pandangannya tertuju pada seorang pemuda dengan corak segitiga berwarna merah disana. Namun entah kenapa ada perbedaan mencolok dari pemuda itu.
"Apa itu anjing kecil miliknya? Tapi entah kenapa ukurannya bisa sebesar itu? Apa pertumbuhannya memang begitu pesat?"
Melihat kesana, Ameno terpaku pada anjing besar yang bersama pemuda itu. Didalam ingatannya, anjing itu seharusnya berukuran kecil sama seperti anjing kebanyakan. Selalu berada diatas kepala pemuda itu. Tapi sekarang ini, ukuran anjing itu lebih besar. Kira-kira sebesar serigala hutan atau harimau. Mungkin dirinya akan sedikit kerepotan melawan pemuda ini. Saat ini dirinya harus berhati-hati dalam mengeluarkan kemampuannya, apalagi kemampuan mata miliknya.
"Ameno berhati-hatilah dalam pertarungan kali ini".
"Aku tahu itu, Haku".
Seperti biasa kekhawatiran dirinya tidak pernah hilang. Untuk satu-satunya anggota wanita di Akatsuki, rasa khawatir pada sesama anggota selalu membekas didalam dirinya. Mungkin itulah hal yang bagus darinya, untuk seorang Shinobi.
Tak mau menunggu waktu lama, lantas Ameno langsung pergi menuju arena pertarungan. Sampai disana ia bisa melihat pemuda dengan aksen segitiga merah didipinya ini yang begitu antusias akan pertarungan kali ini. Seolah musuh yang akan ia hadapi tak akan memberinya perlawanan berarti untuknya. Bagi Ameno sendiri, ini sebenarnya merupakan pertarungan yang berat sebelah. Anggap saja ini sebagai pertarungan 2 lawan 1, dengan seekor anjing yang ikut serta. Biarlah, apapun yang terjadi ia harus menang melawan orang ini"
"Hajime!". Teriak wasit memulai pertandingan.
Dengan cepat, Kiba beserta anjing miliknya itu maju untuk memberikan serangan terbaiknya pada Shinobi didepannya. Melihat itu, Ameno lantas mengambil sikap bertarung guna menghadapi musuhnya ini. Ameno bisa tahu kalau lawan ini tidak menyerang dirinya secara asal. Setelah memperhatikan sedikit akan pergerakan mereka, Ameno tahu kalau mereka menyerang dengan pola memotong.
Dengan itu ia menghindari serangan dari Kiba, sang pemilik anjing. Serangan berupa kuku panjang ia lancarkan padanya bisa ia hindari. Belum selesai dengan serangannya, Kiba lantas melayangkan beberapa pukulan dan tendangan. Namun dengan reflek yang terlatih, Ameno bisa menghindari pukulan itu. Lupa akan satu hal, anjing Kiba yang bernama Akamaru juga tak tinggal diam. Ia lantas melompat menuju arah Ameno untuk memberinya serangan berupa gigitan. Menyadari itu, lantas Ameno menyampingkan tubuhnya guna menghindari anjing itu. Telat bereaksi, Ameno bisa melihat serangan dari Kiba berupa tendangan cukup kuat yang dilayangkan kearah dada. Melihat itu Ameno hanya bisa menahan serangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya. Ia sedikit terhempas mundur kebelakang akibat dorongan dari tendangan milik Kiba. Dirinya lantas melompat mundur dan melempar beberapa Kunai kearah mereka. Melihat itu, Kiba dan anjing miliknya dengan mudah menghindari serangan tersebut.
'Ini cukup sulit. Bertarung tanpa menggunakan kekuatan mataku. Hanya mengandalkan reflek bertarung serta Ninjutsu Rank-B untuk mengalahkannya. Aku harus mencari cara lain untuk mengalahkan orang ini'.
Ameno cukup kesulitan mencari cara mengalahkan orang ini. Anjing miliknya juga sangat terlatih dalam memberi serangan. Shinra Tensei miliknya tak bisa ia gunakan saat ini. Terlalu menarik perhatian jika ia mengeluarkan Jutsu miliknya itu. Sepertinya ia harus mengalahkan orang ini hanya dengan Ninjutsu dan Taijutsu miliknya.
Melihat kedepannya, musuhnya kali ini lantas membuat satu segel tangan. Hingga tak lama ia mulai menyeruakan nama Jutsunya.
"Jujin Bunshin!".
Anjing itu lantas berubah menjadi sama seperti pemiliknya. Layaknya sebuah Kagebunshin biasa dari seekor anjing. Seperti yang Ameno duga, ini merupakan pertandingan 1 lawan 2.
"Ayo maju. Akamaru". Teriak pemuda ini untuk menyerang.
Mata Rinnegan miliknya itu mulai mengedarkan pandangannya pada mereka berdua guna mencari tahu siapa yang akan menyerang duluan. Pola mereka sama, pola memotong. Lantas sebuah batangan besi hitam panjang langsung muncul di kedua tangannya. Mereka berdua kali ini akan menyerang secara bersamaan.
Ameno lantas maju pada salah satu sosok Kiba dihadapannya, guna memberinya serangan tusukan dari batang besi yang ia keluarkan. Seolah tahu apa yang akan dilakukan Ameno, Kiba dengan mudah menghindari serangan Ameno. Serangan Ameno bukan sebatas hanya tusukan saja. Ia kembali menyerang menggunakan batangan besi itu sebagai senjata miliknya. Ayunan menyamping serta tusukan, itulah serangan yang ia lancarkan. Walau begitu Kiba bisa menghindari serangan itu.
"Sepertinya Ameno cukup kesulitan dalam menghadapi orang itu. Apalagi ini pertarungan 2 lawan 1".
Kusano dari tangga penonton bisa melihat ketuanya ini cukup kerepotan. Pertarungan kali ini didominasi oleh Kiba yang lebih banyak memberikan serangan.
"Kau memang benar. Kuharap ia tak mengeluarkan kekuatan mata miliknya untuk mengalahkan orang ini".
Timpal Haku yang saat ini sudah mengganti pakaiannya. Dari atas ini ia melihat ketuanya yang lebih banyak menghindar ketimbang menyerang. Nampaknya ia masih belum menemukan cara untuk mengalahkan orang ini tanpa mengeluarkan segenap kekuatan miliknya.
"Fuuton: Mikazuki Kiri!". Ucap Ameno melafalkan tehnik miliknya.
Hanya dengan ayunan tangan, seketika tercipta sayatan dari angin yang membentuk bulan sabit. Angin tajam itu dengan cepat langsung menyerang Kiba dan Akamaru. Sekuat mungkin Kiba berusaha untuk menghindar dari sayatan angin milik Ameno. Namun sayang dirinya harus merelakan salah satu bahu miliknya terkena sedikit dari serangan Ameno. Darah sedikit keluar darisana.
Kembali ke tangga arena, Namikaze Ayano cukup antusias melihat pertarungan kali ini. Setelah menang dari Haku dengan luka yang tak berarti. Ia kembali menuju rekan setimnya guna melihat pertarungan selanjutnya. Dalam pertarungan kali ini, dia lebih tertarik pada pemuda berambut merah dari Amegakure itu. Kalau tak salah dia duduk bersebelahan dengannya saat ujian Chunin pertama.
"Kita gunakan tehnik itu Akamaru!". Teriak Kiba pada anjingnya.
Seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh majikannya. Mereka berdua kembali melaju bersama untuk menyerang Ameno. Melihat itu, Ameno memutuskan untuk meladeni langsung mereka berdua. Baginya ia sudah muak untuk terus meladeni orang ini. Namun ketika jarak mereka hanya beberapa meter, Kiba saat itu langsung melemparkan beberapa bom asap kearah Ameno. Melihat itu, sedikit terbelalak ketika menyadari beberapa bom yang dilemparkan padanya. Namun keterkejutannya hilang ketika mengetahui bahwa itu hanyalah bom asap.
'Bom Asap. Kukira ia melemparkan beberapa bom peledak kearahku'. Batin Ameno yang saat ini terjebak didalam kabut asap yang tebal.
Kabut tebal berwarna ungu dengan jangkauan yang cukup besar ini menghalangi pandangannya. Jarak pandangnya saat ini hanya sebatas 1 meter saja. Ia harus segera keluar dari dalam kabut ini. Musuh bisa saja merencanakan sesuatu ketika ia berada dalam situasi ini.
Buakhhh!
Ameno langsung terlempar seketika, saat sebuah serangan mengenai dirinya. Ia dengan cepat kembali bangkit untuk mencari asal serangan tersebut. Namun yang ia lihat saat ini hanya kabut ungu tebal yang menyelimuti dirinya.
Buakhhh!
Kembali, Ameno mendapat serangan dari orang ini. Kali ini ia mendapat 3 kali serangan secara beruntun. Ia tak bisa menemukan lokasi yang tepat dimana orang ini berada. Saat ia akan mencoba untuk keluar dari asap ini, seketika sebuah serangan berupa putaran kencang langsung menyerang dirinya.
Melihat kearah penonton. Tampak mereka yang kagum dengan serangan yang dikeluarkan oleh Kiba, apalagi untuk timnya. Jika dilihat dari atas, akan terlihat sebuah serangan berupa putaran bor yang terus menyerang dalam kabut asap itu. Sang guru bahkan berpikir ini akan segera berakhir dengan kemenang Kiba. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Shinobi Amegakure itu kalah.
'Ini mulai menyebalkan. Mungkin aku bisa menggunakan tehnik itu. Lagipula asap ini akan menyamarkan seranganku'.
Tak lama Ameno langsung merentangkan kedua tangan miliknya. Hingga ia menyebut nama Jutsunya itu dengan pelan.
"Shinra Tensei!".
Seketika gelombang kejut langsung tercipta, membuat Kiba beserta anjing miliknya terpental. Asap kabut berwarna ungu itu langsung sirna. Tampak beberapa penonton yang terkejut dengan serangan yang dikeluarkan oleh Shinobi Amegakure itu. Namun berbeda dengan timnya, yang melihat itu dengan tatapan biasa saja.
Dengan tubuh yang terpelanting menghantam lantai arena, serta sedikit terkejut dengan serangan barusan. Ia tak memperkirakan bahwa musuhnya mempunyai serangan seperti ini. Kiba lantas bangkit dengan sekujur tubuh penuh rasa nyeri. Ia harus bangkit untuk melanjutkan pertandingan dan mengalahkan orang ini.
Namun sayang bagi Kiba. Sesaat setelah ia berdiri, Ameno langsung berlari menuju Kiba serta melemparkan beberapa batangan besi kearahnya. Lambat bereaksi karena serangan sebelumnya, Kiba hanya bisa merelakan batangan besi itu menancap disetiap tubuhnya.
Jlebbsss! Jlebbsss! Jlebbsss!
Argghhh!.
Jerit Kiba kesakitan ketika semua batang besi milik Ameno menancap disekujur tubuhnya. Batangan besi itu menancap disekitar perut, lengan dan paha miliknya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba bergerak serta mencabut batangan besi ini. Namun entah kenapa ia tak mempunyai kekuatan untuk mencabut batangan besi ini, apalagi untuk bergerak.
Greppp!
Tangan putih milik Ameno dengan kuat mencengkram leher Kiba. Ameno langsung mengangkat Kiba setinggi mungkin hingga kedua kakinya tak menyentuh. Rasa sesak langsung terasa oleh Kiba, dengan cengkraman Ameno yang begitu kuat. Mata Rinnegan milik Ameno yang tertutup poni merahnya, hanya memandang datar dengan Kiba yang begitu kesakitan. Namun tak lama, mata berwarna ungu pekat itu langsung mendelik. Akamaru yang sudah berubah kembali menjadi anjing akibat serangan Ameno tadi, dengan cepat datang untuk menolong tuannya. Akamaru langsung melompat tinggi guna menyerang Ameno dari belakang. Namun dengan sekali ayunan tangan milik Ameno, Akamaru langsung terhempas oleh angin yang tercipta dari Ameno. Membuatnya terlampar cukup jauh. Cukup dengan pertandingan ini. Ameno seketika itu juga langsung menghantamkan Kiba dengan kuat menuju lantai arena.
Brakhhh!
Seketika lantai arena langsung hancur dengan diameter yang cukup besar. Kuatnya hantaman yang dikeluarkan Ameno sudah pasti membuat Kiba tak sadarkan diri. Melihat lebih jelas lagi, tampak Kiba yang sudah tak sadarkan diri. Melihat ini, wasit langsung mengumumkan pemenang pertarungan ini.
"Pemenangnya Ameno". Teriak wasit dengan keras.
Semua orang serasa tak percaya dengan Kiba yang kalah oleh Shinobi dari Amegakure itu. Padahal dari segi pertarungan, Kiba lebih mendominasi pertarungan. Namun hasil akhirnya berbeda dari perkiraan. Bahkan sang guru, Kurenai Yuhi memandang tak percaya dengan Shinobi dari Amegakure itu. Jutsu yang ia keluarkan saat berada dalam kabut, entah kenapa ia merasa sangat aneh dengan Jutsu itu.
Orang ini mempunyai elemen angin, yang mungkin bisa ia keluarkan untuk keluar dari posisi tadi. Tapi entah kenapa, ia tak merasakan adanya hembusan angin atau Cakra angin. Seolah Kiba terlempar oleh sesuatu yang tak kasat mata. Bahkan sang Copy Ninja, Kakashi juga memandang serius akan Shinobi bernama Ameno ini.
Selesai dengan ini, Ameno memutuskan untuk langsung kembali ke tangga arena dimana timnya berada. Namun sesaat ia akan meninggalkan lapangan arena. Ada 2 pasang mata yang memperhatikan dirinya dengan dalam. Ameno tak perlu melihat untuk mengetahui siapa kedua orang itu. Kedua orang itu pastinya mereka. Yondaime Hokage dan Jinchuriki Kyubi, Ayano dan Minato.
"Kukira kau tak akan menggunakan tehnik itu, Ameno". Ucap Haku pada Ameno yang sudah berada bersama mereka.
"Aku tak mempunyai pilihan. Aku sedikit kerepotan menghadapi orang itu tanpa kekuatan mataku. Lagipula seranganku cukup tersamarkan". Jelas Ameno.
"Kurasa itu sudah tak penting untuk dibicarakan. Sekarang apa rencana selanjutnya untuk misi kita kali ini, Ameno". Sasori atau Kazuma yang kali ini bicara.
Dari setiap pertandingan, hanya 2 orang dari muridnya yang berhasil lolos ujian ini. Sementara Haku, sayang ia harus gagal diujian ini. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh Sasori akan rencana selanjutnya, Ameno sudah mendapatkan pandangan akan hal itu. Jika apa yang ia perkirakan mengenai orang itu memang benar, rencana ini mungkin akan berjalan lancar. Bahkan mempermudahkan dirinya untuk menangkap mereka berdua. Tapi untuk sekarang ini ia perlu mencari beberapa informasi yang ia butuhkan. Ada beberapa hal yang kurang untuk kesuksesan akan rencana yang ia buat. Ia perlu menunggu akan hal ini.
"Tak perlu khawatir. Aku sudah memperhitungkan beberapa hal akan rencana yang nanti kubuat. Hanya saja aku masih kekurang informasi akan hal ini. Untuk sementara, kita mungkin hanya bisa menuggu hingga waktunya".
Mereka bertiga hanya terdiam mendengarkan apa yang Ameno katakan. Tapi untuk Kazuma, ia hanya bisa menghembuskan nafas lelah akan apa yang dikatakan pemimpinnya. Lagi-lagi menunggu, hal yang ia paling benci dari hidupnya. Ameno tahu akan ekpresi tak suka itu, namun ia tak memperdulikan itu. menengok kebelakang, Rinnegan miliknya menatap tajam pada dua orang berbeda tempat disana. Dua orang yang menjadi target incarannya.
"Sedikit lagi, akan tiba waktunya aku akan menangkap kalian. Ichibi dari Suna dan kyubi dari Konoha. Ketika nanti aku menangkapmu, kuharap kau tak mengenali akan sosok diriku yang sebenarnya…
….
…
..
.
Wahai Saudariku…..Namikaze Ayano.
Done.
Fiuhhh~. Selesai juga nih fic setelah menganggur cukup lama, saking lamanya nih fic nganggur mungkin udah tumbuh rayap dimana-mana. Saya tidak tahu apakah adegan bertarungnya cukup detil untuk bisa dijelaskan, atau terkesan dipaksakan. Yah tinggal satu chap lagi untuk selesai di era ujian Chunin dan author akan langsung lompat ke era Shipuuden. Saya sebenarnya ingin update fic ini kemarin, namun apa daya tepat saat berlangsungnya idul adha. Hingga author lupa untuk update fic ini gegara pesta daging tadi. Efeknya saat ini masih terasa, belum lagi masih ada sisa daging sapi sisa pemberisan sodara. Kayakanya pesta lagi nih.
Untuk update selanjutnya, mungkin Kuroyuki ato Incarnate. Author sedikit bingung mana duluan yang mau di update. Dan terima kasih kepada reader yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca fic ini serta menulis beberapa kata di kolom review, walaupun udah lama gak update.
Hanya itu mungkin yang ingin saya katakan dan selamat Hari Raya idul adha bagi umat yang merayakan.
Jaa.
