THREAD OF DESTINY

.

.

BY: CNARA-CHAN NAMIUZUKAGE.

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO.

RATING: M (naik rating for kekerasan).

WARNING: YAOI, OOC, DLL.

—Cnara-chan Namiuzukage—

CHAPTER 4 : BERANINYA KAU MENYENTUHKU!

.

.

.

Kyuubi menyeringai lagi dengan lebih lebar. Sebuah kesalahan fatal meremehkan seorang Kyuubi!

Kyuubi melangkah maju dengan kecepatan mematikan. Merentangkan kedua tangannya dengan kuku yang mengarah langsung kemuka Sai.

SRET!

Si-sialan!

CRASH!

.

.

Kyuubi membelalakkan matanya. Ia tidak percaya hal ini. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengkhianati temannya sendiri!

Sai tersenyum dan melirik salah satu bawahannya yang baru saja dijadikannya tameng dari Kyuubi. Ekor matanya melirik kuku Kyuubi yang menembus dada anak buahnya itu, untung saja tidak mengenai dirinya bukan?

Sai menyeringai, "Ada apa dengan ekspresimu itu?" tanyanya pada Kyuubi.

Kyuubi mencabut kukunya, melangkah mundur perlahan dengan seringai diwajahnya.

"Ckckck, tidak kusangka makhluk sepertimu benar-benar ada, sungguh menyedihkan," katanya sambil geleng-geleng kepala, menunjukkan wajah seolah benar-benar prihatin.

"Cih," Sai melempar tubuh tak bernyawa anak buahnya kesembarang arah. Ia langsung memasang kuda-kuda bertarung untuk mempersiapkan dirinya dari serangan Kyuubi berikutnya.

Tidak! Bukan! Dirinya hanya akan kalah jika menunggu serangan dari siluman rubah berekor sembilan dihadapannya. Ia harus menyerang, dan mencari celah saat mendesaknya. Sai mengangguk membenarkan pikiran di otaknya. Tapi tetap saja. Kekuatan dan kecepatan itu terlalu mengagumkan, tidak, bukan mengagumkan, tapi mengerikan!

Kyuubi memincingkan matanya melihat Sai seperti sedang mengalami kontroversi hati. Hahhh...

Tidak bisa kah kita melakukan ini dengan cepat? Innernya.

Kyuubi memang memakai mode bertarungnya. Tapi ia tidak bisa menahan rasa sakit yang berkoar diseluruh tubuhnya lebih lama lagi. Seketika itu juga Kyuubi melesat maju dan menyerang seekor siluman lainnya. Ia menendang sisi kiri siluman itu saat Sai baru saja menyadari pergerakkannya. Siluman bertubuh tinggi besar itu mencoba mengelak dan bertahan menggunakan kedua tangannya sebagai pelindung sisi tubuhnya yang diserang Kyuubi. Tubuhnya terpental kearah salah satu pohon apel, membuat goresan yang dalam karena gesekan kakinya yang menyentuh tanah.

Tidak membuang waktunya yang hanya sedikit lebih lama lagi, Kyuubi memaksakan tubuhnya kembali menyerang Sai. Siluman kelelawar itu dengan cepat menghindari cakaran Kyuubi dan menyerang balik rubah berekor sembilan itu. Kyuubi menunduk dan melancarkan tendangan tepat keulu hati pemuda berambut hitam didepannya, membuatnya terdesak mundur dan mendarat dengan lututnya terlebih dahulu ditanah yang dipenuhi daun-daun pohon apel yang gugur. Kyuubi maju kembali, tidak membuang kesempatan saat lawannya sedang lengah. Kyuubi meluncurkan kukunya tepat kekepala Sai dari sisi atas.

Dengan cepat Sai menahannya dengan cakarnya sendiri dan menendang Kyuubi dari bawah, membuat Kyuubi terpaksa melompat mundur untuk menghindar.

Sai maju dengan cepat.

Tendang. Tangkis. Pukul. Tendang.

Set! Kyuubi memajukan cakarnya saat muncul celah dari Sai yang kewalahan menahan tendangan dan pukulan Kyuubi yang menghantamnya secara terus menerus. Sai membelalakkan matanya. Ia jelas akan mati jika terkena serangan Kyuubi yang mematikan satu ini.

Crash! Mata Sai terbelalak lebih lebar saat bukan tubuhnya yang tertancap sesuatu yang asing oleh tubuh melainkan Kyuubi. Ia melihat anak buahnya yang tadinya tergeletak tidak berdaya di bawah pohon kini telah berada dibelakang tubuh Kyuubi dan melayangkan cakarnya pada pundak pemuda berambut merah darah itu.

Darah menetes dengan deras dari bagian bawah lengan baju Kyuubi. Membuat warna merah darah kimononya bertambah pekat oleh warna darah asli. Sai menyeringai. Sepertinya kemenangan ada ditangannya saat ini.

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Kiba menengadahkan kepalanya melihat langit yang gelap. Awan yang mengandung uap air yang tinggi mulai berarak kearah mereka. Hidungnya yang tajam dapat mencium bau segar hujan yang akan segera turun tidak lama lagi.

Kiba menghela napas panjang, "Akamaru," panggilnya.

"Guk!" jawab siluman anjing raksasa itu. Ia menatap intens sang kakak yang sejak kembali dari desa memiliki sifat yang berbeda. Nampaknya terjadi sesuatu selama pemuda bertato segitiga terbalik itu jalan-jalan di dunia manusia.

"A-aku.. Kurasa ada yang berubah dariku Akamaru," ucapnya pelan. Saat ini mereka berdua berada diatas batu besar tepi danau tempat mereka biasa bersantai bersama.

"Kurasa aku memiliki sebuah penyakit,"

Deg! Akamaru memandang terkejut kakaknya. Ia tidak mengira kakaknya akan mengeluarkan pernyataan seperti itu.

"Nggg.." anjing siluman itu merintih mendengar kabar yang buruk itu. Matanya berair hendak menangis.

"Jangan nangis Aka, tidak apa-apa kok," kata Kiba, matanya juga memerah dan berair.

"Aku tidak apa-apa," hening sejenak, " kalau suatu saat nanti terjadi sesuatu denganku kau harus jaga diri baik-baik ya? Berjanjilah padaku.." katanya sambil tersenyum menenangkan dan menatap Akamaru dalam.

Akamaru tidak bisa lagi menahan air matanya.

"Guk! Guk! Guk! (sebenarnya kau sakit apa?)" Akamaru bertanya sesunggukan.

"I-itu, kurasa jantungku sakit," jawab siluman anjing sulung itu pelan.

"Guk! Guk! (jantung?)" Akamaru menatap kakaknya setengah tidak percaya. Kakaknya mengidap penyakit jantung dan selama ini dia tidak tau? Adik macam apa dirinya?

Melihat adiknya yang nampak khawatir dan panik, Kiba memutuskan untuk menghentikan pembicaraan ini saja, "Haha, sudahlah, tidak usah dibahas lagi ok?" kata pemuda jabrik itu sambil tertawa.

Akamaru menatap Kiba tidak percaya dengan apa yang sudah diucapkannya, "GUK! GUK! GUK! (APANYA YANG TAK PERLU DIBAHAS?) Akamaru berteriak emosi. Memang kakaknya pikir dirinya adik macam apa? Lebih suka tidak tahu saja jika kakaknya itu sebenarnya memiliki sebuah penyakit mematikan?

"A-akamaru.." Kiba menatap adiknya yang berteriak untuk pertama kalinya dalam hidupnya itu dengan kaget. Tapi tak sampai sepersekian detik tatapannya kembali melembut. "Kau khawatir padaku ya?"

"Kainggg..."

Kiba mengacak kepala Akamaru dengan penuh kasih sayang.

"Semuanya akan baik-baik saja adikku sayang. Apapun yang akan terjadi nii-chan akan selalu melindungimu dari atas sana.."

Akamaru menahan tangisannya. Ia harus kuat. Ia harus kuat dan mencari tahu penyakit kakaknya ini dan mencoba mengobatinya. Matanya menatap Kiba dengan sorot mata serius.

"Guk! Guk! Guk! (penyakitnya seperti apa?) tanyanya dengan intonasi yang jelas.

Kiba mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba sebuah batu kecil didasar danau menjadi sangat menarik perhatiannya.

"Entahlah Aka, jantung ini," ia memegang dada kirinya, tempat jantungnya berada, berdetak dengan teratur, "ia suka berdetak dengan cepat secara tiba-tiba,"

"Guk? (berdebar?)"

"Ya! Itu namanya! Berdebar..." Kiba terus menyentuh dada kirinya. Angin lembut meniup rambutnya perlahan. Ia tersenyum tipis.

"Guk! Guk! Guk! Guk! (berdebar secara tiba-tiba tanpa ada alasan khuusus?)

"Mmm, alasan khusus?" Kiba terdiam sejenak tangannya yang lain menyentuh dagunya—pose berpikir—serius.

"Oh ya! Saat itu pertama kalinya aku berdebar! Saat melihat senyuman Shika!" Kiba tersenyum bangga karena otaknya yang dengan jeniusnya mengingat hal itu—bagi Kiba saja tentunya—haha, Kiba gitu loch!

"Guk! Guk? (Shika?)" Akamaru memiringkan kepalanya bingung.

Kiba mengangguk semangat, "Um! Namanya Shikamaru Nara, seorang kepala polisi didesa tempatku dan Naru berkunjung,"

Hmm, Akamaru mulai mengerti apa masalahnya sekarang.

"Guk? Guk! Guk? (lalu kapan lagi rasa berdebar itu muncul?)"

"Hmm," Kiba nampak berpikir keras, "Ahh, setiap aku mengingat si mata kuaci itu! Tiba-tiba langsung dag-dig-dug-derrr gitu Aka!" Kiba menceritakannya dengan perasaan yang berbunga-bunga—gak inget kalau harusnya dia sedih—mengingat ini seharusnya adalah sebuah 'penyakit'.

Akamaru memandang kakaknya ini dengan wajah datar.

"Apa mungkin aku ketularan penyakit manusia ya?" Kiba terus mengoceh.

Akamaru hanya memandang Kiba datar.

"Pasti Shika yang menulariku!" katanya lagi.

Akamaru hanya memandang Kiba datar.

"Ya! Ya! Betul itu!" Kiba mengacungi otaknya sendiri dengan jempol.

"Haaahhh..," Akamaru hanya menghela napas pasrah melihat kakaknya yang terlampau polos, bahkan ehem—bego—ehem.

Itu namanya jatuh cinta, Kiba!

Ampun dech, aku yang masih bentukkan anjing aja ngerti!

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Sai terkejut mendapati dirinya sekarang. Tergeletak dibawah pohon apel dengan tubuh bersimbah darah. Ia memandang anak buahnya yang baru saja beberapa menit yang lalu menyelamatkan hidupnya kini anggota badannya telah terpisah dengan mengenaskan. Jantung Sai berdebar dengan cepat, tidak dapat lagi mengontrol ketakutannya. Apa yang baru saja terjadi? Semuanya terjadi dengan begitu cepat.

.

Flashback.

.

Sai tertawa melihat betapa banyaknya darah Kyuubi yang keluar. Ia tersenyum meremehkan melihat Kyuubi sekarang, "Apa yang akan kau lakukan sekarang, hah?" matanya melirik Kyuubi yang tengah terdiam, mematung begitu saja.

"Khehehe," terdengar suara dari badan yang sedang menunduk itu.

Deg! Seluruh tubuh Sai gemetar melihat aura yang keluar dari tubuh siluman dihadapannya. Ia melihat dengan jelas saat Kyuubi hanya menyeringai memandangi darahnya yang menetes.

"Apa yang sedang kau bicarakan, Sai?" tanyanya dengan santai. Bibirnya menyunggingkan senyum saat matanya malah memandang Sai dengan tatapan mencemooh. "Kau tidak sedang berkhayal akan menang dariku, bukan?"

Deg! Badan Sai melemas seketika, lututnya nyaris tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Kyuubi begitu mengintimidasi dirinya. Ia bahkan tidak mampu lagi berkata-kata.

Dengan gerakan cepat Kyuubi membalikkan tubuhnya dengan cakar sang siluman yang masih bersarang dipundaknya. Mematahkan tangan siluman bertubuh besar itu saat mencabut cakarnya yang kotor dari bahunya. Siluman kelelawar itu berteriak ngilu memegangi tangannya yang patah dan melangkah mundur menjauh dari Kyuubi.

"Entah harus berapa kali aku mengatakan hal ini," Kyuubi menyisiri rambutnya perlahan, "Aku paling tidak suka disentuh!" katanya memandang siluman yang sudah berani-beraninya menyentuh bahunya dengan cakar yang menggelikan itu dengan tatapan jijik. Cakarnya yang panjang terayun dan membelah tubuh sang siluman menjadi dua bagian. "Camkan itu baik-baik," bisiknya dengan muka yang terkena cipratan darah korbannya. Mata kucingnya memandang nyalang potongan tubuh yang berserakkan ditanah.

Sai tertegun. Ia terjatuh duduk diatas tanah tempatnya tadi berpijak, membuat perhatian Kyuubi kembali mengarah padanya. Ia memandang Sai sesaat. Dan tersenyum tidak penuh arti.

"Ada apa, Sai?" katanya sok innocent. Ia menunjuk siluman yang tadi dibunuhnya dengan dagu, "Bukankah tadi kau kemari mau mencari makan? Kenapa sekarang kau tidak makan saja?"

Sai menatap mata kucing itu dalam diam. Apa mungkin siluman itu bermaksud menyuruhnya meminum darah anak buahnya sendiri? Menjijikkan!

Mata onyx milik Sai menatap Kyuubi penuh kebencian. Ia takut, kagum, bingung dan marah pada siluman yang memiliki sembilan ekor yang melambai-lambai dihadapannya itu. Semua rasa itu bercampur aduk membuatnya hanya menatap Kyuubi dengan tatapan kebencian yang jelas kentara.

Dengan tenang Kyuubi melangkahkan kakinya mendekati Sai. Dan mengayunkan cakarnya tepat kedada pemuda itu.

CRASH! Tubuh Sai kini bersimbah dengan darah. Dadanya terkoyak menganga mengalirkan cairan kental itu. Tidak sampai disana, Kyuubi juga mengayunkan kakinya tepat kearah perut siluman penghisap darah itu.

DUAK! BRUAGH!

Tubuh Sai tergeletak tidak berdaya ditanah setelah sebelumnya terpelanting dan menabrak pohon besar dibelakangnya karena kekuatan yang mampu menghancurkan tulang itu. "Uhuk! Uhuk!" ia terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.

Ingin rasanya tertawa karena kondisi ini. Tapi tenggorokkannya dipenuhi dengan darah. Siluman itu tidak lagi bisa berkata-kata. Seharusnya ia tahu dari awal untuk tidak macam-macam dengan siluman seperti Kyuubi.

.

End Of Flashback.

.

"Dengar ini baik-baik, Sai..." Kyuubi melangkah perlahan kearahnya.

"Jangan pernah kau muncul lagi diwilayahku. Karena jika sampai aku melihatmu lagi, kau tidak akan melangkah seinci pun dengan tubuh yang utuh," dengan gerakan perlahan ia berjongkok kehadapan Sai, menatap Sai dengan pandangan yang 'lembut'. Kyuubi memiringkan kepalanya, "kau mengerti kan?"

Tanpa sadar Sai mengangukkan kepalanya. Angukan yang bahkan nyaris tidak kentara, tapi mampu membuat Kyuubi tersenyum simpul.

Kyuubi melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu, terus berjalan menjauh hingga hilang dari hadapan siluman yang terjatuh tak sadarkan diri tepat setelah ia menghilang.

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Itachi melangkah menyusuri pohon-pohon apel disekelilingnya. Tangannya memegang erat sekeranjang apel merah yang telah masak. Bibir tipisnya tersenyum membayangkan anak-anak asuhannya yang akan menyambutnya dengan wajah yang sumringah menengadah meminta apel-apel itu darinya. Itachi memandang langit yang semakin gelap, ia harus berjalan cepat jika tidak mau kehujanan.

"Haahhh.." Itachi menarik napas dalam-dalam. Udara didalam hutan memang sangat segar, apalagi bau hujan yang kuat menambah segar udara. Itachi seringkali masuk dan berjalan-jalan sendirian ditengah hutan jika memiliki masalah atau beban yang tidak dapat dibaginya pada siapapun. Ia mencintai hutan ini seperti keluarganya sendiri.

Bruk! Itachi mengalihkan pandangannya pada sumber suara, dilihatnya seekor rubah kecil berbulu orange dengan sedikit semburat kemerahan tengah terbaring ditanah, tak berdaya. Dengan segera ia berlari berniat mengobati rubah kecil itu saat matanya menangkap darah yang mengalir dari tubuh kecilnya, melempar keranjang apel itu begitu saja.

Dengan perlahan diangkatnya tubuh yang lemah itu dan dengan cepat memeriksa luka melintang dibagian lengannya. Cekatan tapi lembut tangan-tangan Itachi membersihkan luka itu dan membalutnya saat menyadari lukanya terlalu dalam untuk dibiarkan begitu saja. Tanpa pikir panjang dicabutnya beberapa helai rambutnya yang cukup panjang dan dipasangkanya pada jarum yang selalu tersemat dihakamanya. Ia menjahit luka itu dengan rapi agar tidak menimbulkan bekas yang terlalu kentara kelak dikemudian hari. Setelah selesai, Itachi mengamati jahitannya dan tersenyum kecil, untunglah masih sempat! Itachi menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri. Dan langsung beranjak dengan cepat dari tempat itu setelah menurunkan rubah itu dari pangkuannya yang hangat. Ia kembali beberapa saat kemudian dengan tangan yang memegang beberapa helai dedaunan asing.

Itachi mengunyah dedaunan itu dan memuntahkanya pada lengan sirubah. Tanaman yang berfungsi untuk menutup lukanya dan menghentikan pendarahannya. Jari-jarinya yang panjang membalut perban dengan lihai dan cepat. Membuat simpul sederhana pada akhirnya.

Yup! Sudah selesai! Inner Itachi bangga. Tidak sia-sia ia banyak belajar untuk ini. Bisa dibilang, rubah ini adalah pasien pertamanya di 'meja operasi'.

Tanpa sadar tangan Itachi mengelus bulu halus si rubah. Bulunya begitu halus dan lembut. Membuatnya melengkungkan senyum yang tulus.

"Tidak salah aku menyelamatkanmu.." ucapnya pelan.

"Kau begitu manis.."

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

Naruto berjalan tak tentu arah disekitar 'sarang' kakaknya. Dari ekor matanya ia melihat Kiba yang sedang dikejar-kejar Akamaru dengan penuh amarah—entah karena apa—diseberang sana. Saat ini ia sedang mencari Kyuubi yang tengah menghilang. Kemana orang itu? Padahal Naruto sudah berjalan kesini jauh-jauh, tempatnya Kyuubi kan sedikit terasingkan. Ia bisa menduga kalau kakaknya akan lemas setelah kejadian beberapa hari yang lalu didanau yang melibatkan seorang manusia yang mirip dengan Sasuke. Karena itulah Naruto merasa sangat bersalah telah membuat kakaknya itu berlari sangat jauh untuk mengejar dirinya. Huft!

Mana lagi tu orang?

.

.

—Cnara-chan Namiuzukage—

.

.

To Be Continue...

Thanks buat semuanya yang udah ngereview (mbungkuk), ngefollow (blink-blink), atopun ngefavorite (nangis terharu). Thanks a lot...

I love you guys..

Ngelambai-lambaiin tangan kayak miss indonesia sambil lompat-lompat.

Sedikit curcol, ternyata kalo bikin scene berantem tu berasa cepet banget ya tau" dah 2ribu, haha, enaknya..! kalo gini brantem aja truz..,

Ini pertama kalinya C buat adegan kayak begini, moga cukup memadai ya? Kalo ada kritik saran yang membantu, silahkan riview..!

Luce stellare of Hyuzura : haha, thanks! (Kyuubi : aku bakal menang kok, gue gak mungkin kalah juga.) (C : #matakKyuubi. Diem loe!)

Lefyya : Tau ni, sadis amat, maklum dia tu kan gak punya *.*.*.* (sensor). (Kyuubi : gue kan ikut naskah lu author sarap!) thanks buat supportnya!

Yuichi : Ok! Ni lanjut.,

Love kyuuuuu : Hehehe, ItaKyuu nya sepotong-sepotong aja yah., jangan nangis darah donk, ntar keabisan darah author ditangkep polisi dech, ntar klo jati diri author sebagai vampir ketauan kan berabe., Ya. Ya. Author juga suka, hehe. Makanya dia jadi begitu. Ok! Ni lanjut.,

Sayaaurantii : Ok! Ni lanjut, tapi ni author juga bingung masuknya update kilat bukan ya? Terserah Saya-san aja dech,

Makasih semuanya! (terharu..)

Tolong direview ya...

By. Cnara-chan Namiuzukage

Sekian... ^_^