Naruto © Masashi Kishimoto

This Story is Mine, Asterella Roxanne.

Warning : Rated M for any reason | Bahasan yang berat | Little bit gore | OOC, OC | Typo's maybe | Dan segala kekurangan lainnya.

Tidak mengambil keuntungan apapun, murni untuk menyalurkan imajinasi.


.

Enjoy!

.

Suara pintu yang di buka kasar membuat perhatian Gaara teralih. Ia melihat kakak perempuan satu-satunya itu melangkah dengan tergesa dan wajah gelisah, seakan menuntut sesuatu agar sesuai dengan keinginannya. Pandangan Gaara berpindah pada pria yang melangkah di belakang kakaknya, hal pertama yang dapat Gaara tangkap darinya yaitu meskipun berlagak tenang tapi emosi yang bergejolak dalam dirinya dapat terlihat jelas dari pancaran kedua manik hitamnya.

"Bagaimana? Apa kau dapat sesuatu Gaara? Kau berhasil, kan?" tanya Temari tak sabar.

Gaara terdiam. Perhatiannya kini telah kembali pada layar komputer yang menampilkan latar belakang hitam dengan tulisan berwarna merah besar: ERROR. Tatapannya seketika berubah sendu. Ia telah gagal.

Shikamaru yang melihat perubahan air muka Gaara langsung paham. Ia berjalan mendekati Gaara dan memandang apa yang tertulis pada layar komputer, hanya untuk memastikan apakah kesimpulannya benar.

"Maaf Kak...," ucap Gaara pelan. "Aku tidak dapat menemukan lokasi penculikan Sakura-san. Aku sudah berusaha tapi sepertinya mereka, para penculik Sakura-san, mengetahui tentang pemancar itu. Jadi, sebelum sempat aku menemukan titik lokasi, mereka telah merusaknya."

Hampir saja Temari jatuh terduduk di lantai, jika Shikamaru tidak dengan sigap menangkapnya. Tangan kanan Temari mencengkram lemah rompi hijau yang dipakai Shikamaru, menahan tangis yang hampir pecah. Tidak dapat dipungkiri jika Shikamaru pun merasa kecewa. Pria itu kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap helai pirang Temari, setidaknya dapat sedikit menenangkan kekasihnya itu.

Terjadi keheningan yang cukup lama, sampai tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di benak Shikamaru. Tubuh lelaki itu sedikit menegang, dengan sigap ia menuntun Temari duduk di satu kursi yang tak jauh dari mereka. Lalu menatap Gaara dengan pandangan serius.

"Gaara," panggilnya.

Gaara mendongak untuk menatap kekasih kakaknya tersebut, tatapan bingung seketika ia perlihatkan kala melihat kerutan di dahi Shikamaru serta wajah serius yang sangat jarang ditunjukkannya. "Apa?"

Shikamaru berdeham, "Kau tadi bilang, jika para penculik Sakura telah mengetahui lebih dulu tentang pemancar itu sebelum sempat kau menemukan lokasinya, kan?"

Gaara mengangguk, masih bingung.

"Coba kau ingat-ingat lagi, apakah ada sesuatu yang kau lewatkan?" tanya Shikamaru, kini telah terlihat lebih santai. Bahkan pria itu menampilkan sedikit seringainya. Temari yang duduk tak jauh dari mereka hanya mendengarkan tak paham. Tapi satu hal yang ia tahu, kekasihnya menyadari sesuatu yang janggal dari laporan Gaara.

Gaara terdiam, kedua bola mata dengan iris jade-nya bergerak tak beraturan, menandakan pemuda berambut merah bata itu tengah berpikir keras. Jari telunjuk tangan kirinya telah mengetuk-ngetuk meja komputer di hadapannya dengan pelan, seakan menjadi melodi untuk membantunya berpikir. Dan selang beberapa menit kemudian, kedua bola mata itu membelalak lebar, hampir keluar dari kelopak matanya.

Shikamaru mendengus kecil, "Butuh empat menit tiga puluh tujuh detik untuk seorang Rei Gaara mengetahui kejanggalan laporannya sendiri." Sebenarnya jika Gaara mendengar ucapan itu dalam situasi lain, dengan senang hati ia akan memberikan hadian tinjunya kepada Shikamaru. Tapi, simpan tenaganya itu nanti.

Gaara langsung mengotak-atik komputernya kembali, dan tidak sampai satu menit, layar komputer telah menampilkan peta tiga dimensi seperti sebelumnya. Ia menatap dengan seksama, sebelum berucap dengan lantang.

"Mereka ke arah Barat."

Shikamaru langsung mengambil handphone yang tersimpan di saku rompi hijaunya dan menghubungi Konohamaru, asisten kepercayaannya.

"Halo, Sir. Ada yang bisa kubantu?"

"Bentuk beberapa unit tim dari agen lapangan dan segera berkumpul di Strategy House."

"Baik."

Sambungan terputus. Shikamaru kemudian terlihat mencari-cari nama lain dalam phonebook-nya, dan setelah ketemu ia segera menekan tombol call.

"Shi―" sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Shikamaru langsung memotongnya.

"Ke Strategy House sepuluh menit lagi, Sai," ucapnya tanpa tedeng aling-aling. "Oh, ajak beberapa anak buahmu juga dan jangan lupa membawa Mac-mu."

Sambungan kembali putus, kali ini sepihak. Shikamaru sedang malas untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar tak manusiawi dari mulut seorang Shimura Sai. Temari yang keadaannya kini sudah lebih baik bangkit dari kursinya dan mendekati Shikamaru.

"Shika, kau tak mau membagi kabar, dan kurasa cukup penting, itu padaku? Aku seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa," ucap Temari seraya melemparkan tatapan kesal.

Shikamaru tersenyum tipis. Sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya, ia menatap Gaara. "Gaara, pergilah ke Strategy House. Sepertinya kau akan turun kali ini. Aku akan menyusul."

Gaara mengangguk, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, yang sebenarnya adalah ruang kerjanya, ia melemparkan tatapan menuntut. Shikamaru tahu benar arti tatapan itu, dengan malas ia berucap, "Tenang saja. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjelaskan pada Temari."

Mendengus remeh, pria berambut merah bata itu kembali melanjutkan langkahnya. Setelah memastikan adik kekasihnya telah pergi, seluruh perhatian Shikamaru kini terfokus pada Temari. Ia hampir tertawa saat melihat raut menuntut yang bercampur bingung serta penasaran yang ditampilkan kekasihnya.

"Tunggu apa lagi? Ayo jelaskan," kata Temari gusar.

Shikamaru terkekeh. "Calm down, blondie. Gaara memang tidak berhasil menemukan titik lokasi penyekapan Sakura, tapi ...," potong Shikamaru.

"Tapi apa?" Temari merasa udara di sekitar mereka tiba-tiba menipis. Tanpa sadar wanita itu menahan napasnya saking tegangnya menunggu kelanjutan ucapan Shikamaru.

"... kita tahu dibawa ke arah mana Sakura oleh para penculik itu."

"Hah?"

"Yang artinya, kita telah mendapat titik terang untuk misi penyelamatan Uchiha Sakura."

Temari spontan memeluk Shikamaru, yang kemudian dibalas oleh pria itu juga. Perasaan senang menyelimuti dirinya. Meskipun masih harus bekerja ekstra, setidaknya mereka sudah mendapatkan satu petunjuk tentang keberadaan Sakura.

Melepaskan pelukannya, Temari menatap Shikamaru tepat ke kedua manik hitamnya. Dalam hitungan detik, kedua bibir sepasang kekasih itu bertaut, saling menyampaikan perasaan yang tak terucap oleh kata dengan sebuah ciuman lebut dan dalam.

Masih dengan wajah memerah usai tautan bibir mereka terlepas, Temari mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja terasa panas di sekitar mereka dengan mengajukan pertanyaan.

"Apa Uchiha dan Naruto ikut terlibat di lapangan?"

"Naruto, tentu. Kalau Sasuke, hanya jika ia telah dalam kondisi waras. Aku takut ia hanya akan mencelakai dirinya dan mengacaukan operasi jika ia ikut dalam keadaan kurang waras," jawab Shikamaru dengan menyelipkan nada jenaka di akhir kalimatnya.

Temari terkekeh pelan mendengarnya. "Sejak awal ia memang sudah tidak waras, aku heran kenapa Sakura masih mau menikah dengan orang seperti dia." Raut wajah Shikamaru seketika berubah, Temari yang menyadari itu lantas terdiam. Ia tahu jika ucapannya tadi sudah keterlaluan.

Karena tidak ingin terjadi pertengkaran di antara mereka, pria berusia akhir tiga puluhan itu memutuskan untuk segera pergi. Ia kecup puncak kepala Temari dan kemudian melangkah keluar dari ruang kerja Gaara. Sebelum mengarahkan langkahnya ke Straregy House, terlintas keinginan untuk melihat keadaan Uchiha Sasuke yang dirawat di klinik bangunan utama Uchiha's Residence.

Ia mengetuk sebanyak tiga kali sebelum memutar kenop pintu di hadapannya.

"Naruto," panggil Shikamaru. Cukup terkejut saat didapatinya pria berambut pirang bermarga Namikaze itu sedang duduk memandang kosong ke Uchiha Sasuke yang berbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.

Naruto yang merasa ada yang memanggil namanya, spontan menoleh ke sumber datangnya suara. "Oh, Shikamaru. Datang berkunjung?"

Shikamaru hanya menangguk. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa berwarna spinel yang ada di sudut ruangan tersebut. Ruangan yang disebut klinik ini lumayan luas, dengan empat ranjang pasien yang ditata bersebrangan dan dibatasi oleh gorden-gorden berwarna biru muda cenderung kusam. Ia menatap Naruto serta Sasuke bergantian.

"Bagaimana kabarnya?"

Naruto ikut memandang Sasuke sambil menjawab pelan, "masih belum sadarkan diri sejak dua hari yang lalu."

Lagi-lagi Shikamaru hanya mengangguk sebagai balasan.

"Bagaimana dengan dirimu?"

Pria dengan tanda lahir berupa garis-garis halus di kedua pipinya itu cengar-cengir, menampilkan gigi-gigi putih bersihnya. "Seperti yang kau lihat?" Kedua bahunya mengendik, "aku sudah sepenuhnya sehat."

Shikamaru menggumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. Tak sengaja ia melirik jam yang dipajang di dinding tepat di atas pintu masuk telah menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit. Ia telah terlambat lima menit, ia harus bergegas.

"Begini, berhubung aku telah terlambat lima menit maka to the point saja. Gaara telah mendapatkan satu petunjuk tentang lokasi penculikan Uchiha Sakura. Jika kau benar-benar yakin telah sepenuhnya pulih, kuharap kau mau terjun ke lapangan. Karena, ya, kau tahu. Kau satu-satunya orang yang sangat ahli menjalankan operasi lapangan," jelas Shikamaru panjang lebar. Kaki kirinya menghentak pelan, tanda ia sudah tidak memiliki waktu yang banyak.

Naruto menatap serius Shikamaru. Baru saja ia ingin melontarkan jawabannya, Shikamaru kembali menyahut. "Tidak perlu memaksakan diri. Lawan kita bukanlah orang biasa, aku bisa mengandalkan agen lain. Kesehatanmu yang menjadi prioritas saat ini."

"Aku. Sangat. Sehat. Shikamaru," ucap Naruto dengan penekanan di setiap kata. "Tentu aku akan ikut."

Shikamaru mengangguk, lalu bangkit dari sofa berwarna spinel yang beberapa saat lalu ia duduki. Nada suara Naruto yang terdengar final tersebut cukup meyakinkannya. "Senang mendengarnya, Naruto. Oh, aku ada rapat penyususan strategi di Strategy House sekarang. Kau mau ikut?"

"Tentu."

"Dia?"

"Tidak apa-apa. Ino akan menjaganya."

"Baiklah. Ayo, cepat! kita sudah terlambat delapan menit."

Kedua pria itu segera melesat ke luar ruang klinik tersebut. Langkah kaki mereka yang cepat menimbulkan bunyi yang cukup berisik, membuat beberapa orang yang mereka lewati menoleh namun segera membungkuk hormat ketika tahu siapa yang membuat kegaduhan itu.

Strategy House terletak terpisah dari bangunan Uchiha's Residence. Tepatnya berjarak dua puluh meter ke arah tenggara. Strategy House merupakan sebuah tempat khusus untuk menggelar rapat penyusunan strategi sebuah operasi dan biasanya Strategy House digunakan hanya untuk menyusun strategi operasi yang cukup penting. Seperti sekarang.

Shikamaru segera menyambar salah satu handle dari pintu ganda di hadapannya dan langsung membukanya. Semua orang sudah berkumpul, berbaris membentuk beberapa tim sesuai perintahnya. Konohamaru yang berdiri di paling kanan membungkuk sedikit kepada Shikamaru dan langsung melapor.

"Sir, saya sudah mengumpulkan agen dan membentuknya menjadi beberapa tim sesuai permintaan Anda."

"Bagus." Shikamaru menatap sekeliling dengan pandangan menelisik. Merasa semua yang ia butuhkan telah ada di sana, ia memberi isyarat pada semuanya untuk mengikuti ke ruangan sebelah. Pria itu menekan saklar lampu, dan terlihat sebuah meja besar yang berbentuk elips dengan kursi-kursi yang mengelilinginya.

Dengan wibawa seorang pemimpin, Shikamaru segera mengambil tempat di ujung meja dan bersiap memulai rapat.

"Maaf atas keterlambatan saya. Tanpa banyak membuang waktu lagi, kita mulai saja rapatnya. Silakan ambil tempat duduk."

Meja elips itu sangat besar dan memanjang hingga dapat menampung lima puluhan kursi yang diletakkan mengelilingnya. Shikamaru memberi isyarat pada Sai untuk menaruh Mac-nya di depan pria itu. Gaara yang melihat Shikamaru bergerak untuk menghidupkan proyektor, maju mendekati Mac milik Sai dan mengotak-atiknya hingga tampilan di layar berubah menjadi peta tiga dimesi.

Proyektor yang telah dihidupkan dan disambungkan ke Mac milik Sai, langsung memantulkan gambar pada layar proyektor berwarna putih di belakang Shikamaru. Setelah menggumam terima kasih pada Gaara, ia kemudian menatap semua yang ada di ruangan itu dan membuka suara untuk menjelaskan.

"Seperti yang kalian lihat. Di layar proyektor kini menampilkan sebuah peta dunia tiga dimensi. Beberapa saat lalu Rei Gaara menemukan satu petunjuk kecil sehubungan dengan tempat penculikan Uchiha Sakura. Dan kata kuncinya adalah: West."

Shikamaru memperkecil gambar dan menggerakkannya ke arah kiri, sehingga negara-negara yang ada di sebelah barat Jepang terlihat. "Jika kalian meragukan benar atau tidaknya, maka saya akan menjelaskan rinciannya. Rei Temari beberapa hari yang lalu teringat akan kalung yang ia berikan kepada Uchiha Sakura sebagai kado Natal. Seperti yang kita tahu, Rei Temari adalah penemu dalam bidang teknologi, salah satunya adalah alat pemancar yang dapat mengirimkan sinyal untuk mengetahui lokasi si pemakai. Dan alat yang sangat berguna itu telah ditanamkan Miss Rei pada kalung Uchiha Sakura.

"Rei Gaara yang ditugaskan oleh Temari untuk melacak sinyal tersebut hampir berhasil jika saja para penculik itu tidak kedahuluan sadar. Gaara kehilangan jejak saat proses pemindaian lokasi hampir 100 persen, tepatnya telah menunjukkan angka 99,5 persen. Dan sebagai gantinya, ia hanya mengetahui satu petunjuk kecil, yaitu Barat."

Shikamaru berhenti sejenak, dan menatap para agen yang telah dipercayai untuk ikut turun dalam operasi penyelamatan Uchiha Sakura. Wajahnya berubah menjadi lebih serius.

"Ada yang tahu berapa banyak negara yang ada di barat Jepang?" tanyanya. Namun tidak ada satu pun yang buka suara. "Tidak? Tentu, karena negara yang ada di barat Jepang mungkin mencapai 30 sampai 50 negara. Jadi, bagaimana cara kita untuk menemukan tempat para penculik itu menyekap Uchiha Sakura? Menggeledah dari satu negara ke negera lain?"

Semua masih terdiam. Mencoba memutar otak bagaimana cara menyusun strategi yang baik namun tidak memakan banyak waktu dan tentu saja tidak sampai membuat negara-negara lain resah.

"Melacak semua pesawat, kapal, bus dan kereta yang meninggalkan wilayah ini dalam kurun waktu empat hari yang lalu."

Semua mata langsung menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ke ruangan sebelah. Seorang pria berdiri di ambangnya, dengan tubuh penuh balutan luka. Ia berjalan perlahan mendekati ujung meja, tepatnya Shikamaru. Pria itu balas melemparkan tatapan tajam pada Shikamaru yang ingin protes.

"Jika kau mau mengusirku dari sini, jawabannya: tidak akan."

Semua agen tampak serempak bangkit dari duduk masing-masing dan membungkuk hormat pada Uchiha Sasuke.

"Sasuke, mengertilah ..."

Tatapan tajamnya beralih pada Naruto, dan kemudian kata-kata pedas itu meluncur begitu saja. "Jika kau mengkhawatirkan kewarasanku, maka bersyukurlah karena aku sudah kembali waras."

Shikamaru dan Naruto saling melempar tatapan, dan secara serempak menghela napas putus asa.

"Baik, terserah kau. Tapi kau tidak akan turun―" ucap Shikamaru, namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, ia sudah dipotong mentah-mentah oleh Sasuke.

"Aku akan ikut turun langsung operasi ini. Tidak ada bantahan Shikamaru." Sasuke membalikkan tubuhnya dan menatap para agen yang masih dalam posisi berdiri. "Agen Konohamaru!" panggilnya lantang.

"Ya, Sir."

"Hubungi markas pusat dan perintahkan semua personel untuk melacak semua alat transportasi seperti ucapanku tadi."

"Baik."

Baru saja akan membalikkan tubuhnya, Konohamaru terpaksa harus terhenti saat mendengar atasannya membuka suara.

"Jalur penerbangan harus menjadi prioritas utama," saran Shikamaru. "Di antara semua kemungkinan, jika Hozuki Suigetsu menculik Sakura, dia pasti sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk membawa Sakura keluar dari negara ini."

Setelah yakin tidak ada perintah lagi untuk dirinya, Konohamaru segera memacu dirinya pergi ke markas pusat dan menyampaikan semua perintah yang diberikan padanya.

Shikamaru segera mengambil alih rapat kembali. "Sembari menunggu hasil laporan dari markas pusat, kalian, para agen, untuk berlatih dan mengasah kemampuan kalian lagi. Saya akan memerintahkan Tomatsu untuk membuka ruang bawah tanah. Satu hal yang harus kalian tanamkan saat menjalankan operasi ini nanti: Saya sudah siap mati. Karena yang akan dihadapi kali ini, bukanlah penjahat biasa. Namun ...,"

"... penjahat gila dengan tingkat kewarasan sama dengan nol," sambung Naruto.

"Rapat selesai. Bubar!"

oOo

Sakura memandang datar ke luar jendela. Ini sudah memasuki hari kelimanya ia diculik, tapi masih belum ada tanda-tanda suaminya akan datang menolongnya. Tiba-tiba wanita itu tersenyum sinis, mengejek dirinya sendiri yang masih mengharapkan Uchiha Sasuke. Jika memang pria itu peduli padanya, pengkhianatan dalam sebuah pernikahan pasti tidak akan terjadi di antara mereka.

Tapi, lagi-lagi hati kecilnya menyahut. Apa benar Sasuke mengkhianatinya?

Sasuke memang pernah menceritakan sedikit masa lalunya antara ia, Naruto dan juga Ino. Tentang bagaimana mereka semua bertahan hidup dalam cengkraman pria gila bernama Senju Tobirama saat di Sendai.

Tapi, tak pernah sekalipun Sasuke menyinggung tentang ia dipaksa berhubungan seks dengan Ino, hingga ia mengetahui dari sebuah surat jika Sasuke kemungkinan besar adalah ayah biologis dari anak yang Ino lahirkan. Ia sangat kecewa. Persetan dengan anak itu! Sakura sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia hanya tak habis pikir kenapa Sasuke menyembunyikan semua itu darinya. Bukankah jika sudah diikat dalam sebuah janji suci pernikahan, semua rahasia harus diungkapkan? Tidak boleh ada yang ditutupi lagi, bukan?

Air mata kembali menetes. Tanpa sadar telapak tangan wanita itu kini telah mengelus lembut permukaan perutnya yang masih datar. Tidak menyangka jika janin yang dikandungnya ini hadir tepat saat masalah besar melanda pernikahannya.

Suara pintu yang terbuka membuat Sakura sadar dan kembali ke realita. Disekanya air mata yang jatuh dengan punggung tangannya, ia kemudian membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang baru saja memasuki kamar ini. Seorang wanita cantik berparas eropa sedang memandang bingung dirinya dengan nampan berisi makanan dikedua tangannya.

"Oh, ternyata kau Suzette," kata Sakura dalam bahasa inggris. Ia mencoba memasang senyum tipis, agar tidak ketahuan jika dirinya baru saja menangis.

Gadis bernama Suzette itu balas tersenyum. Ia melangkah mendekati Sakura, setelah sebelumnya menutup pintu kamar ini. "Ya, aku membawakan kudapan untukmu," sahutnya dengan aksen Prancis yang kental.

"Terima kasih." Sakura mengambil nampan yang di bawa oleh Suzette dan menaruhnya di atas nakas. "Omong-omong, beberapa hari Mr. Hozuki sama sekali tidak kelihatan. Dia ... dimana?"

Suzette langsung menampakkan wajah terkejutnya. "Kau mencarinya?"

"Bukan. Tidak seperti itu. Aku hanya bertanya saja. Aku merasa rencana kematianku semakin matang jika aku tidak melihatnya," jelas Sakura, sambil sesekali mengibaskan tangannya.

"Hmm, begitu." Suzette mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. "Aku juga tidak tahu kemana perginya Mr. Hozuki."

Bertepatan dengan selesainya ucapan Suzette, pintu kamar lagi-lagi menjeblak terbuka. Seorang pria dengan rambut peraknya melenggang santai memasuki kamar dan tak lupa senyum ramah yang tepatri di wajahnya, yang entah kenapa selalu membuat Sakura merinding.

"Sedang membicarakanku, nona-nona?"

Mereka langsung terdiam. Suzette merasakan tatapan Hozuki yang mengarah padanya, ia cukup mengerti apa maksud tatapan itu. Tanpa babibu ia langsung melesat keluar, meninggalkan Sakura dan tuannya berdua di dalam kamar yang luas tersebut.

Masih dengan senyuman ramahnya, Hozuki mendekati single sofa yang di letakkan tepat di bawah jendela dan mendudukkan dirinya di sana. Ia menatap Sakura yang kini menundukkan wajahnya dan tidak bergerak sama sekali.

"Segera santap kudapanmu, setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan sore di sekitar kediaman ini."

Tanpa bantahan, wanita berusia pertengahan tiga puluhan itu mengambil nampan yang tadi ia letakkan di nakas dan memakan makanan yang tersedia. Beberapa menit kemudian, setelah habis menyantap semua kudapan yang terhidang, Sakura menegak susu cokelat hingga tak bersisa.

Hozuki yang masih menatap Sakura dari sisi kanan kamar tersebut hanya tersenyum puas. Ia lalu bangkit dan berjalan mendekati Sakura.

"Siap untuk melakukan tour bersamaku, Nyonya Uchiha?"

Sakura mengangguk gugup. Ia berjalan mengekori Hozuki, yang demi apapun baru kali ini ia keluar dari kamar itu, dan seketika mulutnya menganga melihat betapa banyak pria-pria berbadan kekar membawa senjata yang di tempatkan di hampir semua sudut kediaman ini. Suigetsu memanggil tiga pengawal untuk mengikuti mereka.

Pria dengan senyum misterius itu menuntun Sakura keluar ke arah lorong, menyusuri koridor panjang, dan menuju langsung ke tangga yang mengarah ke lantai dasar dari tempat yang sepertinya merupakan mansion besar.

"Ada sepuluh kamar tidur di rumah seluas seribu seratus meter persegi lebih ini, satu dari sekian banyak rumah di seluruh dunia yang dimiliki oleh atasanku," ujar Sui kepada Sakura saat membimbingnya melewati ruang depan dengan lantai marmer, memasuki ruang tamu besar, kemudian ruang makan yang dapat dengan mudah menampung belasan orang, lalu keluar menuju area serambi serta kolam renang yang bisa ia lihat dari kamarnya di lantai atas.

"Kau boleh menggunakan kolam renang sesukamu atau kau bisa berjemur di salah satu kursi santai. Karena berhubung kau tidak boleh meninggalkan mansion ini meskipun hanya ke pantai yang jaraknya tak lebih dari seratus meter." Suigetsu melemparkan pandangannya ke payudara Sakura yang sedikit menyembul karena dress yang dipakainya saat ini seperti sengaja disempitkan di bagian dada. "Aku sangat yakin kalau kulit cantikmu akan berubah kecokelatan dengan indah.

Suigetsu mencoba menggodanya, berpura-pura menjadi tuan rumah yang ramah seolah Sakura bersedia menjadi tamu di sana, dan untuk suatu alasan Sui mengulur-ulur waktu. Sakura menduga kalau Suigetsu dengan sengaja menenangkannya agar kewaspadaannya berkurang. Kalau memang benar, hanya ada satu alasan untuk itu―Suigetsu ingin agar apa pun yang terjadi setelah ini membuat Sakura kaget, mungkin mengejutkannya atau bahkan membuatnya ketakutan setengah mati.

oOo

Sore itu di markas pusat, saat semuanya sedang sibuk mengumpulkan hasil laporan dari melacak alat transportasi yang dalam kurun waktu empat hari terakhir meninggalkan negara Jepang, satu pesan masuk ke dalam komputer utama markas pusat Uchiha Agency. Sebuah pesan yang dilindungi oleh semacam kode. Tak ingin membuat kesalahan, agen yang menerima pesan tersebut langsung menghubungi Nara Shikamaru.

"Ada apa?" tanya Shikamaru disusul oleh Naruto, dan Gaara di belakangnya.

"Ada satu pesan yang masuk ke dalam komputer utama, Sir. Karena dilindungi oleh kode, saya tidak berani untuk membukanya. Saya rasa, pesan tersebut sangat penting."

Shikamaru mengangguk. Ia berjalan menuju komputer utama tersebut dan memeriksa pesan masuk itu. Tahu jika ini adalah bagiannya, untuk memecahkan kode-kode, Gaara mendekati Shikamaru dan langsung mengambil alih.

Kode terpecahkan. Tidak ada pesan apa pun di dalamnya, hanya memuat dua fota yang menampilkan seorang ... Uchiha Sakura! Semua sontak membelalak terkejut.

"Apa yang sedang terjadi di situ?" tanya Sasuke yang kini sudah muncul beberapa meter tak jauh dari mereka.

Shikamaru menutup matanya sejenak kemudian meletakkannya di bahu Naruto. Gaara memutar kursinya dan berdiri di samping kiri Naruto. Melihat ketiga pria itu hanya berdiri mematung, membuat kerutan di dahi Sasuke semakin dalam. Ia mendekati mereka, dan menatap langsung ke layar komputer utama markas pusat tersebut.

"Uchiha Agency baru saja menerima konfirmasi bahwa Sakura masih hidup."

Rahang Uchiha Sasuke mengeras. Itu memang benar Uchiha Sakura, istrinya. Berbaring di tengah-tengah ranjang besar yang dilapisi seprai sutra. Sakura tertidur pulas. Dan ia juga telanjang bulat seperti ketika ia baru lahir. Foto satunya menampilkan Sakura yang memakai dress musim panas berlengan tali berwarna merah sedang duduk di atas sebuah tempat tidur besar. Ia tampak pasrah, dan bingung.

Kedua bola mata Sasuke yang melihat foto itu seakan memanas, kepalan tangannya kini sudah terkepal sempurna, siap meluncurkan tinjunya ke komputer itu hanya jika ia tidak menangkap sesuatu dari foto tersebut. Sasuke melonggarkan kepalannya, dan mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas foto tersebut.

Naruto, Shikamaru dan Gaara yang sudah siap dengan ledakan amarah Sasuke, mengernyitkan dahi masing-masing kala dilihatnya Uchiha Sasuke malah semakin mendekatkan wajah ke layar komputer tersebut. Lalu, seruan tiba-tiba seketika mengagetkan tak hanya Naruto, Gaara dan Shikamaru, tapi semua agen yang berada di ruangan di markas pusat tersebut.

"Laut! Mereka lewat jalan laut! Segera fokuskan pelacakan pada kapal atau apa pun jenisnya yang meninggalkan pelabuhan empat hari terakhir ke arah barat! CEPAT!"

Butuh waktu lima detik, hingga semua orang sadar dan segera kembali pada kesibukan masing-masing, namun dengan kasus yang berbeda kali ini. Dalam hati masing-masing agen telah tertanam, mereka pasti berhasil menyelamatkan Uchiha Sakura, bagaimana pun caranya.

.

oOo

.

Ketika Suigetsu membuka pintu ganda di ruang depan, pintu yang mengarah ke luar ke bagian depan mansion, Sakura menahan napas. Apakah ada cara baginya untuk kabur? Jawabannya: sama sekali tidak. Penjagaan di luar lebih ketat di banding di dalam. Bisa di bayangkan, kediaman ini sudah terkepung. Jika ia nekat kabur, mungkin baru satu langkah yang ia ambil, ia sudah tewas tertembus peluru.

Saat Sakura berhenti sejenak di beranda yang luas, Suigetsu berjalan mendahuluinya, menuruni tiga anak tangga yang mengarah ke halaman kemudian berbalik seraya mengulurkan tangan.

"Kemarilah, Sakura. Banyak hal menarik yang bisa kau lihat sebelum senja."

Dan apa yang akan terjadi setelah senja?

Sakura ingat saat Sasuke pernah menceritakan tentang perburuan Senju Tobirama yang selalu berakhir di penghujung hari. Jika tidak ada mangsa yang terbunuh sebelumnya, salah seorang mangsa yang terluka dalam perburuan itu dipilih untuk dibunuh saat senja.

Ketika Sakura tampak ragu, Sui mengerutkan dahi. "Aku lebih suka jika aku tidak perlu memaksamu. Tapi kalau diperlukan, itu akan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi kita berdua."

Mengingatkan dirinya bahwa sesuatu yang jauh lebih berharga ketimbang nyawanya berada dalam bahaya, Sakura menuruni tangga dan dengan cepat berjalan ke sisi Suigetsu. Pria itu tersenyum.

"Bagus. Aku harus akui kalau kepatuhanmu membuatku terkejut. Aku mengira kau akan memberikan lebih banyak perlawanan daripada ini."

"Jangan anggap kesediaan sebagai kelemahan," ucap Sakura datar.

Suigetsu mengangkat satu alisnya dan menatap Sakura. "Aku mengerti. Sekarang, ikutlah denganku. Aku akan menunjukkanmu di mana ternak berharga disimpan sebelum kita bergabung dengan yang lainnya dalam perburuan hari ini."

Suigetsu membawa Sakura menjauhi rumah dan menyusuri lintasan dari batu bata yang berliku-liku. Di sepanjang jalan, Suigetsu menyenandungkan nada yang terdengar merdu. Sebuah bangunan yang samar-samar menyerupai paviliun ruang terbuka berdiri di atas bukit tidak jauh dari situ.

Menyiapkan diri secara mental dan emosional untuk menghadapi apa pun yang akan ia lihat nanti, Sakura tidak melambatkan sedikitpun langkahnya saat mengikuti Hozuki Suigetsu menaiki anak tangga yang tertanam di lereng bukit, yang membawa mereka jauh ke sebuah bangunan besar beratap jerami. Sakura ingin berhenti, berbalik, dan berlari secepat yang ia bisa. Namun ia tidak lari.

Lakukan apa yang harus kau lakukan. Kuatkan dirimu. Jangan tunjukkan kelemahan sedikit pun.

Saat mereka mendekati pondok besar beralas tanah itu, Sakura menyadari beberapa penjaga bersenjata berpatroli di area itu. Suigetsu membimbingnya dari satu kurungan kayu besar ke kurungan berikutnya, empat kurungan pertama kosong.

"Empat orang ini berpartisipasi dalam perburuan hari ini," jelas Hozuki. "Hari ini pesertanya sedikit, hanya tujuh orang pemburu."

Sakura berhenti dan memandangi kurungan yang kosong. Suaminya dulu pernah hidup di dalam kurungan, sama seperti orang-orang ini.

"Ayo. Aku akan menunjukkan padamu dua orang bajingan beruntung yang tidak terpilih dalam petualangan hari ini."

Dua kurungan sisanya ditempati oleh pria-pria muda, keduanya tampak kotor dan berjanggut, rambut mereka menjuntai hingga menyentuh bahu, baju dan celana mereka compang-camping. Sakura memaksa dirinya untuk melihat mereka, benar-benar memandang mereka, dan mengingatkan dirinya bahwa seperti inilah keadaan Sasuke di Sendai.

Satu pemuda berbaring di lantai tanah, tubuhnya yang kurus kering meringkuk seperti janin, matanya tertutup, rintihan pelan keluar dari mulutnya. Pemuda lainnya mengenakan sepasang besi pemberat di kakinya dan borgol di pergelangan tangannya, keduanya saling terhubung umtuk membatasi pergerakannya. Ketika Sakura berhenti di depan kurungan, pemuda itu menatap tajam ke arahnya.

"Datang untuk memberi makan binatang-binatang?" tanya pemuda itu sinis.

Pertanyaan pemuda itu mengejutkannya. Sakura tanpa sadar mundur satu langkah.

Tubuh pemuda itu tinggi dan tampak masih agak berotot, walaupun tampak sangat kurus. Pipinya melesak ke dalam dan Sakura bisa menghitung jumlah tulang rusuknya. Namun ada api di mata hazel-nya, kobaran yang lahir dari amarah dan kebencian serta tekad untuk bertahan hidup. Sakura sangat mengenal tatapan itu.

"Aku berada di sini di luar kehendakku," ujar Sakura kepada pemuda itu.

"Kalau begitu semoga Tuhan menolongmu."

ooo

Selagi Suigetsu mengawal Sakura dari paviliun yang menampung pria-pria yang dikurung dalam kandang, Sakura melirik melalui bahunya dan melakukan kontak mata dengan tahanan yang dibelenggu. Meskipun keadaannya tidak menguntungkan, ia tetap berontak dan bertekad, tidak seperti teman sesama tahanannya yang menyerah pada keputusasaan. Sakura merasakan bahwa pria muda yang dibelenggu itu memiliki jiwa pantang menyerah yang sama yang telah membuat Sasuke bertahan hidup di Sendai.

"Apa kau memikirkan suamimu?" Pertanyaan Suigetsu yang tiba-tiba membuat Sakura terkejut.

"Ya," jawabnya. "Aku memikirkan tentang bagaimana dia membunuh Senju Tobirama dan para pengawal yang bekerja untuknya."

Sakura menatap Suigetsu dan tersenyum.

Tanpa diduga, Suigetsu mencengkeram lengan Sakura erat dan membawanya menuruni bukit. Sakura mengira jika ia akan dibawa kembali oleh pria itu ke penjara mewahnya di dalam mansion. Tapi, ia salah. Alih-alih, Suigetsu membimbingnya menjauhi mansion menyusuri jalur berliku melewati areal kebun yang ditumbuhi pepohonan lebat. Beberapa menit kemudian mereka keluar dari perkebunan dan Sakura bisa melihat apa yang ada di depannya―sekelompok pemburu, mengenakan pakaian kamuflase dan senapan yang terikat di punggung mereka, berdiri melingkari sesuatu yang terkapar di tanah.

Perut Sakura menegang.

"Jika tidak ada satu pun pemburu yang berhasil membunuh mangsanya dalam perburuan sebenarnya, salah satu orang akan dipilih untuk dieksekusi di pengujung hari, biasanya orang yang terluka parah saat perburuan atau siapa pun yang paling mudah ditangkap. Di akhir setiap perburuan, satu orang akan mati saat senja."

Kata-kata Sasuke tiba-tiba terngiang, memperingatkannya tentang apa, dari semua kemungkinan, yang akan segera terjadi.

"Biasanya, Senju mengadakan setidaknya sepuluh perburuan dalam setahun. Hal itu memaksanya untuk terus mendapatkan mangsa baru. Dia membayar mahal untuk pria muda dalam kondisi prima dari seluruh dunia, dan jika mereka ahli dalam suatu hal, itu akan membuat mereka semakin diincar."

"Tuan-tuan," seru Suigetsu kepada para pemburu, "Mr. Senju telah mengundang tamu yang sangat istimewa untuk bergabung dengan kalian semua sore ini."

Sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi ketika para pemburu melirik ke arahnya, Sakura mengamati wajah mereka saat pandangannya bergerak dari satu pemburu ke yang lainnya. Tujuh pria yang usianya berkisar dari tiga puluhan sampai lima puluhan, tiga orang Asia, dua Kaukasoid, dan dua lagi kulit hitam, mengamati Sakura dari kepala hingga ujung kaki, sepertinya senang dengan apa yang mereka lihat.

"Ini Sakura." Suigetsu mendorongnya ke depan menuju lingkaran.

Sakura berdiri tegap, setiap otot ditubuhnya menegang, sarafnya bergetar, bahunya mengeras, dan tekadnya tetap tak tergoyahkan.

Para pemburu menyingkir sedikit, namun cukup bagi Sakura untuk dapat melongok ke dalam lingkaran. Ia tercekat saat melihat seorang pria berlumuran darah yang terkapar di tanah di dekat kaki mereka. Sepertinya pria itu ditembak lebih dari sekali, mungkin di tengah perburuan hari ini, dan kehilangan banyak darah.

Salah satu pemburu, yang paling muda dari empat orang kulit putih, mengangkat kakinya dan menendang pria yang sekarat itu, dan ketika pria itu merintih kesakitan, si pemburu menendangnya lagi dan lagi.

"Penawaran dimulai di angka dua puluh ribu," ujar sebuah suara yang entah dari mana asalanya.

Sementara para pemburu meneriakkan tawaran mereka, seorang pria kecil yang mengenakan setelan hitam muncul dan mengawasi pelelangan tersebut. Ketika semua selesai menawar, seorang pria berusia akhir tiga puluhan berambut hitam kecokelatan mengalahkan yang lainnya dengan menawar satu juta yen untuk hadiahnya.

Sakura tidak yakin apa hadiah yang mereka perebutkan atau apakah ia juga termasuk ke dalam hadiahnya.

"Senju menggunakan kami semua sebagai mangsa dalam perburuan," kata Sasuke kepadanya. "Pria-pria yang lebih muda dan tampan, sebagian masih anak-anak, selalu digunakan untuk kegiatan seks. Dan beberapa dari mereka, biasanya yang lebih besar dan kuat, digunakan oleh mereka yang mendapatkan kepuasan dari penyiksaan fisik. Senju menyediakan jasa apa pun yang diinginkan para tamunya, baik di Sendai ataupun di estatnya yang tersebar di seluruh dunia. Pria, wanita, dan anak-anak. Dia tidak ambil pusing tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang diculiknya. Dia sama sekali tidak peduli selama mereka bisa menghasilkan uang untuknya.'

Senju yang asli mungkin sudah mati, namun pria yang mewarisi namanya ini tampaknya menapaki jalan yang sama dengannya.

Menguatkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya, Sakura menyaksikan dengan ketakutan saat dua penjaga menyeret pria yang sekarat itu menyusuri tanah ke arah pohon terdekat. Tidak mampu berdiri sendiri, pria itu tumbang dan berkat reaksi cepat kedua penjaga, pemuda itu terhindar dari jatuh dengan wajah menghantam tanah.

Selagi salah satu penjaga menyandarkan pria itu ke pohon, penjaga yang satunya melingkarkan tali di sekeliling tubuhnya, mengikatnya dengan kencang. Kemudian Mr. Rambut Cokelat menggenggam senapan kaliber besar dengan tangannya yang dilapisi sarung tangan, membidik ke arah target, lalu menembak beberapa kali, secara efektif membuat lubang besar di dada korban.

Empedu serasa naik dari perut Sakura, membakar esofagus dan tenggorokannya. Rasa mual mengancam kendali dirinya yang sekuat baja.

Jangan muntah. Sial, jangan menunjukkan tanda-tanda kelemahan sedikit pun!

Sakura menghirup napas dalam-dalam lewat hidungnya, berusaha menekan rasa mual yang semakin hebat. Sakura mengira usahanya berhasil.

Sampai ...

Sambil tersenyum dengan bangga, Mr. Rambut Cokelat menggantungkan senapannya di bahu dan berjalan menuju mayat pria yang terikat ke pohon. Penjaga lain, yang tidak Sakura lihat sebelumnya, maju dan menyerahkan benda bersarung kulit yang kira-kira panjangnya setengah meter kepada si pemenang. Sakura ingin menoleh, namun ia memaksa dirinya untuk menyaksikan saat Mr. Rambut Cokelat mengeluarkan sebuah golok besar, panjang bilah antikaratnya setidaknya tiga puluh sentimeter.

Kemudian Sakura menutup mata dan berdora.

"Buka matamu, Sakura," bisik Suigetsu di telinganya, mulut Sui begitu dekat hingga napas hangat pria itu terasa di samping lehernya. "Pria itu ingin kau melihatnya."

Siapa sebenarnya si "pria" ini? Mr. Rambut Cokelat? Si Senju palsu? Atau Iblis?

Ayunan golok pertama memotong tali yang mengikat mayat itu ke pohon. Tubuhnya yang termutilasi merosot dan jatuh ke depan, luka menganga yang ada di apa yang tersisa dari punggungnya jelas terlihat. Kemudian Mr. Rambut Cokelat mengangkat golok dan dengan satu ayunan kuat, memenggal kepala mayat itu.

Sorak-sorai perayaan dari para pemburu yang tampak gembira menggema di telinga Sakura. Merasa tidak kuat lagi, ia menoleh dan muntah. Sebelum Sakura berhasil mengendalikan diri, Mr. Rambut Cokelat, masih menggenggam golok berlumuran darah di tangan kanannya, mencengkeram lengan Sakura dengan tangan kirinya lalu menarik Sakura hingga menempel ke dadanya yang berkeringat. Mata birunya yang liar menatap Sakura tajam selagi ia melemparkan goloknya ke bawah, bilahnya menembus tanah yang lembut, sebelum ia melingkari leher Sakura dengan kedua tangannya dan menempelkan bibirnya yang basah ke bibir Sakura.

"Ya Tuhan, apa lagi sekarang?" jerit Sakura dalam hati.

.

.

TBC


AN/:

Halo, akhirnya aku bisa nongol juga ya hehe.

Nah, jika kalian menemukan kesalahan, baik typo, eyd atau apa pun itu, kasih tau ya! Aku nggak kuat lagi untuk edit :(

Special Thank's to :

mantika mochi, ChintyaMalfoy (makasih banyak :D), FiaaATiasrizqi, suket alang-alang, Y O G, noname (wah sorry yah kelamaan updatenya), hanazono yuri, mira cahaya1, Cherry Philein (Iya kak, senengnya ada yang ngertiin xD), Haruka Smile, Mademoisellenna, prince ice cheery, Little Deer Chanie94, Tsurugi De Lelouch (kayanya chap ini belum terjawab kak :( ), kim la so (iya, Sui diam-diam mengerikan hoho xD), sasusakulover47 (semoga ya :))

Makasih untuk yang sudah fave/foll dan review. Seneng banget kalo dapet tanggapan positif. Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya.

Ditunggu tanggapan untuk chapter ini,

Salam, Asterella Roxanne. 04 Januari 2015.

P.S: kalo nggak ada halangan, chapter depan Sasuke bakalan ketemu Sakura loh xD