Author's Note : Yap, saya langsung update ketika melihat fic ini sudah ada di page 2. Beribu terimakasih buat yang sudah mereview, fav dan follow #membungkuk_dengan_hormat. Tapi mohon diingat, ya ; sekali lagi M4dG4rl tekankan bahwa fic ini tidak ada hubungannya dengan ep.18 musim 3 yang akan datang. Jadi jangan heran/marah/kesal kalau fic ini berbeda 100% dengan aslinya.
.
.
.
Perpisahan yang Pahit
Chapter 4 : Rescue
Disclaimer : BoBoiBoy punya Animonsta
Warning : some typos, agak terburu-buru, eyd kacau, dialog bahasa Indonesia
Don't like, don't read
.
.
.
Gopal berlari sambil tergopoh-gopoh melalui koridor sekolahnya. Bukan karena terlambat melainkan ada hal penting yang harus dia kabarkan pada teman-temannya. Saat ia mencapai pintu kelas, ia berhenti sambil terengah-engah mengatur napasnya.
Beruntung sekali Ying dan Yaya sudah ada di dalam kelas sedang mengobrol tentang sesuatu. Wajah keduanya tampak serius.
"Ying. Yaya!" ia berseru memanggil mereka. Langkahnya terseok-seok mendekati kedua teman perempuannya itu.
"Gopal?!" Yaya terkejut.
Gopal dapat merasakan dadanya naik turun dengan cepat. Belum pernah ia sepanik dan berlari secepat ini sebelumnya. "Hei … " ia memulai berbicara dengan rangkaian kata yang terputus-putus. "Ochobot …" ia menarik napas panjang, kemudian berbicara dengan cepat dan cemas. "Ochobot menghilang!"
"Kami sudah tahu itu." kata Yaya tak kalah cemas.
"Hah? Darimana kau tahu?"
"Tok Aba yang cerita. Semalam dia telepon ke rumah aku. Katanya Ochobot belum pulang sejak kemarin sore."
"Waduh?" Gopal memegang kepalanya. "Kalau Ochobot benar-benar menghilang bagaimana nih?"
"Tenang, Gopal. Ochobot pasti ada di suatu tempat."
"Iya tuh." Ying membenarkan. "Lagi pula dia kan bola kuasa. Pasti Ochobot bisa melindungi dirinya sendiri."
"Apa iya?" Tanya Gopal, agak menantang. "Kalau dia diculik oleh orang jahat yang menginginkan kuasa bagaimana?"
"Hm, sebenarnya itu juga yang aku khawatirkan." Yaya tampak berpikir. "Kira-kira dimana Ochobot sekarang, ya?"
"Mungkin dia nyusul BoBoiBoy ke KL?" Tebak Ying.
"Tak mungkin," Yaya menyangkal. "Kalau memang seperti itu, seharusnya BoBoiBoy sudah menelpon Tok Aba, kan?"
"Eh, apa Tok Aba tidak cerita ke BoBoiBoy kalau Ochobot menghilang?" Gopal bertanya lagi.
"Tak. Tok Aba juga melarang kita cerita ke BoBoiBoy."
"Lho, mana bisa seperti itu. Ochobot kan sudah seperti adiknya sendiri. Harusnya dia dikasih tahu, kan."
"Tok Aba takut BoBoiBoy malah jadi khawatir disana."
"Hmm," Gopal tampak berpikir. Namun tiba-tiba matanya menatap kearah Fang yang sebenarnya dari tadi sudah duduk tenang tak bersuara di bangkunya. "Fang sudah tahu belum?" bisiknya.
"Sudah," jawab Yaya dengan ekspresi malas. "Tapi dia kayak orang yang tidak peduli. Kami ajak diskusi dia malah cuma diam."
Ying teringat sesuatu. "Eh, Gopal. Kau sudah bicara dengan Fang belum kemarin?"
Gopal menggeleng. "Belum. Kemarin dia ngusir aku dengan genderuwo bayang nya." Anak itu memperagakan bentuk makhluk jadi-jadian itu dengan ahli.
"Masa?"
"Iya." Gopal mengatakannya sambil menggerutu. "Kesal aku dibuatnya. Mau diajak ngomong baik-baik, dia nya malah keras kepala."
"Hmph, gimana jadinya, ya?" Yaya mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja, berpikir keras.
"Tak ada cara lain, kan. Kita harus cari Ochobot sepulang sekolah nanti." Saran Ying.
"Cari kemana? Kau kira Pulau Rintis ini kecil." Tanya Gopal.
"Cari ke seluruh tempat, lah."
"Ngomong memang mudah." Gopal menunjuk kearah Ying. "Kau bisa lari cepat," jari telunjukkan berpindah ke Yaya. "Kau bisa terbang. Nah, aku bisa apa? Masa harus keliling Pulau Rintis sambil jalan kaki."
"Alah … tak apalah. Sekalian olahraga biar agak kurus."
Gopal memegangi perutnya yang memang paling besar diantara semua teman sekelasnya dengan murung. "Mm, tapi habis tu kau traktir aku di kedai Tok Aba, ya."
Ying mendesah. "Iya, iya." Apapun deh asalkan Gopal tidak banyak protes.
.
Diam-diam, Fang mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun mulutnya diam, namun telinganya masih mendengarkan. Tak ada yang tahu bagaimana perasaannya ketika pertamakali Ying dan Yaya memberitahunya bahwa Ochobot menghilang. Ia memang sangat pintar ber-akting dengan cara menyembunyikan sikap gelisah dan menggantinya dengan wajah yang datar dan cuek.
Otaknya terus berpikir kemana kira-kira robot yang hilang itu berada. Dan kecurigaannya mengarah pada Adu Du. Bukankah dulu alien berkepala kotak itu pernah memperalatnya untuk mendapatkan Ochobot? Sekarang makhluk asing aneh itu sudah kembali menjadi jahat dan sangat memungkinkan dialah tersangka utama dalam kasus ini.
Fang mengepalkan tinjuannya dengan kuat, menggertakan gigi-geliginya sambil marah. "Alien sialan," hardiknya dalam hati. "Awas saja kalau dia sampai berani melukai Ochobot."
Ia sengaja tidak mau membagi pemikirannya pada Ying, Yaya dan Gopal. Ia sendiri kurang yakin apa sebabnya ia menjauhi mereka. Apakah karena BoBoiBoy sudah tidak disini lagi membuatnya merasa tak ada lagi alasan yang mengikat persahabatan dengan mereka?
Walau bagaimanapun, ia tetap memiliki ikatan dengan Ochobot yang sudah memberinya kuasa.
"Tenang," Fang berusaha menghibur dirinya sendiri. "Adu Du tidak akan pernah bisa melakukan apapun dengan Ochobot selama ia tidak memiliki bubuk cokelat kaleng Tok Aba."
~Perpisahan yang Pahit~
Ying berlari kencang mengitari Pulau Rintis tiga kali dengan kuasa manipulasi waktu. Yaya terbang mencari melalui udara dengan kuasa gravity sedangkan Gopal benar-benar terpaksa berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit mencari Ochobot. Namun hingga pukul 5 sore, robot itu masih belum ditemukan.
Gopal berjalan lunglai menuju kedai Tok Aba, dimana dua teman perempuannya sudah menunggu.
Tak kuat berjalan, Gopal membiarkan tubuhnya terjatuh terlentang diatas tanah. Yaya langsung menghampirinya dengan cemas. Tentu saja bukan untuk bertanya
"Gopal, kau baik-baik saja?"
Melainkan
"Gopal, bagaimana? Ochobot sudah ketemu?"
Anak gendut itu tidak langsung segera menjawab. Nafasnya masih memburu.
"Hm, tidak ketemu, ya?" gumam Yaya menjawab pertanyaan nya sendiri.
Tok Aba mendekati Gopal dengan secangkir hot chocolate ditangan. "Kasian. Nah, kau minum dulu ini."
Gopal duduk dan langsung menghabiskan isi cangkir itu dalam sekali teguk. "Wuah, aku merasa bertenaga lagi sekarang. Terimakasih ya, Tok Aba."
"Sama-sama."
"Oh, ya. Tok Aba, minuman tadi gratis, kan?"
Kakek itu mendesah dengan malas. "Hmm, boleh lah. Hitung-hitung ini upah kau karena sudah berusaha mencari Ochobot."
Wajah Gopal yang tadinya tampak lesu seperti kekurangan gizi kini menjadi ceria.
"Kira-kira dimana Ochobot sekarang, ya?" kata Yaya. "kita sudah cari kesemua tempat tapi tak ketemu."
"Tok Aba, Ochobot sebelumnya pernah menghilang juga tidak?" Tanya Ying.
"Hm, rasanya pernah," jawab Tok Aba. "Waktu itu sebelum BoBoiBoy pindah sekolah disini, Ochobot pernah menghilang sehari. Tapi paginya dia langsung pulang. Sejak itu dia jadi sering pingsan."
"Aha, aku tahu dimana Ochobot sekarang!" Gopal berseru sambil menghantam meja kedai dengan keras.
"Hah? Kau tahu? Dimana?" Tanya Yaya.
"Markas Kotak."
"Markas Kota? Maksudnya Adu Du yang tangkap Ochobot."
"Pasti lah." Gopal mengatakannya dengan penuh keyakinan. "Kan Tok Aba tadi bilang Ochobot pernah menghilang sebelum dia sering pingsan."
"Oh, aku tahu," Yaya tampak bersemangat mengetahui maksud dari perkataan Gopal. "Adu Du kan pernah tangkap Ochobot. Jadi kemungkinan dia sudah berhasil menangkap Ochobot lagi."
Ying membunyikan jari-jemarinya seperti orang yang siap meninju. "Dasar alien kepala kotak." Ia menjadi geram. "Mau cari masalah dengan kita."
"Ya sudah. Ayo kita langsung ke Markas nya Adu Du." Ajak Yaya, tak kalah kesal dengan Ying. "Aku sudah tak sabar mau kasih pelajaran ke dia."
"Sekarang? Alaah, nanti dulu lah," Gopal keberatan. "Aku kan baru istirahat. Tunggulah lima menit lagi."
"Haduh, Gopal. Kita tak punya waktu banyak." kata Ying, menunjukan jam tangannya. "Bisa-bisa Adu Du sudah mendapatkan kuasa dari Ochobot kalau kita terlambat."
"Sudah, pergilah sana Gopal," Tok Aba menepuk bahunya. "Kalau kau pergi sekarang, besok Atok kasih kau dua cangkir special hot chocolate kesukaan kau gratis."
"HAH?! Yang bener, Tok? Janji ya?"
"Haah… janji."
"Yay!" Gopal kembali bersemangat. "Eh, tapi," wajahnya menjadi sedikit ragu. "Tok Aba tidak ikut kami?"
"Kenapa harus ikut? Kalian bertiga kan sudah cukup untuk menghabisi si Adu Du itu. Lagi pula Atok kan sudah tua." Ia merenggangkan tubuhnya, menghasilkan suara retakan sendi. "Nanti malah menghambat kerja kalian."
"Huh. Alasan."
"Eh, apa tadi kau bilang?!" ekspresi lembut Tok Aba berganti menjadi tersinggung.
"Eh, tak ada, Atok. Ampun." Gopal tertawa memalukan. "Ya, sudah kami pergi dulu ya, Tok. Bye."
Tok Aba memerhatikan tiga teman cucunya itu pergi. Sambil membereskan kedai, ia berharap mereka berhasil menemukan Ochobot. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bilang apa ke BoBoiBoy nanti.
~Perpisahan yang Pahit~
Di markas kotak, Ochobot sudah berhenti menangis. Kedua tangan robotnya dalam posisi terikat sehingga ia tak dapat bergerak kemanapun, persis sama seperti kejadian waktu itu, ketika Adu Du mengunakan Fang untuk menangkapnya. Awalnya, ia takut Adu Du akan memasukkan bubuk cokelat Tok Aba dan memaksanya untuk memberikan kuasa. Beruntung sekali alien itu sudah kehabisan stok cokelat Tok Aba. Sebenarnya, Probe sudah ditugaskan untuk mencuri satu kaleng cokelat kemarin.
Tapi—
"Tak guna!" Adu Du melempar kaleng bubuk cokelat kosong ke Probe. "Aku suruh kau curi kaleng koko yang masih ada isinya, bukan yang sudah habis."
"Huhu… maaf, Incik bos." robot tempur itu terisak-isak. "Mana ku tahu kalau kaleng itu ternyata kosong."
"Grrr… padahal aku sudah mendapatkan bola kuasa, tapi kau sudah mengacaukan rencana aku!" mata Adu Du berapi-api. "Sekarang kau pergi lagi ke kedai Tok Aba dan curi satu kaleng koko yang ada isinya."
"Tapi, sekarang sudah jam 5, Incik Bos. Kedainya sudah tutup."
"Aku tak peduli mau tutup atau buka. Pokoknya kau harus dapatkan koko Tok Aba sekarang juga."
Probe menyedot ingus. "Tega sekali Incik Bos, nih." Padahal dulu bos nya sangat sayang padanya setelah ia berhasil diperbaiki.
Ochobot hanya bisa memperhatikan. Ia sedikit merasa kasihan pada robot ungu itu. Tapi hanya sebatas kasihan karena bagaimanapun juga, Probe tetaplah bukan kawannya.
Adu Du menatap tajam ke Ochobot, membuat robot kuning kecil itu bergidik. Mudah-mudahan Probe tidak akan mendapatkan koko Tok Aba.
Robot tempur itu baru saja akan membuka pintu ketika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu itu dengan keras.
"Eh, Incik Bos. Ada tamu nih."
"Tamu? Buka pintunya sekarang!" perintah Adu Du. "Siapa juga sih yang datang sore-sore begini."
Si robot tempur menuruti perintah tuannya dan membuka pintu. "Alamak!" ia begitu terkejut mengetahui siapa yang berkunjung.
Ying, Yaya dan Gopal sudah berdiri diambang pintu dengan senyuman yang menantang.
"Uh, oh … maaf kami sedang tidak menerima tamu. Besok saja datang lagi. Daah …" Kata Probe dengan cepat. Ia akan menutup pintu kembali, namun ketiga anak itu langsung menerobos masuk.
"Hah?!" Adu Du terbelalak, kaget. "Kalian rupanya."
"Woi, alien kepala kotak. Mana Ochobot sekarang!" Ying menuntutnya.
"Gopal. Ying. Yaya." Ochobot memanggil teman-temannya dengan senang.
"Eh, itu Ochobot." Yaya menunjuki si bola kuasa yang sedang terikat di salah satu titik ruangan.
Gopal maju kedepan dengan gaya yang berani, mirip seperti ketika ia tertembak pistol emosi Y. "Hei, Alien Durjana. Lepaskan Ochobot sekarang juga. Kalau tidak—"
"Oh, kalau tidak apa?" Adu Du tampak tidak takut dengan ancaman.
"Kalau tidak – erm –" Gopal menoleh kearah kedua temannya, ragu. "Eh, kalau tidak apa ya?"
GUBRAK!
Ying dan Yaya langsung ambruk kecewa. Dasar Gopal. Padahal sikapnya tadi mengancam Adu Du sudah cukup keren.
"Oh, ya. Aku ingat," kata Gopal kemudian. "Kalau tidak, kami semua akan serang kalian."
"Oh, begitu ya," Adu Du memainkan jemarinya sambil tersenyum. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Serang lah."
"Oh, kau berani rupanya. Ying, Yaya," ia memberi isyarat pada rekan-rekannya. "Bersedia menyerang!"
Ketiga anak itu sudah siap memasang kuda-kuda.
"Eh, tunggu dulu," Adu Du menghentikan mereka. "Sebelum kalian lawan aku, aku minta kalian lawan dulu anak buah ku."
"Anak buah kau?" Gopal mengejeknya. "Mana?"
"Ini dia. BoBoiBot, keluarlah!"
Entah dari mana munculnya, BoBoiBot langsung meloncat dan tiba-tiba saja sudah mendarat di depan ketiga anak itu.
"Kau." Tunjuk Gopal. "Gara-gara kau, kawan baik aku sekarang pulang ke KL."
"BoBoiBot," Adu Du mulai memberi perintah. "Habisi mereka."
Si android langsung merespon. "Arahan diterima." Ia menganalisis tubuh ketiga lawannya, memprediksi gerakan serta titik kelemahan masing-masing. "Siap menyerang."
Ying dan Yaya mundur perlahan. BoBoiboy, orang yang paling kuat diantara mereka, sendiri kalah telak melawan robot itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang hanya mengandalkan kuasa gravity dan manipulasi masa?
BoBoiBot meloncat tinggi ketas. "Keris petir." dua benda berbentuk petir segera tercipta di tangannya. Ia melempar senjata-senjata itu kearah Gopal.
Gopal membuka kedua lengannya. "Tukaran makanan!"
Kedua keris petir itu berubah menjadi roti-roti dengan panjang yang sama sebelum mengenai Gopal.
"Segitu kemampuan kau." Kata Gopal dengan sombong sambil memungut roti-roti itu.
BoBoiBot mendarat lagi. "BoBoiBot gempa!" ia berubah dan langsung meninju lantai tanah dengan kedua tangannya. "Tanah tinggi." Gopal segera terlempar ke belakang ketika sebuah permukaan tanah yang meninggi muncul keluar seperti per di kakinya.
"Gopal!" teriak Yaya, kemudian beralih ke sang android. "Grr, berani kau!" ia terbang kearah BoBoiBot sambil mengarahkan sebuah tinjuan.
"BoBoiBot halilintar!" robot itu berubah lagi. "Gerakan kilat!" dengan cepat, BoBoiBot menghindari tinjuan Yaya. Seperti slow motion, ia sudah berpindah ke belakang gadis berkerudung itu. "Pedang halilintar." Sebuah benda panjang berwarna merah dan berarus listrik muncul di tangannya. Ia mengayunkan pedang halilintar kearah targetnya.
"Yaya!" Ying menjerit ketika melihat Yaya terkena serangan itu. Untungnya Yaya bukan orang biasa yang pasti akan langsung sekarat atau mati jika terkena serangan seperti tadi.
Yaya tersungkur diatas tanah. Sebagian bajunya gosong. Dia masih hidup, tentu saja, namun tidak terlalu kuat untuk menyerang lagi.
"Tinggal kau sekarang." Kata BoBoiBot sambil menunjuk Ying.
"Hei. Aku masih ada nih." Protes Gopal yang merasa terabaikan. Ia memang sempat terkena serangan dari BoBoiBot gempa tapi itu belum cukup untuk melemahkannya.
"Pedang halilintar!" pedang halilintar muncul lagi ditangannya, dua pedang kali ini. "Kiyah!" android itu melemparnya ke atas. "BoBoiBot taufan." Ia berubah menjadi pengendali angin taufan dan menciptakan angin yang sangat kencang. Angin itu membawa dua pedang halilintar yang dilemparnya tadi kearah dua lawannya dengan laju yang bahkan lebih cepat daripada kecepatan lari Ying.
"Kuasa perlambat masa!" Ying menggunakan kuasanya. Segera saja, gerakan angin taufan dan kedua pedang halilintar serta semua yang ada di markas kotak itu bergerak sangat, sangat lambat. Ying menggeser tubuh Gopal agar tidak terkena senjata yang sedang dilempar itu.
"Haachiiim." Beberapa partikel debu yang terbawa angin tanpa sengaja terhirup olehnya sehingga bersin. Pengaruh perlambatan masanya langsung menghilang sebelum ia sempat menyelamatkan dirinya maupun Gopal.
"Arghh!" Ying dan Gopal harus menerima betapa besar kejutan listrik yang dihasilkan dari dua pedang halilintar itu. Dalam waktu 5 detik, keduanya langsung tersungkur seperti Yaya.
"Muahaha…." Adu Du tertawa. "Kau kira kau bisa mengalahkan aku dengan mudah? Jangan harap. Aku sudah ada BoBoiBot, robot tempur terbaik yang lebih hebat dari kalian semua."
Ying mengangkat wajahnya dengan pelan. Ia menatap Ochobot yang sedang terikat tadi dengan kemampuan melihat yang mulai agak kabur.
.
Tapi bola kuasa itu sudah tidak ada disana lagi.
.
"Incik bos!" Panggil Probe cepat. "Bola kuasa itu sudah menghilang!"
"Apa?!" Adu Du menoleh ketempat dimana ia mengikat Ochobot tadi. Benar saja, robot itu sudah menghilang. "Grr… kemana dia pergi? Kau tidak jaga dia, ya?" ia menyalahkan Probe.
"Eh, Incik bos kan tidak menyuruhku menjaga dia."
"Ugh!" Adu Du naik darah. "dia pasti belum jauh dari sini. Kau cari bola kuasa itu sekarang juga sampai dapat."
"Lah, bukannya Incik Bos tadi nyuruh aku mencuri koko Tok Aba?"
"Cari keduanya sampai dapat! Tangkap bola kuasa itu dan curi koko Tok Aba!"
"Er, uhm, baik Incik Bos." Probe melayang dan keluar dari markas kotak, tidak berani membuat majikannya bertambah marah.
~Perpisahan yang Pahit~
Fang melesat kabur dengan cepat, secepat gerakan bayang sambil menggendong Ochobot ditangannya. Mereka melewati beberapa gang-gang tanpa henti hingga sampai di mansion tua tempat markas Fang.
Anak berkacamata itu mengatur napasnya sambil merosot didepan pintu. "Kita … kita selamat." Desahnya. "Kau tak apa-apa, Ochobot?"
"Kalau aku sih tak apa-apa." Jawab si robot, melepaskan diri dari tangan Fang.
"Baguslah."
"Tapi … kenapa kau Cuma selamatkan aku? Ying, Yaya dan Gopal bagaimana?"
"Entahlah. Mungkin sekarang mereka sudah menjadi sandera Adu Du?"
"Hah? Terus kenapa kau tidak selamatkan mereka juga tadi?"
"Hei, mana bisa aku melawan robot Adu Du sendirian!" jawab Fang. "Mereka bertiga saja kalah, apalagi aku. Waktu itu harimau bayangku berhasil dikalahkannya hanya menggunakan keris petir, kau tahu."
"Oh, robot itu sangat kuat, ya?" Tanya Ochobot.
"Sepertinya iya. Dia mengusai semua kuasa BoBoiBoy. Tapi robot itu sudah diprogram untuk jauh lebih kuat daripada dia."
"Kalau begitu, bagaimana cara kita selamatkan Ying, Yaya dan Gopal?"
Fang mengangkat bahu. "Tak tahu lah. Yang pasti aku tak bisa melawan robot itu sendirian."
"Hm, kalau begitu, kita harus cari ide lain untuk menyelamatkan mereka."
"Mustahil rasanya kalau robot itu bisa dihancurkan," Fang memberitahunya. "Kita Cuma butuh tenaga tambahan untuk menyelamatkan mereka."
"Hah? Kau mau mengeluarkan naga bayang?" Ochobot Nampak tak percaya.
"Aku tidak minta energy tambahan darimu," koreksi Fang. "Aku Cuma bilang kita butuh tenaga tambahan, semacam bantuan."
"Bantuan apa?"
"Haah… kau ini. Ya bantuan dari BoBoiBoy, lah."
"Eit. Tapi bagaimana? BoBoiBoy kan sudah tidak disini lagi?"
Fang memandangi jam tangannya. "Kita bisa memanggilnya lewat jam ini kan?"
"Tak bisa." Kata Ochobot dengan wajah kecewa. "KL terlalu jauh dari sini. Sinyalnya tak sampai."
"Begitu ya. Hm," Fang mondar-mandir.
"Tapi, kita bisa menelpon BoBoiBoy, kan." Saran Ochobot. "Tok Aba tahu nomornya."
"Kita tak bisa ke rumah Tok Aba sekarang. Adu Du pasti sudah sadar kau menghilang. Mungkin sekarang dia kirim Probe malam ini buat cari kau."
"Yahh… terus kita harus bagaimana lagi?" Ochobot tampak kelelahan. Ia melayang rendah di kaki Fang seakan-akan tidak kuat untuk melayang lagi.
"Tidak apa." Fang menghiburnya. "Besok pagi kita langsung ke tempat Tok Aba dan telepon BoBoiBoy." Anak itu membuka pintu. "Untuk sementara malam ini kita tidur disini dulu."
"Eh, tempat apa ini?" untuk pertama kalinya, Ochobot memandangi mansion tua itu. "Seram nya. Tak ada orang di dalam ya?"
"Tak ada. Tempat ini sudah jadi markas aku. Aku sering main kesini sepulang sekolah."
Memang benar Ochobot hanyalah sebuah robot, tapi ia dapat merasakan perasaan manusia, termasuk rasa takut saat memasuki rumah itu.
"Tak apa, Ochobot." Fang menyadari tubuh robot itu yang sedikit bergetar karena merinding. "Kan ada aku disini."
Robot itu merapatkan tubuhnya pada Fang. Setidaknya, anak lelaki itu pasti akan melindunginya sampai BoBoiBoy kembali.
~Perpisahan yang Pahit~
Paginya, sebelum pukul 5 subuh, Fang dan Ochobot sudah bangun. Mereka memutuskan untuk cepat-cepat meninggalkan mansion itu dan melanjutkan ke rumah Tok Aba setelah yakin bahwa Probe tidak mungkin mencari Ochobot berkeliling ke segala tempat sampai subuh.
Untungnya hari itu adalah hari Minggu. Jadi Fang tidak perlu ke sekolah. Ia sudah bertekad hari ini juga harus memberitahu BoBoiBoy tentang apa yang sudah terjadi pada teman-temannya. Dan ia tahu BoBoiBoy pasti akan mengorbakan apa saja untuk menyelamatkan hidup mereka.
.
Tok Aba sedang menyiapkan kedainya seorang diri ketika Fang dan Ochobot datang.
"Atok!" panggil Ochobot dengan senang sambil menghampiri orang yang ia panggil.
Tok Aba tersenyum mengetahui kembalinya Ochobot. "Kemana saja kau. Atok sampai khawatir."
"Maaf, Tok," Ochobot menundukkan kepalanya tanda menyesal. "Ochobot sudah berbohong kemarin. Sebenarnya, Ochobot tidak pergi ke taman. Adu Du kemarin tipu aku dan menyamar jadi BoBoiBoy. Dia suruh aku datang ke stasiun sendirian. Sudah itu, aku ditangkap."
"Sudah, tak apalah." Tok Aba mengelus kepala robot itu. "Yang penting kau selamat. Eh, mana yang lain?"
"Mereka masih di Markas Adu Du." Jawab Fang.
"Iya, Tok." Ochobot membenarkan dengan nada suara yang serius. "Ying, Yaya sama Gopal sekarang lagi disandera disana. Kita harus cepat-cepat tolong mereka."
"Cuma BoBoiBoy yang bisa selamatkan mereka." tambah Fang.
"Tapi, BoBoiBoy tidak ada disini"
"Itu dia, Tok. Kita harus cepat-cepat hubungi BoBoiBoy dan minta dia pulang lagi ke Pulau Rintis."
"Hmm," Tok Aba melirik telepon kedainya. "Ya, sudah. Atok akan coba."
Tok Aba meraih gagang telepon dan menekan beberapa tombol. Ochobot dan Fang menunggu dengan harap-harap cemas.
.
Satu menit berlalu.
.
Tok Aba masih menempelkan gagang telepon ke telinganya, menunggu jawaban dari seberang.
.
Fang mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar. 'Ayo, BoBoiBoy,' batinnya. 'Kenapa kau tidak angkat teleponnya?' anak itu menatap jam. Pukul 06.30. dasar! Apa dia belum bangun?'
Pip
Akhirnya, diangkat juga.
"Ha! BoBoiBoy? Ini Atok. Kenapa suara kau lemas? Kau baru bangun, ya?"
Fang tidak tahu apa yang dikatakan BoBoiBoy ditelepon, jadi ia hanya bisa menduganya dari apa yang diucapkan Tok Aba.
"Ah, dasar malas. Mentang-mentang hari Minggu kau jadi bangun siang. Haha… bagaimana kabar kau disana? Ayah dan ibu kau juga? Oh, kalau Atok sehat-sehat saja. Sekolah kau? Dapat banyak kawan, kan? Terus—"
Ck. Fang mendecakkan lidah dengan kesal. Ayolah, keadaan sedang darurat. Mereka sedang dikejar waktu dan Tok Aba malah dengan santai mengobrol dengan cucunya.
"Tok Aba." Panggil Fang, matanya mengisyaratkan agar si kakek itu segera mengatakan apa tujuan awal mereka menelpon.
"Oh, iya. BoBoiBoy, Atok ada berita gawat. Adu Du sudah menangkap kawan-kawan kau."
.
Hening. Fang menebak BoBoiBoy sedang syok.
.
"Serius. Atok tak bohong." Si pemilik kedai melirik kearah Fang sebentar. "Mereka sedang berusaha menyelamatkan Ochobot kemarin. Tidak. Fang selamat. Dia yang selamatkan Ochobot."
.
Hening lagi. Sepertinya BoBoiBoy sedang melamun, kalau tidak berbicara panjang lebar.
.
"Tapi dia butuh bantuan kau." Lanjut Tok Aba sambil memindahkan gagang telepon ke telinga lainnya.
.
Hening lagi untuk yang ketiga kalinya.
.
Kesabaran Fang hampir habis. Ingin sekali ia berbicara langsung dengan BoBoiBoy di telepon itu. Tapi sejak pertengkaran mereka, ia masih merasa sedikit gengsi untuk melakukan itu.
Ochobot mempelajari perubahan ekspresi Tok Aba. Pertama, keningnya mengkerut. Kedua, matanya membesar seakan terkejut. Ketiga, sebuah anggukan pelan dan diakhiri dengan raut wajah kekecewaan.
"Bagaimana, Tok? BoBoiBoy akan pulang?" Ochobot langsung bertanya tidak sabar setelah Tok Aba meletakkan telepon ke tempatnya semula.
Tok Aba menggeleng. "Tidak. Katanya dia sudah tidak punya kemampuan buat melawan robotnya si Adu Du itu."
"Argh!" Fang mengeram, memukul meja. "Kenapa sih dia tuh. Makin lama makin payah saja. Dengan kawan sendiri pun sudah tidak peduli lagi."
"Enak saja. BoBoiBoy masih peduli lah dengan kawan-kawannya," Tok Aba terdengar seperti sedang membela cucunya. "Malah sempat shock tadi. Cuma hatinya saja yang lagi lemah. Sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertarung."
"Kalau seperti ini bisa gawat, Tok." Komentar Ochobot. "Siapa yang bisa menyelamatkan Ying, Yaya dan Gopal."
Tok Aba menunjuk Fang. "BoBoiBoy bilang tadi serahkan semuanya sama kau."
"Hah?! Apa?! Aku?!" Fang meletakkan sebelah tangannya di dada, menunjuk dirinya sendiri. "Mana bisa sendirian lawan robot itu."
"Habis tuh harus bagaimana lagi? BoBoiBoy sendiri kan tidak bisa menang lawan BoBoiBon."
"Namanya BoBoiBot." Koreksi Ochobot.
"Tok Aba ini, kok jadi tidak peduli dengan kawan-kawan kami."
"Eh, Atok peduli lah!" seru Tok Aba. "Tapi tidak terlalu khawatir seperti kau. Mereka juga pernah diculik sebelumnya oleh Adu Du. Tapi sudah itu mereka tetap selamat. Nah, kau minum dulu ini." Kakek itu meletakkan secangkir special hot chocolate di atas meja. "Kau belum makan apa-apa, kan?"
Fang menghirup minumannya sedikit. Memang benar apa yang dikatakan Tok Aba. Ying, Yaya dan Gopal bukanlah anak biasa yang akan menangis meminta tolong jika dijadikan sandera oleh alien jahat. Mereka memiliki kekuatan super, tidak mengenal rasa takut dan berani. Tanpa ditolong pun, mungkin mereka dapat melepaskan diri dari markas kotak itu.
Apakah karena itu BoBoiBoy dan Tok Aba tidak merasa khawatir?
Lupakah mereka bahwa Adu Du memiliki BoBoiBot?
"Tok Aba," Fang memanggilnya lagi setelah beberapa saat berpikir. "Boleh minta alamat rumah BoBoiBoy?"
"Huh? Untuk apa? Kau mau main ke sana?" Duga Tok Aba dengan asal.
"Iya." Jawab Fang dengan sungguh-sungguh. "Kalau dia tak mau datang juga, biar aku yang seret dia dari KL ke Pulau Rintis ini."
.
.
.
Author's Note : Wuaahh …. Akhirnya selesai juga chapter 4 ini. Sumpah, ini pertama kalinya saya menulis over 3,5k dalam satu bab #lempar_conveti. Sebenarnya sih pengen dibagi jadi dua bagian, tapi nanggung ah. Adegan pertarungannya saja terpaksa saya buat jadi singkat :3
Hei, kenapa Fang dan Ochobot mendominasi disini? (Masalah buat lho? #kena_bacok). Yah, tak apalah. Kan mereka juga tokoh utama dalam fic ini. Silahkan gunakan imajinasi masing-masing cara Fang menyusup ke markas kotak dan menyelamatkan Ochobot tanpa ketahuan oleh yang lainnya (nih author niat gak sih nulis fanfic?)
