A Memory of Hanami

"If broken is beautiful, we've never been lovelier"-J.L. Wyman

Pairing : Kaisoo (Jongin/Kyungsoo)


Chapter 3

Palatinate


Senja menyapa kala itu, menyampaikan duka, bahwa kau sang terkasih memilih memberi ku mawar berduri, dari pada 'kasih'

.

.

Sehun masih menunggu Kyungsoo yang sejak tadi tidak juga bersuara, bahkan tidak menoleh sedikitpun saat Sehun memanggilnya. Mereka baru saja sampai kantor, tapi Kyungsoo masih diam dan Sehun hanya memandangi keterdiaman Kyungsoo di sampingnya, pikirannya berkecamuk sejak tadi. Dia penasaran dengan pria tadi, lidahnya sudah sangat gatal ingin sekali menanyakannya pada Kyungsoo, tapi melihat keadaan Kyungsoo yang seperti mayat hidup lebih membuatnya khawatir. Lantas Sehun memberanikan diri menggenggam tangan Kyungsoo yang masih belum berhenti bergetar, meski tidak separah tadi, mengelus punggung tangannya seraya menenangkan, Kyungsoo menatap tangannya, tangan Sehun besar dan hangat, membuatnya sadar bahwa dia tidak sendiri, persetan dengan Kim Jongin, pria itu tidak berhak mengusik hidupnya lagi.

Kyungsoo mengangkat wajahnya dan membawa tatapannya pada Sehun, ada ketulusan yang terpancar disana, seolah mengatakan pada Kyungsoo bahwa dirinya bersedia melakukan apapun agar Kyungsoo bahagia. Kyungsoo membiarkan tangannya membelai lembut wajah Sehun, sangat terasa olehnya kasarnya bakal cambang Sehun ditangan, memperhatikan garis wajah pria itu, serta mata tajam tapi lembut secara bersamaan, lantas pikirannya kembali pada malam tadi, hal yang Sehun katakan setelah mereka bercinta. Kyungsoo bukan tidak tertarik dengan Sehun, pria itu sangat menarik tentu saja, selama Kyungsoo mengenal Sehun, pria itu tidak pernah sekalipun dengan sengaja menyakiti Kyungsoo, Sehun memperlakukan Kyungsoo sangat berharga –meski terkadang menyebalkan-, seolah Kyungsoo barang pecah belah yang tidak boleh tersenggol sedikitpun, harus dijaga dengan segenap jiwanya, bahkan tanpa sepengetahuan Kyungsoo, Sehun pernah berjanji didepan makam Ibu Kyungsoo bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Kyungsoo sendiri dan tersakiti, dia akan selalu menjaga dan melindungi wanita yang saat ini masih memandangi wajahnya.

"Sehun, kau sangat berharga untukku, kau tahu? Dan mau kah kau menciumku?"pintanya dengan suara yang tiba-tiba saja terdengar serak.

Sehun langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Kyungsoo, mengangkat Kyungsoo ke pangkuannya lalu lengannya membungkus tubuh wanita itu, menimangnya dengan begitu lembut seolah Kyungsoo akan hancur jika dia mendekapnya seerat yang dia inginkan. Kemudian dorongan gairah semakin mendesak keduanya dan lantas membuat Sehun memperdalam ciumannya, Kyungsoo mengangkat lengannya untuk dikalungkan ke leher Sehun, menikmati tiap hisapan dan jilatan yang dilakukan oleh bibir Sehun.

Kyungsoo terus mencium Sehun seolah itu ciuman terakhir mereka, tapi tiba-tiba sebuah getaran handphone di saku celana Sehun membuat mereka akhirnya memisahkan bibir mereka yang sama-sama terlihat bengkak dan basah, dengan nafas yang terengah, Sehun mengambil handphone nya dan melihat nama yang terpampang dilayar, lalu Sehun dengan segera menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Ibu nya.

"Ya Mom? Ada apa?" sapa Sehun paa ibu nya sambil tangannya membelai bibir bengkak Kyungsoo, dan Kyungsoo yang masih enggan beranjak pun akhirnya memilih merebahkan kepalanya di pundak Sehun, dan memeluk erat tubuh pria itu.

"Baiklah, nanti aku dan Kyungsoo akan segera kesana setelah pekerjaan kami selesai, aku tutup telponnya, love you Mom." Sehun meletakkan Handphone nya di dashboard mobilnya lalu memperhatikan Kyungsoo yang saat ini sedang menutup matanya.

"Mom menyuruh kita mampir, mom mengatakan ada yang ingin dia sampaikan pada kita berdua,"jelasnya pada Kyungsoo.

"Oke, kau tahu aku juga merindukan semuanya," Kyungsoo berubah ceria jika sudah menyangkut keluarga Sehun, mereka memang sangat dekat, bahkan Kyungsoo sudah dianggap sebagai bagian dari mereka. Kyungsoo kembali merebahkan kepalanya di bahu Sehun, wanita itu terlihat nyaman sekali dalam pelukan Sehun.

"Mau sampai kapan kita disini,hmm? Kalau sampai ada yang melihat kita yang sejak tadi belum juga turun mungkin seisi kantor akan heboh, aku tidak mau disidang karena disangka melakukan perbuatan asusila di tempat umum." Sejujurnya Sehun pun belum ingin beranjak, dirinya masih ingin seperti ini, kemudian tangan Sehun membelai lembut rambut Kyungsoo dan tangan satunya lagi mengusap punggung Kyungsoo seperti seorang ayah yang sedang meninabobokan anaknya.

"Kau membuat aku semakin malas keluar bos," Kyungsoo makin menenggelamkan wajahnya dileher Sehun, menggoda pria itu dengan terus memberikan kecupan ringan di leher Sehun.

Sehun mengerang merasakan belaian bibir Kyungsoo di leher nya,tapi dengan sangat terpaksa Sehun menjauhkan wajah wanita itu sebelum birahi nya muncul dan membuat mereka terjebak seharian di dalam mobil. Lalu tiba-tiba saja raut wajah Sehun berubah serius, menatap lekat Kyungsoo yang juga ikut menampilkan wajah seriusnya.

"Kyung, soal semalam jangan terlalu dipikirkan, aku tidak mau hal itu membuat mu tertekan dan akhirnya malah lari dari ku. Aku tidak tahu apa yang membuat ku mengatakan hal semacam itu, jadi lupakan saja, oke? Anggap saja semalam itu aku hanya terbawa suasana," Sehun merapikan rambut Kyungsoo yang kusut, memandang wanita cantik di depannya yang entah sejak kapan telah berhasil mengisi tempat special di hatinya. Dia laki-laki yang tidak percaya sebuah komitmen, menurutnya sebuah hubungan yang melibatkan ikatan hanya akan membelenggunya dan pada akhirnya akan menghancurkannya juga, seperti keluarganya. Kyungsoo tahu hal itu sejak awal, dan dia pun tidak keberatan menjalani itu semua, karena Kyungsoo pun punya pemikiran yang sama. Tapi tadi malam, Sehun tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba bicara seperti itu, tapi yang dia sadari adalah kenyataan bahwa hati nya semakin lama semakin berubah, terhadap Kyungsoo.

"Hei, jangan khawatirkan aku mengenai itu, aku tahu kau tidak seserius itu, dan ku jamin aku tidak akan lari dari mu,tenang saja." Kyungsoo mengedipkan matanya pada Sehun menggoda pria didepannya, mood nya sudah membaik berkat pria ini, Kyungsoo kembali ke kursinya dan membuka pintu mobil di sampingnya setelah sebelumnya memberikan kecupan singkat di bibir Sehun.

"Ya benar, inilah Oh Sehun, dengan segala kebodohannya," gumamnya pada diri sendiri sebelum ikut beranjak menyusul Kyungsoo yang sudah jalan terlebih dahulu.


Ditempat lain, dering alarm terdengar nyaring dipenjuru kamar, dan sebuah tangan terlihat menggapai-gapai mencari sumber suara yang mengusik pagi nya yang sudah tidak pagi lagi. Ketika tidak juga menemukan benda yang di cari nya, dengan terpaksa dia membuka mata dan mendudukan tubuhnya, dan ternyata benda yang dicari ada di bawah tempat tidur. Wanita itu, Baekhyun, melihat jam yang tertera di layar dan menunjukkan sudah pukul 11.00 siang, baru saja dirinya berniat untuk kembali tidur, tiba-tiba Baekhyun teringat bahwa dia berencana untuk mengunjungi kantor sahabatnya, Sehun, sekaligus mengajaknya makan siang, kemudian dia segera bangun dengan semangat penuh dan bergegas ke kamar mandi, saking semangatnya dia hampir saja jatuh karena tersandung kaki nya sendiri. Setelah satu jam mempersiapkan diri, kini Baekhyun sudah siap berangkat setelah memastikan pintu rumahnya terkunci sempurna. Baekhyun berjalan menuju garasi sambil merapihkan rambutnya yang belum sempat di sisir lalu mengikatnya, kini wanita itu sudah ada didalam mobilnya, dan sebelum berangkat dia berniat mengirim pesan pada Sehun untuk mengabarkan jika dia berencana pergi ke kantornya, tapi diurungkan karena sepertinya lebih mengasikkan melihat Sehun terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.

Baekhyun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia membuka kaca jendela mobilnya untuk menikmati pemandangan kota Seoul yang menurutnya sudah banyak sekali berubah, padahal dia pergi hanya 5 tahun, pikirnya. Baekhyun tiba dikantor Sehun dan setelah mendapatkan tempat parkir, Baekhyun bergegas keluar, dia sudah tidak sabar bertemu dengan sahabat kesayangannya itu. Baru saja Baekhyun masuk, dia melihat Sehun keluar dari pintu lift di ujung ruangan, Baekhyun dengan riang hendak berjalan kearah pria itu, lalu secara tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketika dilihatnya Sehun sedang tertawa bersama seorang wanita cantik yang belum pernah dilihatnya. Baekhyun mengernyit karena seingatnya Sehun jarang sekali tertawa, bahkan Baekhyun pernah berasumsi kalau Sehun sama sekali tidak tahu caranya tertawa, tapi melihat tawa Sehun seperti itu membuatnya bingung, siapa wanita itu yang sudah berhasil membuat pangeran es itu bisa tertawa. Baekhyun langsung berbalik dan kemudian pergi sebelum Sehun melihatnya, entah kenapa gagasan menemui Sehun ketika dilihatnya pria itu bersama wanita lain membuatnya tidak nyaman, pupus sudah harapannya bertemu Sehun hari ini, berniat memberi kejutan, justru malah dirinya yang terkejut lebih dulu. Dan Baekhyun memutuskan untuk pulang dan meneruskan tidurnya, dia sedang badmood sekali hari ini.

.

.

Jongin baru saja keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju ruangannya, setelah memberi perintah pada sekretasi nya bahwa dia tidak ingin ada yang mengganggunya, lantas Jongin masuk dan langsung mengunci pintu ruangannya. Tangannya melepaskan ikatan dasi yang terasa mencekik nya dan melemparkannya ke sofa, menggulung lengan baju nya hingga ke siku dan berjalan menuju meja kerjanya. Jongin mendudukan dirinya dikursi lantas membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah kalung yang pernah menjadi milik wanita itu. Sekelibat kenangan tentang nya pun muncul bagaikan air bah yang sanggup menenggelamkan Jongin dalam ingatan masa lalu.

"Bukankah aku ini perempuan yang beruntung, Jongin?" tanya Kyungsoo tiba-tiba yang membuat Jongin membuka matanya dan menatap Kyungsoo disampingnya. Hembusan angin menerbangkan helaian rambut Kyungsoo dan di hujani oleh kelopak sakura yang ikut beterbangan tertiup angin, pemandangan terindah yang membuat Jongin terpana. "Kenapa begitu?" tanya Jongin penasaran sambil tangannya menyelipkan anak rambut Kyungsoo ke belakang telinga gadisnya.

"Karena aku mencintamu dan kau mencintaiku," jawab Kyungsoo dengan senyum indahnya yang menawan. Jongin terkekeh mendengar jawaban Kyungsoo yang polos, "Kalau begitu aku juga sama beruntungnya, aku mencintaimu dan kau pun mencintaiku," balasnya yang membuat Kyungsoo bersemu. Lalu Jongin merebahkan kepalanya di pangkuan Kyungsoo, dan tangan Kyungsoo lantas membelai lembut helaian rambut Jongin. Jongin merasa hidupnya sangat sempurna saat ini, duduk dibawah rindangnya bunga sakura bersama gadisnya yang sangat dia cintai, semilir angin ikut menyempurnakan suasananya. Jongin sangat bersyukur untuk hidupnya dan berharap Tuhan tidak berniat mengambil nya. Lalu tangan Jongin mengambil sesuatu di saku celananya lantas menunjukkannya pada Kyungsoo. Sebuah kalung berbandul hiasan Bunga Dandelion didalam botol kaca, terlihat sangat indah. Jongin mendapatkannya dari mendiang Ibu nya, beliau berkata bahwa benda itu dipercaya membawa keberuntungan –percayalah, Jongin sama sekali tidak percaya mitos-, tapi mungkin karena itu Jongin memiliki Kyungsoo yang saat ini menjadi keberuntungannya. Jongin berniat memberikannya pada Kyungsoo, dia sudah memiliki Kyungsoo, tidak ada hal lain lagi yang dia inginkan.

Kyungsoo memekik senang melihatnya dan segera meraihnya dari tangan Jongin, "Astaga Jongin, ini indah sekali, dari mana kau dapatkan benda cantik ini?" Kyungsoo berbinar melihatnya, Jongin bangun dari tidurnya dan mengambil kalung itu di tangan Kyungsoo lantas memakaikannya di leher gadis itu. "Ini pemberian Ibu ku, beliau memberikannya saat aku hendak mengikuti lomba menari ketika aku berada di sekolah dasar, waktu itu aku gugup setengah mati dan berniat kabur ketika nama ku di panggil oleh pembawa acara agar aku bersiap-siap, lalu melihat aku yang panik dan gemetar, ibu mendatangiku dan memberikan kalung ini, beliau mengatakan jika aku memakai kalung ini maka aku akan menjadi juara nya, ibu bilang itu kalung keberuntungan, dan percaya atau tidak setelah aku pakai kalung itu, aku tidak lagi gugup dan mengikuti lomba itu dengan tenang, sampai akhirnya nama ku dipanggil sebagai salah satu peserta lomba yang mendapatkan juara, meski hanya juara ke 3," Jongin terkekeh mengenang masa lalu yang indah bersama Ibu nya dan Kyungsoo tersenyum penuh haru mendengar Jongin bercerita dengan penuh kerinduan. "Dan sekarang ini ku berikan untukmu, karena saat ini aku sudah memiliki mu sebagai keberuntunganku, sayang" lanjut Jongin sambil tangannya membelai pipi Kyungsoo penuh damba. Kyungsoo menangis terharu, bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan Jongin dihidupnya. "Aku mencintaimu," bisik Kyungsoo diantara semilir angin yang saling bersahutan seraya menyertakan doa agar mereka terus saling merengkuh.

Jarum jam terus berdetik menyadarkan Jongin dari ingatan masa lalunya, juga menyadarkan Jongin bahwa sudah banyak sekali waktu yang terlewat tanpa Kyungsoo di sampingnya, di hidupnya. Apakah dirinya masih mempunyai kesempatan untuk membawa Kyungsoo kembali dalam rengkuhannya?

.

.

To be continue

.

.

Happy weekend..Rin kembali.

Maaf kalau ceritanya ga sesuai harapan kalian, untuk itu jangan menyimpan harapan terlalu tinggi tentang ff ini, karena jujur aku nulis ini bukan buat cari review atau lainnya, aku cuma pengen nyalurin apa yang lagi aku senengin, aku lagi seneng nulis dan aku cinta Prince Kyungsoo makanya aku tumpahin semuanya lewat ff ini, dan karena aku orangnya moody jadi aku ga bisa janjiin buat update rutin. Tapi semua perhatian yang kalian kasih buat ff ini sangat aku hargai dan terima kasih buat itu semua.

Buat yang mau tanya2 soal alur cerita ini atau karakter2 nya atau apapun silahkan tanyakan lewat review, aku usahain akan aku balas di chapter depan.

Selamat menanti comeback uri Exo yang luarrrr biasa di tahun ini, tetep dukung mereka yaaaah.

Terima kasih, salam sayang buat para pembaca.

xoxo :*

Rin_