4. Can We Meet Again?
Saat sampai di tempat kerjanya, Baekhyun melihat Sulli sedang menulis sesuatu di sebuah kertas. Baekhyun masuk ke dalam toko tanpa dosa, tak pedulikan bahwa dia sudah telat satu jam! Kalau pemilik toko tahu, gajinya akan dipotong tiga puluh persen bulan ini. Tapi dia tetap menuju ke belakang meja etalase dengan riang. Sulli mengalihkan pandangannya menuju Baekhyun yang baru datang. Dia menopang dagu diatas meja etalase sambil memandangi gerak-gerik Baekhyun.
"Telat satu jam. Rajin sekali, kemana saja kau?" tanya Sulli menyelidik. Baekhyun berdiri di sebelah Sulli sambil ikut menopang dagu memandang balik temannya itu.
"Haruskah aku bilang padamu?"
"Kau terlihat berbeda. Apa kau sedang punya banyak uang?"
"Eum, ini bahkan lebih menyenangkan ketimbang memiliki sekotak berlian," jawab Baekhyun dengan senyum lebar.
"Omong-omong soal berlian, kemarin ada pelanggan yang membeli kalung berlian denganmu? Aku baru saja mengecek duplikat nota."
Mendengar itu, Baekhyun tersenyum penuh arti sesaat, kemudian mukanya memerah dan menunduk menyembunyikan senyumnya. Lagi-lagi wajah Chanyeol yang manis sedang bercanda dengan Dobi mampir di otaknya dan Baekhyun tak bisa menyembunyikan sudut bibirnya yang gatal ingin mengukir senyum.
Sulli diam sebentar kemudian tersenyum lebar, mulai mengerti. "Well, beberapa minggu yang lalu aku mendengar sendiri dari mulutmu kalau kau baru putus dengan pacarmu yang sombong itu dan trauma kencan dengan perempuan. Sekarang kau merona dan salah tingkah seperti gadis sekolah menengah yang sedang jatuh cinta. Oh—nama pelanggan yang tertulis di duplikat nota itu sepertinya nama lelaki," Sulli menjentikkan jari semangat. "...Byun Baekhyun katakan padaku kalau kau benar-benar—"
Baekhyun menggeram. "Lupakan, sepertinya toko mulai ramai," Baekhyun mengalihkan pembicaraan, Sulli mencibir, tapi dia masih yakin seratus persen kalau temannya itu sedang terpikat dengan seseorang.
"Omong-omong, kau tidak kuliah?" tanya Baekhyun.
"Bolos sehari tidak masalah, 'kan? Lagipula aku juga memiliki lumayan banyak tugas," Tangan Sulli menunjuk salah satu meja kayu yang ada disana, diatasnya ada beberapa tumpuk buku dan sebuah laptop, Baekhyun menganga lalu menghela nafas pasrah.
"Kalau kau mau mengerjakan tugas lebih baik pulang saja."
"Aku ingin menemanimu sampai jam sepuluh malam, oke?"
"Aku bosan melihat wajahmu."
"Kau pikir aku tidak?!"
Tak menjawab, Baekhyun memilih untuk melayani pelanggan yang baru saja datang. Tapi Sulli masih saja berkicau menggodanya sambil berbisik, "Mungkin saja pelanggan yang membuatmu jatuh hati itu akan datang lagi, aku penasaran dengan wajahnya."
Baekhyun diam, tidak menjawab lagi. Pipinya sudah sangat merah sehingga dia memilih menunduk sambil memulihkan detak jantungnya yang tak keruan setiap mengingat Park Chanyeol.
...
"Mungkin saja pelanggan yang membuatmu jatuh hati itu akan datang lagi..."
Seharusnya Sulli tidak berkata seperti itu karena sekarang sesosok tinggi yang sama seperti kemarin sambil menggiring anak anjingnya memasuki toko perhiasan di jam sepuluh malam itu muncul lagi. Entah mengapa Baekhyun tidak siap bertemu dengan Park Chanyeol, padahal tadi pagi mereka sudah janjian akan bertemu lagi besok. Mungkin perasaannya-lah yang membuatnya tidak siap. Ditambah lagi Sulli berdiri disana dan melihat Baekhyun dengan tatapan curiga karena wajah lelaki itu memerah bukan main ketika Chanyeol melambai kearahnya sambil tersenyum. Baekhyun mencoba mengalihkan pikirannya dengan cara menghampiri Dobi lalu berjongkok dan bercanda dengan anjing kecil itu. Chanyeol bukan datang hanya untuk menemuinya, 'kan?
Sulli menopang dagu menonton telenovela mengasyikkan didepannya ketika pelanggan tinggi itu ikut berjongkok di sebelah Baekhyun.
"Sepertinya besok kau tidak bisa bermain dengan Dobi lagi, malam ini aku harus kembali ke Seoul."
"Uh? Malam ini juga?" dan Baekhyun cukup terkejut.
Seketika dia berhenti bercanda dengan Dobi dan menatap nanar ke arah lantai.
"Ada panggilan mendadak dari kantor jadi aku harus pulang cepat. Puas-puaslah bermain dengan Dobi sekarang, aku mau memilih-milih dulu." Baekhyun mengangguk tapi matanya masih mengekor pada Chanyeol.
Park Chanyeol membeli perhiasan lagi? Apa untuk Dobi lagi? Sungguh beruntung sekali sekali menjadi Dobi, pikir Baekhyun.
Baekhyun duduk di lantai sambil memangku Dobi. Tidak akan ada pelanggan yang datang di jam sepuluh malam dan mendapati pegawai tokonya duduk di lantai sambil bermain dengan anak anjing, kecuali Park Chanyeol tentunya, satu-satunya pelanggan di jam malam seperti itu. Tapi sebenarnya bukan masalah jika dia tidak bisa bermain lagi dengan Dobi besok, toh Sulli terkadang membawa anjing peliharaannya saat bekerja, Baekhyun sering bermain dengan binatang itu. Namun yang terpenting, apakah dia bisa bertemu lagi dengan Chanyeol? Si pemilik anak anjing berkalungkan berlian ini? Tanpa sadar Baekhyun mengerucutkan bibirnya, galau.
"Tidak ada peraturan harus membayar cash di jam sepuluh malam, Tuan. Kau masih bisa menggunakan kartu kreditmu kapanpun di toko ini."
"Tapi—kemarin Baekhyun berkata harus bayar cash, dan aku membayar cash untuk sebuah kalung berlian."
"Oh?"
Baekhyun menahan tawa. Sulli juga.
"Ya ampun, temanku itu memang gila. Jadi apa kau mau mengambil cincin ini?"
Chanyeol mengangguk, "Yeah, aku tidak harus membayar cash, 'kan?"
"Tidak, tidak. Maaf jika kemarin temanku mengambil semua lembar uang yang ada di dompetmu."
Chanyeol menatap kesal ke arah Baekhyun tapi kemudian menyemburkan tawa kecil karena pegawai toko yang membohonginya untuk membayar cash itu hanya menyengir lebar.
Setelah selesai dengan barangnya, Chanyeol menghampiri Baekhyun dan Dobi. Baekhyun berdiri dari duduknya. Chanyeol memberikan senyum bersahabat pada Baekhyun yang malah dibalas dengan senyum salah tingkah. Baekhyun benar-benar kehilangan kesadaran.
"Sudah memberi salam perpisahan pada Dobi?"
"Yeah, dia akan merindukanku, pasti. Iya, 'kan?" Dia melirik Dobi yang sedang bergelayut di kakinya seperti saat pertama kali mereka akrab.
"Pernah kukatakan, Dobi tidak mudah akrab dengan orang asing. Tapi dia langsung bersahabat denganmu, itu berarti kau orang yang spesial untuknya."
"Tidak bisakah aku menjadi orang yang spesial untukmu?"
DOR! Byun Baekhyun, sudah waktunya bangun!
Baekhyun tertawa memaksa, "Ah, begitu ya? Omong-omong, kau membeli perhiasan untuk...Dobi lagi?"
"Oh ini," Chanyeol menunjuk kantong plastik kecil berisi kotak perhiasan di tangannya, dia menghela nafas. "sebenarnya aku agak iri dengan pernikahan temanku itu, mereka pasangan yang serasi dan terlihat sangat bahagia. Aku juga ingin merasakan rasanya mengikat janji di depan pastur seperti itu."
Dahi Baekhyun berkerut, dadanya berdegup cepat. Tiba-tiba ia mengkhawatirkan sesuatu yang akan keluar dari mulut Chanyeol.
"Maksudmu?"
"Eum, menurutmu apa berlebihan kalau melamar seorang perempuan dengan cincin berlian? Aku ingin secepatnya melamar kekasihku."
MELAMAR.
KEKASIHKU.
Seperti ada batu besar yang sedang menghimpit dada Baekhyun. Demi apapun, itu rasanya sangat menyesakkan.
Kalau Baekhyun sedang tidak jatuh hati pada lelaki di depannya ini, mungkin dia akan tersenyum lebar sambil menepuk lengan Chanyeol semangat lalu mengatakan "Hei dude! Yang kau beli adalah barang yang selalu diidam-idamkan perempuan. Aku yakin pacarmu itu akan menerimamu tanpa berpikir lagi. Kau menyogoknya dengan berlian, siapa yang tidak mau?!"
Tapi nyatanya Baekhyun hanya bisa diam sambil memandangi ujung sepatunya. Bergumul dengan pikirannya sendiri.
"Baek?"
"Eh?"
"Kau dengar aku?"
"Ya, ya. Kupikir...akan bagus sekali. Ya, bagus sekali. Begitulah." Dia tidak bisa mengontrol perkataannya. "eum, hari sudah semakin larut, bahaya menyetir terlalu malam. Jangan sampai mengantuk di jalan, Dobi bisa celaka."
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang. Senang mengenalmu, Baek. Kuharap kita bisa bertemu lagi."
Chanyeol menepuk pundak Baekhyun beberapa kali lalu memberinya pelukan seorang teman. Tapi Baekhyun tidak suka, terlanjur patah hati.
Matanya bahkan masih mengekor punggung Chanyeol saat lelaki itu telah berjalan keluar dari toko dan menatap mobilnya yang mulai menjauh perlahan-lahan. Apa cerita mereka hanya sampai disini?
"Apa-apaan itu?! Melamar kekasih dengan cincin berlian?! Keren!" Sulli memekik ketika Chanyeol sudah benar-benar pergi. Baekhyun duduk di kursi kayu yang ada di depan meja etalase, menyelonjorkan tangannya dan menumpukan dagu di atas meja itu.
"Bahkan aku tidak pernah menduga bahwa dia sudah punya kekasih!" Baekhyun ikut memekik, bibirnya mengerucut. Dia mengacak-acak rambutnya depresi.
"Ayolah, kalian terlalu instan untuk saling jatuh cinta. Dan ini bukanlah drama Korea dimana gadis miskin yang berakhir menikah dengan pria kaya. Byun Baekhyun, kau hanya butuh mencari satu yang lebih tepat."
Di tengah kegusarannya itu, ponsel di saku Baekhyun bergetar tanda ada pesan masuk. Dia menggeram, siapa orang yang mengiriminya pesan disaat perasaannya sedang gundah gulana seperti itu?
Dan ternyata Park Chanyeol orangnya.
Baekhyun melotot menatap ponselnya dan segera duduk tegak.
"Hotdog sebelum perjalanan pulang kupikir lumayan untuk mengisi perut. Tokomu sudah tutup di jam segini, 'kan? Apa kau tidak mau mampir ke taman kota? Aku dan Dobi sudah ada disini."
Baekhyun menganga lebar, Sulli penasaran dan melirik pesan dari Chanyeol itu. "Aku lupa kalau nomornya masih tersimpan manis di ponselku," ujar Baekhyun.
Dengan itu, Baekhyun segera menyambar jaketnya dan berlari keluar toko menuju taman kota. Seseorang memintanya kesana. Hanya untuk melihat wajah Park Chanyeol sekali saja dan Baekhyun tak akan menginginkan apapun lagi.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi."
Meski harapan seperti itu masih tetap ada.
-end-
a/n :
DOR! maaf kalo endingnya err...php? anggap aja surprise lah ya /maksa
thanks untuk semua yang udah review, fav, dan follow fic 4 chapter yang sangat abal ini
see ya!
