Kim Yugyeom tidak mengerti mengapa keadaan bisa menjadi seperti ini. Ia menghela napas berat dan menatap nampan makanannya dengan pandangan aneh sebelum akhirnya melempar pandang kepada teman-teman yang duduk satu meja dengannya.

Ada Jeon Jungkook—yang memang nampak sangat manis dan mempesona—sedang makan nasi kare dengan lahap sambil sesekali mengecek ponselnya. Lalu Kim Mingyu, mereka juga berada di kelas yang sama, duduk dan meminum susu pisang, membaca komik yang sengaja ia bawa dari rumah. Dan ada satu orang lagi, temannya dari masa sekolah menengah yang entah mengapa bisa duduk di sana tanpa diundang, Bambam.

"Jungkook, apa kau akan datang ke tempat Hosiki-hyung lagi nanti?" Bambam berseru senang, duduknya tanpa sengaja menjadi condong ke arah Jungkook dan hal itu segera menimbulkan kernyitan di kening Yugyeom.

Jungkook mengangkat kepalanya dan mengangguk-angguk dengan mulut masih mengunyah makanan. "Aku selalu datang di akhir pekan. Terkadang menggantikan Jiminie karena dia harus berkencan."

"Jimin-hyung pernah cerita padaku juga tentang pacarnya," Bambam menyahut santai, memang sebenarnya Jungkook dan Bambam bisa kenal karena seorang Park Jimin menjadi perantara, "Dia bilang pacarnya sangat romantis."

Jungkook mendengus, membayangkan Min Yoongi menjadi romantis adalah hal paling aneh baginya. Menurutnya Yoongi itu pelit, bahkan ketika Jungkook meminta ditraktir makanan enak ia langsung dibawa ke restoran Seokjin. Tahu saja kalau mereka tidak perlu membayar untuk makan di sana.

"Kalian bagaimana bisa kenal?" Yugyeom tiba-tiba menyela, tidak terima menjadi satu-satunya yang tidak tahu apa-apa di sana. Bahkan Mingyu sepertinya lebih tahu Jungkook ketimbang dirinya. Oh, baiklah, kenapa dia terdengar seperti sedang menyukai Jungkook sekarang?

"Kami?" Bambam membeo. "Aku dongsaeng kesayangan Hyung-nya!"

Jungkook hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa bantahan. "Hyung-ku, Park Jimin, dan Bambam ada di satu klub yang sama. Dan mereka ada di gedung fakultas sama juga. Lalu Jiminie membawa Bambam ke studio tempat dimana aku latihan. Dan ya, kami langsung mengenal."

"Aku bahkan butuh satu minggu untuk mendapat balasan atas sapaanku tiap pagi," gerung Yugyeom, "dan dirimu langsung akrab dengan si aneh ini!?"

Jungkook mengerjap. "Iyakah? Aku butuh satu minggu untuk itu?"

Yugyeom hanya bisa menghela napas jengah.

.

.

PAPILLON

.

Kim Taehyung & Jeon Jungkook

.

CHAPTER 3

.

Is it true? Is it true?
You, You
You're so beautiful, that I'm scared

- Butterfly –

.

.

"Wah, kamera baru, Kook?" Mingyu mengalungkan lengannya ke bahu Jungkook begitu ia melihat lelaki itu tengah duduk di taman sekitar kampus. Sibuk mengotak-atik kamera DSLR yang terlihat asing di mata Mingyu. "Whoa, kau masuk klub fotografi atau jurnalistik, Kook?"

Jungkook menatap Mingyu dengan tatapan aneh untuk beberapa detik, lalu ia kembali menoleh ke arah kameranya dan mulai memandangi hasil jepretannya barusan. Ia ada di taman kampus bukan tanpa alasan, ia berlatih memotret di sini. "Ya dan tidak," jawabnya singkat.

Mingyu mengambil duduk di sebelah Jungkook kemudian, matanya ikut memandang hasil foto Jungkook. Objek yang diambil Jungkook tidak lebih dari sekedar bunga, atau foto langit, siluet orang-orang lewat, tidak ada yang spesial.

"Bagaimana menurutmu? Apa foto-foto ini sudah bagus?" tanya Jungkook.

"Aku tidak tahu apa-apa soal foto. Mungkin kau bisa tanya ke sunbae tersayangmu itu. Taehyung-sunbae ada di klub fotografi, kan, sekarang?" saran Mingyu ringan. "Wah, di sana ada penjual es krim, Kook. Kau mau satu?"

Jungkook diam saja, dan Mingyu menganggap itu artinya iya. Lalu lelaki itu beranjak untuk pergi ke penjual es krim dengan begitu saja. Tidak menyadari raut wajah Jungkook yang sangat kacau karena penjelasannya.

Kim Taehyung.

Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan lelaki itu?

.

.

Jujur saja, pertama kali Kim Seokjin mendapati Jungkook merengek meminta dibelikan kamera, ia terkejut. Karena biasanya Jungkook tidak terlalu menuntut suatu barang apabila ia memang menginginkannya. Bahkan natal kemarin Seokjin yang harus sibuk menawarkan semua barang karena Jungkook berkata bahwa ia tidak perlu hadiah apa-apa untuk natal. Jadi, apa yang membuatnya sebegini tergila-gilanya dengan sebuah kamera?

"Dia kemarin berkata akan mengikuti klub melukis," Namjoon bergumam di sebelahnya, menggeleng pelan ketika menatap Jungkook yang sibuk mengotak-atik kamera barunya, "dan sekarang sudah ganti pendirian? Bagus sekali."

Seokjin hanya diam memandangi Jungkook yang akhirnya meletakkan kembali kameranya dan beranjak begitu saja ke dapur tanpa menoleh ke arah dia maupun Namjoon. "Aku sama sekali tidak paham dengan Jungkook, dia biasanya merengek seperti anak kecil. Kenapa dia berubah begini setelah jadi mahasiswa?" desah Seokjin. "Aku merindukan Jungkook yang imut."

Namjoon terkekeh pelan. Lelaki itu tahu benar bahwa Seokjin terbiasa merawat Jungkook sejak kecil. Sebagai sepupu yang baik hati, tentu saja. Ia bahkan menggendong dan menyuapinya—dan memandikannya, dulu. Pokoknya setiap ada acara kumpul keluarga, Jungkook lah yang pertama kali dicari Seokjin. Intinya, sayangnya Seokjin ke Jungkook itu sudah tidak bisa didefinisikan. Jadi, tidak heran apabila kini Seokjin sangat perhatian dengan detail-detail pada keseharian Jungkook.

"Kau akan ke tempat Hoseok lagi, Jungkook?" seru Seokjin, ia beranjak dari sofa, mengabaikan Namjoon yang merengut sebal karena merasa gagal cuddling, "Mau kubawakan makanan?"

Kepala Jungkook melongok dari arah dapur, di tangannya ada sebuah apel yang sudah digigit setengah. Ia mengunyah lembut dan menyahut, "Aku bawa apel saja, Hyung! Dan minuman isotonik."

Seokjin mendorong bahu Jungkook agar menyingkir dari pintu kulkas. Kemudian dikeluarkannya apel-apel yang dimaksud Jungkook. "Akan aku siapkan semuanya. Kau siapkan baju ganti dan peralatanmu yang lain saja."

Jungkook mengangguk-angguk. Tapi tak segera beranjak, malah disandarkannya tubuh itu di konter dapur.

"Ada apa, Kook?" tanya Seokjin, hapal benar kalau Jungkook ingin mengatakan sesuatu.

"Jimin-hyung menawariku ikut kompetisi menari di Busan. Tapi aku bukan anggota klub, dan dia bilang tidak apa-apa. Ini bukan membawa nama universitas, tapi kompetisi untuk publik. Menurut Hyung bagaimana?" jelas Jungkook.

"Kalau kau menikmati menari, ya, lakukan saja. Apa kau akan menari sendiri?"

"Bertiga."

"Oh—siapa saja?"

"Aku," Jungkook menjeda sebentar, "Jimin-hyung, dan Hoseok-hyung."

"Hoseok akan ikut?" Seokjin terkejut. Ia pikir Hoseok sudah berhenti untuk mengikuti lomba-lomba menari meskipun ia sangat suka, mungkin karena sekarang Hoseok berperan sebagai pendamping dan seorang guru, bukan remaja bebas yang mendedikasikan hidupnya pada seni tari. "Aku akan senang melihatnya ikut lomba lagi."

"Ya," Jungkook mengangguk, "Jimin-hyung sangat senang. Salah satu cita-citanya akan terkabul."

Seokjin memotong apel-apel yang tadi dibawanya, kemudian mengambil tempat makan kecil dari dalam lemari penyimpanan. "Kau harus berlatih keras, Kookie sayang. Jadi sekarang cepatlah bersiap-siap untuk latihan, oke?"

Jungkook mengangguk patuh, pada akhirnya ia beranjak dari sana dan meletakkan bangkai apel yang sudah ia habiskan itu di sebelah tangan Seokjin yang memegang pisau. Ia segera keluar dari dapur sebelum Seokjin menjerit marah karena menyuruhnya untuk membuang apel itu ke tempatnya.

.

.

Kim Taehyung tahu, ada lensa kamera yang terus menyorotnya ketika ia bergerak. Ia tahu, tapi diam saja. Mungkin memang ia salah memilih tempat, ini masih di wilayah kampus dan Taehyung sedang bermain-main dengan kameranya. Ia suka melihat langit dan matahari tenggelam, dan daripada menghabiskan waktu untuk mencari tempat dimana langit bisa nampak lebih indah, Taehyung memutuskan untuk mencari sudut yang bagus di taman kampus mereka.

Ia sudah mengambil puluhan gambar dan nampak tidak puas. Beberapa kali ia hapus gambar-gambar itu sebelum akhirnya menyerah dan duduk di salah satu bangku. Ia menatap kamera di tangannya dengan mata menyipit.

Kenapa semua ini terasa begitu salah?

Taehyung memutuskan untuk mencari hobi lain—selain melukis, tentu saja, karena memang ia sedang mencoba berlari. Dan fotografi menjadi pilihannya karena Park Bogum mengatakan bahw foto-foto yang diambilnya kemarin sangat bagus. Sesederhana itu. Taehyung tidak tahu apakah ia memang membutuhkan alasan yang lebih rumit lagi untuk menentukan sesuatu di hidupnya setelah ini.

Taehyung menengadahkan kepalanya, menatap langit yang kian berubah warna seraya berbisik, "Sampai kapan kau akan mengikutiku seperti ini, Jungkook-ah?"

.

.

Sekarang, Yugyeom, Mingyu, dan Bambam dibuat gemas. Pasalnya, Jeon Jungkook telak mengabaikan mereka dan memilih menggandeng pacar barunya kemana-mana. Sehari setelah Mingyu memergokinya sedang berduaan, Jungkook pun mengenalkannya pada yang lain dalam dialog singkat. Tidak berbelit dan tidak melebih-lebihkan, sehingga semuanya mengira kalau Jungkook tidak akan seserius ini.

Sumpah! Kenapa sih, si Jeon satu itu harus menggandeng kamera hitamnya itu kemana-mana!?

"Kau itu kenapa sih, Kook?" Bambam akhirnya menyerah. Ia menarik kamera itu menjauh ke ujung meja lainnya ketika mereka berempat kembali makan siang di kantin. Mereka itu sudah sangat jarang berkumpul berempat begini karena kesibukan yang berbeda, tapi kenapa sekalinya kumpul si Jungkook malah sibuk tersenyum sambil menatapi kameranya?

Jungkook merengut kesal, terlebih Yugyeom seakan-akan membantu Bambam dengan mematikan kameranya begitu saja. Ia hanya melakukan hobinya, apa yang salah dengan itu, sih?

"Kau melakukan ini sepanjang hari, Jungkook." Bambam mendengus, "Bahkan di tempat Hoseok-hyung kau juga membawa kameramu. Aku tidak tahu apa yang membuatmu sampai tergila-gila pada kamera, tapi bisakah kau mulai menghentikan hal itu?"

Jungkook mengerjapkan matanya sebelum akhirnya meringis lucu. "Maafkan aku…" gumamnya, "Aku hanya terlalu bersemangat dengan kamera itu."

"Ini sudah—tiga minggu?" Mingyu menyela dengan nada menghakimi yang tidak enak didengar, tapi tidak ada yang peduli karena memang apa yang dikatakannya benar, "dan kau masih belum selesai dengan antusiasmemu itu, Jeon Jungkook?"

Jungkook menggaruk belakang kepalanya. Telak tidak bisa menjawab apapun.

Tapi, kejadian di kantin itu pun nampaknya tak menyelesaikan apapun. Jungkook tetap memiliki dunianya sendiri dengan sang kamera, total abai dengan eksistensi lain yang ada di sekitarnya.

Jadi, Kim Yugyeom memilih untuk menyelidikinya sendiri. Mengikuti Jungkook selepas selesai kelas. Sedangkan Mingyu dan Bambam menyerah, mereka membiarkan Jungkook melakukan apa yang ia suka.

Yugyeom diam-diam membuntuti Jungkook yang terus melangkah menjauhi kampus. Awalnya, Yugyeom tidak ingin mencurigai apapun. Ia diam saja dan terus berjalan seakan tidak terjadi apa-apa.

Mereka berjalan cukup jauh, sampai akhirnya tiba di sungai Han. Keren sekali, bukan? Yugyeom merasa hebat karena nyatanya ia mampu melangkah sebegini jauhnya sampai ke sungai Han hanya demi memuaskan rasa penasarannya terhadap salah seorang teman sekelasnya.

Yugyeom berhenti melangkah ketika mendapati Jungkook mengeluarkan kamera dari tas kecilnya. Menyalakan benda itu dan mengarahkannya ke satu titik. Yugyeom pikir, Jungkook akan memotret—tapi tidak. Ia berdiam di posisi itu sekitar beberapa menit dan sama sekali belum memotret apapun.

Lantas, Yugyeom mencoba untuk melihat. Objek apa—siapa—yang dipandang Jungkook sampai temannya ini menjadi sebegini gila?

.

.

"Kenapa tidak memotretnya?"

Jungkook berjengit sampai napasnya tertahan. Kepalanya ditarik cepat dari kamera dan ditolehkannya ke sumber suara hanya untuk mendapati Kim Yugyeom berdiri di sebelahnya. Jungkook menghela napasnya sedikit kasar dan kembali fokus pada kameranya.

"Taehyung-sunbae," gumam Yugyeom, nada suaranya memang datar, namun entah mengapa suara itu terdengar seolah sedang membaca segala hal yang sedang dipikirkan Jungkook sekarang. "Kenapa tidak memotretnya?"

Jungkook menyerah. Ia tahu cepat atau lambat akan ada yang tahu soal ini. Kebiasaannya ini memang sangat mencolok, tapi Jungkook tidak peduli selama tidak ada yang merasa keberatan. Junngkook sendiri tidak pernah merasa terbebani dengan berdiri berjam-jam dan memandangi sosok Taehyung dari balik lensa kamera.

"Sudah aku coba, Yugyeom," beritahu Jungkook pelan. Suaranya menyiratkan kegetiran luar biasa, tapi Yugyeom tidak berkomentar apa-apa karena menghargai usaha Jungkook untuk menyembunyikan hal itu. "Kau pikir untuk apa aku melakukan ini hampir setiap saat?"

"Kau memotret untuk dia?" tanya Yugyeom, tidak bisa menahan diri untuk tidak penasaran. Jungkook kerap memotret berbagai hal, memang. Dan ia sungguh ingin tahu apakah semua itu dilakukannya semena-mena untuk Taehyung?

Jungkook menggeleng pelan, surainya tertiup angin dan menjadikannya indah untuk beberapa saat. Berbanding dengan tatapan mata bulatnya yang menerawang berkaca-kaca. Yugyeom bertanya-tanya apa yang ada dibalik tatapan itu? Apa yang sebenarnya Jungkook coba untuk katakan namun tak juga berhasil?

"Aku melakukan ini semua untuk diriku sendiri." Jungkook menjawab, sebuah senyuman terukir manis. Tapi Yugyeom tahu benar bahwa senyum itu bukan untuknya—atau untuk Jungkook sendiri. "Aku ingin memahaminya melalui apa yang dia suka."

Yugyeom terdiam. Sama sekali tidak mengerti harus menjawab pernyataan Jungkook dengan kalimat yang bagaimana. Ia bingung, kalimat seperti apa yang ingin Jungkook dengar sekarang? Haruskah ia mengatakan bahwa usaha Jungkook kini sangat baik? Atau malah menertawainya karena beberapa orang akan menganggap hal tersebut adalah lelucon?

"Apa hal yang aku lakukan ini salah?"

.

.

Jeon Jungkook merasa ini harinya. Selama ini ia selalu mengekori kemana pun Taehyung pergi, mungkin sudah satu bulan lamanya? Entahlah, dia tidak ingat. Di kameranya sudah ada dua foto Taehyung—baru dua—itu pun dengan fokus yang tidak tepat, buram sekali. Tapi Jungkook memilih menyimpan foto itu. Sekarang, Jungkook berdiri di halte bus. Menunggu Taehyung yang ia yakini akan datang dengan sendirinya.

Dua jam.

Sudah dua jam Jungkook berdiri tanpa melakukan apa-apa. Mengabaikan bus yang beberapa kali melewatinya dan orang-orang memandangnya aneh. Tapi sejauh ini belum ada yang bertanya padanya tentang mengapa, jadi Jungkook diam saja dan tidak menggubris orang-orang asing yang berlalu-lalang.

"Jeon Jungkook."

Jungkook tersenyum tipis. Ia kenal suara ini. Meskipun sudah lama sekali ia tidak mendengarnya, tapi Jungkook merasa hapal luar biasa. Merasa rindu luar biasa.

Mata Jungkook menatap raut wajah Taehyung yang mengeras, berdiri menghadapnya dengan tatapan mata tajam. Jungkook tahu Taehyung kesal setengah mati, tapi ia tidak mengatakan apapun sebagai pembelaan. Ini salahnya karena selalu menjadi penguntit setia pria itu.

"Apa kau sudah hancur, Hyung?" Jungkook berkata lirih, memastikan bahwa Taehyung tidak bisa mendengarnya walaupun itu salah besar.

Sekali pun raut wajah Taehyung tetap datar dan tidak berubah sama sekali, ia jelas mendengarnya. Batinnya terguncang dan jantungnya seakan merosot jatuh ke dasar perut. Lalu ia merasa bahwa marah kepada Jungkook sekali pun akan percuma. Jadi ia menghela napasnya panjang sebelum kembali membuka mulut bertanya.

"Apa kau mau menemaniku ke pantai?"

.

.

Taehyung mengeluarkan kameranya. Mengambil beberapa gambar laut, dan pemandangan sekitar pantai yang sepi. Ini bukan weekend jadi hanya segelintir orang yang memiliki waktu luang untuk mereka habiskan di pantai. Jungkook sendiri sudah melepas sepatunya, meletakkan begitu saja di pasir pantai dan berlari ke arah laut dengan kaki telanjang.

"Hyung!" Jungkook menjerit bahagia ketika air laut itu menyapa halus kakinya, senyumnya terkembang begitu tahu Taehyung tengah memusatkan lensa kameranya ke arah Jungkook. "Ayo main air."

Taehyung tersenyum di balik kamera. Tapi ia tidak kunjung menekan tombol untuk memotret. Membuat Jungkook mengangkat bahu acuh dan kembali menatap laut. Ia memerhatikan garis di ujung sana, yang seakan-akan menjadi pemisah antara laut dengan langit. Pemandangan yang sangat indah meskipun sudah ratusan kali ia melihatnya.

"Jungkook."

Jungkook segera menoleh, rautnya sedikit tegang karena diliputi rasa takut. Terkejut luar biasa akan suara Taehyung terdengar lirih, dan tentu saja Jungkook tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kakak tingkatnya tersebut. Tapi yang didapatinya adalah suara jepretan kamera dan Kim Taehyung yang tersenyum puas kemudian.

"Bagus sekali. Terima kasih."

Jungkook mendengus kecil. "Aku bisa berpose untukmu jika kau memang membutuhkan itu, Hyungie."

Taehyung hanya tersenyum mendengarnya.

Lalu suasana berubah sedikit aneh. Taehyung melangkah mendekat ke arah Jungkook setelah ia melepas sepatunya begitu saja—tidak hanya itu, bahkan tasnya juga diletakkan di atas pasir. Menyisakan kamera yang menggantung apik di lehernya. Ia berdiri santai di sebelah Jungkook, seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua.

"Hyung," Jungkook memanggil tiba-tiba, merasa sedikit bersalah karena suasana di antara mereka bisa menjadi sangat aneh, "aku menyukaimu. Kau tahu benar, kan, Hyung?"

Taehyung tertawa kecil. Ada bagian dari dirinya yang merasa tertohok dengan pertanyaan Jungkook. Ia tentu pernah mendengar pernyataan serupa. Jungkook memberitahu melalui telepon setelah sekian lama mereka bertukar cerita. Tapi, Taehyung memiliki alasan tersendiri untuk tidak segera menjawab pernyataan itu.

"Jungkook." Taehyung memanggil, "Apakah kau memiliki tokoh utama di dalam hidupmu?"

Jungkook bingung. Arah pembicaraan Taehyung memang terkadang bisa menjadi begitu rumit. Ia suka sekali mengalihkan pembicaraan tanpa benar-benar melakukannya. Tapi Jungkook tidak memiliki pilihan selain mengikuti alur—tidak, meskipun ia memiliki pilihan pun, ia tetap akan mengikuti alur yang diciptakan Taehyung. Namun untuk pertanyaan Taehyung barusan, ia seakan tidak memiliki jawaban. Ia bungkam dengan tatapan matanya mengarah pada Taehyung seorang.

"Aku tidak memiliki tokoh utama dalam hidupku." Taehyung menoleh dan mendapati Jungkook menatapnya tanpa ekspresi yang berarti. Hal itu tak berlangsung lama karena Taehyung segera melempar pandangannya lagi ke arah laut. "Aku bahkan tidak memiliki teman dulu."

Jungkook masih setia diam. Entah mengapa ia merasa apabila ia berbicara barang sedikit saja, maka semua itu akan merusak cerita Taehyung.

"Aku berasal dari Daegu, dan sejak kecil dibesarkan nenekku. Aku ke Seoul saat masa sekolah menengah pertama," Taehyung menerawang ke balik garis yang memisahkan laut dan langit, batinnya bertanya-tanya, apakah itu yang dinamakan cakrawala?

"Mereka mengejekku. Mencoret-coret bukuku dan melempar sampah padaku. Mereka mengatakan bahwa aku ini aneh. Hari-hariku berat sekali saat itu. Aku ingin mengadu tapi tidak tahu pada siapa. Orang tuaku hanya pulang saat akhir pekan dan aku tidak ingin merusak itu dengan cerita burukku. Aku ingin waktu yang aku habiskan bersama mereka adalah waktu-waktu yang bahagia."

Jeda sejenak. Taehyung menjilat bibirnya karena merasa kering, sedangkan Jungkook terpukau dengan cerita Taehyung. Tanpa sadar ia membayangkan posisi pria itu di masa lampau, dan mata bulatnya sukses berkaca-kaca. Kesedihan itu sampai padanya.

"Dan aku bertemu Jimin. Di kelas dua. Kami satu kelas dan dia tertawa ketika pertama kali melihatku. Tapi, aku merasa tawa itu berbeda. Bukan tawa mengejek seperti yang dilakukan orang-orang padaku. Dia tertawa dan mengatakan padaku bahwa aku lucu."

"Saat itu pun aku sadar. Aku yang tidak memiliki apa-apa akhirnya bisa mengaku bahwa aku punya Jimin. Mungkin kalau kamu lihat sekarang, seakan-akan aku sudah melakukan banyak hal untuk Jimin. Tapi tidak sama sekali, dialah yang selama ini menjadi pahlawanku." Taehyung merasa matanya memanas, mengingat Jimin dan masa lalunya tidak pernah membuatnya merasa terharu luar biasa. Bahkan terkadang ia bertanya-tanya pada Tuhan, apa yang sudah dia lakukan sampai Tuhan mengirimkan seseorang seperti Jimin untuk menjadi temannya?

"Jimin membelaku mati-matian bahkan ketika tidak ada yang percaya lagi padaku—tapi dia percaya. Dia selalu berdiri di depanku. Hingga aku berpikir kalau aku ingin menjadi seperti Jimin." Taehyung menoleh dan mendapati Jungkook yang terdiam seribu bahasa. "Aku ingin membuatnya bahagia, aku ingin menjaganya. Dia sahabatku yang berharga. Aku tidak ingin melihatnya menangis meskipun aku sedang terpuruk sekali pun."

Jungkook tidak kuat menahan. Ia menangis, hampir sesenggukan kalau saja ia tidak pandai mengambil napas. "Hyung—"

"Aku menyayanginya lebih dari yang dia tahu, Kook. Cukup sekali saja melihatnya bersedih karena kemarin. Sekarang dia punya Yoongi-hyung, ia memiliki kebahagiaannya. Dan aku tidak berani mengusiknya dengan apa yang aku punya sekarang."

Jungkook sesak. Ia membuka mulut dan bersusah payah menyahuti cerita Taehyung dengan sebuah pertanyaan bodoh, "Hyung, kalau Jimin tidak bisa menjadi telingamu sekarang, bisakah aku menggantikannya?"

Taehyung tersenyum samar, kemudian matanya menatap ke dalam mata Jungkook lama, dan Jungkook tidak bisa menebak arti dari tatapan itu. Selama Taehyung menatapnya dan selama itu pula Jungkook merasa jatuh ke dalam labirin yang diciptakan Taehyung melalui matanya. Bayangannya terpantul begitu tepat di kedua mata hazelnut itu. Membuat Jungkook jatuh dan ia sama sekali tidak berniat untuk berdiri lagi.

"Kesalahanku adalah membawamu kemari dan bercerita separuh perjalanan hidupku, maaf." Taehyung berujar, senyumnya kecut dan Jungkook tidak tahu mengapa, "Aku pergi, Jungkook -ah."

Lalu Taehyung berbalik, buru-buru mengambil tasnya dan memakai sepatunya. Tidak memedulikan pasir pantai yang bahkan ikut masuk ke dalam sepatu. Rahangnya mengeras dan pikirannya penuh umpatan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Total mengabaikan kemungkinan bagaimana hancurnya Jungkook di belakang sana. Karena ia pun sama, merasa sebagian dirinya hancur begitu saja tanpa aba-aba.

Jungkook tidak paham, bagian mana yang merupakan sebuah kesalahan? Ia hampir berteriak memanggil nama Taehyung namun lelaki itu sudah terlebih dulu membuka suara lagi.

"Oh, satu lagi. Jangan membuntutiku seperti apa yang kau lakukan kemarin-kemarin."

"Aku pergi."

Menyisakan Jungkook yang belum bisa memahami situasi, dengan mata basah dan dada sesak luar biasa. Setelah memproses cerita Taehyung ia harus dipaksa menelan kenyataan bahwa nyatanya selama ini Taehyung tahu. Lelaki itu tahu kalau dia mengikutinya, membuntitnya seperti seorang fanatik dan berusaha memerangkapnya ke dalam lensa kamera.

Dan Jungkook tidak pernah merasa sekecewa ini sebelumnya.

.

.

to be continued.

Lagu yang terputar saat mengetik ini adalah Let Go, Let Me Know, dan You Never Walk Alone—oh, ditambah Love is Not Over. Mantap gak tuh? Saya aja sampai bingung mau nangisi lagunya atau nangisi ff ini saja:)

Maaf kalau chapter ini agak gimana, soalnya saya mau menjelaskan hubungan VMin lebih dalam dan bagaimana VKook bisa berakhir canggung begini;) Meskipun bilangnya jelasin tetep gak jelas ya:')) Maaf ya.

Untuk chapter berikutnya akan mulai muncul 'masalah-masalah' Taehyung. Saya sudah curhat ke teman saya soal konflik-konflik ini (padahal dia bukan army, loh) terus dia bilang "kasihan Taehyung-nya. Jangan gitu please konfliknya" dan—oke, saya mendadak bingung dan bales; "kok kamu yang jadi sayang Tae?" Intinya—siap-siap aja;)

Balasan review :

quiteumess : Dan kamu gak tau betapa senangnya saya dapat review dari kamu lagi? Saya sampai cerita ke semua teman saya tentang review kamu. I don't think I deserve this kind of review—omg. I'm so so sooooo happy. BTW—saya harus ketawa bagian 'jaga kesehatan diri' omg, bahkan pacar saya gak pernah bilang gitu:( /iya soalnya jomblo/ Terima kasih banyak sudah mau membaca, dan beribu terima kasih untuk pujian yang telah diberikan. Meskipun sebagian diri ini merasa kalau saya tidak pantas mendapat pujian itu—tapi sebagian yang lain senang sekali:'))) I PURPLE YOU.

Iymyhzxx : Wah, semoga UN nya memuaskan ya! Saya mendoakan dari sini;)) VKook-nya lucu? Syukur deh, saya takut gak dapet feel VKook karena ini pertama kalinya buat ff tentang mereka, hiks. Untuk pelangi warna ungu—kenapa ya;) Tebak-tebak dulu saja lah, hehe. Ini termasuk up cepet kan? Meski rencana up tanggal 21 kemarin tapi nyatanya gak sanggup nyelesain 1 chapter ini, jadi yah terpaksa ngaret, hehe. Semoga suka ya!;)

MinPark : Jungkook hanya berusaha memahami Taehyung melalui apa yang disukai sama cowok itu, kok:) Karena dia tahu kalau Taehyung belum bisa cerita apa-apa. Jungkook duluan nih yang suka sama Taehyung, HAHA. Gatau kenapa saya senang sama kenyataan itu—ehem. Terima kasih sudah mau baca ya;))) Ini sudah di update, semoga makin jelas larinya kemana nanti ini ff:'))

I purple you, guys. I love you more than you think.

Tanpa review kalian, saya gak tau apa yang akan saya lakukan dengan ff ini, sungguh. Meski saya pernah berprinsip, bahwa saya menulis untuk diri saya—tapi, kalian sangat membantu. Kalian yang membuat saya bisa merealisasikan apa yang saya inginkan.

You deserve world, guys. I purple you—always.

25 Mei 2018