"Sebelum Changmin-sii berhasil melewati masa kritis, kami tidak berani melakukan operasi."

Yoochun hanya bisa menunggu sampai Changmin berhasil melewati masa kritisnya. Ia tidak punya pilihan selain menerima saran dokter. Kemo tidak akan banyak membantu ketika ini adalah kedua kalinya kanker itu kembali tumbuh di otak Changmin.

Yoochun mengangkat tangannya dan mengarahkan ke kepala Changmin. Dengan lembut ia mengelus rambut Changmin. Sebentar lagi, tiap helai rambut milik Changmin akan hilang. Demi operasi itu, Changmin harus rela kehilangan rambutnya.

Yoochun tidak akan menunggu Changmin untuk menyetujui operasi itu, karena Yoochun tahu jika Changmin akan lebih memilih mati daripada melupakan Yunho.

"Maafkan aku, Changmin ah!" serunya sembari menyematkan sebuah cincin ke jari manis tangan kanan Changmin.

Yoochun memejamkan matanya. Melihat kejadian kemarin, Ia sangat mengerti apa yang ingin Changmin katakan. Harapan yang selama ini selalu Changmin jaga walau waktu telah begitu lama berlalu. Changmin ingin melihat orang itu. Changmin ingin bertemu dengan Yunho. Harapan yang ia ucapkan sedari tujuh tahun yang lalu.

Yoochun bangkit dari duduknya. Ia meraih kunci di meja samping ranjang Changmin lalu bergegas keluar dari ruang inap Changmin. Untuk saat ini ia tidak boleh egois. Untuk saat ini ia akan melakukan apapun demi kesembuhan Changmin.

Jika Yunho memang tidak bisa mengingat Changmin sedikitpun, setidaknya ia harap Yunho tahu tentang masalalu pria itu dengan Changmin. Bagaimanapun caranya, Yunho harus mau menemui Changmin sebelum operasi. Karena banyak kemungkinan yang tidak mungkin bisa ditebak setelah operasi itu.

.

.

.

.

DBSK Fanfiction

Present

November with Love © Ran Hime

DBSK © Themselves

Mimi Homin Vers © Chonzakajaejae

Drama, Hurt/Comfort

Homin Slight Yoomin, YunJae

M Rated

Yaoi, OOC, Typo, etc.

.

.

.

Chapter 4 - Final Chapter

.

.

Yunho menghentikan mobilnya di parkiran sebuah restoran sederhana. Ia keluar dari mobil bersamaan dengan tunangannya dari pintu satunya. Yunho tersenyum melihat Jaejoong lalu berjalan beriringan masuk ke dalam restoran tersebut.

Yunho memperhatikan dekorasi restoran itu sembari menunggu pesanan. Ia merasa tidak asing dengan restoran itu. Walau baru pertama kali, namun ia merasa jika sebelumnya pernah ke restoran itu.

Yunho tersenyum ketika pelayan membawakan pesanannya bersama Jaejoong. Yunho memperhatikan Jaejoong yang langsung menyeduh kopinya tanpa menambahkan gula.

"Kopi tanpa gula itu pahit, Jaejoong ah," ujar Yunho sembari meminum jus strawberry di depannya.

Jaejoong tersenyum. Diletakkan olehnya cangkir kopi ke atas meja, "jika meminum kopi denganmu, tanpa gula pun akan terasa manis."

Yunho hampir saja tersedak ketika mendengar jawaban dari Jaejoong. Ia menatap Jaejoong, namun entah kenapa di depannya malah nampak seorang Shim Changmin. Yunho memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.

.

.

November with Love

.

.

"jika meminum kopi denganmu, tanpa gula pun akan terasa manis." Changmin segera meminum kopinya yang masih panas.

Yunho tersenyum melihat semburat merah di pipi Changmin. melihat Changmin yang terlihat terburu-buru menghabiskan kopinya sembari sesekali melirik ke arahnya. Namun senyumnya memudar ketika ia melihat hidung Changmin yang mengeluarkan darah. Cepat-cepat ia meraih selembar tissue di depannya dan mengusap darah tersebut. Membuat Changmin terkejut hingga cangkir kopi di tangannya terjatuh ke lantai dan menarik perhatian pengunjung yang lain.

"Yunho hyung!" seru Changmin panik ketika melihat pecahan cangkir di bawahnya.

Namun Yunho tidak menggubris seruan Changmin. Ia berdiri dan mengambil lagi tissue. Dengan khawatir ia membersihkan darah yang tidak kunjung berhenti mengalir itu.

"Yunho hyung" Changmin semakin takut dan cemas ketika Yunho tidak juga menggubrisnya.

"Kau sakit, Changmin ah?"

"Aku baik-baik saja!"

Gerakan tangan Yunho terhenti ketika tangan lembut Changmin menahan pergerakan itu. Ia dapat melihat Changmin tersenyum, berusaha meyakinkan dirinya bahwa pemuda itu baik-baik saja.

"Aku akan mengantarmu pulang."

.

.

.

"Sudah kubilang berapa kali, jauhi anak itu." seru Mr. Jung dengan marah.

Yunho hanya diam menahan kemarahan sang ayah. Selama ini ia cukup terbiasa dengan sikap ayahnya yang selalu seenaknya. Itu pula yang membuat Yunho tumbuh menjadi pemuda pembangkang. Lebih suka mencari kesenangan di luar rumah.

"Sekali lagi aku melihat kau bersama bocah itu, bocah itu yang akan menerima akibatnya."

"Aboji!" seru Yunho tidak terima. Ayahnya boleh menyakiti dirinya. Namun Yunho tidak terima jika Changmin harus menanggung apa yang seharusnya ia terima.

"Putuskan sekarang dan Jauhi dia. Atau kau tidak akan bisa melihat bocah itu lagi di Seoul."

Tanpa sadar Yunho mengepalkan tangannya. Ia bisa tetap bertahan jika ia yang mengalami tekanan dari ayahnya. Tapi ia tidak yakin Changmin bisa melewati semua ketika kesehatan Changmin yang menurun akhir-akhir ini. Ia tidak akan mampu melakukan banyak hal di saat ia bukanlah apa-apa.

.

.

.

Yunho mengetuk pintu apartemen Changmin. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan semua kepada Changmin. Ia tidak bisa mengatakan tentang ancaman ayahnya namun ia juga tidak mungkin membuat ayahnya melukai Changmin.

"Hyung!" seru Changmin lembut. Ia tersenyum membalas senyuman Yunho lalu mengajaknya masuk.

Yunho sadar, ia tidak mungkin bisa melindungi Changmin dari ayahnya di saat keadaanya saja masih bergantung kepada ayahnya.

"Changmin ah!" seru Yunho lirih. Ia merengkuh tubuh kurus Changmin. Membuat pemuda itu terkejut ketika menerima perlakuan dari Yunho.

"Biarkan seperti ini!" seru Yunho ketika Changmin hendak melepaskan pelukan Yunho.

Tidak ada kata satupun yang terucap. Yunho hanya diam dan membiarkan tubuh Changmin dalam rengkuhannya. Seandainya saja ia bukan Jung Yunho yang masih dalam kendali ayahnya, mungkin ia akan membawa Changmin pergi jauh dari Seoul. Ia akan berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan oleh Changmin. Dan bukannya menjadi pria lemah hanya karena ancaman ayahnya.

Yunho melepaskan pelukannya. Dengan dalam ia menatap wajah bingung Changmin.

"Dengarkan Hyung, Changmin ah!" seru Yunho sembari memegang ke dua lengan Changmin, "apapun yang terjadi semua demi kebaikanmu." Yunho tidak tahu harus darimana menjelaskan tentang ancaman ayahnya. Ia ingin Changmin aman, namun ia tidak bisa menjelaskannya secara langsung.

"Apapun yang terjadi, kau harus yakin aku mencintaimu." Yunho terus saya meracau tanpa memberikan kesempatan untuk Changmin berbicara.

"Aku mencintaimu, Changmin ah!"

"Hyung, ap-"

Dengan cepat Yunho meraih wajah Changmin. Membenamkan ciumannya pada bibir lembut Changmin. Katakan ia bodoh. Memenuhi panggilan dosa yang terlihat manis. Mengabaikan setiap pukulan lemah Changmin pada dadanya.

Tubuh besarnya jatuh bersamaan tubuh Changmin ke atas sofa. Menikmati kehangatan atas tubuh Changmin. Mendengar setiap desah kenikmatan yang keluar dari bibir kekasihnya.

Tanpa sadar air matanya mengalir ketika setiap dorongan yang Yunho lesakkan ke dalam tubuh di bawahnya. Ia sadar tidak seharusnya ia melanjutkan dosa manis itu. Ia menunduk, mencoba meredam rasa sakit bercampur nikmat yang Changmin lontarkan. Sebelum akhirnya ia menghela nafas bersamaan dengan hasratnya yang terpuaskan.

.

.

November with Love

.

.

Yoochun menoleh ke arah pintu ketika seseorang membukanya. Ia berdiri dari duduknya dan menemukan seorang wanita yang berjalan masuk ke dalam ruangan Yunho. Yoochun pikir jalan untuk membuat Yunho agar mau menemui Changmin akan mudah. Namun kenyataannya pikiran itu salah, ketika wanita di depannya memandang dia sinis.

"Untuk apa kau ke sini?" seru wanita tersebut dengan nada sinis.

"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Yunho.

"Tidak ada yang perlu Yunho ketahui."

"Jessica-ssi!"

Yoochun sadar siapa wanita di depannya. Yoochun pun tahu jika Jessica banyak ikut andil dalam memisahkan Yunho dari Changmin beberapa tahun yang lalu.

"Biarkan aku bertemu Yunho!"

"Pergilah!" ujar Jessica sembari memalingkan wajahnya, "maaf, aku tidak bisa membiarkan kau bertemu Yunho. Anak itu pasti sudah mengatakan semuanya padamu."

Yoochun berjalan beberapa langkah mendekati Jessica, "Kau salah! Selain kejadian sebelum kecelakaan, dia tidak mengatakan apa-apa." Yoochun menatap Jessica, berharap wanita itu mau menatapnya balik, "tapi aku mempunyai pemikiran sendiri, kenapa Yunho tidak pernah menjenguk Changmin. Dan itulah yang menjadi alasan kenapa aku ke sini."

"Pergilah!"

"Changmin mungkin merasa bersalah karena kecelakaan itu," lanjut Yoochun tanpa memperdulikan pengusiran dari Jessica, "tapi yang sebenarnya terjadi adalah Yunho kehilangan ingatan."

"Berhentilah mengganggu kehidupan kami, Yoochun!" seru Jessica berteriak kepada teman semasa kuliahnya itu, "kau seharusnya senang karena Changmin bisa bersamamu."

"Kau tidak bisa egois, Jessica yah!" Yoochun mulai merasa matanya memanas, "dan aku juga tidak bisa egois."

"Aku tidak ingin Yunho mengingat masalalunya," Jessica mulai menangis, "aku tidak ingin kehilangan dia lagi seperti dulu," Jessica terdiam sejenak disela isakan, "bagaimana bisa aku menjelaskan bagaimana anak itu bisa pergi. Bagaimna aku bisa mengatakan pada Yunho jika ibu lah yang memaksa Changmin untuk meninggalkan dia." Jessica menghapus air matanya. Ia tidak berharap akan mengatakan lebih dari ini tentang yang pernah terjadi dulu.

"Tidak banyak waktu yang tersisa!" Yoochun mengulurkan kedua tangannya. Memegang lengan Jessica, "Biarkan aku bertemu dengan Yunho dan mengatakan tentang Changmin."

"Pergilah!" Jessica melepaskan tangan Yoochun dari lengannya, "tinggalkan kami!"

"Apa yang akan kau dapatkan dari semua ini?" Yoochun masih tetap berusaha meluluhkan Jessica, "pada akhirnya Yunho akan mengingat masalalunya dan ia akan menyesali semua."

Yoochun memalingkan wajahnya, berusaha menahan setetes air yang nyatanya tetap menetes dari pulupuk matanya.

"Changmin sedang sekarat dan ia hanya butuh Yunho untuk tahu tentang dirinya." Yoochun berusaha bernafas ketika dadanya semakin sesak, "biarkan Changmin bahagia sebelum semua terlambat untuk disesali."

"Pergilah!"

Yoochun menatap Jessica beberapa saat sebelum akhirnya ia beranjak dari tempatnya. Bergegas keluar dari ruangan Yunho dengan kekecewaan yang amat dalam. Tidak ada harapan lagi dan semua sudah berakhir. Tidak akan ada kesempatan untuk Changmin bertemu Yunho. Yoochun sudah berusaha, namun wanita itu membuat semuanya gagal.

.

.

"Yoochun-ssi sudah menunggu anda di ruangan anda, Presdir!"

Yunho tersenyum menanggapi ucapan dari resepsionis tersebut. Ia bergegas menuju ruangannya. Ia merasa aneh ketika pria itu menghubunginya dan ingin bertemu. Padahal ia hanya bertemu beberapa kali dengan Yoochun dan ia juga merasa tidak begitu mengenal Yoochun. Namun pria itu ingin berbicara tentang sesuatu hal.

Yunho hendak membuka pintu ruangannya, namun suara seseorang dari dalam membuatnya mengurungkan niatnya tersebut.

"Tapi aku mempunyai pemikiran sendiri, kenapa Yunho tidak pernah menjenguk Changmin. Dan itulah yang menjadi alasan kenapa aku ke sini." Yunho menajamkan pendengarannya dari balik pintu ketika mendengar namanya disebut.

"Pergilah!" Yunho mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara kakaknya ada di dalam bersama Yoochun.

"Changmin mungkin merasa bersalah karena kecelakaan itu," Yunho merasa bingung dengan percakapan di dalam ruangannya. Ia tidak tahu jika kakaknya ternyata mengenal Yoochun. "tapi yang sebenarnya terjadi adalah Yunho kehilangan ingatan."

Entah mengapa Yunho merasakan dadanya sakit ketika mendengar semua itu.

"Changmin sedang sekarat dan ia hanya butuh Yunho untuk tahu tentang dirinya.

Tanpa sadar air mata Yunho menetes. Ia bergegas pergi dari depan ruangannya dan mengurungkan niatnya untuk menemui Yoochun. Jujur saja percakapan di balik ruangannya itu membuat kepalanya pusing.

"Namaku Jung Yunho!"

Yunho memegang kepalanya yang terasa sakit lagi.

"Ayo kita kencan!"

Bayangan yang sedikit buram itu kembali terlintas di benaknya.

"Apapun yang terjadi, percayalah aku mencintaimu!"

Yunho memegang pagar tangga dan berusaha untuk turun.

"Kita akan bertemu jam tujuh di menara jam. Tunggu aku Changmin-ah."

Bayangan wajah Changmin yang tersenyum kembali datang dan membuat kepala Yunho semakin sakit. Seharusnya ia berhenti melangkah menuruni anak tangga, namun pikirannya yang kacau itu membuat Yunho sulit untuk berpikir hingga akhirnya keseimbangannya terganggu. Membuat tubuhnya terjatuh dari anak tangga.

.

.

November with Love

.

.

Yoochun bersandar di dinding di depan ruangan operasi. Kondisi Changmin tiba-tiba memburuk dan dengan terpaksa dokter mengambil langkah terakhir. Melakukan operasi tanpa menunggu Changmin melewati masa kritisnya.

Yoochun terus berdo'a untuk keberhasilan operasi tersebut. Sesekali ia menoleh ke arah pintu ruang operasi. Apa yang tersisa dari semua harapan? Bahkan satu-satunya keinginan Changmin tidak mampu terpenuhi hanya karena ego.

"Yoochun-sii!"

Yoochun buru-buru mendekati sang dokter dengan wajah lusuh akibat operasi tersebut. Masih berharap ia akan mendapatkan kabar baik. Namun wajah bersalah itu, wajah penuh permintamaafan itu membuatnya menelan ludah dengan susah payah.

Airmatanya jatuh begitu saja ketika mendengar penuturan dari dokter itu. Benarkah semua sudah berakhir? Haruskah semua seperti itu? Dengan berat hati Yoochun berjalan mendekati tubuh Changmin di dalam ruang operasi tersebut. Berharap pria itu menyambutnya. Namun itu hanya tinggal harapan. Dan Yoochun hanya bisa mengusap kasar wajahnya yang basah.

.

.

November with Love

.

.

Yunho melajukan mobilnya dengan cepat. Ia tidak menyangka ayahnya akan mengingkari janjinya. Ia sudah melakukan semua yang ayahnya katakan, namun nyatanya posisi Changmin tetap saja terancam.

Yunho menambah kecepatan ketika melihat mobil ayahnya ada di depannya. Ia menghentikan mobilnya begitu saja di depan mobil ayahnya yang ikut terhenti akibat hadangan darinya. Dengan emosi ia keluar dari mobilnya dan menghampiri ayahnya yang masih duduk dengan tenang di dalam mobil. Ia menggebrak kaca jendela mobil ayahnya, hingga jendela itu terbuka.

Yunho dapat melihat ayahnya tersenyum sinis, mengejek kegigihannya dalam mempertahankan kebahagian Changmin.

"Aboji bilang butuh keturunan Jung!"

Mr. Jung hanya tersenyun sinis menghadapi kalimat dari putra tunggalnya itu.

"Bagaimana bisa Aboji menjodohkanku dengan putra mr. Kim?"

"Yang perlu kau lakukan hanya menikah dengan pemuda itu dan semua beres."

"Aboji menipuku!" ujar Yunho hampir berteriak. Kesal kepada ayahnya, "Aboji menyuruhku menjauhi Changmin tapi Aboji malah menjodohkanku dengan seorang pria."

"Jelas saja berbeda. Dia dari keluarga terpandang yang bisa membuat keluarga Jung semakin berada di atas." mr. Jung mulai jengah dengan putranya itu, "mau tidak mau, kau akan tetap bertunangan dengan dia." mr. Jung menutup kaca jendela mobilnya. Lalu nenyuruh sopir segera melajukan mobilnya.

Melihat hal itu, Yunho kembali menggebrak kaca jendela mobil ayahnya. Berharap ayahnya mau mendengarkan perkataannya. Namun itu hanya sebuah harapan ketika mobil ayahnya kembali melaju. Yunho berlari mengejar mobil sang ayah yang semakin cepat. Bagaimana bisa ayahnya menentang hubungannya dengan Changmin dengan alasan keturunan, namun sekarang malah ia harus bertunangan dengan seorang laki-laki yang bahkan belum ia kenal.

Yunho terus berlari. Tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang telah berubah warna merah. Hingga sebuah mobil dari arah sampingnya melaju dengan cepat ke arahnya ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Tubuh Yunho melayang akibat hantaman tersebut dan jatuh ke atas tanah aspal.

Sedangkan mobil tersebut melaju kehilangan kemudi hingga akhirnya menabrak mobil di depannya hingga mobil tersebut terpelanting dan terbalik.

.

.

November with Love

.

.

Yunho membuka matanya perlahan. Rasa sakit itu kembali datang ketika ingatan tentang Changmin terlihat olehnya.

"Changmin ah!"

Yunho nampak seperti orang bingung. Memanggil nama Changmin berulang kali hingga mengabaikan Jessica dan tunangannnya. Yang ada di pikrannya hanya Changmin. Ia ingat, ia meminta Changmin untuk menunggunya di menara jam, namun ia tidak datang hari itu.

"Dimana Changmin, Nuna?" tanyanya sembari mencoba turun dari ranjang. Mengabaikan Jaejoong yang terdiam di depannya dengan raut wajah syok, menerima kenyataan Yunho hanya menyebut nama Changmin setelah pemuda Jung itu siuman.

"Yoochun ... Aku harus menemui Park Yoochun!"

"Yunho yah!" seru Jessica mencoba mencegah agar Yunho tidak menemui temannya itu. Bagaimama pun Yunho tidak boleh bertemu dengan Changmin.

"Biarkan aku menemui Changmin, Nuna! Dia menungguku!"

Yunho terus memberontak hingga akhirnya dapat lepas dari Jessica. Ia berlari keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jaejoong. Pikirannya terlalu penuh dengan Changmin.

.

.

November with Love

.

.

Yunho menatap pria di depannya dengan perasaan yang berkecamuk. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari Yoochun, karena pria itu kini ada di depannya.

"Yoochun ssi! Aku sudah mengingat semua."

Pria itu hanya diam. Wajah kusutnya nampak lelah dengan kantong mata yang tebal.

"Biarkan aku bertemu Changmin!"

"Kuharap dia bisa bahagia melihatmu," seru Yoochun pada akhirnya, "dia selalu ingin melihatmu."

Yoochun berjalan meninggalkan rumah sakit dan diikuti oleh Yunho. Dengan mobilnya, Yoochun membawa Yunho untuk menemui Changmin.

.

.

November with Love

.

.

"Masuklah! Changmin ada di dalam," ujar Yoochun datar. Suaranya terdengar agak serak.

Dengan segera Yunho turun dari mobil. Ia memperhatikan sekeliling tempat ia berada. Di depannya nampak sebuah rumah yang lumayan besar di daerah pinggiran pantai. Dengan ragu ia melangkah memasuki rumah tersebut.

Dengan pelan, Yunho membuka pintu kaca tersebut. Matanya syok menatap pemandangan di depannya. Katakan itu bohong! Katakan Changminnya masih baik-baik saja dan masih menunggunya untuk bertemu.

Dengan lunglai, Yunho berjalan ke dalam. Nafasnya tercekat setiap kali ia berusaha untuk bernafas. Hingga akhirnya, langkahnya berhenti di depan sebuah photo tempat upacara kematian selesai diadakan.

"Changmin ah!" seru Yunho lirih. Tubuhnya jatuh ke lantai. Lutut lemasnya menghantam lantai dingin di bawahnya. Perlahan air matanya menetes.

Setelah bertahun-tahun ia terpisah dari Changmin, haruskah semua berakhir semenyedihkan ini. Bahkan waktu tidak memberinya sedikitpun kesempatan untuk melihat Changmin. Mengapa takdir sekejam ini? Ataukah ini adalah balasan karena ia begitu mudah melupakan Changmin?

Yunho mulai melupakan fakta jika ia adalah seorang pria yang seharusnya tidak mengeluarkan air mata. Perlahan suara isak terdengar dari bibirnya.

Dan tidak jauh dibelakangnya, seorang pria berdiri di pintu dengan kepalan tangannya.

.

.

November with Love

.

.

Jaejoong memarkikan mobilnya di depan sebuah rumah yang lumayan mewah di daerah pinggiran pantai. Ia bersyukur dapat mengejar sebuah mobil yang membawa Yunho pergi dari rumah sakit.

Dengan tergesa, Jaejoong keluar dari mobil dan berlari kecil menuju rumah tersebut. Langkahnya terhenti di ambang pintu, ketika di depannya nampak tunangannya tengah bersimpuh.

Matanya terkejut melihat Photo pria yang ia kenal nampak terpajang di atas sebuah meja upacara kematian. Itu tidak mungkin! Ia ingat beberapa hari yang lalu ketika Changmin menemuinya, pria itu terlihat sedikit membaik. Bohong jika Changmin telah tiada. Tanpa sadar tangannya mengepal begitu saja.

Jaejoong berjalan pelan mendekati Yunho. Tangannya memegang pundak Yunho ketika ia telah sampai di belakang sang tunangan. Ada rasa penyesalan di hatinya, ketika ia mulai tahu jika ia jugalah yang membuat Yunho terpisah dengan Changmin.

Seandainya bisa, Jaejoong ingin mengembalikan Yunho kepada Chabgmin. Namun semua sudah terlalu mustahil untuk terjadi. Lalu, jika Changmin masih ada, bisakah Jaejoong melepas Yunho untuk Changmin?

Jari-jari Jaejoong semakin kuat mencengkeram pundak Yunho yang bergetar. Ia tidak menyangka semua akan berakhir semenyedihkan ini.

.

.

Aku tahu dari awal jika semua memang mustahil. Aku dan Yunho hyung harus berpisah bukan karena kami sama-sama pria, namun statuslah yang membuat semuanya harus berakhir.

Aku tidak menyalahkanmu atas semua. Namun aku berharap Yunho hyung akan benar-benar bisa hidup bahagia.

Presdir Kim, kaulah harapan satu-satunya agar bisa membuat Yunho hyung hidup tanpa bayang-bayang masalalu.

Teruslah cintai Yunho hyung. Dan jangan biarkan dia kembali hidup dengan masalalunya.

Aku percaya padamu.

.

.

.

End.

.

.

Akhirnya selesai juga. Awalnya saya ingin memberikan ending yang berbeda dari fanvid-nya. Namun semua berubah karena sesuatu hal. Saya tidak bisa mengubah banyak hal karena ff ini terinspirasi dari fanvid milik Chonzakajaejae. Dan ending-nya juga tidak jauh beda dari cerita aslinya.

Maaf kalau endingnya mengecewakan. Namun saya tetap berterima kasih karena kalian sudah berkenan membaca ff ini.

Sampai jumpa di ff yang lainnya.

.

.

Balasan review:

Changru Minru: Iya, ini memang terinpirasi dari drama Mimi dan juga fanvid milik Chozakajaejae.

Terima kasih atas review-nya.

:)

yesaya. mei: Ini sudah dilanjut :)

Powpow: Tidak terlalu nyesek, kok :)

Rainy0218: Terima kasih sudah mau membaca ff ini. Iya nih endingnya hampir mirip sama fanvid-nya. Maaf ya kalau menyecewakan, hehehe.

Guest: Ini sudah dilanjut, kok :)

mochi: Itu di akhir Chapter ada penggalan isi surat dari Changmin. Terima kasih atas review-nya :)

.

.

Thank's to:

Changru Minru, Powpow, Rainy0218, k. shima, Guest077, red, abang, me8288, yolyol, mochi, Guest, kimmy ranaomi, beautyq, elleinadk, sayakanoicinoe, yesaya. mei, akiramia44, elleinadk, sayakanoicinoe.