Sorry, again
Pair : LeoN
Keo
RaKen
Cast : All Member Of VIXX
Triplets
Sudah sebulan Hakyeon begitu rutin mengunjungi rumah sakit dan akan selalu duduk dibangku yang disediakan khusus agar selalu berada didekat namja yang sedang terbaring itu. Sudah sebulan pula Hakyeon selalu mencari alasan untuk ketiga putranya agar ketiga putranya tidak menangis untik ikut dengannya ke rumah sakit. Tidak mungkin Hakyeon membawa ketiga putranya ke Rumah Sakit.
Mengetahui bahwa orang yang dimaksud adalah mantan kekasihnya atau lebih tepatnya suami dari sahabatnya, awalnya membuat Hakyeon begitu terpukul. Dia menolak untuk dijadikan sebagai obat untuk namja itu, ditambah lagi Ken sendiri yang memintanya. Hati Hakyeon hancur sebenarnya saat mengetahui Ken dan Leo telah menikah. Lalu kini seolah mereka menjadikan dirinya sebagai obat untuk membangunkan Leo. Kenapa tidak Ken saja? Bukankah Ken adalah istrinya?
"kehidupan kami tidak baik hyung. dia beberapa kali menangisimu dan selalu mengucapkan kata maaf sambil memeluk abu ibumu"
"umma mohon Hakyeon aah… dia hanya akan mendengar ucapanmu… dia hanya mendengar perkataanmu. Kaulah yang diinginkannya"
Itulah beberapa permohonan dari Ken dan juga Mrs. Jung yang diucapkan sambil memohon padanya, dan Hakyeon sangat tidak bisa melihat seseorang memohon padanya. Dan sejak itulah Hakyeon setuju untuk membantu.
Dan sekarang Hakyeon baru saja tiba di dirumah sakit dan langsung menuju tempat biasa ia duduk untuk kembali bercerita kepada mantan kekasihnya ini.
"bicaralah terus kepadanya. Sekalipun otaknya tidak merespon, tapi semua ucapanmu akan didengar olehnya"
Itulah yang diucapkan oleh Kim Uisa yang tidak lain adalah appa mertua Hakyeon. Beliau juga mendukung Hakyeon dan segala usahanya.
Hakyeon tanpa ragu kini menggenggam tangan Leo, mengelus elus perlahan tangan tersebut. Sambil memperhatikan mata yang terpejam itu. Hal yang dulu sangat disukai Leo adalah berbaring di paha Hakyeon, lalu Hakyeon akan mengelus dengan perlahan rambutnya.
"annyeong Leo yaa… kau bisa merasakan kehadiranku lagi?"
Hakyeon mulai mengajak bercerita.
"aku datang lagi. Ku harap kau tidak bosan nee…"
Sesekali tangannya yang satu lagi membenarkan selimut didada Leo.
"bukankah kau sudah berjanji untuk hidup lebih baik? Kau sudah berjanji diakhir kita bertemu. Lalu kenapa kau berdusta heum? Ah… yaa… aku ingat sekarang, kau itu kan seorang pembohong. Kau selalu membohongiku, selalu mengkhianatiku, dan selalu menyakitiku. Wae Leo yaa?"
Inilah yang terjadi setiap kali Hakyeon bercerita dengan namja tidur ini. Dia akan terbawa suasana, dan pada akhirnya dirinyalah yang menangis.
Hakyeon menghapus air matanya dengan satu tangannya. Air mata itu keluar begitu saja, dan sebisa mungkin Hakyeon menahan isakannya.
"kau tahu… sesering apapun kau membohongiku, sesering apapun kau menkhianatiku, aku akan selalu memaafkanmu. Kau tau kenapa?... karena… karena aku mencintaimu. Itu saja. Karena aku yakin cinta yang selalu ada akan mengalahkan cinta sesaat"
Hakyeon memejamkan matanya, memori memori ketika dirinya mendapati kekasihnya berselingkuh dengan namja dan yeoja berkelibat dikepalanya. Hakyeon memang tidak mengeluarkan amarahnya, Hakyeon lebih memilih memaafkan, karena ia tahu Leo mencintainya.
"aku sudah memaafkanmu… jadi bangunlah. Mari kita hidup kembali, perbaiki hati kembali. Bersama…. Bersama pasangan masing masing…"
TES
Hakyeon mengucapkan itu dengan begitu pahit. Membayangkan setelah ini mungkin Leo akan hidup kembali dengan istrinya. Dan dia?
Hei, tidak usah mengkhawatirkannya. Dirinya memiliki triplets, harta berharga yang tidak mau ia tukar dengan apapun.
*****Sorry*****
Ken duduk seorang diri dibangku taman rumah sakit. Dia baru saja akan masuk ke kamar rawat Leo, tapi begitu melihat Hakyeon sudah duduk disana membuat dirinya mengurungkan niatnya masuk. Namun Ken masih bida mendengar dengan jelas ucapan Hakyeon. Rasa bersalah itu muncul kembali, membuatnya kembali terisak dibangku taman seorang diri. Sampai kapanpun ia akan tetap bersalah karena merusak hubungan keduanya. Lalu apa yang harus Ken lakukan untuk menebus kesalahan itu?
Tapi setidaknya Ken bisa bernafas lega, karena dirinya akan melepas Leo untuk kembali kepada Hakyeon. Bukankah Kim Jisoo telah tiada? Pintu untuk mereka kembali telah terbuka lebar.
"sudah ku bilang untuk tidak menangis lagi"
Seseorang menjulurkan sapu tangannya dari arah belakang, membuat Ken berbalik untuk melihat siapa pemilik suara itu.
"tsk… kau tambah jelek asal kau tahu" tambahnya lagi setelah Ken menerima sapu tangan miliknya.
"Ravi yaa… hiks…"
Ken menjatuhkan dirinya kepelukan Ravi yang kini sudah duduk disebelahnya. Sudah menjadi kebiasaan Ken yang akan menjadi begitu lemah didepan Ravi. Akan selalu menyandarkan tubuhnya ketika ia bersedih di dada Ravi.
"kenapa lagi heum?"
Dan Ravi tidak keberatan dengan itu semua. Dirinya sudah terbiasa menjadi sandaran namja cantik ini. Justru sebaliknya dirinya begitu senang dengan sikap manja Ken.
"hiks… aku.. aku menangis karena bahagia…. Hiks.."
Ravi mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"bahagia kenapa heum? Kau bahagia tapi menangis"
"ntahlah… aku hanya bahagia saja… ada hakyeon hyung… " Ucap Ken
Ken melepakan pelukannya, menghapus airmatanya dengan sapu tangan milik ravi tadi, lalu menampilkan senyumnya pada Ravi.
"Ravi yaa… kenapa kau baik sekali padaku"
"…"
Ravi hampir saja salah tingkah, namun ia berhasil mengkondisikan dirinya.
"wae? Kau tidak mau aku baik padamu?"
"tsk… bukan begitu. Errr… aku hanya takut saja jika kekasihmu akan marah nantinya" ucap Ken
"ahahahha….. kau menyindirku?"
"eoh? Apa maksudmu?"
"ah sudahlah… nanti suatu saat aku akan mengenalkan kekasihku padamu. Mudah mudahan saja dia mau menerimaku"
"dia tidak boleh menolak pria baik sepertimu. Jika ia menolak katakan padaku, aku akan menegurnya. Arra?" Ken memasang wajah serius seperti memberi ultimatum kepada Ravi.
"ahahahhaha… baiklah baiklah…"
Dan Ravi hanya bisa tertawa mendengar ucapan namja cantik didepannya ini. 'bagaimana jika ternyata kau yang menolak Kenie' batin ravi.
*****Sorry*****
"apa masih belum ada tanda perubahan?"
Jaejoong yang baru datang menghampiri Hakyeon, yang amsih setia menggenggam tangan Leo yang tertidur.
"belum ahjumma…" geleng Hakyeon "kurasa percuma saja… Leo tidak lagi mendengarku, atau mungkin ia melupakanku.."
"jangan berbicara seperti itu chagi… kaulah yang dibutuhkannya. Jangan putus asa heum… umma yakin sebentar lagi dia akan bangun" ucap Jaejoong
Hakyeon mengangguk lemah. Dirinya juga sudah lelah, tapi kakinya tidak pernah lelah untuk tetap terus datang kemari. Tangannya tidak pernah lelah untuk terus menggenggam tangan Leo, hal yang sudah lama ia lupakan.
"chagi yaa… ceritakan tentang keluargamu…"
Jaejoong mengajak Hakyeon untuk duduk disofa. Ia tahu, namja kesayangannya ini pasti lelah duduk berjam jam menemani putranya. Jadi ia mengajak Hakyeon untuk menyandarkan bahunya sejenak.
"sudah lama umma ingin menanyakan kehidupan keluargamu…"
Hakyeon hanya bisa tersenyum kecil membayangkan kehidupan rumah tangganya.
"yaa seperti yang pernah aku ceritakan. Suamiku meninggal ketika usia pernikahan kami 5 bulan dan saat itu aku sedang mengandung"
Jaejoong kembali lemas ketika kembali mengingat jika namja yang pernah ia klaim sebagai calon menantunya ini telah memiliki anak. Ia angat berharap jika Hakyeon akan melahirkan cucunya, keturunan Jung.
"maksud umma… apa kau bahagia?"
"nee… aku sangat bahagia ahju.."
"bisakah kau memanggilku umma? seperti dulu? Sangat terasa asing saat kau memanggil ku ahjumma"
"nee baiklah umma…aku bahagia sekali… aku jadi tahu bagaimana rasanya mengandung. Dan apa umma tahu anakku itu kembar. Bisa umma bayangkan betapa besarnya perutku ketika mereka ada didalam perutku?"
Jaejoong memandang Hakyeon dengan amta berbinar binar. Membayangkan ketiga anak kembar berlari lari.
"jinjaa? Triplets? Agoooo…. Apa mereka cantik sepertimu?"
"aiisshhh… mereka bertiga namja umma… mereka sangat tampan….hiihihihih"
"pasti mereka tampan nee… seperti… appa mereka" Ucapan Jaejoong melemah diujung kalimatnya.
"Tidak, mereka tampan seperti ummanya. Hahahahaha... Apa umma mau melihat mereka?"
Sebenarnya Jaejoong angat ingin mengatakan iya. Tapi ada sedikit rasa sakit saat mengingat triplets bukanlah cucunya.
"kapan kapan bawalah mereka kemari"
"aku tidak yakin umma, karena mereka itu sangat susah sekali diam… hahaahah" hakyeon begitu semangat menceritakan tentang anaknya.
"sepertinya kau bahagia chagi…umma harap nanti setelah ini kau akan melahirkan cucu untuk keluarga Jung" ucap Jaejoong
"hah?"
*****Sorry*****
"deyaniii andeee….minggukie andeee…"
Manse mengibaskan tangannya dari bawah saat melihat kedua saudaranya sedang memanjat seluncuran diarena bermain mereka. pasalnya sekarang Daehan dan Mingguk mendorong seluncuran ke dinding dekat saklar lampu. Lalu mereka menaiki seluncuran untuk menekan saklar lampu tersebut.
"deyaniiiii…ande…. Mingguki apeun…." Manse terus berteriak , dan mengatakan jika kedua saudaranya nakal
Entah dimana ketiga pengasuh mereka, 5 menit yang lalu mereka ke dapur untuk membuatkan susu untuk triplet, namun belum kembali juga.
'ande andee andeeeeee….."
Manse berteriak kencang begitu lampi mati. Manse memang sangat takut akan gelap meskipun disiang hari. Persis seperti sang umma yang begitu takut akan gelap.
"astaga…. Manseyaa…" Yeri datang duluan dan langsung menekan saklar kembali dan seketika terang kembali. Yeri langusng menghampiri Manse yang terduduk dibawah sambil menangis.
"huweeeeeee…deyani…mingguki napeeuunn…..huwaaaaaaaaa"
Sedang kedua pelaku itu maish berdiri kaku di atas seluncuran menatap adik mereka yang menagis hebat.
"Daehani Mingguki turun" perintah Yeri
Keduanyapun menuruti ucapan pengasuhnya. Satu persatu turun dari seluncuran dan berdiri didepan Yeri.
Yeri yang masih menengkan Manse mencoba mengabaikan keduanya.
"sssttt… sudah Manse yaa…. Jangan mengis lagi. Noona disini…" ucapnya.
Dan Manse mulai tenang.
"Daehani Mingguki tidak boleh berbuat seperti itu lagi arra?"
Keduanya mengangguk polos.
"kalian menyakiti saudara kemba r kalian. Bagaimana jika nanti Manse sesak nafas karena takut? Kalian mau tidak dikasih jatah buah stramberry sebagai penutup makan?"
"andeeeee" keduanya menggeleng begitu mendengar kata strawberry
"kalau begitu minta maaf dan peluk adik kalian" perintah Yeri, lalu keduanya memeluk Manse sambil mengucapkan 'mianhae'.
"poppo" ucap Yeri lagi
Dan ketiga nya saling memberi ciuman sebagai permintaan maaf.
Hakyeon sedari tadi berdiri diambang pintu memperhatikan bagaimana anaknya saling meminta maaf dan memberikan kasih sayang mereka. tidak lupa ia mengucapkan kepada pengasuh anaknya karena turut membantu menerapkan disiplin kepada anaknya. Jika salah harus minta maaf, itulah yang diterapkan Hakyeon kepada ketiga anaknya.
"aigooo… anak umma pintar nee…kajja peluk umma" Hakyeon merentangkan tangannya untuk menyambut ketiga anaknya yang berhambur kepelukannya.
"aaahhh… umma menyayangi kalian.. tetaplah seperti ini babies" bisiknya dalam hati.
Setitik air mata mengalir dipipi Hakyeon, air mata kebanggaan eorang ibu yang berhasil melahirkan ketiga putra yang begitu pintar dan lucu. Harusnya bukan hanya ia yang bangga, tapi juga appa mereka. Ya dan Hakyeon sangat yakin jika appa dari triplets akan sangat bangga pada mereka dan harusnya dia bisa melihat triplet sekarang.
*****Sorry*****
'appa… thalangheyooo…'
'appa thalanghae…'
'appa nomugomawooo…'
'appa juga mencintai kalian nak…'
Keeempat orang itu saling berpelukan menyalurkan kerinduan, sedangkan Hakyeon cuma bisa berdiri dibelakang namja yang sedang berjongkok memeluk ketiga putranya. Hakyeon bahagia sekali, akhirnya triplets bisa merasakan pelukan hangat seorang appa.
'appa omma thalanghae….' Ucap si kecil manse
'appa harus pergi nak…'
'eoh?'
Hakyeon ikut menegang, ketiga putranya memasang wajah polos serta bingung atas ucapan yang mereka dengar dari appa mereka.
'oedi?' Manse bertanya dengan wajah polosnya, membaut sang appa sebenarnya tidak tega meninggalkan buah hatinya.
'appa harus pergi nak.. kalian harus menjaga omma dengan baik heum. Jangan buat omma menangis. Atau kalian tidak akan diberi strawberry lagi'
'aniii….' Mingguk menggeleng kuat 'belly nomu cohaae…' ucap Mingguk lagi
'kalau begitu jangan buat omma menangis. Kalian harus dengar apapun kata omma. Arra?'
'nee…' ketiganya mengangguk imut
Namja itu kemudian bangkit untuk bersiap siap pergi, tanpa menoleh kebelakang. Disana Hakyeon sudah menggigit bibirnya yang sebenarnya ingin menjerit agar namja itu tidak pergi meninggalkannya.
'kajimaa…' bisiknya
'appa pergi dulu… annyeeooong'
Namja itu melambai pada ketiga putranya, lalu kemudian berjalan menjauh dari hadapan mereka. sama sekali tidak melihat kebelakang, dimana Hakyeon berharap namja itu dapat melihat kebelakang sebentar, melihat jika dia sedang berdiri menanti kehadirannya.
'kajimaaa…' suara itu baru bisa keluar ketika namja itu udah menghilang dari pandangan mereka. 'hiks… kajima … aku mohon kajimaa….' Hakyeon ajtuh terduduk sambil menangis
Triplets yang mendengar suara dentuman langung menoleh kebelakang, dan langsung menghampiri umma mereka yang menangis.
'omma… uljima…" daehan, menghapus air mata Hakyeon dengan kedua tangannya.
'ommaa… ujimayooo… appa omma thalanghae' Manse, si kecil yang begitu sensitif. Melihat ummanya menangi membuat dia ikut menangi juga.
Lalu ketiganya memeluk Hakyeon dengan begitu erat, sambil membisikkan kata 'uljima'.
"KAJIMAAAAA…..HAH..HAHH..HAH…."
Dirinya terbangun dengan sura yang serak dan keringat yang membnajiri seluruh tubuhnya. Mimpi, Hakyeon bermimpi tentang namja yang meninggalkannya dan ketiga putranya. Mimpi itu serasa nyata bagi Hakyeon, hingga terbawa pada dirinya yang benar benar menjerit tidak mau namja itu pergi.
"hiks… hiks… kajimaa… hiks…" bahkan dirinya ikut terisak kini.
"ommaaaaaa….."
Brukk
Triplets satang dengan berlari menghampiri Hakyeon di ranjang. Namun ketiganya begitu kesusahan naik ke atas ranjang Hakyeon yang cukup tinggi. Tubuh gempal mereka berkali kali gagal.
"samchuuuuu…." Teriak Mingguk, tak lama muncul samchon mereka dari pintu.
"tsk… sudah samchon bilang jangan berlari dan tunggu samchon… kalian ini"
Hyuk mendatangi ketiga ponakannya dan membantu mereka menaiki ranjang Hakyeon. Mereka langsung memeluk Hakyeon.
"hiks…hiks…" Hakyeon tadinya sudah menghapus dengan cepat air matanya, namun kembali keluar ketika ketiga putranya berhambur memeluknya.
"omma… uljima…" ucap Manse
"hiks… nee.. umma sudah tidak menangis" hakyeon menghapus air matanya "naahh lihat umma sudah tidak menangis…"
"hehehehhe… umma thalangheyoo" ucap Daehan diikuti yang lain
"umma juga menyayangi kalian," Hakyeon memeluk ketiga buah hatinya.
Hyuk masih berdiri menatap keempatnya. Menatap interaksi keempat namja didepannya. Sedikit tersentuh melihat ketiga keponakannya dapat tumbuh dengan baik dan begitu mengerti apa yang dialami umma mereka. Sedari mereka lahir tidak pernah sedikitpun merepotkan keluarga Kim, dan ibu merekapun tak pernah menganggap ketiganya adalah beban.
Keluarga Kim menganggap triplets adalah suatu keberkahan, oleh karena itu triplets begitu disayangi keluarga Kim, dan sebisa mungkin membuat Triplet mersayakan kasih sayang seutuhnya meski tanpa kasih sayang seorang appa.
Triplets sedang bermain dengan ketiga pengasuhnya ditaman belakang rumah. Disana ada kebun khusus yang memang dibuat untuk triplets mengenal lingkungan alam. Triplets begitu aktif , sehingga disekeliling taman ditananmi rumput yang begitu tebal agar ketika triplets jatuh mereka tidak terluka.
Hakyeon duduk diteras rumah dengan segelas coklat panas dalam genggamannya. Menyaksikan ketiga bauah hatinya yang begitu lincah berlarian kesana kemari. Hatinya tersenyum hangat melihat tawa ketiga putranya. Namun dibalik senyuman yang ia munculkan sedikit tersirat rasa ketakutan dalam pikirannya. Sedikit rasa takut yang berhubungan dengan mimpinya.
"kau baik baik saja hyung?" Hyuk sedari tadi duduk di sebalh Hakyeon, memperhatikan raut wajah Hakyeon yang terkadang berubah sendu.
"eoh? gwaenchana.." jawab Hakyeon
"kau bermimpi buruk?" Tanya Hyuk "ceritakanlah… " Tawar Hyuk
"…"
"huft…"
Hanya helaan nafas yang terdengar dari salah satu mereka.
"aku takut hyukie yaa…." Lirih Hakyeon
"apa yang kau takutkan?" Hyuk membenarkan duduknya begitu Hakyeon mulai bercerita.
"…" Hakyeon terdiam
"apa menyangkut tentang mimpimu? Berhubungan dengan dia?"
Hakyeon mengangguk perlahan "aku merasa lelah, mungkin dia memang tidak mau lagi melihatku"
"sebenarnya kau melakukan ini semua untuk apa? apakah karena rasa kasihan kepadanya? Atau karena perasaanmu padanya tidak pernah berubah?"
Hakkyeon menoleh dengan cepat. Matanya bergerak gelisah, mencoba tidak menatap kepada Hyuk.
"bukan begitu..aa…aku… tentu saja aku hanya ingin membantu"
"kalau begitu kau tidak perlu takut, seandainya ia tidak bangun lagi. Kau sudah berusaha, dan jika ternyata dia lebih memilih untuk tidak bangun lagi…"
"ANDWEEEE"
Hakyeon spontan berteriak dan menatap sengit pada Hyuk. Lalu kemudian Hakyeon bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hyuk sendiri. Hyuk mengukir smirk jelas diwajahnya, dan bisa menyimpulkan bagaimana perasaan hyungnya itu.
******Sorry*****
Kakinya melangkah begitu terburu buru dilorong rumah sakit. Mengabaikan beberapa sapaan dari orang orang yang mengenalnya. Memilih untuk lebih cepat sampai ke dalam ruangan untuk melakukan hal yang biasa ia lakukan, namun kali ini langkah semangat yang dipacu rasa takut membuat semua terasa berbeda.
Membuka dengan sedikit tergesa pintu dihadapannya, lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ranjang dimana sosok yang terbaring itu masih belum menunjukkan perbedaan dari hari kehari. Masih tetap sama, ah ada yang berubah, wajah tampan yang biasanya bersih dan segar kini mulai ditumbuhi bulu bulu halus disekitar dagunya, lalu rambut itu mulai memanjang.
Hakyeon menyentuh daerah sekitar dagu Leo, dan ia merasakan begitu kasar daerah itu. dulu ia begitu senang mengelus dagu itu, dagu yang selalu bersih dari bulu bulu, rambut yang dulu selalu ia keringkan dan ia rapikan. Dan ia ingin mengulang kembali itu semua.
"lihatlah rambutmu sudah memanjang. Biasanya sebulan sekali kau memotong rambutmu. Lalu seminggu sekali kau mencukur bulu halus didagumu. Sekarang biarkan aku melakukannya. Arra?" Hakyeon tidak perduli jika nanti ia tidak mendapat persetujuan. Ia ingin membuat wajah itu terlihat tampan seperti biasanya.
Hakyeon merogoh tasnya dan mengambil alat dan krim pencukur yang tadi memang sengaja ia beli di minimarket. Lalu kemudian mengoleskan sedikit sedikit disekitar dagu Leo. Lalu kemudian mencukur perlahan bulu bulu halus disekitar wajah itu. Hakyeon tampak begitu telaten seperti orang yang sudah biasa melakukannya. Yaah memang dulu dirinyalah yang membantu Leo melakukan itu semua, jadi tidak heran jika sekrang ia begitu menikmati kegiatan yang ia lakukan sekarang.
"kau harus terlihat tampan…" Hakyeon mulai kembali berbicara "…jika kau bangun nanti jangan terkejut jika kau bertambah tampan… hahahhaha"
Tertawa sendiri pada ucapannya.
"Leo yaa… kapan kau akan bangun? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Kau harus bangun… karena aku akan mengatakannya hanya saat kau bangun. Jadi jika kau ingin mendengar maka bangunlah…" llirih Hakyeon.
Tangannya masih begitu telaten mencukur bagian dagu hingga krim didagu tersebut sudah habis dan bersih. Lalu kemudian Hakyeon membersihkan dengan kapas yang sudah diberi toner.
"Leo yaa… Jung Taekwoon…" Tangan Hakyeon berhenti didagu Leo. Memandangi wajah damai Leo yang begitu sejuk.
Hakyeon benar benar menyesapi wajah itu, meneliti bagian mana yang kurang. Tapi semua masih sama, bahkan bintik hitam diwajahnya juga masih sama sepeti tahun yang lalu.
"hiks…apa kau membenciku?"
Hakyeon mengigit bibirnya agar isakannya tidak semakin keras
"jika kau membenciku, tak apa… setidaknya kau bangun dan kau bisa mengusirku kembali…hiks"
Hakyeon menyeka airmatanya. "kau tahu… aku bermimpi sangat buruk. Hiks… aku bermimpi kalian meninggalkanku. Semua meninggalkanku. Umma meninggalkanku, suamiku juga meninggalkanku, lalu apa kau juga akan meninggalkanku? Hiks… aku mohon bangunlah…hiks…"
Cklek
Hakyeon menoleh kearah pintu, dimana pintu terbuka dan menampilkan sosok Jaejoong yang berjalan dengan begitu anggun sambil tersenyum kepada Hakyeon.
"sedang apa chagi?" Tanya jaejoong yang melihat Hakyeon dengan cepat cepat menghapus air matanya.
"aniya umma…" Ucap hakyeon, namun Hakyeon tidak dapat berbohong, karena suaranya kini serak dikarenakan isakannya tadi.
"chagii… kau menangis lagi?" tanya Jaejoong yang meraih Hakyeon kedalam pelukannya.
"hiks… aku harus bagaimana umma? hiks… sepertinya semua tidak ada gunanya, semua sia sia. Dia tidak mendengarkan kata kataku lagi… dia tidak mau bangun…hiks… dia tidak mencintaiku lagi umma… dia membenciku…hiks"
"anii… jangan katakan seperti itu. percaya pada umma sayang, Leo masih mencintaimu sangat" Jeejoong mengelus punggung Hakyeon, mencoba memberi kesabaran kepadanya.
"aku…aku…hiks… aku menyerah saja.."
"sssttt…. Jangan ucapkan itu… tidak sayang… tidak tidak… kau tidak boleh menyerah, karena kau yang dibutuhkannya…"
"tapi percuma umma…hiks"
"percaya pada hatimu. Tidak lama lagi semua akan berakhir sayang. Bertahanlah sebentar lagi…"
"…"
Hening sejenak, hanya terdengar suara isakan dari Hakyeon.
"bb..baiklah… aku akan mencoba lagi…"
"nah begitu baru Jung Hakyeon"
"ummaaa~"
"hahahhaha…"
Hakyeon tersipu malu dengan rona merah dipipinya, Jaejoong memanggilnya dengan sebutan Jung. Itu adalah harapan Hakyeon sedari dulu, menjadi bagian dari keluarga Jung, menyandang marga Jung.
"ah iyaa.. apakah Kenie sudah kemari chagi?"
"belum umma… wae?"
"tadi dia menelpon umma, katanya ada yang ingin ia sampaikan kepada kita. Sepertinya penting…"
"ahh begitu. Mungkin sebentar lagi" Ucap hakyeon, dan merapikan sedikit selimut didada Leo.
"mungkin tentang perceraian dia dengan Leo" ucap Jaejoong.
Hakyeon sedikit menegang. Sejujurnya dia merasa tidak enak kepada sahabatnya, tapi jika memang itu adalah yang terbaik untuk Ken dan Leo, dia bisa berbuat apa. kehidupan mereka tidaklah baik baik saja.
Cklek
"annyeooooonngg ummaa….yeoniii…."
Pintu kembali terbuka dan menampilkan sepasang namja yang sedang bergandengan tangan. Jaejoong terpokus kepada gandengan tersebut, sedangkan Hakyeon terpokus pada senyum cerah diwajah sahabatnya. Jujur saja, Hakyeon baru ini bisa melihat senyum sahabatnya kembali. Beberapa bulan ini, senyum itu hanya seperti senyum palsu. Dan hari ini Hakyeon dapat bernafas lega jika sahabatnya bisa menemukan hal yang bisa membuatnya tersenyum cerah lagi.
"ekhem… sepertinya kalian makin dekat saja. Umma menunggu kabar bahagia dari kalian" Jaejoong yang duduk disofa berpura pura membaca majalah, dan mengabaikan tatapan shock dari sepasang namja yang baru saja datang.
Ken menyadari sindiran calon mantan umma mertuanya itu, dengan spontan ia melepaskan gandengan tangannya dengan Ravi, dan berganti dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"aiisshh… umaaa… jangan menggodaku…" Ken mempoutkan bibirnya membuat Ravi sweatdrop karena melihat kemanjaan namja disebelahnya.
"ahahhahahha…." Hakyeon yang sedari tadi memperhatikan, ikut tertawa juga membuat Ken semakin salah tingkah.
"YAAKKK..yeoniii… kau jangan ikutan…" Ken berjalan mendekati hakyeon dengan kaki yang dihentak hentakkan.
Namun, semua seakan terhenti ketika matanya melihat sosok di ranjang tersebut. Ken berdiri kaku, lidahnya ikutan kelu.
Namja itu, Leo… dia melihat mata Leo bergerak seperti ingin membuka matanya.
"astaga…" lirihnya
Hakyeon serta Jaejoong menolehkan kepalanya kearah Ken memandang. Dan ketiganya ikutan menatap tidak percaya.
Hampir saja isakan bahagia keluar dari semua orang yang ada diruangan tersebut, tapi mereka menunggu sampai benar benar apa yang mereka lihat adalah nyata.
Hakyeon meraih tangan Leo, menggenggam tangan itu erat sambil membisikbisikkan kata kata syukur dalam hatinya.
"Leo yaa… kau bangun" lirih Hakyeon.
Mata itu membuka sempurna, menutup kembali karena mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya.
Dan ketika dia sudah benar benar membuka mata, ia menatap langit langit rumah sakit, lalu kemudian menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri. Lalu kemudian melihat ke sekitar dengan sedikit menggerakkan kepalanya.
"Ya Tuhaann… kau bangun nak… syukurlaahh" Jaejoong mendekati putranya dan mengecup kening Leo. Airmata bahagia mengalir dipipinya, betapa hari ini adalah hari yang ia tunggu.
Leo memberikan senyum kepada ummanya, ia sangat mengerti betapa ummanya menyayanginya. Ia bersyukur ummanya ada bersamanya saat ia membuka matanya.
Lalu kemudian matanya menatap orang orang selain Jaejoong. Menatap Hakyeon, dimana Hakyeon memberikan senyum terbaiknya setelah ia menghapus airmatanya. Ia tidak mau Leo melihatnya dalam keadaan yang menyedihkan.
Namun, Hakyeon menyadari pandangan itu berbeda. Pandangan datar yang biasa ia dapatkan dulu. Jantung Hakyoen berdegup kencang, takut apa yang ia takutkan terjadi.
Lalu Leo menoleh kearah namja yang ada dibelakang Hakyeon.
Berbeda, Leo berbeda.
Ia memberikan senyuman terbaik kepada Ken, bahkan ia mengulurkan tangannya yang tadi digenggam Hakyeon namun kini ia lepas. Ia mengulurkan tangannya kepada Ken berharap Ken menyambut uluran tangan itu.
"cha…chagi..ya.."
Meskipun terbata, tapi kalimat itu cukup jelas ditelinga mereka.
Ken yang masih berdiri kaku tidak tau apa yang harus diperbuatnya. Berjalan mendekat dan menyambut uluran tangan itu.
"mianhae…" lirih Leo "sudah..membuatmu… khawatir" ucapnya
Hakyeon menggenggam erat besi penggiran ranjang. Matanya menatap lantai rumah sakit, ia tidak sanggup jika dihadapkan dengan seperti ini lagi.
"sudahlah… kau sudah bangun.. itu bagus" ucap jaejoong, mencoba mencairkan kekakuan yang terjadi, meskipun ia sedikit heran dengan kelakuan anaknya.
"chagi…." Lagi Leo memanggil Ken dengan begitu mesra. Hakyeon bahkan ingin langsung menghilang dari ruangan ini.
"dia siapa?"
DEG
DEG
DEG
Jika itu pertanyaan yang ditujukan untuk orang lain, mungkin hati Hakyeon tidak sesakit ini. Tapi nyatanya pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya. Hakyeon melepas genggaman tangannya pada besi dipinggir ranjang.
"aku…aku.. aku permisi, ada urusan lain. Annyeong"
Hakyeon menunduk lalu kemudian melangkahkan kakinya dengan terburu untuk keluar dari ruangan. Dadanya terasa sesak sekali, sangat sesak. Berbeda saat mereka berpisah dulu, sakit yang sekarang beribu ribu kali lipat dari beberapa tahun yang lalu.
Sia sia sajakah waktunya sebulan lebih untuk selalu setia mendampingi namja itu. sia sia sajakah dirinya yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan namja itu dibanding dengan ketiga anaknya? Harusnya Hakyeon berpikir dulu sebelum mengambil keputusan ini. Harusnya ia bisa memikirkan resiko atau hal terburuk apa yang bisa terjadi. Agar ia bisa menyiapkan hatinya untuk tidak sakit kembali.
Tapi kini terlambat, karena namja itu sudah bangun dan fakta mengejutkan adalah Leo tidak mengingatnya.
*****TBC*****
