Disclaimer: I don't own Digimon.

Note: Hikari's POV


Chapter 4

Hari itu, langit yang kulihat memancarkan cahaya mentari kini telah diselimuti awan gelap. Sedikit demi sedikit terdengar suara gemuruh yang perlahan seperti ingin membunuhku. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku, sesuatu yang tak dapat kau gantikan dengan hal lain. Apapun yang kau lakukan, adalah hal yang sangat berharga untukku. Namun tidak seharusnya kau melakukan ini, berjuang dengan dirimu sendiri karena kau tidak ingin aku pergi... Tapi, itu semua adalah hal yang selalu ia lakukan sejak dahulu. Ya, aku mencintainya.. aku mencintai Takeru. Aku melihatnya lebih dari seorang sahabat, ia adalah malaikat penjagaku.

"Mamottekureteta nda yo ne..." aku bersenandung kecil.

Sekarang aku sedang termenung sambil menggenggam kamera yang menjadi hadiah ulang tahunku itu, gambar yang kuambil dari dunia digital itu meninggalkan banyak kenangan. Namun satu hal... aku tidak percaya jika semuanya akan berjalan seperti ini.

"Hikari, kau tidak apa-apa? Aku membawakanmu makan malam." suara seseorang menyadarkanku dari lamunan.

"Aku baik-baik saja," jawabku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia kemudian menghampiri, dan menaruh makanan itu tepat dihadapanku. "Terimakasih, Onii-chan. Namun aku tidak lapar.."

"Hikari... kau bisa ceritakan padaku jika terjadi sesuatu." Seperti layaknya kakakku, ia tak dapat berdiam diri jika melihatku dalam keadaan seperti , ia dapat terus bertanya sepanjang malam jika saja aku hanya diam.

"Onii-chan, aku butuh waktu untuk sendiri..." perasaanku sedang tidak dapat dikendalikan, aku hanya ingin berada dikamarku sendiri dan menghabiskan malam. Jikapun ada yang menemaniku, mungkin Tailmon. Namun aku menginginkan kesendirian untuk sekarang.

Kakakku beranjak meninggalkan kamarku, dan sebelum menutup pintu ia berpesan padaku. "Jangan lupa untuk makan malam.." kemudian terdengar pintu kamar ditutup itu aku sangat tidak bernafsu untuk makan, melihatnya saja aku sudah merasa kenyang. Jadi, aku tak menyentuh makan malam yang dibawakan kakakku.

Sesaat, aku mendengar suara telepon diluar. Aku tak memperdulikannya, karena sejak tadi rasanya aku tak memiliki semangat untuk melakukan apapun. Namun...

"Hikari! Telepon untukmu." Telepon untukku? Mungkinkah itu... Takeru?

Aku segera beranjak dan mengambil gagang telepon dari kakakku.

"Moshi moshi.." sapaku.

"Hikari-chaan!"

Dugaanku meleset, suara yang terdengar oleh telinga ku adalah suara Miyako. Ia memang sangat mudah untuk ditebak.

"Hei, Miyako-san. Bagaimana kabarmu?"

"Hihi, aku baik-baik saja. Hei cantik, apakah aku dapat menginap di apartementmu?"

Miyako-san, menginap disini? Sebenarnya itu bukanlah masalah, namun aku sedang dalam keadaan yang tidak baik seperti ini... Eh tunggu, mungkin ia dapat membantuku!

"Te-tentu, Miyako-san. Kau dan Poromon dapat menginap disini."

"Yuhuu! Arigatou ne. Aku akan ke apartementmu sekarang, sampai nanti Hikari-chan!"

"Baiklah, aku menunggumu Miyako-san."

Paling tidak, malam ini aku memiliki teman untuk mengobrol. Yah, mungkin diantara kalian mengatakan sebagai teman curhat. Tidak ada salahnya, Miyako-san adalah seseorang yang menyenangkan untuk dijadikan teman mengobrol.


Lima belas menit kemudian, aku mendengar seseorang mengetuk pintu apartementku. Sudah dipastikan itu adalah Miyako-san. Aku tak ingin membuatnya menunggu lama didepan pintu, lagipula ini sudah pukul delapan malam. Tidak mungkin ia akan menerima jika aku membuatnya berdiri disana dengan angin malam. Maka aku berjalan kearah pintu, dan membukanya. Hal pertama yang kulihat adalah seorang gadis dengan senyumnya yang sangat lebar itu menatapku, Miyako-san memakai setelan jaket dan celana jeans panjang. Ia juga membawa satu tas besar dan Poromon di lengannya.

"Hai Hikari-chan!" sapanya.

"Hai, ayo masuk! Biar aku bawakan tasmu.." ujarku pada Miyako dan mempersilahkannya masuk.

"Ah, kau tidak perlu repot-repot, aku dapat membawanya sendiri.."

Aku tersenyum dan melangkah masuk diikuti olehnya.

"Onii-chan, Miyako-san akan menginap disini." ujarku pada kakakku yang sedang menonton pertandingan sepak bola itu.

"Ah, selamat datang.." sapa kakakku pada Miyako yang tengah berdiri dibelakangku itu.

"Maaf merepotkan, Yagami-senpai.."

.

.

Odaiba

21:44

Miyako yang sudah tiba dikamarku itu, mulai membuka isi tasnya. Aku melihat ia membawa beberapa pakaian. Tunggu, untuk apa ia membawa sebanyak ini? Namun aku menahan keinginanku untuk bertanya, dan memperhatikannya.

"Hikari-chan, apakah kau keberatan jika aku menginap disini beberapa hari?" gumamnya setelah melipat beberapa pakaian dan memasukannya kembali ke dalam tas.

"Tidak sama sekali, Miyako-san. Lagipula dari esok hari, sekolahku akan mulai liburan musim panas. Aku heran mengapa kita tak mengadakan perkemahan setelah kita memasuki liburan, malah sebelumnya." Tukasku mengingat rencana perkemahan satu malam kami yang berawal dari ide Daisuke.

"Entahlah, kau harus bertanya pada Daisuke-kun tentang hal itu. Ia kan yang memiliki keinginan untuk berkemah secara tiba-tiba."

"Ahaha, aku tau itu. Ne, Miyako-san.. apa kau sudah makan malam?"

Makan malamku yang belum kusentuh sama sekali, kutawarkan pada Miyako-san, lagipula.. akupun tak menginginkannya. Kelihatannya ia memang belum makan malam, sejak ia mengatakan orang tuanya keluar kota dan saudara-saudaranya memiliki kegiatan sekolah lain. Pantas saja Miyako-san ingin menginap disini, karena yang kuketahui ia tidaklah suka untuk sendiri apalagi jika saat malam di apartementnya.

"Ah.. aku sebenarnya memang belum makan malam, namun bukankah ini milikmu Hikari-chan?"

"Tak apa, aku sedang tak bernafsu makan.

Uhm… Miyako-san, aku ingin berbicara sesuatu denganmu."

.

.

Setelah Miyako-san selesai menghabiskan makan malam yang kutawarkan, aku dan dirinya memulai perbincangan sepanjang malam. Sebelumnya, kami mengganti pakaian kami dengan baju tidur. Miyako memakai kaus dan celana baggy, mungkin ia tak membawa apapun lagi kecuali yang biasa ia pakai sehari-hari. Kami duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidurku, disampingku ada Tailmon dan Poromon yang sudah tertidur pulas. Sebaiknya aku tidak berbicara keras-keras, atau aku akan membangunkan mereka.

"Miyako-san, apakah kau sudah mengetahui tentang… Takeru?"

"Eh? Apa yang terjadi dengan Takeru-kun?" pandangan nya sekilas berubah serius.

"Aku.. tidak mengerti." Sesaat, aku terdiam dengan kepalaku yang tertunduk.

"Tailmon baru saja mengatakan padaku, bahwa Takeru-kun menerima pesan dari Gennai belum lama ini. Isi dari pesan itu adalah, ia harus pergi menyelamatkan dunia digital.."

"Menyelamatkan dunia digital? Namun bukankah semuanya sudah kembali damai?" tanya Miyako.

"Tidak, kau tau Miyako-san.. jika ada Cahaya maka disana terdapat Kegelapan. Kau tak dapat menghapus kegelapan tanpa menghilangkan cahaya."

"Hmm, aku tidak yakin.. Bagaimanapun bukankah kau seharusnya tak terlihat murung seperti ini? Kau seharusnya senang memiliki sahabat sepertinya."

"Kau benar, Miyako-san. Ia adalah seseorang yang berani. Aku sangat bangga dengannya, namun aku seperti ini karena… Takeru-kun mengorbankan dirinya untuk menjagaku.."

"Takeru-kun? Mengorbankan dirinya untuk menjagamu? Sungguh, Hikari-chan! Aku tidak mengerti hampir semua yang kau katakan.."

Tanpa memperdulikannya, aku terus saja mengatakan apa yang saat ini sedang berkecamuk didalam diriku, pikiranku, perasaanku.

"Didalam pesan itu, seseorang yang dapat pergi adalah aku atau Takeru. Tanpa ia mengatakan hal ini padaku terlebih dahulu, ia memutuskan untuk pergi!"

"Aku benci padanya! Mengapa ia tak pernah membiarkan ku sedikitpun! Aku tidak perca..." suasana hatiku yang sedih berubah menjadi emosi sedemikian cepat.

"Hikari-chan…" ia menyentuh pundakku, dan meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

"Aku mengerti sekarang, dan... apakah kau mengetahui alasan Takeru-kun memilih semua ini?"

Aku menggelengkan kepala.

"Tidak kah kau memiliki perasaan pada Takeru-kun? Karena, ia menyukaimu.."


Sesaat, aku merasa tak berdaya. Api emosiku redup seketika setelah mendengar apa yang Miyako-san katakan. Takeru… menyukaiku? Namun, kami sudah menjadi sahabat lebih dari 5 tahun dan jika ia menyukaiku mungkin ia sudah mengatakannya sejak dahulu.

"Ta-tapi… mengapa?"

Miyako menggelengkan kepalanya, "Aku tak mengetahuinya, kau harus menanyakan hal itu sendiri pada Takeru.. "

Aku terdiam seribu bahasa seakan mulutku terkunci, aku tak menjawab apapun lagi. Bahkan seluruh pikiranku seperti menghilang. Bahagia? Tentu, aku sangat bahagia. Mengetahui seseorang yang kucinta juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Namun, ditangan lain.. aku merasakan kesedihan yang amat dalam.

"Hikari-chan, kau jangan sakiti dirimu seperti ini. Kau masih memiliki waktu untuk berbicara dengannya bukan?"

"Namun…"

"Sudahlah, Hikari-chan. Sekarang tersenyumlah, aku tidak mau melihatmu murung."

Aku mengangguk, bagaimanapun Miyako telah membuatku sedikit lebih baik.

"Miyako-san, arigatou ne."

Ia tersenyum, "Tak apa-apa, serahkan saja pada Miyako-sama!"

Aku tertawa melihat tingkahnya yang tidak berubah sejak dulu, ia adalah Miyako yang selalu kukenal. Seseorang yang mewarisi sifat penyayang dan tulus. Setelah aku mulai dapat tersenyum.. kami bercanda-tawa menghabiskan tenaga sampai akhirnya kami kelelahan. Aku mengakui, dalam hal mengelitiki ia tak terkalahkan. "Ahaha, ahaha! Miyako-san! Aku menyerah!"

"Baiklah, kurasa kau membutuhkan istirahat? Sepertinya ini sudah malam.." aku menatap jam dinding di kamarku menunjuk pukul 10 malam, akan terasa cepat jika kau bersenang-senang bersama teman dekatmu.

"Hoaaahmmm, kau benar.." ia menguap sambil mengangkat kedua tangannya.

Aku melihat ke tempat tidurku, sepertinya itu tidak akan cukup untuk kami berdua. Maka aku beranjak ke kamar kakakku untuk mengambil futon, toh ia tak memakainya. Perlahan aku mengetuk pintu kamar kakakku, karena jika ia tak berada diluar untuk menonton pertandingan sepak bola maka dapat kupastikan ia sudah tertidur pulas. Benar saja, tak ada jawaban dari dalam. Akupun memutar knop pintu kamar kakakku, dan berjalan masuk kedalam. Sudah kuduga, seorang ksatria keberanian dunia digital tengah didalam tidur lelapnya.

"Dimana ya? Sepertinya aku melihatnya disini." aku melihat ke sekeliling kamar, dan terpaku pada sesuatu disebelah lemari pakaian. "Ah ini dia!" Sepertinya cukup mudah untuk menemukan sesuatu dikamar kakakku jika dalam keadaan tertata rapi. Namun aku tak menjamin aku dapat menemukannya dengan mudah esok hari. Kalian tau, hal lain yang tak kumengerti adalah.. ia tak dapat menjaga kamarnya sendiri selayaknya ia menjaga dunia digital. Sebelum aku menutup pintu kamarnya kembali, aku melihat kakakku yang sepertinya tertidur sangat pulas. Bahkan tidak jarang ia mengigau dalam tidurnya, entah itu ia sedang bertarung bersama WarGreymon, atau ia yang berkali-kali mengatakan nama Sora. Baiklah, sepertinya apa yang kubutuhkan disini sudah selesai.

"Selamat tidur, onii-chan." Ucapku sebelum menutup pintu kamarnya.

Di kamarku, aku sudah merebahkan kasur dan memberikan Miyako-san sepasang selimut untuk dirinya tidur. Aku mematikan lampu kamar, dan menjatuhkan diriku dalam kenyamanan.

"Selamat malam Hikari-chan.." gumamnya sambil melepas kacamata.

"Selamat malam, Miyako-san.."

.

.

1 jam sudah berlalu, dan aku bahkan belum dapat memejamkan mata sedikitpun. Kulihat Miyako-san sudah terlelap, huft.. ia memang cepat sekali tertidur. Disaat seperti ini, mungkin segelas susu akan menenangkanku. Aku berjalan keluar kamar menuju dapur, kembali aku merasakan suasana apartement yang sangat sepi. Tepat seperti saat kakakku pergi berkemah musim panas, sayang sekali saat itu aku terkena demam dan harus tinggal dirumah. Namun aku tidak pernah menyangka jika ia ternyata pergi ke dunia digital, dan membawa Koromon kembali.

Aku menuangkan susu cokelat kedalam gelas, dan membawanya ke balkon apartement. Aku tak akan pernah melupakannya, balkon ini adalah tempat dimana aku bertemu Tailmon dan Wizarmon. Saat itu, aku sangat bahagia dapat bertemu dengan Tailmon. Begitu juga dengan Wizarmon, ia adalah orang yang teramat baik.. namun, mengapa ia harus pergi secepat ini? Apakah ini yang dikatakan takdir?

Malam itu, langit bertaburan cahaya bintang. Suasana hatiku menjadi sangat tenang ketika memandangnya, aku tau tak dapat memisahkan keduanya. Disaat malam hari yang gelap, kau masih dapat melihat angkasa luas dengan bintang bersinar.

Aku berharap, bersenandung dalam hening. Sudah kesekian kalinya bayanganmu itu melintas di alam bawah sadarku. Tak pernah kubayangkan jika akhirnya kau harus rela untuk melepaskan genggaman tanganku yang tak kulepas saat itu. Bukankah aku pernah berjanji padamu untuk tak melepaskanmu? Jika aku dapat mengatakannya, Piemon mengatakan hal yang benar. Lebih baik jika kita jatuh bersama.

"Osanakatta Futari e no rifurekushon…."

Aku melihat sesuatu bersinar terang melintas cepat dilangit, sebuah bintang jatuh. Aku memejamkan mataku, dan berharap dalam hati semua akan berjalan baik-baik saja.

"Terimakasih telah menjagaku.. Takeru."