"Painful memories didn't just ease back in—they shoved the door open hard, all of them at once." —Harlan Coben
CHAPTER 3
[-||-]
SWEET NIGHTMARE
Sebenarnya, apa yang menyebabkan seseorang bisa menderita gangguan mental? Well, meski penyebab dalam kebanyakan kasus gangguan jiwa sukar diketahui, berdasarkan hasil penelitian, hal ini kemudian menjadi jelas bahwa kondisi gangguan kejiwaan disebabkan oleh kombinasi dari tiga faktor; faktor keturunan, keadaan psikologis, dan faktor lingkungan.
Untuk kasus Baekhyun sendiri, keadaan psikologis yang rapuh dan lingkungan keluarga yang berantakan adalah penyebab utamanya.
Ayah Baekhyun adalah seorang pemabuk abusif yang senang berjudi. Ia bertubuh kurus, kepalanya botak dan memiliki kumis tebal. Sementara Ibunya adalah seorang control freak. Selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan pria itu membuat Ibunya merasa perlu untuk memperlakukan Baekhyun sesuai dengan pandangan yang ia pegang.
Baekhyun termasuk jarang dipukuli, hanya sesekali. Dan ketika Ayahnya melakukan itu, Ibunya menjadikan dirinya sendiri sebagai tumbal untuk menggantikan Baekhyun. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Baekhyun sering dipukuli, karena Ayahnya selalu memukulinya di bagian tubuh yang selalu tertutup baju.
Suatu hari setelah pulang sekolah—Baekhyun berumur 11 tahun kala itu—bertanya kepada Ibunya tentang mengapa Ayahnya selalu memukulinya, dan Ibunya menjawab dengan senyum letih. "Karena Ayah menyayangi kita."
Baekhyun tidak memahaminya, namun ia mempercayai Ibunya lebih dari apapun.
Wanita itu sedang berdiri di depan oven, memanggang kue tart lemon. Baunya memenuhi ruangan dapur yang sempit. Uang hasil dari menjual kue tart itu adalah biaya untuk Baekhyun sekolah, setidaknya sebelum Ayahnya merampas uang itu sambil menjambak rambut Ibunya—berteriak bahwa ia butuh membeli minuman keras.
Baekhyun duduk di kursi meja makan, memandangi beberapa kue tart di atas nampan yang sudah matang. Ia merasakan perutnya keroncongan, lalu ia merentangkan tangan mungilnya untuk meraih nampan. Namun Ibunya menepis tangannya dengan sangat kasar.
"Cuci tangan dulu," katanya, memperingati. Ia tersenyum kepada Baekhyun, namun matanya tidak menunjukkan kasih sayang. "Ayah akan sangat menyayangi kita kalau kita bersih, benar 'kan? Baekhyunnie?"
Baekhyun merasakan punggung tangannya berkedut nyeri. "Iya, Bu." Jawabnya, patuh, lalu turun dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya.
Ia kembali ke dapur hanya untuk mendapati Ibunya memelototinya. "Sudah gunakan sabun?"
Baekhyun mengangguk.
Tapi Ibunya tidak mempercayainya, berjongkok di depan wajahnya hanya untuk menarik lengannya. "Lihat!" Wanita itu menunjuk kuku-kuku jari tangan Baekhyun yang kotor, berwarna hitam. "Kau bermain di kubangan pasir lagi?!"
Baekhyun menggigit dinding mulutnya, merasa bahwa dirinya ketahuan. "Ti-tidak, Bu."
"Apanya yang tidak?!" Ibunya mulai berteriak histeris. Ia mendorong bahu Baekhyun hingga bocah mungil itu jatuh terduduk, meringis. "Inilah sebabnya," sambung Ibunya, suaranya bergetar, matanya menuding Baekhyun penuh benci, "inilah sebabnya ia sering memukuli kita—memukuliku! Karena kau anak kotor dan jelek!"
Baekhyun mulai menangis. "Maafkan Baekhyunnie, Ibu, Baekhyunnie tidak akan melakukannya lagi. Maafkan Baekhyunnie."
Namun Ibunya kalap, dan ia melemparkan nampan besi berisi kue tart lemon kepada Baekhyun. Nampan besi itu mengenai kepalanya, dan Baekhyun menangis makin keras dengan kue tart yang hancur di sekeliling tubuhnya.
Seakan baru tersadar saat mendengar raungan Baekhyun, wanita itu dengan cepat bersimpuh dan meraup Baekhyun dalam pelukannya. "Oh, astaga, maafkan Ibu, Baekhyun-ah. Maafkan aku."
Inilah salah satu alasan kenapa Baekhyun tidak pernah membenci Ibunya. Wanita itu sama rapuhnya, sama tidak stabilnya dengan Baekhyun.
Wanita itu kemudian mengangkat Baekhyun hingga berdiri, memegang kedua bahunya dan meremasnya kuat. "Ingat, Baekhyun. Harus selalu bersih. Kalau kita bersih, Ayah akan menyayangi kita. Kau mengerti?"
Baekhyun mengangguk, merentangkan tangan untuk memeluk Ibunya. "Eung."
Kemudian, seperti kerasukan, wanita itu menggendong Baekhyun dan membawanya ke kamar mandi, lalu mulai membuka bajunya dan menyiramnya dengan air. Ia meraih sikat dan menggosok kuat tubuh Baekhyun, memberi bilur-bilur merah di sepanjang lengan, punggung dan kakinya. Baekhyun berjengit, tapi ia menahan tangisnya. Ia tidak berteriak bahwa semua perlakuan Ibunya membuatnya kesakitan. Wanita itu kemudian meraih tangan Baekhyun dan menggosok kuku-kukunya, membuat kutikulanya terkelupas dan berdarah.
Wanita itu menghempaskan sikatnya, lalu berdiri dan tersenyum puas. Ia mengambil handuk dan membungkus tubuh Baekhyun, lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar, memakaikannya baju bersih.
Semuanya kenangan itu terasa kabur untuk Baekhyun sebelumnya, tapi ketika ia mulai mengikuti terapi dari Profesor Choi, kenangan-kenangan itu mulai kembali dan terasa makin jelas.
Ia mulai memahami betapa 'sakit' Ibunya, betapa wanita itu sangat butuh pertolongan namun tak seorang pun peduli. Sejak kecil, Baekhyun selalu berpegang teguh bahwa semua yang dikatakan Ibunya adalah benar. Baekhyun menyadari bahwa Ibunya meracuni pikirannya sejak kecil, tidak membiarkan Baekhyun bermain bersama teman-temannya dan hanya berdiam diri di rumah. Suatu ketika wanita itu menjemputnya dari sekolah dan Baekhyun ingin bermain lebih lama, ia berkata, "banyak debu, kotor. Kau bisa sakit." Wanita itu kemudian menunjuk salah seorang temannya yang bermain di kubangan pasir, "kotor. Dimana-mana kotor, banyak bakteri, dan bakteri adalah sumber penyakit. Ibu tidak mau Baekhyunnie sakit."
"Kalau Baekhyun bermain dengan mereka, lalu siapa yang akan menemani Ibu?" wanita itu memegangi kedua tangannya erat, "Baekhyun bisa bersenang-senang dengan orang lain sementara Ibu hanya punya Baekhyun. Apa Baekhyun akan meninggalkan Ibu?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak."
Dengan kalimat seperti ini, Baekhyun tidak pernah lagi bersosialiasasi dengan orang lain. Ibunya menutup segala koneksi. Di dunia kecilnya, hanya ada dirinya sendiri dan Ibunya terkasih.
Ia mengingat dengan jelas semua pembicaraan mereka. Semua yang terjadi, di kamar, di dapur, di kamar mandi. Semua kehidupannya berpusat di sekitar rumah sempit dan kumuh.
"Baekhyun," Ibunya berkata, suaranya terdengar dingin, "rapikan dengan benar." Ia menunjuk gelas-gelas di rak, "kau menyusunnya dengan salah. Mulai dari gelas plastik dulu, lalu gelas kaca dan gelas keramik."
Baekhyun mengangguk dan mengikuti perintah Ibunya, dan ketika ia selesai melakukannya, Ibunya akan menepuk kepalanya dan memberinya senyum hangat. "Anak baik," pujinya.
Baekhyun tidak yakin kapan persisnya, namun perasaan takut akan sesuatu yang kotor, virus dan bakteri serta ketidakrapian mulai mendarah daging dalam tubuhnya. Perlahan-lahan, ia mulai ketakutan melihat sesuatu yang kotor atau hal-hal yang tersusun tidak beraturan. Ia beranggapan kalau ia sakit, maka Ibunya tidak akan menyayanginya.
Ia mulai berjengit ngeri ketika melihat setitik debu di lantai, menjauh dari orang-orang yang batuk sembarangan, memakai sarung tangan bahkan saat ia di sekolah. Teman-teman sekelasnya memanggilnya Si Sinting Byun, karena ia seringkali memakai masker dan sarung tangan, duduk di kursi beralaskan sapu tangan di kelasnya. Baekhyun tidak terlalu peduli dengan teman sekelasnya kala itu. Lagipula ia tidak pernah benar-benar berbicara dengan mereka.
Guru-guru bahkan menyerah untuk memperingatinya, bahkan saat mereka meminta kehadiran orang tua murid di sekolah, Ibunya tidak pernah datang. Wanita itu hanya berkata bahwa mereka semua ingin menularkan virus kepada Baekhyun, dan Baekhyun harus berhati-berhati terhadap mereka.
Kemudian, ketika ia menginjak sekolah menengah, Ibunya pernah begitu murka terhadap Baekhyun hanya karena ia tidak melipat cucian dalam satu tumpukan dengan ukuran yang sama.
"Kau mencampur handuk kecil dengan handuk yang besar,," Ibu Baekhyun berkata, suaranya bergetar marah. "Lihat! Ukurannya tidak sama! Bagaimana mungkin kau menumpuk lipatan kecil dengan lipatan besar?!"
Baekhyun sudah sering mendapati Ibunya kalap seperti itu, dan ia sudah belajar untuk tidak menangis lagi. Jadi ia mengangguk dalam diam dan kembali merapikan tumpukan cucian itu.
"Kau lihat 'kan, Baekhyunnie?" Ibunya duduk di samping kasur, memandangi Baekhyun merapikan cuciannya, "tumpukannya terlihat sangat salah. Bagaimana menurutmu?"
Baekhyun mengangguk menyetujui. "Ya. Sangat salah."
Wanita itu memegangi dadanya. "Sangat salah hingga membuatku sesak. Mulai sekarang kau harus menumpuk lipatan cucian sesuai ukurannya."
"Ya, Bu."
Satu hal yang Baekhyun sangat yakin, Ayahnya tidak begitu banyak terlibat dalam momen-momen hidupnya. Karena pria itu senang mabuk dan berjudi, ia hampir tidak pernah pulang, kecuali ia kehabisan uang. Dan ketika ia pulang, itu bukanlah kenangan yang ingin Baekhyun ingat.
Tapi ia mengingat semuanya begitu jelas, bagaimana rupa pria itu, bagaimana cara ia berjalan dan cara ia berbicara.
Ibu Baekhyun mungkin sakit, tapi wanita itu melindungi Baekhyun dengan segenap jiwa dan raganya. Ada hari-hari dimana pintu rumahnya akan terbanting keras saat tengah malam, dan Baekhyun yang tertidur dalam pelukan Ibunya akan terbangun, begitu juga dengan Ibunya. Seperti biasanya, Ibunya akan mengunci Baekhyun dalam kamar dan menghadapi Ayahnya sendirian.
Sebelum mengunci pintu, hal yang paling sering wanita itu katakan adalah; tutup telingamu dengan bantal dan tidurlah.
Tapi Baekhyun tidak menurutinya setiap hal itu terjadi. Memang benar ia menangkupkan kepalanya dengan bantal, tapi ia masih bisa mendengar kedua orang tuanya berteriak nyaring penuh makian, disusul bunyi pecah dan bunyi tubrukan keras.
Baekhyun mendengar wanita itu berteriak, "Bagaimana kau bisa masuk?!"
Tapi balasannya hanyalah amukan dan bunyi pecah terdengar. Pria itu berteriak kalap, "beri aku uang!"
"Tidak ada!" Baekhyun mulai mendengar isakan, "Baekhyun memerlukannya untuk membeli buku paket! Aku tidak bisa mem—"
Bunyi pecahan lagi.
"Kenapa kau repot-repot membesarkan anak? Buang saja ia ke jalan, seseorang akan memungutnya!"
Baekhyun berjengit dan menutup kedua matanya kuat-kuat tiap kali ia mendengar bunyi pecahan. Cengkramannya makin erat di sekitar bantalnya.
"Aku yang akan membesarkannya," suara Ibu Baekhyun kian mengecil, "aku yang akan melakukannya…."
Baekhyun tidak bisa mendengar percakapan apapun lagi setelahnya karena Ayahnya pasti mengamuk. Ia hanya mendengar teriakan Ibunya, dan Baekhyun bisa menyimpulkan bahwa wanita itu sedang dipukuli habis-habisan.
Ibunya tidak masuk ke kamar bahkan setelah matahari mulai menampakkan diri, dan Baekhyun masih terkunci di kamar. Ia mendengar bunyi klik pelan tak lama setelah itu, dan daun pintu perlahan terbuka.
Baekhyun bangkit dan berjalan menuju dapur, melihat ruangan yang selalu dijaga Ibunya agar bersih dan tertata rapi kini berantakan. Pecahan gelas dan piring dimana-mana, sementara wanita itu bersimpuh di tengah-tengah pecahan itu. Ada sedikit noda darah yang sudah mengental di lantai.
"Ibu," panggil Baekhyun.
Wanita itu mendongak, kemudian bangkit. Sebelah matanya bengkak dan membiru, hidungnya berdarah, dan bilur-bilur nampak di sepanjang lengan dan kakinya. Baekhyun melihat wanita itu kemudian berjalan kearah Baekhyun, menginjak beling-beling yang berserak di lantai.
Baekhyun menyadari bahwa noda darah di lantai berasal dari telapak kaki Ibunya. Wanita itu menginjak pecahan-pecahan gelas dan piring tanpa alas kaki.
Perlahan, ia jatuh di depan Baekhyun dan memeluk bocah itu.
"Maafkan Ibu, nak," wanita itu mulai tersedu, "kita tidak akan bisa membeli buku paketmu…."
Baekhyun memeluk leher Ibunya. "Tidak apa-apa, Bu. Aku bisa meminjamnya dari teman—"
"Tidak boleh!" Ibunya melepaskan pelukannya, semerta-merta memegang kedua bahu Baekhyun. "Buku itu sudah disentuh oleh mereka berkali-kali. Kau bisa bayangkan betapa banyak bakteri yang menempel di sana? Bagaimana kalau kau sakit?"
"Ba-baiklah," jawab Baekhyun cepat. "Baekhyunnie tidak akan melakukannya."
Baekhyun menyadari bahwa mata Ibunya memancarkan ketakutan. "Kau tidak akan meninggalkan, Ibu 'kan, Baekhyun?"
Si mungil itu mengangguk. "Tidak akan. Janji."
Setelah melalui hari-hari dengan berbicara mengenai trauma masa kecilnya kepada Profesor Choi, Baekhyun tahu bahwa jauh di dalam sana, Ibunya sudah hancur berkeping-keping. Baekhyun berpikir bahwa ia selalu membutuhkan Ibunya, tapi ternyata malah sebaliknya. Yang membuat Ibunya bertahan selama itu hanyalah Baekhyun. Baekhyun adalah dunianya.
Hal ini menjadi alasan lain kenapa Baekhyun tidak akan pernah bisa membenci Ibunya, bahkan setelah mengetahui bahwa gangguan mental yang ia derita berasal dari tekanan wanita itu terhadap Baekhyun selama bertahun-tahun.
Ia menderita gangguan obsesif komplusif, atau obsessive-compulsive disorder (OCD). Gangguan ini membuat Baekhyun selalu berpikiran negatif yang terus-menerus membuatnya merasa gelisah, takut, dan khawatir. Sehingga untuk menghilangkan kecemasan itu, ada obsesi berlebihan dari si penderita. Gejala yang Baekhyun alami adalah washers (mencuci tangan dan mandi berulang kali), serta symmetry dan orderliness (mengatur setiap hal secara berurutan, rapi, simetris dan sejajar).
Berdasarkan penelitian Profesor Choi terhadap Baekhyun, ia menyimpulkan bahwa Baekhyun pada awalnya hanya menderita gangguan obsesif komplusif (karena tekanan dari Ibunya semenjak kecil), namun kemudian mengembangkan gangguan jiwa lain setelah suatu kejadian di malam musim dingin tahun 2012, ketika Baekhyun berumur 18 tahun.
Kejadian itu pula yang kemudian membuat Baekhyun mulai melihat sesuatu—sesuatu yang ia deskripsikan sebagai sulur-sulur hitam yang selalu bergerak, berbisik dan menguarkan bau busuk yang bervariasi.
Setelah meneliti perilaku Baekhyun selama berbulan-bulan, Profesor Choi kemudian menyimpulkan bahwa Baekhyun adalah remaja 18 tahun yang menderita gangguan obsesif komplusif dan skizofrenia.
Uniknya, adalah kenyataan bahwa skizofrenia yang dialami Baekhyun masih berhubungan erat dengan gangguan obsesif komplusif yang dideritanya.
Baekhyun mengaku ia melihat sulur-sulur itu sejak kejadian itu, dan terus-menerus melihatnya. Untuk satu episode yang langka, sulur itu dapat membentuk wujud seorang pria kurus berkepala botak dan berkumis tebal, dan bahkan berbicara kepada Baekhyun.
Tapi episode tersebut terjadi sangat jarang. Baekhyun mengalaminya secara total hanya sebanyak dua kali. Saat kejadian itu terjadi, dan ketika Profesor Choi memberinya sebuah trigger (pemicu atau rangsangan) berupa video kekerasan rumah tangga yang ia putarkan di depan Baekhyun.
Terdengar agak kejam dan tidak manusiawi, memang. Namun Profesor Choi melakukannya untuk sebuah tujuan; memberikan jenis terapi yang tepat kepada Baekhyun.
Setelah mengikuti terapi bertahun-tahun, Profesor Choi yakin bahwa halusinasi Baekhyun akan sulur-sulur itu mulai membaik. Baekhyun memang masih melihat mereka, tapi hampir tidak pernah melihatnya membentuk wujud manusia.
Sampai ketika malam itu, ketika ia diseret paksa untuk masuk ke dalam kurungan.
Ia melihatnya, seakan pria itu kembali dari kematian—Ayahnya.
Jongdae jelas melewatkan banyak hal. Ia sedang mondar-mandir di ruangan medis pagi itu ketika Profesor Choi masuk, berlari dengan panik.
Pria itu melambaikan tangannya, menyuruh Jongdae untuk mengikutinya. "Jongdae, ayo!"
Jongdae menatapnya bingung, berusaha untuk memprotes karena ia tidak mungkin berlari seperti itu karena tulang rusuknya nyeri. Tapi ia akhirnya mengikuti pria itu dari belakang.
"Ada apa, Profesor?" tanyanya, ketika tubuh mereka sejajar.
Profesor Choi memelankan langkahnya, memijit batang hidungnya. "Teman sekamarmu mendobrak pintu tadi malam. Aku sedang tidak bertugas disini, jadi perawat yang berjaga malam memukuli mereka dan memasukkannya dalam kurungan."
Jongdae terkesiap, menghentikan langkahnya. Ia tidak tahu apa yang mungkin merasuki teman sekamarnya, tapi mereka bukan tipe pasien yang senang mencari masalah, dan Jongdae merasa sangat ragu bahwa mereka mendobrak pintu untuk melarikan diri.
Tidak, tentu saja tidak. Ada sesuatu yang terasa salah.
"Aku tahu," kata Profesor Choi dengan suara menyesal, "aku sungguh minta maaf."
Jongdae seharusnya tahu ini. Profesor Choi mungkin adalah satu-satunya orang yang benar-benar berpihak kepada pasien—maksudnya dengan niatan untuk menyembuhkan mereka alih-alih menjadikan mereka samsak tinju. Tapi Profesor Choi tidak bekerja secara penuh di rumah sakit ini. Pria itu hanya memberi konseling dan terapi dalam bentuk kegiatan sehari-hari, sementara kekuasaan sepenuhnya berada di Direktur Rumah Sakit Jiwa mereka, pria tua yang hampir menginjak enam puluh bernama Cha Wonseok.
Jongdae ingat pria itu pernah berkata kepada para perawat untuk melakukan semua hal yang perlu dilakukan untuk menertibkan para pasien—termasuk memukuli mereka.
Melihat keresahan Jongdae, Profesor Choi mengacungkan serenteng kunci di depan wajahnya. "Kabar baiknya, aku bisa mengeluarkan mereka sekarang. Jadi, ayo."
Jongdae mengangguk mantap.
Baekhyun berdiri ketika ia mendengar pintunya berderit terbuka.
Ia melihat Profesor Choi berdiri bersama Jongdae, menatapnya was-was.
Baekhyun setengah berlari keluar ruangan. "Profesor, aku—pria itu. Dia sakit, kami hanya berusaha menolongnya. Tapi mereka—mereka…" Baekhyun bergetar.
"Tarik napas, Baekhyun." Kata Profesor Choi. "Kau baik-baik saja. Tarik napas."
Baekhyun mengikuti perintah pria itu. Ketika ia merasa tenang sedikit, ia menggigit bibirnya dan melirik kanan-kiri dengan hati-hati. Baekhyun takut ia melihat sulur-sulur itu lagi—tapi ia belum melihatnya.
Mereka kemudian mendengar pintu di samping ruangan Baekhyun di gedor dengan sangat kuat dari dalam. Sebelah tangan terjulur dari lubang persegi di bawah pintu.
"Profesor Choi!" kata sebuah suara yang Baekhyun kenali sebagai Junmyeon.
Pria paruh baya itu segera membukakan pintu kurungan dan mendapati Junmyeon duduk bersila di belakang pintu. Wajahnya bengkak dan membiru sehingga Baekhyun hampir tidak mengenalinya. Hidungnya bengkok, jelas sekali bahwa luka sehabis dipukuli Chanyeol yang belum sembuh kemarin semakin bertambah parah. Perbannya bahkan sudah hilang entah kemana.
Tapi pria itu menyeringai. "Hai Jongdae." Katanya riang. "Bagaimana tubuhmu?"
Jongdae tersenyum, meringis sedikit. "Baik. Kurasa kau juga baik-baik saja?"
Junmyeon mengangkat bahunya, lalu menatap Profesor Choi. "Mereka memukuliku hingga aku pingsan. Karena ketika aku bangun, aku sudah berada di sini."
Profesor Choi mendesah, dan ia melepaskan kacamatanya. "Mana Minseok?"
"Di ruangan sebelahku, kurasa."
Profesor Choi membuka kurungan di sebelah kamar Junmyeon, dan mendapati Minseok sedang duduk dan menangis di ujung ruangan, memeluk lututnya. Jongdae adalah orang yang pertama maju, berjongkok untuk memeluk pria itu dan menepuk kepalanya.
Melihat itu, mata Baekhyun terasa panas. Semua ini mungkin saja tidak akan terjadi kalau ia tidak meminta teman sekamarnya untuk menolong Chanyeol tadi malam. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Chanyeol sendirian seperti itu.
"Aku mendengar seseorang mengerang dari kamar sebelah, kurasa itu Chanyeol." Kata Minseok pelan ketika Jongdae melepaskan pelukannya.
Tapi Profesor Choi sudah terlebih dahulu membuka kurungan di sebelah kamar Minseok, bahkan sebelum pria itu berbicara. Ia masuk ke dalam ruangan, dan Baekhyun mengikutinya, berdiri di depan pintu.
Chanyeol berbaring miring di tengah ruangan sempit, wajahnya pucat.
Profesor Choi berjongkok di samping tubuh Chanyeol, menyentuh lehernya dengan jari dan memeriksa suhu tubuhnya. Baekhyun mendengar pria itu menggeram rendah. Ia kemudian berteriak nyaring. "Aku butuh tandu! Seseorang sekarat disini!"
Baekhyun merasa kepalanya pening. Ia menutup mulutnya, perlahan berjalan mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan tembok. Baekhyun yakin ia tidak bisa membendung tangisnya, jadi ia berlari menjauh.
Ia sampai di kamarnya yang berantakan, melihat pintu teralisnya penyok.
Baekhyun berdiri di depan wastafel dan melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Pria itu tampak seperti yang selalu Baekhyun bayangkan; pria kurus, tidak terurus, jelek dan kotor.
Kau tidak akan bisa menolong siapapun. Kau malah mencelakai teman-temanmu.
Ia meraih sabun cair dan menuangkan isinya ke telapak tangan. Sedikit noda darah mengering di punggung tangannya, membuatnya merasa makin bersalah. Ia kemudian menggosok tangannya. Matanya berair, dan ia mulai tersedu.
Kau bahkan tidak bisa menolong Ibumu.
Baekhyun menggosok tangannya makin kuat. "Hentikan," pintanya pada seseorang di depan cermin. "Hentikan, kumohon…"
Baekhyun tidak yakin dengan apa yang telah terjadi setelahnya, tapi ia ingat Jongdae, Minseok dan Junmyeon kembali ke kamar beberapa jam setelahnya. Junmyeon diberi obat pereda nyeri, dan ditawarkan untuk menginap di ruangan medis namun ia menolak.
Mereka bertiga menawarkan untuk sarapan bersama, tapi Baekhyun menolak dan membungkuk dalam di hadapan mereka, berkata 'aku minta maaf' dengan pelan, lalu berlalu untuk membersihkan diri bahkan sebelum ketiga orang itu sempat memberikan reaksi.
Baekhyun menjauhkan diri dari mereka, menolak semua ajakan, menggeleng dengan halus meski ketiga orang itu memintanya bergabung dengan paksa. Baekhyun merasa bahwa ia menyebabkan segala kejadian hari itu, dan ia merasa tidak bisa bertatap muka dengan mereka karena rasa bersalahnya.
Keesokan harinya, beberapa tukang las memakai seragam bengkel datang untuk memperbaiki pintu teralis kamar mereka, dan Baekhyun masih belum mendengar apa-apa tentang pria berkepala silver itu. Lebih tepatnya, ia berusaha untuk tidak mencari tahu meski kakinya gatal untuk berlari ke ruang medis—namun ia sendiri berusaha untuk menstabilkan dirinya. Ia terguncang cukup kuat karena sosok Ayahnya kembali mendadak muncul, dan entah seberapa kuat ia mengalihkan pikirannya dengan menyusun botol, mengganti seprai dan mencuci tangan, semuanya tak kunjung membuatnya lega.
Oke, Baekhyun mungkin sedikit mendengar beberapa pasien berbicara tentang pria berkepala silver di ruangan medis, tapi Baekhyun tidak mendengar apapun lagi setelahnya.
Yang pasti, setelah kejadian malam itu, Rumah Sakit Jiwa Sowon mendadak geger. Profesor Choi mengamuk kepada beberapa perawat yang ia duga melakukan penyiksaan secara fisik kepada pria berkepala silver itu, sekaligus terhadap pasien di kamar 614—kamar Baekhyun. Ia memperkuat argumennya dengan rekaman CCTV di lorong, memperlihatkan tujuh perawat memukuli Junmyeon dan Minseok, ia juga mengatakan bahwa mereka menelantarkan pasien yang sedang sakit.
Profesor Choi mengancam untuk menjual cerita ini ke jurnalis, membuat Direktur rumah sakit mereka—Cha Wonseok, berkunjung ke rumah sakit dengan harapan agar ia dapat mendisiplinkan para perawat dan mengubah cara mereka memperlakukan pasien. Profesor Choi Shinwoo sudah belasan tahun berkelana dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya, namun ia berhenti di Rumah Sakit Jiwa Sowon untuk satu alasan—Byun Baekhyun. Menurut pria itu, kasus Baekhyun sangat menarik dan ia berniat untuk menulis buku tentang gangguan jiwa yang Baekhyun alami, dan bagaimana Baekhyun bisa mengalami kemajuan dengan cukup baik—dan tentu saja, semua ini sudah mendapat persetujuan dari Baekhyun.
Direktur Cha Wonseok datang tiga hari setelahnya, dan semua penghuni kamar 614 dipanggil ke dalam ruangan direktur. Baekhyun sudah merasa resah bahkan hari-hari sebelumnya. Ia tidak banyak berbicara, dan nafsu makannya merosot. Tiap kali teman sekamarnya berusaha untuk mengajaknya berbicara, Baekhyun hanya menunduk dan menggumamkan maafkan aku berkali-kali. Bagaimana jika dengan kedatang Direktur mereka malah mempersulit posisi teman sekamarnya? Semua ini mungkin saja tidak akan terjadi kalau Baekhyun tidak berulah malam itu…
Tapi nurani kecilnya tidak bisa membiarkan Chanyeol kesakitan seperti itu. Ia tidak bisa mengabaikan orang-orang yang sakit lagi. Rasa bersalah membuat dadanya sesak.
Jadi itulah sebabnya, mereka masuk ke ruangan direktur dengan kursi-kursi yang sudah disiapkan. Bahkan saat memasuki ruangan, Baekhyun berjengit dan melangkah hati-hati. Ruangan itu cukup berdebu, dan Baekhyun menatap kursinya lama bahkan ketika ketiga temannya yang lain sudah duduk. Ia bisa melihat titik-titik debu di sana, dan ia rasa ia tidak sanggup untuk duduk. Namun kemudian Profesor Choi tersenyum kepadanya dan meletakkan sapu tangan di atas kursi tersebut, membuat Baekhyun bernapas lega dan akhirnya duduk di sana. Mereka duduk berjejer di depan seorang pria beruban, dengan Profesor Choi berdiri di sampingnya.
Ketika ia mengedarkan pandangan, Baekhyun terkesiap. Dengan cepat, ia menunduk. Tangannya mulai terasa gatal, jadi ia mengambil hand sanitizer dari sakunya dan menuangnya banyak-banyak di telapak tangan, menggosoknya panik. Ada beberapa perawat yang Baekhyun tahu—tujuh orang yang memukuli Junmyeon dan Minseok malam itu, serta beberapa perawat lain, namun ia tidak bisa benar-benar mengingat nama mereka.
Tapi, bukan itu yang membuatnya resah.
Ada seorang pasien lain yang duduk di samping Profesor Choi, ia bersandar pada kursi, kakinya yang panjang sedikit mengangkang dengan kaya kurang ajar, dan ia tengah menatap Baekhyun. Matanya tajam, dan Baekhyun yakin pria itu berniat untuk membunuhnya.
Pria yang mengaku sebagai profesor psikologi bernama Choi Shinwoo meminta Chanyeol bersaksi. Tentang apa tepatnya, Chanyeol tidak yakin. Ketika ia tersadar di ruangan medis dengan sekujur tubuh ngilu dan kaku, pria itu sudah berada di sampingnya, mengamatinya hati-hati.
Chanyeol langsung cemberut. "Mana malaikatku?" tanyanya kepada pria itu, dan Profesor Choi membuat ekspresi seakan apa yang berandal ini ocehkan?
Tapi Profesor Choi jelas tak mengerti, karena hanya Chanyeol yang melihat malaikat itu dalam mimpinya—manis dan putih. Chanyeol bertanya-tanya kenapa malaikat itu menangis, tapi Chanyeol pikir ia pasti sudah gila.
"Bagaimana perasaanmu?"
Chanyeol menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.
"Ah," kata pria itu, "maafkan aku. Perkenalkan, namaku Choi Shinwoo."
"Kau si profesor itu," kata Chanyeol hati-hati.
Profesor Choi mengangguk. "Dan kau Park Chanyeol." Ia mendengar pria paruh baya itu membuang napas. "Apa yang mereka lakukan padamu?"
Chanyeol mengedikkan bahunya acuh. "Hanya membuatku bermain dengan helm keren dengan tegangan tinggi."
Profesor Choi menggeram. "Sudah kuduga," katanya, ia menunduk dan memijat pelipisnya. "Aku sudah meminta Direktur Cha untuk tidak menggunakan alat-alat dari ruangan itu, tapi mereka tetap menggunakannya tanpa sepengetahuanku."
Chanyeol tidak berusaha menyahut. Anehnya, ia merasa jauh lebih tenang. Ia sudah lama tidak merasa seperti ini—karena setiap hal selalu membuatnya merasa jengkel dan ia kepingin menggebuki orang untuk meredakan rasa jengkel itu.
Tapi kemudian Chanyeol merasakan pria itu menatapnya lama. "Apa?" kata Chanyeol, jelas tidak senang dipelototi. Tentu saja, ia tahu ia tampan. Tapi Profesor ini tidak perlu menatapinya sampai meneteskan air liur seperti itu—sebenarnya, tidak. Profesor Choi tidak meneskan air liur.
"Aku sudah membaca profilmu," ucap pria itu, "apa yang kau lakukan disini?"
Chanyeol menyeringai, namun ia tidak bisa menyembunyikan satu detik yang berlalu ketika keningnya berkerut. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah belasan tahun bertemu orang gila, dan ya, aku tahu perbedaannya. Tapi kau… kau tidak gila."
Chanyeol mengepalkan tangannya, namun mengendurkannya dengan cepat. Ia mengangguk-angguk dengan gaya menyebalkan. "Tentu saja kau tahu semuanya, kau 'kan Profesornya."
"Aku tanya sekali lagi," Profesor Choi menatapnya, "apa yang lakukan disini?"
Chanyeol memberinya cengiran lebar. "Liburan." Jawabnya, membuat Profesor Choi menghembuskan napas lelah.
"Baiklah," katanya, mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. "Ada beberapa hal yang perlu kau ketahui."
Profesor itu kemudian menceritakan secara singkat tentang keempat orang pria di kamarnya, dan ketika ia melihat foto seseorang bernama Byun Baekhyun, Chanyeol menyadari bahwa dirinya menegang. Pria itu adalah pria yang ia cekik pada hari pertama ia tiba di rumah sakit jiwa ini.
Tapi pikirannya berkelana lebih jauh.
Ma-malaikat? Tapi malaikat ini bukan malaikat melainkan manusia? Terlebih, ia 4 tahun lebih tua dariku, bagaimana mungkin wajah selucu itu berumur 24 tahun?
Ketika pertama kali melihatnya, Chanyeol berpikir bahwa pria ini berumur sekitar 17 atau 18 tahun.
Profesor Choi menjelaskan tentang kondisi mereka dan menjelaskan satu-satu gangguan yang mereka alami. Ia kemudian menunjukkan profil terakhir.
"Kim Junmyeon," kata pria itu, "Kleptomania. Aku tidak tahu alasannya, tapi kurasa ia sama sepertimu. Seseorang yang menderita kleptomania harusnya cukup mengikuti terapi saja, tidak perlu membawa mereka ke rumah sakit. Namun Ibunya… yah, membuangnya ke sini. Pada dasarnya, seorang kleptomania tidak gila."
Chanyeol merasakan sedikit tusukan dari dalam dadanya. Ia tidak pernah buka mulut, namun pria ini jelas jenius. Ia menebak hampir semuanya.
Hampir.
Profesor Choi mungkin sedikit keliru. Chanyeol memang mungkin bukan orang gila—namun kakak tertuanya beranggapan seperti itu. Menghasut orang-orang di sekitarnya untuk mempercayai itu.
"Intinya," kata Chanyeol jengkel ketika pria itu selesai berbicara. "Ini semua omong kosong dan aku tidak peduli dengan mereka."
Pria itu menatapnya tajam. "Kau harus. Karena mereka semua menyelamatkanmu dan dipukul habis-habisan karena itu." ia mengacungkan profil Byun Baekhyun, "pria ini berinisiatif untuk membawamu kepada perawat karena kau demam tinggi—mereka mendobrak pintu teralisnya, namun perawat-perawat berpikir bahwa kalian berusaha kabur."
Chanyeol tidak menjawab, hanya menatap pada foto Byun Baekhyun yang terlihat manis.
Malaikatnya.
"Kau pikir kau bisa berbaring disini karena siapa?" tanya Profesor Choi tajam.
Chanyeol memutuskan bahwa pria bernama Choi Shinwoo ini benar-benar banyak bicara. Ia mungkin harus menutup mulutnya dengan sekali tonjokan…
"Kau harus bersaksi. Mungkin dengan begitu mereka tidak akan semena-mena memukuli kalian lagi."
Aku tidak masalah jika harus dipukuli berkali-kali, pikir Chanyeol, tapi kemudian ia berpikir bahwa ia mungkin tidak akan suka dengan ide bahwa pria bernama Byun Baekhyun ini juga dipukuli.
Yeah, kau pernah mencekiknya dan sekarang kau menaruh hati padanya, cerdas sekali.
Mungkin itu jugalah yang menjadi alasan kuat Chanyeol mau bersaksi di depan pria yang rambutnya hampir memutih bernama Cha Wonseok, yang ternyata merupakan direktur rumah sakit jiwa ini. Pria itu bisa meyakinkannya dengan kalimat-kalimat sederhana.
Chanyeol jelas-jelas sudah menanti kedatangannya. Matanya terpaku pada pintu. Tapi begitu pria itu memasuki ruangan, kepalanya tertuntuk dan ia terus-menerus memainkan jari-jarinya dengan gestur gugup. Kening Chanyeol berkerut, matanya tak lepas dari sosok yang tampak mungil itu.
Ia jelas tidak suka ruangan ini—maksudnya, orang normal manapun tentu tidak akan menyukai ruangan berbau apak dan berdebu di sana-sini. Chanyeol mendengar dari Profesor Choi bahwa direktur mereka hanya akan berkunjung beberapa kali, sehingga ruangan ini tidak pernah benar-benar ditempati. Tapi Baekhyun menunjukkan gerak-gerik seakan ia bisa saja mati kalau ia bersentuhan dengan debu, karena rahangnya mengatup tak senang, dan ia menatapi debu di kursinya seakan debu tersebut musuhnya.
Chanyeol dapat melihatnya menghembuskan napas lega ketika Profesor Choi mengalasi kursi itu dengan sapu tangan dan kemudian duduk. Pria berambut silver itu memiringkan kepalanya, menatap Baekhyun dengan seksama.
Kali ini, ia melirik kanan dan kiri dengan cemas. Tangannya gemetar ketika ia meraih sakunya dan mengeluarkan botol kecil, lalu menuangkan isinya dan menggosoknya ke tangan kuat-kuat.
Ia tampak begitu rapuh.
Seakan tekanan udara saja bisa membuatnya hancur.
Dan kau pernah mencekiknya.
Chanyeol memutar bola matanya.
Iya, brengsek. Aku tahu itu.
Ketika mata mereka bertemu, pria itu segera menunduk untuk mengalihkan tatapannya. Chanyeol sedikit merasa sakit hati—yah, sedikit. Apa Chanyeol begitu menakutkan sehingga ia tidak mau membalas tatapan Chanyeol? Oh ya, tentu saja. Chanyeol pernah berusaha membunuhnya.
Chanyeol tidak akan membela diri tentang masalah itu. Ia kadang bisa membabi buta kalau orang-orang disekitarnya membuatnya jengkel.
Kakak tertuanya membuatnya jengkel dan Chanyeol memutuskan untuk membakar rumahnya—yang kemudian menjadi alasan utama kenapa Chanyeol bisa sampai di Rumah Sakit Jiwa Sowon.
"Karena kita semua sudah berada di sini, kurasa kita langsung saja." Suara Profesor Choi terdengar dingin. "Chanyeol, apa yang sudah mereka lakukan padamu dan siapa orangnya?"
Chanyeol menyeringai, mengalihkan tatapannya dari Byun Baekhyun yang manis dan menatap perawat-perawat yang saling bisik. "Mereka memberiku hukuman. Tiga pilihan, digebuki sampai mati, dicabuti semua kuku dan helm keren."
Salah seorang dari kerumunan para perawat, Lee Sangkyun, menatap Chanyeol bengis.
Tapi Chanyeol tersenyum makin lebar. "Dia orangnya. Mereka menyetrumku dengan tegangan tinggi."
"Pak Direktur," suara Lee Sangkyun bergetar, "pasien ini memulai keributan dengan memukuli teman sekamarnya, salah seorangnya memar tulang rusuk, kemudian pingsan akibat syok dan patah hidung."
Direktur Cha mengangkat tangan. "Nah, kalau begitu—"
"Memang benar, Park Chanyeol memulai keributan." Potong Profesor Choi cepat, "namun, hukuman kejam seperti itu sangat tidak diperlukan. Selain karena tidak membantu pasien untuk menyembuhkan diri, hanya akan membuat keadaan mental pasien makin buruk. Jika memang harus diberi hukuman, kurungan saja sudah cukup. Mereka bukan binatang. Mereka hanya manusia sama seperti kita, dan mereka membutuhkan bantuan."
"Sekedar informasi untuk Anda, Profesor Choi. Kami sudah melakukan praktik ini sejak lama. Setrum termasuk ke dalam salah satu terapi efektif—"
"Setrum dengan tegangan tinggi, maksudmu, Perawat Lee?" Chanyeol tersneyum lebar, masih bersandar pada kursinya.
Lee Sangkyun menggeram, "intinya, tidak ada yang salah dari praktik yang kami lakukan. Pasien yang berbuat onar harus tetap menanggung konsekuensinya."
Profesor Choi berbalik menatap Direktur Cha yang tak bersuara, ia menautkan jari-jarinya dan keningnya berkerut. "Aku tetap tidak setuju dengan metode ini, Pak Direktur. Hanya karena Rumah Sakit Jiwa Sowon sudah melakukan praktik ini sejak lama, bukan berarti tradisi ini tetap harus dilanjutkan. Anda juga tahu sendiri kalau ini tidak benar. Saya sungguh mengharapkan keputusan yang bijak dari Anda, Pak Direktur Cha."
"Tidak bisa seperti itu, Profesor." Suara Lee Sangkyun meninggi. "Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pasien yang berbuat onar harus ditertibkan. Mereka semua," pria itu menunjuk deretan bangku Baekhyun dan teman sekamarnya serta Chanyeol, "berusaha untuk melarikan diri. Saya yakin mereka sudah merencanakan ini sebelumnya."
"Jika memang demikian," Profesor Choi tersenyum, "mereka tidak mungkin akan membuat onar jika berusaha melarikan diri. Logikanya, mereka seharusnya mencuri kunci cadangan daripada menghantamkan meja untuk membuka pintu teralis. Pernyataan Perawat Lee tidak benar, Direktur Cha. Mereka hanya berusaha menolong teman sekamar yang sedang sakit. Itu sebabnya mereka terpaksa keluar kamar untuk mencari perawat, namun para perawat segera memukuli mereka hingga babak belur bahkan sebelum mendengar penjelasan mereka. Terlebih, mereka menelantarkan Park Chanyeol yang sedang sakit dan memasukkannya ke dalam kurungan."
Dari ekspresi wajahnya, Chanyeol tahu bahwa Lee Sangkyun sudah kalah telak. Jadi Chanyeol membuat ekspresi congkak yang menyebalkan, tersenyum sumringah sambil memainkan alisnya, mengatakan satu kalimat tanpa suara; sampai jumpa.
Perawat wanita di belakang Lee Sangkyun—Hani, menatap Chanyeol tidak senang. Ia kemudian maju selangkah, menyeruak dari kerumunan perawat dan menuding Chanyeol. "Kau seharusnya bersyukur Perawat Lee sudah melakukan CPR padamu, dasar kau bajingan!"
Mendengar itu, beberapa orang di dalam ruangan sempit itu terkesiap, menatap Hani tak percaya.
Bahkan Chanyeol juga menyadari Baekhyun yang hanya menunduk sedari tadi kini menatapnya dengan mulut terbuka.
Profesor Choi dengan cepat berbalik. "CPR?!"
Seakan baru tersadar, perawat wanita itu melirik kanan dan kirinya dengan takut-takut. Ia jelas sekali bahwa ia baru saja salah berbicara. Mereka sekumpulan orang idiot yang mengancam Chanyeol untuk tidak buka mulut—bukan berarti Chanyeol takut—tapi pada akhirnya salah satu dari mereka yang membuka rahasia itu sendiri.
Sungguh menggelikan. Sangat menggelikan sehingga Chanyeol tidak bisa menahan tawanya. Ia memegang perutnya, merasa bahwa situasi ini begitu lucu.
"Ti-tidak seperti itu, Direktur Cha." Ucap Lee Sangkyun dengan suara bergetar, segera saja menarik Hani dengan kasar untuk membawanya kembali dalam kerumunan. "Jantung Park Chanyeol sempat berhenti beberapa detik, jadi kami menyelamatkannya dengan melakukan CPR. Dan kami berhasil. Lihat dia! Dia hidup."
Tapi Direktur Cha menghela napas. Chanyeol sudah sangat yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bahkan Profesor Choi tersenyum puas.
Mereka berhasil.
Direktur Cha memecat tiga perawat yang melakukan penyiksaan terhadap Chanyeol, namun tidak dengan Lee Sangkyun. Baekhyun mengetahuinya belakangan, bahwa Lee Sangkyun adalah keponakan dari Direktur Cha Wonseok itu sendiri.
Sisi baiknya, mereka menyetujui untuk tidak menggunakan Ruang Bermain lagi, dan beberapa peraturan baru dibuat. Salah satu peraturannya adalah untuk menghukum pasien dengan memasukkan mereka ke dalam kurungan saja, tanpa pukulan.
Meski begitu, ada banyak hal yang membuat Baekhyun sangat resah. Ia tidak berani menatap Chanyeol untuk beberapa saat—hanya mendengarkan percakapan saja sementara matanya fokus pada lututnya, kemudian menggigit bibirnya tidak senang ketika ia melihat jejak-jejak debu di lantai. Ia ingin mengambil sesuatu—sapu, alat pel, apapun itu untuk membersihkan debu tersebut. Debu-debu itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
Tapi kemudian Perawat Lee berkata bahwa ia sempat kehilangan detak jantung Chanyeol selama beberapa detik, dan Baekhyun jelas saja terkejut hingga kepalanya mendongak dan menatap Chanyeol dengan hanya sepersekian detik.
Namun pria itu tampak begitu santai—ia tertawa terbahak-bahak setelahnya.
Baekhyun tidak mengerti. Baekhyun tidak menyukai hidup, tapi ia jelas tidak ingin mati juga. Tapi Chanyeol tampaknya tak masalah dengan kenyataan bahwa ia bisa saja jadi mayat sekarang, terbaring kaku kalau Perawat Lee tidak melakukan CPR kepadanya.
Baekhyun memikirkan hal itu seharian, bahkan ketika Direktur Cha sudah pulang.
Selain memecat beberapa perawat, ia juga memberikan hukuman kepada pasien di kamar 614 untuk melakukan pekerjaan sosial—bersih-bersih di sekitar Rumah Sakit Jiwa Sowon selama sebulan penuh.
Tidak buruk, sebenarnya. Tapi Baekhyun jelas tidak baik-baik saja.
Meski begitu, Profesor Choi meyakinkan bahwa hal ini baik untuk gangguannya, ia beranggapan bahwa hal semacam ini bisa menjadi terapi untuknya. Namun Baekhyun jelas tidak kepingin memungut sampat dengan tangan kosong, jadi ia meminta barang-barang dari gudang; jas hujan, masker dan sarung tangan. Didampingi oleh Profesor Choi, pengurus gudang meminjamkan barang-barang tersebut dengan setengah hati.
Kenapa jas hujan? Karena benda itu bisa melindungi tubuhnya dari debu-debu yang mungkin menempel pada bajunya.
Baekhyun jelas terlihat konyol ketika ia sedang menyapu halaman, tapi ia tidak peduli. Ia harus fokus menahan kakinya agar tidak segera berlari untuk mandi. Keringatnya membuatnya tak nyaman.
Baekhyun terlalu fokus sehingga tidak menyadari seseorang berderap mendekatinya. Sinar matahari tiba-tiba saja terhalangi dari pandangannya, membuat Baekhyun mendongak. Baekhyun mungkin agak terlambat menyadarinya, tapi pria ini benar-benar tinggi.
Pria berambut silver itu berdiri di hadapannya, cengirannya lebar.
"Kau kelihatan bego," hina pria itu.
Baekhyun mundur selangkah. "Apa maumu?"
"Tidak ada." Jawabnya lagi, mengedikkan bahunya. "Jadi, kau cukup cemas masalah sesuatu yang kotor, ya?"
"Bukan urusanmu." Baekhyun berbalik dan berjalan menjauh.
Tapi pria itu berlari cepat, membuat mereka sejajar. Merasa tidak digubris, pria itu segera berdiri di hadapan Baekhyun, dan Baekhyun membalasnya dengan tatapan sengit.
Tapi cengiran pria itu makin lebar, dan ia menarik masker Baekhyun turun. Baekhyun memasang wajah tak mengerti dan berusaha menaikkan kembali masker ke wajahnya, namun pria itu menahan kedua lengannya.
Ia menunduk untuk menyejajarkan padangan mereka, lalu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya kepada wajah Baekhyun. Otak Baekhyun terlalu lambat untuk bereaksi bahkan ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya.
Tak sampai disitu, pria itu membuka mulut dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun, tak ketinggalan menjilati bibirnya.
"Nah, bagaimana rasanya? aku baru saja mentransferkan virusku padamu." Kata pria itu, senyumnya secerah matahari yang bersinar di atas kepada Baekhyun.
Baekhyun terpaku, tak mampu bergerak. Ia merasa lututnya lemas.
Hanya matanya saja yang berbicara, menatap pria berambut silver terang itu dengan pupil yang melebar tak percaya.
A/N: HALOOOOO JADI SAYA KEMBALI MEMBAWA CHAPTER TIGA!
Semoga semoga semogaaa ini nggak mengecewakan. Jadi, sedikit sudah terkuak ya apa kedua masalah karakter utama kita ini hehe.
Oh iya, INI TUH SEBENERNYA BIG THANKS TO MY MUM. Meskipun beliau nggak mungkin baca ini juga wkwk tapi inspirasi ini datang dari dia. Jadi mamaku itu perawat yang pernah dua kali dinas di RSJ. Pertama kali waktu beliau masih mahasiswa, dan yang kedua belum lama ini waktu beliau memutuskan untuk sekolah lagi. Jadi dulu, memang benar di RSJ itu (nggak semua, hanya beberapa) pasiennya sering dipukulin. Ini beliau menyaksikan sendiri waktu jadi dinas dulu. Sekarang, hal kayak gitu udah nggak boleh lagi. Jadi, buat yang nanya, enggak kok, aku rasa RSJ nggak nerapin itu lagi. Di cerita ini cuma dramatisasi dari aku aja hehehehe
Beberapa gangguan jiwa disini, terutama Baekhyun, semuanya datang dari penjelasan mamaku. Jadi meskipun beliau nggak mungkin baca ini, MUM ILY SOOO MUCH!
Anyway, lemme know what you're think in comment section hehe.
LOTS OF LOVE xoxo
